Tag: Bantuan Air Bersih

  • Krisis Air Bersih di Wilayah Selatan Belum Berakhir, Bupati Kotim Instruksikan Perumdam dan SOPD Suplai 60.000 Liter Per Hari

    Krisis Air Bersih di Wilayah Selatan Belum Berakhir, Bupati Kotim Instruksikan Perumdam dan SOPD Suplai 60.000 Liter Per Hari

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kemarau panjang yang berlangsung selama beberapa bulan mulai membawa dampak berantai khususnya bagi warga di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Tak hanya menghadapi ancaman karhutla, masyarakat kini juga kesulitan mendapatkan air bersih layak konsumsi.

    Menindaklanjuti persoalan tersebut Bupati Kotim Halikinnor memastikan suplai air untuk warga wilayah selatan akan terus berlanjut selama tidak ada hujan dan selama masih ada usulan permintaan dari desa setempat.

    Bupati Kotim juga membuktikan ucapannya sebelumnya pada Kamis (17/9/2026) lalu, saat meninjau proses distribusi air ke rumah warga di sejumlah desa wilayah selatan, ia menyatakan bantuan akan terus disalurkan secara berkelanjutan.

    Sehari setelah kunjungannya, Halikin tak banyak menbuang waktu dan merespons cepat keluhan warganya dengan menginstruksikan Perumdam Tirta Mentaya Sampit bersama sejumlah SOPD memasok sekitar 60.000 liter air bersih setiap hari ke rumah-rumah warga di wilayah selatan sesuai kebutuhan masyarakat.

    ”Kurang lebih 60.000 liter per hari kita salurkan untuk membantu kebutuhan masyarakat di wilayah selatan. Ini bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan masyarakat tetap mendapatkan air bersih yang menjadi kebutuhan dasar,” ujar Halikinnor, Senin (21/9/2026).

    Halikin meminta camat dan kepala desa aktif memantau persediaan air masyarakat sekaligus menghitung kebutuhan di wilayah masing-masing. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan kapan dan ke mana armada kembali digerakkan.

    Dengan demikian, distribusi air tidak semata berdasarkan jadwal, tetapi dapat disesuaikan apabila persediaan warga mulai menipis atau terdapat wilayah yang membutuhkan penanganan lebih cepat.

    Krisis Air Bersih Belum Berakhir

    Persoalan krisis air bersih di wilayah selatan Kotim berawal dari kemarau panjang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

    Curah hujan yang minim membuat sumber air masyarakat semakin terbatas, sementara sebagian sumber air baku PDAM mengalami perubahan kualitas.

    Di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), jaringan Perumdam Tirta Mentaya masih mengalir. Namun, air yang mengalir melalui jaringan tersebut tidak dapat sepenuhnya digunakan untuk konsumsi karena kadar salinitas pada sumber air meningkat.

    Perumdam mengambil salah satu sumber air terdekat dari Sungai Sampit. Ketika musim kemarau berkepanjangan, masuknya air laut menyebabkan kadar garam pada sumber air tersebut meningkat sehingga kualitas air menurun.

    Situasi tersebut membuat sebagian warga harus membeli air dari sumber lain untuk kebutuhan minum dan memasak.

    Kondisi lebih berat dialami sejumlah wilayah Kecamatan Teluk Sampit karena jaringan PDAM belum menjangkau kawasan tersebut. Warga di wilayah ini lebih bergantung pada sumber air setempat yang ikut terdampak kekeringan.

    Ketua Pemuda Tani Kotim Muhammad Abdul Rasyid mengatakan respons pemerintah daerah sangat dibutuhkan karena kebutuhan masyarakat terus berjalan setiap hari.

    ”Kami sangat berterima kasih Pak Bupati merespons cepat keluhan warga di wilayah selatan yang sangat membutuhkan air bersih. Saya hanya ingin ikut membantu Pak Bupati dan jajaran Pemkab mendistribusikan air bersih. Saya kasihan melihat masyarakat yang sangat membutuhkan air,” kata Rasyid saat diwawancarai melalui telepon, Senin (21/9/2026).

    Menurutnya, Teluk Sampit menjadi salah satu wilayah yang paling membutuhkan perhatian karena belum terjangkau jaringan PDAM.

    ”Paling mendesak ke Teluk Sampit karena jaringan PDAM belum sampai sana. Jadi kondisinya benar-benar kekeringan dan sangat membutuhkan air. Di MHS ini masih ada PDAM, air masih mengalir, tetapi tidak layak untuk konsumsi karena asin. Kalau di Teluk Sampit benar-benar menghadapi krisis air bersih,” ujarnya.

