Tag: eks golden teater sampit

  • Infiltrasi Narkoba di ‘Ruang Mati’ Sampit: Belum Kering Darah Amok Parang, Wanita Muda Dicokok Bawa Sabu di Belakang Eks Golden  

    Infiltrasi Narkoba di ‘Ruang Mati’ Sampit: Belum Kering Darah Amok Parang, Wanita Muda Dicokok Bawa Sabu di Belakang Eks Golden  

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Belum genap tiga hari darah segar menggenas di pelataran akibat aksi amok parang yang merobek lengan seorang warga, kawasan abu-abu (grey area) belakang eks bangunan Golden Teater kembali membuktikan reputasinya sebagai inkubator kriminalitas yang tak kunjung diamputasi. Anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) sukses mencokok seorang wanita muda berinisial SP (24) yang diduga kuat bertindak sebagai sel jaringan pengedar kristal putih jenis sabu-sabu di episentrum zona merah tersebut.

    Penyergapan Pagi di Gang Tiung Kelurahan MB Hulu

    Operasi penindakan taktis ini meledak pada Senin (15/6/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, bertempat di koridor sempit Gang Tiung, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit. Berbeda dengan pola transaksi malam hari yang lazim, tersangka SP nekat bergerak pada jam aktif pagi hari, memanfaatkan ramainya mobilitas warga untuk menyamarkan pergerakannya.

    Penangkapan ini merupakan respons cepat dari aparat keamanan setelah menerima gelombang aduan dari masyarakat yang sudah berada di titik nadir kejenuhan terhadap aktivitas peredaran gelap narkoba di lingkungan mereka. Ruang-ruang kosong and labirin gang di belakang bioskop tua itu dilaporkan masih aktif menjadi sirkuit transaksi narkoba skala retail.

    Kasi Humas Polres Kotim, AKP Edy Wiyoko, mewakili Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, menegaskan bahwa pergerakan terlapor sudah dikunci melalui metode pemantauan statis (surveillance) oleh tim opsnal sejak subuh.

    “Anggota Satresnarkoba mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa di TKP sering terjadi transaksi narkotika jenis sabu yang diduga dilakukan oleh terlapor. Berbekal laporan itu, petugas melakukan penyelidikan intensif dan langsung bergerak melakukan penindakan saat terlapor berada di titik koordinat sasaran,” urai AKP Edy Wiyoko, Selasa (16/6/2026).

    Guna menghindari celah hukum praperadilan, petugas secara prosedural menunjukkan surat perintah tugas resmi sebelum melakukan penggeledahan badan. Proses eksekusi ini disaksikan langsung oleh ketua RT setempat and perwakilan warga sekitar. Dari tangan wanita berusia 24 tahun tersebut, polisi mengamankan satu paket klip bening berisi narkotika jenis sabu dengan berat kotor 0,49 gram yang disembunyikan di dalam pakaiannya. Atas temuan tersebut, SP langsung digiring ke Mapolres Kotim demi kepentingan interogasi vertikal.

    Bidikan Konstruksi Hukum Baru dan Jerat Pasal Berlapis

    Guna memberikan efek jera yang radikal, penyidik Satresnarkoba Polres Kotim menerapkan konstruksi hukum berlapis yang menyandingkan undang-undang narkotika khusus dengan kodifikasi hukum pidana nasional yang paling mutakhir.

    Tersangka SP resmi dibidik menggunakan Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dan/atau Pasal 609 ayat (1) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Juncto Pasal VII Angka 50 UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. Integrasi regulasi tahun 2026 ini memastikan tersangka menghadapi ancaman kurungan penjara yang sangat progresif di dalam sel tahanan Mapolres Kotim.

    Penangkapan SP dengan barang bukti paket hemat seberat 0,49 gram ini adalah konfirmasi empiris yang sangat telanjang atas analisis spasial yang sebelumnya disuarakan Kanalindependen.id. Kawasan belakang eks Golden Teater terbukti secara konsisten bertindak sebagai “laboratorium kejahatan multidimensi” di Kota Sampit. Friksi berdarah menggunakan senjata tajam, premanisme, dan peredaran narkoba bukanlah insiden terpisah, melainkan satu lingkaran setan yang saling memberi makan (simbiosis mutualisme kriminal).

