Tag: Baamang

  • Kepungan Karhutla di 22 Titik Perkotaan Sampit, BPBD Minta Maaf Tak Semua Terjangkau

    Kepungan Karhutla di 22 Titik Perkotaan Sampit, BPBD Minta Maaf Tak Semua Terjangkau

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung kawasan perkotaan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memaksa Pasukan Gabungan Satgas Karhutla bekerja ekstra keras hingga malam hari.

    Laporan Cepat Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Posko Bencana Karhutla dan Kekeringan Kotim hingga Selasa malam (18/8/2026) pukul 19.24 WIB mencatat sedikitnya 22 lokasi pemadaman dan pengerahan personel disebar secara bersamaan di dua kecamatan rawan, yakni Mentawa Baru Ketapang dan Baamang.

    Melihat besarnya sebaran titik api yang muncul secara serentak di berbagai sudut perkotaan dan keterbatasan armada di lapangan, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat karena belum seluruh laporan kebakaran dapat ditangani secara bersamaan.

    Pihaknya atas nama Posko Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya lantaran tidak dapat menangani semua kejadian yang terlapor akibat keterbatasan jangkauan dan personel.

    “ Kami atas nama Posko Tanggap Darurat Bencana Kahutla dan Kekeringan, mohon maaf yang sebesar-besarnya tidak dapat menangani semua kejadian yang terlapor kepada kami,” katanya.

    Penanganan di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang berlangsung sengit, terutama di sepanjang koridor Jalan Moh. Hatta Lingkar Selatan. Di kawasan ini, pengerahan Regu 6, Regu 12, dan Regu 3 Back Up BPBD berhasil melokalisir lahan terbakar seluas lebih dari 4,7 hektare di sekitar Gang Kusuma, meski petugas harus bertarung dengan kendala minimnya sumber air dan lokasi yang masih menyisakan kepulan asap pekat. Selain Lingkar Selatan, pemadaman masif juga menyasar Jalan Panglima Hamdan, Jalan MT. Haryono Barat Perum Sriwijaya Asri 3, serta koridor Jalan Jenderal Sudirman Km 3,5 hingga Km 4 dekat kantor BPJS Ketenagakerjaan. Operasi pemadaman di Jalan HM. Arsyad depan gudang pupuk bahkan sempat terkendala oleh gangguan mesin pada armada Regu 12, yang menyebabkan sebagian titik api di area tersebut masih aktif membara.

    Sementara itu di Kecamatan Baamang, amukan api menyasar kawasan pemukiman warga dan fasilitas umum. Regu 9 bersama personel Yon TP menerjunkan 17 personel di Jalan Bumi Raya 1, tepatnya kawasan Perum Citra Mandiri dan seberang Pesantren As-Syifa, untuk memadamkan lahan seluas lebih dari 1,2 hektare meski terhambat terbatasnya panjang selang pemadam.

    Di tempat terpisah, Regu 1 BPBD menyisir kawasan Perumahan WMP 31 Jalan Yuliana, Jalan WMP 19, WMP 7, serta WMP 14. Kolaborasi masif Regu 3 dan Regu 4 BPBD dengan pengerahan 19 personel dan dua unit mobil tangki air berhasil memblokir pergerakan api agar tidak merembet mendekati bangunan rumah warga. Sebagian besar lokasi kini berada dalam fase pendinginan (overhaul), meski potensi api menyala kembali (re-ignition) tetap tinggi akibat karakter lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan.

     Laporan operasional Pusdalops PB Kotim malam ini menyingkap dua kendala fatal yang konsisten memperlambat penetrasi penanganan karhutla perkotaan: minimnya pasokan air (water source deficit) dan kerentanan teknis armada (equipment failure). Pernyataan jujur dari Kalaksa BPBD Kotim mengenai ketidakmampuan menjangkau seluruh laporan warga serta adanya gangguan mesin unit pada Regu 12 di Jalan HM. Arsyad mengindikasikan bahwa kapasitas operasional Satgas sudah berada di titik nadir (overwhelmed).

    Pemkab Kotim dan PDAM didesak segera memasang hidran darurat di sepanjang jalur utama seperti Jalan Mohammad Hatta Lingkar Selatan dan Jenderal Sudirman. Ketergantungan armada pada sumber air alami yang mengering memaksa mobil tangki membuang waktu hanya untuk menyuplai ulang air. Di sisi lain, kejadian trouble engine di tengah operasi pemadaman adalah alarm bahaya bagi kesiapan tempur Satgas. Disdamkarmat dan BPBD wajib menyiagakan mekanik mobile serta unit cadangan agar tidak ada titik api yang ditinggalkan dalam kondisi aktif akibat kendala teknis kendaraan. (***)

  • Pulau Hanaut Jadi Anomali Karhutla Kotim, Satu Hotspot Picu Lahan Terbakar Terluas

    Pulau Hanaut Jadi Anomali Karhutla Kotim, Satu Hotspot Picu Lahan Terbakar Terluas

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pola kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tahun ini menunjukkan fenomena yang tidak biasa. Kecamatan Pulau Hanaut hanya mencatat satu hotspot, namun justru menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar di Kotim.

