Tag: IDI Kotim

  • Bukan Sekadar Sesak Napas, IDI Kotim Ungkap Bahaya Asap Karhutla bagi Janin dan Kesehatan Mental

    SAMPIT, kanalindependen.id – Lebih tiga bulan kabut asap menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menyisakan ancaman kesehatan yang jauh melampaui batuk, iritasi, dan sesak napas.

    Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kotim dr Muhamad Taufiqurrahman  memperingatkan, paparan polutan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengancam sistem pernapasan dan kesehatan jantung, tetapi juga berisiko mengganggu pertumbuhan janin, meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga memicu kelahiran prematur.

    ”Kabut asap yang dihasilkan mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan berbagai polutan berbahaya yang dapat mengganggu sistem pernapasan, kardiovaskular, kesehatan ibu dan anak, hingga masalah kesehatan mental,” kata Dokter Spesialis Paru-paru yang bertugas di RSUD dr Murjani Sampit.

    Taufiq menyebut, dampak tersebut dapat dialami oleh seluruh kelompok masyarakat, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, dan individu dengan penyakit penyerta.

    Peringatan medis ini menggema ketika Kotim masih terkurung status darurat. Pemerintah Kabupaten Kotim menetapkan tanggap darurat karhutla dan kekeringan sejak 30 Juli 2026, lalu memperpanjangnya berkali-kali.

    Perpanjangan terakhir berlaku hingga 30 Oktober akibat kondisi asap, luasan lokasi pemadaman, serta titik panas yang masih terus terpantau.

    Catatan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Sampit merekam kenyataan kusam itu lewat deretan angka yang menjebol level seribu.

    Pada 11 September, ISPU Sampit mencapai 1.142 dan tercatat sebagai yang tertinggi di Indonesia. Pagi 19 Oktober, nilai ISPU untuk PM10 menyentuh 1.270.

    Dua hari kemudian, data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat ISPU Sampit 1.502 pada pukul 08.00 WIB. Sebagai pembanding, kategori udara berbahaya dimulai dari indeks di atas 300.

    Hujan sempat turun melegakan kota sekitar sejam waktu pagi hari selama dua hari berturut pada 26-27 Oktober 2026. Pandangan yang selama ini tertutup kabut berubah lebih cerah.

    Namun, data ISPU hingga Selasa siang menunjukkan udara Sampit masih bertengger di atas ambang batas wajar dan berbahaya bagi kesehatan.

    ”Paparan kabut asap karhutla dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, sakit tenggorokan, dan sesak napas, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pada individu dengan penyakit paru sebelumnya, seperti asma, paparan asap dapat memperburuk kondisi dan meningkatkan kebutuhan penanganan medis,” ungkapnya.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim , kasus ISPA sempat menyentuh titik terendah pada 15 Oktober 2026 dengan 212 temuan pada minggu ke-11.

    Setelahnya, kurva kembali menanjak tajam hingga menembus 1.011 kasus pada minggu ke-40, sekitar akhir September dan awal Oktober, serta melampaui kisaran awal tahun yang merentang pada 628 hingga 755 kasus per minggu.

    Angka pada minggu ke-40 itu membengkak hampir lima kali lipat dari titik terendahnya. Temuan terbanyak berpusat di Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Parenggean. Sehingga, total tercatat 24.838 kasus ISPA sepanjang 2026 hingga minggu ke-41.

    Lanskap tingkat nasional pun memperlihatkan pola serupa. Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Then Suyanti dalam konferensi pers daring BNPB, Kamis (22/10/2026), memaparkan kasus ISPA kumulatif di tujuh wilayah terdampak karhutla mencapai 333.470.

    Sebanyak 75.172 kasus di antaranya mendera balita. Artinya, sekitar 22,5 persen kasus dialami anak di bawah lima tahun. Laporan Kemenkes per 20 Oktober turut menempatkan Kalimantan Tengah sebagai provinsi dengan kasus pneumonia tertinggi, yakni 1.400 kasus.

    Ancaman ini tidak berhenti setelah melewati paru-paru. Kemenkes melalui akun Instagram resminya, Rabu (14/10/2026), membedah bahwa asap karhutla mengandung PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun.