    Ada dua aspek sosiologi kriminalitas yang sangat mengkhawatirkan dari kasus Gang Tiung ini:

    Pertama, feminisme kurir narkoba: Keterlibatan SP, seorang wanita muda berusia 24 tahun, mengindikasikan adanya strategi disguise profiling dari kartel sabu lokal Sampit. Jaringan pengedar sengaja merekrut figur wanita muda kelas ekonomi bawah untuk mengelabui kecurigaan warga and aparat di lapangan. Paket 0,49 gram adalah ukuran taktis pocket-size yang sangat mudah dibuang atau disembunyikan jika terjadi razia mendadak.

    Kedua Kekebalan Zona Merah: Fakta bahwa transaksi masih nekat berjalan di Gang Tiung, tepat setelah wilayah eks Golden disorot akibat amok parang berdarah, menunjukkan betapa bebalnya ekosistem kriminal di sana. Mereka tidak lagi takut pada patroli hilir kepolisian karena arsitektur ruang kumuh di belakang gedung tua itu memberikan perlindungan perimeter fisik yang sempurna bagi para pelaku.

    Polresta Kotim di bawah AKBP Resky Maulana memang patut diberi apresiasi atas penangkapan demi penangkapan di lokasi ini. Namun, menembak sel-sel kecil seperti SP tidak akan pernah membersihkan eks Golden secara permanen. Penegakan hukum akan selalu mandul selama Pemkab Kotim membiarkan struktur fisik bangunan tua itu mangkrak tanpa fungsi sosial yang terang.

    Redaksi kembali mendesak dengan keras: kasus sabu SP ini harus menjadi momentum final bagi Bupati Kotim untuk merubuhkan tembok pembatas kejahatan di belakang eks Golden, memasang jaringan CCTV pengawas 24 jam milik daerah, and mengonversi labirin kumuh tersebut menjadi ruang publik produktif. Jika pemutihan tata ruang ini terus ditunda, maka penangkapan kurir sabu berikutnya hanyalah masalah waktu, sementara keamanan warga Mentawa Baru Hulu terus digadaikan di bawah bayang-bayang hukum rimba perkotaan. (***)

  • Hukum Rimba di Balik Tembok Terbengkalai: Mengapa Ada Pembiaran Eks Golden Jadi Inkubator Premanisme?

    Hukum Rimba di Balik Tembok Terbengkalai: Mengapa Ada Pembiaran Eks Golden Jadi Inkubator Premanisme?

    SAMPIT, Kanalidependen.id  – Di balik gemerlap pembangunan infrastruktur dan geliat ekonomi pusat Kota Sampit, Kelurahan Mentawa Baru Hulu menyimpan satu kawasan abu-abu (grey area) yang terus memproduksi noda hitam kriminalitas. Insiden amok parang pada Jumat (12/6) siang yang nyaris merenggut lengan kiri GJl alias ACS (33) di area belakang bangunan terbengkalai eks Golden Teater, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, bukanlah sebuah letupan spontan yang berdiri sendiri. Peristiwa berdarah ini adalah dampak nyata dari pembiaran sebuah “ruang mati” perkotaan (urban void) oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Kronologi Amok Parang di Siang Bolong

    Sekering pertikaian di area belakang eks bioskop legendaris di Jalan Rahadi Usman tersebut meledak pada Jumat (12/6) sekitar pukul 11.30 WIB. Kejadian bermula saat seorang pria berinisial Rn tengah berada di lokasi. Tidak lama kemudian, korban Acs datang membelah kawasan tersebut dengan mengendarai sepeda listrik miliknya untuk menghampiri RN. Tensi di lapangan seketika meninggi ketika seorang pria lainnya berinisial BG turut merangsek masuk ke dalam lingkaran.

    Diduga akibat akumulasi salah paham yang menyinggung harga diri antar-pihak, emosi pelaku langsung mencapai titik didih. Tanpa aba-aba panjang, sebilah parang jalung langsung dicabut dari sarungnya. Kemunculan bilah besi itu spontan memicu aksi kejar-kejaran brutal yang merembet ke perimeter luar dan membuat warga sekitar lari berhamburan menyelamatkan diri.