    Dari Bantuan Awal Menjadi Suplai Harian

    Langkah Pemkab Kotim memperpanjang distribusi air bersih tersebut merupakan kelanjutan dari penyaluran bantuan yang dilakukan Halikinnor bersama jajarannya pada Kamis (17/9/2026).

    Saat itu, sebanyak 40.000 liter air bersih disalurkan untuk warga Desa Sei Ijum Raya, Sebamban, Parebok dan Lampuyang. Distribusi melibatkan delapan mobil tangki serta 28 mobil double cabin yang membawa profil tank berkapasitas 5.000 liter.

    Bantuan awal tersebut kemudian berkembang menjadi distribusi rutin setelah pemerintah melihat kebutuhan warga masih berlangsung dan sumber air belum kembali normal.

    Dari laporan camat setempat, diperkirakan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah terdampak mencapai sekitar 60.000 liter per hari.

    Perhitungannya antara lain mengacu pada sasaran sekitar 300 rumah di setiap desa dengan alokasi satu drum berkapasitas sekitar 220 liter untuk setiap rumah.

    ”Setelah dilakukan pendataan, kebutuhan air untuk Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan dikisaran 66.000 liter per hari. Supaya penyalurannya terukur dan terarah, kami tuntaskan penyaluran air per desa, berlanjut ke desa lainnya,” katanya.

    Hal tersebut dilakukan karena jumlah armada yang tersedia terbatas. Namun, apabila terdapat kondisi mendesak, armada dapat digeser ke wilayah lain tanpa harus menunggu seluruh distribusi di satu desa selesai.

    ”Kalau urgent, kami bisa saja lompat dan menggeser armada ke warga desa yang membutuhkan. Karena armada yang disediakan terbatas, kami harus mengatur supaya distribusinya efektif,” ujarnya.

    ”Kami gotong royong bersama kades dan lurah menurunkan armadanya. Karena itu, warga desa yang masih belum mendapatkan mohon bersabar karena distribusi air disalurkan bertahap per desa,” tambahnya.

    Ia memastikan bantuan air bersih tersebut diupayakan tetap diberikan secara gratis kepada warga terdampak.

    ”Insya Allah diupayakan warga di wilayah selatan yang terdampak mendapat bantuan air bersih dari Pemkab Kotim secara gratis,” katanya.

    Posko MHS Jadi Titik Pengendalian Distribusi

    Untuk mempercepat mobilisasi, Pemkab Kotim menjadikan halaman Kantor Kecamatan MHS sebagai posko distribusi air bersih.

    Lokasi tersebut dipilih karena berada pada jalur yang dinilai lebih efektif untuk mengatur distribusi ke wilayah MHS sekaligus mendukung pengiriman air menuju Teluk Sampit.

    Perumdam Tirta Mentaya difokuskan memasok sekitar 30.000 liter air per hari ke Kantor Kecamatan MHS.

    Air yang tiba di posko kemudian didistribusikan menuju rumah warga menggunakan mobil double cabin, pikap pemerintah desa maupun kendaraan masyarakat yang mampu menjangkau permukiman.

    Sementara sejumlah SOPD diarahkan melakukan pengiriman langsung ke rumah warga.

    Camat MHS Wahyudah mengatakan pola tersebut sudah berjalan sejak Jumat dan terus dilakukan hingga semua warganya mendapatkan bantuan air bersih.

    ”Mulai Jumat sampai hari ini kami terus menyalurkan air ke setiap desa. Total ada delapan desa dan dua kelurahan di wilayah Kecamatan MHS, kami upayakan semua akan menerima bantuan air bersih,” kata Wahyudah.

    Pemerintah kecamatan telah mendata sasaran penerima. Masing-masing desa dialokasikan bantuan untuk sekitar 300 kepala keluarga, dengan setiap rumah memperoleh satu drum air berkapasitas sekitar 220 liter.

    ”Kami sudah data, masing-masing desa mendapatkan bantuan air bersih untuk 300 KK. Setiap rumah mendapatkan bantuan satu drum. Kami meminta setiap warga meletakkan drum kosong di depan rumahnya agar saat suplai air datang tidak perlu menunggu,” jelasnya.

