Tag: Desa Kandan

  • Rimba Kotim Hangus, Orangutan Merangsek Kandan: Jejak Sarang Bongkar Krisis Habitat

    Rimba Kotim Hangus, Orangutan Merangsek Kandan: Jejak Sarang Bongkar Krisis Habitat

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu teror krisis habitat yang kian mengkhawatirkan. Hangusnya benteng ekosistem hutan gambut memaksa satwa langka yang dilindungi melarikan diri dari kobaran api dan terdesak masuk ke perkebunan warga. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit menggelar penyisiran dan observasi darurat di kebun karet dan rotan milik masyarakat Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Senin (12/10/2026).

    Penyisiran intensif yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.50 WIB tersebut dilakukan guna menindaklanjuti laporan resmi warga bernama Sandy mengenai kemunculan koloni orangutan (Pongo pygmaeus) yang merangsek ke area perkebunan demi bertahan hidup dari ancaman kelaparan dan kepungan api.

    Meskipun satwa tidak dijumpai fisik saat penyisiran berjalan, petugas gabungan bersama warga menemukan jejak aktivitas otentik di atas lahan perkebunan seluas 10 hektare tersebut. Petugas menemukan satu sarang di permukaan tanah, dua sarang kelas C di atas pohon, serta bekas kulit kayu yang telah dikupas dan dimakan orangutan.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa berdasarkan analisis fisik struktur sarang serta keterangan warga setempat, populasi satwa yang berkeliaran di lokasi tersebut diperkirakan berjumlah lebih dari satu individu.

    “Dari sarang yang ditemukan dan keterangan warga, diduga kuat orangutan di lokasi tersebut berjumlah tiga individu. Kami bersama tiga warga, termasuk Pak Karyadi, menyisir areal kebun karet, rotan, dan semak belukar ini menggunakan sepeda motor trail dan berjalan kaki,” terang Muriansyah.

    Temuan tiga sarang orangutan di perkebunan karet Desa Kandan menjadi bukti otentik hancurnya koridor jelajah (home range) akibat maraknya karhutla dan pembukaan lahan masif di Kotim. Ketika rimba tempat tinggal mereka hangus terbakar, mamalia langka ini terisolasi di pulau-pulau vegetasi sempit dan terdesak merangsek ke perkebunan warga untuk mencari pakan alternatif.

    BKSDA Kalteng didesak tidak hanya memberikan imbauan pasif kepada warga. Tim rescue bersama tim medis dokter hewan wajib menyiagakan senapan pembius (tranquilizer gun) dan perangkap khusus guna mengevakuasi ketiga orangutan tersebut sebelum menjadi korban amuk massa atau konflik fatal dengan warga.

    Pemkab Kotim dan Polres Kotim dituntut meningkatkan edukasi hukum UU Nomor 5 Tahun 1990 kepada masyarakat Desa Kandan. Warga dilarang keras melukai, menembak, atau memasang jerat terhadap orangutan yang terdesak mencari makan di kebun warga.(***)

  • Api Belum Padam, Jejak Orangutan Masih Tertinggal di Kebun Kota Besi Hulu

    Api Belum Padam, Jejak Orangutan Masih Tertinggal di Kebun Kota Besi Hulu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mendesak ruang jelajah satwa langka yang dilindungi.

    Di tengah kepulan asap dan bara api yang belum padam di kawasan kebun warga Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, tim BKSDA menemukan jejak aktivitas orangutan yang terisolasi di lingkaran kebakaran, Rabu (30/9/2026).

    Menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan primata raksasa tersebut, personel BKSDA Pos Sampit menerjunkan tim untuk melakukan observasi dan penyisiran lapangan mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengungkapkan bahwa saat tim tiba di lokasi sasaran, hamparan kebun warga telah hangus terbakar dan beberapa titik api tampak masih aktif membara.

    “Sekitaran lokasi telah terjadi kebakaran lahan dan saat ini masih terjadi kebakaran. Meski satwa tidak ditemukan saat observasi berlangsung, tim menemukan dua sarang orangutan masing-masing kategori kelas 2 dan kelas 4 di atas pohon kawasan kebun,” terang Muriansyah, Rabu (30/9/2026).

    Sarang di Tengah Kebun Karet-Sawit dan Edukasi Penanganan Satwa bagi Warga

    Temuan dua sarang orangutan (sarang bekas dan sarang baru) tersebut menjadi bukti sah bahwa kawasan kebun warga Kota Besi Hulu yang didominasi tanaman karet, kelapa sawit, semak belukar, serta pepohonan buah—merupakan koridor jelajah aktif bagi orangutan.

