Tag: BKSDA Sampit

  • Habitat Hangus Diterjang Karhutla: Orangutan Kelaparan Terdesak Masuk Kebun Warga di Lingkar Selatan dan Utara Sampit!

    Habitat Hangus Diterjang Karhutla: Orangutan Kelaparan Terdesak Masuk Kebun Warga di Lingkar Selatan dan Utara Sampit!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membumihanguskan bentang alam Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memicu krisis ekologi serius. Terdesak akibat habitat aslinya hangus terbakar, individu orangutan (Pongo pygmaeus) dilaporkan kembali bermigrasi mendekati kawasan pemukiman warga serta nekat menyeberangi jalur jalan utama Kota Sampit untuk mencari makan.

    Kepastian ini diperoleh setelah petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort  Sampit menemukan jejak sarang aktif dan sisa-sisa buah nanas yang dimakan primata langka tersebut saat menggelar patroli penelusuran di kawasan Jalan Lingkar Selatan dan Jalan Lingkar Utara, Senin (26/10/2026).

    Di kawasan Jalan Lingkar Selatan, tepatnya di Jalan Moh. Hatta, Gang Kecamatan (belakang Kantor Kecamatan Mentawa Baru Ketapang), tim BKSDA mendapati sarang orangutan kategori kelas C di dekat pintu masuk gang. Penelusuran lebih lanjut di area perkebunan nanas warga mengonfirmasi adanya lorong jalur jelajah satwa serta sisa umbut dan buah nanas yang digerogoti orangutan sekitar satu minggu lalu.

    Keterangan warga yang beraktivitas di kebun serta pekerja pondok setempat turut menguatkan keberadaan primata dilindungi tersebut di sekitar perimeter perkebunan warga.

    Kepala BKSDA Resort Sampit  Muriansyah, membeberkan bahwa menyempitnya bentang alam akibat amuk karhutla memaksa satwa ini keluar dari vegetasi asli.

    “Berdasarkan temuan sarang dan sisa aktivitas makan nanas tersebut, orangutan diduga kuat telah menyeberangi Sungai Pengaringan dan kini posisinya berada tidak jauh dari akses jalan utama Lingkar Selatan,” ungkap Muriansyah, Senin (26/10/2026).

    Sarang Baru Ditemukan di Baamang Hulu, BKSDA Pantau Empat Titik Kritis

    Fenomena serupa juga terdeteksi di kawasan Jalan Soekarno (Lingkar Utara), Gang Mustika, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang. Petugas BKSDA menemukan satu sarang baru kelas C di area kebun karet warga serta sisa bekas umbut nanas yang dikonsumsi satwa tersebut.

    Muriansyah mengungkapkan bahwa saat ini BKSDA Resort Sampit tengah mengintensifkan pemantauan ketat di empat titik lokasi kemunculan orangutan yang kian terdesak krisis habitat: Jalan Lingkar Selatan (Kecamatan Mentawa Baru Ketapang), Jalan Lingkar Utara (Kelurahan Baamang Hulu),  Bagendang Hilir, Gang Dahlia (Kecamatan Mentaya Hilir Utara) dan Jalur menuju Desa Kandan (Kecamatan Kota Besi).

    Kondisi paling kritis tercatat di jalur menuju Desa Kandan. Sisa kantong habitat (refugia) tempat bertahan hidup orangutan dilaporkan makin menyempit akibat kantong-kantong hutan di sisi kiri, kanan, dan belakang lokasi habis dilalap api karhutla.

    Terdesaknya orangutan hingga memasuki perkebunan nanas dan menyeberangi jalan arteri Sampit merupakan alarm bahaya atas hancurnya ekosistem penyangga di Kotawaringin Timur. Ketika benteng hutan primer dan sekunder musnah terbakar, ancaman konflik fisik dengan manusia serta risiko penjeratan liar meningkat drastis.

    BKSDA Kalteng dan mitra konservasi didesak untuk tidak sekadar melakukan pemantauan pasif. Mengingat habitat di Desa Kandan dan Lingkar Selatan telah hangus terbakar, tindakan pembiusan dan translokasi (rescue) ke Kawasan Taman Nasional Sebangau atau TN Tanjung Puting harus segera dieksekusi sebelum satwa menjadi korban jerat babi atau perburuan warga.

