Tag: inflasi pangan

  • Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu, Ikan Nila Ikut Melambung hingga Rp65 Ribu

    Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu, Ikan Nila Ikut Melambung hingga Rp65 Ribu

    SAMPIT, kanalindependen.id – Harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Tradisional Sampit, kembali mengalami fluktuatif.

    Cabai rawit menjadi salah satu komoditas dengan kenaikan paling mencolok karena harganya kini menembus Rp100 ribu per kilogram, sementara ikan nila segar ikut melambung hingga Rp65 ribu per kilogram.

    Kenaikan harga cabai rawit disebut pedagang sudah berlangsung sekitar sebulan. Hal ini terjadi karena  berkurangnya pasokan yang masuk ke Sampit, terutama kiriman dari Jawa dan Banjarmasin.

    ”Harga cabai masih tinggi Rp100 ribu per kilogram, kalau beli banyak bisa saja saya diskon Rp95 ribu per kilogram,” kata Dewi Ayu Putri Kasiyani, Pedagang di Pasar Al Kamal, Senin (21/9/2026).

    Dewi menduga berkurangnya pasokan tidak terlepas dari kondisi cuaca selama musim kemarau. Kekeringan membuat media tanam petani kekurangan air sehingga berdampak terhadap produksi dan jumlah cabai yang dapat dipanen.

    ”Harga cabai sudah sebulanan belum bisa turun, sepertinya karena faktor kekeringan selama musim kemarau, produksi panen berkurang, otomatis pasokan ke daerah-daerah juga berkurang,” ujarnya.

    Untuk menjaga ketersediaan barang, Dewi tidak hanya mengandalkan satu daerah pemasok. Cabai yang dijualnya ada yang dari hasil petani di Tanjung, Kalimantan Selatan, kiriman dari Pulau Jawa hingga cabai lokal dari petani Kotabesi.

    ”Saya jual kadang cabai dari Tanjung, ada juga yang cabai kiriman dari Jawa dan kadang jual juga cabai lokal dari petani Kotabesi, yang penting barang tersedia bisa jualan,” ujarnya.

    Tekanan harga bahkan sempat lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini. Dewi menyebut harga cabai rawit sempat mencapai Rp200 ribu per kilogram setelah terjadi insiden tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 yang melayani rute Surabaya menuju Banjarmasin di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu (13/9/2026).

    ”Sejak kejadian kapal tenggelam seminggu yang lalu itu, harga cabai ada yang jual sampai Rp200 ribu per kilogram, kalau saya gak sampai jual segitu, karena pasokan masih ada walau terbatas saya masih jual Rp100 ribu per kilogram, kasihan juga sama pelanggan setia yang sudah biasa beli sama saya,” ujarnya.

    Meski cabai rawit masih tinggi, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga bawang merah justru turun dan kini berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp38-40 ribu per kilogram.

    Harga tersebut relatif sama dengan bawang putih yang masih stabil di kisaran Rp30-35 ribu per kilogram.

    ”Harga bawang merah Purbolinggo ini sudah lama turunnya, ada sekitar tiga bulan lalu. Ada juga yang jual Rp30 ribu, ukurannya agak kecil-kecil,” ujar Dewi.

    Sebaliknya, sejumlah sayuran mulai mengalami kenaikan. Tomat yang biasanya dijual Rp10-15 ribu per kilogram kini mencapai Rp18 ribu per kilogram.

    Kenaikan juga terjadi pada manisa yang bergerak dari Rp13-15 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram.

    Terong naik dari Rp18-20 ribu menjadi Rp22-23 ribu per kilogram, sedangkan timun yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu kini berada di kisaran Rp18-30 ribu per kilogram.

    ”Tomat sudah naik dua hari lalu, Manisa juga naik dari Rp13-15 ribu jadi Rp18 ribu, terong juga naik dari harga Rp18-20 ribu per kg, jadi Rp22-23 per kilogram dan timun juga naik dari Rp10 ribu jadi Rp18-30 ribu per kilogram,” ujarnya.

    Kenaikan harga juga terjadi pada ayam potong. Dari harga normal sekitar Rp33-35 ribu per kilogram, kini ayam dijual pada kisaran Rp37-38 ribu per kilogram.

    ”Ayam kotor Rp37 ribu, kalau ayam broiler bersih Rp38 ribu per kilogram,” ucap pedagang lain.

