Tag: Beruang Terjerat

  • Beruang Terluka Belum Ditemukan, Lutung Abu-Abu Ditemukan Mati di Tanah Mas: Rentetan Tragedi Satwa di Perkotaan Sampit

    Beruang Terluka Belum Ditemukan, Lutung Abu-Abu Ditemukan Mati di Tanah Mas: Rentetan Tragedi Satwa di Perkotaan Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gelombang krisis lingkungan dan terdesaknya satwa liar ke kawasan permukiman di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin menunjukkan potret suram. Upaya penyisiran maraton BKSDA Pos Sampit bersama aktivis lingkungan untuk mengevakuasi beruang madu (Helarctos malayanus) yang mengalami luka parah di Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, belum membuahkan hasil hingga Rabu (7/10/2026) sore.

    Pencarian ketat dilakukan sejak pagi dengan menyusuri kawasan perkebunan, hutan, parit sumber air, hingga kebun nanas warga yang diduga menjadi sumber pakan satwa. Bahkan, satu unit drone pencari diterbangkan untuk menyisir tajuk vegetasi dari udara. Namun, beruang yang diduga kuat menjadi korban kejahatan jerat seling baja (jerat sisit) tersebut belum berjumpa fisik.

    Di tengah sengitnya perburuan waktu menyelamatkan beruang berdarah tersebut, BKSDA Pos Sampit justru kembali menerima laporan duka satwa pada pukul 17.40 WIB dari Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK).

    Sekor lutung abu-abu (Trachypithecus cristatus) dilaporkan terluka parah. Namun naas, saat tim BKSDA tiba di lokasi kejadian, mamalia langka tersebut telah meregang nyawa.

    “Saat petugas tiba di lokasi Tanah Mas, lutung abu-abu tersebut sudah dalam kondisi mati. Hasil pemeriksaan awal menemukan dua luka sobek menganga di bagian punggung dan pantat satwa. Dari keterangan warga, lutung terjatuh dari bangunan tinggi lalu diserang dan digigit anjing warga,” terang Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, Rabu (7/10/2026).

    Setelah pengumpulan data dan observasi selesai, bangkai lutung abu-abu tersebut langsung dikuburkan secara layak di wilayah Kelurahan Tanah Mas oleh tim BKSDA bersama relawan lingkungan Sampit.

    Dua Tragedi Satwa yang terjadi bersamaan pada Rabu (7/10/2026) beruang berkaki buntung yang berkeliaran di Km 8 serta lutung abu-abu yang tewas di Tanah Mas menjadi bukti tak terbantahkan hancurnya koridor vegetasi penyangga Kota Sampit.

    Ketika benteng hutan gambut di sekeliling Sampit hangus terbakar karhutla dan dirusak oleh maraknya jerat perburuan liar, satwa liar terisolasi di pulau-pulau vegetasi sempit (habitat fragmentation). Kondisi ini memaksa mereka merangsek ke zona aktivitas manusia, memicu kecelakaan fatal seperti terjatuh dari bangunan, diserang hewan peliharaan, hingga terancam mati perlahan akibat luka infeksi.

    BKSDA Kalteng didesak menerjunkan peralatan pencari bersensor panas (drone thermal) serta menyiagakan senapan pembius (tranquilizer gun). Beruang dalam kondisi terluka parah sangat defensif dan berpotensi memicu konflik mematikan jika terdesak masuk ke rumah warga di Gang Budi Mufakat.

    Kepolisian Polres Kotim bersama Balai Gakkum KLHK dituntut bertindak tegas dengan menggelar operasi penyisiran jerat baja serta menindak pelaku perburuan liar di sepanjang koridor Jalan Tjilik Riwut dan Lingkar Utara Sampit. (***)

  • Kaki Beruang Luka Parah Akibat Jerat Seling Baja, Teror Bencana dan Kejahatan Satwa Merangsek ke Tjilik Riwut Sampit

    Kaki Beruang Luka Parah Akibat Jerat Seling Baja, Teror Bencana dan Kejahatan Satwa Merangsek ke Tjilik Riwut Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Konflik antara manusia dan satwa liar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memanas dengan tren yang makin memprihatinkan. Seekor beruang madu (Helarctos malayanus) berusia remaja-dewasa ditemukan berkeliaran dengan kondisi kaki belakang kiri luka parah membusuk di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, Sampit, Selasa (6/10/2026).

    ​Kemunculan satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut sempat direkam oleh warga saat beruang pincang tersebut merayap di dekat pohon tumbang tepi saluran parit. Video berdurasi singkat itu mendadak viral dan langsung direspons oleh BKSDA Pos Sampit.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa dari visual luka menganga pada kaki beruang, terdapat indikasi kuat satwa tersebut merupakan korban kejahatan jerat berburu berbahan seling baja (jerat sisit).

    ​“Dari kondisi kakinya, kami menduga beruang ini sebelumnya terkena jerat. Biasanya jerat seperti itu menggunakan seling baja atau yang dikenal warga sebagai jerat sisit. Perkiraan kami beruang sempat terjerat cukup lama sebelum akhirnya berhasil memutus rantai atau melepaskan diri secara paksa ,” terang Muriansyah, Rabu (7/10/2026).


    ​Merespons laporan darurat warga, tim gabungan BKSDA Resort Sampit bersama para aktivis lingkungan diterjunkan ke lokasi kejadian. Petugas langsung membagi tim untuk menyisir kawasan perkebunan kelapa sawit seluas dua hektare di Gang Budi Mufakat.

    ​Namun hingga Rabu sore hari menjelang gelap, keberadaan beruang terluka tersebut belum berhasil dijumpai fisik. Petugas terpaksa menghentikan sementara penyisiran demi alasan keselamatan operasional.

    ​”Beruang dalam kondisi normal saja wajib kita waspadai, apalagi dalam kondisi terluka parah. Satwa yang kesakitan akan jauh lebih agresif, defensif, dan berisiko menyerang jika merasa terancam. Kami tidak ingin mengambil risiko, pencarian lanjutan akan diatur kembali,” tegas Muriansyah.

    ​Meskipun keterkaitan antara kemunculan beruang ini dengan kepungan 506 titik panas (hotspot) karhutla Kotim belum bisa disimpulkan secara medis sebelum satwa dievakuasi, warga sekitar mengakui bahwa beruang tersebut belakangan makin sering merangsek ke kebun kelapa sawit dan mengincar tanaman nanas milik warga untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan

    ​Kemunculan beruang dengan kaki hancur di Jalan Tjilik Riwut Km 8 ini membuka sisi gelap ganda bencana lingkungan di Kotim: kehancuran habitat akibat karhutla dan maraknya perburuan liar menggunakan jerat seling baja.

    ​BKSDA Resort Sampit bersama aparat kepolisian didesak tidak hanya fokus mencari keberadaan beruang, tetapi wajib menggelar operasi penyisiran dan pembersihan jerat seling baja di sekitar perkebunan Km 8 Tjilik Riwut. Jerat sisit merupakan pemicu cacat permanen dan kematian perlahan bagi satwa dilindungi.

    Mengingat kondisi beruang mengalami luka infeksi serius, BKSDA Kalteng didesak menyiagakan dokter hewan dan senapan pembius saat pencarian dilanjutkan. Beruang terluka yang terdesak ke pemukiman padat Km 8 berpotensi memicu puncaknya konflik fatal dengan masyarakat jika tidak ditangani secara profesional. (***)