Tag: Intrusi Air Laut

  • Kopi Asin Hingga Sumur Mati: Ketika Sumber Air Tak Lagi Bisa Diandalkan, 4.000 Liter Air TNI Diserbu Warga Ketapang

    Kopi Asin Hingga Sumur Mati: Ketika Sumber Air Tak Lagi Bisa Diandalkan, 4.000 Liter Air TNI Diserbu Warga Ketapang

    SAMPIT, Kanalindependen.Id – Lumpuhnya pasokan air tawar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) telah memasuki fase paling darurat. Ketika sumber air tak lagi bisa diandalkan, ratusan warga di kawasan Jalan Bumi Ayu, RT 26 RW 07, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), terpaksa mengular antre demi menyegel pasokan air bersih gratis, Selasa (20/10/2026).

    Membawa galon, jeriken, hingga mengangkutnya menggunakan gerobak dan sepeda motor, warga memadati armada pemadam kebakaran Kodim 1015/Sampit yang mendistribusikan 4.000 liter air bersih.

    Krisis ini berlipat ganda karena sumur-sumur bor warga telah mengering total akibat kemarau panjang, sementara air ledeng Perumdam Tirta Mentaya dan pasokan depo isi ulang berubah rasa menjadi asin akibat intrusi air laut yang kian parah di Sungai Mentaya.

    Rahmad, salah seorang warga Bumi Ayu, meluapkan kejengkolannya saat mendapati air tawar konsumsi harian keluarganya terkontaminasi garam.

    “Sangat terbantu. Enggak cuma air ledeng yang asin, air beli di depo isi ulang pun enggak enak. Sampai-sampai bikin kopi kok rasanya aneh,” keluh Rahmat,  di lokasi pembagian air Kodim 1015/Sampit, Selasa (20/10/2026).

    Ketua RT 26 RW 07 Kelurahan Ketapang, Bahrul Maji, menegaskan bahwa bantuan 4.000 liter dari TNI Kodim 1015/Sampit sangat krusial untuk menyelamatkan kebutuhan sanitasi dasar dan konsumsi mendesak warga.

    Guna mengantisipasi krisis air yang diprediksi bertahan hingga pertengahan November 2026, pihak RT berencana mengusulkan penyediaan tandon air komunal di setiap komplek pemukiman agar bantuan air dapat ditampung dan didistribusikan secara merata.

    “Ini upaya membantu masyarakat yang krisis air bersih. Air ledeng terasa payau dan cenderung asin, sementara air sumur bor warga sudah mengering. Nanti akan kami agendakan setiap komplek menyediakan satu tandon siap tampung,” terang Bahrul Maji.

    Fenomena “kopi rasa asin” dan matinya sumur bor warga merupakan bukti sah gagalnya penjaminan mutu air minum oleh Perumdam Tirta Mentaya dan Pemkab Kotim. Ketika sumber air tak lagi bisa diandalkan, membiarkan warga bergantung pada aksi sosial institusi militer tanpa ada pemulihan sistemik adalah bentuk pembiaran krisis.

    Pemkab Kotim dan Perumdam Tirta Mentaya didesak menerbitkan Kebijakan Pembebasan Tagihan (free of charge) atau pemotongan tarif kompensasi bagi warga di Mentawa Baru Ketapang dan Baamang yang menerima air leting asin berpolusi.

    BPBD Kotim dan Perumdam hendaknya menyusun jadwal pengiriman tangki air secara terstruktur ke titik-titik pemukiman rawan air asin, serta memfasilitasi pengadaan tandon darurat komunal di tiap RW. (***)

  • Belum Usai Racun Asap, Kini Racun Air: Kasus Diare Anak di Sampit Meledak!

    Belum Usai Racun Asap, Kini Racun Air: Kasus Diare Anak di Sampit Meledak!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Penderitaan warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) seolah tak bertepi. Belum usai berjuang melawan cengkeraman racun kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kesehatan baru kini mengintai keselamatan generasi muda. Kasus diare, terutama yang menyerang kelompok anak-anak dan balita, dilaporkan meledak hingga 25–30 persen dibandingkan kondisi normal akibat krisis air bersih dan lonjakan salinitas intrusi air laut yang mencemari sumber air warga.

    Kondisi darurat sanitasi lingkungan ini memicu sidik lapangan langsung oleh Bupati Kotim Halikinnor, saat meninjau kesiapan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani Sampit, Kamis (15/10/2026).

    Anak-anak menjadi kelompok paling rentan (high-risk group) yang harus menanggung dampak fatal akibat terpaksa mengonsumsi atau menggunakan air berpolusi dan payau untuk kebutuhan harian.

    “Yang mengalami peningkatan sekarang justru kasus diare, khususnya pada anak-anak. Kondisi air di daerah kita yang sudah terdampak intrusi air laut juga perlu diperhatikan karena air tersebut dikonsumsi masyarakat,” tegas Bupati Kotim Halikinnor usai mengecek ruang perawatan anak di RSUD dr. Murjani Sampit.

    RSUD dr Murjani Siaga Lonjakan Pasien, Pemkab Bergantung Pada Hujan

    Guna mengantisipasi kolapsnya fasilitas kesehatan jika terjadi lonjakan pasien dalam jumlah besar, manajemen RSUD dr. Murjani Sampit diperintahkan menyiagakan ruangan perawatan khusus, ketersediaan cairan infus, serta penebalan personel tenaga medis dan perawat.

    Sementara itu, untuk kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap karhutla yang tidak membutuhkan rawat inap, penanganannya difokuskan melalui puskesmas di wilayah masing-masing guna mengurai penumpukan pasien di rumah sakit rujukan utama.

