Tag: DI Panjaitan Sampit

  • “Kalau Harta Bisa Dicari, Tapi Anak Saya Dianiaya, Saya Tidak Terima”, Ayah Korban Ungkap Detik-Detik Rebut Mobil dari Terduga Pelaku

    “Kalau Harta Bisa Dicari, Tapi Anak Saya Dianiaya, Saya Tidak Terima”, Ayah Korban Ungkap Detik-Detik Rebut Mobil dari Terduga Pelaku

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kesaksian Safran, ayah anak yang berada di dalam mobil saat dugaan perampasan kendaraan terjadi di Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (16/7/2026), mengungkap kronologi mencekam yang berujung pada diamankannya seorang pria oleh warga.

    Menurut Safran, peristiwa itu terjadi hanya beberapa saat setelah dirinya menjemput sang anak pulang sekolah. Ia kemudian singgah di toko milik istrinya. Saat itu, mobil masih terparkir di depan toko dengan anaknya berada di dalam.

    “Saya jemput anak pulang sekolah, mampir ke toko istri. Selang sebentar saya ambil minum dan berbincang dengan istri. Tiba-tiba saya dengar anak saya teriak, ‘Abi… abi… tolong!’” tutur Safran.

    Teriakan itu membuatnya spontan berlari ke arah mobil. Saat tiba di lokasi, ia melihat pintu kendaraan masih terbuka dan mobil sudah bergerak.

    “Saya langsung lompat. Saya lihat pintu mobil masih terbuka dan mobil jalan sendiri. Istri saya juga ikut mengejar,” katanya.

    Safran mengaku bergelantungan di pintu sebelah kiri sambil berusaha masuk ke dalam kabin. Kakinya sempat terseret di jalan sebelum akhirnya berhasil masuk dan berupaya merebut kendali kemudi.

    “Saya sempat terseret. Setelah bisa masuk, saya rebut setirnya. Kami baku hantam di dalam mobil. Dia sempat mengarahkan mobil ke tengah jalan seperti mau menabrak orang. Saya terus berusaha merebut kemudi sambil mencari pegangan,” ujarnya.

    Menurut Safran, pria tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerah meski sudah berulang kali diminta menghentikan aksinya.

    “Saya sudah minta dia menyerah, tapi dia tetap melawan. Kami terus baku hantam sampai akhirnya ada warga yang datang membantu,” katanya.

    Di tengah upaya menyelamatkan kendaraan, perhatian Safran justru tertuju kepada kondisi anaknya yang masih berada di dalam mobil. Ia mengaku melihat langsung anaknya menjadi korban kekerasan.

    “Anak saya sempat dipukul dan kepalanya dibenturkan ke dashboard. Istri saya juga melihat dari kaca belakang sambil berteriak. Itu yang membuat saya emosi,” ungkapnya.

    Akibat kejadian tersebut, kata Safran, anaknya mengalami trauma. Ia mengaku lebih terpukul melihat kondisi sang anak dibanding kehilangan kendaraan.

    “Kalau harta masih bisa dicari. Tapi kalau anak saya dianiaya, saya tidak terima. Saya saja sebagai orang tua tidak pernah memukul anak saya,” ucapnya.

    Selain anaknya yang mengalami trauma, Safran juga mengalami luka pada kaki akibat terseret saat bergelantungan di pintu mobil. Sementara istrinya mengalami luka ringan karena ikut mengejar kendaraan yang melaju.

    Safran juga mengaku pernah melihat pria tersebut berada di sekitar toko milik istrinya sebelum kejadian.

    “Saya pernah lihat dia memang sering melirik ke toko,” katanya.

    Meski demikian, ia memastikan pria tersebut tidak membawa senjata tajam saat peristiwa berlangsung.

    Setelah kendaraan berhasil dihentikan, warga yang berdatangan ikut mengamankan pria tersebut hingga akhirnya diserahkan kepada aparat kepolisian. Video saat pria itu diamankan kemudian beredar luas di media sosial dan memicu beragam spekulasi.

    Safran berharap proses hukum berjalan secara profesional. Menurutnya, perkara tersebut tidak hanya menyangkut dugaan perampasan kendaraan, tetapi juga dugaan kekerasan terhadap anak yang menjadi korban dalam peristiwa itu.

    “Saya berharap pelaku dihukum seberat-beratnya. Yang jelas dia melakukan kekerasan terhadap anak. Saya juga berharap Komisi Perlindungan Anak turun mengawal kasus ini dan kepolisian bekerja profesional. Bagi saya, ini bukan sekadar merampas mobil, tetapi juga sudah mengancam keselamatan anak saya,” tegasnya.

