Tag: Disdamkarmat Kotim

  • Kebakaran di Setia Griya Sampit, Dua Rumah Hangus, Kerugian Ratusan Juta Rupiah

    Kebakaran di Setia Griya Sampit, Dua Rumah Hangus, Kerugian Ratusan Juta Rupiah

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran di Perumahan Setia Griya Mini Mulia, sebelumnya disebutkan Setia Griya Minimalis, Jalan Kapten Mulyono, Sampit, Rabu malam (6/5/2026) menghanguskan dua unit rumah permanen dan menyebabkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp300 juta.

    ​Peristiwa bermula sekitar pukul 19.59 WIB di kawasan RT 42 RW 04, Kelurahan Ketapang. Berdasarkan kesaksian warga di lokasi kejadian, api tidak muncul begitu saja. Sebuah suara ledakan keras sempat terdengar dari salah satu rumah sebelum kobaran api membumbung tinggi ke langit malam.

    ​Kepala Peleton I Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kotim Akhmad Ilham Wahyudi, mengonfirmasi bahwa situasi saat petugas tiba sudah masuk dalam kategori darurat.

    ​“Setiba di tempat kejadian, petugas melakukan penilaian situasi awal terlebih dahulu dan menyatakan status kebakaran merah,” ungkap Ilham dalam laporan tertulisnya.


    ​Dua bangunan yang menjadi korban adalah rumah milik Heny dan Tio. Kedua bangunan permanen berukuran 6 x 10 meter tersebut hampir rata dengan tanah setelah api dengan cepat merambat ke seluruh bagian konstruksi.

    ​Berdasarkan investigasi awal di lapangan, petugas menduga kuat bahwa bencana ini dipicu oleh persoalan klasik di area pemukiman padat: arus pendek listrik.

    ​“Menurut informasi dari tetangga pemilik bangunan, sebelum api terlihat memang terdengar suara ledakan,” tambah Ilham, memperkuat dugaan adanya korsleting yang memicu ledakan kecil di instalasi listrik.

    ​Menghadapi “status merah”, Damkarmat Kotim tidak main-main. Sebanyak dua mobil tangki, dua unit mobil pemadam, dan satu kendaraan rescue dikerahkan ke lokasi. Proses pemadaman ini juga menjadi ajang sinergi antara berbagai pihak, mulai dari, BPBD Kotim, Satpol PP, PMI, dan Masyarakat Peduli Api.

    ​Berkat kerja keras tim gabungan, api berhasil dikendalikan sebelum merembet lebih luas ke rumah warga lainnya.

    “Operasional pemadaman dan pendinginan berjalan lancar hingga status kebakaran dinyatakan hijau,” pungkasnya. (***)

  • Saat Detik Terbuang di Gerbang, Api Sudah Membesar

    Saat Detik Terbuang di Gerbang, Api Sudah Membesar

    SAMPIT, Kanalindependen.id- Kebakaran di Blok B, Perumahan Setia Griya Minimalize, Jalan Kapten Mulyono, Sampit, Rabu malam (6/5/2026), tidak hanya memperlihatkan cepatnya api membesar tetapi juga bagaimana waktu bisa hilang di titik yang tak terduga: gerbang perumahan.

    Sekitar pukul 19.00, warga mulai menyadari situasi dari suara darurat yang sederhana. Lonceng di tiang listrik dipukul berulang kali cara lama yang masih digunakan untuk memberi tanda bahaya.

    “Kaget pas terdengar suara lonceng dari tiang listrik yang dipukul warga. Ada apa, ternyata ada kebakaran, api sudah besar,” ujar Novariah, warga di lokasi.

    Saat warga mendekat, api sudah membumbung dari salah satu rumah milik Aldi. Dalam waktu singkat, beberapa kali terdengar letupan yang diduga berasal dari tabung gas. Api tidak hanya membesar ia mempercepat dirinya sendiri.

    Warga berupaya memadamkan dengan peralatan seadanya. Ember dan selang menjadi garis pertahanan pertama. Namun upaya itu tidak cukup menahan laju api.

