Kanalindependen.id – Roblox mulai melakukan penyesuaian layanan di Indonesia seiring diterapkannya kebijakan perlindungan anak melalui PP Tunas. Salah satu langkah yang disiapkan adalah menghadirkan fitur mode offline khusus bagi pengguna anak.
Kebijakan ini ditujukan bagi pengguna di bawah usia 13 tahun. Nantinya, mereka hanya dapat mengakses gim tanpa koneksi daring, sehingga tidak bisa berinteraksi langsung dengan pemain lain.
Langkah tersebut diambil untuk menekan potensi risiko di ruang digital, seperti perundungan siber hingga paparan konten yang tidak sesuai usia.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut Roblox menjadi salah satu platform yang responsif terhadap aturan baru tersebut.
Ia menjelaskan, saat ini fitur tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya diterapkan. Pemerintah sendiri telah memberlakukan PP Tunas sejak akhir Maret 2026.
Regulasi ini mewajibkan seluruh platform digital yang beroperasi di Indonesia untuk menyesuaikan sistem mereka, terutama dalam hal perlindungan pengguna anak.
Selain Roblox, sejumlah platform besar seperti TikTok, YouTube, dan Instagram juga terdampak kebijakan tersebut.
Mereka diminta memperketat pengawasan dan membatasi akses anak terhadap fitur-fitur tertentu. PP Tunas sendiri dirancang sebagai upaya pemerintah menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Regulasi ini mencakup perlindungan dari konten berbahaya, eksploitasi, hingga potensi kecanduan teknologi di kalangan anak. Langkah Roblox menghadirkan mode offline menjadi salah satu bentuk adaptasi awal industri digital terhadap aturan baru, sekaligus menegaskan bahwa aspek keamanan anak kini menjadi perhatian utama dalam pengembangan platform. (***)
Kategori: Teknologi
-

Roblox Siapkan Mode Offline untuk Anak, Ikuti Aturan PP Tunas
-

Perang Sunyi di Balik Layar: Saat Hacker Iran Menyerang Tanpa Peluru
Kanalindependen.id – Dunia mungkin tak selalu mendengar dentuman dari medan perang. Tapi di balik layar, serangan lain berlangsung senyap, cepat, dan kerap tak terlihat.
Sejak awal 2026, kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran mulai bergerak lebih agresif. Mereka tidak lagi sekadar bertahan dari serangan digital, melainkan aktif menyerang menargetkan Amerika Serikat dan Israel dalam gelombang operasi siber yang terus meningkat.
Namun ini bukan sekadar soal membobol sistem.
Ini tentang menciptakan rasa takut.
Alih-alih melumpuhkan infrastruktur besar secara langsung, banyak serangan justru diarahkan pada hal yang lebih halus namun berdampak luas: membocorkan data lama, meretas email pribadi, hingga menyusup ke kamera pengawas. Informasi yang diambil tak selalu baru, bahkan kadang sudah usang tapi cukup sensitif untuk memicu kepanikan.
Di titik inilah strategi berubah.
Serangan siber kini tak hanya bicara teknologi, melainkan juga psikologi. Ketika data pribadi seorang pejabat tersebar, atau rekaman dari kamera keamanan muncul di ruang publik, yang terguncang bukan hanya sistem tetapi juga kepercayaan.
Di Israel, misalnya, laporan menyebutkan puluhan kamera pengawas berhasil diakses peretas. Sementara di Amerika Serikat, sejumlah akun email pejabat menjadi target. Tidak semua serangan berujung kerusakan besar, tapi efeknya terasa: kekhawatiran, ketidakpastian, dan tekanan yang terus mengendap.
Menariknya, banyak dari serangan ini tidak tergolong canggih.
Sebagian hanya memanfaatkan celah lama yang belum diperbarui, atau teknik sederhana seperti phishing. Namun dilakukan dalam jumlah besar dan terus-menerus, serangan-serangan ini menjelma menjadi ancaman yang sulit diabaikan.
