Kategori: Kalteng

  • Detik-Detik Terakhir Camat Baamang: Tetap Tersenyum di Tengah Sakit, Tinggalkan Pesan Perpisahan lewat Secarik Kertas

    Detik-Detik Terakhir Camat Baamang: Tetap Tersenyum di Tengah Sakit, Tinggalkan Pesan Perpisahan lewat Secarik Kertas

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ketegasan sosok Sufiansyah sebagai pemimpin Kecamatan Baamang rupanya membungkus rapat rasa sakit yang ia tahan hingga embusan napas terakhir.

    Camat Baamang, Kotawaringin Timur, itu meninggal dunia di RSUD dr. Murjani Sampit pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 14.27 WIB.

    Berpulangnya birokrat yang lekat dengan sapaan hangat ini memukul batin banyak pihak. Kehilangannya merayap jauh melampaui sekat dinding keluarga, meresap ke tengah masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang pernah merasakan langsung sentuhan pelayanannya.

    Suasana ruang rawat inap di RSUD dr. Murjani Sampit pada Kamis (26/3/2026) siang, mulanya tampak tenang.

    Di ruang perawatan Cempaka, Sufiansyah masih sempat menyambut tamu-tamu yang datang membesuk dengan senyuman khasnya. Tidak ada yang menyangka bahwa senyuman itu adalah salam perpisahan.

    Di tengah kondisi yang terus menurun, Camat Baamang yang terbaring lemas dengan alat bantu pernapasan, masih menyempatkan diri menenangkan keluarga, hingga akhirnya menuliskan pesan perpisahan sebelum akhirnya berpulang, pukul 14.27 WIB, Kamis (26/3/2026).

    Kisah kepergian pria berusia 53 tahun itu diungkap langsung oleh adik kandungnya, Nanang Suriansyah, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur.

    Nanang mengungkapkan, kondisi almarhum sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan sebulan sebelum memasuki Ramadan 1447 Hijriah.

    Ia mengaku kehilangan selera makan dan mengurangi aktivitas di Kantor Kecamatan Baamang, karena tubuhnya sudah memberi sinyal bahwa kondisinya tidak baik-baik saja.

    Sekitar dua minggu memasuki Ramadan, ketika menghadiri safari di salah satu wilayah, mobilnya mogok. Dia sempat mencoba mendorongnya.

    Saat itulah, almarhum mengeluhkan rasa sakit di bagian tungkai paha bagian atas yang membuatnya agak sulit berjalan.

    Namun, di mata keluarga, ia tetap terlihat santai dan tidak pernah mengeluh berlebihan.

    Sifatnya yang tenang membuat orang-orang di sekitarnya tidak menyangka bahwa kondisi tersebut merupakan awal dari penyakit yang lebih serius.

    Memasuki Selasa (24/3/2026) sore, kondisi Sufiansyah mulai memburuk. Ia mengalami sesak napas hingga akhirnya dibawa ke salah satu dokter untuk mendapatkan bantuan uap atau nebulizer.

    Sempat diperbolehkan pulang, namun keluarga merasa kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele.

    Malam harinya, sekitar pukul 20.30 WIB, keluarga memutuskan membawa almarhum ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Di ruang IGD, almarhum menjalani observasi selama kurang lebih dua jam, termasuk pemeriksaan rontgen.

    Hasilnya menunjukkan adanya flek di paru-paru sebelah kiri. Dokter bahkan mengibaratkan kondisi paru-parunya seperti “baling-baling yang jalan sebelah”.

    Selain itu, ditemukan pula adanya cairan di paru-paru yang semakin memperburuk kondisi pernapasannya.

    Namun, fakta yang lebih mengejutkan baru diketahui beberapa waktu kemudian.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel darah yang diambil secara berkala, pada Kamis dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, dokter memastikan bahwa almarhum juga mengidap Tuberkulosis (TBC).

    Meski kondisi medisnya cukup serius, suasana di ruang perawatan pada Kamis pagi masih terasa hangat. Sekitar pukul 10.30 WIB, Bupati Kotim Halikinnor bersama istrinya, Khairiyah serta sejumlah pejabat lainnya, datang membesuk.

    Sufiansyah terlihat masih bisa tersenyum. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 13.00 WIB, giliran Wakil Bupati Irawati yang datang menjenguk.

    Saat itu ia masih tampak santai dan komunikatif meski hanya berinteraksi dengan isyarat gerakan tangan dan anggukan kepala.

    Tak ada tanda bahwa waktu yang dimilikinya tinggal menghitung jam. Sekitar pukul 14.05 WIB, Nanang sempat menawarkan makanan kepada sang kakak agar menambah tenaga.

    Nanang juga menanyakan apakah ada keluhan di bagian tubuhnya. Sufiansyah menggeleng tidak sakit perut, hanya mengakui rasa nyeri di dada. Namun, lagi-lagi, ia tetap menunjukkan ketenangan. Bahkan tersenyum di hadapan istri dan anak-anaknya.

    Lima menit berselang, tepat pukul 14.10 WIB, almarhum meminta kertas. Dengan tulisan tangan, ia menuliskan pesan singkat.

    ”Mau guring (tidur) istirahat,” katanya.

    Tak ada kata panjang, tak ada keluhan. Hanya sebuah kalimat sederhana yang kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarga.

    Tak lama setelah itu, Nanang turun dari ruangan, sejenak membakar sebatang rokok. Namun, dalam hitungan menit, Feny anak almarhum memanggilnya kembali. Saat ia bergegas naik melalui lift, waktu seakan berjalan begitu cepat.

    Nanang tak sempat menyaksikan saudara kandungnya menghembuskan napas terakhir. Sufiansyah dinyatakan meninggal dunia pada pukul 14.27 WIB.

    Kepergian mendadak itu meninggalkan duka mendalam. Sufiansyah lahir di Kotawaringin Timur, 5 Desember 1972.

    Ia dikenal sebagai sosok yang tidak banyak mengeluh, bahkan dalam kondisi sakit. Ia juga disebut jarang mengonsumsi obat dan tidak memiliki riwayat penyakit turunan.

    Almarhum merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ia meninggalkan seorang istri bernama Wiwit, serta tiga orang anak, yakni Yanti, Fenny, dan Reza.

    Rencananya, almarhum akan dimakamkan Jumat (27/3/2026) pagi sebelum waktu salat Jumat di Tempat Pemakaman Umum Keramat, Sampit.

