Tag: bmkg sampit

  • Hujan Guyur Sampit Selasa Pagi: Awan Cumulonimbus Sapu Kabut Asap, Jarak Pandang Melonjak dari 100 Meter Jadi 1 Kilometer!

    Hujan Guyur Sampit Selasa Pagi: Awan Cumulonimbus Sapu Kabut Asap, Jarak Pandang Melonjak dari 100 Meter Jadi 1 Kilometer!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Guyuran hujan deras yang melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Selasa (27/10/2026) pagi membawa secercah harapan di tengah krisis Bencana Udara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Warga Kota Sampit dan sekitarnya menyambut sukacita turunnya hujan yang membasahi lahan gambut mengering serta mengikis jelutut racun asap.

    Berdasarkan data pengamatan resmi BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim, kondisi cuaca pada pukul 07.00 WIB sempat berada pada taraf mengkhawatirkan dengan kategori kabut asap dan jarak pandang (visibility) horizontal tersisa hanya 100 meter, suhu 25,3 °C, serta kelembapan 96 persen.

    Namun, hanya dalam tempo satu jam, kondisi atmosfer berubah drastis. Pukul 08.00 WIB, hujan intensitas ringan disertai dentuman guntur meluruhkan kabut asap hingga jarak pandang melonjak tajam menjadi 1 kilometer, dengan suhu turun ke 24,8 °C dan kelembapan 88 persen.

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H  Asan Kotim membeberkan bahwa langit pekat Sampit pada Selasa pagi dipicu oleh kombinasi endapan kabut asap dan tutupan awan konvektif Cumulonimbus (CB) yang tebal.

    Harapan besar diungkapkan oleh Yanur, warga Kecamatan Cempaga yang mengguyur wilayahnya sejak pukul 07.00 WIB, serta Rahmat Hidayat, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    “Semoga asap benar-benar hilang dan ini menjadi pertanda musim kemarau serta kekeringan berakhir. Kami ingin kembali menghirup udara segar tanpa takut ancaman kebakaran lahan,” ungkap Rahmat Hidayat penuh harap, Selasa (27/10/2026).

    BMKG Kalteng Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Meluas ke 17 Kecamatan

    Kendati hujan membawa berkah peluruhan asap, BMKG Kalimantan Tengah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem pada pukul 08.00 WIB. Hujan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi menerjang wilayah Kotim mulai pukul 08.10 WIB hingga 10.00 WIB.

    Wilayah sasaran utama peringatan dini meliputi Kecamatan Cempaga, Parenggean, Mentawa Baru Ketapang, Pulau Hanaut, Seranau, Cempaga Hulu, dan Tualan Hulu. Potensi hujan lebat ini diperkirakan meluas ke 10 kecamatan lain, termasuk Baamang, Kota Besi, Mentaya Hulu, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, Telawang, Bukit Santuai, Antang Kalang, hingga Telaga Antang.

    Turunnya hujan deras di Sampit dan sekitarnya merupakan nafas lega sementara, namun bukan jaminan mutlak bahaya Karhutla telah padam total. Kebakaran di lahan gambut dalam (deep peat) Kotim memerlukan kebasahan berkepanjangan agar titik api di bawah permukaan benar-benar mati.

    BPBD Kotim, Manggala Agni, dan Satgas Karhutla didesak memanfaatkan momentum basahnya permukaan tanah untuk melakukan mopping up (penyiraman sisa barabara api) di area hotspot pesisir seperti Pulau Hanaut dan Seranau agar api tidak menyala kembali saat terik siang.

    Polres Kotim dan Polsek jajaran dituntut tidak mengendurkan pengawasan. Imbauan tegas dan sanksi pidana bagi oknum yang nekat memanfaatkan momen pasca-hujan untuk membuka lahan dengan cara membakar wajib terus dikawal secara konsisten. (***)

  • Asap dan Ratusan Titik Panas Bayangi Kotim, Jarak Pandang Sampit Sempat 5 Meter

    Asap dan Ratusan Titik Panas Bayangi Kotim, Jarak Pandang Sampit Sempat 5 Meter

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kabut asap menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis, 22 Oktober 2026. Data BMKG Kotim menunjukkan jarak pandang yang tercatat pukul 07.00 WIB hanya 5 meter, sebelum meningkat menjadi 100 meter pada pukul 08.00 WIB dan 300 meter pada pukul 09.00 WIB.

    Meski jarak pandang berangsur meningkat dalam rentang pengamatan tersebut, kondisi cuaca masih dilaporkan berkabut. Pada pukul 08.00 WIB, cuaca dikategorikan sebagai kabut tebal, sedangkan pada pukul 09.00 WIB berubah menjadi kabut asap.

