Tag: El Nino

  • Karhutla di Selatan Berpotensi Bawa Kabut Asap ke Sampit, Angin Melandai Bikin Asap Terperangkap

    Karhutla di Selatan Berpotensi Bawa Kabut Asap ke Sampit, Angin Melandai Bikin Asap Terperangkap

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berpotensi membawa kabut asap hingga ke Kota Sampit.

    Kondisi tersebut diperburuk pola angin yang beberapa hari terakhir cenderung melandai sehingga menimbulkan asap tebal yang telah masuk ke kawasan perkotaan berpotensi terperangkap dan tidak bergerak menjauh.

    Kepala BMKG Kotim Mulyono Leonardo mengatakan, pola angin saat ini didominasi dari arah timur, tenggara, dan selatan yang bergerak menuju barat hingga utara.

    ”Secara umum, arah angin saat ini dominan berasal dari timur, tenggara, dan selatan, kemudian bergerak menuju barat hingga utara,” kata Mulyono saat diwawancara seusai rapat teknis penanganan karhutla di BPBD Kotim, Rabu (30/9/2026).

    Menurutnya, pola angin yang terjadi memungkinkan asap dari kejadian karhutla di wilayah selatan terbawa menuju Kota Sampit. Namun, Mulyono tidak menyebut seluruh kabut asap yang berada di Sampit dipastikan berasal dari selatan.

    ”Apabila terdapat titik panas yang menghasilkan asap di wilayah selatan Kota Sampit, asap tersebut berpotensi terbawa ke Kota Sampit. Hal itu dipengaruhi arah angin yang dominan berasal dari timur, tenggara, dan selatan,” jelasnya.

    Persoalan berikutnya muncul ketika asap telah mencapai kawasan perkotaan. Dalam beberapa hari terakhir, kecepatan angin justru cenderung melemah sehingga pergerakan asap menjadi terbatas.

    ”Salah satu indikasinya adalah asap kiriman. Selain itu, angin saat ini cenderung melemah, sehingga asap seolah terperangkap di wilayah kota,” ungkap Mulyono.

    Kondisi tersebut membuat kabut asap yang sudah masuk ke Sampit tidak mudah terdorong keluar.

    ”Beberapa hari terakhir, angin cenderung melandai. Kondisi itu menyebabkan tidak ada pergerakan signifikan yang membawa asap menjauh dari Kota Sampit,” ujarnya.

    Malam Hari Asap Berpotensi Terbawa, Siang Hari Tertahan

    Pola angin di Sampit juga berubah menurut waktu. Mulyono menjelaskan, angin pada malam hari dapat bertiup lebih kencang sehingga berpotensi membawa asap dari wilayah selatan menuju kota.

    Sebaliknya, pada pagi hingga siang hari, angin cenderung kembali tenang.

    ”Asap yang berasal dari wilayah selatan dapat terbawa angin yang cukup kencang pada malam hari,” katanya.

    ”Namun, pada pagi hingga siang hari, angin cenderung lebih tenang atau melandai. Akibatnya, asap yang sudah masuk ke wilayah kota menjadi tertahan atau terkurung di Kota Sampit,” lanjutnya.

    Secara rata-rata, angin dengan kecepatan lebih dari 15 km per jam memiliki kemampuan lebih besar membawa asap dari wilayah selatan menuju Sampit.

    Sedangkan angin yang hanya bergerak 0–5 km per jam tidak cukup signifikan untuk mengangkut asap menjauh.

    ”Berdasarkan rata-rata, angin dengan kecepatan di atas 15 km per jam berpotensi membawa asap dari wilayah selatan,” terang Mulyono.

    ”Sementara kondisi angin yang sedang melandai berkisar antara 0 hingga 5 atau 6 km per jam. Kecepatan tersebut tidak cukup signifikan untuk membawa asap menjauh,” tambahnya.

    Posisi Matahari Turut Memengaruhi Pola Angin

    Mulyono menjelaskan, kondisi angin yang melandai saat ini berkaitan dengan posisi semu Matahari yang berada di sekitar ekuator.

    ”Saat ini posisi semu Matahari berada di sekitar ekuator, sehingga angin cenderung lebih landai,” jelasnya.

    Sebelumnya, angin cenderung lebih kencang ketika posisi semu Matahari masih berada di utara ekuator. Memasuki September hingga November, posisi semu Matahari bergerak menuju selatan ekuator dan perubahan tersebut turut memengaruhi pola angin.

    ”Sebelumnya angin lebih kencang ketika posisi semu Matahari masih berada di utara ekuator. Dalam periode September hingga November, posisi semu Matahari bergerak menuju selatan ekuator. Kondisi tersebut turut memengaruhi pola angin yang lebih melandai,” katanya.

    El Niño Sangat Kuat hingga Awal 2027

    Kecepatan angin dan arah pergerakan angin yang terjadi di Kotim juga dipengaruhi El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

    Dalam rapat evaluasi penanganan karhutla, Selasa (29/9/2026), Mulyono memaparkan bahwa El Niño masih berada dalam kategori sangat kuat. BMKG memperkirakan fenomena tersebut bertahan hingga awal 2027.

    ”Berdasarkan analisis anomali suhu muka laut dasarian, nilainya masih sekitar 2,726. Kondisi itu mengindikasikan El Niño masih berada pada kategori sangat kuat. BMKG memprediksi El Niño akan bertahan hingga awal tahun 2027,” paparnya.