    Pemkab Kotim, Polres Kotim, dan BKSDA dituntut menerbitkan imbauan keras kepada warga pemilik kebun nanas dan karet agar tidak menembak, meracun, atau memasang jerat terhadap orangutan yang masuk mencari makan, serta melaporkan setiap pergerakan satwa ke posko BKSDA. (***)

  • Fenomena Langkah Saat Asap Pekat: Burung Rangkong Kangkareng Hitam Muncul Pasrah di Mentaya Hulu, BKSDA Duga Peliharaan Terlepas!

    Fenomena Langkah Saat Asap Pekat: Burung Rangkong Kangkareng Hitam Muncul Pasrah di Mentaya Hulu, BKSDA Duga Peliharaan Terlepas!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Di tengah kepungan asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengisolasi wilayah pedalaman Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sebuah fenomena langka menyita perhatian publik. Seekor burung berparuh besar yang didorong dugaan kuat sebagai Rangkong jenis Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus) mendadak muncul dan hinggap tenang di atas sepeda motor warga di Desa Tanjung Jariangau, Kecamatan Mentaya Hulu, Rabu (21/10/2026).

    Aksi pasrah satwa langka tersebut terekam dalam video berdurasi 15 detik yang viral di media sosial. Burung tersebut tampak tenang dan tidak terbang menjauh saat didekati perekam dari jarak sangat dekat, sementara latar belakang pepohonan di sekitarnya samar tertutup jelutut kabut asap.

    Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort  Sampit Muriansyah, mengonfirmasi identifikasi visual satwa langka tersebut dan menegaskan status perlindungannya di mata hukum.

    “Sepertinya kangkareng hitam. Kangkareng hitam termasuk spesies burung rangkong dan termasuk jenis burung yang dilindungi UU. Spesies ini masih ditemukan di wilayah Kotim, terutama kawasan hutan yang terjaga dengan pohon besar di Telaga Antang, Antang Kalang, Mentaya Hulu, dan Bukit Santuai,” terang Muriansyah, Rabu (21/10/2026).

    Sikap Jinak Memicu Dugaan Peliharaan Terlepas, BKSDA Ingatkan Sanksi Pidana

    Muriansyah menganalisis bahwa perilaku burung yang terlampau jinak saat didekati manusia merupakan indikasi kuat bahwa satwa tersebut merupakan peliharaan warga yang terlepas, bukan burung liar yang mendadak turun akibat terpapar asap karhutla.

    Secara alami, burung kangkareng hitam liar memiliki sifat kewaspadaan tinggi dan dipastikan akan langsung terbang menghindar jika berhadapan dengan manusia.

    Meski demikian, BKSDA Pos Sampit mengingatkan masyarakat luas bahwa seluruh spesies burung rangkong termasuk Kangkareng Hitam merupakan satwa yang dilindungi penuh oleh Undang-Undang. Penangkapan, pemeliharaan, hingga pemeliharaan secara ilegal tanpa izin resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki konsekuensi sanksi pidana berat.

     

    Kemunculan Kangkareng Hitam di pemukiman Tanjung Jariangau merupakan peringatan kritis bagi kelestarian biodiversitas ekosistem gambut Kotim yang kian terdesak amukan karhutla. Baik akibat habitatnya yang terbakar maupun akibat lepas dari pemeliharaan ilegal, keberadaan satwa dilindungi di pemukiman warga sangat rentan menjadi sasaran perburuan liar.

    Tim BKSDA Pos Sampit didesak segera menerjunkan personel ke Desa Tanjung Jariangau untuk mengamankan (rescue) burung Kangkareng Hitam tersebut, guna mencegah penangkapan ilegal oleh oknum tidak bertanggung jawab.

    BKSDA dan Polres Kotim dituntut melakukan razia serta penegakan hukum terhadap praktik pemeliharaan satwa liar dilindungi secara ilegal di kawasan perdesaan, sembari membuka layanan penyerahan sukarela satwa dari masyarakat. (***)

  • Warga Bagendang Resah, Dua Beruang Madu Diduga Induk dan Anak Sering Serang Ternak

    Warga Bagendang Resah, Dua Beruang Madu Diduga Induk dan Anak Sering Serang Ternak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Warga Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dibuat resah dengan kemunculan dua ekor beruang madu di sekitar permukiman.

    Satwa liar tersebut disebut kerap berkeliaran di sekitar rumah warga. Bahkan, berdasarkan informasi yang dihimpun petugas, dua beruang itu diduga telah beberapa kali menyerang ternak milik warga.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, laporan awal mengenai kemunculan beruang madu disampaikan warga bernama Junah. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Pos Sampit turun melakukan observasi di Desa Bagendang Permai pada Selasa (15/9).

    Observasi berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Petugas juga berkoordinasi dengan pemerintah desa dan bertemu langsung dengan pelapor, kepala desa, ketua RT, staf desa serta warga setempat.

