Tag: Hewan Kurban

  • Operasi Senyap di Balik 1.650 Sembelihan: Menakar Standardisasi Higienis Daging Kurban di Kotim

    Operasi Senyap di Balik 1.650 Sembelihan: Menakar Standardisasi Higienis Daging Kurban di Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Momentum perayaan Iduladha 1447 Hijriah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak sekadar menjadi ruang ibadah ritual keagamaan massal, melainkan juga sebuah operasi logistik pangan berskala raksasa. Di balik keriuhan warga yang mengantre pembagian daging, sebuah operasi senyap pengawasan medis bergerak di ratusan titik penyembelihan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim mengambil langkah taktis guna memastikan bahwa seluruh komoditas daging yang beredar di tangan masyarakat berada dalam kondisi aman, sehat, dan sepenuhnya layak konsumsi pada Jumat (29/5/2026).

    Skala Masif dan Deteksi Anatomi Organ Dalam

    Menakar standardisasi higienis pada perayaan tahun ini memerlukan pembacaan data lapangan yang jeli. Volume penyembelihan di wilayah Kotim tahun ini mencapai angka yang sangat masif, yakni 1.650 ekor hewan kurban, yang memuat komposisi bervariasi antara 1.131 ekor sapi dan 519 ekor kambing. Tantangan nyata pengawasan terletak pada luasnya sebaran eksekusi, di mana ribuan hewan tersebut disembelih di 357 titik pemotongan yang tersebar merata di 17 kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.

    Guna mengawal sirkulasi pangan massal ini agar tidak kecolongan oleh penyakit, tim dokter dan petugas kesehatan hewan dikerahkan untuk melakukan prosedur pemeriksaan post-mortem atau pasca-penyembelihan. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPKP Kotim, drh. Endrayatno, menjelaskan bahwa deteksi medis difokuskan langsung pada pembedahan dan pemeriksaan organ-organ dalam hewan. Petugas secara jeli memeriksa bagian-bagian vital seperti hati, paru-paru, limpa, hingga saluran pencernaan untuk memastikan tidak ada infeksi parasit seperti cacing hati maupun kelainan anatomi lainnya.

    “Pemeriksaan post mortem ini dilakukan untuk memastikan tidak ada penyakit ataupun kelainan pada organ hewan kurban,” ujar Endrayatno saat memantau jalannya pemeriksaan di lapangan.

    Dari hasil penyisiran senyap di ratusan cawan juru jagal tersebut, otoritas terkait memastikan tidak ada temuan klinis yang berisiko membahayakan kesehatan masyarakat luas. Endrayatno menegaskan bahwa seluruh komoditas yang diperiksa telah melewati ambang batas kelayakan pangan.

    “Alhamdulillah dari hasil pemeriksaan, seluruh daging hewan kurban aman dan layak konsumsi,” jelasnya dengan lega.

    Kendati demikian, jika dalam operasi tersebut ditemukan organ yang terindikasi rusak atau tidak layak, petugas di lapangan tetap dibekali otoritas penuh untuk langsung mengisolasi dan merekomendasikan agar bagian tersebut segera dimusnahkan dan dilarang keras untuk didistribusikan kepada warga.

    Filtrasi Ganda dari Bursa Penjualan hingga Cawan Juru Jagal

    Ketahanan benteng pangan ini sebenarnya telah dibangun lewat sistem filtrasi ganda sejak dari hulu. Jauh sebelum pisau sembelih diturunkan, DPKP Kotim telah menjalankan tahapan pemeriksaan ante-mortem atau pemeriksaan fisik sebelum pemotongan. Petugas menyisir sedikitnya 55 titik lokasi penampungan serta bursa penjualan hewan kurban di seluruh wilayah Kotim untuk menguji kesehatan klinis satwa secara langsung. Langkah awal ini sangat krusial untuk menjamin bahwa hewan yang dibeli oleh pekurban sudah memenuhi prasyarat syariat sekaligus standar kesehatan veteriner internasional. Melalui kombinasi pengawasan sebelum dan sesudah penyembelihan ini, otoritas terkait mencoba membangun rasa aman dan tenang bagi publik dalam mengonsumsi hidangan hari raya.

    Distribusi daging kurban dari 1.650 ekor hewan yang tersebar di 357 titik dalam waktu singkat adalah sebuah pembuktian kinerja dinas yang patut diapresiasi. Keberhasilan memitigasi penyakit ternak melalui pemeriksaan organ dalam menunjukkan bahwa deteksi dini dari hulu ke hilir berjalan sesuai rel taktisnya. Namun, jika kita benar-benar ingin menakar standardisasi higienis secara komprehensif, pengawasan tidak boleh berhenti pada status kesehatan organ hewan di bawah pisau dokter.