    Data rekapitulasi BPBD Kotim hingga 30 Juli 2026 mencatat luas lahan yang terbakar di Pulau Hanaut mencapai 82,65 hektare atau sekitar 27,52 persen dari total lahan terbakar di Kotim yang telah mencapai 300,31130 hektare.

    Angka tersebut melampaui Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang mencatat 68,457 hektare, serta Baamang dengan 61,711 hektare. Padahal, kedua kecamatan itu jauh lebih sering mengalami kejadian kebakaran.

    Sebaliknya, berdasarkan rekap hotspot sepanjang 2026, Pulau Hanaut hanya tercatat memiliki satu titik panas, jauh di bawah kecamatan lain seperti Antang Kalang (87 hotspot), Kota Besi (74 hotspot), Telaga Antang (54 hotspot), Mentawa Baru Ketapang (40 hotspot), dan Mentaya Hilir Utara (37 hotspot).

    Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa jumlah hotspot tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Satu titik api yang muncul di kawasan dengan vegetasi kering dan sulit dijangkau dapat berkembang menjadi kebakaran berskala besar sebelum berhasil dikendalikan.

    Di sisi lain, Mentawa Baru Ketapang dan Baamang masih menjadi wilayah dengan intensitas penanganan tertinggi. Hingga akhir Juli, BPBD mencatat 54 penanganan di Mentawa Baru Ketapang dan 51 penanganan di Baamang.

    Artinya, lebih dari 75 persen dari total 138 penanganan karhutla sepanjang tahun ini terjadi di dua kecamatan perkotaan tersebut. Meski demikian, luas lahan yang terbakar di kedua wilayah masih berada di bawah Pulau Hanaut.

    Data BPBD juga memperlihatkan Antang Kalang menjadi kecamatan dengan hotspot terbanyak sepanjang tahun, tetapi belum masuk sebagai wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. Kondisi ini mengindikasikan banyak titik panas berhasil ditangani lebih cepat sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran besar.

    Sementara itu, Parenggean menempati posisi keempat luas lahan terbakar dengan 41,5 hektare, disusul Teluk Sampit 13,3 hektare.

    Hingga 30 Juli 2026, BPBD Kotim mencatat 138 kejadian penanganan karhutla, dengan total luas lahan terbakar 300,31130 hektare. Jumlah hotspot yang terdeteksi sepanjang tahun mencapai 488 titik.

    Data tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berpatokan pada banyaknya hotspot. Karakteristik lahan, akses menuju lokasi, jenis vegetasi, serta kecepatan respons pemadaman menjadi faktor yang sangat menentukan besarnya dampak kebakaran.

    Di tengah masih berlangsungnya musim kemarau, BPBD terus mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas. (***)

  • Nekat Beraksi di Pagi Hari! Dua Penjambret Bermotor Tanpa Pelat Gasak Kalung Emas IRT di Baamang

    Nekat Beraksi di Pagi Hari! Dua Penjambret Bermotor Tanpa Pelat Gasak Kalung Emas IRT di Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Keamanan ruang publik di wilayah Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali berada dalam lampu kuning seiring maraknya aksi kejahatan jalanan. Kali ini, aksi penjambretan nekat melanda kawasan Kecamatan Baamang pada Jumat pagi (10/7/2026) sekitar pukul 06.00 WIB lebih. Seorang ibu rumah tangga menjadi sasaran empuk dua pria tak dikenal yang berboncengan sepeda motor saat situasi jalanan justru mulai ramai oleh aktivitas warga.

    Kronologi Eksekusi di Koridor Jalan Cristopel Mihing

    Insiden tersebut meletus tepat di koridor Jalan Cristopel Mihing, di depan Gang Tri Putra. Meskipun matahari telah terbit dan mobilitas warga di sekitar lokasi kejadian terpantau ramai, hal itu tidak menyiutkan nyali para komplotan penjahat jalanan ini untuk mengeksekusi targetnya. Pelaku bergerak cepat dan langsung melarikan diri sesaat setelah berhasil merampas perhiasan korban.

    Korban yang diketahui bernama Ida Suaimi membenarkan tragedi yang menimpa dirinya tersebut. Ia menjelaskan bahwa kedua pelaku datang memepet dari arah belakang secara mendadak sebelum menarik paksa perhiasan yang melingkar di lehernya.

    “Iya benar, saya kena jambret. Kalung ditarik dari belakang sekitar jam enam lewat. Saat itu sudah ramai orang,” urai Ida Suaimi memberikan konfirmasi atas musibah yang dialaminya.