    Bagi keluarga, kenangan tentang senyum terakhir dan pesan sederhana itu akan selalu melekat.

    Sebuah perpisahan yang singkat, namun menyisakan cerita panjang tentang ketegaran, keikhlasan, dan cinta yang tak sempat terucap sepenuhnya.

    ​Dikenang Karena Kebaikan

    ​Bupati Kotim Halikinnor yang terlihat menjenguk jasad Sufiansyah di rumah duka Jalan Cristopel Mihing juga menunjukkan raut wajah kesedihan dan duka mendalam.

    Halikinnor datang bersama istrinya. Duduk bersila menghadap jasad Sufiansyah yang terbujur kaku dalam balutan kain jarik bercorak batik. Wabup Kotim Irawati juga turut datang mendoakan kepergian almarhum.

    ”Kami atas nama pribadi dan keluarga dan atas nama Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, menyatakan turut berdukacita dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke rahmatullah saudara kita Sufiansyah, Camat Baamang, Kabupaten Kotim,” kata Halikinnor, saat diwawancarai awak media usai mendoakan almarhum Sufiansyah.

    ​Menurutnya, Sufiansyah merupakan salah satu putra terbaik daerah Kotim yang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil dari beberapa jabatan dan terakhir menjabat sebagai Camat Baamang di Kecamatan Baamang.

    ”Untuk itu kita merasa kehilangan dan kita sama-sama berdoa semoga almarhum diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala dosa dan kesalahannya,” ujarnya.

    ”Dan, kita juga berdoa mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan itu mendapat ketabahan, kesabaran, serta keikhlasan, sehingga insyaAllah beliau kita doakan husnul khatimah. Jadi sekali lagi, kami pemerintah daerah berdukacita yang sedalam-dalamnya karena kehilangan salah satu putra daerah terbaik kita yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur,” tambahnya.

    ​Halikinnor juga mengenal sosok almarhum sebagai sosok yang mudah bergaul dan tidak banyak mengeluh.

    ”Beliau orang yang supel bergaul. Kalian mungkin tahu sendiri karena beliau baik dengan pemuda, dengan yang tua, beliau bergaul. Makanya dia disenangi sebagai Camat di Baamang ini. Sudah cukup lama di Baamang karena diminta masyarakat di sini, karena dia mudah bergaul,” katanya.

    ”Dan banyak juga kiprah (beliau), untuk itu kami atas nama pemerintah daerah sekali lagi terima kasih atas jasa pengabdian beliau selama beliau bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil. Dan beliau masih belum memasuki pensiun, masih kurang lebih 2 tahun lagi. Tapi ya, Allah memanggil dan sudah saatnya beliau kembali. Sekali lagi kita doakan mudah-mudahan beliau husnul khatimah,” ujar Halikinnor. (hgn/ign)

  • Camat Baamang Sufiansyah Meninggal Dunia: Langkah Terakhir yang Tertatih, Jejak Bakti yang Terukir Abadi

    Camat Baamang Sufiansyah Meninggal Dunia: Langkah Terakhir yang Tertatih, Jejak Bakti yang Terukir Abadi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ruang kerja Camat Baamang kini menyisakan keheningan. Kursi pimpinan itu resmi kosong setelah Sufiansyah mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani, Sampit, Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 14.27 WIB.

    Kepergiannya memicu respons empati masif dari para kolega. Meninggalkan serangkaian jejak pengabdian yang membumi. Mulai dari lembar usulan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), angan-angan menata kawasan pasar, hingga pesan-pesan terakhir yang ia titipkan.

    Sufiansyah tumbuh menjadi birokrat bukan dari jalur instan. Ia merangkak menapaki hampir seluruh anak tangga pemerintahan dari akar terbawah.

    Bermula sebagai staf Kantor Cabang Dinas Perikanan, ia meniti jalan panjang menjadi kepala subbagian kepegawaian, kepala urusan pembangunan, lurah, sekretaris camat, hingga memimpin dua kecamatan berbeda.

    Tiga dekade perjalanannya membentuk satu filosofi khas. Jabatan adalah alat ukur tentang apa yang bisa dikerjakan untuk meringankan beban warga.

    Langkah Terakhir di Tengah Rasa Sakit

    Dedikasi Sufiansyah pada tugas kepemerintahan rupanya melampaui kondisi fisiknya. Kabar duka yang menyebar cepat di jaringan komunikasi perangkat daerah turut menguak memori tentang ketangguhannya di masa-masa terakhir.

    Lurah Baamang Barat, Arya Agus Wardhana, merekam jelas keteguhan tersebut. Pagi hari sebelum sang camat berpulang, sekitar pukul 10.30 WIB, Arya bersama Bupati Kotim Halikinnor dan sejumlah pejabat masih sempat menjenguk almarhum di ruang perawatannya.

    Menurut penuturan Arya, kondisi kesehatan Sufiansyah sebenarnya sudah mulai menurun sejak memasuki bulan suci Ramadan.

    Walaupun kondisi fisiknya membatasi ruang gerak sejak pertengahan Ramadan, ia tetap memaksakan diri datang ke kantor meski tak lagi mampu menuntaskan jam kerja secara penuh.

    Puncak pembuktian dedikasi itu terlihat saat kunjungan kerja Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Sampit. Fisik yang melemah tidak menyurutkan semangatnya untuk mendampingi agenda pimpinan daerah.

    ”Pada saat kunjungan kerja Gubernur di Sampit, beliau tetap berusaha hadir, meski sambil dibantu berjalan,” ujar Arya mengenang ketangguhan rekannya sesama abdi negara tersebut.

    Suara dari Genangan Air di Panggung Terakhir

    Mundur kurang dari dua bulan sebelum wafat, tepatnya Rabu (4/2/2026), Sufiansyah masih berdiri tegak memimpin Musrenbang RKPD tingkat Kecamatan Baamang. Forum tempat suara warga, kelurahan, dan desa se-Baamang bertemu dengan meja perencanaan daerah itu menjadi salah satu agenda publik terakhirnya yang terekam dalam pemberitaan.

    Infrastruktur dan jerit warga soal banjir mendominasi denyut aspirasi hari itu.

    ”Hasil Musrenbang dibacakan dari beberapa pokja, baik pokja ekonomi, dukungan pemerintahan dan kesejahteraan sosial, maupun pokja sarana dan prasarana,” kata Sufiansyah usai forum, seperti dikutip dari pemberitaan media.

    Perhatiannya tertuju lekat pada wilayah pelosok.

