SAMPIT, Kanalindependen.id – Guyuran hujan deras yang melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Selasa (27/10/2026) pagi membawa secercah harapan di tengah krisis Bencana Udara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Warga Kota Sampit dan sekitarnya menyambut sukacita turunnya hujan yang membasahi lahan gambut mengering serta mengikis jelutut racun asap.
Berdasarkan data pengamatan resmi BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim, kondisi cuaca pada pukul 07.00 WIB sempat berada pada taraf mengkhawatirkan dengan kategori kabut asap dan jarak pandang (visibility) horizontal tersisa hanya 100 meter, suhu 25,3 °C, serta kelembapan 96 persen.
Namun, hanya dalam tempo satu jam, kondisi atmosfer berubah drastis. Pukul 08.00 WIB, hujan intensitas ringan disertai dentuman guntur meluruhkan kabut asap hingga jarak pandang melonjak tajam menjadi 1 kilometer, dengan suhu turun ke 24,8 °C dan kelembapan 88 persen.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim membeberkan bahwa langit pekat Sampit pada Selasa pagi dipicu oleh kombinasi endapan kabut asap dan tutupan awan konvektif Cumulonimbus (CB) yang tebal.
Harapan besar diungkapkan oleh Yanur, warga Kecamatan Cempaga yang mengguyur wilayahnya sejak pukul 07.00 WIB, serta Rahmat Hidayat, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
“Semoga asap benar-benar hilang dan ini menjadi pertanda musim kemarau serta kekeringan berakhir. Kami ingin kembali menghirup udara segar tanpa takut ancaman kebakaran lahan,” ungkap Rahmat Hidayat penuh harap, Selasa (27/10/2026).
BMKG Kalteng Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Meluas ke 17 Kecamatan
Kendati hujan membawa berkah peluruhan asap, BMKG Kalimantan Tengah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem pada pukul 08.00 WIB. Hujan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi menerjang wilayah Kotim mulai pukul 08.10 WIB hingga 10.00 WIB.
Wilayah sasaran utama peringatan dini meliputi Kecamatan Cempaga, Parenggean, Mentawa Baru Ketapang, Pulau Hanaut, Seranau, Cempaga Hulu, dan Tualan Hulu. Potensi hujan lebat ini diperkirakan meluas ke 10 kecamatan lain, termasuk Baamang, Kota Besi, Mentaya Hulu, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, Telawang, Bukit Santuai, Antang Kalang, hingga Telaga Antang.
Turunnya hujan deras di Sampit dan sekitarnya merupakan nafas lega sementara, namun bukan jaminan mutlak bahaya Karhutla telah padam total. Kebakaran di lahan gambut dalam (deep peat) Kotim memerlukan kebasahan berkepanjangan agar titik api di bawah permukaan benar-benar mati.
BPBD Kotim, Manggala Agni, dan Satgas Karhutla didesak memanfaatkan momentum basahnya permukaan tanah untuk melakukan mopping up (penyiraman sisa barabara api) di area hotspot pesisir seperti Pulau Hanaut dan Seranau agar api tidak menyala kembali saat terik siang.
Polres Kotim dan Polsek jajaran dituntut tidak mengendurkan pengawasan. Imbauan tegas dan sanksi pidana bagi oknum yang nekat memanfaatkan momen pasca-hujan untuk membuka lahan dengan cara membakar wajib terus dikawal secara konsisten. (***)