    Modus Jupiter Tanpa Pelat dan Kalung Emas yang Putus Dua

    Hantaman tarikan paksa yang begitu kuat dari eksekutor membuat kalung emas milik korban putus menjadi dua bagian. Berdasarkan manifes korban, perhiasan tersebut memiliki kadar 700 dengan berat total sekitar 10 gram. Setengah bagian dari kalung emas tersebut berhasil digondol kabur oleh pelaku, sementara sisa patahannya masih tersangkut di leher korban.

    Aksi kriminalitas ini pun sempat terekam oleh kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi. Berdasarkan rekaman video dan foto yang beredar, modus operandi pelaku meliputi: Armada Operasional: Kedua pelaku menunggangi sepeda motor jenis Yamaha Jupiter yang sengaja dilepas pelat nomor kendaraannya untuk mempersulit pelacakan. Profil Pengendara Depan: Bertindak sebagai joki, mengenakan jaket hitam dan helm pelindung kepala. Profil Eksekutor Belakang: Bertindak sebagai penarik kalung, mengenakan baju cokelat dan penutup kepala berupa topi.

    Warga di sekitar TKP menduga kuat bahwa aksi penjambretan ini telah direncanakan secara matang oleh para pelaku. Meskipun korban mengaku belum membuat laporan resmi ke pihak kepolisian hingga berita ini diturunkan, sirkuit informasi dan bukti CCTV sudah menyebar luas di tengah masyarakat.

    Keberanian dua pelaku menjambret kalung emas milik Ida Suaimi di Jalan Cristopel Mihing pada pukul 06.00 WIB lebih adalah bukti nyata bahwa para pelaku kejahatan jalanan (street crime) di Sampit kian berani, oportunis, dan tidak lagi memedulikan kehadiran massa. Beraksi di tengah ramainya aktivitas pagi hari menunjukkan adanya pergeseran pola kriminalitas, di mana pelaku memanfaatkan kelengahan warga yang mengira suasana ramai aman dari kejahatan. Namun, catatan kritis yang paling tajam dari insiden ini bukanlah sekadar hilangnya emas 10 gram, melainkan fakta pembiaran terhadap maraknya sepeda motor tanpa pelat nomor yang bebas berseliweran di jalanan Sampit.

    Kanal Independen menegaskan bahwa penggunaan sepeda motor Jupiter tanpa pelat nomor dalam aksi ini adalah manifes dari lemahnya sirkuit pengawasan lalu lintas dan patroli preventif di tingkat tapak. Kendaraan tanpa pelat adalah alat utama yang paling disukai oleh pelaku kriminal karena secara otomatis melumpuhkan efektivitas pelacakan kamera ETLE maupun CCTV lingkungan. Jika polisi dan Dinas Perhubungan terus membiarkan kendaraan tanpa identitas resmi ini bebas melintasi jalan-jalan protokol, maka Sampit secara tidak langsung sedang menyediakan “karpet merah” bagi para pelaku kejahatan jalanan untuk beraksi secara bebas.

    Polres Kotim dan Polsek Baamang tidak boleh pasif dan berlindung di balik alasan “menunggu laporan resmi dari korban”.

    Gunakan rekaman CCTV dan foto manifes pelaku yang sudah beredar luas sebagai dasar hukum untuk melakukan perburuan represif, lacak sirkuit pelarian mereka, dan gila-gilaan gelar razia kendaraan tanpa pelat nomor di seluruh titik strategis Kota Sampit!

    Jika kejahatan jalanan di pagi hari ini dibiarkan berlalu tanpa penegakan hukum yang radikal, maka rasa aman warga Kotim saat melangkah keluar rumah akan total ambruk, dan jalanan kota akan dikuasai oleh hukum rimba para bandit bermotor. (***)

  • Satu Laporan Kuak Rentetan Kejahatan di Sampit: Residivis Buka Suara usai Cat Ulang Motor Curian

    Satu Laporan Kuak Rentetan Kejahatan di Sampit: Residivis Buka Suara usai Cat Ulang Motor Curian

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kejahatan Rl (37) terbongkar dari satu penangkapan yang berujung pada rentetan pengakuan mengejutkan.

    Residivis yang baru bebas dalam hitungan bulan ini awalnya diringkus jajaran Satreskrim Polres Kotawaringin Timur (Kotim) dan Polsek Ketapang atas satu kasus pencurian resmi.

    Namun, proses interogasi justru menguak fakta bahwa ia telah melancarkan aksinya di lima tempat kejadian perkara (TKP) tambahan yang sebelumnya tak terendus aparat maupun korban.

    Kasus utama yang menjerat Rl berawal dari kelalaian pemilik sepeda motor Suzuki Smash Titan di Jalan Iskandar, tepatnya di area depan Toko New Repelita, Kelurahan Mentawa Baru Hulu.