    Kondisi ini dapat memperburuk asma dan PPOK, sekaligus menaikkan risiko penyakit jantung dan stroke.

    Rincian tersebut memperkuat rangkuman IDI Kotim yang menyebut polutan asap dapat mengganggu sistem kardiovaskular.

    Hidung warga juga tidak luput dari serangan. ”Paparan kabut asap dapat mengiritasi mukosa hidung dan memperburuk keluhan rinitis alergi maupun rinitis nonalergi atau vasomotor. Gejala yang sering muncul meliputi hidung tersumbat, keluarnya cairan hidung yang jernih, dan bersin berulang,” ujarnya.

    Napas pendek generasi muda IDI Kotim memberikan catatan khusus bagi anak-anak sebagai populasi dengan kerentanan berlapis.

    ”Anak-anak merupakan kelompok rentan terhadap paparan asap karhutla karena sistem pernapasan dan kekebalan tubuh mereka masih berkembang,” ujarnya.

    Dampak yang dapat terjadi meliputi ISPA, iritasi mata dan saluran pernapasan, serangan asma, serta perburukan penyakit paru kronis. Anak dengan penyakit jantung bawaan dan gangguan paru tertentu juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

    Ribuan jiwa muda di Kotim hidup di bawah bayang-bayang risiko ini. Profil Kesehatan Kotim yang disusun Dinkes mencatat penduduk usia 0 sampai 14 tahun pada 2023 mencapai 114.328 jiwa, yang di dalamnya termasuk 38.293 sasaran balita.

    Penjelasan serupa diutarakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada akhir September. Lembaga tersebut mencatat bahwa anak menghirup lebih banyak udara jika dibandingkan dengan proporsi berat badannya.

    Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI Wahyuni Indawati menyebut PM2.5 dari asap kebakaran hutan bisa hingga sepuluh kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain, karena komposisi kimianya lebih memicu oksidasi dan peradangan.

    Pernyataan ini memiliki pijakan kuat dari riset di Amerika Serikat. Studi yang terbit di jurnal Pediatrics pada 2021 menelaah lebih dari 170.000 kunjungan gawat darurat dan perawatan mendesak akibat keluhan pernapasan anak di jaringan Rady Children’s Hospital, San Diego, sepanjang 2011 hingga 2017.

    Tim pimpinan Rosana Aguilera menyimpulkan partikel halus dari asap kebakaran hutan sekitar sepuluh kali lebih merusak kesehatan paru anak prasekolah dibanding partikel seukuran dari sumber lain.

    Mengenai upaya perlindungan mandiri, IDI Kotim menulis, “Masker yang sesuai dapat digunakan oleh anak yang mampu memakainya dengan aman, disertai pengawasan orang dewasa.”

    Batasan usia yang lebih spesifik datang dari Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso pada pertengahan Oktober. Ia mengingatkan masker tidak dianjurkan bagi bayi dan balita di bawah dua tahun.

    Untuk usia sekecil ini, Kemenkes menyarankan perlindungan dengan jalan mengurangi paparan asap secara fisik dan berharap orang tua bisa menyediakan ruang aman atau ruang bersih udara di dalam rumah.

    ”Obat rutin bagi anak dengan penyakit kronis perlu dipastikan tersedia. Pertolongan medis harus segera diberikan apabila anak mengalami kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, atau tidak mampu makan dan minum,” sarannya.

    Kemenkes juga mengeluarkan rambu bahaya yang selaras. Apabila anak sesak napas, bernapas cepat, atau sulit menyusu dan minum, keluarga diimbau segera melarikannya ke fasilitas kesehatan.

    ”Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada ibu hamil, seperti iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, dan perburukan penyakit asma maupun penyakit jantung dan paru. Paparan polusi udara juga dikaitkan dengan peningkatan risiko berat badan lahir rendah, gangguan pertumbuhan janin, dan kelahiran prematur,” katanya.