Seperti gerimis yang tak deras, tapi tak pernah benar-benar berhenti.
Para analis keamanan menyebut pola ini sebagai bagian dari strategi “hack-and-leak” membobol, lalu menyebarkan. Tujuannya bukan hanya mendapatkan akses, tetapi juga mempermalukan, mengganggu, dan menguras perhatian target.
Di tengah konflik yang lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, ruang siber kini menjadi medan tempur tambahan. Tidak ada garis depan yang jelas, tidak ada peringatan serangan. Yang ada hanya notifikasi, kebocoran data, dan sistem yang tiba-tiba tak lagi aman.
Perang, rupanya, tak selalu hadir dalam bentuk yang bisa dilihat mata.
Dan di era ini, satu celah kecil di dunia digital bisa menjadi pintu masuk bagi keguncangan yang jauh lebih besar. (***)
-

OpenAI Batalkan Pengembangan Fitur Percakapan Dewasa di ChatGPT
Kanalindependen.id – OpenAI dilaporkan resmi menahan, bahkan cenderung membatalkan rencana pengembangan fitur interaksi dewasa atau yang sempat populer dengan sebutan “NSFW mode” pada ChatGPT.
Keputusan tersebut diambil menyusul kekhawatiran terkait dampak sosial, psikologis, serta risiko reputasi perusahaan.Mengutip Arstechnica.com, laporan internal menyebutkan bahwa sejumlah investor dan tim peneliti OpenAI merasa keberatan dengan arah pengembangan tersebut.
Kehadiran fitur interaksi erotis dinilai berisiko memicu regulasi ketat di berbagai negara yang dapat menghambat ekspansi teknologi kecerdasan buatan (AI) secara umum.Dari sisi teknis, para peneliti menyoroti dampak psikologis yang belum sepenuhnya teruji. Penggunaan AI untuk interaksi seksual dikhawatirkan dapat memicu ketergantungan emosional, distorsi relasi antarmanusia, hingga gangguan kesehatan mental bagi kelompok pengguna tertentu.
Selain itu, sistem moderasi saat ini dianggap belum cukup tangguh untuk menjamin fitur tersebut aman dari penyalahgunaan, terutama untuk melindungi pengguna di bawah umur.
OpenAI pun mengakui belum memiliki data ilmiah yang memadai terkait konsekuensi jangka panjang dari interaksi intim antara manusia dan chatbot.Alih-alih mengejar fitur kontroversial, perusahaan besutan Sam Altman ini kini memilih untuk memfokuskan sumber daya pada pengembangan teknologi yang dinilai lebih bermanfaat luas dan memiliki standar keamanan tinggi.
Langkah ini sekaligus menegaskan posisi OpenAI untuk tetap berada pada jalur pengembangan AI yang etis di tengah persaingan industri yang kian kompetitif. (***)
-

Skandal AI Mengguncang, xAI Digugat Usai Ubah Foto Remaja Nyata Jadi Konten Terlarang
Kanalindependen.id – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, digugat setelah diduga mengubah foto nyata remaja perempuan menjadi konten terlarang tanpa persetujuan.
Gugatan tersebut diajukan oleh tiga remaja perempuan di Amerika Serikat. Mereka menuding teknologi milik xAI dimanfaatkan untuk memanipulasi foto asli menjadi konten bermuatan seksual yang masuk kategori eksploitasi anak.
Kasus ini bermula dari beredarnya gambar-gambar yang diduga hasil manipulasi AI di sejumlah platform digital. Foto-foto tersebut disebut diambil dari sumber publik, seperti media sosial, lalu diolah menggunakan teknologi berbasis AI hingga berubah menjadi konten yang tidak pantas.
Tak hanya satu korban, laporan menyebutkan praktik serupa diduga terjadi pada lebih banyak remaja lainnya. Hal ini memperbesar kekhawatiran publik terhadap potensi penyalahgunaan teknologi AI yang semakin mudah diakses.