    Ketika unit pemadam kebakaran tiba, hambatan berikutnya muncul. Akses masuk ke kawasan perumahan tertutup oleh gerbang. Sejumlah armada sempat tertahan di luar.

    Detik berjalan. Api terus bekerja.

    Gerbang akhirnya terpaksa  dirusak agar kendaraan pemadam bisa masuk. Setelah akses terbuka, petugas langsung melakukan pemadaman. Namun situasi di dalam sudah berkembang.

    Api mulai mengancam bangunan di sekitarnya.

    Untuk menghentikan penyebaran, petugas terpaksa membobol rumah kosong di sisi kiri bangunan yang terbakar. Struktur tersebut dihancurkan untuk menciptakan batas dan memutus jalur api.

    Upaya itu menjadi krusial. Api sempat merambat ke arah belakang dan mengancam bangunan di Blok C. Dalam kondisi yang nyaris meluas, petugas berhasil menahannya.

    Pemadaman total baru tercapai sekitar pukul 21.00. Setelah itu, proses pendinginan dilakukan untuk memastikan tidak ada sisa api yang dapat kembali menyala.

    Penanganan melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotawaringin Timur bersama sejumlah relawan dari tingkat kelurahan.

    Peristiwa ini meninggalkan satu catatan penting: dalam kebakaran, bukan hanya api yang menentukan skala kerusakan tetapi juga akses.

    Di perumahan yang tertutup, satu gerbang bisa menjadi titik jeda yang mahal. Dan ketika jeda itu terjadi, api tidak menunggu. (***)

  • Hanjalipan Membara, Satu Rumah Kayu Warga Ludes dalam Sekejap di Tengah Keheningan Malam

    Hanjalipan Membara, Satu Rumah Kayu Warga Ludes dalam Sekejap di Tengah Keheningan Malam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Malam yang tenang di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, mendadak berubah menjadi mencekam pada Minggu (3/5/2026) malam. Amukan si jago merah dilaporkan menghanguskan sebuah rumah kayu milik warga dalam waktu yang sangat singkat, memicu kepanikan luar biasa di tengah pemukiman.

    ​Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar luas, lidah api terlihat membubung tinggi disertai asap hitam pekat yang menyelimuti langit malam. Karena material bangunan didominasi oleh kayu, api merambat dengan sangat agresif dan melahap seluruh struktur bangunan sebelum sempat dipadamkan sepenuhnya.

    ​Dalam situasi genting tersebut, warga setempat bahu-membahu mencoba menjinakkan api dengan peralatan seadanya. Menggunakan ember dan pompa air kecil, mereka berjibaku mencegah api merembet ke bangunan lain di sekitarnya sambil menunggu bantuan dari petugas pemadam kebakaran.

    ​Camat Kota Besi, Huzaifah, membenarkan terjadinya musibah tersebut melalui konfirmasi singkat kepada media. Ia menyatakan bahwa meskipun kerugian materiil diperkirakan cukup besar, tidak ada laporan mengenai adanya korban jiwa dalam insiden ini.

    ​“Satu rumah terbakar, tidak ada korban jiwa,” tegas Huzaifah saat memberikan konfirmasi mengenai dampak kebakaran tersebut.


    ​Hingga laporan ini diturunkan, penyebab pasti munculnya api masih dalam tahap penyelidikan pihak kepolisian. Petugas juga masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah kerugian total yang diderita oleh pemilik rumah.

    ​Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami memandang musibah ini sebagai pengingat keras bagi masyarakat di wilayah pedesaan. Rumah kayu, meski merupakan bagian dari tradisi dan kebutuhan lokal, memiliki risiko kebakaran yang jauh lebih tinggi jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan pada instalasi listrik dan penggunaan sumber api terbuka. Kecepatan api melahap rumah di Hanjalipan adalah bukti nyata bahwa edukasi mengenai pencegahan kebakaran di tingkat desa harus terus diperkuat (***)

  • Maut yang Bersembunyi: Detik-Detik Penaklukan King Kobra di Samping Rumah Warga Sampit