    Berbagai literatur medis lintas benua menguatkan analisis tersebut. Sebuah tinjauan sistematis yang menghimpun delapan studi dari empat negara dengan melibatkan 1.702.252 kelahiran, memperlihatkan adanya bukti bahwa paparan kebakaran hutan selama kehamilan, terutama di masa akhir, berkaitan dengan berkurangnya berat lahir dan kelahiran prematur.

    Tinjauan yang lebih besar terbit di jurnal Environmental Research pada 2024, mengulas 31 studi yang menemukan bukti mengarah pada risiko berat lahir lebih rendah, bayi berat lahir rendah, dan kelahiran prematur.

    Peringatan IDI menyangkut karbon monoksida ini lahir dari riset yang bersinggungan langsung dengan tanah Kalimantan. Saat kebakaran besar 2015 melanda, tim peneliti gabungan Indonesia dan Amerika Serikat mengambil sampel asap dari lahan gambut yang terbakar di Kabupaten Pulang Pisau.

    Studi yang dipublikasikan jurnal Atmospheric Chemistry and Physics itu menemukan kebakaran gambut nyaris sepenuhnya berupa pembakaran membara, dengan emisi karbon monoksida sekitar 291 gram untuk setiap kilogram bahan yang terbakar.

    Ketika temuan ini dirilis pada 2016, Bambang Hero Saharjo dari IPB selaku salah satu peneliti mengingatkan gas-gas tersebut dapat membahayakan manusia, terutama ibu hamil.

    Gambut juga berakar kuat dalam persoalan krisis udara di Sampit. Bupati Kotim Halikinnor mengingatkan wilayahnya merupakan daerah hamparan gambut, sehingga curah hujan yang sedikit pun bisa memunculkan kembali kepulan asap.

    Indonesia menanggung riwayat getir perihal dampak polusi udara terhadap anak yang belum lahir. Ekonom Seema Jayachandran melalui Journal of Human Resources (2009) membedah data kebakaran hutan 1997.

    Ia menemukan krisis udara berujung pada 15.600 anak yang “hilang” dalam Sensus Penduduk 2000, atau sekitar 1,2 persen dari kelompok kelahiran terdampak. Paparan sebelum masa kelahiran menjadi pendorong utama temuan itu, dengan pukulan dampak yang jauh lebih besar mendera daerah miskin.

    Luka udara itu pun membekas panjang pada pertumbuhan fisik anak yang bertahan hidup. Penelitian Maria Rosales-Rueda dan Margaret Triyana di jurnal yang sama mendapati anak yang terpapar asap 1997, tiga tahun kemudian rata-rata tumbuh lebih pendek dan sepuluh tahun kemudian kapasitas parunya lebih rendah. Anak yang menghirup polusi saat masih di dalam kandungan tetap lebih pendek pada usia 10 dan 17 tahun pascapaparan.

    Para peneliti menemukan indikasi bahwa jejak jangka panjang itu berkaitan dengan memburuknya kesehatan pernapasan ibu hamil selama kebakaran terjadi. Temuan empiris ini berpaut kuat dengan peringatan IDI Kotim mengenai ancaman gangguan pernapasan pada ibu hamil.

    Skala kehamilan di Kotim tidaklah sedikit. Profil Kesehatan Kotim mencatat ada 8.314 ibu bersalin sepanjang 2023. Dengan jumlah persalinan sebesar itu, ada ribuan kehamilan di Kotim yang terpaksa melewati pekatnya musim asap tahun ini.

    IDI Kotim turut menyentuh kesehatan reproduksi dengan sangat berhati-hati. ”Selain itu, polusi udara berpotensi memengaruhi proses biologis yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan, meskipun bukti khusus mengenai dampak asap karhutla terhadap kesuburan masih terbatas,” ungkapnya.

    Bagi keluarga yang tengah menanti kelahiran, rangkuman ini menggarisbawahi rambu bahaya yang tak boleh diabaikan.

    ”Ibu hamil perlu segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, perdarahan, kontraksi sebelum waktunya, atau penurunan gerakan janin,” ujarnya.

