Tag: ekonomi

  • ”Tragedi” Sepertiga Daratan: Menjamu Raksasa, Mengemis di Rumah Sendiri

    ”Tragedi” Sepertiga Daratan: Menjamu Raksasa, Mengemis di Rumah Sendiri

    SETIAP detak jam di Kotawaringin Timur adalah deru mesin yang memeras kekayaan alam.

    Dengan produksi 2,07 juta ton yang tercatat per tahun 2024 silam, hamparan sawit telah menelan hampir sepertiga daratan kabupaten ini.

    Sebuah ekspansi kolosal yang mengirim jutaan ton minyak nabati hingga ke pelosok dunia.

    Mengikat nasib lebih dari 94 ribu pekerja di dalamnya.

    Sayangnya, statistik mentereng itu hanyalah topeng bagi sebuah tragedi struktural.

    Sejauh mata memandang ”emas hijau” kebun sawit, sejauh itu pula martabat ekonomi daerah ini sedang dipertaruhkan dalam ketidakpastian bagi hasil yang kian mengering.

    Kemegahan itu mendadak rontok saat bersinggungan dengan satu pertanyaan. Berapa yang kembali ke kas daerah?

    Rp16,6 miliar pada 2025. Terpangkas 60 persen hanya dalam dua tahun. Proyeksi 2026 justru lebih muram. Tersisa Rp9 miliar.

    Baca Juga: Ironi Sawit Kotim: Menelan Hampir Sepertiga Daratan, Menyisakan Remah Anggaran

    Kita tidak butuh rumusan ekonometrik rumit untuk mencium kejanggalan ini. Logikanya teramat terang.

    Ketika sesuatu yang sangat raksasa tumbuh dan dikeruk dari sebuah tanah, namun aliran dana yang kembali ke tanah tersebut justru mengering, mengindikasikan ada sistem yang salah.

    Ini tak hanya soal nasib buruk atau miskalkulasi anggaran, melainkan gugatan mendasar soal siapa yang sebenarnya menguasai dan menikmati Kotawaringin Timur.

    Ketimpangan itu terekam dingin dalam data. Walhi Kalteng mencatat, bahwa dari 2,3 juta hektare kebun sawit di provinsi ini, lahan plasma untuk masyarakat mandek di angka sekitar 222 ribu hektare. Kurang dari sepuluh persen.

    Hukum telah lama menitahkan kewajiban 20 persen. Praktiknya di lapangan, aturan itu tak ubahnya ornamen dokumen.

    Dari 32 koperasi di bawah bendera Aliansi Masyarakat Plasma Sawit Kotim—mewakili lebih dari 12 ribu warga—baru sekitar 10 yang benar-benar terakomodasi.

    Pola ini tergambar tanpa tedeng aling-aling dalam Rapat Dengar Pendapat di DPRD Kotim, 6 April 2026. Forum bubar tanpa garansi eksekusi.

    Enam perusahaan raksasa mangkir. Sisanya mengirim staf tanpa wewenang pengambilan keputusan. Ini bukan kelalaian administratif. Ini adalah pola.

    Pola serupa menjalar urusan legalitas. Berpijak pada pernyataan Rimbun pada Februari 2025, dari 16 perusahaan sawit di Kotim yang beroperasi tanpa Hak Guna Usaha (HGU), sebagian baru mulai mengajukan permohonan.

    Hingga April 2026, sertifikat itu belum juga terbit di tangan korporasi.

    Akibatnya sangat terukur. Potensi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) senilai Rp800 miliar lebih, uang yang semestinya masuk ke kas daerah, belum bisa terealisasi.

    Catatan BPN dalam forum RDP di DPRD Kotim mengonfirmasi 14 perusahaan masih berkutat dengan berkas permohonan yang tertahan di meja birokrasi pusat.

    Negara sebelumnya merespons melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan. Lahan-lahan disegel.

    Akan tetapi, peringatan Walhi Kalteng menyingkap sisi gelap operasi ini: penyegelan dilaporkan nir-koordinat yang presisi.

    Yang lebih ironis, garis segel justru ikut menjepit lahan masyarakat adat dan petani kecil.

    Jika temuan ini valid, instrumen penertiban yang seharusnya memulihkan keadilan, justru berpotensi menjadi lapisan ketidakadilan baru bagi mereka yang paling dirugikan ekspansi korporasi.