    IOD juga diperkirakan masih berada pada fase positif hingga awal 2027.

    ”Kemudian, berdasarkan indeks Indian Ocean Dipole atau IOD, BMKG memprediksi IOD masih berada pada fase positif hingga awal tahun 2027,” ujarnya.

    Kombinasi kedua fenomena tersebut berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia, khususnya Kalimantan Tengah dan Kotim.

    ”Kombinasi El Niño dan IOD positif akan berdampak signifikan terhadap berkurangnya curah hujan di Indonesia, terutama Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur,” tegas Mulyono.

    20 Hari Hampir Tanpa Hujan

    Gambaran kondisi kering terlihat dari analisis curah hujan 20 hari terakhir. BMKG mencatat curah hujan di Kotim berada pada kategori sangat rendah, hanya sekitar 0–20 milimeter.

    ”Berdasarkan analisis curah hujan 20 hari terakhir, curah hujan di Kabupaten Kotawaringin Timur berada dalam kategori sangat rendah, sekitar 0 sampai 20 milimeter,” ungkapnya.

    Hujan memang terpantau di sejumlah titik bagian tengah Kotim, tetapi BMKG mencatat sebagian besar hujan tersebut merupakan hasil operasi modifikasi cuaca.

    ”Ada beberapa titik hujan di bagian tengah Kotawaringin Timur, tetapi sebagian besar merupakan hasil operasi modifikasi cuaca,” katanya.

    Sementara hasil pemantauan hari tanpa hujan menunjukkan sejumlah kawasan utara dan selatan Kotim telah mengalami periode kering lebih dari 60 hari.

    ”Pada pemantauan anomali hari tanpa hujan, wilayah yang mendapat hujan terlihat berada di bagian tengah. Sementara sejumlah titik di utara dan selatan berwarna merah muda hingga merah, yang menunjukkan tidak menerima hujan selama lebih dari 60 hari,” jelas Mulyono.

    306 Hotspot, Risiko Kebakaran Kembali Naik

    Di tengah kondisi kering tersebut, titik panas masih tersebar di Kotim. BMKG mendeteksi sekitar 306 hotspot pada 29 September, dengan konsentrasi masih dominan di wilayah selatan.

    ”Untuk hotspot hari ini, terdeteksi sekitar 306 titik. Jumlah itu mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya, tetapi titik panas masih dominan berada di wilayah selatan,” kata Mulyono.

    Potensi kemudahan terbakar pada 29 September masih cukup tinggi. Kondisi itu diperkirakan menurun pada 30 September dan 1 Oktober, sebelum kembali meningkat pada 2–5 Oktober.

    ”Potensi kemudahan terbakar pada 29 September masih cukup tinggi. Pada 30 September dan 1 Oktober diperkirakan berkurang, tetapi kembali meningkat pada 2 hingga 5 Oktober,” paparnya.

    Peluang pembentukan awan hujan di Kalimantan Tengah juga masih kecil hingga 5 Oktober.

    ”Berdasarkan potensi pertumbuhan awan kumulus pada 29 September hingga 5 Oktober, peluang pembentukan awan hujan signifikan di Kalimantan Tengah masih sangat kecil,” ujarnya.

    Potensi pertumbuhan awan yang lebih besar justru berada di Kalimantan Barat dan wilayah utara Kalimantan.

    Peluang Awan 50–70 Persen Jadi Dasar OMC

    Meski peluang hujan secara umum rendah, terdapat jendela waktu yang masih memungkinkan terbentuknya awan. Pada 29 September hingga 1 Oktober, peluang pertumbuhan awan diperkirakan mencapai 50–70 persen.

    ”Pada 29 September, 30 September, dan 1 Oktober, terdapat potensi pertumbuhan awan dengan peluang sekitar 50 hingga 70 persen,” jelas Mulyono.

    Potensi tersebut menjadi salah satu dasar tim operasi modifikasi cuaca melakukan penyemaian awan.

    Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim operasi modifikasi cuaca untuk melakukan penyemaian awan,” katanya.

    Namun, peluang tersebut diperkirakan kembali menurun mulai 1 hingga 5 Oktober.

    ”Mulai 1 hingga 5 Oktober, potensi pertumbuhan awan diperkirakan kembali berkurang. Karena itu, risiko kebakaran berpotensi meningkat lagi,” tegasnya.

    Untuk 30 September dan 1 Oktober, BMKG masih memperkirakan peluang curah hujan lebih dari 0,5 hingga 20 milimeter. Setelah itu, peluang hujan kembali rendah.

    Musim Hujan Bergerak dari Utara ke Selatan

    Proyeksi BMKG menunjukkan musim hujan di Kotim tidak datang serentak. Wilayah utara diperkirakan lebih dahulu mengalami transisi, kemudian bergerak menuju wilayah tengah dan Sampit, sebelum mencapai kawasan selatan.

    Pada Oktober, curah hujan wilayah selatan diperkirakan masih rendah, sekitar 50–100 milimeter. Wilayah tengah diperkirakan menerima 100–150 milimeter, sedangkan wilayah utara berada pada kisaran 150–200 milimeter.