    Lelah Psikis di Bawah Langit Kelabu

    Langit yang terus menyajikan pemandangan muram rupanya ikut menguji ketahanan mental penghuninya. IDI Kotim mencatat krisis udara berbulan-bulan ini dapat memengaruhi kondisi psikologis warga.

    ”Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Kondisi kabut asap, keterbatasan aktivitas, kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga, dan gangguan kehidupan sehari-hari dapat menimbulkan kecemasan, stres, kelelahan, serta kepanikan,” ujarnya.

    Pemantauan lapangan sejalan dengan pandangan tersebut. Ketika krisis kebakaran hutan Indonesia menerbangkan asap ke negara tetangga, sebuah studi di jurnal BMC Psychiatry mensurvei 298 responden selama periode 21 hingga 26 Juni 2013.

    Mereka rata-rata melaporkan empat gejala fisik, dan krisis asap berkaitan dengan gejala fisik akut serta stres psikologis ringan. Survei membuktikan bahwa jumlah gejala fisik serta persepsi tingkat bahaya polusi berkaitan dengan tingkat stres seseorang.

    Riset Massachusetts Institute of Technology pada 2024 juga mengukur sentimen publik via media sosial: asap kebakaran hutan di Asia Tenggara pada 2019 menurunkan suasana hati warga secara drastis.

    Menghadapi tekanan batin itu, IDI Kotim menyarankan sejumlah langkah untuk menjaga kewarasan. “Masyarakat dianjurkan mempertahankan rutinitas sehari-hari, mencukupi waktu istirahat, melakukan latihan pernapasan secara perlahan, dan berbagi perasaan dengan keluarga atau orang yang dipercaya. Dukungan emosional dari keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan juga berperan penting dalam membantu individu menghadapi situasi karhutla,” ujarnya.

    Mencari Pertolongan dari Kepungan Asap

    Demi melindungi diri, IDI Kotim menekankan pencegahan sedini mungkin dari masuknya udara beracun.

    ”Upaya pencegahan meliputi penggunaan masker respirator yang sesuai, pembatasan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara buruk, pemantauan indeks kualitas udara, serta menjaga kebersihan dan kualitas udara di dalam rumah. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan penyaring udara HEPA jika tersedia,” katanya.

    Sementara untuk meredakan keluhan hidung, mereka menganjurkan pencucian rongga hidung memakai larutan saline steril atau racikan yang disiapkan menggunakan air bersih dan aman.

    ”Apabila keluhan menetap atau semakin berat, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” sarannya.

    Warga yang memerlukan bantuan medis bisa menyambangi fasilitas pemerintah daerah.

    Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi pada Kamis (15/10/2026) lalu, juga memastikan pihaknya telah menyiagakan layanan 24 jam, lengkap dengan pasokan oksigen, obat-obatan, tenaga kesehatan, hingga pendirian rumah oksigen.

    Pasien yang berstatus gawat akan langsung dirujuk ke rumah sakit. Hingga pernyataan itu keluar, belum ada laporan jatuhnya korban jiwa akibat krisis asap.

    Sepekan berselang, Dinkes Kotim kembali bergerak dengan menerjunkan dua unit ambulans keliling berfasilitas oksigen untuk menjemput warga.

    Kehadiran kendaraan ini melengkapi ketersediaan tabung oksigen yang bersiaga di puskesmas, puskesmas pembantu, dan Public Safety Center. Warga dapat mengakses pertolongan dengan memutar nomor 119.

    IDI Kotim menutup bedah kasusnya dengan seruan untuk merapatkan barisan.

    Karhutla merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan secara menyeluruh dan lintas disiplin.

    Dari perspektif spesialis paru, kesehatan anak, kebidanan dan kandungan, kedokteran jiwa, serta THT, paparan kabut asap dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dengan tingkat risiko yang berbeda pada setiap kelompok masyarakat.

    Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui pemantauan kualitas udara, pengurangan paparan asap, penggunaan masker yang sesuai, perlindungan kelompok rentan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

    Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi dampak karhutla terhadap kesehatan.

    ”Melindungi kesehatan masyarakat dari dampak karhutla bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” (hgn/ign)