Tag: amerika serikat

  • Baru Diluncurkan, Dua Model AI Anthropic Langsung Dihentikan Pemerintah AS

    Baru Diluncurkan, Dua Model AI Anthropic Langsung Dihentikan Pemerintah AS

    Kanalindependen.id  – Dua model kecerdasan buatan (AI) terbaru milik perusahaan Anthropic, Fable 5 dan Mythos 5, terpaksa dihentikan hanya beberapa hari setelah resmi diluncurkan. Penghentian tersebut dilakukan menyusul arahan dari pemerintah Amerika Serikat yang menyatakan adanya kekhawatiran terkait aspek keamanan nasional.

    Kebijakan tersebut muncul pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump yang disebut membatasi akses terhadap kedua model AI tersebut bagi warga negara asing. Pembatasan itu tidak hanya berlaku bagi pengguna di luar Amerika Serikat, tetapi juga mencakup individu nonwarga negara AS yang berada di dalam negeri, termasuk sebagian karyawan Anthropic.

    Menghadapi aturan yang harus diterapkan dalam waktu singkat, Anthropic memilih menonaktifkan seluruh akses ke Fable 5 dan Mythos 5. Langkah ini diambil karena perusahaan menilai pemisahan akses berdasarkan kewarganegaraan tidak dapat dilakukan secara cepat tanpa menimbulkan masalah operasional.

    Pemerintah AS menilai kedua model tersebut berpotensi menimbulkan risiko apabila dimanfaatkan untuk aktivitas yang mengancam keamanan nasional. Kekhawatiran yang muncul antara lain kemungkinan AI digunakan untuk menemukan celah keamanan perangkat lunak atau dimanfaatkan melalui teknik manipulasi sistem yang dikenal sebagai jailbreak.

    Meski demikian, Anthropic menyatakan belum menerima bukti rinci yang menunjukkan adanya ancaman spesifik dari Fable 5 maupun Mythos 5. Perusahaan juga menegaskan bahwa sebelum peluncuran, kedua model tersebut telah melalui serangkaian pengujian keamanan dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

    Anthropic berpendapat sejumlah kemampuan yang menjadi perhatian pemerintah sebenarnya juga dimiliki oleh model AI canggih lain yang masih tersedia untuk publik. Karena itu, perusahaan kini tengah berdiskusi dengan otoritas pemerintah guna mencari solusi agar akses terhadap Fable 5 dan Mythos 5 dapat kembali dibuka.

    Kasus ini menjadi salah satu contoh paling menonjol dari meningkatnya pengawasan pemerintah Amerika Serikat terhadap perkembangan teknologi AI. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut menandai perubahan kebijakan yang mulai memperlakukan model AI canggih sebagai teknologi strategis yang memerlukan pengendalian lebih ketat.

    Sementara proses pembahasan masih berlangsung, layanan AI lain milik Anthropic tetap beroperasi normal dan tidak terdampak oleh kebijakan penghentian tersebut. (***)

  • Awas! Wajah dari Instagram Bisa Berujung Jadi Konten AI Porn

    Awas! Wajah dari Instagram Bisa Berujung Jadi Konten AI Porn

    Kanalindependen.id  – Unggahan foto yang selama ini dianggap sekadar dokumentasi kehidupan di media sosial, kini berubah menjadi barang bukti dalam sebuah gugatan serius di Amerika Serikat. Sejumlah perempuan menggugat sekelompok pria yang diduga memanfaatkan foto-foto dari akun Instagram mereka untuk membangun konten pornografi berbasis kecerdasan buatan (AI) tanpa persetujuan.

    Gugatan yang diajukan di Arizona itu mengungkap pola yang berulang: foto publik dari media sosial diambil, diproses melalui sistem AI generatif, lalu diubah menjadi gambar dan video seksual yang menyerupai wajah asli para korban. Tidak berhenti di situ, hasil manipulasi digital tersebut diduga disebarkan dan dimonetisasi melalui berbagai kanal online.

    Mengutip Arstechnica.com, dalam dokumen perkara, para penggugat menyebut identitas mereka direkayasa menjadi “AI influencer”  figur digital yang seolah-olah nyata, namun sepenuhnya dibentuk oleh algoritma. Wajah mereka digunakan tanpa izin, sementara aktivitas yang ditampilkan dalam konten tersebut tidak pernah terjadi di dunia nyata.