Dalam gugatan tersebut, pihak korban menilai xAI lalai dalam menghadirkan teknologi yang dinilai memiliki celah penyalahgunaan.
Fitur pengolahan gambar berbasis AI disebut memungkinkan manipulasi visual secara ekstrem, bahkan hingga mengubah konteks foto menjadi berbeda jauh dari aslinya.
Kuasa hukum korban menilai sistem tersebut bermasalah sejak awal karena tidak memiliki pengamanan yang cukup kuat untuk mencegah penyalahgunaan.
Kasus ini pun memicu perhatian luas, termasuk dari regulator yang mulai menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat terhadap pengembangan teknologi AI.
Dampak Nyata bagi KorbanBagi para korban, dampak yang ditimbulkan tidak hanya sebatas di dunia maya. Penyebaran gambar manipulatif tersebut disebut berdampak pada kondisi psikologis, rasa aman, hingga kehidupan sosial mereka.
Konten yang sudah tersebar di internet juga sulit untuk sepenuhnya dihapus, sehingga berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tanpa kontrol dapat membawa konsekuensi serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak dan remaja.
Di tengah pesatnya inovasi, kasus ini kembali membuka diskusi besar soal batas penggunaan teknologi AI.
Kemampuan AI untuk memanipulasi gambar secara realistis memang menawarkan banyak manfaat, namun di sisi lain juga membuka peluang penyalahgunaan jika tidak diiringi regulasi dan pengamanan yang memadai.
Para penggugat kini menuntut pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami, sekaligus mendorong adanya pembatasan terhadap fitur-fitur AI yang berpotensi disalahgunakan.Kasus ini diperkirakan akan menjadi salah satu titik penting dalam menentukan arah regulasi teknologi AI ke depan antara mendorong inovasi atau memperketat perlindungan pengguna. (***)
-

Kontroversi Baru di Dunia Open Source, AI Menulis Ulang Kode, Lisensi Ikut Diganti
Kanalindependen.id – Di dunia perangkat lunak terbuka atau open source, aturan soal lisensi selama ini dianggap sebagai hal yang jelas.
Jika seseorang menggunakan atau mengembangkan ulang sebuah program, ia harus mengikuti aturan lisensi yang sudah ditetapkan oleh pembuatnya.
Namun di era kecerdasan buatan (AI), aturan lama itu mulai dipertanyakan.
Perdebatan baru muncul setelah sebuah proyek perangkat lunak populer bernama chardet, pustaka Python yang banyak digunakan untuk mendeteksi jenis teks dalam berbagai bahasa, dirilis dalam versi terbaru.
Versi baru ini disebut-sebut ditulis ulang dengan bantuan AI.
Masalahnya bukan pada teknologi yang digunakan, melainkan pada keputusan yang datang setelahnya.
Pengembang proyek tersebut mengubah lisensi software dari LGPL, yang memiliki aturan cukup ketat, menjadi MIT, lisensi yang jauh lebih bebas digunakan.
Perubahan ini langsung memicu diskusi panjang di komunitas open source.
Pertanyaan utamanya sederhana, tetapi jawabannya tidak mudah: apakah kode yang ditulis ulang oleh AI benar-benar bisa dianggap sebagai karya baru?
Jika memang sepenuhnya baru, maka mengganti lisensi mungkin saja diperbolehkan.
Namun jika kode tersebut masih dianggap sebagai turunan dari proyek lama, maka lisensi aslinya seharusnya tetap berlaku.
Dalam dunia pengembangan perangkat lunak sebenarnya ada konsep yang dikenal sebagai clean-room implementation.
Artinya, sebuah program ditulis ulang dari awal tanpa melihat atau menyalin kode dari proyek sebelumnya.
Jika proses ini benar-benar dilakukan, maka program baru dapat memiliki lisensi yang berbeda. Namun ketika AI ikut terlibat, batasnya menjadi tidak lagi jelas.