    Pada pukul 07.00 WIB, suhu udara tercatat 24,2 derajat Celsius dengan kelembapan 98 persen. Angin berada dalam kondisi tenang atau calm, dengan kecepatan 0 kilometer per jam.

    Satu jam kemudian, suhu meningkat menjadi 25,1 derajat Celsius dengan kelembapan tetap 98 persen. Angin masih tenang. Pada pukul 09.00 WIB, suhu kembali meningkat menjadi 28,1 derajat Celsius, sementara kelembapan turun menjadi 83 persen. Angin tercatat bertiup dari selatan dengan arah 200 derajat dan kecepatan 6 kilometer per jam.

    Data tersebut memperlihatkan perubahan jarak pandang dan parameter cuaca sepanjang pagi. Namun, peningkatan jarak pandang hingga pukul 09.00 WIB belum cukup untuk memastikan kabut asap telah menghilang atau kondisi sudah aman di seluruh wilayah Sampit.

    512 titik panas terdeteksi di Kotim

    Di tengah kondisi tersebut, infografis BMKG per 22 Oktober 2026 mencatat 512 titik panas di Kotim dalam periode pemantauan 24 jam terakhir. Sebanyak 480 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 21 titik rendah, dan 11 titik tinggi.

    Pulau Hanaut mencatat jumlah titik panas terbanyak, yakni 142 titik. Berikutnya Teluk Sampit dengan 111 titik, Seranau 100 titik, Telaga Antang 34 titik, dan Mentaya Hilir Utara 32 titik.

    Titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Data tersebut tidak otomatis membuktikan seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Verifikasi lapangan diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya di setiap lokasi.

    Kotim masuk kategori sangat mudah terbakar

    Analisis parameter cuaca BMKG untuk periode 22–23 Oktober 2026 menempatkan Kotim dalam kategori sangat mudah terbakar. Sementara itu, prakiraan cuaca harian menunjukkan kondisi berawan, dengan potensi pertumbuhan awan hujan kategori sedang, yakni 50–70 persen, di wilayah utara Kotim.

    Potensi pertumbuhan awan hujan tidak menjamin hujan turun merata di seluruh kabupaten. Karena itu, perkembangan cuaca dan kondisi titik panas masih perlu dipantau bersamaan dengan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Forecaster on Duty  BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur, Suci Priatin Ningsih, menjelaskan jarak pandang dari 5 meter berangsur membaik menjadi 300 meter dalam dua jam pengamatan.

    “Hingga data pengamatan pukul 09.00 WIB, jarak pandang Sampit tercatat membaik dibandingkan dua jam sebelumnya,” katanya.

    Sementara itu kabut asap masih berpotensi  terjadi di setiap pagi tergantung dengan kecepatan angin. Apalagi dalam beberapa hari belakangan kebakaran hutan dan lahan masih terjadi terutama di wilayah selatan Kotawaringin Timur. (***)

  • Hantam Bundaran 0 Kilometer Dini Hari: Mobil Ringsek Ditengah Pekatnya Kabut Asap, Polisi Imbau Batasi Kecepatan 40 Km/Jam!

    Hantam Bundaran 0 Kilometer Dini Hari: Mobil Ringsek Ditengah Pekatnya Kabut Asap, Polisi Imbau Batasi Kecepatan 40 Km/Jam!

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pekatnya teror kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Sampit kembali memakan korban di jalan raya. Sebuah mobil pribadi melaju kencang dan menghantam keras konstruksi Bundaran 0 Kilometer (Bundaran Polres Kotim) di persimpangan Jalan Jenderal Sudirman, Kamis (22/10/2026) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB.

    Kecelakaan lalu lintas tunggal dan nyaris merenggut nyawa pengendara lain tersebut terjadi saat jarak pandang di pusat kota lumpuh parah diselimuti gumpalan asap tebal.

    Didi, seorang pengendara sepeda motor yang berada persis di depan lokasi kejadian, mengaku shock saat mobil tersebut melesat kencang dari arah belakang hingga menyenggolnya sebelum menabrak pembatas bundaran.

    “Tiba-tiba saja mobil dari arah belakang, padahal saya sudah menyalakan lampu sein dan mau belok ke arah bundaran. Karena kaget saya jatuh, sementara mobil itu langsung menabrak bundaran,” ungkap Didi menahan histeris di TKP, Kamis (22/10/2026).

    Sopir Selamat, Polisi Evakuasi Mobil Derek dan Keluarkan Maklumat Keselamatan

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Kasatlantas Polres Kotim AKP Haryanto yang turun langsung memimpin olah TKP mengonfirmasi bahwa pengemudi mobil berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat tanpa luka fatal.