    Lokasi tersebut juga tergolong sangat dekat dengan akses manusia karena terhubung langsung dengan jalan aspal menuju Desa Kandan.

    Saat penyisiran, petugas bertemu dengan penyadap karet setempat yang membenarkan bahwa individu orangutan tersebut memang kerap menampakkan diri sebelum kobaran api karhutla mengepung area tersebut.

    Merespons potensi konflik dan bahaya kebakaran, Muriansyah memberikan arahan langsung kepada warga mengenai mitigasi perilaku satwa liar. Warga diimbau tegas tidak mengganggu, mengusir secara anarkis, atau melukai orangutan yang terdesak keluar dari hutan akibat karhutla.

    “Segera lapor kamijika satwa tersebut kembali muncul agar proses evakuasi (rescue/translocation) dapat segera dilakuka,” imbuhnya.

    Temuan sarang orangutan di tengah amukan api Kota Besi Hulu mempertegas ancaman nyata genosida satwa secara perlahan akibat karhutla. Ketika hutan penyangga hancur dan kebun warga di sekitarnya ikut terbakar, orangutan terperangkap dalam lingkaran api (fire trap), memicu risiko kematian akibat terpanggang, ISPA parah, atau konflik fatal dengan manusia.

    BKSDA Resort Sampit bersama masyarakat dan stakeholder terkait didesak meningkatkan frekuensi pemantauan di jalur Kandan–Kota Besi Hulu guna mengunci pergerakan api agar tidak membumihanguskan pohon-pohon pakan tersisa.

    Sementara itu, BKSDA Kalteng diminta bersiap mengerahkan regu pembiusan dan evakuasi jika orangutan tersebut kembali ke lokasi sarang, mengingat struktur tanah gambut di Kota Besi masih menyimpan underground fire yang sangat membahayakan keselamatan satwa.  (***)

  • Darah di Gerbang Desa Kandan, Pengendara Motor Kritis Usai Adu Banteng dengan Pikap, Sopir Tak Terlihat di TKP

    Darah di Gerbang Desa Kandan, Pengendara Motor Kritis Usai Adu Banteng dengan Pikap, Sopir Tak Terlihat di TKP

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Kecelakaan lalu lintas kembali memakan korban di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sebuah sepeda motor yang ditumpangi dua orang ringsek usai terlibat tabrakan hebat dengan mobil pikap di jalan masuk Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Selasa (28/4/2026). Akibatnya, seorang pria yang mengendarai motor tersebut kini dalam kondisi kritis dengan luka berat di sekujur tubuh.

    ​Saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan betapa kerasnya benturan yang terjadi. Izal, salah seorang pengendara yang melintas, menyebutkan bahwa korban pria mengalami luka yang sangat serius, terutama pada bagian wajah dan ekstremitas.

    ​“Yang laki-laki lukanya parah, kaki luka berat, tangan patah, wajah juga parah, dari hidung keluar darah,” ungkap Izal dengan nada getir.


    ​Berbeda dengan sang pria, penumpang perempuan dilaporkan hanya mengalami luka ringan. Keduanya diduga merupakan warga Desa Kandan. Saat ini, kedua korban telah dievakuasi ke puskesmas terdekat, namun melihat luka yang diderita, korban pria kemungkinan besar akan segera dirujuk ke RSUD dr Murjani Sampit untuk penanganan medis darurat.

    ​Pikap yang terlibat dalam kecelakaan ini disebut milik warga Kota Besi yang tinggal di sekitar Mapolsek setempat. Namun, ada pemandangan yang mengganjal di lokasi kejadian: sopir pikap tersebut tidak terlihat di tempat. Di sekitar kendaraan, hanya terlihat seorang perempuan yang diduga keluarga pemilik pikap yang sibuk melakukan panggilan telepon.

    ​”Kurang tahu kalau sopir pikapnya. Entah diamankan atau apa. Tadi ada istrinya saja terlihat,” imbuh Izal.

    Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Satlantas Polres Kotim terkait kronologi pasti maupun status hukum dari pengemudi pikap tersebut.

    ​Kanalindependen.id, menyoroti kerawanan jalan masuk desa yang seringkali minim rambu dan penerangan, namun dilintasi kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kasus di Desa Kandan ini adalah peringatan bagi kita semua bahwa jalur pemukiman bukan sirkuit balap.

    ​Kami juga mendesak pihak kepolisian untuk segera memberikan kejelasan terkait keberadaan sopir pikap. Transparansi dalam penanganan kecelakaan lalu lintas sangat penting untuk menghindari spekulasi di tengah masyarakat, terutama jika salah satu pihak terlihat “menghilang” dari lokasi kejadian. Nyawa manusia bukan sekadar angka statistik dalam laporan laka lantas. (***)