    Kunci kontak yang masih menempel menjadi celah bagi tersangka untuk membawa kabur kendaraan tersebut.

    Pelarian tersangka diwarnai upaya penghilangan jejak. Ia sempat mengecat bodi motor curiannya menjadi hitam menggunakan cat semprot, lalu menyembunyikannya di belakang Masjid Nurul Ibadah.

    Jejak pelariannya terhenti saat aparat membekuknya ketika ia sedang menongkrong di kompleks belakang Eks Golden Theater.

    Atas kejahatan di Mentawa Baru Hulu ini, penyidik menjerat Rl dengan Pasal 476 KUHP yang membawa ancaman hukuman lima tahun penjara.

    Lima TKP Pengakuan Sukarela di Baamang

    Penangkapan di Eks Golden Theater itu menjadi titik tolak terungkapnya lima TKP curanmor lain. Melalui pengakuannya, Rl membeberkan rute kejahatan tambahan yang seluruhnya terpusat di wilayah Kecamatan Baamang.

    Kawasan Terowongan Nur Mentaya di sepanjang Jalan Cilik Riwut menjadi arena operasi utamanya.

    Pada rute ini, tersangka mengakui telah mencuri Yamaha Jupiter Z1 di area dekat Stadion 29 November, melarikan sebuah Yamaha Mio dari samping bangunan puskesmas, serta membawa kabur Honda Blade dari kawasan SPBU Semekto.

    Rentetan pengakuan ini juga mencakup dua titik lain di kecamatan yang sama. Tersangka mengaku telah menggasak Honda Supra 125 di area tikungan tambal ban Semekto, serta mencuri unit Yamaha MX King 150 di depan Hotel Aulia Dinar.

    Jeda Komunikasi dan Motor yang Belum Bertuan

    Anomali mencuat karena dari total enam kendaraan yang diakui telah dicuri, baru kasus Suzuki Smash Titan di Mentawa Baru Hulu yang memiliki Laporan Polisi (LP) resmi.

    Lima TKP di Baamang murni bersumber dari pengakuan sukarela tersangka, menandakan belum adanya laporan kehilangan dari para pemilik kendaraan.

    Situasi ini memperjelas teka-teki rendahnya angka pelaporan. Kasat Reskrim AKP Sugiharso menduga sebagian korban kemungkinan belum menyadari kendaraannya hilang, atau tidak mengetahui bahwa motor mereka telah diamankan aparat.

    ”Dari sejumlah perkara ini, baru dua orang yang melapor dan kami tindaklanjuti. Artinya, masih ada empat orang yang tidak mengetahui atau tidak melaporkan motornya yang hilang,” ungkap Sugiharso saat rilis di Polres Kotim, Senin (29/6/2026).

    Pada kesempatan tersebut, dia mengimbau kepada korban yang merasa kehilangan sepeda motor agar melapor hal tersebut, karena motornya sudah diamankan di Polsek Ketapang.

    Kapolsek Ketapang, AKP Anis menambahkan bahwa tersangka Rl diketahui sebagai residivis yang belum lama bebas dari masa hukuman penjara enam bulan yang lalu.

    ”Kami juga menyampaikan bahwa pelaku yang ada ini adalah mantan residivis yang keluar enam bulan yang lalu. Untuk TKP yang disampaikan Pak Kasatreskrim tadi, rata-rata empat TKP adalah di wilayah Baamang,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Teror King Kobra di Bumi Raya III: Anak Ular Berbisa Mematikan Menyusup ke Meja Dapur Warga Baamang

    Teror King Kobra di Bumi Raya III: Anak Ular Berbisa Mematikan Menyusup ke Meja Dapur Warga Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Fase transisi cuaca dan penyusutan habitat liar di pinggiran urban kembali memicu peningkatan intensitas konflik antara manusia dan satwa liar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kali ini, ancaman mematikan mengintai salah satu hunian di Jalan Walter Hugo Nomor 121, Perumahan Bumi Raya III, RT 14/RW 01, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Sampit. Seekor anak ular berbisa paling mematikan di dunia jenis King Kobra (Ophiophagus hannah) ditemukan menyusup jauh hingga ke dalam area domestik dapur warga pada Kamis (4/6/2026) sore.

    Evakuasi Taktis 11 Menit di Bawah Kolong Meja

    Petaka ini pertama kali disadari oleh pemilik rumah bernama Komang. Mengetahui reputasi fatal dari reptil yang dihadapinya, ia memilih tidak mengambil risiko gegabah dengan mengeksekusi sendiri satwa tersebut. Komang langsung bergegas menuju Markas Komando (Mako) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kotim untuk meminta pertolongan darurat sekitar pukul 15.46 WIB.