    Maut yang Bersembunyi: Detik-Detik Penaklukan King Kobra di Samping Rumah Warga Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Ketegangan luar biasa melanda warga di kawasan Jalan Iskandar 30, RT 012/RW 003, Kelurahan Ketapang, Sabtu siang (2/5/2026). Seekor King Kobra (Ophiophagus hannah) berukuran besar ditemukan bersarang di area pemukiman padat penduduk, memicu kewaspadaan tinggi bagi warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Ancaman maut ini pertama kali disadari oleh seorang warga bernama Kartini. Ular berbisa tersebut memanfaatkan tumpukan kayu ulin di samping rumah sebagai tempat persembunyian yang sempurna. Keberadaan predator puncak ini segera dilaporkan kepada petugas sekitar pukul 14.40 WIB setelah warga merasa terancam oleh kehadiran reptil mematikan tersebut.

    Merespons laporan tersebut, Peleton III Regu III dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim segera dikerahkan menuju lokasi yang berjarak sekitar 3,6 KM dari Markas Komando. Menggunakan unit Mobil Hilux Merah Rescue, petugas tiba di lokasi dalam waktu singkat untuk melakukan validasi dan persiapan operasi.

    Operasi penangkapan dimulai pukul 14.56 WIB di bawah kondisi cuaca yang cerah. Tim yang dipimpin oleh Wakil Komandan Regu III, Sukmana Saleh, bersama tujuh personel lainnya harus bergerak ekstra hati-hati di sela-sela tumpukan kayu ulin.

    Dalam waktu 11 menit, petugas berhasil menjinakkan dan mengevakuasi King Kobra tersebut tanpa ada korban jiwa maupun cedera, baik dari pihak warga maupun petugas di lapangan. Operasional dinyatakan selesai pada pukul 15.07 WIB, dan ular tersebut langsung diamankan untuk dijauhkan dari area hunian warga.

    Pihak Disdamkarmat Kotim menegaskan agar masyarakat tidak mencoba mengambil risiko dengan menangani sendiri satwa berbahaya semacam ini.

    “Segera melapor ke pihak berwenang jika menemukan satwa berbahaya. Keahlian teknis dan peralatan yang memadai sangat diperlukan untuk menghindari insiden fatal,”  ungkap Kepala Peleton Jaga Disdamkarmat Kotim Supriansyah.

    Kanalindependen.id, menilai insiden di Jalan Iskandar 30 ini sebagai alarm bagi masyarakat Sampit. Kayu ulin yang bertumpuk dan sudut-sudut lembap di samping rumah sering kali menjadi “hotel bintang lima” bagi predator berbisa.

    Keberhasilan evakuasi oleh Regu III ini patut diapresiasi, namun keamanan sejati tetap berada di tangan warga melalui kebersihan lingkungan. Jangan biarkan pekarangan rumah Anda menjadi tempat sembunyi bagi maut yang tidak terduga. (***)

  • Api Misterius dari Buritan, Dua Unit Bus di Haji Ikap Sampit Hangus Terbakar Siang Bolong

    Api Misterius dari Buritan, Dua Unit Bus di Haji Ikap Sampit Hangus Terbakar Siang Bolong

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ketenangan warga di kawasan Jalan H Ikap 3, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, mendadak pecah pada Jumat (1/5/2026) siang. Dua unit bus yang terparkir di lokasi tersebut hangus dilalap api dalam sebuah insiden kebakaran yang mengejutkan warga sekitar di tengah teriknya matahari.

    Laporan pertama kali diterima petugas pemadam kebakaran pada pukul 14.12 WIB dari Erwin, yang merupakan pemilik bus tersebut. Berdasarkan pengamatan awal tim di lapangan, api diduga kuat berasal dari bagian belakang (buritan) salah satu bus.

    Panas yang dihasilkan kemudian memicu radiasi hingga menyambar unit bus lainnya yang terparkir berdampingan.

    “Api awalnya muncul dari belakang bus pertama, kemudian membesar dan menyambar bus di sebelahnya akibat radiasi panas,” jelas Kepala Peleton 2 Damkar Kotim, Muhammad Febbry.

    Meski api berkobar dengan cepat, tidak terjadi ledakan besar karena kondisi tangki bus dilaporkan dalam keadaan kosong dan aki kendaraan sudah dilepas sebelumnya.