    Tantangan higienitas yang sesungguhnya justru kerap muncul pasca-penyembelihan di tingkat panitia lokal. Di tengah lingkungan permukiman padat atau area terbuka yang berdebu, proses pencacahan daging sering kali masih menggunakan alas yang kurang steril, terpapar air bersanitasi rendah, atau dikemas dalam wadah yang rentan kontaminasi bakteri silang. Oleh karena itu, standardisasi masa depan di Kotim tidak boleh lagi sekadar bertumpu pada pemeriksaan klinis biologis hewan semata. Pemerintah daerah dan lembaga keagamaan harus mulai menginisiasi sertifikasi sanitasi dan edukasi higienitas bagi para juru sembelih dan panitia masjid. Langkah ini penting agar kesucian niat berkurban berbanding lurus dengan jaminan kebersihan pangan yang murni dari pisau jagal hingga ke meja makan warga. (***)

  • Masjid Agung Wahyu Al Hadi Bagikan Ratusan Bungkus Daging Kurban

    Masjid Agung Wahyu Al Hadi Bagikan Ratusan Bungkus Daging Kurban

    SAMPIT, kanalindependen.id – Momentum Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah dimanfaatkan pengurus dan jemaah untuk memperkuat kepedulian sosial.

    Tahun ini, panitia membagikan sekitar 700 bungkus daging kurban dan memastikan penyembelihan hewan kurban berlanjut hingga esok hari.

    Ketua Pengelola Masjid Agung Wahyu Al Hadi, Wiyono mengatakan, pada pelaksanaan Idul Adha tahun ini panitia menyembelih tiga ekor sapi dan tiga ekor kambing yang berasal dari bantuan berbagai pihak serta partisipasi jemaah.

    ”Tahun ini ada tiga ekor sapi, terdiri dari satu ekor sapi bantuan Presiden Republik Indonesia dengan berat sekitar 1,3 ton, satu ekor sapi bantuan PT Agrinas Palma Nusantara dengan berat sekitar 400 kilogram, serta satu ekor sapi dari jemaah Fardu Kifayah Masjid dengan berat sekitar 350 kilogram,” kata Wiyono seraya mengucapkan terima kasih kepada Presiden RI dan PT Agrinas Palma Nusantara yang telah menyalurkan hewan kurban untuk Masjid Wahyu Al Hadi.

    Wiyono mengatakan, proses penyembelihan hewan kurban melibatkan pengurus masjid dan mulai dibagikan kepada masyarakat sekitar pukul 13.00 WIB.

    Panitia menyiapkan sekitar 700 bungkus daging kurban dengan masing-masing paket berisi setengah kilogram daging bersih di luar tulang.

    ”Penyaluran dimulai jam satu siang. Total sekitar 700 bungkus dan setiap bungkus berisi setengah kilogram daging,” ujar Wiyono yang juga masih aktif menjabat sebagai Kepala Disdukcapil Kotim, Rabu (27/5/2026) siang.

    Ratusan warga terlihat mendatangi kawasan masjid sejak siang untuk mengambil daging kurban menggunakan kupon yang sebelumnya telah dibagikan panitia.

    Wiyono yang juga menjabat sebagai Sekretaris Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kotim menambahkan, pelaksanaan pemotongan hewan kurban masih akan dilanjutkan pada Kamis (28/5/2026) oleh PHBI Kotim.

    ”Besok pagi (hari ini,Red) dilanjutkan lagi oleh PHBI Kotim. Jadwal pemotongan mulai pukul 08.00 pagi dan penyaluran direncanakan pukul 12 siang. Ada tiga ekor sapi lagi dengan perkiraan sekitar 450 bungkus daging yang akan dibagikan,” ungkapnya.

    Sebelum pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, ribuan umat islam terlebih dahulu melaksanakan Salat Idul Adha di Masjid Agung Wahyu Al Hadi.

    Jemaah memadati masjid, teras hingga halaman masjid sejak pagi hari.

    Salat Idul Adha diimami oleh KH Abdul Hadi Ahmad dan Sublianur sebagai pengisi khutbah. Dalam khutbahnya, jemaah diajak meneladani nilai keikhlasan, pengorbanan, serta semangat berbagi kepada sesama sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.

    Pelaksanaan Salat Idul Adha juga dihadiri Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur. (hgn)

  • Bagikan Ratusan Bungkus Daging Kurban, RSUD dr Murjani Sampit Tahun Ini Sembelih Tujuh Ekor Hewan Kurban

    Bagikan Ratusan Bungkus Daging Kurban, RSUD dr Murjani Sampit Tahun Ini Sembelih Tujuh Ekor Hewan Kurban

    SAMPIT, kanalindependen.id – Semangat berbagi dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan jajaran pegawai di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit.

    Pada perayaan Iduladha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah tahun ini, sebanyak lima ekor sapi dan dua ekor kambing kurban disembelih dan dibagikan kepada ratusan warga yang berhak menerimanya.

    Pemotongan hewan kurban yang berlangsung sejak pagi hingga Rabu (27/5/2026) siang, di Halaman Belakang RSUD dr Murjani Sampit, melibatkan puluhan panitia dari jajaran pegawai rumah sakit serta jemaah Masjid Assyifa RSUD dr Murjani Sampit.