    Di sisi lain, harapan Pemkab Kotim untuk menyapu bersih sisa kabut asap dan menetralkan racun air asin kini bergantung penuh pada keajaiban cuaca. Hujan dilaporkan mulai turun di kawasan utara Kotim, namun belum merata menyiram wilayah perkotaan Sampit.

    Meledaknya kasus diare anak hingga 30 persen di tengah krisis intrusi air laut Baamang dan karhutla merupakan bukti sah gagalnya penanganan mitigasi krisis air bersih oleh Pemkab Kotim dan Perumdam Tirta Mentaya. Hanya menyiapkan kasur rumah sakit tanpa menghentikan sumber penularan di tingkat hilir (pasokan air bersih) adalah strategi pemadam kebakaran yang amat berbahaya.

    Dinas Kesehatan Kotim bersama Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) dituntut segera melakukan uji sampel mikrobiologi dan kadar garam air sungai/PDAM secara transparan. Pemkab wajib menyuplai tangki air bersih steril secara gratis ke pemukiman padat penduduk guna memutus mata rantai penularan diare pada balita.

    Dinkes Kotim didesak menyebarkan instruksi bahaya penggunaan air payau/asin untuk merebus makanan atau susu formula anak. Seluruh puskesmas di Kotim wajib menjamin ketersediaan ORS (oralit) dan suplemen Zinc gratis bagi keluarga terdampak.

    Usai racun asap, kini racun air! Kasus diare anak di Sampit meledak hingga 30 persen . Bupati Halikinnor sidak RSUD dr Murjani Sampit! Dampak intrusi air laut racuni sanitasi warga, Pemkab & Perumdam didesak bagi tangki air bersih gratis sebelum jatuh korban jiwa! (***)

  • Sudah Tercekik Asap, Warga Sampit Kini Dipaksa Minum Air Asin: Intrusi Laut Tembus Baamang

    Sudah Tercekik Asap, Warga Sampit Kini Dipaksa Minum Air Asin: Intrusi Laut Tembus Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menderita di bawah cengkeraman racun asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum cukup bagi warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kini, masyarakat Kota Sampit dan sekitarnya dihadapkan pada penderitaan ganda: rusaknya sumber air bersih akibat lonjakan kadar garam (salinitas) Sungai Mentaya. Lidah intrusi air laut yang kian menyorok jauh ke hulu resmi menembus wilayah Kecamatan Baamang, Rabu (14/10/2026).

    Kondisi darurat ini memaksa Perumdam Tirta Mentaya Kotim merilis imbauan agar warga di lima kecamatan terdampak menghentikan total penggunaan air leting/PDAM untuk kebutuhan minum dan memasak.

    Kecamatan Baamang menjadi wilayah terbaru yang terjangkit racun air asin setelah sebelumnya melumpuhkan pasokan air bersih di Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Seranau, dan Mentawa Baru Ketapang.

    Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Kotim  Edy Dyufriadi, membeberkan bahwa air baku di Intake Tanah Mas, Kecamatan Baamang, telah berubah rasa menjadi payau akibat kemarau ekstrem yang mengeringkan debit air tawar dari daratan.

    “Sehubungan dengan kondisi musim kemarau yang menyebabkan terjadinya intrusi air laut dan peningkatan kadar salinitas, air baku Sungai Mentaya di Intake Tanah Mas mulai terasa payau. Pelanggan di lima kecamatan diimbau tidak menggunakan air distribusi untuk minum maupun memasak, dan sementara ini hanya diperuntukkan bagi kebutuhan MCK,” tegas Edy Dyufriadi, Rabu (14/10/2026).

    Debit Anjlok 50 Liter per Detik dan Penyaluran Bantuan Digeser ke Kota Besi

    Dampak mengganasnya intrusi air laut ini tidak hanya merusak cita rasa air baku, tetapi juga memangkas kemampuan produksi Perumdam Tirta Mentaya. Debit air baku dilaporkan merosot drastis antara 40 hingga 50 liter per detik, yang mengakibatkan gangguan tekanan dan penurunan volume distribusi di zona pelayanan Baamang dan Ketapang.

    Meski demikian, Perumdam memilih tetap mengoperasikan pompa distribusi agar kebutuhan mendasar MCK (mandi, cuci, kakus) masyarakat tidak terhenti total. Sebagai langkah darurat, titik pengisian tangki bantuan air bersih layak minum terpaksa digeser dari Baamang ke Kecamatan Kota Besi yang pasokannya dinilai masih aman.

    Namun, Perumdam memperingatkan zona aman tersebut terancam sirna. Jika hujan berintensitas tinggi tidak kunjung turun hingga akhir Oktober 2026, air asin diprediksi bakal terus merayap naik dan melumpuhkan intake air di Kecamatan Kota Besi.

    Lumpuhnya kualitas air minum di lima kecamatan utama Kotim menjadi bukti konkret rapuhnya infrastruktur mitigasi bencana kekeringan Perumdam Tirta Mentaya. Membiarkan ratusan ribu warga mengonsumsi air asin atau membeli air galon dengan biaya membengkak di tengah bencana asap karhutla adalah bentuk pembiaran krisis multidimensi.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Urgensi Pendistribusian Tangki Air Bersih Gratis: Pemkab Kotim dan Perumdam Tirta Mentaya didesak mengerahkan seluruh armada tangki air secara sistematis ke permukiman padat penduduk. Bantuan air minum gratis wajib didistribusikan untuk mencegah keputusasaan warga yang nekat memasak menggunakan air asin berpolusi tinggi.
    2. Pembangunan Bendung Gerak/Teknologi Pengolahan Salinitas: Perumdam dan Dinas PUPR Kotim dituntut menyusun solusi jangka panjang berupa pembangunan struktur penahan intrusi (estuary dam) atau sistem pengolahan air asin (Desalination System) pada intake utama, agar krisis tahunan ini tidak terus berulang setiap kali kemarau melanda.