    Komoditas lain yang mengalami kenaikan cukup terasa adalah ikan nila segar. Harganya yang sebelumnya berada di kisaran Rp45-55 ribu per kilogram, kini terpantau mencapai Rp63-65 ribu per kilogram.

    Kenaikan tersebut turut dirasakan pedagang makanan yang menggunakan nila sebagai salah satu bahan utama menu jualannya.

    Maryam, pedagang Lalapan Warung Suramadu, mengatakan tingginya harga ikan membuat dirinya harus mengurangi jumlah pembelian.

    ”Sudah setengah bulan lebih ini, harga nila naiknya kebangetan. Saya sampai gak beli, tapi karena kasihan sama pelanggan yang nyari, saya beli sedikit saja, karena harga ikan segarnya saja sudah naik, terpaksa harga nila goreng lalapan juga saya naikan,” ujar Maryam.

    Maryam terpaksa menyesuaikan harga menu nila goreng lalapan yang sebelumnya dijual Rp23 ribu, sudah termasuk nasi. Kini harga jualnya menjadi Rp30 ribu.

    ”Sudah seminggu lebih ini saya jual Rp30 ribu. Sebelum pesan, saya kasih tahu dulu ke pelanggan, kalau harganya naik, jadi bagi yang mau-mau aja, nyetok juga gak banyak,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Selisih Harga Telur di Sampit Capai Rp50 Ribu: Peternak Lokal Merugi, Konsumen Tetap Beli Mahal

    Selisih Harga Telur di Sampit Capai Rp50 Ribu: Peternak Lokal Merugi, Konsumen Tetap Beli Mahal

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tiga puluh tujuh peternak ayam petelur lokal di Kotawaringin Timur (Kotim) tengah menghadapi situasi pelik.

    Selama tiga bulan terakhir, harga telur dari kandang mereka anjlok tajam, bertepatan dengan melambungnya harga pakan.

    Ironisnya, konsumen pasar tradisional Sampit tidak merasakan kelonggaran harga tersebut.

    Selisih margin yang menguap di jalur distribusi ini mendorong pemerintah daerah turun tangan.

    Wakil Bupati Kotim Irawati bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) meninjau empat lokasi distributor dan agen telur ayam ras di Sampit pada Senin (29/6/2026).

    Inspeksi mendadak ini merespons keluhan Aliansi Peternak Ayam Petelur Lokal Kotim sehari sebelumnya.

    Irawati mengatakan sasaran utama peninjauan adalah menelusuri titik distribusi yang menekan produsen lokal sekaligus membebani pembeli akhir.

    Temuan lapangan memperlihatkan mekanisme pembentukan harga.

    Irawati mencontohkan selisih harga dari hasil peninjauannya. Apabila distributor menjual telur sekitar Rp22.000 per kilogram kepada agen, peternak lokal terpaksa menjual sekitar Rp24.000 per kilogram, bahkan harga tingkat peternak bisa jatuh hingga sekitar Rp20.000 per kilogram.

    Angka ini, menurut Irawati, tertinggal jauh dari acuan yang disebutnya berkisar Rp26.500 hingga Rp30.000 per kilogram.

    ”Harga di distributor turun, tetapi belum berdampak kepada konsumen. Itu yang nanti akan kita awasi bersama. Agen juga harus menjual sesuai standar harga yang nantinya disepakati,” tegas Irawati.

    Kapasitas produksi menjadi sorotan tersendiri. Populasi ayam petelur se-Kalimantan Tengah tercatat baru mencapai 500 ribu ekor, sementara Irawati menyebut satu distributor raksasa bisa memiliki hingga dua juta ekor ayam.

    ”Kita tidak ingin saling menyalahkan. Yang ingin dilakukan pemerintah daerah adalah melindungi peternak ayam petelur lokal agar tetap bisa bertahan. Kalau mereka sampai gulung tikar, kita akan bergantung pada pasokan dari luar daerah dan itu bisa memicu inflasi,” kata Irawati.

    Usai peninjauan lapangan, Pemerintah Kabupaten Kotim berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD, distributor, agen, dan peternak untuk menetapkan harga acuan lokal.

    ”Aturan nasional mengenai HAP, perlu disesuaikan kembali mengingat perbedaan nilai uang dan kondisi wilayah Kalimantan Tengah,” tegasnya.