    Proses penyembelihan dipimpin langsung oleh dokter spesialis radiologi, Denny Muda Perdana, yang bertindak sebagai jagal didampingi Ketua Panitia Pelaksana Kurban RSUD dr Murjani Sampit, Setia Rahmadi.

    Rahmadi mengatakan, kegiatan kurban di lingkungan rumah sakit dan Masjid Assyifa telah menjadi agenda rutin tahunan yang selalu mendapat antusiasme pegawai maupun jemaah masjid.

    ”Alhamdulillah kegiatan berkurban rutin dilaksanakan setiap Hari Raya Idul Adha. Tahun ini ada sedikit penurunan jumlah hewan kurban dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu ada lima ekor sapi dan lima ekor kambing dari 40 nama yang berkurban, sedangkan tahun ini lima ekor sapi dan dua ekor kambing dari 37 nama yang kurban,” kata Setia Rahmadi yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Umum, Anggaran dan Keuangan RSUD dr Murjani Sampit.

    Rahmadi mengatakan, pelaksanaan kurban bukan sekadar ibadah tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antarpegawai rumah sakit dan masyarakat.

    ”Melalui kegiatan ini kami ingin menumbuhkan rasa kepedulian sosial dan kebersamaan, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan. Mudah-mudahan pelaksaanan kurban ini terus berlanjut dan hewan yang dikurbankan semakin bertambah di tahun mendatang,” ujarnya.

    PEMOTONGAN DAGING KURBAN: Proses pemotongan daging kurban di Halaman belakang RSUD dr Murjani Sampit, Jalan Batu Berlian, Rabu (27/5/2026). (Heny/Kanal Independen)

    Pelaksanaan kurban di lingkungan RSUD dr Murjani Sampit telah berlangsung selama bertahun-tahun dengan jumlah hewan kurban yang berfluktuatif setiap tahunnya.

    Berdasarkan catatan Kanal Independen, pada tahun 2020 terdapat empat ekor sapi dan tiga ekor kambing yang disembelih.

    Kemudian tahun 2021 sebanyak lima ekor sapi, tahun 2022 sebanyak tiga ekor sapi, tahun 2023 sebanyak tiga ekor sapi dan tujuh ekor kambing, tahun 2024 sebanyak dua ekor sapi dan dua ekor kambing, serta tahun 2025 meningkat menjadi lima ekor sapi dan lima ekor kambing.

    Bendahara Masjid Assyifa, Budiansyah, menambahkan seluruh proses penyembelihan berlangsung lancar dengan melibatkan sekitar 30 orang panitia.

    Panitia membagi tugas mulai dari proses penyembelihan, pemotongan daging, penimbangan hingga distribusi kepada masyarakat penerima.

    ”Daging kurban dipotong menjadi beberapa bagian kemudian dikemas ke dalam plastik dengan berat  tujuh ons ditambah tulangan per bungkus,” kata Budiansyah.

    Budiansyah menyebut panitia telah menyiapkan sekitar 700 kupon pembagian daging kurban yang disalurkan kepada pegawai rumah sakit, jemaah Masjid Assyifa, masyarakat di sekitar lingkungan rumah sakit serta warga kurang mampu.

    ”Kalau nanti masih ada sisa atau lebihan daging kurban, akan kami salurkan lagi ke pesantren dan panti asuhan,” tambahnya.

    Budiansyah memastikan seluruh hewan kurban yang disembelih telah melalui pemeriksaan kesehatan dari petugas Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur sebelum dipotong.

    Selain pemeriksaan sebelum penyembelihan atau antemortem, petugas kesehatan hewan juga melakukan pemeriksaan organ dalam setelah penyembelihan atau postmortem guna memastikan daging aman dikonsumsi masyarakat.

    ”Tadi tim kesehatan hewan sudah memeriksa organ dalam hewan kurban dan semuanya aman serta layak konsumsi. Tidak ditemukan cacing pita maupun hal-hal yang membahayakan kesehatan,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Semangat Berkurban Warga Muhammadiyah Kotim Meningkat, 46 Hewan Kurban Disembelih di 13 Lokasi

    Semangat Berkurban Warga Muhammadiyah Kotim Meningkat, 46 Hewan Kurban Disembelih di 13 Lokasi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Semangat berkurban warga Muhammadiyah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Hari Raya Iduladha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah tahun ini mengalami peningkatan.

    Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kotim mencatat sebanyak 46 hewan kurban terdiri dari 36 ekor sapi, 8 ekor kambing dan 2 ekor domba disembelih di 13 lokasi yang tersebar di sejumlah cabang, masjid dan amal usaha Muhammadiyah.

    Ketua PD Muhammadiyah Kotim, Livenur Hasbi mengatakan, pelaksanaan kurban tahun ini tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga wujud kepedulian sosial warga Muhammadiyah kepada masyarakat luas.

    ”Alhamdulillah, tahun ini warga Muhammadiyah di lingkungan PDM Kotim kembali melaksanakan ibadah kurban dengan jumlah yang cukup besar dan tersebar di berbagai cabang hingga pelosok kecamatan di Kotim,” ujar Livenur Hasbi saat ditemui Kanal Independen di Kantor Sekretariat PD Muhammadiyah Sampit, Jalan RA Kartini, Rabu (27/5/2026).