    Merespons laporan kritis tersebut, Regu III Peleton III Damkarmat langsung memberangkatkan lima personel penyelamat yang dipimpin oleh Plh. Wakil Komandan Regu, Rusdiansyah. Menggunakan unit Mobil Hilux Merah Rescue (KH 8152 FW), tim taktis ini menembus jarak 3,8 kilometer dan tiba di tempat kejadian perkara (TKP) dalam waktu kurang dari 25 menit.

    Begitu menginjakkan kaki di lokasi, petugas langsung dipandu menuju area dapur yang menjadi titik perimeter bahaya. Ular tersebut terpantau sedang berada dalam posisi siaga dan bersembunyi di bawah kolong meja dapur, sebuah area sempit yang sangat menyulitkan ruang gerak evakuasi.

    “Setibanya di lokasi, petugas langsung diarahkan pemilik rumah menuju ke area dapur. Berdasarkan pengamatan, anak ular King Kobra tersebut bersembunyi di bawah meja dapur,” Komandan Regu III Damkarmat Kotim Supriansyah, Kamis sore.

    Eksekusi penangkapan yang dimulai tepat pukul 16.15 WIB itu berlangsung sangat taktis. Bermodalkan tongkat penjepit khusus (snake tongs) standar penyelamatan, petugas hanya membutuhkan waktu 11 menit untuk melumpuhkan agresivitas anak King Kobra tersebut. Tepat pukul 16.26 WIB, operasi dinyatakan selesai tanpa ada korban cedera maupun korban jiwa dari pihak penghuni rumah maupun personel yang bertugas.

    Kemunculan anak King Kobra di Perumahan Bumi Raya III Baamang ini membawa alarm bahaya ekologis yang jauh lebih besar ketimbang ukuran fisiknya. Dalam dunia herpetologi, istilah “anak ular” pada spesies King Kobra sering kali memicu salah kaprah di tengah masyarakat yang menganggapnya kurang berbahaya dibanding ular dewasa. Padahal, anak King Kobra yang baru menetas sudah memiliki kelenjar racun (venom) fungsional dengan dosis neurotoksin yang sangat murni dan mematikan. Sifat mereka yang cenderung lebih agresif dan belum mampu mengontrol volume semburan racun membuat gigitan anak kobra justru kerap kali berakibat fatal bagi manusia.

    Dari kacamata investigasi lingkungan, penemuan anak ular di dalam area dapur ini mengindikasikan adanya klaster sarang atau tempat penetasan telur (breeding ground) yang lokasinya tidak jauh dari pemukiman warga Baamang Hulu. Sektor Baamang yang terus mengalami ekspansi pembangunan perumahan secara masif secara otomatis memotong jalur jelajah dan membersihkan vegetasi semak yang menjadi habitat alami mangsa utama kobra, yakni ular-ular kecil lainnya dan tikus.

    Damkarmat Kotim memang telah sukses menjalankan fungsi penyelamatan taktisnya dalam waktu singkat di rumah Komang. Namun, intervensi pasca-evakuasi tidak boleh berhenti pada sekadar mengamankan satu ekor anak ular. Otoritas lingkungan hidup lokal bersama komunitas pencinta reptil harus mulai memetakan kawasan Baamang sebagai zona merah konflik satwa. Selama edukasi mengenai kebersihan lingkungan pemukiman dan mitigasi dini tidak masif dilakukan kepada warga perumahan, maka meja dapur warga Sampit akan terus menjadi ruang tunggu mematikan bagi predator berbisa tinggi ini. (***)

  • Sinergi Lintas Negara di Sungai Keramat: Turis Norwegia Turun ke Sungai Gabung Aktivis Lingkungan Sampit

    Sinergi Lintas Negara di Sungai Keramat: Turis Norwegia Turun ke Sungai Gabung Aktivis Lingkungan Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Ada pemandangan yang tidak biasa di tengah tumpukan eceng gondok dan sampah yang menyumbat aliran sungai Sungai Keramat, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang, Senin (11/5/2026).

    Di antara puluhan relawan lokal yang berjibaku dengan lumpur, tampak seorang warga negara asing asal Norwegia yang ikut terjun langsung membersihkan saluran air. Kehadiran turis mancanegara ini menjadi tamparan sekaligus penyemangat bagi warga Sampit dalam menghadapi persoalan banjir yang tak kunjung usai.

    Aksi gotong royong ini digagas oleh kelompok aktivis lingkungan setempat sebagai respons atas seringnya banjir merendam pemukiman warga setiap kali hujan deras turun. Sekitar 50 orang relawan, mulai dari pemuda, unsur kecamatan, hingga petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH), terlibat dalam normalisasi sungai sepanjang 10 meter tersebut.

    Namun, keterlibatan wisatawan asal Norwegia itulah yang mencuri perhatian dan memberikan pesan kuat tentang pentingnya kepedulian lingkungan tanpa batas teritorial.