    ”Desa Tinduk memprioritaskan pembangunan jalan karena akses aspalnya memang belum tembus sampai ke desa, sehingga itu menjadi prioritas utama. Sementara kelurahan lain, pada tahun 2026 sudah cukup banyak kegiatan sapras yang dilaksanakan,” jelasnya memberikan arah kebijakan.

    Pemeliharaan drainase di jalur rawan genangan menjadi beban pikiran utamanya. Perhatiannya tertuju pada pemeliharaan drainase di jalur rawan genangan, yakni Jalan Walter Condrat, Kenan Sandan, dan Muchran Ali.

    ”Beberapa hari terakhir, curah hujan tinggi ditambah pasang sungai menyebabkan genangan di sejumlah ruas jalan, khususnya di Baamang Tengah, seperti Jalan Al Kamal dan Jalan Cristopel Mihing di depan Panti Asuhan Bahagia. Drainase ini menjadi skala prioritas yang sangat penting,” ujarnya dengan penekanan kuat.

    Menghadapi keterbatasan kas daerah, ia memutar otak mencari jalan keluar pendanaan berlapis.

    ”Tidak semua aspirasi bisa dibiayai melalui APBD kabupaten. Nantinya, dinas teknis diharapkan dapat mengusulkan ke provinsi maupun pusat. Selain itu, kelurahan juga memiliki dana kelurahan yang bisa dimanfaatkan, bahkan melalui swadaya bersama masyarakat,” katanya memetakan solusi.

    Pasar Keramat dan Seruan Gotong Royong

    Hanya berselang lima hari, Senin (9/2/2026), figur pelayan masyarakat ini kembali memimpin serah terima sejumlah pejabat di lingkup Baamang. Momen krusial tersebut ia gunakan untuk menajamkan arah pelayanan publik dan penataan kawasan strategis.

    Pasar Keramat terucap spesifik dari bibirnya sebagai pekerjaan rumah bersama. ”Penataan Pasar Keramat harus dilakukan dengan koordinasi lintas sektor. Tidak bisa sendiri, harus melibatkan Satpol PP dan stakeholder terkait lainnya,” katanya.

    Terkait ancaman banjir, Sufiansyah menolak berpangku tangan pada mesin birokrasi dan terus membakar semangat warga.

    ”Beberapa hari lalu ada genangan di Pasar Al-Kamal dan Jalan Cristopel Mihing. Ini jadi pengingat bahwa drainase kita harus dibenahi bersama,” ujarnya.

    Pesan berikutnya adalah seruan aksi. ”Harus mengakomodir peran RT dan masyarakat. Gotong royong membersihkan drainase itu kunci. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” tegasnya.

    Wasiat Pelayanan Sebagai Inti Pengabdian

    Bagi Sufiansyah, urat nadi pemerintahan adalah pelayanan itu sendiri. “Kami ingin memperkuat pelayanan pemerintahan wilayah Kecamatan Baamang, karena masih banyak yang kurang, terutama terkait sumber daya manusia dan sarana prasarana. Tujuan kami adalah meningkatkan pelayanan pemerintahan yang lebih efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

    Prinsip tersebut ia gaungkan tanpa lelah. Saat menutup prosesi sertijab pejabat kelurahan, ia melontarkan teguran halus yang kini penuh makna.

    ”Perubahan struktur aparatur bukan sekadar soal formasi personel, tetapi harus berdampak langsung pada kualitas layanan kepada masyarakat dan efektivitas pengelolaan wilayah,” kata Sufiansyah, Senin (9/2/2026), sebagaimana dikutip dari Kalteng Pos.

    Satu kalimat meluncur darinya, yang hari ini terasa bagaikan sebuah wasiat tak tertulis.

    ”Yang paling penting bukan siapa orangnya, tapi bagaimana pelayanan ke masyarakat berjalan maksimal dan wilayah tertata dengan baik,” katanya.

    Amanat itu ia kunci secara khusus kepada para ujung tombak pemerintahan. “Saya tekankan kepada lurah, terutama di Baamang Tengah dan Baamang Hilir, agar benar-benar fokus pada pelayanan masyarakat. Itu yang utama,” tegasnya.

    Tiga Dekade Jejak Pengabdian

    Ketulusan kalimat-kalimat tersebut lahir dari peluh mengabdi. Catatan resmi Badan Kepegawaian Negara (BKN) merekam langkah pertamanya berseragam abdi negara di Kantor Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur pada 1 Maret 1994.

    Kariernya bertumbuh dari bawah: Kepala Sub Bagian Kepegawaian Kecamatan Teluk Sampit (2008), Kepala Urusan Pembangunan Kelurahan Baamang Hilir (2012), Lurah Baamang Hulu untuk dua periode (2012 dan 2016), Sekretaris Kecamatan Baamang (2018), Camat Pulau Hanaut (2021), hingga kembali pulang memimpin Kecamatan Baamang sejak 1 Maret 2023.

    Gelar sarjana manajemen ia rengkuh dari STIE Sampit pada 2003, sebuah potret kegigihannya membagi waktu antara bangku kuliah dan tugas melayani warga. Puncak kepangkatannya tertulis sebagai Pembina Tingkat I, golongan IV/b, yang diraih pada 1 Oktober 2025—hanya lima bulan sebelum sang Khalik memanggilnya pulang.

    Sufiansyah telah merampungkan tugasnya di dunia. Sejumlah pekerjaannya masih tertinggal menanti wujud nyata. Sosok pekerja keras itu telah tiada.

    Namun, kalimat yang ia ucapkan pada 9 Februari 2026—hanya 45 hari sebelum ia wafat—akan terus menggema mengetuk nurani siapa saja yang kelak menduduki kursi kosong di kantor kecamatan tersebut. (hgn/ign)

  • Innalillahi! Camat Baamang Sufiansyah Wafat di RSUD Murjani Sampit, Sempat Berjuang Menjalankan Tugas meski Kondisi Sakit

    Innalillahi! Camat Baamang Sufiansyah Wafat di RSUD Murjani Sampit, Sempat Berjuang Menjalankan Tugas meski Kondisi Sakit

    SAMPIT, kanalindependen.id – Awan duka kembali menyelimuti birokrasi Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sufiansyah, Camat Kecamatan Baamang, mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis (26/3/2026), sekitar pukul 14.27 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani, Sampit.

    Kabar kepergian almarhum menyebar cepat melalui saluran komunikasi internal perangkat daerah.