    Livenur menjelaskan, hewan kurban tersebut berasal dari partisipasi warga Muhammadiyah, pengurus cabang, simpatisan hingga civitas akademika Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA).

    Adapun rincian hewan kurban di lingkungan Muhammadiyah Kotim yakni Sekretariat PDM Kotim sebanyak 2 ekor sapi, PCM Pulau Hanaut di Masjid Al Mukhtar 3 ekor sapi, PCM Mentaya Hilir Selatan di Masjid Mujahidin Samuda 4 ekor sapi dan 4 ekor kambing.

    Kemudian PCM Mentawa Baru Ketapang di SD Muhammadiyah Sampit 2 ekor sapi dan 4 ekor kambing, PCM Baamang di SD Muhammadiyah 1 Baamang 1 ekor sapi dan 1 ekor kambing, PCM Cempaga Hulu di Masjid Al Azhar Desa Pelantaran 3 ekor sapi dan 2 ekor domba.

    Selanjutnya Masjid Al Muhajirin Sampit 2 ekor sapi, PCM Parenggean 2 ekor sapi, PRM Karang Tunggal 2 ekor sapi dan 2 ekor kambing, Universitas Muhammadiyah Sampit sebanyak 4 ekor sapi dan 1 ekor kambing, Lazismu Kabupaten Kotim 1 ekor sapi, Masjid Mujahidin Jemaras PCM Cempaga 2 ekor sapi serta PCM Mentaya Hulu 4 ekor sapi.

    Salah satu lokasi penyembelihan hewan kurban dilaksanakan di Kantor Sekretariat PDM Kotim di Jalan RA Kartini, Sampit. Di lokasi tersebut, panitia menyembelih dua ekor sapi yang berasal dari total 14 orang yang berkurban.

    PEMOTONGAN DAGING KURBAN : Rektor UMSA Ramadansyah bersama panitia kurban melakukan proses pemotongan daging kurban di selasar halaman Kampus I, UMSA Jalan Ki Hajar Dewantara, Rabu (27/5/2026). (Heny/Kanal Independen)

    Proses penyembelihan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB hingga selesai pada pukul 12.00 WIB. Setelah itu, panitia langsung melanjutkan proses pengemasan dan distribusi daging kepada masyarakat.

    Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 20 panitia gabungan dari berbagai organisasi otonom Muhammadiyah, di antaranya PD Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah.

    Sekretaris PDM Kotim I Wayan Alap, menambahkan dua ekor sapi yang dipotong menghasilkan sekitar 220 bungkus daging kurban.

    ”Total berat daging bersih sekitar 170 kilogram. Pembagiannya sepertiga untuk 14 orang yang berkurban, sedangkan dua pertiganya dibagikan kepada warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar, masing-masing setengah kilogram per bungkus,” jelasnya di sela proses pemotongan daging.

    Wayan mengatakan pelaksanaan kurban setiap tahun juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antarwarga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar.

    ”Momentum Idul Adha ini bukan hanya soal penyembelihan hewan kurban, tetapi juga memperkuat syiar islam dan nilai gotong royong serta menebarkan kepedulian sosial,” tambahnya.

    UMSA Bagikan 500 Kupon Daging Kurban

    Selain di lingkungan PDM Kotim, penyembelihan hewan kurban juga berlangsung di Universitas Muhammadiyah Sampit berjumlah 4 ekor sapi dan 1 ekor kambing.

    Hewan kurban tersebut berasal dari 29 orang yang berkurban terdiri dari unsur dosen, tenaga kependidikan dan keluarga besar civitas akademika UMSA.

    Wakil Rektor II UMSA sekaligus Ketua Panitia Kurban, Mahmuddin mengatakan, proses penyembelihan dimulai lebih awal usai pelaksanaan Salat Iduladha di Lapangan Kampus I UMSA.

    ”Setelah salat Ied yang diimami Haji Akmal Thamroh, penyembelihan langsung dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Kegiatan ini melibatkan sekitar 30 panitia dari unsur civitas akademika dan pengurus Masjid Al Mukhlishin,” ujar Mahmuddin.

    Daging kurban kemudian dibagikan mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Panitia menyiapkan sekitar 500 kupon untuk masyarakat penerima manfaat.

    Mahmuddin menjelaskan, setiap penerima memperoleh setengah kilogram daging beserta tulangan.

    Penerima manfaat berasal dari kalangan mahasiswa, staf kampus, warga sekitar hingga masyarakat di wilayah Mentaya Seberang.

    ”Mahasiswa sekitar 80 orang, warga sekitar kampus sekitar 80 orang, peserta kurban, kemudian ada juga masyarakat Mentaya Seberang melalui Masjid At Taqwa sekitar 30 orang,” katanya.

    Ia mengungkapkan jumlah hewan kurban di UMSA tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tiga ekor sapi.