AI belajar dari berbagai contoh kode yang ada di internet. Karena itu, sebagian pengembang mempertanyakan apakah hasil yang ditulis AI benar-benar bisa disebut sebagai karya yang sepenuhnya baru.
Persoalan ini juga semakin rumit karena dari sisi hukum, AI sendiri tidak dianggap sebagai pencipta yang memiliki hak cipta.
Artinya, kode yang dihasilkan AI bisa saja berada dalam wilayah abu-abu secara hukum. Bagi komunitas open source, situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru.
Jika AI dapat digunakan untuk menulis ulang sebuah proyek lalu mengganti lisensinya, maka banyak proyek open source yang selama ini dilindungi oleh lisensi tertentu bisa kehilangan perlindungan tersebut.
Perusahaan atau pihak lain mungkin saja mengambil proyek yang sudah ada, meminta AI menulis ulang kodenya, lalu merilisnya kembali dengan lisensi yang lebih bebas.
Sebagian pengembang melihat ini sebagai potensi masalah besar bagi masa depan open source. Namun di sisi lain, ada pula yang menganggapnya sebagai bagian dari perubahan besar dalam dunia teknologi.
AI kini tidak hanya membantu menulis kode, tetapi juga mulai memunculkan pertanyaan baru tentang kepemilikan, hak cipta, dan aturan lisensi.
Untuk saat ini, belum ada jawaban yang benar-benar pasti. Tetapi satu hal mulai terlihat jelas: ketika AI mulai ikut menulis software, aturan lama tentang kode dan lisensi juga ikut dipertanyakan. (***)
-

Seorang Pria dari Masa Depan Masuk Diner dan Mengabarkan Kiamat AI
Kanalindependen.id- Akhir pekan selalu datang dengan janji istirahat. Kopi diminum lebih lambat. Waktu terasa longgar. Pikiran mencoba bernapas.
Namun ada cerita yang justru terasa pas dibaca saat jeda seperti ini bukan karena menghibur, tetapi karena membuat kita diam lebih lama dari biasanya.
Bayangkan sebuah diner di malam hari. Lampu neon menyala malas. Orang-orang duduk sendiri-sendiri, sebagian menatap layar ponsel, sebagian menatap kosong. Lalu seorang pria masuk, kusut, gelisah, dan berkata tanpa basa-basi.
“Aku datang dari masa depan. Dunia akan berakhir karena AI.”Tak ada ledakan. Tak ada kepanikan massal. Hanya tawa kecil dan ketidakpedulian. Persis seperti respons kita hari ini, setiap kali mendengar peringatan tentang teknologi, iklim, atau kemanusiaan.
Cerita Good Luck, Have Fun, Don’t Die tidak berisik. Ia tidak mendikte. Ia justru duduk diam di sudut ruangan pikiran kita, menunggu sampai kita siap bertanya pada diri sendiri.
Dalam film ini, kiamat tidak turun dari langit. Ia tidak datang sebagai monster. Ia tumbuh pelan-pelan, dari kebiasaan manusia menyerahkan keputusan, empati, bahkan makna hidup, kepada sistem yang diciptakannya sendiri.
AI digambarkan bukan sebagai iblis, melainkan sebagai hasil logis dari dunia yang terlalu lelah untuk berpikir sendiri.
Yang menakutkan bukan kecerdasannya, melainkan kepatuhan kita.
Kita terbiasa membiarkan algoritma memilihkan apa yang kita baca, tonton, sukai, bahkan benci. Perlahan, pilihan bukan lagi hasil perenungan, melainkan hasil rekomendasi.
Dan kita menyebutnya kemudahan.
Tokoh-tokoh dalam cerita ini bukan pahlawan. Mereka manusia biasa: lelah, ragu, sering salah. Justru karena itu mereka terasa dekat.