    Belum ada pernyataan resmi dari keluarga. Namun, pihak medis RSUD Murjani membenarkan kepulangan almarhum.

    Kepergian Sufiansyah langsung memicu respons empati masif di kalangan kolega. Beragam status belasungkawa membanjiri feed WhatsApp.

    Lurah Baamang Barat Arya Agus Wardhana mengatakan sempat menjenguk koleganya itu bersama Bupati Kotim Halikinnor dan sejumlah pejabat lainnya sekitar pukul 10.30 WIB.

    Arya menuturkan, dari informasi yang dia terima, almarhum sudah mulai sakit sejak Ramadan. Dan mulai mengurangi aktivitas kantor pertengahan Ramadan, namun masih tetap berusaha masuk meski tidak full jam kerja.

    ”Pada saat kunjungan kerja Gubernur di Sampit, beliau tetap berusaha hadir, meski sambil dibantu berjalan,” ujarnya, seraya menambahkan jenazah almarhum sudah berada di rumah duka pukul 15.20 WIB. (hgn/ign)

  • Arus Balik Lebaran di Sampit Masih Sepi, Penumpang Kapal Belum Membeludak

    Arus Balik Lebaran di Sampit Masih Sepi, Penumpang Kapal Belum Membeludak

    SAMPIT, kanalindependen.id – Arus balik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah melalui jalur laut di Pelabuhan Sampit mulai berlangsung. Namun, hingga Rabu (25/3/2026), pergerakan penumpang kapal yang tiba di Pelabuhan Sampit masih belum menunjukkan lonjakan signifikan.

    Meski Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan swasta telah kembali beraktivitas usai libur panjang, jumlah penumpang kapal masih terpantau landai.

    Kondisi ini diduga dipengaruhi adanya “hari kejepit” di tengah pekan, di mana setelah beberapa hari masuk kerja, masyarakat kembali menghadapi libur akhir pekan.

    Selain itu, kebijakan work from home (WFH) yang diterapkan pemerintah sebagai upaya efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi mobilitas masyarakat.

    Tidak semua pekerja harus kembali ke tempat kerja dalam waktu bersamaan, sehingga arus balik tidak terjadi secara serentak.

    Faktor lain yang turut memengaruhi adalah masa libur sekolah yang belum berakhir. Kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai kembali pada Senin, 30 Maret 2026, sehingga sebagian masyarakat memilih menunda perjalanan kembali.

    Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit yang juga menjabat sebagai Ketua Posko Angkutan Lebaran, Gusti Muchlis, mengungkapkan bahwa pada kedatangan kapal perdana arus balik, jumlah penumpang masih relatif sedikit.

    ”Untuk KM Lawit yang datang hari ini hanya mengangkut 189 penumpang,” ujarnya.

    Kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) tersebut, berlayar dari Pelabuhan Tanjung Emas dan tiba di Pelabuhan Sampit sekitar pukul 12.30 WIB.

    KM Lawit dijadwalkan kembali berangkat pada Kamis (26/3/2026) pukul 09.00 WIB dengan estimasi jumlah penumpang mencapai 1.195 orang.

    Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat menggunakan transportasi laut masih cukup tinggi, meski arus balik belum mencapai puncaknya.

    ”Biasanya arus balik lewat kapal tidak langsung padat. Jumlah penumpang meningkat secara bertahap. Selain itu, ada juga yang memilih menggunakan transportasi udara,” jelas Muchlis.

    Untuk jadwal berikutnya, KM Kirana III dijadwalkan tiba di Pelabuhan Sampit pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 12.00 WIB dari Pelabuhan Tanjung Perak.

    Kapal tersebut akan kembali diberangkatkan menuju Surabaya pada Jumat (27/3/2026) pukul 10.00 WIB.

    Namun, hingga saat ini, pihak KSOP belum menerima data pasti terkait jumlah penumpang KM Kirana III, baik yang tiba maupun yang akan berangkat.

    ”Jumlah penumpang masih menunggu laporan dari operator kapal. Biasanya akan diketahui setelah kapal sandar,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Warga Membeludak saat Sidak Disdukcapil, Wabup Kotim Menilai Kebijakan WFH Perlu Dievaluasi

    Warga Membeludak saat Sidak Disdukcapil, Wabup Kotim Menilai Kebijakan WFH Perlu Dievaluasi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, menilai kebijakan Work From Home (WFH) pada instansi pemerintah perlu dievaluasi, khususnya pada instansi pemerintah yang memberikan pelayanan publik dengan kunjungan masyarakat yang cukup tinggi.

    Seperti misalnya layanan administrasi kependudukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) dan layanan kesehatan di RSUD dr Murjani Sampit yang kerap ramai dikunjungi masyarakat.

    Penilaian tersebut disampaikan Irawati usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) serta RSUD dr Murjani Sampit guna memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal.

    Di kantor Disdukcapil Kotim, Irawati mendapati jumlah pemohon administrasi kependudukan (Adminduk) membeludak.

    Warga memadati layanan untuk berbagai keperluan, mulai dari pembuatan KTP, pindah domisili, akta kematian, hingga administrasi pernikahan antarnegara.

    Namun, di sisi lain, jumlah petugas yang berjaga terpantau terbatas karena sebagian masih menjalankan sistem kerja WFH.

    ”Kantor pelayanan seperti Disdukcapil, Bapenda, Dinas Kesehatan, dan rumah sakit sebaiknya tidak menerapkan WFH. Tadi kita lihat staf yang masuk terbatas, sementara masyarakat yang datang sangat banyak,” tegas Irawati usai memantau layanan publik di hari pertama kerja usai libur Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah, Rabu (25/3/2026).

    Ia menyebut akan menyampaikan masukan tersebut kepada Bupati Kotim agar kebijakan WFH dan Work From Office (WFO) dapat dievaluasi, khususnya bagi instansi yang bersentuhan langsung dengan pelayanan masyarakat.

    Selain persoalan SDM, Irawati juga menyoroti fasilitas ruang tunggu Disdukcapil yang dinilai kurang nyaman akibat suhu panas.

    Setelah dilakukan pengecekan, diketahui tiga unit pendingin ruangan (AC) mengalami kerusakan.

    Dia pun meminta perbaikan segera serta penambahan unit AC guna meningkatkan kenyamanan masyarakat saat mengakses layanan.

    Sementara itu, terkait ketersediaan blangko KTP, Irawati memastikan stok dalam kondisi aman.

    Masyarakat yang sebelumnya tertunda pencetakan KTP akibat kekosongan blangko diimbau segera mengurus kembali.