    ”Alhamdulillah tahun ini meningkat menjadi empat ekor sapi dan satu kambing. Mudah-mudahan tahun depan bisa bertambah lagi menjadi lima ekor sapi,” harapnya.

    Sementara itu, Wakil Rektor III UMSA, selaku penanggung jawab distribusi memastikan seluruh daging kurban disalurkan kepada masyarakat yang berhak menerima.

    Panitia bahkan sengaja tidak menggunakan daging kurban untuk konsumsi internal agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

    ”Semua daging kurban, termasuk tulangan, dibagikan seluruhnya untuk masyarakat yang berhak. Bahkan panitia tidak memasak daging kurban untuk konsumsi internal. Kami siapkan konsumsi terpisah agar lebih banyak masyarakat yang menerima dan merasakan daging kurban tahun ini,” kata Alivermana.

    Aliv menambahkan, panitia juga memberikan perhatian kepada kelompok penyandang disabilitas, termasuk warga tuna rungu yang turut menerima pembagian daging kurban.

    ”Ada sekitar 10 bungkus khusus untuk warga tuna rungu juga menerima daging kurban. Kami memang mencari warga yang benar-benar layak menerima daging kurban. Kami harap semangat berbagi di Hari Raya Iduladha ini benar-benar berkah bagi yang berkurban dan dapat dirasakan semua kalangan masyarakat yang berhak menerimanya,” tandasnya. (hgn)

  • Pertarungan Melawan Mega-Fauna: Saat Tenaga 60 Panitia Kurban Membutuhkan Bantuan Kerekan Baja

    Pertarungan Melawan Mega-Fauna: Saat Tenaga 60 Panitia Kurban Membutuhkan Bantuan Kerekan Baja

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Momen perayaan Iduladha di Masjid Nurul Alif, Jalan H Imran, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Rabu (27/5/2026) mendadak berubah menjadi arena ketegangan. Rentetan insiden tak terduga, mulai dari lepasnya hewan kurban di tengah salat hingga alotnya proses perebahan sapi berukuran raksasa, membuat puluhan panitia harus memutar otak dan bekerja ekstra keras.

    Kepanikan di Tengah Khotbah Iduladha

    ​Ketegangan pertama pecah bahkan sebelum pisau sembelih dikeluarkan dari sarungnya. Saat jamaah tengah khusyuk mendengarkan khotbah Iduladha, seekor sapi yang diikat di halaman masjid tiba-tiba terlepas dan berjalan ke arah saf jamaah perempuan. Sontak, konsentrasi ibadah buyar seketika.

    ​“Hati-hati sapinya lepas!” teriak seorang jamaah perempuan yang langsung memicu kepanikan dan aksi berlarian menjauh dari kerumunan. 🗣️

    ​Beruntung, respons cepat dari tim panitia berhasil menetralisir keadaan. Salah seorang petugas kurban, Andi, menyebutkan bahwa insiden tersebut tidak sampai berujung fatal karena karakter hewan yang relatif tidak agresif.

    ​”Sepertinya sapinya jinak. Walaupun lepas dari ikatan, dia tidak lari menjauh dan tetap berkumpul dengan sapi-sapi lainnya,” jelas Andi, memastikan situasi lekas kembali kondusif hingga rangkaian ibadah selesai.

    Kebuntuan Tenaga Manusia Melawan Sapi 800 Kg

    ​Namun, drama sesungguhnya baru dimulai saat proses eksekusi. Seekor sapi jenis Limousin jumbo dengan bobot menembus 800 kilogram memberikan perlawanan sengit. Kekuatan fisik dari 60 orang panitia yang bertugas hari itu seolah tak berarti apa-apa saat mencoba merebahkannya secara manual menggunakan tali tambang.

    ​Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Nurul Alif, Ahmad Bisri, mengakui bahwa pihaknya kalah tenaga. Hewan kurban “mega-fauna” itu terus memberontak dan nyaris memutus tali kekang.

    ​Menghadapi risiko keselamatan panitia dan warga sekitar yang menonton, sebuah keputusan taktis dan out-of-the-box akhirnya diambil. Panitia terpaksa meminta bantuan sebuah mobil Jeep milik salah seorang jamaah. Menggunakan winch (kerekan tali baja) dari kendaraan off-road tersebut, tubuh raksasa sapi Limousin itu akhirnya berhasil ditarik perlahan hingga takluk dan rebah ke tanah.

    ​”Sempat ada salah satu sapi kurban yang cukup agresif sehingga sulit direbahkan. Alhamdulillah, berkat kerja sama seluruh panitia dan bantuan alat tersebut, penyembelihan akhirnya bisa dieksekusi dengan baik,” terang Bisri dengan nada lega.

    Insiden sapi lepas di Masjid Nurul Alif tahun ini membuka kembali memori warga pada kejadian serupa di Iduladha 2023, di mana panitia sempat terlibat aksi kejar-kejaran dengan sapi di tengah permukiman.