    ”Musim hujan diperkirakan datang dari wilayah utara menuju selatan, dengan wilayah selatan dan kawasan Teluk Sampit menjadi salah satu daerah yang terakhir memasuki musim hujan,” ujar Mulyono.

    Memasuki November, sebagian besar Kotim diperkirakan mulai mengalami awal musim hujan dengan curah hujan kategori menengah sekitar 150–200 milimeter per bulan. Namun, sifat hujannya masih dipengaruhi El Niño dan IOD positif.

    ”Namun, sifat hujannya diperkirakan masih di bawah normal karena pengaruh El Niño dan IOD positif,” katanya.

    Ketika ditanya mengenai waktu datangnya hujan pada November, Mulyono menjelaskan bahwa angka curah hujan tersebut merupakan akumulasi satu bulan.

    ”Ini merupakan akumulasi satu bulan,” jawabnya.

    Menurut Mulyono, peluang hujan pada awal November tetap ada, meskipun intensitasnya diperkirakan belum seperti kondisi normal.

    ”Ada kemungkinan besar terjadi hujan pada awal bulan, Bapak. Namun, curah hujan diperkirakan tetap berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena El Niño dan IOD positif masih memengaruhi kondisi atmosfer,” jelasnya.

    Awal Musim Hujan Berbeda Tiap Wilayah

    BMKG memperkirakan wilayah utara Kotim mulai memasuki musim hujan pada dasarian II Oktober. Wilayah tersebut masuk Zona Musim Kalimantan Tengah 8.

    ”Wilayah utara yang masuk Zona Musim Kalimantan Tengah 8 diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian II Oktober,” terang Mulyono.

    Selanjutnya, Zona Musim Kalimantan Tengah 9 diperkirakan memasuki awal musim hujan pada dasarian III Oktober atau sekitar akhir Oktober.

    ”Pada periode itu diperkirakan sudah mulai terjadi masa transisi dengan hujan awal,” katanya.

    Sampit dan sejumlah wilayah di sekitarnya, termasuk Baamang, Ketapang, Seranau, Mentawa Baru Hilir dan Mentawa Baru Hulu, diperkirakan memasuki awal musim hujan pada dasarian I November.

    Sementara kawasan selatan menjadi wilayah yang paling akhir. Sebagian wilayah yang masuk Zona Musim Kalimantan Tengah 13 diperkirakan baru memasuki awal musim hujan pada November.

    ”Wilayah yang paling akhir memasuki awal musim hujan adalah sebagian kawasan selatan, yang masuk Zona Musim Kalimantan Tengah 13. Daerah ini diperkirakan baru memasuki awal musim hujan pada November. Karena itu, wilayah selatan masih menjadi kawasan yang perlu diwaspadai,” tegasnya.

    Hujan Belum Otomatis Menandai Musim Hujan

    Mulyono menegaskan, munculnya hujan sesekali belum dapat langsung dijadikan patokan bahwa suatu wilayah telah memasuki musim hujan.

    BMKG menetapkan awal musim hujan berdasarkan akumulasi curah hujan yang mencapai ambang tertentu secara berurutan.

    ”Penentuan awal musim hujan dilakukan dengan melihat akumulasi curah hujan. Apabila curah hujan mencapai lebih dari 50 milimeter per dasarian dan berlangsung secara berurutan, wilayah tersebut dapat dinyatakan memasuki musim hujan,” jelasnya.

    Dasarian merupakan periode 10 harian dalam satu bulan, yakni dasarian I tanggal 1–10, dasarian II tanggal 11–20, dan dasarian III tanggal 21 hingga akhir bulan.

    Dengan parameter tersebut, masa transisi di Kotim diperkirakan berlangsung secara bertahap dari utara menuju selatan.

    Puncak Musim Hujan Januari 2027

    BMKG memperkirakan puncak musim hujan Kotim terjadi pada Januari 2027. Sifat hujan diproyeksikan normal di wilayah tengah, sementara bagian utara dan selatan berpotensi berada pada kategori di atas normal.

    ”Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2027. Sifat hujan diperkirakan normal di wilayah tengah, sedangkan bagian utara dan selatan dapat berada pada kategori di atas normal,” kata Mulyono.

    Namun, musim hujan tahun ini diperkirakan berlangsung lebih singkat sekitar tiga dasarian atau 30 hari dibandingkan kondisi normal.

    ”Durasi musim hujan tahun ini diperkirakan lebih pendek sekitar tiga dasarian atau 30 hari. Artinya, musim hujan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal,” ungkapnya.

    Kondisi tersebut membuat Oktober masih menjadi periode penting dalam penanganan karhutla, khususnya di kawasan yang belum memperoleh hujan memadai. Wilayah selatan menjadi perhatian karena diperkirakan paling akhir memasuki musim hujan, sementara titik panas masih dominan berada di kawasan tersebut.

    Pada saat yang sama, arah angin dari selatan menuju utara membuka potensi asap dari kejadian karhutla terbawa ke Sampit.

    Ketika kecepatan angin kemudian melemah, asap yang telah mencapai kawasan kota berpotensi bertahan lebih lama karena tidak terdorong keluar secara signifikan.

    Mulyono menegaskan, kondisi cuaca tersebut perlu menjadi bagian dari perhitungan penanganan karhutla Kotim hingga memasuki periode musim hujan.