    “Dari informasi warga, beruang berjumlah dua ekor, diduga induk dan anak,” kata Muriansyah.

    Warga menyampaikan bahwa kemunculan beruang madu di kawasan tersebut bukan kejadian pertama. Satwa itu disebut sudah sering terlihat di sekitar permukiman, terutama ketika memasuki musim kemarau dan terjadi kebakaran lahan.

    Keberadaan dua beruang tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah serangan terhadap ternak warga, terutama ayam dan itik.

    Kondisi itu membuat warga takut dan resah saat beraktivitas di sekitar permukiman.

    Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA memberikan penjelasan kepada warga mengenai perilaku beruang madu. Petugas juga memasang satu set perangkap di lokasi dengan menggunakan buah nanas sebagai umpan.

    Pemasangan perangkap dilakukan dengan bantuan dan disaksikan staf desa serta warga.

    Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menangani keberadaan beruang madu yang mulai mendekati kawasan permukiman sekaligus mengurangi potensi konflik antara satwa liar dan manusia.

    BKSDA selanjutnya akan memantau kondisi perangkap dan keberadaan beruang madu di sekitar lokasi.

    Warga diminta tetap berhati-hati dan tidak melakukan tindakan sendiri apabila kembali melihat beruang. (***)

  • Terdesak Karhutla di Teluk Sampit, Bekantan Jantan Muncul Sebatang Kara di Tepi Jalan Ujung Pandaran

    Terdesak Karhutla di Teluk Sampit, Bekantan Jantan Muncul Sebatang Kara di Tepi Jalan Ujung Pandaran

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya melumpuhkan kualitas udara, tetapi juga mengancam habitat satwa langka yang dilindungi. Pada Minggu (13/9/2026), seekor bekantan (Nasalis larvatus) jantan terpantau berada sebatang kara di atas pohon tepi jalan raya kawasan Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.

    ​Kemunculan satwa endemik Kalimantan berhidung panjang ini pertama kali diunggah oleh warga bernama Rini Al Rasyid pada Minggu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Rini mengaku prihatin lantaran saat melintas kembali pada pukul 14.00 WIB, ia menyaksikan sejumlah titik api karhutla membakar vegetasi di sepanjang koridor jalan dekat lokasi kemunculan bekantan tersebut.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa kawasan pesisir Ujung Pandaran memang merupakan habitat alami bekantan dan lutung abu-abu yang didominasi vegetasi mangrove serta nipah.

    ​”Bekantan ini diduga pejantan yang kalah bersaing dari kelompoknya atau terpisah. Kami imbau masyarakat tidak panik dan jangan coba-coba menangkap atau melukai bekantan secara manual. Bekantan tidak akan menyerang jika tidak diganggu, namun taringnya yang tajam bisa memicu luka serius apabila merasa terancam,” imbau Muriansyah, Senin (14/9/2026).


    ​Rekam Jejak Krisis Habitat akibat Karhutla

    ​Kemunculan bekantan jantan di tepi jalan Ujung Pandaran terjadi di tengah kecamuk karhutla ekstrem yang mengepung Kecamatan Teluk Sampit. Data BMKG dan BPBD Kotim mencatat Teluk Sampit dikepung ribuan titik panas, dengan Desa Lampuyang dan kawasan pesisir sekitarnya menjadi pusat titik api paling parah.

    Kemunculan bekantan jantan sebatang kara di jalur utama Ujung Pandaran menelanjangi hancurnya benteng vegetasi mangrove dan nipah akibat kepungan karhutla pesisir Teluk Sampit. Ketika ruang jelajah yang kaya akan sumber pakan hangus terbakar dan terkepung asap pekat, satwa langka ini terdorong ke bahaya jalan raya yang rentan memicu konflik dengan manusia atau menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

    ​BKSDA Pos Sampit didesak untuk tidak sekadar memberikan imbauan pasif, melainkan menerjunkan tim rescue ke koridor Ujung Pandaran guna memantau kondisi kesehatan satwa serta memastikan bekantan tidak ditangkap warga secara ilegal. Di sisi lain, Kepolisian bersama Gakkum LHK wajib mengusut tuntas penyebab munculnya titik kebakaran di sepanjang jalan Ujung Pandaran yang merusak ekosistem mangrove pelindung pantai.