    ​Kehadiran hewan kurban berukuran mega menuntut adanya pembaruan standar operasional (SOP) penyembelihan di area padat penduduk. Mengandalkan tenaga manusia semata untuk menaklukkan hewan raksasa yang sedang stres terbukti sangat berisiko. Langkah cerdas panitia yang merespons krisis dengan memanfaatkan kerekan baja Jeep patut diapresiasi sebagai tindakan penyelamatan situasi.

    ​Ke depannya, panitia kurban di berbagai masjid di Kotim yang mulai rutin menerima sapi jenis Limousin atau Simental perlu mempertimbangkan penyediaan alat perebah sapi portabel (restraining box). Selain lebih memanusiakan hewan kurban dengan meminimalisir stres, keselamatan warga dan para jagal di lingkungan perkotaan harus tetap menjadi prioritas utama. (***)

  • Jelang Iduladha, Penjualan Hewan Kurban Ramai Diburu, Sapi Beragam Bobot Ditawarkan Puluhan Juta

    Jelang Iduladha, Penjualan Hewan Kurban Ramai Diburu, Sapi Beragam Bobot Ditawarkan Puluhan Juta

    SAMPIT, kanalindependen.id – Dua pekan menjelang Lebaran Iduladha 1447 Hijriah, penjualan hewan kurban ramai diburu pembeli.

    Salah satu penjualan hewan kurban yang menarik perhatian berlokasi di Jalan HM Arsyad, Kota Sampit.

    Hamparan lahan seluas satu hektare dipenuhi ratusan ekor sapi berkulit hitam legam, coklat pekat dan coklat muda menunjukkan eksistensinya.

    Sapi asal Sulawesi ini tak lagi dikandangi, tapi sengaja dilepas bebas di lahan terbuka.

    Sebelum “dipinang” oleh pembeli, sapi berbobot 300 kilogram hingga 1 ton ini dirawat dan diberi pakan rumput hijau dan siap diperjualbelikan dengan harga berkisar Rp 18 juta hingga Rp100 juta.

    Lahan bersengketa ini, tahun 2024 lalu disewa Daeng Pedagang Hewan Kurban seharga Rp 20 juta untuk pinjam pakai lahan selama satu bulan.

    Namun, sejak tahun 2025 dan tahun ini, Daeng tak membayar sewa lahan. Namun, sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Ketua RT setempat, ia menghadiahkan seekor sapi dan 100 paket sembako berupa beras 10 kg, gula dan kopi untuk warga setempat.

    Selama kurang lebih tiga pekan terakhir, kawasan Jalan HM Arsyad dan Jalan Teratai 6 berubah layaknya pasar hewan kurban.

    KIAN RAMAI: Pedagang di Jalan HM Arsyad yang menjual sapi kurban, Sabtu (16/5/2026). (Heny/Kanal Independen)

    Suasana ramai dengan aktivitas transaksi jual beli dan tawar-menawar harga terlihat hampir sepanjang hari.

    Pembeli datang silih berganti, mulai dari warga perorangan, perusahaan, hingga masyarakat dari wilayah utara Kotawaringin Timur dan sejumlah kabupaten tetangga.

    ”Sudah tiga minggu ini, lahan ini sudah seperti pasar ramainya. Alhamdulillah pelanggan datang dari mana-mana. Banyak juga pelanggan tetap yang tiap tahun beli lewat saya, tahun ini datang beli lagi,” ujar Daeng saat diwawancarai Kanal Independen, Sabtu (16/5/2026).

    Ia mengungkapkan, momentum Idul Adha menjadi masa paling sibuk sekaligus bulan berkah bagi dirinya sebagai pedagang hewan kurban.

    Sebab, usaha tersebut hanya berlangsung efektif sekitar satu bulan menjelang Lebaran Haji.

    ”Jualan hewan kurban setahun sekali saja. Efektifnya kurang lebih satu bulan sebelum Lebaran Idul Adha. Setelah itu, saya kerja serabutan, bantu-bantu orang panen sawit dan bekerja apa saja yang terpenting halal,” ujarnya.

    Daeng mengaku sudah merantau di Sampit sejak tahun 2002. Sebelum menjadi pedagang hewan kurban, ia pernah berjualan Coto Makassar yang kini dikenal sebagai Warung Pelangi.

    Pada tahun 2014, ia mulai memberanikan diri menjual sapi kurban asal Sulawesi di Kota Sampit.

    ”Saya sudah merantau di Sampit sejak tahun 2002, dulunya jualan Coto Makassar yang sekarang jadi Warung Pelangi. Mulai 2014 memberanikan diri jualan hewan kurban,” katanya.

    Ia menjelaskan, awal mula menggeluti bisnis hewan kurban karena memiliki saudara peternak sapi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

    Dari sana, ia mencoba membantu memasarkan sapi sekaligus mencari peruntungan di Sampit.

    ”Berani jual sapi Sulawesi ini sebenarnya niatnya juga ingin bantu masyarakat di Sampit. Dengan memasok sapi Sulawesi bisa menyeimbangkan harga sapi. Kalau tidak, sapi dari Pulau Jawa seperti sapi Madura harganya bisa melambung tinggi,” ujarnya.