    Sebelumnya, Kapolsek Ketapang AKP Anis membenarkan adanya peristiwa tersebut. Namun, ia menegaskan hingga kini penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap pria yang diamankan warga serta sejumlah saksi untuk memastikan kronologi dan dugaan tindak pidana yang terjadi. Polisi juga mengimbau masyarakat tidak menarik kesimpulan sebelum proses penyelidikan selesai. (***)

  • Komedi Satir Kriminalitas Sampit Ketika Pencuri Berkedok Gestur Doa Gasak Harta Warung Restu Ibu di Jalan Panjaitan

    Komedi Satir Kriminalitas Sampit Ketika Pencuri Berkedok Gestur Doa Gasak Harta Warung Restu Ibu di Jalan Panjaitan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Degradasi moral berkelindan dengan anomali perilaku kriminal di pusat Kota Sampit kian mempertontonkan fenomena yang menggelitik sekaligus mencemaskan. Sirkuit keamanan domestik kembali bobol setelah rekaman kamera pengawas atau CCTV dari Warung Restu Ibu di kawasan Jalan Panjaitan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, mendadak viral dan memicu perbincangan hangat akibat aksi pencurian dengan modus operandi yang di luar nalar sehat, Jumat (19/6/2026) dini hari.

    Ritual Ironis di Samping Korban yang Tertidur Lelap

    Aksi kriminal yang terekam jelas secara visual ini pecah pada jam rawan, yakni antara pukul 01.30 hingga 02.00 WIB. Memanfaatkan situasi lanskap perkotaan yang sepi dan kelengahan pemilik warung yang tengah terlelap melepas penat, seorang pria misterius berhasil menyusup masuk ke dalam area privat tempat usaha tersebut.

    Bukannya langsung menggasak barang berharga, pelaku justru mempertontonkan gestur teatrikal yang membuat warganet geleng-geleng kepala. Sebelum mengeksekusi aksinya, pria tersebut sempat berdiri dan menengadahkan kedua belah tangannya menyerupai orang yang sedang khusyuk memanjatkan doa di dekat tubuh korban. Usai merampungkan ritual ironisnya, ia dengan cepat menggasak satu unit telepon seluler dan sejumlah uang tunai milik korban tanpa menimbulkan keributan sedikit pun.

    Gelombang rekaman CCTV yang tersebar luas di jagat maya seketika memancing sinisme dan komentar satir dari para pengguna media sosial yang menyoroti kontradiksi moral sang pencuri.

    “Berdoa supaya tidak ketahuan dan aman dari amukan massa,” tulis  Eka Purnama Sari dalam kolom komentar di Instagram yang viral.

    “Berdoa biar usahanya lancar,” timpal akun netizen lain bernama Aninda, menggambarkan betapa absurdnya pemanfaatan simbol kesucian demi memuluskan tindakan profan.

    Teror Tiga Kali Kebobolan dan Desakan Patroli Malam

    Di balik riuh rendahnya candaan satir di media sosial, insiden ini menyisakan trauma dan ketakutan riil bagi korban dan warga sekitar Jalan Panjaitan. Berdasarkan informasi yang dihimpun di tingkat tapak, peristiwa ini merupakan kasus pencurian ketiga yang sukses melumat harta benda di Warung Restu Ibu dalam kurun waktu beberapa waktu terakhir.

    Berulangnya kasus serupa membuktikan adanya celah keamanan yang menganga lebar di kawasan tersebut, terutama saat memasuki pergantian malam hingga dini hari. Warga kini mendesak aparat penegak hukum untuk tidak menutup mata terhadap rekaman visual yang sudah mengekspos wajah pelaku dengan sangat benderang. Masyarakat menuntut adanya eskalasi patroli roda empat dan roda dua dari Polres Kotim guna mengembalikan rasa aman komunal.

    Aksi nekat pencuri yang sempat “berdoa” sebelum menggasak Warung Restu Ibu di Jalan Panjaitan menyajikan sebuah paradoks sosiologi kriminal yang mendalam. Perilaku ini bukan sekadar bumbu komedi kriminal biasa, melaikan cerminan dari distorsi psikologis akut di mana pelaku mencoba melakukan rasionalisasi moral atau spiritual atas sebuah tindakan pelanggaran hukum yang gamblang.

    Secara kriminologis, ada fenomena penyimpangan kesadaran di mana pelaku merasa tindakannya “direstui” atau setidaknya membutuhkan proteksi metafisik agar selamat dari amukan massa. Namun, dari sudut pandang sosiologi urban Sampit, berulangnya kasus pencurian di Warung Restu Ibu hingga tiga kali berturut-turut adalah potret buram dari lemahnya sistem deteksi dini dan patroli preventif kepolisian di zona komersial mikro. Warung kelontong dan kedai keluarga yang beroperasi hingga larut malam adalah tulang punggung ekonomi akar rumput yang paling rentan menjadi sasaran empuk kejahatan jalanan karena ketiadaan proteksi sekuriti profesional.

    Polres Kotim tidak boleh membiarkan keresahan warga Jalan Panjaitan menguap begitu saja. Wajah pelaku sudah terpampang nyata tanpa sensor di media sosial, sehingga tidak ada alasan birokrasial bagi unit buru sergap untuk menunda penangkapan. Jika pelaku pencurian berulang seperti ini dibiarkan berkeliaran bebas tanpa ada tindakan tegas, maka hukum kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian akan merosot drastis. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan harus merumuskan sistem pengamanan lingkungan yang terintegrasi, termasuk optimalisasi pos kamling dan penambahan lampu penerangan jalan umum, agar ruang gelap malam di Sampit tidak terus-menerus dikuasai oleh para pemburu harta instan yang kehilangan kompas moralnya. (***)