    ”BMKG memperkirakan El Niño dan IOD positif masih bertahan hingga awal 2027,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Dampak El Nino, Lebih 60 Hari Tanpa Hujan, BMKG Peringatkan Ancaman Karhutla di Kotim Masih Berlanjut hingga November

    Dampak El Nino, Lebih 60 Hari Tanpa Hujan, BMKG Peringatkan Ancaman Karhutla di Kotim Masih Berlanjut hingga November

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang terjadi sejak Juli diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim mengingatkan kondisi sangat kering masih membayangi wilayah Kotim. Bahkan, sejumlah kawasan telah mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari 60 hari.

    Kondisi itu dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih kurang mendukung pembentukan terjadinya hujan. El Nino berada pada kategori sangat kuat, sementara Dipole Mode Index (DMI) bergerak dari kondisi netral menuju positif.

    Kombinasi kedua fenomena tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di Indonesia, termasuk Kotim.

    ”Ketika DMI berada pada fase positif dan El Nino masih sangat kuat, kedua kondisi itu sama-sama berkontribusi terhadap pengurangan curah hujan. Dampaknya, Kotim menghadapi kondisi cuaca yang semakin kering,” kata Mulyono Leonardo,Kepala BMKG Kotim saat memaparkan pembaruan cuaca dan iklim dalam rapat evaluasi penanganan karhutla di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Kotim, Senin (14/9/2026).

    BMKG telah menganalisis anomali suhu permukaan laut di Pasifik. Pada Agustus, nilainya berada di angka positif 2,83.

    ”Nilai angka positif 2,83 mencirikan bahwa kita memasuki fase El Niño sangat kuat. Pada September, indeks Nino 3.4 berada di posisi 2,76. Nilai tersebut masih termasuk kategori El Niño sangat kuat,” jelasnya.

    Kondisi itu menunjukkan suhu muka laut di kawasan Pasifik lebih hangat, sementara perairan Indonesia relatif lebih dingin.

    Perbedaan kondisi tersebut berpengaruh terhadap pola atmosfer yang kemudian turut menekan pembentukan hujan di wilayah Indonesia.

    Mulyono mengatakan, kondisi kering tersebut terlihat dari catatan curah hujan selama Agustus.

    BMKG mencatat curah hujan di Kabupaten Kotim berada dalam kategori sangat rendah, yakni sekitar 0 hingga 20 milimeter. Bahkan, di kantor BMKG Kotim tidak tercatat adanya hujan selama periode tersebut.

    ”Tidak hanya jumlah hujan yang rendah, sifat hujannya juga berada jauh di bawah normal. Curah hujan hanya berkisar 0 hingga 30 persen dari kondisi normal,”paparnya.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Kotim tidak hanya mengalami hujan dengan jumlah sedikit, tetapi juga berada dalam periode yang jauh lebih kering dibandingkan kondisi biasanya.

    ”Berdasarkan pantauan BMKG, kondisi hujan dalam 10 dasarian terakhir. Hujan yang sempat terjadi di Sampit dan sekitarnya, terutama ke arah Ketapang, belum dapat dijadikan tanda bahwa musim hujan telah dimulai,” ujarnya.

    Menurut Mulyono, hujan tersebut merupakan hasil modifikasi cuaca. Dengan demikian, turunnya hujan di sejumlah wilayah Sampit tidak berarti pola musim telah berbalik menjadi musim hujan secara alami.

    ”Kondisi kekeringan bahkan sudah berlangsung lebih panjang. BMKG mencatat sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari, dengan batas curah hujan di atas satu milimeter,” katanya.

    395 Titik Panas, Teluk Sampit Terbanyak

    Kondisi cuaca yang sangat kering tersebut menjadi persoalan serius dalam penanganan karhutla.

    Dalam rekap pemantauan BMKG per 14 September 2026, tercatat 395 titik panas. Konsentrasi tertinggi berada di Kecamatan Teluk Sampit dengan jumlah 93 titik panas.

    Selain memantau titik panas, BMKG juga melihat tingkat kekeringan bahan bakar atau serasah yang berpengaruh terhadap potensi penjalaran api.

    ”Periode 15 hingga 21 September, indeks kekeringan menunjukkan potensi kebakaran pada lapisan permukaan masih berada dalam kategori tinggi,” ujarnya.

    Kondisi serupa lanjut Mulyono, juga terjadi pada lapisan dengan kedalaman sekitar 5 hingga 10 sentimeter. Lapisan tersebut masih memiliki potensi kebakaran tinggi.

    ”Jika api sudah muncul dan kemudian menjalar, kondisi bahan bakar yang kering dapat membuat api berkembang lebih cepat. Api juga berpotensi bertahan apabila tidak ada hujan dalam beberapa hari berikutnya,” jelasnya.

    Sementara pada lapisan tanah dengan kedalaman lebih dari 10 sentimeter, kondisinya bahkan mengindikasikan kategori sangat mudah terbakar.

    Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan BMKG memberikan peringatan bahwa Kotim saat ini masih berada dalam situasi sangat kering.

    Hujan Lebih Berpeluang Turun di Utara Kotim

    Dalam proyeksi cuaca selama satu pekan ke depan, peluang pertumbuhan awan hujan diperkirakan berpeluang terjadi di wilayah utara Kotim.