    ​Satwa langka terdesak karhutla lagi!  Bekantan jantan muncul sebatang kara di tepi jalan Ujung Pandaran! BKSDA dan warga wajib amankan satwa endemik dari ancaman api dan penangkapan liar! (***)

  • Hutan Terbakar, Orangutan Terdesak Jadi “Pengungsi Karhutla” di Kebun Warga Kotim dan Seruyan

    Hutan Terbakar, Orangutan Terdesak Jadi “Pengungsi Karhutla” di Kebun Warga Kotim dan Seruyan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kemunculan orangutan kembali dilaporkan di dua wilayah Kalimantan Tengah. Di tengah kondisi sejumlah kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), satwa dilindungi itu terpantau berada tidak jauh dari aktivitas dan kebun warga.

    Laporan pertama berasal dari Jalan Batanggung, Kelurahan Kotabesi Hulu, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah menerima laporan mengenai keberadaan dua individu orangutan di kawasan tersebut. Informasi disampaikan oleh kepala sekolah dari Desa Camba.

    Berdasarkan komunikasi petugas dengan pelapor, dua orangutan itu terakhir terlihat berada di kawasan hutan karet sekitar dua pekan sebelum laporan diterima.

    Petugas Pos Sampit kemudian meminta pelapor segera memberikan informasi apabila orangutan kembali terlihat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keberadaan dan kondisi satwa dapat dipantau tanpa menimbulkan gangguan.

    Kondisi lingkungan di sekitar lokasi menjadi perhatian. Sebagian kawasan dilaporkan mengalami karhutla, terutama pada area semak belukar. Sementara itu, sejumlah kebun karet dan kelapa sawit masih dijaga oleh warga.

    Kawasan tersebut bukan lokasi baru bagi petugas BKSDA. Kemunculan orangutan dan beruang madu sebelumnya juga pernah dilaporkan di wilayah itu. Petugas bahkan beberapa kali mendatangi lokasi untuk melakukan observasi sehingga telah mengetahui karakter medan.

    Masuk Kebun Warga di Kuala Pembuang

    Kemunculan orangutan juga dilaporkan dari Kabupaten Seruyan.

    Pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 12.10 WIB, petugas menerima laporan dari staf TNTP Wilayah II Kuala Pembuang, Sudayanto. Laporan tersebut diteruskan dari seorang warga bernama Sugianto.

    Satu individu orangutan dilaporkan masuk ke kebun milik Sugianto di Kecamatan Kuala Pembuang I. Satwa tersebut diduga merusak dan memakan bagian tanaman kelapa.

    Puluhan batang kelapa dilaporkan mengalami kerusakan. Kondisi tersebut mulai terlihat sejak Jumat, 4 September 2026.

    Di sekitar lokasi juga terdapat area yang mengalami kebakaran.

    Petugas BKSDA kemudian menghubungi Sugianto untuk menggali informasi lebih lanjut sekaligus memberikan penjelasan mengenai perilaku orangutan.

    Warga diminta melakukan pengecekan pada sore hari dan segera melapor apabila satwa kembali terlihat.

    Namun, ketika dilakukan pengecekan pada sore hari, orangutan tersebut sudah tidak berada di lokasi.

    Petugas kembali memberikan imbauan agar warga tidak melakukan tindakan sendiri terhadap satwa dan segera berkoordinasi apabila orangutan kembali muncul.

    Pernah Dicoba Dievakuasi

    Kemunculan orangutan di lokasi tersebut ternyata bukan kejadian pertama.

    Beberapa tahun lalu, tim penyelamatan dari Pangkalan Bun pernah datang ke kawasan itu untuk melakukan upaya rescue terhadap orangutan. Namun, proses tersebut tidak berhasil.

    Saat itu, orangutan masuk ke kawasan yang dipenuhi tanaman nipah dengan kondisi rapat dan berair. Tim bersama warga dan pihak TNTP telah melakukan pengawasan, tetapi jejak satwa akhirnya hilang.

    Kejadian terbaru kembali menunjukkan bahwa keberadaan orangutan di sekitar kebun dan aktivitas manusia masih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan hati-hati.

    Di satu sisi, warga menghadapi kerusakan tanaman. Di sisi lain, orangutan merupakan satwa dilindungi yang tidak dapat diperlakukan seperti hama biasa.

    Kondisi kawasan yang terbakar juga menambah tekanan terhadap ruang hidup satwa liar. Namun, keterkaitan langsung antara karhutla dengan pergerakan orangutan dalam dua kejadian ini masih memerlukan pengamatan lebih lanjut.

    BKSDA mengingatkan masyarakat untuk tidak mengejar, menangkap, melukai, atau melakukan tindakan yang dapat membahayakan orangutan.