    Wahyudah mengatakan distribusi dilakukan langsung ke rumah warga karena tidak semua kawasan dapat dijangkau kendaraan tangki berukuran besar.

    ”Air bersih diantar ke rumah-rumah warga. Dari Kamis sampai Senin ini terus disalurkan. Siang malam kami bergerak, bukan hanya untuk warga MHS tetapi juga enam desa di Teluk Sampit,” katanya.

    Namun, keterbatasan kendaraan membuat distribusi belum dapat menjangkau seluruh wilayah secara bersamaan.

    ”Karena memang kita kekurangan armada, baru tiga desa di MHS yang terpenuhi dan Teluk Sampit sudah dua desa,” ujar Wahyudah.

    Keterbatasan armada menjadi salah satu persoalan yang harus diatasi pemerintah dalam mempercepat distribusi.

    Karena itu, sejumlah SOPD ikut mengerahkan kendaraan masing-masing. Perumdam tidak hanya menjadi pemasok air, tetapi difokuskan mengisi posko sehingga kendaraan lain dapat bergerak lebih fleksibel menuju permukiman.

    Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP) Kotim mengerahkan satu mobil tangki dan dua mobil double cabin dengan total kapasitas sekitar 15.000 liter.

    Dinas SDABMBKPRKP menurunkan empat truk dan empat mobil double cabin dengan kapasitas total sekitar 20.000 liter.

    Sekretariat Daerah Kotim turut mengerahkan satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter.

    Selain itu, tambahan armada double cabin dari perangkat daerah juga dimanfaatkan untuk menjangkau jalan lingkungan dan gang sempit yang tidak dapat dimasuki truk tangki.

    Wahyudah mengatakan kendaraan berukuran lebih kecil justru sangat penting dalam tahap distribusi terakhir.

    ”Kalau berupa mobil tangki tidak bisa masuk, sehingga harus menunggu di jalan utama. Mulai Sabtu lalu ada tambahan bantuan air dari Setda. Mobil double cabin ini sangat membantu karena bisa masuk ke wilayah yang tidak bisa dijangkau truk,” jelasnya.

    Ia menyebut dukungan armada terus bertambah untuk mempercepat distribusi.

    ”Hari ini ada tambahan bantuan armada dari Disdik untuk menyalurkan ke gang-gang sempit menggunakan mobil double cabin, penyaluran air masih terus berlanjut ke desa-desa lainnya di Kecamatan MHS dan Teluk Sampit,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Salurkan Bantuan 40.000 Liter Air Bersih di Wilayah Selatan, Bupati Kotim Pastikan Distribusi Air Berlanjut Sesuai Usulan Desa

    Salurkan Bantuan 40.000 Liter Air Bersih di Wilayah Selatan, Bupati Kotim Pastikan Distribusi Air Berlanjut Sesuai Usulan Desa

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menyalurkan bantuan 40.000 liter air bersih ke sejumlah wilayah selatan yang mengalami dampak intrusi air laut dan kekeringan selama musim kemarau.

    Bupati Kotim Halikinnor yang datang langsung menyapa warga di Desa Sei Ijum Raya dan Parebok, memastikan distribusi tidak berhenti pada kegiatan Kamis (17/9/2026), tetapi akan terus dilakukan berdasarkan usulan dan laporan dari desa yang masih membutuhkan air layak konsumsi.

    ”Bantuan air bersih ini kita salurkan, khususnya kepada warga di wilayah selatan, yaitu di Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan, yang saat ini mengalami kesulitan air bersih yang layak konsumsi,” kata Halikinnor, Kamis (17/9/2026).

    Penyaluran tersebut menyasar wilayah Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan. Delapan mobil tangki dan 28 mobil yang membawa profil tank berkapasitas sekitar 5.000 liter meluncur ke rumah-rumah warga.

    Sejumlah lokasi menjadi sasaran distribusi, di antaranya Desa Lempuyang, Sei Ijum Raya, Sebamban dan Parebok. Penyaluran dilakukan menyesuaikan kebutuhan di masing-masing wilayah.

    Di Sei Ijum Raya, bantuan diperuntukkan bagi sekitar 300 kepala keluarga. Jumlah penerima yang hampir sama juga berada di Sebamban.

    Sementara di Parebok, dari sekitar 700 kepala keluarga yang tersebar di sembilan RT, sekitar 300 kepala keluarga di RT 6 dan 7 tercatat mengalami kebutuhan air bersih.

    Distribusi tidak hanya dilakukan dengan menurunkan air pada satu lokasi penampungan.