    Daeng menjual sapi dengan bobot mulai 300 kilogram hingga 1 ton dengan harga berkisar Rp18 juta sampai Rp100 juta.

    Tahun ini, ia juga menyediakan sekitar 30 ekor sapi limosin berbobot 200 kilogram hingga 1 ton yang dijual dengan kisaran harga Rp45 juta hingga Rp100 juta.

    ”Paling banyak dicari dikisaran harga Rp18-22 jutaan. Bobot daging bersihnya mencapai 100-150 kilogram,” katanya.

    Tahun ini Daeng mendatangkan sekitar 650 ekor sapi dan 100 ekor kambing dari Sulawesi. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang hanya sekitar 500 ekor sapi.

    ”Tahun ini ada penambahan 150 ekor dibandingkan tahun lalu yang hanya 500 ekor. Saat ini yang tersedia ada 500 ekor sapi dan 100 ekor kambing. Ini sudah 12 kali kedatangan. Rencananya akan datang lagi 120 ekor sapi trip terakhir dalam waktu dekat ini,” ujarnya.

    Ia optimistis penjualan tahun ini akan lebih ramai dan berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kembali memesan sapi melalui dirinya seperti tahun sebelumnya.

    Pada Iduladha tahun lalu, sebanyak 270 ekor sapi miliknya diborong Pemprov Kalteng.

    ”Alhamdulillah ini sudah laku 70 persen. Sekarang lagi galau menanti kabar dari Pemprov Kalteng, semoga tahun ini Pemprov Kalteng mau beli lebih banyak. Warga Kotim yang berminat bisa lihat-lihat dulu. Kalau cocok bisa bayar uang muka Rp1 juta dan batas pelunasan H-3 Lebaran,” katanya.

    Daeng mengaku tidak mengambil keuntungan terlalu besar dalam setiap penjualan sapi.

    Menurutnya, yang terpenting seluruh hewan kurban dapat terjual habis dan membawa keberkahan.

    ”Saya ngambil untung tidak besar sekitar Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta per ekor. Harga jual dijamin lebih terjangkau, selisih harga lebih murah Rp1-2 juta dibandingkan di tempat lain. Karena saya ingin sapi saya terjual habis, berdagang itu tidak hanya cari untung tapi juga mencari berkahnya,” ujarnya.

    Meski terlihat menjanjikan, bisnis hewan kurban juga memiliki risiko kerugian yang besar.

    Daeng mengungkapkan, pada tahun 2024 lalu dirinya bersama empat rekan sesama pedagang mengalami kerugian hingga Rp400 juta akibat 21 ekor sapi mati selama proses pengiriman.

    ”Tahun 2024 lalu kerugian sampai Rp400 juta ditanggung empat rekan kerja sesama pedagang. Ada 21 ekor sapi yang mati. Kendalanya bisa karena perubahan cuaca dan suhu yang berbeda, risiko patah kaki dan mati saat pengiriman di perjalanan,” ujarnya.

    Tahun ini, tantangan juga datang dari tingginya angka kematian kambing. Dari ratusan kambing yang didatangkan, sekitar 20 ekor dilaporkan mati.

    Namun, ia menyebut daya tahan sapi asal Sulawesi relatif lebih kuat terhadap perubahan cuaca.

    ”Cuaca saat ini hampir setiap hari hujan terus. Alhamdulillah tidak ada sapi yang tumbang. Semua sapi kuat dan tangguh terhadap cuaca. Yang repot itu merawat kambing. Harga jualnya Rp4-5 juta, tapi risiko matinya sangat tinggi,” katanya.

    Untuk mengantisipasi kondisi hewan yang drop akibat kehujanan dan tidak mau makan, sapi biasanya diberikan suntikan vitamin seharga sekitar Rp50 ribu per ekor.

    Selain risiko kematian hewan, pedagang kurban juga harus mengeluarkan biaya besar untuk mengurus dokumen kesehatan dan perizinan pengiriman antarprovinsi.

    Sebelum diberangkatkan, hewan kurban harus menjalani proses karantina, pemasangan barcode di telinga, pengambilan sampel darah dan pemberian lima jenis vaksin untuk memastikan kondisi kesehatan hewan.

    Daeng mengatakan, jauh sebelum pengiriman dilakukan, dirinya harus mengurus surat rekomendasi permintaan kedatangan sapi ke DPMPTSP dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim. Setelah itu, hewan menjalani karantina selama 18 hari di Makassar dan empat hari di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar.

    ”Tahun ini masa karantina lebih lama. Tahun lalu hanya delapan hari, tahun ini sampai 18 hari. Mengurus surat izin hingga karantina itu dikenakan Rp1 juta per ekor sapi,” ujarnya.

    Setelah seluruh proses administrasi dan karantina selesai, sapi dikirim melalui jalur laut menuju Pelabuhan Batu Licin, Banjarmasin, lalu dilanjutkan perjalanan darat menuju Kota Sampit.