    Di lokasi berbeda, yakni RSUD dr Murjani Sampit, Irawati memastikan pelayanan kesehatan berjalan normal tanpa kendala berarti.

    Berdasarkan koordinasi dengan pihak rumah sakit, seluruh tenaga medis, termasuk dokter, dalam kondisi lengkap dan siap siaga.

    ”Alhamdulillah, pelayanan tidak ada kendala. Hari ini juga tidak terjadi lonjakan pasien yang signifikan, kemungkinan karena masih suasana libur panjang,” ujarnya.

    Meski demikian, pihaknya tetap mengantisipasi potensi lonjakan pasien pada awal pekan mendatang seiring kembalinya aktivitas masyarakat secara normal.

    Irawati juga mengapresiasi kebijakan rumah sakit yang tetap mengakomodasi pasien dari wilayah jauh seperti Antang Kalang dan Telawang. Pasien yang tidak mendapatkan kuota pendaftaran secara daring tetap dilayani melalui jalur manual.

    ”Tidak ada istilah tidak dilayani. Masyarakat dari jauh tetap kita prioritaskan, meskipun kuota online sudah penuh,” ujarnya.

    Irawati juga mengingatkan masyarakat, khususnya yang masih dalam perjalanan mudik atau liburan, untuk tetap menjaga kesehatan agar tidak menambah beban pelayanan di fasilitas kesehatan.

    ”Jangan sampai pulang liburan malah sakit. Jaga kondisi fisik agar bisa kembali beraktivitas dengan produktif,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Ada Kritikan Pelayanan Kurang Ramah, RSUD Murjani Sebut Jadi Evaluasi Berbenah

    Ada Kritikan Pelayanan Kurang Ramah, RSUD Murjani Sebut Jadi Evaluasi Berbenah

    SAMPIT, kanalindependen.id – Keluhan masyarakat terkait sikap kurang ramah oknum petugas keamanan (satpam) dan staf administrasi di RSUD dr Murjani Sampit mendapat perhatian serius dari manajemen.

    Serangan kritikan itu justru ditanggapi bijak oleh manajemen sebagai bahan evaluasi untuk tak henti berbenah memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.

    Direktur RSUD dr Murjani Sampit dr Yulia Nofiany, menegaskan bahwa setiap masukan yang disampaikan masyarakat dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan mutu layanan.

    ”Kami melihat kritik sebagai evaluasi untuk menjadi lebih baik. Terima kasih kepada masyarakat yang sudah memberikan perhatian. Artinya mereka peduli dan ingin kami terus berkembang,” kata dr Yulia Nofiany, Rabu (25/3/2026).

    Menindaklanjuti hal tersebut, manajemen telah menginstruksikan seluruh bidang untuk melakukan evaluasi kinerja secara berjenjang, terutama terhadap petugas yang berhadapan langsung dengan masyarakat.

    Langkah pembenahan dilakukan melalui penguatan budaya melayani bagi seluruh pegawai, baik tenaga medis maupun non-medis.

    Selain itu, motivasi internal juga terus ditingkatkan agar seluruh staf mampu memberikan pelayanan prima di tengah tingginya ekspektasi masyarakat.

    ”Di tempat kerja, kita adalah pelayan masyarakat. Keramahan dan profesionalitas harus menjadi prioritas,” tegasnya.

    Dengan jumlah pegawai yang mencapai 826 orang dari berbagai profesi, dr. Yulia mengakui pengawasan secara menyeluruh tidaklah mudah.

    Oleh karena itu, pihaknya berharap masyarakat dapat menyampaikan kritik yang lebih spesifik agar penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran.

    ”Pelayanan di rumah sakit merupakan rangkaian panjang, mulai dari proses pendaftaran hingga pasien selesai mendapatkan layanan. Kritik yang disertai waktu, lokasi, dan kronologi kejadian akan sangat membantu dalam proses evaluasi kinerja,” ujarnya.

    Sebelumnya, persoalan sikap petugas di RSUD dr Murjani juga sempat menjadi perhatian pemerintah daerah.

    Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor bahkan pernah memberikan peringatan tegas, termasuk ancaman sanksi bagi pegawai yang tidak ramah dalam melayani masyarakat.

    Manajemen RSUD pun mengimbau masyarakat yang mengalami pelayanan kurang menyenangkan untuk segera melapor melalui bagian Humas dengan menyertakan informasi pendukung, seperti ciri petugas, waktu dan lokasi kejadian, serta kronologi singkat.

    ”Dengan laporan yang jelas dan terperinci, pihak rumah sakit memastikan setiap aduan dapat ditindaklanjuti secara efektif demi mewujudkan pelayanan yang lebih humanis dan profesional,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Tak Ada Lonjakan Pasien di Poliklinik RSUD dr Murjani Sampit: ”Alhamdulillah, Masyarakat Sampit dalam Kondisi Sehat!”

    Tak Ada Lonjakan Pasien di Poliklinik RSUD dr Murjani Sampit: ”Alhamdulillah, Masyarakat Sampit dalam Kondisi Sehat!”

    SAMPIT, kanalindependen.id – Usai libur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, layanan poliklinik rawat jalan di RSUD dr Murjani Sampit terpantau tetap kondusif.

    Tidak seperti yang kerap terjadi pada momen pasca Lebaran, tahun ini justru tidak ditemukan lonjakan signifikan jumlah kunjungan pasien.

    Kondisi tersebut menjadi indikasi positif terhadap kesehatan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meskipun selama Lebaran identik dengan konsumsi makanan berlemak, manis, hingga minuman bersoda yang berpotensi memicu gangguan kesehatan.

    Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Nofiany, mengatakan kunjungan pasien, khususnya di klinik penyakit dalam yang biasanya paling tinggi, tidak mengalami peningkatan pasca libur panjang.

    ”Biasanya kunjungan di klinik penyakit dalam itu paling tinggi. Namun menurut dokter kami yang bertugas, setelah libur Lebaran ini justru tidak sepadat hari normal. Alhamdulillah, ini menunjukkan masyarakat Sampit dalam kondisi sehat,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

    Dia menjelaskan, RSUD dr Murjani Sampit memiliki 23 layanan poliklinik rawat jalan dengan rata-rata kunjungan harian berkisar antara 300 hingga 500 pasien.

    ”Pada hari pertama buka layanan setelah libur Lebaran biasanya terjadi lonjakan. Namun hari ini justru tidak seramai hari normal,” ujarnya.

    Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Kesehatan RSUD dr Murjani Sampit, dr Anggun Iman Hernawan, menambahkan, berdasarkan analisa data, kunjungan pasien rawat jalan memang belum menunjukkan peningkatan.

    Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit per 25 Maret 2026, jumlah pasien rawat jalan tercatat sebanyak 291 orang.

    Kunjungan terbanyak berada di Klinik Penyakit Dalam dengan 66 pasien, disusul Klinik Syaraf dan Klinik Jantung masing-masing 35 pasien, serta Klinik Anak sebanyak 28 pasien. Sementara itu, kunjungan di klinik lainnya di bawah 20 pasien.

    ”Secara analisa, kunjungan pasien rawat jalan setelah libur Lebaran belum mengalami lonjakan. Rata-rata masih di angka 300 hingga 400 pasien per hari. Kecuali Kamis saat Klinik Rehabilitasi Medik buka, jumlahnya bisa mencapai 500 pasien,” jelasnya.

    Menurunnya angka kunjungan juga dipengaruhi belum beroperasinya seluruh layanan poliklinik. Dari total 23 klinik, saat ini baru 18 klinik yang aktif melayani.

    ”Untuk sementara Klinik Mata, Klinik Jiwa, dan Klinik Psikologi belum buka. Klinik Jantung buka terjadwal, sedangkan Poli Gizi melayani berdasarkan perjanjian,” terang dr Iman.

    Iman juga mengatakan, sejumlah layanan yang sempat vakum karena keterbatasan dokter spesialis akan segera kembali dibuka.

    ”Klinik Orthopedi dan Klinik Bedah Onkologi direncanakan mulai buka kembali per 1 April 2026. Sedangkan Klinik Bedah Vaskuler masih dalam proses kerja sama dengan RSUD Hanau,” katanya.

    Pihak rumah sakit berharap seluruh layanan poliklinik dapat segera kembali beroperasi secara penuh guna memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat Kotim. (hgn/ign)

  • Tujuh Daerah Wisata Terpopuler di Kalteng 2025–2026, Data Terbaru BPS: Siapa Paling Ramai?

    Tujuh Daerah Wisata Terpopuler di Kalteng 2025–2026, Data Terbaru BPS: Siapa Paling Ramai?

    SAMPIT, kanalindependen.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah menjadi tujuan wisata paling ramai sepanjang 2025, dengan total kunjungan mencapai lebih dari 1,5 juta wisatawan domestik dan puluhan ribu wisatawan mancanegara.

    Data resmi ini merekam detak pariwisata daerah, memetakan wilayah mana saja yang menjadi magnet utama kunjungan.

    Merujuk publikasi BPS Kalteng pada buku Provinsi Kalimantan Tengah Dalam Angka 2026, terdapat tujuh kabupaten/kota dengan volume kunjungan tertinggi sepanjang tahun 2025.

    Secara akumulatif, Kalteng menyedot 1.547.847 wisatawan domestik dan 70.988 wisatawan mancanegara pada periode tersebut.

    Angka ini mempertegas tren positif pergerakan wisatawan yang terekam sejak 2023 dengan 1,8 juta kunjungan, lalu melonjak menjadi lebih dari 3,3 juta pada 2024.

    Dinamika ini menempatkan Kalteng sebagai salah satu provinsi dengan akselerasi pariwisata yang patut diperhitungkan di hamparan Pulau Borneo.

    Berikut adalah tujuh wilayah yang paling sibuk menerima kedatangan pelancong:

    1. Palangka Raya, Primadona Wisata Ibu Kota

    Wisata Air Hitam Kereng Bangkirai Palangka Raya. (Ist)

    Sebagai wajah provinsi, Palangka Raya menduduki puncak klasemen dengan total 479.959 wisatawan sepanjang 2025. Angka ini didominasi 477.422 pelancong domestik dan 2.537 wisatawan mancanegara.

    Geliat ini terekam lebih masif dalam catatan Dinas Pariwisata Kota Palangka Raya, yang membukukan 644.270 kunjungan, atau tumbuh sekitar 5,6 persen dari tahun sebelumnya.

    Daya pikat utama kota ini bertumpu pada pesona air hitam Kereng Bangkirai, yang sekaligus menjadi gerbang menuju Taman Nasional Sebangau.

    Wisatawan juga kerap memadati kawasan Nyaru Menteng untuk menjelajahi bumi perkemahan, atau sekadar berjalan santai di bawah rindangnya kanopi Arboretum.

    Di sisi lain, denyut wisata sungai di Sei Batu dan Sei Koran terus menjadi magnet, baik bagi warga lokal maupun pendatang.

    2. Kotawaringin Barat: Surga Mancanegara di Pelukan Tanjung Puting

    Taman Nasional Tanjung Puting Kobar. (www.tanjungputingtourism.com)

    Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menorehkan 245.365 kunjungan, dengan rincian 177.821 wisatawan domestik dan 67.544 mancanegara. Arus kedatangan pelancong asing di wilayah ini adalah yang paling masif di Kalteng.

    Daya tarik utamanya bermuara pada Taman Nasional Tanjung Puting. Kawasan ini telah lama mengukuhkan diri sebagai etalase konservasi orangutan tingkat dunia dan ikon pariwisata internasional Kalteng.

    Setelah puas menyusuri sungai dan menatap kehidupan liar primata eksotis tersebut, pelancong biasanya melengkapi rute perjalanannya dengan menikmati semilir angin pesisir di Pantai Kubu, Pantai Tanjung Keluang, dan Teluk Bogam.

    3. Kotawaringin Timur: Daya Tarik Pesisir dan Gelombang Wisatawan Domestik

    Pantai Ujung Pandaran Kotim. (Gunawan/Kanal Independen)

    Berada di urutan ketiga, Kotawaringin Timur (Kotim) membuktikan diri sebagai magnet tak terbantahkan bagi wisatawan dalam negeri.

    Dari total 242.816 pelancong yang datang, nyaris seluruhnya adalah wisatawan domestik (242.762), bersanding dengan 54 kunjungan mancanegara.

    Pantai Ujung Pandaran yang membentang di pesisir selatan Kotim tetap menjadi primadona utama.

    Perpaduan hamparan pasir yang luas, ekosistem mangrove yang terjaga, serta nuansa wisata ramah keluarga menjadikannya destinasi yang selalu hidup.