    Dugaan sementara, mobil yang bergerak dari arah Jalan Jenderal Sudirman menuju pusat kota melaju dengan kecepatan tinggi di atas ambang batas aman, sehingga pengemudi gagal mengantisipasi pengereman saat jarak pandang terhalang pekatnya kabut asap. Mobil yang mengalami kerusakan bagian depan tersebut langsung diderek menuju Satlantas Polres Kotim.

    Menyikapi musibah ini, AKP Haryanto mengeluarkan imbauan keselamatan berkecepatan maksimum bagi seluruh pengguna jalan di wilayah hukum Kotim.

    “Situasi sangat tidak mendukung karena berkabut asap pekat. Kami minta pengendara tidak memacu kendaraan melebihi kecepatan 40 kilometer per jam, wajib menyalakan lampu utama, dan gunakan klakson sebagai penanda keberadaan. Mohon selalu berhati-hati karena keluarga menunggu di rumah,” tegas AKP Haryanto.

    Insiden di Bundaran 0 Kilometer merupakan alarm berbahaya bagi keselamatan berlalu lintas di tengah krisis Bencana Udara Karhutla Kotim. Ketika jarak pandang memburuk di bawah batas aman penerbangan dan darat, kelalaian mematuhi ambang batas kecepatan sama saja dengan memicu kecelakaan beruntun.

    Dishub Kotim dan Satlantas Polres Kotim didesak memasang barikade serta lampu kilat peringatan (warning light) bersinyal tinggi di setiap bundaran utama (Bundaran Polres, Bundaran Pemda, dan Bundaran Samekto) guna memandu pandangan pengemudi di tengah kabut pekat.

    Satlantas Polres Kotim dituntut meningkatkan patroli subuh serta menindak tegas pengemudi yang nekat memacu kendaraan di atas 40 km/jam atau mematikan lampu utama saat melintasi jalur-jalur rawan kecelakaan di dalam kota Sampit.

    Data BMKG Kotim: Pagi Ini Jarak Pandang Sempat Lumpuh Total Ekstrem Cuma 5 Meter!

    Tingginya risiko kecelakaan lalu lintas pada Kamis (22/10/2026) pagi dikonfirmasi secara mutlak oleh deretan data resmi pengamatan cuaca BMKG Kotim di Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit. Kualitas udara dan jarak pandang berada pada level ancaman jiwa sejak subuh sebelum perlahan mengurai menjelang siang.

    Pukul 07.00 WIB: BMKG memotret krisis fenomena kabut asap ekstrem dengan jarak pandang horizontal yang lumpuh total hanya tersisa 5 meter! Suhu udara berada pada level dingin 24,2 °C dengan kelembapan mencapai 98 persen. Angin dilaporkan calm (0 km/jam), mengunci gumpalan asap tebal tanpa celah di atas permukaan jalan raya.

    Pukul 08.00 WIB: BMKG mencatat kondisi kabut tebal dengan jarak pandang berangsur naik ke 100 meter. Suhu udara tercatat 25,1 °C, kelembapan 98 persen, dan angin masih berada dalam status calm (0 km/jam).

    Pukul 09.00 WIB: Cuaca membaik menjadi kabut asap dengan jarak pandang naik menjadi 300 meter. Suhu udara meningkat ke 28,1 °C, kelembapan turun ke 83 persen, serta angin mulai berembus dari arah Selatan (200°) dengan kecepatan 6 km/jam.

    Tersisanya jarak pandang sejauh 5 meter pada pukul 07.00 WIB mempertegas bahwa Kota Sampit berada dalam taraf blind-spot total, di mana pengendara sama sekali tidak mampu melihat rintangan jalan, bundaran, maupun kendaraan di depannya tanpa lampu penerangan maksimal. (***)

  • Serangan Balasan Asap Lumpuhkan Sampit: Jarak Pandang Cuma 100 Meter, Seruyan dan Kotim Dihantam 1.001 Hotspot!

    Serangan Balasan Asap Lumpuhkan Sampit: Jarak Pandang Cuma 100 Meter, Seruyan dan Kotim Dihantam 1.001 Hotspot!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Harapan warga Kota Sampit untuk menghirup udara segar sirna seketika. Setelah sempat melandai beberapa hari, serangan balasan pekatnya kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Senin (19/10/2026) pagi.

    Data pengamatan resmi BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit mencatat jarak pandang horizontal (visibility) berada pada tingkat ekstrem dan membahayakan, yakni hanya 100 meter pada pukul 08.00 WIB.

    Kondisi ini diperparah oleh suhu udara 26,4 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 90 persen serta pergerakan angin dalam status calm (0 km/jam). Ketiadaan angin ini membuat gumpalan racun asap mengendap pekat tepat di atas wilayah pemukiman warga Sampit tanpa bisa terurai.

    Penderitaan dan keputusasaan warga terekam di kawasan Pelabuhan Sampit. Bejo, seorang warga lokal, mengaku kaget saat terbangun dan mendapati kota kembali dipenuhi jelutut asap pekat.