    Beberapa wilayah yang disebut memiliki peluang pertumbuhan awan hujan antara lain di Kecamatan Antang Kalang, Tualan Hulu dan wilayah sekitarnya.

    Sebaliknya, wilayah selatan Kotim masih menghadapi peluang hujan yang kecil.

    BMKG bahkan memperkirakan modifikasi cuaca sekalipun belum tentu menghasilkan hujan yang signifikan di wilayah selatan karena kondisi atmosfernya masih kurang mendukung.

    Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kondisi cuaca tidak akan terjadi secara serentak di seluruh wilayah Kotim.

    Wilayah utara diperkirakan lebih dulu mendapatkan peluang hujan, sedangkan wilayah selatan harus menunggu lebih lama.

    ”Untuk periode September ini, BMKG memperkirakan curah hujan Kotim masih rendah. Kisaran curah hujan diprediksi sekitar 0–20 milimeter hingga 20–50 milimeter,” ujarnya.

    Sifat hujannya juga diperkirakan masih berada di bawah normal atau lebih kering dibandingkan kondisi biasanya.

    Musim Hujan Diperkirakan Masuk Bertahap

    Perubahan kondisi cuaca mulai diperkirakan terjadi pada Oktober. Curah hujan diproyeksikan mulai meningkat dari wilayah utara kemudian bergerak menuju selatan.

    Wilayah utara Kotim diperkirakan mulai mengalami curah hujan kategori menengah. Namun, wilayah selatan masih diprediksi berada pada kondisi curah hujan sangat rendah.

    BMKG mengingatkan bahwa prakiraan awal musim hujan yang disampaikan dalam rapat tersebut belum merupakan rilis resmi awal musim hujan dan masih berupa outlook.

    Berdasarkan outlook tersebut, awal musim hujan diperkirakan terjadi secara bertahap.

    Dimulai di wilayah utara yakni Kecamatan Antang Kalang, Telaga Antang, Tualan Hulu dan Bukit Santuai diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian II Oktober atau sekitar 10–20 Oktober.

    Kemudian, di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Telaga Antang, Cempaga Hulu dan Parenggean diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian III Oktober atau sekitar akhir Oktober.

    Sementara, wilayah Kecamatan Baamang, Ketapang dan wilayah sekitarnya diperkirakan baru memasuki musim hujan pada dasarian I November atau awal November.

    “Untuk wilayah selatan sekitarnya mulai memasuki musim hujan pada Dasarian III November atau akhir November. Namun, wilayah selatan masih paling rentan karena diperkirakan baru menerima awal musim hujan pada dasarian ketiga November,” jelasnya.

    El Nino Masih Kuat hingga Akhir Tahun

    BMKG juga memperkirakan fenomena El Nino masih berada pada kondisi kuat hingga akhir Desember.

    Pada saat yang sama, indeks DMI diprediksi tetap berada pada fase positif hingga akhir tahun.

    Namun, BMKG memperkirakan pengaruh kedua fenomena tersebut tidak akan terlalu dominan ketika memasuki November, Desember dan Januari.

    Hal itu berkaitan dengan mulai aktifnya musim hujan, menguatnya angin baratan dan berkurangnya pengaruh angin timuran setelah Oktober.

    Dengan kata lain, kondisi atmosfer secara bertahap diperkirakan mulai lebih mendukung terbentuknya hujan ketika memasuki penghujung tahun, meskipun prosesnya tidak berlangsung serentak di seluruh Kotim.

    Ancaman Karhutla Belum Berakhir

    Lebih lanjut, Mulyono memperingatkan ancaman  karhutla masih perlu menjadi perhatian serius.

    Hari tanpa hujan di sejumlah wilayah sudah mencapai kategori ekstrem, dengan beberapa kawasan mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan dengan curah hujan di atas satu milimeter.

    Di saat yang sama, kondisi bahan bakar yang kering masih membuat potensi kebakaran tinggi, terutama pada lapisan permukaan hingga kedalaman 10 sentimeter. Pada lapisan lebih dari 10 sentimeter, kondisinya bahkan masuk kategori sangat mudah terbakar.

    ”Saat ini, kondisi hari tanpa hujan masih ekstrem. Ada wilayah yang sudah lebih dari 60 hari tidak menerima hujan di atas satu milimeter. Karena itu, peluang hujan baru diperkirakan membaik pada Oktober hingga November, secara bertahap dari wilayah utara menuju selatan,” ujarnya.

    Karena itu, turunnya hujan di sebagian wilayah dalam beberapa waktu ke depan belum serta-merta berarti seluruh Kotim telah terbebas dari ancaman kekeringan dan karhutla.

    Terlebih, wilayah selatan seperti Teluk Sampit dan Pulau Hanaut diperkirakan baru memasuki musim hujan pada dasarian III November.