    Armada diarahkan sedekat mungkin dengan permukiman sehingga masyarakat dapat menerima pasokan tanpa harus mengambilnya dari lokasi yang jauh.

    Mobil tangki bahkan masuk ke gang-gang yang masih dapat dijangkau kendaraan. Pola tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kondisi permukiman dan memudahkan masyarakat memperoleh air yang telah disiapkan pemerintah.

    Untuk penyaluran kepada warga, Halikinnor mengatakan air tersebut diprioritaskan bagi kebutuhan konsumsi.

    ”Air bersih yang disalurkan ini bukan untuk mandi dan mencuci. Ini khusus untuk kebutuhan minum dan memasak,” ujarnya.

    Di sejumlah lokasi, bantuan diberikan dengan memperhitungkan jumlah kepala keluarga yang membutuhkan. Di Sei Ijum Raya dan Sebamban, misalnya, masing-masing sekitar 300 kepala keluarga menjadi sasaran distribusi.

    Penyaluran air bersih menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat.

    Halikinnor datang bersama Kapolres Kotim, Sekda dan jajaran organisasi perangkat daerah serta Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit.

    ”Selain menyalurkan air bersih, kami ingin mendengar secara langsung keluhan dan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, pemerintah dapat menentukan kebijakan yang paling mendesak untuk kesejahteraan warga,” katanya.

    Distribusi Sudah Berjalan Sejak Agustus

    Halikinnor mengatakan penyaluran air bersih sudah dilakukan ke sejumlah desa di wilayah Selatan Kotim sejak Agustus 2026.

    ”Penyaluran air bersih ini sebenarnya hanya seremonial. Pendistribusian air bersih sudah berjalan sejak Agustus lalu,” ujarnya.

    Karena itu, pemerintah tidak menetapkan kegiatan tersebut sebagai distribusi satu kali. Selama kondisi kekeringan masih membuat masyarakat membutuhkan pasokan, pengiriman air akan kembali dilakukan.

    Halikinnor mengatakan pemerintah menggunakan laporan dari kepala desa sebagai salah satu dasar untuk menentukan kebutuhan distribusi berikutnya.

    ”Kalau ada laporan bahwa air telah habis, masih kurang, atau perlu dilakukan dropping lagi, maka akan segera ditindak lanjuti khususnya untuk warga yang benar-benar mengalami krisis air bersih yang layak konsumsi ,” katanya.

    Krisis Air Bersamaan dengan Ancaman Karhutla

    Kebutuhan air yang meningkat untuk masyarakat berlangsung bersamaan dengan kondisi kemarau yang juga menyulitkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Halikinnor mengatakan persoalan tersebut harus menjadi perhatian karena pemadaman karhutla di Kotim membutuhkan air dalam jumlah besar, terutama karena banyak wilayah yang memiliki karakter lahan gambut.

    ”Jangankan kebakaran yang berada beberapa kilometer di dalam hutan, kebakaran di pinggir jalan saja hampir membuat kita kewalahan,” ujarnya.

    Kondisi lahan gambut menyebabkan api tidak selalu mudah dipadamkan hanya dengan membasahi bagian permukaan. Kebutuhan air menjadi jauh lebih besar ketika sumber-sumber air di sekitar lokasi kebakaran ikut mengering.

    ”Sebab, daerah kita merupakan lahan gambut, sehingga pemadaman membutuhkan air dalam jumlah besar,” katanya.

    Halikinnor mengatakan kondisi sumber air saat ini berbeda dibandingkan kemarau sebelumnya. Jika sebelumnya parit-parit masih menyimpan air, kini banyak yang telah mengering.

    ”Dulu, ketika kemarau, parit-parit masih tersedia air. Sekarang kita sedang menghadapi kemarau panjang, selama lebih dari dua bulan hampir tidak ada hujan, yang membuat sumber-sumber air benar-benar kering kerontang. Karena itu, keterdiaan air yang terbatas jadi salah satu kendala dalam pemadaman api,” ucapnya.

    Ia berharap hujan alami segera turun dengan intensitas yang cukup sehingga tekanan akibat kekeringan dan karhutla dapat berkurang.

    ”Kita tetap berupaya dan berdoa agar Allah menurunkan hujan yang benar-benar deras,” katanya.

    Saat perjalanan menuju wilayah selatan bersama rombongan, Halikinnor masih melihat hujan rintik. Ia berharap kondisi tersebut menjadi pertanda baik bagi wilayah yang telah lama mengalami kekeringan.