    Sudah tercekik asap, warga Sampit kini dipaksa minum air asin!  Intrusi air laut tembus Baamang, air PDAM di 5 kecamatan resmi tak layak minum dan memasak!  Debit air turun 50 liter/detik, Pemkab dan  Perumdam didesak pasok tangki air bersih gratis untuk warga! (***)

  • Intrusi Air Laut Kian Masuk, Air Perumdam di Samuda Hingga Ketapang Terasa Asin

    Intrusi Air Laut Kian Masuk, Air Perumdam di Samuda Hingga Ketapang Terasa Asin

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mengancam ketahanan air bersih warga. Pasokan air dari Perumdam Tirta Mentaya di sejumlah kawasan mulai mengalami peningkatan salinitas atau perubahan rasa menjadi asin akibat penetrasi intrusi air laut yang kian jauh merangsek ke aliran Sungai Mentaya.

    Kondisi berubahnya kualitas air ini terpantau meluas mulai dari Samuda (Mentaya Hilir Selatan), Bagendang (Mentaya Hilir Utara), hingga Pelangsian dan Ketapang di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Edy Dyufriadi, membenarkan fenomena peningkatan salinitas air baku tersebut yang mulai terpantau sejak Sabtu (19/9/2026). Perumdam terus melakukan pengecekan kualitas air setiap hari untuk memantau kadar garam di setiap jaringan pelanggan.

    “Peningkatan rasa asin mulai terpantau sejak Sabtu kemarin. Kami lakukan pengecekan tiap hari untuk memantau perkembangan salinitas di masing-masing wilayah,” ujar Edy Dyufriadi, Minggu (20/9/2026).

    Menanggapi kondisi tersebut, Perumdam Tirta Mentaya merilis instruksi khusus penggunaan air bagi pelanggan. Warga di Samuda, Bagendang, dan Pelangsian dilarang keras menggunakan air Perumdam untuk minum maupun memasak, dan hanya diperbolehkan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Sementara itu, pelanggan di wilayah Ketapang masih diizinkan mengonsumsinya dengan syarat wajib merebus air hingga mendidih terlebih dahulu.

    Anjuran ini diterbitkan karena tingginya kadar salinitas serta Total Dissolved Solids (TDS) berisiko memicu gangguan kesehatan seperti perut kembung, mual, muntah, hingga diare.

    Meskipun intrusi air laut telah memengaruhi rasa air di jaringan pelanggan wilayah selatan hingga Ketapang, Perumdam memastikan sumber air baku pada Intake Baamang sejauh ini masih dalam kondisi aman. Petugas mengantisipasinya dengan menggeser titik pengambilan air (intake) lebih jauh ke arah hulu sungai, yakni sekitar 8 hingga 9 kilometer ditarik lurus dari lokasi semula.

    Fenomena masuknya air asin ini tidak hanya dialami Kotim, tetapi juga melanda sejumlah kabupaten tetangga di Kalimantan Tengah seperti Kapuas, Pangkalan Bun (Kobar), dan Seruyan. Jika hujan bercurah tinggi tak kunjung turun hingga Oktober, intrusi laut diprediksi akan terus bergerak semakin jauh mengancam sumber air baku perkotaan.

     

    Masuknya intrusi air laut hingga ke wilayah Pelangsian dan Ketapang membuktikan bahwa Kotim kini berada dalam krisis bencana ganda: terkepung racun asap di udara dan krisis air minum di darat. Ketika air kran warga tak lagi layak minum akibat kadar garam dan TDS tinggi, beban ekonomi masyarakat miskin perkotaan akan melonjak drastis karena harus membeli air galon kemasan untuk kebutuhan harian.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    Pemkab Kotim bersama Perumdam Tirta Mentaya didesak untuk tidak sekadar mengeluarkan larangan konsumsi, melainkan wajib mendistribusikan armada mobil tangki air bersih gratis secara rutin ke titik-titik pemukiman terdampak di Samuda, Bagendang, Pelangsian, dan Ketapang. Di sisi lain, instansi kesehatan masyarakat perlu menyiagakan fasilitas Pustu dan Puskesmas guna mengantisipasi lonjakan kasus penyakit pencernaan (gastroenteritis) akibat ketidaktahuan warga yang nekat mengonsumsi air ber-TDS tinggi.

    Air kran Sampit mulai asin! Intrusi air laut serbu Samuda, Bagendang, Pelangsian hingga Ketapang! Perumdam larang konsumsi air kran di wilayah selatan, Pemkab wajib bagi air bersih gratis! (***)

  • Akibat Intrusi Air Laut, Kadar Salinitas di Sungai Sampit Capai 630, Air PDAM Selatan Kotim Tak Layak Konsumsi

    Akibat Intrusi Air Laut, Kadar Salinitas di Sungai Sampit Capai 630, Air PDAM Selatan Kotim Tak Layak Konsumsi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Persoalan krisis air bersih di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini bukan lagi sekadar berkurangnya debit air, tetapi sudah menyangkut masuknya air asin ke aliran Sungai Sampit yang menjadi salah satu sumber air baku PDAM.

    Kondisi itu membuat kadar salinitas air baku meningkat hingga 630, sehingga air hasil produksi Perumdam Tirta Mentaya tidak lagi layak diperuntukkan untuk konsumsi khususnya di wilayah selatan Kotim yang dekat kawasan pesisir.

    ”Keluhan warga di wilayah selatan ini persoalannya bukan kering, tapi kadar airnya asin. Kita masih bisa produksi, tetapi hanya untuk MCK. Kalau untuk diminum tidak bisa,” kata Ismanadi Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit, saat diwawancarai, Rabu (16/9/2026).

    Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan kadar salinitas di sejumlah wilayah selatan sudah berada di atas ambang yang dinilai aman untuk dikonsumsi.

    Ismanadi menyebut pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) juga menunjukkan kadar salinitas sudah lebih dari 500.

    Bahkan, pengukuran di kawasan Samuda, Bapinang dan sekitarnya menunjukkan kadar salinitas sekitar 630.

    Ismanadi menjelaskan, air dengan salinitas di bawah 300 masih berada dalam batas aman untuk dikonsumsi. Karena itu, ketika angkanya sudah menembus lebih dari 500 hingga sekitar 630, air tersebut tidak lagi digunakan sebagai air minum.

    ”Kalau salinitasnya tinggi dipaksakan untuk dikonsumsi, bisa menyebabkan gangguan kesehatan, seperti diare,” ujarnya.

    Air Tawar dari Hulu Berkurang, Air Asin Lebih Mudah Masuk

    Tingginya kadar garam tersebut berkaitan dengan kondisi Sungai Sampit yang mulai kehilangan dorongan air tawar dari bagian hulu.

    Ketika aliran air tawar dari hulu masih cukup kuat, air sungai memiliki tekanan yang lebih besar untuk mengalir ke arah hilir. Kondisi itu membantu menahan pengaruh air asin yang masuk bersama saat air pasang.

    Namun, ketika debit air tawar dari hulu mulai berkurang akibat kondisi kering berkepanjangan, pengaruh pasang menjadi lebih kuat.

    Air asin dapat masuk lebih jauh ke badan sungai dan bertahan lebih lama. Akibatnya, kadar garam pada sumber air baku meningkat.

    Berdasarkan pengamatan Perumdam. Biasanya, kadar salinitas akan diperiksa ketika air laut mengalami pasang. Namun persoalan kali ini tidak berhenti ketika pasang berakhir.

    ”Biasanya kalau pasang kita cek salinitasnya. Tapi ini pasang tinggi salinitas tinggi, kita tunggu surut ternyata masih tinggi juga,” jelasnya.

    Hujan menjadi faktor penting yang dapat mengubah kondisi tersebut. Bertambahnya air dari hulu akan meningkatkan kembali debit air tawar sehingga pengaruh air asin dapat berkurang.

    Sebaliknya, apabila kondisi kering terus berlangsung, kadar salinitas berpotensi tetap tinggi.

    Namun, persoalannya Kotim dan sekitarnya masih menghadapi kemarau panjang yang mengakibatkan hampir tak ada hujan lebih dua bulan.

    ”Kondisi air asin seperti ini juga pernah terjadi sekitar 1997, kadar salinitas bisa berkurang, apabila terjadi hujan di hulu yang membawa air tawar ke hilir,” ujarnya.

    Pelangsian Mulai Waspada, Sampit Masih Relatif Aman

    Saat ini kawasan yang paling terdampak adalah wilayah selatan, khususnya yang menggunakan sumber air dari Sungai Sampit. Sementara wilayah Kota Sampit secara umum masih relatif aman untuk kebutuhan air minum.

    Perumdam bahkan melakukan pemeriksaan secara rutin untuk mengantisipasi pergerakan kondisi tersebut, terutama di kawasan Pelangsian.

    Di Pelangsian, kadar salinitas saat air pasang tinggi tercatat mendekati 400, sementara Total Dissolved Solids (TDS) atau total padatan terlarut, juga sudah berada di atas 300.

    ”Pelangsian ini kita pantau terus. Karena saat pasang bisa mendekati 400, TDS di atas 300. Kalau surut turun lagi,” ujar Ismanadi.

    Untuk memastikan air tetap berada dalam kondisi yang dapat diproses, pemeriksaan bahkan dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam sehari.

    ”Bisa kita cek di laboratorium dua atau tiga kali sehari karena salinitasnya berubah-ubah,” katanya.

    Sementara itu, kawasan Baamang dan wilayah utara Kotim secara umum belum mengalami persoalan serupa. Air Perumdam di kawasan tersebut masih dapat digunakan untuk konsumsi.

    Enam Mobil Tangki Disiapkan Kirim Air dari Sampit

    Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah selatan, Perumdam Tirta Mentaya menyiapkan langkah distribusi air dari Sampit.

    Langkah tersebut dilakukan berdasarkan arahan Bupati Kotim. Delapan mobil tangki dan 28 mobil yang mengangkut profil tank dengan total 40.000 liter telah didistribusikan ke wilayah selatan di sejumlah desa terdampak seperti Desa Sei Ijum Raya, Sebamban dan Desa Parebok pada Kamis (17/9/2026).

    “Distribusi air bersih sebenarnya sudah disaluran ke wilayah Selatan Kotim sejak 17 Juli 2026 sesuai usulan desa,” ujarnya.

    Dalam pelaksanaannya, setiap hari sekitar empat hingga enam kendaraan dikerahkan, dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 liter.

    Keterbatasan utama yang dihadapi adalah kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Perumdam juga telah mengupayakan bantuan BBM untuk mendukung distribusi agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhenti.

    ”Distribusi ini setiap hari kita lakukan. Sekarang kendalanya BBM. Kita juga sudah mengajukan bantuan BBM,” kata Ismanadi.

    Air Gratis Disediakan di Sejumlah Titik

    Selain mengirimkan air langsung ke wilayah terdampak, Perumdam juga menyediakan air bersih gratis di sejumlah titik produksi.

    Di antaranya Kota Besi, Cempaka Mulia, Lubuk Ranggan dan Pundu.

    Masyarakat yang terdampak dapat mengambil air tersebut menggunakan kendaraan sendiri. Bahkan kelompok masyarakat dapat membawa kendaraan seperti pikap yang dilengkapi profil tank berkapasitas 1.000 hingga 2.000 liter.