    Setiap kemunculan satwa diminta segera dilaporkan agar petugas dapat melakukan pemantauan dan menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan. (***)

  • Bertahan di Satu Pohon Saat Hutan Terbakar, Induk Orangutan Ternyata Bersama Anak

    Bertahan di Satu Pohon Saat Hutan Terbakar, Induk Orangutan Ternyata Bersama Anak

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Seekor induk orangutan bertahan di satu pohon ketika kawasan hutan di sekitarnya terbakar. Satwa dilindungi itu ternyata tidak sendirian. Ia membawa anaknya yang masih berusia sekitar satu tahun.

    Keduanya ditemukan di kawasan Taman Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Desa Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Rabu (2/9/2026).

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengatakan laporan keberadaan orangutan diterima petugas sekitar pukul 11.00 WIB. Laporan tersebut disertai video yang dikirim Feri kepada petugas.

    Orangutan pertama kali terlihat oleh anggota TNI bernama Husin. Saat ditemukan, satwa berada di atas pohon yang berada di tengah kawasan terdampak kebakaran.

    Petugas Pos Sampit kemudian menuju lokasi sekitar pukul 12.00 WIB untuk melakukan pengecekan.
    Hasil observasi menunjukkan orangutan masih berada di pohon yang sama. Satwa tersebut tidak berpindah sejak pertama kali terlihat pada pagi hari.

    Kondisi kawasan di sekitar pohon cukup kritis. Areal bekas terbakar masih mengeluarkan asap, terutama dari bagian lahan gambut.

    “Orangutan tersebut mulai terlihat pagi tadi dan hanya berada di satu pohon, tidak berpindah ke mana-mana,” kata Muriansyah berdasarkan keterangan yang diterima petugas di lokasi.

    Petugas kemudian melaporkan hasil observasi kepada pimpinan BKSDA di Pangkalan Bun. Tim memutuskan segera melakukan rescue karena lokasi merupakan kawasan terdampak karhutla dan masih mengeluarkan asap.

    Sambil menunggu tim rescue, petugas Pos Sampit bersama Husin terus memantau pergerakan orangutan dari jarak aman.

    Sekitar pukul 20.30 WIB, tim rescue dari Pangkalan Bun tiba di lokasi dan langsung melakukan proses penyelamatan.

    Fakta lain baru terungkap saat proses pembiusan. Orangutan yang sejak pagi terlihat hanya satu individu ternyata membawa anak.

    Setelah induknya berhasil dibius, petugas mengevakuasi keduanya menuju lokasi yang lebih aman. Pemeriksaan kemudian dilakukan terhadap kondisi fisik kedua satwa.
    BKSDA mengidentifikasi induk orangutan tersebut sebagai Raya. Satwa betina itu diperkirakan berusia sekitar 20 tahun dengan berat 29 kilogram.

    Sementara anaknya diberi nama Rayu. Anak orangutan berjenis kelamin betina tersebut diperkirakan baru berusia satu tahun.

    Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi fisik Raya dan Rayu secara keseluruhan normal dan sehat. Petugas juga tidak menemukan luka bakar maupun luka akibat tembakan peluru.

    Proses rescue melibatkan tiga petugas BKSDA Resort Sampit, yakni Muriansyah, Juhriansyah dan Riska. Tim juga mendapat dukungan empat personel dari Orangutan Foundation International (OFI).

    Sekitar pukul 22.40 WIB, seluruh tim meninggalkan lokasi rescue dan kembali menuju Kota Pangkalan Bun.
    Temuan dua orangutan tersebut memperlihatkan dampak karhutla terhadap satwa liar di sekitar Sampit. Ketika habitat terbakar dan lahan gambut masih mengeluarkan asap, ruang gerak satwa menjadi semakin terbatas.

    Raya dan Rayu akhirnya berhasil dievakuasi sebelum kondisi di sekitar lokasi semakin membahayakan.
    BKSDA bersama mitra terus melakukan pemantauan terhadap keberadaan satwa liar di kawasan terdampak karhutla untuk mengantisipasi satwa yang terjebak maupun munculnya konflik antara satwa dan manusia. (***)

  • Terisolasi Asap Karhutla, Tim Rescue Pangkalan Bun Dikerahkan Selamatkan Orangutan di Sampit

    Terisolasi Asap Karhutla, Tim Rescue Pangkalan Bun Dikerahkan Selamatkan Orangutan di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menelan korban satwa langka dilindungi. Seekor orangutan (Pongo pygmaeus) ditemukan terisolasi di atas pohon di kawasan Hutan Kota Sampit, tepatnya di ujung Jalan Sawit Raya atau Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 6, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang), pada Rabu (2/9/2026).