    ”Pagi tadi ada hujan rintik, mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik,” ujarnya.

    Evaluasi Penanganan untuk Tahun Berikutnya

    Pengalaman menghadapi karhutla tahun ini juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah.

    Halikinnor mengingat kembali kejadian kebakaran besar yang pernah terjadi pada 2019 dan 2023, kemudian kembali terjadi pada 2026.

    ”Karhutla ini harus menjadi bahan evaluasi kita ke depan. Kebakaran hutan bukan hanya terjadi tahun ini. Saya ingat, tahun 2019 terjadi kebakaran besar, kemudian tahun 2023 juga besar, dan sekarang tahun 2026 kembali terjadi,” katanya.

    Pemerintah harus mengubah pola perencanaan agar kesiapsiagaan tidak baru dilakukan ketika bencana sudah terjadi.

    ”Ke depan kita harus merencanakan langkah penanganan bukan hanya ketika status tanggap darurat sudah ditetapkan, melainkan sejak keadaan masih normal,” tegasnya.

    Salah satu yang perlu disiapkan adalah sumber air di lokasi-lokasi yang memiliki potensi kebakaran. Halikinnor mengusulkan pembangunan hidran dan sumur bor pada titik strategis.

    Namun, keberadaan sumur bor harus ditempatkan pada lingkungan yang memiliki aktivitas masyarakat. Tujuannya agar fasilitas tersebut tidak terbengkalai ketika tidak ada kebakaran.

    ”Sumur bor itu harus dibangun di lokasi yang ada warganya, agar dipelihara dan dimanfaatkan setiap hari,” jelasnya.

    Pemanfaatannya dapat dilakukan untuk kebutuhan lingkungan sehari-hari, seperti menyiram taman maupun tanaman di pinggir jalan.

    Dengan demikian, sumber air tetap aktif dan terawat ketika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk penanganan kebakaran.

    ”Jangan sampai ketika musibah datang, kita baru mencari air dan ternyata tidak ada,” tegas Halikinnor.

    Bantuan Pusat Disiapkan untuk Penanganan Karhutla

    Selain perencanaan sumber air, pemerintah daerah juga perlu memastikan ketersediaan peralatan.

    Halikinnor menyebut pemerintah pusat telah memberikan bantuan sebesar Rp15 miliar yang diarahkan untuk penanganan karhutla.

    Menurutnya, anggaran tersebut harus digunakan terlebih dahulu untuk kebutuhan penanganan selama masa tanggap darurat.

    Apabila masih terdapat dana yang dapat dimanfaatkan, sebagian dapat dipersiapkan untuk membangun kesiapsiagaan pada tahun berikutnya.

    ”Apabila masih ada dana yang dapat digunakan, perlu disiapkan untuk merancang langkah tahun depan, termasuk pembangunan sumur bor dan embung portabel,” ujarnya.

    Halikin mengatakan kebutuhan peralatan di lapangan menunjukkan bahwa pengadaan tidak bisa menunggu sampai kebakaran terjadi. Bahkan, untuk memperoleh mesin alkon saat ini mulai sulit karena stok yang tersedia telah habis.

    ”Saat ini, untuk membeli mesin alkon saja sulit karena stok habis,” katanya.

    Persoalan ini, lanjut Halikinnor, harus menjadi pelajaran dalam menyusun kebutuhan peralatan sejak jauh hari.

    ”Ke depannya kita benar-benar harus merencanakan kesiapsiagaan sejak awal, agar ketika musibah datang kita tidak lagi kesulitan,” tegasnya.

    Damkar Diperkuat di Tingkat Kecamatan

    Evaluasi juga diarahkan pada pemerataan kemampuan pemadaman. Halikinnor menyebut sejumlah kecamatan seperti Samuda, Parenggean, Cempaga Hulu dan Telawang perlu memiliki unit pemadam kebakaran.

    ”Setiap kecamatan paling tidak harus memiliki damkar, bukan hanya untuk menghadapi musim kemarau, tetapi juga untuk menangani kebakaran rumah yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujarnya.

    Dengan adanya unit di tingkat kecamatan, penanganan awal diharapkan tidak selalu bergantung pada pengerahan personel dan armada dari pusat kabupaten.

    Apabila pemerintah daerah masih kekurangan tenaga ahli untuk menyusun sistem tersebut, Halikinnor membuka kemungkinan menggunakan jasa konsultan yang memiliki keahlian dalam perencanaan penanganan kebakaran.