    Namun pengambilan air gratis tersebut harus disertai surat dari camat atau lurah setempat.

    Persyaratan itu diberlakukan untuk memastikan air benar-benar diberikan kepada masyarakat yang terdampak dan tidak diperjualbelikan kembali.

    ”Kalau mau ambil air gratis, harus ada surat dari camat atau lurah. Ini supaya air gratis itu tidak dikomersialkan atau dijual lagi,” tegas Ismanadi.

    Air Perumdam Bukan untuk Sawah

    Prioritas distribusi air bersih saat ini adalah kebutuhan masyarakat, terutama untuk kebutuhan minum dan rumah tangga.

    Karena itu, air yang didistribusikan Perumdam tidak diarahkan untuk kebutuhan persawahan.

    Menurut Ismanadi, kebutuhan air untuk pertanian berbeda dengan kebutuhan air yang telah melalui proses pengolahan untuk masyarakat.

    ”Kalau untuk sawah itu bukan air yang kita distribusikan. Prioritas kita masyarakat, terutama untuk minum,” katanya.

    Air produksi Perumdam telah melalui proses pengolahan, termasuk penjernihan dan penyesuaian pH, sedangkan kebutuhan sawah lebih membutuhkan air baku dalam jumlah besar.

    Perumdam Tak Bisa Menjamin Air Sumur Bor

    Ismanadi juga mengingatkan masyarakat yang menggunakan sumur bor agar tidak langsung menganggap air tersebut aman hanya karena terlihat jernih.

    Perumdam tidak memiliki kewenangan untuk menyatakan apakah air sumur bor milik masyarakat aman dikonsumsi atau tidak.

    Kepastian mengenai kualitas air sumur bor harus ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium.

    ”Kalau sumur bor itu kita tidak bisa menjamin aman atau tidak. Itu harus diperiksa di laboratorium,” jelasnya.

    Parenggean Ditangani dengan Pompa Ponton

    Di sisi lain, persoalan air baku di Parenggean untuk sementara berhasil ditangani dengan pembangunan pompa ponton.

    Sebelumnya, sumber air baku yang digunakan Perumdam di kawasan tersebut menyusut hingga mengalami kekeringan. Untuk mengatasinya, Perumdam membangun pompa terapung di sungai yang berjarak sekitar 400 meter dari kantor yang sudah bisa dioperasikan.

    Dengan beroperasinya pompa tersebut, persoalan kekurangan air baku di Parenggean untuk sementara dapat diatasi.

    ”Perumdam masih terus memantau kemampuan produksi air apabila kondisi sumber air terus berubah, untuk sementara kekurangan air baku di Parenggean sudah dapat diatasi,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Atasi Krisis Air Bersih di Wilayah Selatan, Pemkab Kotim Rencanakan Teknologi Olah Air Asin hingga Pipa Bawah Air ke Pulau Hanaut

    Atasi Krisis Air Bersih di Wilayah Selatan, Pemkab Kotim Rencanakan Teknologi Olah Air Asin hingga Pipa Bawah Air ke Pulau Hanaut

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai merencanakan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan krisis air bersih yang berulang di wilayah selatan setiap musim kemarau.

    Tidak hanya memperluas jaringan PDAM, pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan teknologi untuk mengolah air asin serta opsi pembangunan pipa bawah air menuju Kecamatan Pulau Hanaut.

    Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, persoalan air bersih di wilayah selatan tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperbanyak jaringan perpipaan. Sebab, ketika kemarau panjang terjadi, sumber air baku yang menjadi tumpuan pelayanan PDAM ikut terdampak intrusi air laut.

    Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan sistem yang mampu menjaga pelayanan air bersih tetap berjalan meskipun kondisi sumber air berubah akibat musim kemarau.

    ”Kalau kita hanya memperpanjang jaringan, tetapi sumber air bakunya bermasalah, tetap saja tidak menyelesaikan persoalan,” kata Halikinnor.

    Menurutnya, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi pemerintah. Sejak awal menjabat sebagai Bupati Kotim, kebutuhan tersebut menjadi salah satu prioritas pembangunan yang ingin didorong secara bertahap.

    ”Ketika bertekad menjadi bupati, saya menetapkan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi lebih dahulu, yaitu air bersih dan penerangan,” ujarnya.

    Salah satu persoalan yang kini menjadi perhatian pemerintah adalah bagaimana tetap memanfaatkan sumber air yang tersedia ketika kualitasnya menurun akibat masuknya air laut.

    Halikinnor mengaku telah meminta penjelasan kepada Direktur Perumdam Tirta Mentaya mengenai kemungkinan penggunaan teknologi khusus untuk mengolah air yang memiliki kadar garam tinggi agar kembali menjadi air layak konsumsi.

    Ia menyebut teknologi pengolahan air asin atau air laut telah digunakan di sejumlah negara. Karena itu, pemerintah daerah ingin melihat kemungkinan teknologi serupa diterapkan untuk mengatasi persoalan sumber air baku di Kotim.

    ”Tadi saya sudah tanyakan kepada Direktur Perumdam bahwa ada teknologi khusus untuk mengolah air laut. Kita melihat negara-negara lain bisa mengolah air laut menjadi air bersih yang layak konsumsi,” katanya.

    Halikinnor mengatakan pengolahan air dengan bahan yang selama ini lazim digunakan PDAM seperti tawas maupun PAC tidak cukup untuk menangani air yang sudah terpengaruh kadar garam tinggi.

    Artinya, persoalan yang dihadapi bukan sekadar proses menjernihkan air, tetapi bagaimana menurunkan kadar garam sehingga sumber air yang terdampak intrusi tetap dapat dimanfaatkan.