    Satwa pemalu tersebut terpaksa bertahan di ketinggian setelah bentang lahan gambut di sekelilingnya hangus terbakar. Hawa panas serta kepulan asap pekat yang membumbung dari tanah gambut di bawah pohon membuat primata besar ini terperangkap dan tidak berani turun untuk menyelamatkan diri.

    Kondisi medan yang berisiko membuat proses penyelamatan harus berlanjut hingga malam hari. Personel Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit bersiaga di lokasi dengan menyiapkan alat penerangan khusus sembari menunggu kedatangan Tim Rescue BKSDA Wilayah II Pangkalan Bun yang dikerahkan sejak Rabu sore.

    Kepala BKSDA Resort  Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa pangkalan penerangan telah dipasang di titik keberadaan orangutan guna memantau posisinya agar tidak berpindah ke area yang lebih berbahaya sebelum tim pembius tiba.

    “Saya baru sampai kawasan Hutan Kota Sampit, kemudian langsung menyiapkan alat penerang atau lampu. Semua alat sudah siap, baru kembali ke lokasi untuk menunggu kedatangan tim rescue dari Pangkalan Bun yang diperkirakan tiba pukul 20.00 hingga 21.00 WIB,” ungkap Muriansyah, Rabu malam (2/9/2026).

    Operasi penanganan di malam hari di atas tanah gambut bekas terbakar memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tim rescue gabungan akan menentukan skenario pembiusan (anesthesia) atau penembakan jaring (netting) secara terukur dengan memperhitungkan keselamatan fisik orangutan serta kondisi medan gambut yang masih membara.

    Terisolasinya orangutan di Hutan Kota Sampit KM 6 Jalan Jenderal Sudirman menelanjangi kerusakan parah pada bentang koridor hijau perkotaan Sampit akibat amuk karhutla.

    Ketika area Hutan Kota yang menjadi benteng pertahanan terakhir satwa di sekitar Mentawa Baru Ketapang tergerus api, ruang hidup satwa liar benar-benar telah berada di ambang kepunahan.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan penanganan:

    Pemkab Kotim bersama DLH dan BKSDA Kalteng didesak untuk menetapkan Hutan Kota Sampit sebagai area konservasi prioritas yang wajib dijaga ketat oleh Satgas Karhutla agar tidak kembali terbakar di masa depan.

    Di samping itu, peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya menyiagakan Tim Rescue dan perlengkapan pembius permanen di Pos Sampit, sehingga proses evakuasi satwa dalam kondisi darurat tidak lagi memakan waktu lama menunggu pengiriman armada dari Pangkalan Bun. (***)

  • Terdesak Karhutla Sampit, Trenggiling 2 Kilogram Lolos dari Kobaran Api dan Ditemukan di Bekas Kebakaran

    Terdesak Karhutla Sampit, Trenggiling 2 Kilogram Lolos dari Kobaran Api dan Ditemukan di Bekas Kebakaran

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang tak kunjung padam kian masif menghancurkan bentang habitat satwa liar. Tak hanya melahap vegetasi gambut, musnahnya ruang hidup memaksa satwa langka dilindungi keluar dari hutan dan melintasi kawasan bekas kebakaran demi menyelamatkan diri.

    ​Seekor trenggiling (Manis javanica) berbobot sekitar 2 kilogram ditemukan berhasil selamat setelah terdesak kobaran api di kawasan bekas kebakaran Jalan Bumi Raya 1, Sampit. Satwa pemakan serangga yang dikenal sangat rentan terhadap paparan asap dan suhu panas itu ditemukan oleh Komunitas Reptil Sampit saat menggelar penyisiran lokasi karhutla pada Rabu malam (26/8/2026).

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi penyerahan satwa dilindungi tersebut dari pihak komunitas pada malam kejadian. Selain trenggiling, tim yang dipimpin Hari tersebut juga mengamankan seekor ular sanca kembang dari lokasi bekas terbakar.

    ​”Pada Rabu malam, 26 Agustus 2026, kami menerima penyerahan satu ekor trenggiling dengan berat sekitar 2 kilogram. Kondisinya terlihat sehat dan tidak ditemukan luka bakar maupun cedera fisik lainnya. Setelah diperiksa dan dipastikan kondisinya stabil, satwa tersebut langsung kami pelepasliarkan kembali ke lokasi aman yang jauh dari jangkauan karhutla di wilayah Kotim,” ungkap Muriansyah, Jumat (28/8/2026).