    Aksi cepat dilakukan oleh warga sekitar yang mencoba menjinakkan api secara manual sebelum petugas tiba. Tak lama berselang, tiga unit armada pemadam kebakaran bersama relawan dari Redkar Ketapang dan Baamang tiba untuk melakukan pemadaman total serta pendinginan hingga pukul 14.40 WIB.

    Walaupun tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, kerugian materiil sangat signifikan. Dua unit bus tersebut mengalami kerusakan berat dengan estimasi total kerugian mencapai Rp600 juta. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kemunculan api dari bagian belakang bus tersebut masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

    Kanalindependen.id mencatat bahwa insiden ini menyisakan tanda tanya besar mengenai pemicu awal api. Meskipun kondisi kelistrikan (aki) sudah dilepas, kemunculan api dari bagian belakang kendaraan tetap menjadi anomali yang perlu diselidiki.

    Kejadian ini menjadi pengingat bagi pemilik armada transportasi di Sampit untuk tidak mengabaikan faktor keamanan area parkir, terutama dari potensi human error atau faktor eksternal lainnya yang bisa memicu kebakaran pada aset yang sedang tidak beroperasi. Angka Rp600 juta bukanlah nilai yang sedikit, dan tragedi ini menjadi pukulan telak bagi pemilik usaha di tengah situasi ekonomi saat ini. (***)

  • Benteng Terakhir Bobol, King Cobra Menembus Kamar Tidur Warga Baamang Tengah

    Benteng Terakhir Bobol, King Cobra Menembus Kamar Tidur Warga Baamang Tengah

    SAMPIT Kanalindependen.id – Istilah “rumahku istanaku” terasa semu bagi Munarowi, warga Jalan Baamang 1. Rabu sore (29/4/2026) , ruang privatnya berubah menjadi zona maut setelah seekor King Cobra ditemukan bersembunyi di dalam kamar tidurnya. Insiden ini bukan sekadar evakuasi rutin, melainkan bukti nyata kian tipisnya sekat antara permukiman padat dan habitat predator mematikan.

    ​Laporan masuk ke Mako Damkar pada pukul 17.36 WIB. Hanya dalam hitungan menit, Peleton III Damkar dan Penyelamatan tiba di lokasi. Namun, petugas tidak disambut dengan ular yang melata di lantai terbuka, melainkan sebuah teka-teki berbahaya: ular tersebut hilang di dalam kamar.

    ​Penyisiran intensif dilakukan di setiap sudut perabot hingga plafon. Petugas terpaksa menggunakan metode herping dan rangsangan insektisida untuk memaksa sang raja kobra keluar dari celah dinding. Dalam ketegangan tinggi, ular agresif itu akhirnya muncul dan berhasil diringkus hidup-hidup pada pukul 18.11 WIB.

    ​”Tantangannya karena posisi ular berada di dalam kamar dan bersembunyi di celah dinding. Perlu kehati-hatian ekstra agar tidak membahayakan penghuni maupun petugas,” ujar Komandan Regu Jaga Disdamkarmat Kotim, Supiansyah.

    ​Keberhasilan operasi 17 menit ini patut diapresiasi, namun kemunculan King Cobra di kawasan Baamang Tengah yang padat penduduk menyisakan tanya besar. Mengapa satwa yang biasanya menghindari manusia ini kini berani masuk hingga ke ruang tidur?

    ​Kanalindependen.id, menilai peristiwa ini adalah alarm keras bagi warga perkotaan di Sampit. King Cobra dikenal sebagai ular pemakan ular yang memiliki teritori luas. Masuknya predator ini ke dalam kamar menunjukkan adanya gangguan serius pada rantai makanan atau habitat asli mereka di sekitar pemukiman.

    ​Masyarakat harus sadar bahwa celah sekecil apa pun di dinding rumah adalah pintu gerbang bagi maut. Kita tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan atau respons cepat petugas Damkar. Edukasi mengenai sanitasi lingkungan dan penutupan akses masuk satwa ke rumah harus menjadi prioritas sebelum “tamu tak diundang” berikutnya datang dengan hasil yang berbeda.