    Salah satu entitas yang disebut dalam gugatan diduga menyediakan panduan teknis pembuatan figur AI tersebut, termasuk metode menghasilkan model digital berbasis wajah manusia. Sistem ini, menurut tudingan, membuka ruang bagi siapa saja untuk menciptakan persona virtual yang menyerupai individu tertentu, termasuk dalam konteks seksual.

    Kasus ini membuka kembali perdebatan lama yang kini semakin tajam: sejauh mana data visual yang bersifat publik di media sosial dapat digunakan ulang oleh sistem kecerdasan buatan tanpa melanggar batas privasi dan hak atas identitas seseorang.

    Para penggugat menilai, yang terjadi bukan sekadar penyalahgunaan gambar, tetapi bentuk eksploitasi identitas berbasis teknologi. Mereka menuntut pertanggungjawaban hukum atas penggunaan wajah mereka dalam konten pornografi digital yang tidak pernah mereka setujui.

    Di balik perkembangan teknologi AI generatif yang kian cepat, kasus ini memperlihatkan satu hal yang mulai berulang: celah hukum yang belum sepenuhnya siap menghadapi bentuk baru manipulasi tubuh dan wajah manusia di ruang digital. (***)

  • Perang Sunyi di Balik Layar: Saat Hacker Iran Menyerang Tanpa Peluru

    Perang Sunyi di Balik Layar: Saat Hacker Iran Menyerang Tanpa Peluru

    Kanalindependen.id – Dunia mungkin tak selalu mendengar dentuman dari medan perang. Tapi di balik layar, serangan lain berlangsung senyap, cepat, dan kerap tak terlihat.

    Sejak awal 2026, kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran mulai bergerak lebih agresif. Mereka tidak lagi sekadar bertahan dari serangan digital, melainkan aktif menyerang menargetkan Amerika Serikat dan Israel dalam gelombang operasi siber yang terus meningkat.

    Namun ini bukan sekadar soal membobol sistem.

    Ini tentang menciptakan rasa takut.

    Alih-alih melumpuhkan infrastruktur besar secara langsung, banyak serangan justru diarahkan pada hal yang lebih halus namun berdampak luas: membocorkan data lama, meretas email pribadi, hingga menyusup ke kamera pengawas. Informasi yang diambil tak selalu baru, bahkan kadang sudah usang tapi cukup sensitif untuk memicu kepanikan.

    Di titik inilah strategi berubah.

    Serangan siber kini tak hanya bicara teknologi, melainkan juga psikologi. Ketika data pribadi seorang pejabat tersebar, atau rekaman dari kamera keamanan muncul di ruang publik, yang terguncang bukan hanya sistem tetapi juga kepercayaan.

    Di Israel, misalnya, laporan menyebutkan puluhan kamera pengawas berhasil diakses peretas. Sementara di Amerika Serikat, sejumlah akun email pejabat menjadi target. Tidak semua serangan berujung kerusakan besar, tapi efeknya terasa: kekhawatiran, ketidakpastian, dan tekanan yang terus mengendap.

    Menariknya, banyak dari serangan ini tidak tergolong canggih.

    Sebagian hanya memanfaatkan celah lama yang belum diperbarui, atau teknik sederhana seperti phishing. Namun dilakukan dalam jumlah besar dan terus-menerus, serangan-serangan ini menjelma menjadi ancaman yang sulit diabaikan.

    Seperti gerimis yang tak deras, tapi tak pernah benar-benar berhenti.

    Para analis keamanan menyebut pola ini sebagai bagian dari strategi “hack-and-leak” membobol, lalu menyebarkan. Tujuannya bukan hanya mendapatkan akses, tetapi juga mempermalukan, mengganggu, dan menguras perhatian target.

    Di tengah konflik yang lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, ruang siber kini menjadi medan tempur tambahan. Tidak ada garis depan yang jelas, tidak ada peringatan serangan. Yang ada hanya notifikasi, kebocoran data, dan sistem yang tiba-tiba tak lagi aman.

    Perang, rupanya, tak selalu hadir dalam bentuk yang bisa dilihat mata.

    Dan di era ini, satu celah kecil di dunia digital bisa menjadi pintu masuk bagi keguncangan yang jauh lebih besar. (***)