    ​Lolosnya trenggiling ini menguatkan indikasi bahwa amuk karhutla telah melumpuhkan benteng pertahanan ekosistem gambut. Muriansyah membeberkan bahwa potensi satwa liar yang terjebak di tengah kepungan api maupun yang merangsek masuk ke kawasan pemukiman warga kini berada pada tingkat kewaspadaan tinggi. Pihaknya bahkan sempat menerima laporan warga terkait ditemukannya trenggiling lain di dekat Kompleks Perumahan depan Stadion 29 Nopember Sampit.

    Penyelamatan trenggiling di Jalan Bumi Raya 1 menelanjangi kerusakan serius pada bentang habitat liar Kotim akibat kepungan karhutla yang tak kunjung teratasi. Ketika satwa pemalu dan lambat bergerak seperti trenggiling mulai bermigrasi ke area terbuka dan perumahan warga, itu menjadi sinyal bahwa ruang jelajah alami mereka di dalam hutan gambut sudah musnah terbakar.

    ​Kanal Independen mendesak penanganan serta langkah mitigasi darurat dari otoritas daerah:
    ​BKSDA Resort Sampit bersama Pemkab Kotim didesak memperluas jangkauan patroli penyisiran satwa (wildlife rescue patrol) di seluruh zona bekas karhutla perkotaan Sampit.

    Di samping itu, masyarakat diimbau keras untuk tidak menangkap, memelihara, atau memanfaatkan situasi krisis ini untuk memperjualbelikan satwa dilindungi yang terdesak ke pemukiman. Penegakan hukum tegas harus diberlakukan terhadap siapa pun yang memanfaatkan bencana karhutla untuk perburuan liar.(***)

  • Api Tak Lagi Berhenti di Lahan, 8 Bangunan Terbakar di Kotim

    Api Tak Lagi Berhenti di Lahan, 8 Bangunan Terbakar di Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) selama musim kemarau mulai mengancam bangunan warga.

    Ancaman tidak hanya datang dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejumlah rumah, gudang, hingga bangunan usaha ikut terbakar di tengah kondisi cuaca yang kering dan maraknya titik api.

    Sedikitnya delapan peristiwa kebakaran bangunan tercatat sejak status tanggap darurat karhutla dan kekeringan diberlakukan di Kotim mulai 30 Juli 2026.

    Rangkaian kebakaran tersebut terjadi di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Kota Besi.

    Kebakaran pertama terjadi pada Jumat, 7 Agustus 2026. Sebuah rumah semi permanen di Jalan DI Panjaitan, tepat di belakang SDN 3 Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, ludes terbakar.

    Berikutnya pada Selasa, 11 Agustus 2026, kebakaran terjadi di Jalan Muchran Ali, Kecamatan Baamang. Api menghanguskan empat rumah dan satu gudang. Tiga bangunan lainnya turut terdampak.

    Kebakaran kembali terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Sebuah rumah semi permanen di Jalan Diponegoro, Gang Garuda 2, Kelurahan Kota Besi Hilir, Kecamatan Kota Besi, terbakar.

    Pada Senin, 17 Agustus 2026, api membakar gudang penyimpanan alat tulis sekolah di Jalan SPG Permai, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Lima hari kemudian, kebakaran melanda sebuah rumah kayu kosong di Jalan Pelita Barat, Gang Swadaya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Ancaman kebakaran berlanjut pada Selasa, 25 Agustus 2026. Dalam sehari, dua bangunan terbakar di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Kebakaran pertama menghanguskan bangunan bekas kandang babi di Jalan Pengaringan. Beberapa jam kemudian, api membakar sebuah rumah di kawasan padat penduduk di Jalan Batu Mutiara.

    Kebakaran terbaru terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026, di kawasan Perumahan Sinar Fajar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Api menghanguskan gudang produksi batako yang juga digunakan sebagai tempat penyimpanan pupuk. Satu rumah yang sekaligus digunakan sebagai pangkalan elpiji juga terbakar.

    Dari rangkaian kejadian tersebut, sebagian kebakaran bangunan diduga berkaitan dengan karhutla yang terjadi di sekitar lokasi. Kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi menjalar ketika berada dekat dengan permukiman atau bangunan.

    Wakil Bupati Kotim Irawati meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Ia mengingatkan warga agar tidak hanya memperhatikan lahan, tetapi juga rumah yang ditinggalkan.

    “Jadi kami berpesan agar para warga yang mempunyai lahan, tolong dijaga lahannya. Dan juga rumah yang ditinggalkan tolong dititipkan kepada tetangga,” ujar Irawati, Rabu (26/8/2026).