Film ini seperti ingin berkata: dunia tidak selalu diselamatkan oleh mereka yang paling pintar, tetapi oleh mereka yang masih mau bertanya, masih mau ragu, dan masih mau menolak tunduk sepenuhnya.
Disutradarai oleh Gore Verbinski, kisah ini terasa seperti sindiran halus: teknologi berkembang sangat cepat, sementara kebijaksanaan manusia berjalan tertatih.
Kita menciptakan mesin yang bisa belajar sendiri, tapi lupa mengajari diri kita kapan harus berhenti.
Mungkin inilah mengapa cerita ini cocok dibaca atau ditonton di akhir pekan.
Bukan untuk membuat takut, melainkan untuk mengingatkan:
bahwa dunia tidak runtuh dalam satu malam.
Ia runtuh sedikit demi sedikit, saat kita terlalu sibuk, terlalu nyaman, dan terlalu percaya bahwa semua akan baik-baik saja.Pria dari masa depan itu mungkin fiktif.
Namun sikap acuh kita sangat nyata.Dan barangkali, sebelum bertanya apakah AI akan mengambil alih dunia, ada pertanyaan yang lebih penting untuk direnungkan di sisa akhir pekan ini:
kapan terakhir kali kita benar-benar memegang kendali atas hidup kita sendiri tanpa bantuan algoritma? (***)
-

Wikipedia Blokir Semua Tautan ke Archive.today Gara-gara Tuduhan DDoS dan Manipulasi Arsip Web
Kanalindependen.id — Komunitas pengedit di Wikipedia mengambil langkah drastis dengan mem-blacklist layanan arsip web Archive.today dan mulai menghapus ratusan ribu tautan ke situs tersebut dari ensiklopedia online itu. Keputusan ini muncul setelah dugaan perilaku berbahaya yang melibatkan distributed denial-of-service (DDoS) dan perubahan isi arsip yang dianggap merusak keandalan sumber.
Pengedit Wikipedia mencatat bahwa Archive.today, yang juga beroperasi di beberapa domain seperti archive.is dan archive.ph, telah dicantumkan lebih dari 695.000 kali di sekitar 400.000 halaman sebagai sumber arsip kutipan. Namun komunitas menyimpulkan bahwa tautan ke situs ini tidak lagi aman untuk dibagikan kepada pembaca.
Pemicu keputusan ini adalah klaim dari seorang blogger keamanan, Jani Patokallio, bahwa halaman CAPTCHA di situs Archive.today sempat menyisipkan kode JavaScript berbahaya. Kode tersebut membuat setiap pengunjung yang memuat halaman tersebut tanpa sadar mengirim permintaan berulang ke blog miliknya, yang pada akhirnya berfungsi sebagai alat DDoS terhadap blog itu sendiri.
Selain itu, para pengedit menemukan bukti bahwa beberapa halaman arsip telah dimodifikasi setelah disimpan, termasuk penggantian nama dan konten lain yang membuat arsip tidak mencerminkan sumber asli dengan benar hal yang sangat penting dalam konteks Wikipedia sebagai ensiklopedia yang mengandalkan keandalan sumber.
Karena alasan-alasan tersebut, komunitas Wikipedia mencapai konsensus untuk menambahkan Archive.today ke daftar hitam spam, yang secara teknis mencegah penambahan tautan baru dari domain tersebut. Seluruh tautan lama juga tengah diperbaiki atau diganti dengan sumber alternatif yang lebih terpercaya, seperti The Internet Archive (Wayback Machine) atau layanan arsip lain yang tidak kontroversial.
Langkah ini merupakan salah satu respon policy terbesar dalam beberapa tahun terakhir terhadap layanan di luar Wikipedia, menunjukkan bahwa integritas sumber dan keamanan pembaca menjadi prioritas utama bagi komunitas editor. (***)
-

Punya 100 Ribu Followers tapi Tak Didengar? Inilah Realita di Balik Angka Media Sosial
Kanalindependen.id – Di profilnya tertulis 120 ribu followers. Angkanya besar. Terlihat meyakinkan. Tapi ketika konten baru diunggah, interaksinya hanya puluhan komentar.