    Setibanya di Sampit, Daeng kembali melaporkan kedatangan sapi dan kambing ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim untuk dilakukan pemeriksaan antemortem.

    ”Ini sudah dua kali petugas dari bidang peternakan datang melakukan pemeriksaan dan tidak ada kendala,” katanya.

    Untuk perawatan hewan kurban di lokasi penampungan, Daeng mengaku harus mengeluarkan biaya sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari untuk mencari pakan rumput, memberi makan dan menjaga sapi selama 24 jam dengan melibatkan 20 pekerja.

    ”Tahun ini nambah dari 14 jadi 20 penggembala bekerja 1 x 24 jam, ada disediakan dua pondok untuk tempat beristirahat,” ujarnya.

    Meski demikian, ia mengaku selama musim penjualan hewan kurban dirinya bersama para pekerja nyaris tidak memiliki waktu istirahat karena harus memastikan kondisi hewan kurban tetap sehat, diawasi 24 jam penuh, sekaligus melayani pelanggan yang datang.

    ”Maklum pekerjaan sebagai pedagang hewan kurban  lebih banyak komunikasinya lewat telepon. Jadi handphone selalu dalam genggaman. Telepon dan balas pesan dari banyak orang, kalau ada yang tidak bisa datang, kirim bukti foto kondisi sapinya. Pelanggan yang datang langsung ke lokasi juga tidak kurang perhatian, semua kami layani dengan senang hati,” tandasnya. (hgn)

  • Sentuhan Magis Kayu Ulin: Rahasia Ketangguhan Pisau Sembelih Buatan Tangan Amang I’in

    Sentuhan Magis Kayu Ulin: Rahasia Ketangguhan Pisau Sembelih Buatan Tangan Amang I’in

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Di tangan Surya Dinar, sebilah baja dingin bisa berubah menjadi instrumen yang memiliki “jiwa”. Pria yang akrab disapa Amang I’in ini bukan sekadar pembuat pisau; ia adalah seorang penghubung antara limbah industri dan kearifan material lokal. Dari ruko kecilnya di Jalan Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, lahirlah karya-karya tajam yang kini mulai melegenda hingga ke luar Pulau Kalimantan.

    Baja Serkel dan “Sepuhan” yang Presisi

    Banyak yang meragukan pisau tanpa proses tempa tradisional. Namun, Amang I’in mematahkan stigma tersebut. Dengan menggunakan baja dari mata gergaji serkel (circular saw), ia melakukan proses “penjinakan” baja melalui teknik gerinda yang presisi, pemanasan yang terukur, hingga tahap penyepuhan (tempering) yang menjadi kunci kekuatan bilah.

    Hasilnya adalah sebuah anomali ketajaman. Dalam sebuah simulasi, Amang I’in mempraktikkan bagaimana pisau sembelihnya mampu menyayat selembar kertas tanpa hambatan sedikit pun sebuah standar wajib bagi para jagal profesional yang mengedepankan kecepatan dan kebersihan potongan pada momen kurban.

    Identitas Ulin: Lebih dari Sekadar Pegangan

    Judul “Sentuhan Magis Kayu Ulin” bukanlah sekadar kiasan. Bagi Amang I’in, penggunaan kayu ulin atau kayu besi sebagai gagang adalah pembeda kasta. Kayu endemik Kalimantan ini dipilih bukan hanya karena ketahanannya terhadap cuaca dan air, tetapi juga karena genggamannya yang mantap dan beratnya yang seimbang.

    “Yang jadi pembeda itu di gagangnya pakai kayu ulin. Selain lebih kuat dan khas Kalimantan, ulin memberikan karakter tersendiri pada tiap pisau yang saya buat. Sarungnya pun saya buat dari kulit agar tetap elegan dan aman,” ungkap Amang I’in, Kamis (14/5/2026).

    Ketelitian ini membuat satu bilah pisau sembelih berukuran 25-40 cm membutuhkan waktu pengerjaan hingga satu minggu. Ia tidak ingin terburu-buru, karena baginya, setiap bilah membawa nama baik Sampit ke meja-meja pemotongan di Jawa hingga Sulawesi.

    Kisah Amang I’in adalah bukti bahwa narasi “Produk Lokal” memiliki daya pikat luar biasa jika digarap dengan integritas material. Memilih kayu ulin sebagai identitas produk adalah langkah cerdas untuk mengangkat nilai jual di mata kolektor luar daerah.

    Di saat pasar dibanjiri oleh pisau pabrikan massal dengan bahan komposit, Amang I’in bertahan dengan metode custom-made yang personal. Fakta bahwa produknya telah merambah hingga ke Palu dan Pulau Jawa menunjukkan adanya pergeseran selera konsumen: mereka tidak lagi sekadar mencari alat potong, melainkan mencari “karya seni” fungsional yang memiliki akar tradisi. Menjelang Iduladha, kesuksesan Amang I’in bukan hanya soal cuan, tapi soal pembuktian bahwa dari tangan pengrajin Sampit, lahir produk kelas nasional. (***)