    “Padahal beberapa hari ini sudah mereda. Kami kira kabut asap akan berakhir, ternyata tidak,” keluh Bejo menahan kekecewaan, Senin (19/10/2026).

    Kembalinya teror asap pekat ini dipicu oleh ledakan drastis akumulasi titik panas (hotspot). Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim, Rihel, membeberkan bahwa rekapitulasi data satelit NOAA-20 dan SNPP (BRIN Hotspot) merekam rekor mengerikan: 1.001 titik panas menggulung Kotim dan Kabupaten Seruyan dalam akumulasi 24 jam terakhir (data per Minggu, 18/10/2026 pukul 16.00 WIB).

    Dari total 1.001 titik tersebut, sebanyak 977 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (medium), 7 titik tingkat tinggi (high), dan 17 titik tingkat rendah (low).

    Dari jumlah tersebut, 977 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 17 titik pada tingkat kepercayaan rendah, dan tujuh titik pada tingkat kepercayaan tinggi. Pemantauan menggunakan satelit NOAA-20 dan SNPP dengan instrumen VIIRS.

    Sebaran terbanyak tercatat di Kecamatan Pulau Hanaut dengan 253 titik, disusul Seranau sebanyak 239 titik dan Teluk Sampit sebanyak 216 titik. Kecamatan Kota Besi mencatat 70 titik, Antang Kalang 63 titik, Mentaya Baru Ketapang 57 titik, Mentaya Hulu 50 titik, dan Mentaya Hilir Utara 49 titik.

    Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim, Rihel, menjadi sumber keterangan terkait rekapitulasi tersebut. Data itu menunjukkan banyaknya indikasi panas yang terdeteksi di wilayah Kotim dan Seruyan, tetapi tidak serta-merta berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif.

    Titik panas merupakan hasil deteksi satelit yang masih memerlukan verifikasi lapangan. Data tersebut juga belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh kabut asap yang menyelimuti Sampit berasal dari titik-titik panas di wilayah tersebut.

    Jarak pandang menjadi perhatian

    Jarak pandang 100 meter yang tercatat BMKG menjadi gambaran kondisi atmosfer di Sampit pada pagi hari. Di tengah aktivitas warga yang kembali berhadapan dengan kabut asap, kondisi ini perlu mendapat perhatian, terutama bagi pengguna jalan dan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

    Kabut asap yang kembali muncul setelah sempat mereda juga menunjukkan bahwa perubahan kondisi udara belum tentu menandai berakhirnya persoalan karhutla. Selama sumber asap masih ada dan kondisi atmosfer belum mendukung penyebarannya, kualitas udara dapat kembali memburuk.

    Namun, untuk mengetahui tingkat paparan yang dialami warga, diperlukan data kualitas udara, seperti konsentrasi partikulat PM2.5 atau PM10. Data jarak pandang dan kondisi cuaca saja belum dapat menentukan tingkat pencemaran maupun risiko kesehatan secara terukur.

    Bagi warga Sampit, meredanya asap beberapa hari lalu sempat memberi harapan bahwa kondisi akan membaik. Pengamatan BMKG pada Senin pagi menunjukkan bahwa harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud.(***)

  • Hotspot Kotim 445 Titik, Ganepo Masih Membara, Camba Terdeteksi 74 Titik Panas

    Hotspot Kotim 445 Titik, Ganepo Masih Membara, Camba Terdeteksi 74 Titik Panas

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sebaran titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mencapai 445 titik dalam akumulasi 24 jam terakhir berdasarkan data yang diakses Sabtu (17/10/2026) pukul 16.00 WIB. Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, mencatat jumlah terbanyak dengan 103 titik, disusul Desa Camba, Kecamatan Kota Besi, sebanyak 74 titik.

    Rekapitulasi yang bersumber dari BMKG dan BPBD Kotim, dengan data dasar BRIN Hotspot, mencatat 436 titik pada tingkat kepercayaan menengah, empat titik pada tingkat kepercayaan tinggi, dan lima titik pada tingkat kepercayaan rendah.

    “Sebaran terbanyak berada di Kecamatan Seranau dengan 147 titik. Berikutnya, Pulau Hanaut mencatat 94 titik, Kota Besi 76 titik, Teluk Sampit 71 titik, dan Mentaya Hilir Utara 20 titik,” Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo.

    Di tingkat desa dan kelurahan, Ganepo di Kecamatan Seranau mencatat 103 titik panas. Desa Camba di Kecamatan Kota Besi berada di urutan berikutnya dengan 74 titik, disusul Lampuyang di Kecamatan Teluk Sampit sebanyak 46 titik dan Kelurahan Mentaya Seberang di Kecamatan Seranau sebanyak 43 titik.