    Irawati juga meminta warga memastikan instalasi listrik dan perangkat elektronik dalam kondisi aman sebelum meninggalkan rumah.

    “Karena rata-rata kebakaran saat ini selain panas juga terjadi akibat korsleting listrik. Itu adalah rata-rata rumah yang ditinggal, yang tidak ada penghuninya,” katanya.

    Menurutnya, kebakaran bangunan di tengah maraknya karhutla juga dapat memperburuk kualitas udara dan menambah kabut asap di Kotim.

    “Jadi kami berpesan bagaimana kita menjaga rumah agar tidak ikut terbakar pada saat musim karhutla seperti ini. Nah, tentunya ini menambah sumbangan asap di daerah kita,” ujarnya.

    Kondisi kemarau yang masih berlangsung membuat kewaspadaan perlu diperluas. Rumah kosong, gudang, bangunan usaha, dan permukiman yang berada dekat lahan terbakar perlu mendapat perhatian lebih.

    Masyarakat diminta memastikan lingkungan sekitar rumah bersih dari bahan mudah terbakar dan segera melaporkan jika menemukan api yang berpotensi menjalar ke permukiman.(***)

  • Karhutla Kotim Makin Liar: Orangutan Eksodus ke Perkebunan Warga Luwuk Bunter

    Karhutla Kotim Makin Liar: Orangutan Eksodus ke Perkebunan Warga Luwuk Bunter

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengamuk di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kian tak terbendung. Amuk api yang melumat hamparan lahan gambut dan kawasan hutan di Kecamatan Cempaga kini tidak hanya mengancam permukiman warga, tetapi juga memicu krisis ekologi hebat: mendorong orangutan (Pongo pygmaeus) keluar dari ruang hidupnya.

    Laju kebakaran yang merusak bentang alam di kawasan tersebut memaksa satwa langka dilindungi itu melakukan eksodus masif menuju area perkebunan warga di Desa Luwuk Bunter.

    Menanggapi laporan darurat dari warga setempat bernama Nako, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mendatangi lokasi untuk melakukan penelusuran pada Rabu (26/8/2026).

    Akses menuju lokasi penyisiran terbilang sangat berat. Tim BKSDA harus menggunakan mobil, menembus jalur darat dengan sepeda motor, hingga melanjutkan penyisiran berjalan kaki menyusuri kebun warga yang didominasi tanaman karet, semak belukar, dan kelapa sawit.

    Meski keberadaan fisik orangutan belum berhasil dijumpai dalam penyisiran yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 13.20 WIB tersebut, tim menemukan bukti otentik aktivitas satwa liar berupa sisa umbut dan kulit pohon yang baru saja dikelupas untuk dimakan. Kondisi sisa pakan yang masih basah mengindikasikan satwa tersebut belum lama berada di lokasi perkebunan.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengonfirmasi temuan jejak pakan tersebut. Selain melakukan penyisiran satwa, personel di lapangan juga membaur bersama aparat desa Luwuk Bunter dan Polsek Kota Besi untuk memadamkan titik kebakaran serta memasang spanduk imbauan pencegahan karhutla.

    “Petugas menemukan bekas sisa umbut atau kulit pohon yang diduga kuat bekas dimakan orangutan dengan kondisi masih basah. Petugas memberikan pengarahan kepada kepala desa dan warga terkait perilaku orangutan serta meminta warga untuk segera melapor jika satwa tersebut kembali terlihat,” kata Muriansyah, Kamis (27/8/2026).

    Fenomena orangutan yang merambah masuk ke kebun warga di Luwuk Bunter menelanjangi kerusakan parah pada koridor habitat alam akibat kepungan karhutla. Musnahnya sumber pakan dan ruang jelajah primer membuat satwa liar terdesak mengambil risiko bermigrasi ke kawasan aktivitas manusia demi bertahan hidup.

     BKSDA Kalteng bersama Satgas Karhutla Kotim wajib menyiagakan unit evakuasi satwa (wildlife rescue unit) yang dilengkapi peralatan medis dan pembius di zona rawan kebakaran Cempaga. Langkah ini krusial untuk mencegah terjadinya konflik fisik atau aksi anarkis dari warga yang khawatir akan keamanan kebunnya. Di sisi lain, jajaran kepolisian dan pemerintah daerah harus menjamin perlindungan hukum bagi orangutan yang terdesak api, sembari mempercepat pemadaman karhutla yang memicu eksodus satwa tersebut.(***)