    Harie, salah satu penggerak aksi lingkungan di Sampit, menjelaskan bahwa gerakan ini murni berangkat dari keprihatinan kolektif. Ia menekankan bahwa selain tindakan fisik, misi utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai dampak buruk dari tumpukan sampah di drainase.

    “Karena banjir belakangan ini kami bergerak dan sekaligus memberikan edukasi juga ke masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kami tidak memaksa siapapun untuk ikut, intinya siapa saja yang peduli silakan bergabung,” kata Harie di sela-sela kegiatannya.

    Di tengah proses pengangkatan gulma dan sampah, suasana sempat tegang ketika relawan menemukan seekor ular piton sepanjang kurang lebih dua meter yang bersembunyi di semak liar yang lembap. Penemuan ini segera ditangani dengan evakuasi agar tidak membahayakan warga pemukiman padat penduduk tersebut. Harie kembali mengingatkan bahwa kondisi lingkungan yang kotor tidak hanya menghambat air, tetapi juga menjadi sarang bagi satwa berbahaya.

    “Dalam kegiatan ini kami tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Kami hanya ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sekitar karena dampaknya kembali lagi ke kita semua. Selain mengurangi risiko banjir, lingkungan yang bersih juga dapat meminimalkan kemunculan satwa liar,” tegasnya.

    Kegiatan yang berlangsung secara swadaya ini diharapkan mampu memantik kesadaran yang lebih luas di tengah masyarakat Kotim. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk keterlibatan spontan dari warga asing, para aktivis berharap normalisasi drainase tidak lagi hanya menjadi beban segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama demi kenyamanan hidup di Kota Sampit. (***)

  • Benteng Terakhir Bobol, King Cobra Menembus Kamar Tidur Warga Baamang Tengah

    Benteng Terakhir Bobol, King Cobra Menembus Kamar Tidur Warga Baamang Tengah

    ​SAMPIT Kanalindependen.id – Istilah “rumahku istanaku” terasa semu bagi Munarowi, warga Jalan Baamang 1. Rabu sore (29/4/2026) , ruang privatnya berubah menjadi zona maut setelah seekor King Cobra ditemukan bersembunyi di dalam kamar tidurnya. Insiden ini bukan sekadar evakuasi rutin, melainkan bukti nyata kian tipisnya sekat antara permukiman padat dan habitat predator mematikan.

    ​Laporan masuk ke Mako Damkar pada pukul 17.36 WIB. Hanya dalam hitungan menit, Peleton III Damkar dan Penyelamatan tiba di lokasi. Namun, petugas tidak disambut dengan ular yang melata di lantai terbuka, melainkan sebuah teka-teki berbahaya: ular tersebut hilang di dalam kamar.

    ​Penyisiran intensif dilakukan di setiap sudut perabot hingga plafon. Petugas terpaksa menggunakan metode herping dan rangsangan insektisida untuk memaksa sang raja kobra keluar dari celah dinding. Dalam ketegangan tinggi, ular agresif itu akhirnya muncul dan berhasil diringkus hidup-hidup pada pukul 18.11 WIB.

    ​”Tantangannya karena posisi ular berada di dalam kamar dan bersembunyi di celah dinding. Perlu kehati-hatian ekstra agar tidak membahayakan penghuni maupun petugas,” ujar Komandan Regu Jaga Disdamkarmat Kotim, Supiansyah.

    ​Keberhasilan operasi 17 menit ini patut diapresiasi, namun kemunculan King Cobra di kawasan Baamang Tengah yang padat penduduk menyisakan tanya besar. Mengapa satwa yang biasanya menghindari manusia ini kini berani masuk hingga ke ruang tidur?

    ​Kanalindependen.id, menilai peristiwa ini adalah alarm keras bagi warga perkotaan di Sampit. King Cobra dikenal sebagai ular pemakan ular yang memiliki teritori luas. Masuknya predator ini ke dalam kamar menunjukkan adanya gangguan serius pada rantai makanan atau habitat asli mereka di sekitar pemukiman.

    ​Masyarakat harus sadar bahwa celah sekecil apa pun di dinding rumah adalah pintu gerbang bagi maut. Kita tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan atau respons cepat petugas Damkar. Edukasi mengenai sanitasi lingkungan dan penutupan akses masuk satwa ke rumah harus menjadi prioritas sebelum “tamu tak diundang” berikutnya datang dengan hasil yang berbeda.

