Tag: Agentic AI

  • Gemini 3.8 Flash Meluncur, Model AI Google Makin Agresif

    Gemini 3.8 Flash Meluncur, Model AI Google Makin Agresif

    Kanalindependen.id  – Google kembali mempercepat pengembangan model kecerdasan buatan (AI) Gemini. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu resmi meluncurkan Gemini 3.8 Flash pada 2 September 2026.

    Peluncuran ini menjadi model Flash ketiga yang diperkenalkan Google hanya dalam waktu sekitar enam minggu. Sebelumnya, Google merilis Gemini 3.5 Flash-Lite dan Gemini 3.7 Flash.

    Langkah tersebut menunjukkan Google semakin agresif mengembangkan model AI yang mengutamakan kecepatan, kemampuan penalaran, serta biaya penggunaan yang lebih rendah.

    Gemini 3.8 Flash dirancang untuk menangani pekerjaan yang membutuhkan penalaran lebih panjang. Fokus utamanya mencakup pemrograman, pengembangan perangkat lunak, serta pekerjaan berbasis agen AI atau agentic workflows.

    Google mengklaim model terbaru ini mampu meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas kompleks. Model dapat melakukan penalaran lebih panjang dan menggunakan berbagai alat secara berulang untuk menyelesaikan pekerjaan.

    Fokus pada Coding

    Salah satu peningkatan yang menjadi perhatian adalah kemampuan pemrograman.

    Google menyebut Gemini 3.8 Flash menunjukkan peningkatan pada sejumlah pengujian software engineering. Model ini dirancang untuk mengerjakan tugas pengembangan perangkat lunak yang membutuhkan beberapa tahapan sekaligus.

    Kemampuan tersebut membuat Gemini 3.8 Flash diarahkan bukan hanya sebagai chatbot, tetapi juga sebagai mesin yang dapat membantu menjalankan pekerjaan secara lebih mandiri.

    Meski demikian, peningkatan kemampuan tersebut memiliki konsekuensi. Model dapat menggunakan lebih banyak token ketika mengerjakan tugas kompleks. Artinya, biaya aktual untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan bisa lebih tinggi dibandingkan sekadar menghitung harga per token.

    Harga Tetap Kompetitif

    Google mempertahankan harga pengenalan Gemini 3.8 Flash pada level yang sama dengan Gemini 3.7 Flash.

    Penggunaan model ini dibanderol US$0,75 per 1 juta token input dan US$3,75 per 1 juta token output hingga akhir 2026.

    Setelah periode tersebut, tarif standar akan naik menjadi US$1,50 per 1 juta token input dan US$7,50 per 1 juta token output.

    Strategi tersebut membuat Google berusaha menawarkan kemampuan AI yang semakin tinggi tanpa langsung menaikkan biaya dasar penggunaan model.

    Ada Versi Khusus Keamanan Siber

    Google juga memperkenalkan Gemini 3.8 Flash Cyber bersamaan dengan versi reguler.

    Model tersebut dirancang khusus untuk membantu pekerjaan keamanan siber, termasuk menemukan kerentanan perangkat lunak dan menghasilkan perbaikan atau patch.

    Google menyebut tim keamanan Chrome menemukan Gemini 3.8 Flash Cyber mampu menghasilkan patch yang benar hingga 2,6 kali lebih banyak dibandingkan model komersial yang lebih besar dalam pengujian mereka.

    Namun, versi Cyber tidak tersedia secara bebas. Google membatasi aksesnya melalui Fairwind Program untuk pemerintah dan mitra yang dipercaya.

    Google Makin Agresif

    Kemunculan Gemini 3.8 Flash memperlihatkan perubahan strategi Google dalam persaingan AI.

    Google tidak hanya mengandalkan model besar untuk mengejar kemampuan tertinggi. Perusahaan juga memperbanyak model Flash yang lebih cepat dan relatif murah untuk kebutuhan coding, otomasi, serta agen AI.

    Dalam waktu sekitar enam minggu, Google telah memperkenalkan tiga model Flash baru. Sementara itu, pembaruan lini model Pro tampak belum menjadi fokus utama.

    Persaingan AI pun semakin bergeser. Kemampuan model tidak lagi hanya diukur dari kemampuan menjawab pertanyaan, tetapi juga dari seberapa baik AI dapat menyelesaikan pekerjaan secara mandiri.

    Gemini 3.8 Flash menjadi salah satu langkah terbaru Google untuk masuk lebih dalam ke persaingan tersebut. (***)

  • Google Bersiap Ubah Total Mesin Pencari, Era “10 Link Biru” Disebut Mulai Berakhir

    Google Bersiap Ubah Total Mesin Pencari, Era “10 Link Biru” Disebut Mulai Berakhir

    Kanalindependen.id – Raksasa teknologi bersiap melakukan perubahan terbesar pada mesin pencarinya dalam lebih dari dua dekade terakhir. Melalui ajang Google I/O 2026, perusahaan itu memperkenalkan arah baru Search berbasis “agentic AI” atau kecerdasan buatan yang mampu bekerja otomatis layaknya asisten digital pribadi.

    Perubahan ini membuat Google Search tak lagi sekadar menampilkan deretan tautan website, melainkan langsung memberikan jawaban, membuat tampilan interaktif, hingga menjalankan tugas tertentu untuk pengguna.

    Mengutip Archtenica. com, Vice President Search Google, Liz Reid, bahkan menyebut bahwa “Google Search is AI Search”, menandai perubahan besar cara orang mencari informasi di internet.

    Dalam sistem baru tersebut, pengguna bisa melakukan pencarian menggunakan percakapan panjang, gambar, video, hingga file dokumen. Search nantinya akan memahami konteks pertanyaan, memberikan ringkasan otomatis, hingga menyusun solusi secara langsung.

    Google juga memperkenalkan fitur AI Mode yang kini diklaim telah digunakan lebih dari satu miliar pengguna setiap bulan. Fitur ini memungkinkan pengguna bercakap-cakap dengan mesin pencari seperti menggunakan chatbot AI.

    Tak hanya itu, Google mulai menanamkan “AI agents” yang dapat bekerja di latar belakang selama 24 jam. Agen AI ini mampu memantau informasi tertentu, melacak perubahan harga, mencari tiket, memonitor promo, hingga memberikan pembaruan otomatis tanpa pengguna harus melakukan pencarian berulang.

    Pada tahap berikutnya, Search bahkan dapat membuat mini aplikasi secara instan berdasarkan permintaan pengguna. Misalnya membuat itinerary perjalanan, dashboard pemantauan, simulasi interaktif, hingga tabel dan grafik otomatis.

    Perubahan besar tersebut sekaligus memunculkan kekhawatiran baru bagi industri media dan website. Sebab, pengguna diperkirakan akan semakin jarang mengklik tautan situs karena informasi telah langsung dirangkum AI Google di halaman pencarian.

    Penelitian terbaru bahkan menunjukkan AI search cenderung mengurangi keberagaman sumber informasi dan lebih banyak menampilkan sumber besar dibanding website kecil.

    Meski menuai kritik, Google tampaknya tetap percaya diri melanjutkan transformasi tersebut. Dominasi Google di pasar mesin pencari dinilai menjadi modal utama untuk mengubah kebiasaan pengguna internet secara global.

    Transformasi ini disebut-sebut menjadi awal era baru internet, ketika mesin pencari tidak lagi hanya membantu menemukan informasi, tetapi juga bertindak sebagai asisten digital yang mampu berpikir, bekerja, dan mengambil tindakan atas nama pengguna. (***)