    Di luar pesisir pantai, pelancong juga kerap mengeksplorasi potensi wisata sungai di Kecamatan Teluk Sampit, yang menyajikan sudut pandang berbeda dalam menikmati pesona pesisir kabupaten ini.

    4. Katingan: Daya Magnet Tersembunyi di Empat Besar

    Wisata Bukit Batu Kasongan. (Ist/Kanal Independen)

    Meski gaungnya mungkin tak sekeras Palangka Raya atau Kobar, Katingan diam-diam mengamankan posisi empat besar.

    Sepanjang 2025, daerah ini menyedot 205.235 pelancong, didominasi 205.213 wisatawan domestik dan 22 pelancong asing.

    Kondisi ini membuktikan bahwa Katingan memiliki daya pikat yang nyata di mata pelancong lokal.

    Bukit Batu Kasongan menjadi salah satu episentrumnya. Situs alam dan budaya yang lekat dengan nama tokoh nasional Tjilik Riwut ini tidak hanya menawarkan eksotisme lanskap, tetapi juga membawa pengunjung menyelami jejak sejarah dan kearifan lokal masyarakat Dayak.

    5. Barito Selatan: Menyelami Pesona Danau Malawen

    Wisata Danau Melawen. (Ist/Kanal Independen)

    Barito Selatan merekam jejak kedatangan 196.913 wisatawan, dengan rincian 196.439 domestik dan 474 mancanegara.

    Wilayah ini perlahan mengorbitkan destinasi-destinasi bernuansa alam yang menenangkan.

    Danau Malawen di Desa Sanggu tampil sebagai ikon utama. Lanskap perairan yang dilengkapi perahu, deretan gazebo, serta taman anggrek alam menghadirkan nuansa rekreasi yang menyegarkan.

    Reputasi Desa Wisata Sanggu bahkan telah diakui dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf, didukung oleh ragam atraksi mulai dari kapal susur, sepeda air, hingga taman rekreasi.

    Selain Malawen, Situ Ulin Gagumet juga tercatat sebagai kantong wisata yang tak kalah menarik di wilayah ini.

    6. Kapuas: Identitas Kota Sungai yang Terus Berdenyut

    Pulau Telo Kapuas. (Ist/Kanal Independen)

    Berada di posisi enam, Kabupaten Kapuas menerima 184.736 kunjungan wisata, yang hampir sepenuhnya digerakkan oleh wisatawan domestik (184.724), disusul 12 pelancong asing.

    Karakter pariwisata di daerah ini sangat lekat dengan denyut kehidupan sungai. Kuala Kapuas, sebagai pusat kota, memaksimalkan tepian Sungai Kapuas sebagai sajian utama.

    Wisatawan ditawarkan pengalaman susur sungai, menikmati lanskap kota dari atas air, dan memanjakan lidah dengan kuliner khas ikan patin bakar.

    Dikelilingi sungai besar dan kawasan rawa, Kapuas merawat identitasnya sebagai destinasi wisata air yang memikat.

    7. Gunung Mas: Eksotisme Pedalaman dan Hutan Purba

    Wisata alam Batu Suli Gunung Mas. (Ist/Kanal Independen)

    Melengkapi daftar tujuh besar, Gunung Mas mencatatkan 118.026 wisatawan. Menariknya, seluruh angka tersebut murni berasal dari wisatawan domestik tanpa adanya catatan kunjungan mancanegara.

    Walau berada di urutan ketujuh, Gunung Mas adalah etalase kekayaan alam pedalaman yang eksotis.

    Wilayah ini menyuguhkan deretan pesona mulai dari Air Terjun Batu Mahasur, Riam Guhung Rawai, hingga Batu Suli.

    Pelancong juga dapat menembus Hutan Ulin Parempei untuk menyaksikan panorama rimba Kalimantan yang masih perawan.

    Sebagai pelengkap, Desa Wisata Hurung Bunut dan Agrowisata Gunung Mas hadir menawarkan pengalaman wisata yang digerakkan langsung oleh komunitas setempat.

    Peta kunjungan ini dirangkum berdasarkan data publikasi Provinsi Kalimantan Tengah Dalam Angka 2026 lansiran BPS Kalteng.

    Angka tersebut merepresentasikan akumulasi wisatawan per kabupaten/kota secara umum, bukan spesifik per objek wisata. Setiap jengkal daerah di Kalteng diyakini masih menyimpan deretan destinasi tersembunyi yang menunggu untuk dijamah.

    Dari pesisir pantai hingga jantung rimba, wilayah mana yang menjadi destinasi favorit Anda di Kalteng? (ign)

  • Remisi Lebaran untuk 509 Warga Binaan, Tujuh Narapidana Lapas Sampit Hirup Udara Bebas

    Remisi Lebaran untuk 509 Warga Binaan, Tujuh Narapidana Lapas Sampit Hirup Udara Bebas

    SAMPIT, kanalindependen.id – Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah menjadi momen penuh harapan bagi ratusan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit.

    Sebanyak 509 narapidana menerima remisi khusus, dan tujuh di antaranya langsung menghirup udara bebas setelah mendapatkan Remisi Khusus II, Sabtu (21/3/2026).

    Pemberian remisi tersebut merupakan bagian dari pemenuhan hak warga binaan yang telah memenuhi syarat administratif dan substantif sesuai ketentuan yang berlaku.

    Selain itu, remisi juga menjadi bentuk penghargaan atas sikap baik, kepatuhan, serta keikutsertaan dalam program pembinaan selama menjalani masa pidana.

    Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani, mengatakan bahwa remisi khusus Idulfitri merupakan momentum penting yang tidak hanya bermakna secara hukum, tetapi juga secara kemanusiaan.

    Menurutnya, Hari Raya Idulfitri menjadi saat yang tepat untuk menumbuhkan semangat baru bagi warga binaan agar terus memperbaiki diri.

    ”Remisi khusus Hari Raya Idulfitri ini adalah bentuk penghargaan negara kepada warga binaan yang telah menunjukkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Kami berharap remisi ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus mengikuti pembinaan dengan sungguh-sungguh dan mempersiapkan diri kembali ke masyarakat,” ujar Muhammad Yani.

    Berdasarkan data per 13 Maret 2026, jumlah warga binaan beragama Islam di Lapas Kelas IIB Sampit tercatat sebanyak 763 orang, terdiri dari 170 tahanan dan 593 narapidana.

    Dari total narapidana tersebut, sebanyak 509 orang dinyatakan memenuhi syarat dan menerima remisi khusus Idulfitri tahun ini.