    Habib, seorang supervisor distributor Toko Perdagangan Telur Segar SJS Jalan DI Panjaitan yang mendatangkan telur dari Jawa, membeberkan patokan harga untuk agen-agennya kepada wartawan.

    “Itu agen-agen di sini dibuat harganya setara. Maksudnya dibuat harga 26.500, nanti dibuatkan HPP per kilonya,” kata Habib.

    Harga jual gudangnya hari itu dijual Rp245.000 per ikat isi enam krat, dengan berat satu ikat sekitar 10 hingga 11 kilogram. Kalkulasi tersebut memunculkan angka jual sekitar Rp24.000 hingga Rp24.500 per kilogram.

    Penurunan ini terpantau terjadi selama tiga bulan dan merosot tajam selama sepekan terakhir guna memenuhi permintaan pasar Sampit yang mencapai sekitar 2.000 ikat setiap bulan.

    ”Kalau biasanya kan di atas, rata-rata 300-an lah. Ini kan pas harga telur murah,” ucap Habib merujuk harga normal per ikat.

    Di lain tempat, Pedagang di Toko Hendry Telor Jalan Iskandar mengaku menjual harga telur ayam ras Rp 270 ribu per ikat atau Rp 27.000 per kg.

    ”Kalau kami mendukung saja sesuai ketentuan pemerintah. Tentukan saja acuan harganya, kami ngikut saja,” kata Hendry yang merespons baik kedatangan Wabup Kotim.

    Tri, Pedagang Toko Bilal 2 di Jalan Sukabumi Barat sebagai salah satu agen telur mengatakan, menjual harga sesuai dengan harga distributor Toko SJS tempat dia memesan telur.

    ”Saat ini kami jual harga sama saja jualnya dengan harga distributor. Kecuali, harga beli Rp 250 ribu per ikat, esoknya turun Rp 245 ribu, saya tetap jual telur nyesuaikan harga sebelumnya,” ujar Tri.

    Tri mengaku dulu dirinya menjual telur dari peternak ayam petelur lokal, namun dikarenakan harganya tidak bisa mengikuti harga telur dari Jawa sehingga pemesanan telur lebih banyak dari distributor telur dari Jawa.

    ”Order telur ke distributor dua hari sekali 110 ikat. Karena, per 110 ikat ada potongan harga Rp 9.000 per ikat. Kalau telur lokal 100 ikat beli seminggu yang lalu Rp 290 ribu, ini masih belum habis. Dulu  telur peternal lokal masih murah, sekarang gak bisa ngikutin harga pasaran, jadi kami lebih banyak ambil telur dari Jawa,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim, Arif Rahman Hakim, menyebut ketergantungan pasokan dari Jawa sangat memengaruhi harga di Kotim.

    Dia merinci kejatuhan harga di tingkat peternak dari sebelumnya Rp320.000–Rp330.000 menjadi Rp255.000 per ikat. Beban bertambah berat karena harga pakan melonjak dari Rp385.000 menjadi Rp425.000 per sak.

    ”Biaya produksi meningkat, berbanding terbalik dengan harga telur yang turun drastis. Itu yang membuat kami mengeluhkan nasib kami ke Pemda,” kata Arif.

    Populasi ayam petelur lokal di Kotim sejauh ini hanya mampu memenuhi 15 hingga 20 persen total kebutuhan masyarakat.

    Arif mengungkap ada selisih harga sekitar Rp50.000 per ikat antara distributor besar dengan peternak lokal akibat perbedaan skala produksi.

    ”Kalau kami menjual dengan harga tinggi per ikat, agen tidak mau beli,” ujar Arif mengungkap alasan peternak terpaksa mengikuti harga distributor meski berujung rugi.

    Keluhan lainnya, kejatuhan harga tingkat distributor dan peternak tidak mengalir ke ujung rantai konsumsi.

    ”Beberapa waktu lalu kami melakukan pengecekan di pasar. Ternyata masyarakat tidak menikmati penurunan harga ini karena di pasar tetap mahal,” tambah Arif.

    Benang Kusut Rantai Pasok Nasional

    Persoalan harga di daerah terjadi bersamaan dengan fluktuasi tingkat nasional. Catatan pemantauan Bapanas memperlihatkan tren harga telur ayam ras nasional merosot dari Rp27.236 (Maret 2026), menjadi Rp25.719 (April), Rp24.688 (Mei), hingga menyentuh Rp24.424 per kilogram pada awal Juni 2026.