    Kanal Independen menarik garis batas yang jelas. Redaksi tidak menolak kehadiran industri sawit di Kotawaringin Timur.

    Perekonomian daerah ini sudah lama ditopang oleh sektor perkebunan. Puluhan ribu keluarga menaruh periuk nasinya di rantai pasok ini.

    Menghancurkan industri bukanlah jawaban. Bukan itu solusi paling jitu.

    Yang kami suarakan adalah pertanggungjawaban yang proporsional.

    Bila sawit mencetak nilai ekonomi raksasa, kas daerah (harusnya) pantang terus menyusut.

    Kewajiban plasma tidak boleh lagi direduksi menjadi janji tahunan tanpa eksekusi.

    Ruang abu-abu HGU yang dibiarkan berlarut hanya akan menyuburkan ketidakpastian, memberi celah bagi pihak penguasa modal, dan meminggirkan warga lokal.

    Fakta di lapangan terlalu keras untuk dibantah. Indeks kedalaman kemiskinan naik.

    Indeks keparahan kemiskinan memburuk. Persentase penduduk miskin bertambah.

    Kontradiksi ini terjadi tepat di jantung hamparan kebun yang terus meluas dan produksi yang terus melesat.

    Angka-angka penderitaan ini tidak bisa lagi diredam sekadar dengan pidato klise tentang investasi dan penciptaan lapangan kerja.

    Pemerintah daerah harus berhenti menunggu forum-forum formalitas berikutnya.

    Korporasi perlu berhenti meremehkan institusi publik dengan mengirim perwakilan tanpa suara.

    Pemerintah pusat dituntut memastikan operasi penertiban berjalan transparan, terukur, dan tidak mengorbankan kaum rentan.

    Negara, dalam wujud eksistensinya yang paling konkret di Kotim, perlu segera menjawab satu pertanyaan esensial yang selama bertahun-tahun dijawab dengan kebisuan.

    Jika sawit sebesar ini tumbuh di Kotim, mengapa yang kembali ke sini begitu sedikit? (redaksi)

  • Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Dishub Kotim Perkuat Sinergi Transportasi

    Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Dishub Kotim Perkuat Sinergi Transportasi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan komitmennya memperkuat sinergi lintas sektor demi mendorong kemajuan sistem transportasi yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim, Raihansyah, menyampaikan, sektor transportasi menjadi penopang utama perekonomian daerah. Karena itu, optimalisasi jalur laut, darat, dan sungai menjadi strategi yang terus didorong sejalan dengan program pemerintah pusat.

    ”Ini bentuk sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Raihansyah saat menghadiri undangan buka puasa bersama PT Dharma Lautan Utama (DLU) di Palace Ballroom, Aquarius Boutique Hotel Sampit, Kamis (12/3/2026).

    Menurutnya, penguatan distribusi kebutuhan pokok melalui jalur laut menjadi langkah strategis untuk menjaga kelancaran pasokan sembako. Dishub juga tengah mendorong pengembangan Pelabuhan Sampit agar lebih representatif, baik dari sisi pelayanan penumpang maupun pengelolaan arus barang.

    Raihansyah menuturkan pihaknya telah melakukan pertemuan dengan manajemen PT Pelindo di Surabaya untuk memaparkan rencana pengembangan pelabuhan tersebut.

    ”Harapannya Pelabuhan Sampit bisa lebih tertata dan mampu mendukung aktivitas transportasi secara optimal,” ucapnya.

    Realisasi program di tahun 2026 juga mulai terlihat melalui sejumlah kegiatan bersumber dari APBN, antara lain pengerjaan pemagaran bandara serta pembangunan dermaga apung untuk mendukung operasional kapal.
    Menurut Raihansyah, program tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang menuju sistem transportasi daerah yang efisien dan berdaya saing.

    ”Kita tidak hanya berpikir saat ini, tapi juga 5 sampai 10 tahun ke depan,” tegasnya.

    Untuk sektor transportasi darat, Dishub Kotim membuka trayek baru bus DAMRI rute Sampit–Telaga Antang dengan tarif terjangkau sebesar Rp40 ribu.

    Jalur ini melintasi sejumlah desa dan ke depan akan dilengkapi dengan halte sebagai titik naik-turun penumpang. Pemerintah juga berencana mengusulkan perpanjangan rute hingga Pangkalan Banteng guna memperluas jangkauan layanan masyarakat.