Fenomena ini semakin umum di media sosial. Angka besar tidak selalu berarti pengaruh besar.
Di era algoritma, jumlah pengikut bukan lagi satu-satunya ukuran kekuatan.
Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024–2025, pengguna internet Indonesia telah menembus lebih dari 220 juta jiwa, atau sekitar 80 persen populasi.
Sementara laporan tahunan We Are Social menunjukkan Indonesia termasuk negara dengan pengguna Instagram dan TikTok terbesar di dunia.
Artinya, media sosial adalah ruang utama promosi, opini, bahkan politik. Tak heran jika followers dianggap sebagai “mata uang digital”.
Kasus Nyata: Followers Dibeli, Engagement Jatuh
Fenomena beli followers bukan mitos. Pada 2019, perusahaan riset keamanan siber Cheq dalam laporan globalnya menyebut praktik pembelian followers dan interaksi palsu menyebabkan kerugian miliaran dolar di industri periklanan digital setiap tahun.
Platform seperti Instagram sendiri pernah melakukan ”pembersihan” akun palsu secara massal. Pada 2018, Instagram menghapus jutaan akun bot dan spam, menyebabkan banyak akun besar kehilangan ribuan bahkan ratusan ribu followers dalam semalam.
Kasus ini menunjukkan satu hal, angka bisa dimanipulasi. Namun, interaksi nyata sulit dipalsukan dalam jangka panjang.
-

ChatGPT Mulai Tampilkan Iklan untuk Pengguna Gratisan
Kanalindependen.id – Pengguna ChatGPT gratis kini akan mulai melihat iklan saat menggunakan layanan kecerdasan buatan populer ini. OpenAI mengumumkan, uji coba iklan baru ini hanya berlaku bagi pengguna tier Free dan Go, sementara pengguna berlangganan Plus, Pro, Business, Enterprise, maupun Education tetap bebas iklan.
Iklan yang muncul berbentuk tautan di bawah jawaban ChatGPT dengan label “sponsored”. OpenAI menegaskan, keberadaan iklan ini tidak akan memengaruhi kualitas jawaban yang diberikan ChatGPT.
“Tujuan kami adalah agar iklan mendukung akses yang lebih luas ke fitur ChatGPT yang lebih canggih, sambil tetap mempertahankan kepercayaan yang diberikan orang-orang untuk tugas-tugas penting dan pribadi,” tulis OpenAI dalam blog resminya, seperti dikutip Engadget, Rabu (11/2/2026).
Uji coba ini dimulai di Amerika Serikat, dengan tujuan mempelajari pengalaman pengguna dan memastikan iklan tampil dengan tepat. Iklan juga tidak akan ditampilkan ketika pembicaraan mengenai topik sensitif, seperti kesehatan fisik, kesehatan mental, atau politik.
Menariknya, OpenAI menegaskan bahwa data percakapan pengguna tidak akan dijual kepada pengiklan. Sistem iklan akan menyesuaikan dengan topik percakapan, misalnya pengguna yang sering menanyakan resep makanan kemungkinan akan melihat iklan terkait bahan masakan atau layanan pesan antar makanan.
Pengguna pun tetap memiliki kontrol penuh: riwayat interaksi dengan iklan bisa dihapus kapan saja, iklan dapat ditutup, dan pengaturan personalisasi iklan bisa disesuaikan.
Langkah OpenAI ini muncul setelah kompetitor Anthropic menayangkan iklan saat Super Bowl, yang menyindir OpenAI karena memperkenalkan iklan di ChatGPT. Sam Altman, CEO OpenAI, menegaskan bahwa tujuan utama uji coba ini adalah meningkatkan aksesibilitas layanan tanpa mengurangi kualitas dan privasi pengguna. (***)