    ​Hari ini Munarowi selamat, namun tanpa kewaspadaan lingkungan, siapa yang bisa menjamin kamar tidur kita benar-benar aman malam ini? (***)

  • Mobil Hancur, Rp1,4 Miliar Lenyap: Misteri Bendahara Desa di Baamang dan ‘Lubang Hitam’ Dana SHK

    Mobil Hancur, Rp1,4 Miliar Lenyap: Misteri Bendahara Desa di Baamang dan ‘Lubang Hitam’ Dana SHK


    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Sebuah drama mencekam sedang membayangi Kecamatan Baamang. AS, seorang bendahara desa yang seharusnya mengemban amanah dana Sisa Hasil Kebun (SHK) milik Koperasi Harapan Makmur, dilaporkan hilang tanpa jejak sejak Rabu (22/4/2026). Bersamanya, uang tunai fantastis senilai Rp1,4 miliar turut lenyap, menyisakan teka-teki besar di atas lahan kosong Jalan Tjilik Riwut.

    ​Pelarian atau perampokan? Pertanyaan itu muncul setelah kendaraan yang digunakan AS ditemukan sehari kemudian di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, Kelurahan Baamang Hulu. Kondisinya mengenaskan: kaca pecah, ban depan kempes, hingga spion yang patah. Di dalam mobil yang “bisu” itu, polisi mengamankan beberapa barang pribadi, namun sosok AS dan tumpukan uang SHK tetap raib.

    ​Kapolsek Baamang Iptu Dr Helmi Hamdani, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah bergerak cepat mengumpulkan serpihan bukti dari lokasi kejadian.

    ​“Laporan sudah kami terima dan saat ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut,” tegas Iptu Helmi saat memberikan keterangan resmi kepada media, Sabtu (25/4/2026).

    ​Hingga saat ini, penyidik masih mendalami keterangan saksi-saksi. Polisi telah mengamankan kendaraan korban, telepon genggam, serta dokumen perbankan untuk membedah motif di balik hilangnya AS. Apakah ini merupakan aksi pencurian dengan pemberatan (curat) yang terorganisir, ataukah ada skenario lain yang lebih gelap?

    ​Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami menilai peristiwa ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem pengamanan distribusi dana besar di wilayah perdesaan. Membawa uang tunai miliaran rupiah tanpa pengawalan ketat adalah tindakan yang “mengundang” maut di tengah kerawanan wilayah Kotim belakangan ini.

    ​Publik kini menunggu: apakah AS adalah korban kekerasan yang terencana, ataukah ia merupakan aktor utama dalam hilangnya dana rakyat tersebut? Kasus ini bukan sekadar soal uang yang hilang, melainkan soal integritas dan nyawa yang kini berada di ambang ketidakpastian.

    ​Di atas tanah Baamang, Rp1,4 miliar bukan sekadar angka; ia adalah peluh petani yang kini menguap dalam kabut misteri. (***)

  • Dari Kabel Listrik ke Tepi Sungai: Lutung Terjatuh di Permukiman, Diselamatkan, Lalu Dilepasliarkan

    Dari Kabel Listrik ke Tepi Sungai: Lutung Terjatuh di Permukiman, Diselamatkan, Lalu Dilepasliarkan

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Seekor lutung betina dewasa itu tak pernah memilih jatuh di antara atap seng dan kabel listrik. Namun, Kamis sore, (23/4/2026, sekitar pukul 17.10 WIB, tubuhnya ditemukan tergeletak di Jalan Usman Harun 1, Kelurahan Baamang Hilir—sebuah kawasan padat penduduk yang menyisakan sedikit ruang bagi pohon, apalagi bagi satwa liar yang hidupnya bergantung pada kanopi.

    Warga pertama yang melihat, Wahyu, menduga kuat lutung tersebut tersetrum. Dugaan itu bukan tanpa alasan, jaringan listrik menjuntai rendah di tengah permukiman yang kian rapat, sementara ruang jelajah satwa makin menyempit. Lutung itu kemudian diamankan oleh petugas Damkar dan Penyelamatan Sampit sebelum informasi sampai ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit.

    “Begitu kami mendapat laporan, langsung kami koordinasikan dengan Damkar. Satwa sudah dalam pengamanan,” ujar Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah.

    Keesokan harinya, Jumat pagi (24/4/2026), proses serah terima dilakukan di Markas Komando Damkar. Di sana, kondisi lutung diperiksa. Ada luka di tangan kiri, kaki kanan, dan alis sebelah kiri semuanya mulai mengering. Tanda-tanda yang, menurut petugas, menguatkan dugaan sengatan listrik.

    Namun yang lebih penting: lutung itu masih hidup, dan mulai aktif. Di titik ini, keputusan diambil cepat. Alih-alih dibawa ke pusat rehabilitasi yang jauh, petugas memilih opsi yang kerap jadi dilema dalam konservasi: dilepasliarkan segera atau dirawat lebih lama. Dengan mempertimbangkan kondisi yang membaik dan perilaku yang masih liar, BKSDA memutuskan pelepasliaran.

    Sekitar pukul 10.15 WIB, lutung itu dibawa ke tepian Sungai Mentaya, wilayah Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau sebuah lanskap yang masih menyisakan habitat bagi lutung dan monyet ekor panjang. Di sana, kandang angkut dibuka.