    ”Kalau kita kekurangan tenaga ahli, maka kita harus menggunakan jasa konsultan yang ahli untuk merancang sistem penanganan kebakaran ke depan,” katanya.

    Keselamatan Petugas Tidak Boleh Diabaikan

    Selain sarana dan sumber air, keselamatan personel yang turun melakukan pemadaman juga menjadi perhatian. Halikinnor meminta tim di lapangan tetap bekerja maksimal tanpa mengabaikan kondisi keselamatan.

    ”Saya juga sering menyampaikan kepada tim pemadam kebakaran agar tetap berusaha maksimal, tetapi harus menjaga keselamatan,” ujarnya.

    Ia tidak ingin upaya memadamkan api justru menimbulkan korban dari pihak petugas.

    ”Jangan sampai petugas yang berhadapan langsung dengan api mengalami kecelakaan atau bahkan meninggal dunia,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • MPZ ALPI Bersama DMC Dompet Dhuafa Salurkan 55.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Kotim

    MPZ ALPI Bersama DMC Dompet Dhuafa Salurkan 55.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Kotim

    SAMPIT, kanalindependen.id – Krisis air bersih yang melanda sejumlah desa di wilayah Mentaya Hilir Selatan mendapat perhatian serius dari MPZ Al Anshar Philanthropy Institute (ALPI) bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa Kalimantan Tengah.

    Hingga 24 Agustus 2026, tim kemanusiaan berhasil mendistribusikan 55.000 liter air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar warga.

    Program distribusi ini merupakan bentuk kolaborasi kemanusiaan yang melibatkan relawan, armada tangki air, serta dukungan para donatur yang telah berpartisipasi melalui sedekah jariyah.

    Air bersih disalurkan langsung ke titik-titik yang mengalami kesulitan memperoleh sumber air layak untuk kebutuhan sehari-hari.

    Selama proses distribusi, sebanyak 11 kali pengiriman dilakukan menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter pada setiap perjalanan.

    Selain itu, tim juga memberikan 1 tandon air berkapasitas 1.100 liter sebagai cadangan kebutuhan masyarakat di salah satu lokasi pelayanan.

    Wilayah penerima manfaat meliputi, Desa Kuin Permai, Desa Basawan, Desa Parebok, Desa Bantian, Desa Jaya Karet, Desa Samuda Kecil, dan Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin.

    Seluruh titik tersebut berada di kawasan yang mengalami penurunan ketersediaan air bersih akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

    Program ini memberikan dampak langsung kepada 740 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.220 jiwa.

    Bagi sebagian warga, bantuan air bersih bukan sekadar memenuhi kebutuhan minum, tetapi juga digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, serta menjaga sanitasi keluarga.

    Direktur MPZ ALPI, Edy Rahmadiannor, SE, C.ADP, CPS menyampaikan bahwa distribusi air bersih merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam menghadirkan pelayanan kemanusiaan hingga pelosok Kalimantan Tengah.

    ”Air bersih adalah hak dasar setiap manusia. Melalui kolaborasi bersama DMC Dompet Dhuafa dan dukungan para donatur, kami ingin memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan paling mendasar di tengah kondisi kekeringan,” ujarnya.

    Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa sinergi antara lembaga kemanusiaan, relawan, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata bagi daerah-daerah yang membutuhkan.

    Meski 55.000 liter air telah tersalurkan, kebutuhan air bersih di wilayah pelosok masih terus berlanjut.

    MPZ ALPI mengajak masyarakat untuk bergabung dalam Program Sedekah Air Bersih sebagai ikhtiar menghadirkan sumber kehidupan bagi saudara-saudara yang terdampak kekeringan.

    Salah satu penerima manfaat, Pak Johan, warga Desa Bantian, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan yang diberikan.

    Air bersih tersebut akan dibawa menuju desanya yang berada di Pulau Hanaut, wilayah yang selama musim kemarau sangat kesulitan mendapatkan air bersih.

    “Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada MPZ ALPI, DMC Dompet Dhuafa, para relawan, dan seluruh donatur. Bantuan air bersih ini sangat berarti bagi masyarakat Desa Bantian. InsyaAllah air ini akan kami bawa menyeberang ke Pulau Hanaut untuk memenuhi kebutuhan warga di kampung kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda,” kata Johan, warga Desa Bantian. (***)