    ​Hari ini Munarowi selamat, namun tanpa kewaspadaan lingkungan, siapa yang bisa menjamin kamar tidur kita benar-benar aman malam ini? (***)

  • Gambut Sampit Mulai ‘Haus’, Dua Titik Api Muncul Serentak

    Gambut Sampit Mulai ‘Haus’, Dua Titik Api Muncul Serentak

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lahan gambut di sekitar Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin, mulai menunjukkan kerentanannya seiring dengan meningkatnya suhu udara. Pada Selasa (28/4) siang, dua titik api muncul secara bersamaan di kawasan Jalan Mekar Sari, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Vegetasi yang mengering dan cuaca terik membuat api dengan cepat merambat, mengancam perkebunan nanas dan area pemukiman warga.

    ​Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengonfirmasi bahwa panas yang menyengat menjadi faktor utama meningkatnya kerawanan lahan gambut di wilayah tersebut.

    ​“Cuaca yang cukup terik membuat lahan gambut menjadi kering dan sangat rentan terbakar. Kami mengimbau keras kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, karena berpotensi menimbulkan kebakaran yang jauh lebih luas,” tegas Multazam.

    ​Berdasarkan laporan di lapangan, peristiwa ini terdeteksi sekitar pukul 11.29 WIB. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kotim segera meluncur ke lokasi setelah menerima informasi dari warga setempat guna memutus perambatan api.

    ​Setibanya di lokasi, petugas mendapati api sudah membakar dua titik berbeda dalam satu kawasan. Titik pertama berada sekitar 500 meter dari Jalan Mekar Sari dengan luas terdampak mencapai 0,12 hektare. Sementara titik kedua, yang berjarak hanya 100 meter dari lokasi pertama, menghanguskan lahan seluas 0,08 hektare. Kedua titik ini melahap semak belukar dan sebagian kebun nanas milik warga.

    ​Medan yang cukup sulit dengan akses yang jauh dari jalan utama sempat menghambat upaya pemadaman awal. Sebanyak 12 personel BPBD bersama regu dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) berjibaku menggunakan mobil tangki, mesin pompa portabel, serta memanfaatkan sumber air dari parit sekitar untuk menjinakkan si jago merah.

    ​Petugas menangani setiap titik secara sistematis, dimulai dengan memadamkan api utama kemudian dilanjutkan dengan proses pendinginan (mopping up) yang mendalam guna memastikan tidak ada bara yang tersisa di bawah permukaan gambut. Operasi dinyatakan selesai pada pukul 13.04 WIB tanpa adanya korban jiwa.

    ​BPBD Kotim kembali menegaskan pentingnya kerja sama masyarakat dalam mencegah Karhutla. Warga diminta segera melaporkan jika melihat kepulan asap atau titik api sekecil apa pun agar bisa ditangani dengan cepat sebelum meluas.

    ​Insiden ini menjadi peringatan dini yang nyata. Seiring masuknya musim panas, gambut Sampit yang mulai ‘haus’ sangat mudah tersulut api, dan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah bencana lingkungan yang lebih besar. (***)

  • Dari Kabel Listrik ke Tepi Sungai: Lutung Terjatuh di Permukiman, Diselamatkan, Lalu Dilepasliarkan

    Dari Kabel Listrik ke Tepi Sungai: Lutung Terjatuh di Permukiman, Diselamatkan, Lalu Dilepasliarkan

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Seekor lutung betina dewasa itu tak pernah memilih jatuh di antara atap seng dan kabel listrik. Namun, Kamis sore, (23/4/2026, sekitar pukul 17.10 WIB, tubuhnya ditemukan tergeletak di Jalan Usman Harun 1, Kelurahan Baamang Hilir—sebuah kawasan padat penduduk yang menyisakan sedikit ruang bagi pohon, apalagi bagi satwa liar yang hidupnya bergantung pada kanopi.

    Warga pertama yang melihat, Wahyu, menduga kuat lutung tersebut tersetrum. Dugaan itu bukan tanpa alasan, jaringan listrik menjuntai rendah di tengah permukiman yang kian rapat, sementara ruang jelajah satwa makin menyempit. Lutung itu kemudian diamankan oleh petugas Damkar dan Penyelamatan Sampit sebelum informasi sampai ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit.