    Acs menderita luka robek serius pada bagian tangan kiri akibat aksi refleks menangkis mata bilah demi membentengi rekannya dari serangan fatalitas pelaku. Korban langsung dilarikan secara darurat ke instalasi medis RSUD dr Murjani Sampit, sementara unit Reskrim Polsek Ketapang di bawah komando AKP Anis bergerak taktis menyita sebilah parang yang tertinggal di TKP dan memasukkan terduga pelaku ke dalam daftar buruan utama.

    Gedung Tua yang Bermutasi Jadi Sarang Premanisme

    Untuk memahami mengapa radius belakang eks Golden Teater begitu rentan terhadap friksi bersenjata, publik harus menengok kegagalan tata ruang Kota Sampit. Pada dekade 1990-an, Gedung Bioskop Golden Theater merupakan simbol modernitas dan pusat hiburan paling bergengsi di Kotim. Namun, setelah gulung tikar, bangunan masif ini dibiarkan merana menjadi monumen beton tak berpenghuni tanpa adanya upaya rekayasa fungsi baru (repurposing) dari pemilik aset maupun Pemkab Kotim.

    Akibatnya fatal. Selama lebih dari satu dekade, kawasan belakang eks Golden bermutasi menjadi labirin gang sempit yang kumuh, terisolasi, dan lepas dari radar pengawasan visual publik. Dampak sosialnya mengerikan:

    • Juni 2025: Satresnarkoba Polres Kotim membongkar gudang sabu bernilai jutaan rupiah yang berkamuflase sebagai rumah hunian biasa di Jalan Rahadi Usman II, tepat di belakang eks gedung bioskop.
    • Januari 2026: Tingginya perputaran barang haram memicu desakan dari Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) Kalteng dan Kodim 1015/Sampit untuk mendirikan Posko Terpadu di sana guna mengamputasi lingkaran setan kartel lokal.
    • Januari 2024 & Oktober 2025: Rentetan kasus premanisme bersenjata tajam mulai dari pisau panjang hingga badik berulang kali melumpuhkan rasa aman warga di titik koordinat yang sama.

    Mengapa hukum rimba jalanan begitu subur tumbuh di belakang eks Golden? Jawabannya terletak pada mandulnya konsep pencegahan kejahatan melalui desain lingkungan (Crime Prevention Through Environmental Design / CPTED) oleh Pemkab Kotim. Kriminalitas secara sosiologis hanya akan terjadi jika ada pertemuan antara niat pelaku dan kesempatan yang disediakan oleh lingkungan (opportunity). Area belakang eks Golden Teater menyediakan kesempatan itu secara gratis 24 jam: gang yang gelap, tiadanya kamera pengawas (CCTV) dinas, kerapatan bangunan liar, serta absennya pos pemantau statis kepolisian.

    Pemkab Kotim di bawah kepemimpinan daerah saat ini seolah menutup mata terhadap status eks Golden yang telah bertransformasi menjadi inkubator premanisme. Menyerahkan urusan keamanan sepenuhnya ke pundak Polsek Ketapang untuk memburu pelaku pasca-kejadian adalah pola penanganan hilir yang usang. Selama struktur fisik bangunan dibiarkan mangkrak dan kumuh, zombi-zombi sosial yang dibakar alkohol dan narkoba akan terus lahir di sana.

    Kanal Independen menuntut Pemkab Kotim bertindak radikal melalui penegakan regulasi tata ruang. Jika pemilik lahan eks bioskop tidak mampu mengelola asetnya secara aman, negara memiliki hak hukum untuk melakukan penyitaan, pemutihan kawasan, atau eksekusi pembongkaran demi kepentingan fasilitas publik yang lebih sehat, seperti ruang terbuka hijau (RTH) atau pusat logistik UMKM yang terang benderang. Jangan biarkan sisa kejayaan masa lalu Golden Teater terus membusuk dan berubah fungsi menjadi arena jagal jalanan yang mengorbankan keselamatan warga Kota Sampit (***)