    Rinciannya, untuk Remisi Khusus I sebanyak 171 orang. Dari jumlah tersebut, 151 orang menerima remisi 15 hari, sementara 20 orang lainnya memperoleh remisi 1 bulan.

    Kemudian pada kategori remisi lanjutan, terdapat 338 orang penerima, dengan rincian 296 orang mendapat remisi 1 bulan, 38 orang menerima 1 bulan 15 hari, dan 4 orang lainnya memperoleh remisi 2 bulan.

    Sementara itu, pada kategori Remisi Khusus II atau remisi yang langsung mengantarkan narapidana bebas, terdapat 7 orang penerima.

    Dari jumlah tersebut, 5 orang menerima remisi 15 hari, dan 2 orang lainnya memperoleh remisi 1 bulan.

    Muhammad Yani menegaskan, pemberian remisi bukan semata-mata pengurangan masa pidana, melainkan bagian dari proses pembinaan yang dirancang untuk membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan warga binaan dalam menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.

    ”Idulfitri adalah momen yang sarat dengan makna pengampunan, introspeksi, dan kesempatan untuk memulai lembaran baru. Bagi warga binaan, remisi ini bukan hanya pengurangan hukuman, tetapi juga pesan bahwa selalu ada ruang untuk berubah, memperbaiki diri, dan kembali menjadi bagian yang baik di tengah masyarakat,” katanya.

    Dia menambahkan, pihak lapas terus mendorong seluruh warga binaan agar aktif mengikuti program pembinaan kepribadian maupun kemandirian.

    Dengan demikian, masa pidana yang dijalani tidak hanya menjadi bentuk pertanggungjawaban atas pelanggaran hukum, tetapi juga menjadi proses pembelajaran menuju kehidupan yang lebih terarah.

    Pemberian remisi khusus keagamaan pada momen Idulfitri juga menghadirkan suasana haru di lingkungan lapas.

    Bagi para penerima, remisi menjadi hadiah yang penuh makna di hari kemenangan. Terlebih bagi tujuh warga binaan yang langsung bebas, Idulfitri tahun ini menjadi titik awal baru untuk kembali ke keluarga dan menata masa depan dengan lebih baik.

    ”Melalui kebijakan ini, negara tidak hanya menjalankan fungsi pemidanaan, tetapi juga memperlihatkan sisi pembinaan yang humanis. Remisi menjadi salah satu instrumen penting dalam sistem pemasyarakatan, yakni memberi kesempatan kepada warga binaan untuk berubah dan kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih siap, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Skandal Dana Hibah Kotim: Dari Proyek Titipan hingga Organisasi “Hantu”, Siapa Pejabat Bakal Terseret?

    Skandal Dana Hibah Kotim: Dari Proyek Titipan hingga Organisasi “Hantu”, Siapa Pejabat Bakal Terseret?

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tabir gelap yang menyelimuti sengkarut dana hibah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan keagamaan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) perlahan tersingkap.

    Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotim tidak lagi sekadar berhadapan dengan tumpukan berkas administrasi yang lemah, melainkan sebuah dugaan pola penyimpangan anggaran yang terstruktur.

    Informasi yang dihimpun mengungkap indikasi pola permainan anggaran. Dana yang semestinya menjadi urat nadi kegiatan sosial masyarakat diduga mengalami penyimpangan sejak fase pengusulan, pengesahan, hingga pencairan.

    Salah satu pintu masuk utama yang dimanfaatkan adalah “titipan anggaran” melalui pokok-pokok pikiran (pokir) anggota legislatif.

    Melalui skema ini, alokasi dana hibah mengalir deras, bukan kepada kelompok yang memiliki kebutuhan riil, melainkan diarahkan kepada nama-nama yang diduga telah disiapkan sebelumnya.

    Praktik ini semakin terang ketika penyidik menelusuri dugaan penerima fiktif. Sejumlah organisasi beserta pengurusnya tercatat menerima dana, namun nihil aktivitas nyata di lapangan.

    Saat diperiksa, beberapa pihak bahkan mengaku terkejut karena tidak pernah mengetahui adanya proposal yang diajukan atas nama mereka.

    ”Ini yang jadi persoalan serius. Ada yang tidak bisa mempertanggungjawabkan, bahkan ada yang merasa namanya dicatut,” ungkap seorang sumber internal yang mengetahui jalannya pemeriksaan.

    Rentetan temuan ini kian menguatkan indikasi bahwa dana hibah tidak sekadar salah sasaran, melainkan diduga telah beralih fungsi menjadi ajang bancakan.

    Anggaran yang semestinya menjadi urat nadi kegiatan sosial dan keagamaan, disinyalir berpindah lintasan melalui skema berlapis yang sengaja dibuat buram dari pengawasan publik.

    Bayang-bayang keterlibatan oknum pejabat politik disebut-sebut mulai terlihat jelas. Pengembangan penyidikan disebut mulai mengarah pada pihak-pihak yang memiliki peran strategis dalam proses penentuan anggaran daerah.

    ”Prosesnya panjang, karena yang diperiksa banyak dan saling berkaitan. Tapi, persoalan intinya sudah terang, tinggal bagaimana penegakan hukumnya. Nama-nama sudah ada, tinggal pembuktian lebih lanjut. Ini tidak mungkin berdiri sendiri,” sebut sumber internal tersebut, mengisyaratkan adanya aktor di balik layar.

    Rentetan temuan ini memantik reaksi keras publik. Aktivis antikorupsi sekaligus mantan Ketua HMI Kotim, Burhanurohman, menilai indikasi ini bukan lagi sekadar kesalahan prosedur administrasi.

    “Kalau benar ada hibah fiktif dan titipan anggaran, ini sudah masuk kategori penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.

    Dia mengingatkan bahwa dana hibah mutlak milik publik dan bukan ajang kompromi atau berbagi jatah politik.

    Burhanurohman mendesak penegak hukum bergerak cepat, sebab penanganan yang berlarut hanya akan menghancurkan sisa kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah dan legislatif.

    ”Kalau buktinya sudah mengarah, jangan ditahan-tahan lagi. Umumkan tersangkanya. Mau itu pejabat daerah atau oknum DPRD, harus dibuka. Jangan sampai publik menilai ada yang dilindungi,” tandasnya.

    Hingga saat ini, Kejari Kotim belum merilis pernyataan resmi mengenai identitas pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban. Publik masih menunggu langkah berani aparat untuk menyeret aktor utama di balik dugaan skandal ini ke ruang terang. (ign)