    “Begitu kami mendapat laporan, langsung kami koordinasikan dengan Damkar. Satwa sudah dalam pengamanan,” ujar Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah.

    Keesokan harinya, Jumat pagi (24/4/2026), proses serah terima dilakukan di Markas Komando Damkar. Di sana, kondisi lutung diperiksa. Ada luka di tangan kiri, kaki kanan, dan alis sebelah kiri semuanya mulai mengering. Tanda-tanda yang, menurut petugas, menguatkan dugaan sengatan listrik.

    Namun yang lebih penting: lutung itu masih hidup, dan mulai aktif. Di titik ini, keputusan diambil cepat. Alih-alih dibawa ke pusat rehabilitasi yang jauh, petugas memilih opsi yang kerap jadi dilema dalam konservasi: dilepasliarkan segera atau dirawat lebih lama. Dengan mempertimbangkan kondisi yang membaik dan perilaku yang masih liar, BKSDA memutuskan pelepasliaran.

    Sekitar pukul 10.15 WIB, lutung itu dibawa ke tepian Sungai Mentaya, wilayah Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau sebuah lanskap yang masih menyisakan habitat bagi lutung dan monyet ekor panjang. Di sana, kandang angkut dibuka.

    Tak ada drama panjang. Begitu pintu terbuka, lutung itu langsung melompat keluar, memanjat, dan menghilang ke atas pohon. Seolah tak pernah jatuh.

    Peristiwa ini, bagi sebagian orang, mungkin berakhir sebagai kisah penyelamatan yang sukses. Namun, di balik itu, ada pertanyaan yang tak ikut dilepas ke hutan: mengapa satwa liar semakin sering ditemukan di permukiman?

    Baamang bukan hutan. Tapi lutung itu ada di sana. Fenomena ini bukan baru. Fragmentasi habitat, tekanan pembangunan, dan jaringan listrik yang membelah jalur jelajah satwa menjadi kombinasi yang berbahaya. Lutung primata arboreal yang bergantung pada pohon dipaksa turun, menyeberang, dan beradaptasi dengan ruang yang bukan miliknya.

    Dan sering kali, itu berakhir dengan sengatan listrik. BKSDA mencatat, kasus interaksi negatif antara manusia dan satwa liar cenderung meningkat di wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan kantong habitat. Sampit, dengan ekspansi kawasan permukiman dan infrastruktur, menjadi salah satu titik rawan.

    “Kondisi di lapangan menunjukkan ruang hidup satwa makin terdesak. Ini perlu perhatian bersama,” tegas Muriansyah.

    Lutung betina itu beruntung. Ia jatuh, tapi selamat. Ia terluka, tapi pulih. Ia sempat berada di tengah manusia, tapi kembali ke hutan. Tidak semua satwa punya akhir cerita yang sama. (***)

  • Percikan di Jantung Pelayanan: Korsleting Listrik Nyaris Hanguskan Kantor Dinkes Kotim

    Percikan di Jantung Pelayanan: Korsleting Listrik Nyaris Hanguskan Kantor Dinkes Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pegawai Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sempat dibuat tegang pada Selasa pagi (21/4/2026).

    Bau hangus dan kepulan asap tipis dari kotak Miniature Circuit Breaker (MCB) memicu alarm kewaspadaan di gedung yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Km 6,5 tersebut. Beruntung, api tidak sempat menjalar ke dokumen penting maupun fasilitas medis lainnya.

     Laporan masuk ke markas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) pada pukul 09.13 WIB. Hanya dalam waktu satu menit, satu unit mobil tangki dengan tujuh personel Regu III langsung meluncur menembus arus lalu lintas pagi Sampit.

    Kepala Peleton I Damkarmat, Akhmad Ilham Wahyudi, mengonfirmasi bahwa saat tim tiba di lokasi pada pukul 09.27 WIB, titik api pada MCB sudah berhasil dikendalikan secara mandiri oleh pihak kantor. Namun, prosedur “size-up” atau pengecekan menyeluruh tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi di balik plafon atau jalur kabel lainnya.