    ”Berdasarkan outlook BMKG, ancaman karhutla di Kotim masih perlu diwaspadai hingga November, terutama di wilayah selatan yang menjadi kawasan paling akhir mendapatkan hujan musim penghujan,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Alarm Bahaya El Nino Menguat BMKG Revisi Puncak Kemarau Kotim Bergeser ke September Ancaman Karhutla Bakal Lebih Horor

    Alarm Bahaya El Nino Menguat BMKG Revisi Puncak Kemarau Kotim Bergeser ke September Ancaman Karhutla Bakal Lebih Horor

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Periode krisis hidrometeorologi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan bakal berlangsung jauh lebih lama dan melelahkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi merevisi prakiraan puncak musim kemarau 2026 di bumi Habaring Hurung. Hasil evaluasi atmosfer terbaru menunjukkan pergeseran krusial dari yang semula diprediksi terjadi pada Agustus, kini mundur menjadi September, sekaligus memperpanjang napas ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Manifes Pergeseran Musim dan Prediksi Lima Bulan Kekeringan Kritis

    Perubahan fundamental pada proyeksi cuaca ini dirilis langsung oleh Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit. Kepala Stasiun, Mulyono Leo Nardo, mengungkapkan bahwa dinamika pergeseran ini dipicu oleh mundurnya awal musim kemarau yang awalnya dipatok pada awal Juni, namun baru benar-benar masuk pada dasarian II atau pertengahan Juni.

    “Awalnya diprakirakan awal musim kemarau itu awal Juni, tetapi bergeser ke Juni dasarian II. Pada awal Juni masih ada kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca sehingga sampai akhir Juni curah hujan masih lumayan banyak,” papar Mulyono pada Rabu.

    Keterlambatan onset kemarau ini secara otomatis menciptakan efek domino pada durasi kekeringan di lapangan. BMKG mengalkulasi masa kering tahun ini akan membentang hingga lima bulan penuh. Kondisi ini kian diperparah oleh pergerakan anomali iklim global, di mana fenomena El Nino dilaporkan terus merangkak naik menuju intensitas kuat, yang siap memanggang wilayah Kotim dengan temperatur yang lebih kering dan gersang dibanding beberapa tahun terakhir.

    Peta Merah Indikator Kebakaran dan Penilaian Tapak Vegetasi

    Meskipun pencatatan suhu maksimum harian di Kotim hingga pertengahan Juli ini masih tertahan di angka normal sekitar 33 derajat Celsius, BMKG memperingatkan agar pemangku kebijakan tidak terkecoh. Ancaman nyata yang kini sedang mengintai di bawah permukaan adalah tingkat kekeringan lahan gambut dan semak belukar yang terus melesat ke level kritis.

    Pantauan satelit terkini menunjukkan peta potensi kemudahan kebakaran lahan di mayoritas wilayah Kotim sudah didominasi oleh warna merah pekat. Indikator makro ini menegaskan status vegetasi di lapangan berada dalam kondisi sangat mudah terbakar, di mana satu percikan api kecil saja sudah cukup untuk memicu kobaran api raksasa yang sulit dijinakkan di wilayah langganan karhutla.

    Mundurnya puncak kemarau ke September dengan ancaman El Nino kuat adalah tamparan keras yang menuntut Pemkab Kotim melakukan perombakan total pada strategi anggaran kedaruratan. Peringatan sains dari BMKG ini menelanjangi satu kenyataan pahit: jika dengan kondisi kemarau normal saja armada BPBD dan Damkar sudah pontang-panting kehabisan air permukaan di Baamang dan Cempaga, bisa dibayangkan betapa hancurnya pertahanan daerah ini saat dipaksa bertahan di bawah siksaan El Nino hingga September mendatang.

    Kanal Independen memberikan catatan investigatif yang tajam. Pola penanganan karhutla di Kotim tidak bisa lagi menggunakan skema responsif jangka pendek yang menguras anggaran logistik secara harian. Durasi kemarau yang memanjang hingga lima bulan akan menguras stamina fisik personel di lapangan dan mempercepat kerusakan armada taktis. Pemerintah daerah bersama DPRD Kotim harus segera merumuskan skema darurat jaminan logistik, memperbanyak titik sumur bor tanggap darurat, serta memperketat sanksi hukum di tingkat hilir.

    Imbauan lisan agar masyarakat tidak membakar lahan sudah menjadi komoditas retorika yang usang dan mandul. Otoritas penegak hukum harus mulai melakukan patroli preventif yang agresif di kawasan pinggiran kota.

    Jika pergeseran data BMKG ini hanya direspons dengan rapat-rapat koordinasi seremonial di hotel tanpa adanya aksi nyata memperkuat pasokan air di zona merah, maka bersiaplah warga Sampit: bulan Agustus dan September 2026 akan menjadi neraka asap terpanjang yang siap melumpuhkan seluruh sendi kehidupan kita. (***)

  • Kemarau Ekstrem Mengintai Kotim: Menggugat Akar Api di Balik 46 Selang Pemadam Kotim

    Kemarau Ekstrem Mengintai Kotim: Menggugat Akar Api di Balik 46 Selang Pemadam Kotim

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kalender peringatan resmi mematok Juli 2026 sebagai garis awal kemarau ekstrem di Kotawaringin Timur.

    Namun, api tidak tunduk pada jadwal birokrasi. Ketika hujan secara teknis masih turun pada Januari, lahan gambut di Teluk Sampit sudah lebih dulu menghitam.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini berpacu melawan waktu, dibayangi memori kelam 2 Oktober 2023, saat jarak pandang tersisa sepuluh meter dan konsentrasi partikel halus PM10 menembus angka 1.057, jauh di atas ambang berbahaya.