    Titik panas lainnya tercatat di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, sebanyak 20 titik dan Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, sebanyak 10 titik.

    Camba sebelumnya mengalami kebakaran

    Tingginya deteksi titik panas di Camba menjadi perhatian setelah operasi pemadaman kebakaran di desa tersebut berlangsung hingga pukul 21.15 WIB pada Jumat (16/10/2026).

    Berdasarkan laporan Pos Sektor Pemadam Kebakaran Kota Besi, informasi kebakaran diterima pukul 13.25 WIB. Petugas berangkat lima menit kemudian dan mulai melakukan pemadaman sekitar pukul 14.05 WIB dengan mengerahkan satu unit kendaraan MTPK 11.

    Operasi dipimpin Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Ubay Dillah, dengan dukungan Camat Kota Besi, Masyarakat Peduli Api (MPA) Kota Besi, dan anggota Polsek Kota Besi.

    Laporan tersebut mencantumkan dugaan penyebab kebakaran sebagai arson atau pembakaran. Namun, unsur kesengajaan belum dapat dipastikan tanpa keterangan resmi hasil pemeriksaan. Luas area terbakar, nilai kerugian, dan kondisi akhir lokasi juga belum tercantum dalam laporan yang tersedia.

    “Sebanyak 74 titik panas yang terdeteksi di Camba tidak serta-merta menunjukkan terdapat 74 kebakaran terpisah. Data hotspot merupakan indikasi panas yang dideteksi melalui pemantauan satelit, sehingga perlu diverifikasi dengan pemeriksaan lapangan untuk memastikan keberadaan dan kondisi kebakaran,” Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim Rihel.

    Dengan 445 titik panas yang tersebar di berbagai kecamatan, perkembangan di lapangan masih perlu dipantau. Konfirmasi mengenai kondisi pascapemadaman di Camba serta verifikasi titik panas menjadi penting untuk mengetahui apakah masih terdapat kebakaran yang membutuhkan penanganan. (***)

  • Malam Cengkeram Racun Asap di Sampit: Pandangan Tersisa 300 Meter, Warga Mulai Sesak

    Malam Cengkeram Racun Asap di Sampit: Pandangan Tersisa 300 Meter, Warga Mulai Sesak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan belum terbebas dari cengkeraman bencana kabut asap akibat pembumihangusan lahan gambut. Hingga Jumat (9/10/2026) malam, selimut asap pekat beracun masih mengepung Kota Sampit dan memaksa jarak pandang (visibility) anjlok drastis hingga tersisa 300 meter.

    Berdasarkan data pengamatan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim di Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, penurunan kualitas udara dan jarak pandang memburuk secara signifikan dalam rentang waktu dua jam pada malam hari:

    Pukul 19.00 WIB: Jarak pandang tercatat 400 meter, suhu udara 27,7°C, kelembapan 77%, dengan angin bertiup dari selatan berkecepatan 7 km/jam.

    Pukul 20.00 WIB: Jarak pandang menyusut drastis menjadi 300 meter, suhu udara 27,3°C, kelembapan naik ke angka 79%, dan angin bergerak lambat dari tenggara berkecepatan 4 km/jam.

    Pukul 21.00 WIB: Jarak pandang tertahan pada level kritis 300 meter, suhu udara melandai ke 26,8°C, serta angin bertiup dari tenggara berkecepatan 6 km/jam.

    Pekatnya racun asap di malam hari yang merayap hingga ke dalam rumah-rumah warga kian memicu keresahan masyarakat, terutama terkait ancaman penyakit saluran pernapasan (ISPA) yang mulai mengintai anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

    “Asap malam ini terasa makin pedih di mata dan bau sangitnya tembus sampai ke dalam kamar. Dada mulai terasa sesak dan tenggorokan gatal. Kalau berkendara di jalan raya, jarak 300 meter sudah sangat gelap dan membahayakan,” ungkap Herman, salah seorang warga kawasan Baamang yang melintas di pusat kota Sampit, Jumat malam.

    Makin pekatnya racun asap pada malam hari di Kota Sampit menjadi bukti otentik bertahannya akumulasi asap kiriman dari ratusan titik panas (hotspot) masif di Seranau dan Pulau Hanaut yang terjebak oleh angin lambat (smoke trap).

    Pemkab Kotim dan BMKG didesak tidak hanya merilis data jarak pandang, tetapi wajib mempublikasikan konsentrasi partikel mikro berbahaya PM2.5 dan PM10 secara transparan kepada publik setiap jam guna memastikan status risiko kesehatan warga.