    “Petugas memastikan kondisi benar-benar aman sebelum meninggalkan lokasi. Objek yang terbakar adalah MCB listrik, diduga kuat karena beban berlebih atau usia instalasi,” ungkap Ilham Wahyudi.

    Meski tidak ada korban jiwa maupun luka, aktivitas perkantoran sempat terganggu sejenak akibat pemutusan aliran listrik demi keamanan. Petugas Damkarmat juga memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan edukasi mendadak kepada para pegawai mengenai penanganan dini kebakaran elektrik pelajaran mahal yang sering kali terlupakan di tengah rutinitas kerja.

    Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami mencatat bahwa insiden korsleting di kantor pemerintahan bukan kali ini saja terjadi. Banyak gedung publik di Kotim yang dibangun belasan tahun lalu mungkin belum melakukan audit instalasi listrik secara menyeluruh.

    Beban listrik di kantor pemerintahan saat ini jauh lebih besar dibandingkan satu dekade lalu dengan penambahan AC, perangkat server, hingga komputer di setiap meja. Jika MCB mulai “menyerah”, itu adalah sinyal bahwa sistem kelistrikan gedung perlu diremajakan.

    Jangan sampai pusat pelayanan publik seperti Dinkes harus berhenti beroperasi hanya karena kelalaian kecil pada komponen seharga ratusan ribu rupiah.

    Listrik adalah penggerak administrasi, tapi tanpa perawatan, ia bisa menjadi pemusnah aset paling mematikan. (***)

  • Api Melahap Tiga Rumah di Parenggean, Warga Lebih Dulu Jinakkan Kobaran

    Api Melahap Tiga Rumah di Parenggean, Warga Lebih Dulu Jinakkan Kobaran

    SAMPIT, Kanalindpenden.id – Siang itu, Jalan Lesa, Kecamatan Parenggean, tak lagi tenang. Asap membumbung cepat, menandai sesuatu yang tak diharapkan: kebakaran yang melahap tiga bangunan rumah kayu dalam waktu singkat.

    Laporan pertama masuk sekitar pukul 13.32 WIB. Dua menit berselang, petugas pemadam kebakaran sektor Parenggean langsung bergerak menuju lokasi. Namun ketika tiba pukul 13.40 WIB, kondisi api sudah jauh berkembang dan justru mulai mereda.

    Di lapangan, warga lebih dulu berjibaku.

    Petugas tidak lagi menghadapi kobaran besar, melainkan langsung masuk pada tahap pendinginan. Situasi yang disebut sudah “kuning” itu perlahan dikendalikan hingga akhirnya dinyatakan aman.

    “Setibanya di lokasi, kondisi api sudah ditangani warga. Kami langsung fokus pada pendinginan dan memastikan tidak ada titik api tersisa,” ujar Kepala Pos Pemadam Kebakaran Parenggean, Heriyanoor, Sabtu (4/4/2026).

    Dalam waktu relatif singkat, operasi dinyatakan selesai sekitar pukul 13.55 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, meski tiga rumah milik warga Agau (50), Nurjaman (30), dan M. Darmawan (50) terdampak kebakaran.

    Bangunan yang terbakar diketahui berbahan kayu, dengan luas sekitar 15×20 meter persegi. Material ini membuat api cepat menjalar, meski berhasil dikendalikan sebelum meluas ke area lain.

    Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui.

    Di tengah peristiwa itu, terlihat kolaborasi di lapangan. Selain petugas pemadam, relawan dari Al Hadi dan Sejiran turut membantu, bersama unsur Polsek dan Koramil Parenggean.

    Heriyanoor menilai, respons cepat warga menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran berkembang lebih besar.

    “Peran masyarakat sangat membantu. Dengan penanganan awal yang cepat, api tidak sampai meluas ke bangunan lain,” katanya.

    Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa dalam situasi darurat, waktu menjadi faktor paling krusial. Selisih menit bisa menentukan seberapa besar dampak yang ditimbulkan.

    Di Parenggean, siang itu, tiga rumah memang tak terselamatkan sepenuhnya. Namun berkat reaksi cepat warga, kebakaran tidak berubah menjadi bencana yang lebih luas. (***)