    Langkah penertiban harga secara nasional telah diinstruksikan melalui surat resmi bernomor 285/TS.02.02/K/06/2026 tertanggal 9 Juni 2026.

    Menteri Pertanian yang juga Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menyurati Kepala Satuan Tugas Pangan Polri guna meminta pengawasan dan penindakan tegas jika ditemukan harga yang menyalahi aturan.

    Aturan baku yang menjadi dasar penindakan tersebut adalah Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 329 Tahun 2024.

    Dokumen resmi ini mematok Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen sebesar Rp26.500 per kilogram, serta harga acuan penjualan di tingkat konsumen sebesar Rp30.000 per kilogram.

    ”Kami meminta kepada seluruh pengumpul dan pembeli telur, HAP-nya adalah Rp26.500 per kilo,” ujar Amran, yang pelaksanaannya secara resmi telah diserahkan kepada kepolisian.

    Pada hari yang sama dengan sidak di Kotim, ratusan peternak dari Paguyuban Ternak Rakyat Indonesia (PATERAIN) menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur.

    Isbandi, peternak asal Bojonegoro, mengungkap harga tingkat kandang telah menyentuh Rp16.000 per kilogram, jauh di bawah banderol normal Rp22.000–Rp24.000.

    ”Per kilogramnya kami rugi Rp7 ribu, setiap hari rata-rata panen telur itu 57-60 kilogram, kami rugi bisa sampai Rp400 ribu,” beber Isbandi.

    Anggota DPR RI Sonny Danaparamita turut menyoroti penegakan HAP seusai menerima audiensi Asosiasi Peternak Unggas Maju Makmur di Banyuwangi, Senin (22/6/2026).

    Dia menerima keluhan soal implementasi Surat Edaran Badan Gizi Nasional (BGN) Nomor SE/01/06/V/2026 terkait penyerapan telur lokal dan ketetapan HAP.

    ”Surat Edaran terkait ketetapan HAP yang dikeluarkan oleh BGN dan dikawal Satgas Pangan Polri itu hanya semacam macan ompong saja,” kritik Sonny.

    Persoalan rantai distribusi pangan ini sebelumnya sempat dibongkar Amran Sulaiman dalam forum di Karawang pada 23 April 2026.

    Amran mengungkap adanya penguasaan keuntungan oleh pihak perantara (middleman) di setiap lapisan distribusi pangan, mulai dari pengumpul hingga pengecer.

    ”Di middleman ini, untungnya bisa 10 persen, 20 persen, 30 persen,” kata Amran mengestimasi potensi kerugian ekonomi sistem ini mencapai Rp313 triliun secara nasional.

    Terkait dominasi pasar, Amran dalam rangkaian kegiatan pada April 2026 turut membeberkan fakta lain.

    Dia menyebut sekitar 70 persen industri ayam dan telur dalam negeri dikuasai oleh dua perusahaan besar, dengan perputaran uang yang dikantongi dua perusahaan itu menyentuh angka sekitar Rp380 triliun hingga Rp400 triliun.

    Fakta dominasi hulu ini selaras dengan data Asosiasi Produsen Pakan Ternak Indonesia (APPTI) 2023 yang mencatat Charoen Pokphand Indonesia dan Japfa Comfeed Indonesia menguasai lebih dari 60 persen pangsa pasar pakan dan anak ayam (DOC) nasional.

    Sektor ini berkontribusi langsung pada biaya produksi peternak melalui harga pakan.

    Pemerintah pusat melalui Bapanas masih menyusun pemetaan riil tata niaga komoditas ini.

    Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan pencarian data jalur distribusi tengah berproses.

    ”Selama ini hulu kita tata, hilir kita tata, nah tengah-tengahnya ini juga kita cari datanya. Tentu kami sudah meminta tadi dengan teman-teman data-data distributor mereka,” jelas Ketut pada 12 Mei 2026 lalu.

    Hasil RDP di Sampit nantinya akan menjadi pedoman penentuan harga acuan penjualan telur ayam ras di Kotim, sekaligus bahan penyusunan skema pengawasan bersama Satgas Pangan Polres Kotim. (hgn/ign)