    Sementara di sektor transportasi sungai, Dishub merencanakan pembangunan halte-halte sungai untuk mempermudah mobilitas masyarakat pedalaman yang bergantung pada jalur air.

    ”Ini menjadi solusi bagi masyarakat di daerah yang bergantung pada transportasi sungai,” jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Raihansyah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan transportasi, termasuk pelaku usaha dan agen ekspedisi yang berperan dalam menggerakkan roda perekonomian daerah.

    ”Saya berharap kolaborasi yang terjalin dapat semakin memperkuat posisi Kotim sebagai kota jasa yang didukung sektor transportasi yang andal. Saya ucapkan selamat, bertepatan 15 Februari lalu, PT DLU genap berusia ke-50 tahun. Kita doakan bersama, semoga perusahaan ini semakin maju, membawa manfaat bagi masyarakat serta terus bersinergi dengan pemerintah daerah,” tandasnya. (hgn)

  • Rak Masih Penuh Jelang Imlek, Pedagang Pernak-pernik Sampit Pilih Bertahan

    Rak Masih Penuh Jelang Imlek, Pedagang Pernak-pernik Sampit Pilih Bertahan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, suasana penjualan pernak-pernik di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terlihat lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah pedagang mengaku omzet tahun ini menurun sekitar 30 persen, seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat.

    Kondisi itu terlihat jelas di Toko Maju Jaya Dupa Sampit, Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Pada Selasa (10/2/2026), deretan angpao merah cerah, bunga hias, hingga gantungan khas Imlek tampak masih tersusun rapi di rak, menunggu tangan-tangan pembeli yang biasanya mulai ramai sejak dua pekan sebelum Imlek.

    Pedagang pernak-pernik Imlek, Gustiana, menatap rak-rak itu sambil menghela napas. “Kalau biasanya tanggal segini sudah ramai, tahun ini kelihatannya sepi-sepi saja. Barang juga terasa tertahan,” katanya, menambahkan bahwa puncak penjualan biasanya terjadi sekitar 15 hari sebelum perayaan hingga sehari menjelang Imlek.

    Tahun ini, tren tersebut tidak terlihat. Penurunan penjualan diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu. Meski begitu, Gustiana memilih tetap bertahan, menyesuaikan stok dan strategi agar tetap bisa menjajakan pernak-pernik Imlek dengan aman.

    Stok Dikurangi, Tetap Bertahan

    Menurunnya daya beli membuat Gustiana lebih berhati-hati dalam mendatangkan barang. Tahun ini, jumlah stok sengaja dikurangi untuk mengurangi risiko barang tidak laku.

    “Barang yang kita datangkan juga dikurangi. Apalagi kemarin sempat ada imbauan supaya tidak terlalu meriah karena ada bencana di Sumatera, jadi kita menyesuaikan,” ujarnya sambil menata ulang rak-rak angpao yang masih tersusun rapi.

    Tidak semua barang yang dijual baru. Sebagian merupakan stok lama, sementara pernak-pernik baru umumnya bergambar atau berbentuk kuda, simbol Tahun Kuda Api. “Kalau kuda api ini kesannya panas, mungkin juga pengaruh ke ekonomi yang lagi lesu sekarang,” katanya sambil tersenyum tipis.

    Gustiana menilai, kondisi ekonomi tahun ini semakin tertekan karena Imlek berdekatan dengan momen hari besar lainnya, seperti Ramadan dan Idul Fitri, serta dampak bencana di beberapa daerah.

    Harga Variatif, Angpao Masih Favorit

    Harga pernak-pernik bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp300.000. Angpao tetap menjadi favorit pembeli, dengan kisaran harga Rp3.000 hingga Rp15.000 per buah.

    Selain angpao, bunga hias dan gantungan Imlek masih banyak dicari pembeli, meski tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Lampion menjadi pernak-pernik termahal, dijual sekitar Rp300 ribu per buah.

    “Ada lampion yang lebih bagus, tapi harganya mahal. Karena ekonomi sekarang, kita tidak berani mendatangkan banyak, takut barangnya tertahan,” jelas Gustiana sambil menunjuk beberapa lampion yang tersusun di pojok toko.

    Meski rak-rak masih terlihat penuh, Gustiana tetap memilih bertahan. Baginya, menjaga toko tetap buka dan menyiapkan pernak-pernik Imlek adalah cara untuk tetap berbagi keceriaan perayaan, meski di tengah tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. (***)