    ”Kita tidak mungkin mencari sumber air baru. Sumber air yang ada harus dimanfaatkan dengan dukungan teknologi pengolahan yang memadai,” tegasnya.

    Pemkab Kotim pun membuka kemungkinan mengalokasikan anggaran untuk pengadaan teknologi tersebut.

    Halikinnor menyadari kebijakan efisiensi anggaran membuat pemerintah harus selektif dalam belanja, tetapi kebutuhan air bersih dinilai memiliki posisi yang berbeda karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

    Jaringan PDAM Diperluas Bertahap hingga Ujung Pandaran

    Selain mengembangkan teknologi pengolahan air, Pemkab Kotim juga menyiapkan perluasan jaringan PDAM secara bertahap.

    Halikinnor telah meminta Pelaksana Tugas Kepala Dinas Cipta Karya, Rifan, agar pembangunan dan pengembangan jaringan air bersih terus dilanjutkan setiap tahun.

    Target yang ingin dicapai adalah memperpanjang jaringan pipa induk hingga Ujung Pandaran.

    ”Kita melanjutkan jaringan pipa induk. Saya ingin sampai Ujung Pandaran,” kata Halikinnor.

    Ia menyadari pembangunan jaringan hingga wilayah tersebut tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun. Selain membutuhkan perencanaan teknis yang matang, kebutuhan anggarannya juga sangat besar dan diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.

    Karena itu, pembangunan akan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah.

    ”Memang tidak dalam satu tahun karena membutuhkan dana cukup besar, ratusan miliar, sehingga mungkin beberapa tahun nanti kita anggarkan,” ujarnya.

    Halikinnor juga meminta seluruh fasilitas PDAM yang sudah tersedia di daerah agar tidak dibiarkan bekerja sendiri-sendiri.

    Untuk di wilayah Selatan Kotim, perhatian diarahkan pada unit PDAM di Sungai Lepeh dan Samuda. Keduanya diharapkan dapat dioptimalkan sesuai cakupan wilayah pelayanan masing-masing.

    Unit Sungai Lepeh selama ini melayani kawasan di sekitarnya, sedangkan unit Samuda melayani kebutuhan masyarakat di wilayah Samuda.

    Dalam kondisi normal atau saat musim hujan, sumber air baku masih dapat dimanfaatkan. Persoalan muncul ketika kemarau panjang menyebabkan air sungai mengalami perubahan kualitas akibat masuknya air laut.

    Karena itu, sistem pelayanan harus dirancang agar ketika salah satu sumber mengalami gangguan, sumber lainnya dapat membantu menopang kebutuhan wilayah yang terdampak.

    ”Harus kita jalankan bersama-sama, sehingga nanti kalau yang satu bermasalah, yang lain bisa membantu,” ujarnya.

    Konsep serupa juga ingin diterapkan pada fasilitas PDAM yang sudah tersedia di wilayah lain. Halikinnor meminta fasilitas di Parenggean, Cempaga hingga Simpang Sebabi, Kecamatan Telawang, dapat dimaksimalkan.

    ”Kita berharap fasilitas yang telah dibangun benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi bagian dari sistem penyediaan air bersih Kotim secara lebih terintegrasi,” ujarnya.

    Pulau Hanaut Dipertimbangkan Terhubung Pipa Bawah Air

    Persoalan lebih kompleks dihadapi di Kecamatan Pulau Hanaut karena wilayah tersebut terpisah oleh Sungai Mentaya.

    Halikinnor mengatakan, membangun instalasi PDAM tersendiri di Pulau Hanaut belum otomatis menyelesaikan masalah. Pemerintah tetap harus memastikan ketersediaan sumber air baku yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

    Persoalannya, sumber air di wilayah tersebut juga berpotensi mengalami perubahan kualitas ketika kemarau panjang berlangsung.

    Karena itu, salah satu opsi yang kini dipertimbangkan adalah membawa pasokan air dari sistem yang memiliki sumber air lebih memungkinkan melalui pipa bawah air menuju Pulau Hanaut.

    ”Kalau membangun instalasi tersendiri untuk PDAM di sana, kita juga kesulitan sumber bahan bakunya, sehingga kita rencanakan membangun jaringan pipa bawah air laut menuju Pulau Hanaut,” jelas Halikinnor.

    Menurutnya, opsi pipa bawah air perlu dihitung secara teknis dan anggaran karena menyangkut pembangunan infrastruktur lintas perairan. Namun, gagasan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk mengatasi persoalan keterbatasan sumber air baku di Pulau Hanaut.

    Dengan sistem tersebut, pasokan air bersih diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada sumber air setempat yang kualitasnya dapat berubah ketika musim kemarau.

    Akhiri Ketergantungan Dropping Air Setiap Musim Kemarau

    Halikinnor menegaskan, distribusi air menggunakan armada tangki hanya dapat menjadi penanganan ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat. Pemerintah tidak ingin pola tersebut terus menjadi ketergantungan masyarakat setiap kali musim kemarau datang.

    Karena itu, arah pembangunan ke depan adalah membangun sistem air bersih yang mampu bekerja lebih permanen, mulai dari sumber air, teknologi pengolahan, jaringan perpipaan hingga keterhubungan antarsistem pelayanan.

    Ia ingin sumber-sumber air yang ada di Kotim dapat saling terhubung sehingga pelayanan tetap memiliki alternatif ketika salah satu sumber mengalami gangguan.

    ”Harapan saya, ke depan masyarakat di wilayah Selatan tidak lagi kesulitan memperoleh air bersih yang layak konsumsi,” pungkasnya. (hgn)

  • Salurkan Bantuan 40.000 Liter Air Bersih di Wilayah Selatan, Bupati Kotim Pastikan Distribusi Air Berlanjut Sesuai Usulan Desa

    Salurkan Bantuan 40.000 Liter Air Bersih di Wilayah Selatan, Bupati Kotim Pastikan Distribusi Air Berlanjut Sesuai Usulan Desa

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menyalurkan bantuan 40.000 liter air bersih ke sejumlah wilayah selatan yang mengalami dampak intrusi air laut dan kekeringan selama musim kemarau.