    Tak ada drama panjang. Begitu pintu terbuka, lutung itu langsung melompat keluar, memanjat, dan menghilang ke atas pohon. Seolah tak pernah jatuh.

    Peristiwa ini, bagi sebagian orang, mungkin berakhir sebagai kisah penyelamatan yang sukses. Namun, di balik itu, ada pertanyaan yang tak ikut dilepas ke hutan: mengapa satwa liar semakin sering ditemukan di permukiman?

    Baamang bukan hutan. Tapi lutung itu ada di sana. Fenomena ini bukan baru. Fragmentasi habitat, tekanan pembangunan, dan jaringan listrik yang membelah jalur jelajah satwa menjadi kombinasi yang berbahaya. Lutung primata arboreal yang bergantung pada pohon dipaksa turun, menyeberang, dan beradaptasi dengan ruang yang bukan miliknya.

    Dan sering kali, itu berakhir dengan sengatan listrik. BKSDA mencatat, kasus interaksi negatif antara manusia dan satwa liar cenderung meningkat di wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan kantong habitat. Sampit, dengan ekspansi kawasan permukiman dan infrastruktur, menjadi salah satu titik rawan.

    “Kondisi di lapangan menunjukkan ruang hidup satwa makin terdesak. Ini perlu perhatian bersama,” tegas Muriansyah.

    Lutung betina itu beruntung. Ia jatuh, tapi selamat. Ia terluka, tapi pulih. Ia sempat berada di tengah manusia, tapi kembali ke hutan. Tidak semua satwa punya akhir cerita yang sama. (***)

  • Kebakaran TB Batara VII Masih Diselidiki, KSOP Sampit Apresiasi Kolaborasi Cepat Penanganan di Lapangan

    Kebakaran TB Batara VII Masih Diselidiki, KSOP Sampit Apresiasi Kolaborasi Cepat Penanganan di Lapangan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Penyebab kebakaran kapal tugboat (TB) Batara VII yang terjadi di area docking Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Sabtu (28/3/2026), hingga kini masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

    Dalam insiden tersebut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit mengapresiasi respons cepat dan kolaborasi lintas instansi yang dinilai krusial dalam penanganan di lapangan.

    Kepala KSOP Kelas III Sampit, Hotman Siagian, menyampaikan duka mendalam atas musibah yang mengakibatkan korban jiwa tersebut.

    ”Setelah menerima laporan, saya bersama jajaran KSOP langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian untuk melakukan langkah-langkah penanganan awal. Fokus utama saat terjadi kejadian, segera memadamkan api dan meminimalkan risiko yang lebih besar,” ujar Hotman dalam keterangan resminya, Minggu (29/3/2026).

    Dalam upaya penanganan, KSOP turut menurunkan armada dari sisi perairan, termasuk kapal patroli KPLP dan TB Semar Dua Puluh Sembilan yang dioperasikan oleh PT Pelindo Marine Service Cabang Sampit.

    Langkah ini dilakukan untuk mendukung proses pemadaman dari dua sisi, darat dan perairan.

    Sejumlah instansi terlibat dalam penanganan insiden tersebut, di antaranya Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kotawaringin Timur, Ditpolairud Polda Kalimantan Tengah, Polres Kotawaringin Timur, PT Pertamina Trans Kontinental, PT Pelindo Marine Service Cabang Sampit, Pos SAR Sampit, Palang Merah Indonesia (PMI) Kotawaringin Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, hingga pihak pengelola docking, PT Nusantara Docking Sejahtera.

    Koordinasi juga dilakukan dengan PT Pertamina Trans Kontinental yang turut membantu suplai foam extinguisher untuk mempercepat proses pemadaman api di lokasi kejadian.

    Hotman menilai, sinergi dan kekompakan seluruh pihak yang terlibat menunjukkan komitmen bersama dalam menghadapi situasi darurat.

    ”Kolaborasi yang terbangun sangat baik. Semua instansi bergerak cepat sesuai perannya masing-masing, mulai dari pemadaman hingga evakuasi korban,” tegasnya.

    Sementara itu, Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli (KBPP) KSOP Sampit, Capt Indra Novel Sinaga, mengungkapkan bahwa penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.

    ”Untuk penyebab kebakaran masih didalami oleh pihak berwenang. Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lanjutan,” ujar Indra.

    Ia juga memaparkan, dalam insiden tersebut tercatat satu orang mengalami luka-luka, satu orang meninggal dunia, dan satu orang lainnya masih dalam pencarian.

    Duka mendalam juga disampaikan oleh Pimpinan PT Nusantara Docking Sejahtera, Seftervianus Franklin (Hansen).

    Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam penanganan kejadian tersebut.

    ”Kami sangat berterima kasih atas dukungan dan kerja keras semua pihak dalam menangani musibah ini,” pungkasnya. (hgn/ign)