     Mengingat jarak pandang menyusut ke 300 meter dan warga mulai mengeluhkan sesak napas, Dinas Kesehatan Kotim wajib menyiagakan Puskesmas 24 jam serta mendistribusikan masker respirator standar N95/KN95 gratis untuk mencegah lonjakan kasus ISPA akut pada kelompok rentan. (***)

  • 945 Hotspot Terdeteksi di Kotim, Seranau dan Pulau Hanaut Paling Padat

    945 Hotspot Terdeteksi di Kotim, Seranau dan Pulau Hanaut Paling Padat

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 945 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam akumulasi 24 jam terakhir hingga Kamis (8/10/2026) pukul 16.00 WIB.

    Data tersebut tercantum dalam laporan rekapitulasi hotspot BMKG dan BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebaran titik panas paling banyak berada di Kecamatan Seranau, Pulau Hanaut, dan Mentaya Hilir Utara.

    “Seranau mencatat jumlah tertinggi dengan 294 hotspot. Rinciannya terdiri dari empat titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 285 menengah, dan lima titik dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ungkap Wakil Koordinator III Satgas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) adalah Rihel.

    Pulau Hanaut berada di urutan berikutnya dengan 243 hotspot. Sebanyak enam titik masuk kategori rendah, 233 menengah, dan empat titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

    Sementara Mentaya Hilir Utara mencatat 144 hotspot, terdiri dari sembilan titik rendah, 132 menengah, dan tiga titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

    Tiga kecamatan tersebut menyumbang 681 hotspot atau sekitar 72 persen dari total yang terdeteksi dalam periode tersebut.

    Di wilayah lain, Teluk Sampit mencatat 41 hotspot dan Mentaya Hulu 40 titik. Mentawa Baru Ketapang tercatat 31 titik, Antang Kalang 29 titik, sedangkan Cempaga mencapai 26 titik.

    Sebaran berikutnya tercatat di Bukit Santuai sebanyak 18 titik, Kotabesi 15 titik, Mentaya Hilir Selatan 14 titik, Telaga Antang 11 titik, serta Baamang 11 titik.

    Parenggean dan Telawang masing-masing tercatat 10 hotspot. Cempaga Hulu lima titik dan Tualan Hulu tiga titik.

    Jika dilihat berdasarkan tingkat kepercayaan, dari total 945 hotspot terdapat 33 titik kategori rendah, 900 titik kategori menengah, dan 12 titik kategori tinggi.

    “Artinya, sebagian besar deteksi berada pada tingkat kepercayaan menengah. Data hotspot merupakan hasil deteksi satelit sehingga keberadaannya tetap perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” ungkap RIhel.

    Laporan BMKG dan BPBD tersebut mencantumkan rincian koordinat, waktu deteksi, satelit yang menangkap titik panas, serta desa atau kelurahan terkait. Satelit yang digunakan dalam pemantauan antara lain SNPP dan NOAA-20.

    Konsentrasi hotspot di Seranau dan Pulau Hanaut menjadi bagian yang perlu diperhatikan karena kedua wilayah tersebut berada di kawasan yang dalam beberapa hari terakhir juga menjadi bagian dari sebaran titik panas di Kotawaringin Timur.

    Dengan 945 hotspot terdeteksi hanya dalam periode 24 jam, peta kebakaran di Kotim masih menunjukkan tekanan tinggi.

    Angka tersebut bukan berarti 945 lokasi telah dipastikan terbakar. Namun, kepadatan deteksi hotspot memberikan gambaran bahwa pemantauan dan verifikasi lapangan masih menjadi pekerjaan penting, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. (***)

  • Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan rekapitulasi data satelit NOAA-20 dan SNPP yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit bersama BPBD Kotim per Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, terdeteksi akumulasi sebanyak 506 titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Kotim dalam 24 jam terakhir. 

    ​Angka ini memperlihatkan lonjakan tajam dan mengonfirmasi bahwa amukan api belum terkendali, terutama di wilayah pesisir serta seberang alur Sungai Mentaya. 

    “Bagendang Permai, Sungai Lepeh, kebakaran besar,” ungkap Fatma, salah seorang warga di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Rabu (7/10/2026).

    ​Dari total 506 titik panas, konsentrasi terbesar berada di wilayah penyangga selatan dan seberang kota Sampit: 
    ​Kecamatan Seranau: 227 titik (Mentaya Seberang 121 titik, Ganepo 56 titik, Seragam Jaya 50 titik). 

    ​Kecamatan Pulau Hanaut: 180 titik (Satiruk 43 titik, Serambut 40 titik, Bantian 33 titik, Babaung 22 titik, Bapinang Hilir 17 titik, Bapinang Hulu 7 titik, Bamadu 7 titik, Hanaut 5 titik, Babirah 4 titik, Bapinang Hilir Laut 1 titik, Penyaguan 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga: 29 titik (Luwuk Ranggan 21 titik, Rubung Buyung 8 titik).