    Bupati Kotim Halikinnor yang datang langsung menyapa warga di Desa Sei Ijum Raya dan Parebok, memastikan distribusi tidak berhenti pada kegiatan Kamis (17/9/2026), tetapi akan terus dilakukan berdasarkan usulan dan laporan dari desa yang masih membutuhkan air layak konsumsi.

    ”Bantuan air bersih ini kita salurkan, khususnya kepada warga di wilayah selatan, yaitu di Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan, yang saat ini mengalami kesulitan air bersih yang layak konsumsi,” kata Halikinnor, Kamis (17/9/2026).

    Penyaluran tersebut menyasar wilayah Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan. Delapan mobil tangki dan 28 mobil yang membawa profil tank berkapasitas sekitar 5.000 liter meluncur ke rumah-rumah warga.

    Sejumlah lokasi menjadi sasaran distribusi, di antaranya Desa Lempuyang, Sei Ijum Raya, Sebamban dan Parebok. Penyaluran dilakukan menyesuaikan kebutuhan di masing-masing wilayah.

    Di Sei Ijum Raya, bantuan diperuntukkan bagi sekitar 300 kepala keluarga. Jumlah penerima yang hampir sama juga berada di Sebamban.

    Sementara di Parebok, dari sekitar 700 kepala keluarga yang tersebar di sembilan RT, sekitar 300 kepala keluarga di RT 6 dan 7 tercatat mengalami kebutuhan air bersih.

    Distribusi tidak hanya dilakukan dengan menurunkan air pada satu lokasi penampungan.

    Armada diarahkan sedekat mungkin dengan permukiman sehingga masyarakat dapat menerima pasokan tanpa harus mengambilnya dari lokasi yang jauh.

    Mobil tangki bahkan masuk ke gang-gang yang masih dapat dijangkau kendaraan. Pola tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kondisi permukiman dan memudahkan masyarakat memperoleh air yang telah disiapkan pemerintah.

    Untuk penyaluran kepada warga, Halikinnor mengatakan air tersebut diprioritaskan bagi kebutuhan konsumsi.

    ”Air bersih yang disalurkan ini bukan untuk mandi dan mencuci. Ini khusus untuk kebutuhan minum dan memasak,” ujarnya.

    Di sejumlah lokasi, bantuan diberikan dengan memperhitungkan jumlah kepala keluarga yang membutuhkan. Di Sei Ijum Raya dan Sebamban, misalnya, masing-masing sekitar 300 kepala keluarga menjadi sasaran distribusi.

    Penyaluran air bersih menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat.

    Halikinnor datang bersama Kapolres Kotim, Sekda dan jajaran organisasi perangkat daerah serta Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit.

    ”Selain menyalurkan air bersih, kami ingin mendengar secara langsung keluhan dan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, pemerintah dapat menentukan kebijakan yang paling mendesak untuk kesejahteraan warga,” katanya.

    Distribusi Sudah Berjalan Sejak Agustus

    Halikinnor mengatakan penyaluran air bersih sudah dilakukan ke sejumlah desa di wilayah Selatan Kotim sejak Agustus 2026.

    ”Penyaluran air bersih ini sebenarnya hanya seremonial. Pendistribusian air bersih sudah berjalan sejak Agustus lalu,” ujarnya.

    Karena itu, pemerintah tidak menetapkan kegiatan tersebut sebagai distribusi satu kali. Selama kondisi kekeringan masih membuat masyarakat membutuhkan pasokan, pengiriman air akan kembali dilakukan.

    Halikinnor mengatakan pemerintah menggunakan laporan dari kepala desa sebagai salah satu dasar untuk menentukan kebutuhan distribusi berikutnya.

    ”Kalau ada laporan bahwa air telah habis, masih kurang, atau perlu dilakukan dropping lagi, maka akan segera ditindak lanjuti khususnya untuk warga yang benar-benar mengalami krisis air bersih yang layak konsumsi ,” katanya.

    Krisis Air Bersamaan dengan Ancaman Karhutla

    Kebutuhan air yang meningkat untuk masyarakat berlangsung bersamaan dengan kondisi kemarau yang juga menyulitkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Halikinnor mengatakan persoalan tersebut harus menjadi perhatian karena pemadaman karhutla di Kotim membutuhkan air dalam jumlah besar, terutama karena banyak wilayah yang memiliki karakter lahan gambut.

    ”Jangankan kebakaran yang berada beberapa kilometer di dalam hutan, kebakaran di pinggir jalan saja hampir membuat kita kewalahan,” ujarnya.

    Kondisi lahan gambut menyebabkan api tidak selalu mudah dipadamkan hanya dengan membasahi bagian permukaan. Kebutuhan air menjadi jauh lebih besar ketika sumber-sumber air di sekitar lokasi kebakaran ikut mengering.

    ”Sebab, daerah kita merupakan lahan gambut, sehingga pemadaman membutuhkan air dalam jumlah besar,” katanya.

    Halikinnor mengatakan kondisi sumber air saat ini berbeda dibandingkan kemarau sebelumnya. Jika sebelumnya parit-parit masih menyimpan air, kini banyak yang telah mengering.

    ”Dulu, ketika kemarau, parit-parit masih tersedia air. Sekarang kita sedang menghadapi kemarau panjang, selama lebih dari dua bulan hampir tidak ada hujan, yang membuat sumber-sumber air benar-benar kering kerontang. Karena itu, keterdiaan air yang terbatas jadi salah satu kendala dalam pemadaman api,” ucapnya.