    Satu ironi kembali mengemuka. Ketika imbauan pencegahan terus dialamatkan kepada warga, peta koordinat justru memperlihatkan titik panas berkerumun di kawasan konsesi yang sunyi dari permukiman.

    Peringatan tentang datangnya puncak kekeringan ini disampaikan langsung BPBD Kotim.

    ”Seluruh wilayah Kotim diprediksi mengalami kondisi sangat kering atau kemarau ekstrem pada Juli sampai September 2026. Kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, khususnya berkaitan dengan potensi karhutla yang akan meningkat signifikan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, baru-baru ini.

    Prediksi itu bersandar pada buletin iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terbitan Juni 2026. Curah hujan seluruh wilayah Kotim diperkirakan anjlok ke kisaran 0 hingga 20 milimeter, jauh di bawah batas normalnya.

    Bara yang Sudah Lama Menyala

    Menyebut Juli hingga September sebagai puncak kemarau berisiko melonggarkan kewaspadaan publik.

    Kenyataannya, bara sudah menyala jauh sebelum peringatan ditabuh. BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit sendiri memprediksi musim kemarau Kotim dimulai sejak awal Juni, bukan Juli, bergerak bertahap dari wilayah utara ke tengah dan selatan.

    Catatan sejak pertengahan Januari 2026 bahkan membuktikan api menyala jauh lebih awal lagi.

    Pada 15 Januari, kobaran melahap enam hektare lahan di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, salah satu kejadian paling dini yang diduga dipicu aktivitas manusia. Hingga pertengahan bulan itu, BPBD sudah mendeteksi 54 titik panas.

    Angka itu merangkak tajam menjelang akhir Maret menjadi 151 titik panas, dengan 33 kejadian kebakaran yang menghanguskan 77,34 hektare lahan.

    Rentetan itu memaksa pemerintah kabupaten menetapkan status siaga karhutla dan kekeringan selama 185 hari.

    Hingga 7 Juni 2026, data BPBD menunjukkan 48 kejadian karhutla, dengan 42 kasus berhasil dipadamkan.

    Fakta ini mengisyaratkan ketimpangan waktu yang nyata. Ketika peringatan puncak kemarau diserukan, api sesungguhnya sudah menjalar selama lebih dari lima bulan. Bencana ini tidak sedang menunggu kalender, melainkan sedang berjalan.

    Langit yang Memanas, Gambut yang Sengaja Dikeringkan

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam menyebut kemarau ekstrem tahun ini berada di bawah pengaruh dua fenomena global, yakni El Niño yang berpadu dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

    Kombinasi ini, menurutnya, mengerek suhu, memperpanjang masa kering, serta membuat hamparan gambut sangat rentan tersulut api.

    Narasi mengenai dua mesin iklim ini bukanlah tafsir sepihak otoritas daerah. Pernyataan tersebut berpijak pada proyeksi iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk paruh kedua tahun ini.

    Secara teknis, El Niño memanaskan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang dampaknya menarik massa awan menjauh dari Indonesia dan menyusutkan curah hujan.

    Sementara itu, IOD positif terjadi ketika perairan Samudra Hindia di sisi barat dekat Afrika menghangat, sedangkan sisi timur yang berbatasan dengan Indonesia justru mendingin.

    Pendinginan di dekat Nusantara inilah yang menekan penguapan dan memangkas pasokan uap air ke wilayah barat dan selatan.

    Apabila kedua fenomena ini muncul serentak, efek pengeringannya saling menumpuk dan melipatgandakan ancaman.

    Skenario penumpukan efek itulah yang diproyeksikan BMKG akan membekap Kotim pada periode puncak kemarau.

    Catatan BMKG hingga akhir Mei 2026 memperlihatkan anomali suhu muka laut Pasifik telah menyentuh angka +1,0 dan melewati ambang batas netral selama lima dasarian berturut-turut. Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa El Niño akan segera aktif.

    Mengiringi kondisi tersebut, IOD positif juga diprediksi berpotensi terbentuk di Samudra Hindia pada rentang Juli hingga November 2026.

    Sejalan dengan proyeksi ini, stasiun-stasiun BMKG di penjuru Kalimantan telah merilis imbauan sejak April agar publik mewaspadai dampak gabungan kedua fenomena tersebut.

    Namun, ada selisih intonasi yang patut dicermati antara rilis BMKG dan peringatan daerah. Rangkaian peringatan iklim ini sesungguhnya masih berstatus probabilitas.

    BMKG secara konsisten menggunakan pilihan kata “peluang” dan “berpotensi”, mengingat pada awal tahun kedua fenomena tersebut masih tertahan pada fase netral dan baru diperkirakan menguat menjelang pertengahan tahun.

    Pergeseran makna terjadi ketika BPBD menyampaikannya ke publik dengan nada yang telanjur pasti.

    Pemakaian kata “diperkuat” dan “positif” mengeraskan sebuah proyeksi peluang seolah-olah kondisi tersebut sudah sepenuhnya terjadi.

    Selisih derajat keyakinan ini memiliki implikasi besar dalam cara mendiagnosis akar masalah.

    Menyandarkan penyebab kemarau ekstrem sepenuhnya pada pergerakan cuaca global berisiko mengaburkan satu fakta fundamental di atas tanah.