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU): 22 titik (Bagendang Hilir 15 titik, Natai Baru 6 titik, Bagendang Tengah 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga Hulu: 15 titik (Parit 5 titik, Bukit Raya 4 titik, Sudan 4 titik, Sungai Ubar Mandiri 2 titik). 
    ​Kecamatan Mentaya Hulu: 7 titik (Pahirangan 4 titik, Kapuk 2 titik, Tangar 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentawa Baru Ketapang: 6 titik (Bangkuang Makmur 3 titik, Bapeang 3 titik). 

    ​Kecamatan Parenggean: 5 titik (Manjalin 4 titik, Kabuau 1 titik). 

    ​Kecamatan Telawang: 5 titik (Tanah Putih 5 titik). 
    ​Kecamatan Teluk Sampit: 5 titik (Lampuyang 5 titik). 
    ​Kecamatan Kota Besi: 2 titik (Palangan 1 titik, Rasau Tumbuh 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Selatan: 1 titik (Sei Ijum Raya 1 titik). 

    ​Kecamatan Bukit Santuai: 1 titik (Tumbang Batu 1 titik). 
    ​Kecamatan Tualan Hulu: 1 titik (Bukit Makmur 1 titik). 
    ​
    ​Korelasi data hotspot BMKG/BPBD Kotim per 7 Oktober 2026 ini memberikan benang merah yang jelas terhadap seluruh rangkaian krisis lingkungan, satwa, dan kesehatan masyarakat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir:

    Krisis Asap & ISPU Ekstrem
    ​Fakta Data: Kecamatan Seranau (227 titik) dan Pulau Hanaut (180 titik) secara akumulatif menyumbang 407 titik panas (80,4% dari total hotspot Kotim). Kelurahan Mentaya Seberang sendiri mencatatkan 121 titik. 

    ​Adapun, data geografis ini membuktikan mengapa udara Kota Sampit yang berada tepat di seberang Sungai Mentaya mengalami fenomena pengendapan asap (smoke trap). Hal ini menjelaskan penyebab Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bergerak fluktuatif di level sangat berbahaya (300–400) hingga sempat menyentuh angka ekstrem di atas 1.000, serta melumpuhkan jarak pandang hingga tersisa 10–20 meter. 
    ​
    Asap pekat hasil pembakaran gambut dalam skala masif di Seranau terus terbawa angin melintasi sungai ke permukiman padat. Ini secara langsung memicu krisis kesehatan reproduksi akibat tingginya konsentrasi racun partikel halus PM2.5, yang meningkatkan risiko kelahiran prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bagi janin ibu hamil di Kota Sampit.

    ​Tingginya kerapatan hotspot di Ganepo secara objektif menjelaskan mengapa seekor trenggiling dilindungi ditemukan dalam kondisi kritis terpanggang api. Kobaran api yang menyebar cepat di 56 titik tersebut mengurung habitat satwa dan memutus jalur penyelamatan diri mereka. 

    Kejadian Karhutla Bagendang Hilir
    ​Fakta Data: Desa Bagendang Hilir di Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) mencatatkan 15 titik panas. 

    ​Hal ini mengonfirmasi penyebab terbakarnya 10 hektare hutan dan semak belukar yang berlokasi sangat dekat dengan jalan raya dan permukiman warga pada Rabu sore, sehingga membutuhkan pengerahan armada MTPK 12 Damkar Sektor Samuda bersama BPBD dan MPA. (***)

  • Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kota Sampit kembali berhadapan dengan ancaman kabut asap. Ratusan titik panas terdeteksi di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), termasuk di kawasan seberang Sungai Mentaya yang berhadapan langsung dengan pusat kota.

    Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim per Senin (5/10/2026) sore mencatat 482 titik panas dalam 24 jam terakhir.

    Konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Pulau Hanaut dengan 189 titik. Kecamatan Seranau menyusul dengan 128 titik, sedangkan Kecamatan Teluk Sampit tercatat 25 titik panas.

    Di Kecamatan Seranau, Kelurahan Mentaya Seberang mencatat 101 titik panas. Lokasinya berada tepat di seberang kawasan perkotaan Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya.

    Sebaran titik panas tersebut menjadi salah satu sumber asap yang dapat masuk ke Sampit. Pergerakannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

    Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kotim masih berubah dalam waktu singkat.

    “ISPU itu masih fluktuatif. Dalam hitungan jam saja nilainya bisa naik dan bisa turun,” kata Rihel, Senin (5/10/2026).

    Menurut Rihel, asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar kawasan kota. Asap dari Seranau, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit juga dapat terbawa menuju pusat perkotaan.

    Kondisi menjadi lebih buruk ketika angin melemah. Asap yang sudah mencapai kota tidak segera bergerak keluar dan kemudian bertahan di kawasan permukiman.