    Gambut Kotim tidak menjadi mudah terbakar semata akibat siklus cuaca dari langit, melainkan akibat campur tangan manusia yang sengaja mengeringkan lahan melalui pembangunan kanal-kanal drainase.

    Fenomena El Niño dan IOD positif boleh jadi memperburuk keadaan, tetapi bukan mereka yang menggali kanal.

    Titik Panas Menjauh dari Puntung Rokok

    Imbauan yang sama bergema setiap musim kering tiba. Dilarang membuka lahan dengan cara dibakar, jangan membuang puntung rokok sembarangan. Multazam pun menyuarakannya kembali.

    ”Jangan membuang puntung rokok sembarangan karena dalam kondisi sangat kering api kecil pun bisa memicu kebakaran besar,” tegasnya.

    Peringatan itu masuk akal secara teori pencegahan. Akan tetapi, peta sebaran titik panas Kotim menunjukkan hal sebaliknya. Titik api tidak berpusat di lokasi yang ramai dilintasi warga.

    Analisis Stasiun Meteorologi H Asan Kotim periode 14-15 Juni 2026 memperlihatkan konsentrasi titik panas berada di kecamatan-kecamatan wilayah utara, yakni Antang Kalang dengan sekitar 52 titik, Mentaya Hulu 25 titik, Telaga Antang 19 titik, dan Bukit Santuai 18 titik.

    Kawasan ini bukan area permukiman padat, melainkan sabuk kebun dan konsesi.

    Tren serupa tergambar tegas di tingkat provinsi. Analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalteng terhadap data satelit VIIRS NOAA periode 1-28 Juli 2025 merekam 119 titik panas di dalam 51 konsesi perkebunan sawit se-Kalimantan Tengah.

    Sebagian perusahaan itu bahkan tercatat mengalami karhutla berulang lintas tahun, pada 2015, 2019, 2023, dan 2024.

    Jejak rekam gambut menunjukkan akar yang lebih terang lagi. Sepanjang 2023, tercatat 3.188 titik api di Kalteng hingga Agustus.

    Sebanyak 760 di antaranya berada di Kawasan Hidrologi Gambut (KHG), dan 320 titik bertengger di KHG Sungai Pukun-Sungai Mentaya, hamparan yang membelah Kotawaringin Timur dan Seruyan.

    Lahan gambut menjadi sangat rentan terbakar karena cadangan airnya tersedot sistem kanal drainase yang sengaja dibangun untuk mengeringkan area perkebunan.

    BPBD Kotim sesungguhnya menyadari irisan dengan sektor korporasi ini. Multazam sempat menggelar pertemuan khusus bersama sejumlah perusahaan Hutan Tanaman Industri di Teluk Sampit pada April 2026 untuk menyusun komitmen pencegahan.

    Langkah itu mengonfirmasi bahwa di balik rentetan imbauan kepada warga, ada pihak pemegang konsesi yang sejak awal melekat erat sebagai bagian dari persoalan.

    Persenjataan Retak Menghadapi Kemarau

    Otoritas kebencanaan daerah menyatakan langkah pencegahan sudah diperketat: intensitas patroli ditingkatkan, posko pemantauan diaktifkan, dan titik panas diawasi lewat satelit.

    Tetapi kapasitas di lapangan menunjukkan ketimpangan tajam dengan luasnya ancaman.

    Multazam memaparkan, BPBD saat ini hanya memiliki 46 unit selang pemadam berukuran 1,5 inci. Padahal, satu unit mobil tangki saja membutuhkan hingga 20 selang agar bisa menyisir titik api secara maksimal.

    Dengan kata lain, seluruh aset selang milik BPBD hanya sanggup menyokong sekitar dua unit tangki bekerja penuh, untuk satu kabupaten seluas Kotim yang harus menghadapi potensi kepungan api secara serentak.

    Keterbatasan itu memaksa BPBD Kotim meminta pendampingan lebih kuat dari Pemerintah Provinsi Kalteng, sekaligus mengusulkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk memanen hujan selagi masih turun.

    Mencegah tanpa Ember Air

    Sebagai lapis pertahanan awal, BPBD meminta pemerintah desa dan masyarakat menyiapkan sumber air cadangan, membangun sekat pemisah api, serta memastikan peralatan pemadam siap pakai.

    Masker N95 juga diminta disiapkan andai kabut asap kembali merusak kualitas udara.

    “Kami berharap seluruh elemen masyarakat lebih disiplin menjaga lingkungan selama musim kemarau berlangsung agar kejadian karhutla besar yang pernah melanda Kotim tidak kembali terulang,” kata Multazam.

    Disiplin warga memang menopang pertahanan wilayah. Namun memori pekat Oktober 2023 terbukti tidak bermula dari satu puntung rokok.

    Hanya dalam kurun September 2023, Pusdalops BPBD Kotim merekam 1.994 titik panas di kabupaten ini, melonjak dari 1.345 titik pada Agustus.

    Skala kebakaran sebesar itu, merujuk pola sebaran tahun-tahun terakhir, berakar pada pengeringan lahan gambut dan kawasan konsesi yang berulang kali terbakar tanpa konsekuensi yang setara.

    Mencegah Kotim kembali kehabisan napas menuntut ketegasan penindakan terhadap sistem korporasi, jauh melampaui imbauan kepada warga untuk sekadar menyiapkan ember air. (ign)