    “Setelah asap sampai ke kota, ketika kecepatan angin rendah atau tidak ada angin, akhirnya menetap di kota. Itu yang membuat asap semakin tebal dan ISPU naik, bahkan sampai 1.000 lebih,” ujarnya.

    Dampaknya terlihat pada jarak pandang. Rihel menyebut jarak pandang di Sampit beberapa kali turun drastis ketika konsentrasi asap meningkat. Dalam kondisi terburuk, jarak pandang hanya sekitar 10–20 meter.

    Nilai ISPU sempat turun dari kondisi ekstrem ke kisaran 300–400. Namun, angka tersebut masih jauh dari kondisi udara yang ideal.

    “Sebenarnya yang aman ISPU di bawah 50. Yang paling parah pernah di atas 1.000, biasanya sekitar 400, 300,” kata Rihel.

    Kondisi ini membuat kualitas udara Sampit sangat bergantung pada perkembangan kebakaran di wilayah sekitar dan perubahan pola angin.

    Mentaya Seberang menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan. Wilayah tersebut berada sangat dekat dengan pusat Kota Sampit dan mencatat 101 titik panas dalam data 24 jam terakhir.

    Ketika asap bergerak menuju kota sementara angin melemah, asap dapat bertahan lebih lama di kawasan perkotaan.

    Dengan ratusan titik panas masih terdeteksi di Kotim, ancaman asap bagi Sampit belum berakhir. Perubahan arah angin dalam beberapa jam ke depan akan ikut menentukan apakah asap bergerak menjauh atau kembali menumpuk di atas kota. (***)

  • Kabut Asap Serang Sampit, Jarak Pandang Anjlok hingga 100 Meter

    Kabut Asap Serang Sampit, Jarak Pandang Anjlok hingga 100 Meter

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (2/10/2026) dini hari hingga pagi. Hampir seluruh kawasan kota terdampak, dengan jarak pandang sempat anjlok hingga hanya 100 meter.

    Kondisi tersebut terpantau dari pengamatan BMKG Kotim di Stasiun Meteorologi H Asan Sampit. Pada pukul 07.00 WIB, jarak pandang tercatat hanya 100 meter dengan kondisi cuaca berupa kabut asap.

    Saat itu suhu udara berada di 23,3 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 96 persen. Angin dalam kondisi tenang atau calm, dengan kecepatan 0 kilometer per jam.

    Kondisi tersebut membuat kabut asap tampak pekat di sejumlah kawasan Sampit. Warga yang beraktivitas sejak pagi harus berhadapan dengan jarak pandang yang sangat terbatas.

    Sampit Ikut Dikepung Asap

    Warga Sampit, Didi Mursidi, mengatakan kondisi kabut asap kali ini terasa cukup parah karena tidak hanya terjadi di kawasan luar kota.

    “Kabut asap pagi ini makin merajalela, jarak pandang beberapa meter saja. Jarang-jarang dalam kota Sampit sampai parah begini, biasanya yang parah di luar kota yang masih banyak lahan kosongnya,” kata Didi.

    Pengamatan BMKG menunjukkan kondisi mulai membaik setelah matahari meninggi. Namun, kabut asap masih bertahan.

    Pada pukul 08.00 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 300 meter. Suhu naik menjadi 26,4 derajat Celsius dengan kelembapan 88 persen.

    Angin mulai bergerak dari arah timur dengan kecepatan 4 kilometer per jam.

    Satu jam kemudian, pukul 09.00 WIB, jarak pandang kembali meningkat menjadi 800 meter. Meski demikian, BMKG masih mencatat kondisi cuaca berupa kabut asap.

    Suhu saat itu mencapai 29,8 derajat Celsius dengan kelembapan 70 persen. Angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan 7 kilometer per jam.

    Dini Hari Jadi Titik Terparah

    Perubahan jarak pandang tersebut menunjukkan kondisi paling buruk terjadi pada pagi buta. Dari 100 meter pukul 07.00 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 300 meter pada pukul 08.00 WIB dan 800 meter pada pukul 09.00 WIB.

    Namun, kabut asap yang masih tercatat hingga pukul 09.00 WIB menunjukkan kualitas udara dan kondisi atmosfer di Sampit belum sepenuhnya terbebas dari paparan asap.

    Kondisi angin yang sempat tenang pada pagi hari juga membuat asap lebih mudah bertahan di sekitar permukaan. Terlebih, kelembapan udara saat itu mencapai 96 persen.

    Kabut asap kembali menjadi ancaman bagi aktivitas warga Sampit. Selain mengganggu jarak pandang pengguna jalan, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak selalu berhenti di lokasi lahan yang terbakar.

    Asap dapat terbawa hingga kawasan permukiman dan pusat kota, tergantung kondisi angin serta atmosfer. (***)