    Ia berharap hujan alami segera turun dengan intensitas yang cukup sehingga tekanan akibat kekeringan dan karhutla dapat berkurang.

    ”Kita tetap berupaya dan berdoa agar Allah menurunkan hujan yang benar-benar deras,” katanya.

    Saat perjalanan menuju wilayah selatan bersama rombongan, Halikinnor masih melihat hujan rintik. Ia berharap kondisi tersebut menjadi pertanda baik bagi wilayah yang telah lama mengalami kekeringan.

    ”Pagi tadi ada hujan rintik, mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik,” ujarnya.

    Evaluasi Penanganan untuk Tahun Berikutnya

    Pengalaman menghadapi karhutla tahun ini juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah.

    Halikinnor mengingat kembali kejadian kebakaran besar yang pernah terjadi pada 2019 dan 2023, kemudian kembali terjadi pada 2026.

    ”Karhutla ini harus menjadi bahan evaluasi kita ke depan. Kebakaran hutan bukan hanya terjadi tahun ini. Saya ingat, tahun 2019 terjadi kebakaran besar, kemudian tahun 2023 juga besar, dan sekarang tahun 2026 kembali terjadi,” katanya.

    Pemerintah harus mengubah pola perencanaan agar kesiapsiagaan tidak baru dilakukan ketika bencana sudah terjadi.

    ”Ke depan kita harus merencanakan langkah penanganan bukan hanya ketika status tanggap darurat sudah ditetapkan, melainkan sejak keadaan masih normal,” tegasnya.

    Salah satu yang perlu disiapkan adalah sumber air di lokasi-lokasi yang memiliki potensi kebakaran. Halikinnor mengusulkan pembangunan hidran dan sumur bor pada titik strategis.

    Namun, keberadaan sumur bor harus ditempatkan pada lingkungan yang memiliki aktivitas masyarakat. Tujuannya agar fasilitas tersebut tidak terbengkalai ketika tidak ada kebakaran.

    ”Sumur bor itu harus dibangun di lokasi yang ada warganya, agar dipelihara dan dimanfaatkan setiap hari,” jelasnya.

    Pemanfaatannya dapat dilakukan untuk kebutuhan lingkungan sehari-hari, seperti menyiram taman maupun tanaman di pinggir jalan.

    Dengan demikian, sumber air tetap aktif dan terawat ketika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk penanganan kebakaran.

    ”Jangan sampai ketika musibah datang, kita baru mencari air dan ternyata tidak ada,” tegas Halikinnor.

    Bantuan Pusat Disiapkan untuk Penanganan Karhutla

    Selain perencanaan sumber air, pemerintah daerah juga perlu memastikan ketersediaan peralatan.

    Halikinnor menyebut pemerintah pusat telah memberikan bantuan sebesar Rp15 miliar yang diarahkan untuk penanganan karhutla.

    Menurutnya, anggaran tersebut harus digunakan terlebih dahulu untuk kebutuhan penanganan selama masa tanggap darurat.

    Apabila masih terdapat dana yang dapat dimanfaatkan, sebagian dapat dipersiapkan untuk membangun kesiapsiagaan pada tahun berikutnya.

    ”Apabila masih ada dana yang dapat digunakan, perlu disiapkan untuk merancang langkah tahun depan, termasuk pembangunan sumur bor dan embung portabel,” ujarnya.

    Halikin mengatakan kebutuhan peralatan di lapangan menunjukkan bahwa pengadaan tidak bisa menunggu sampai kebakaran terjadi. Bahkan, untuk memperoleh mesin alkon saat ini mulai sulit karena stok yang tersedia telah habis.

    ”Saat ini, untuk membeli mesin alkon saja sulit karena stok habis,” katanya.

    Persoalan ini, lanjut Halikinnor, harus menjadi pelajaran dalam menyusun kebutuhan peralatan sejak jauh hari.

    ”Ke depannya kita benar-benar harus merencanakan kesiapsiagaan sejak awal, agar ketika musibah datang kita tidak lagi kesulitan,” tegasnya.

    Damkar Diperkuat di Tingkat Kecamatan

    Evaluasi juga diarahkan pada pemerataan kemampuan pemadaman. Halikinnor menyebut sejumlah kecamatan seperti Samuda, Parenggean, Cempaga Hulu dan Telawang perlu memiliki unit pemadam kebakaran.

    ”Setiap kecamatan paling tidak harus memiliki damkar, bukan hanya untuk menghadapi musim kemarau, tetapi juga untuk menangani kebakaran rumah yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujarnya.

    Dengan adanya unit di tingkat kecamatan, penanganan awal diharapkan tidak selalu bergantung pada pengerahan personel dan armada dari pusat kabupaten.

    Apabila pemerintah daerah masih kekurangan tenaga ahli untuk menyusun sistem tersebut, Halikinnor membuka kemungkinan menggunakan jasa konsultan yang memiliki keahlian dalam perencanaan penanganan kebakaran.

    ”Kalau kita kekurangan tenaga ahli, maka kita harus menggunakan jasa konsultan yang ahli untuk merancang sistem penanganan kebakaran ke depan,” katanya.

    Keselamatan Petugas Tidak Boleh Diabaikan

    Selain sarana dan sumber air, keselamatan personel yang turun melakukan pemadaman juga menjadi perhatian. Halikinnor meminta tim di lapangan tetap bekerja maksimal tanpa mengabaikan kondisi keselamatan.

    ”Saya juga sering menyampaikan kepada tim pemadam kebakaran agar tetap berusaha maksimal, tetapi harus menjaga keselamatan,” ujarnya.

    Ia tidak ingin upaya memadamkan api justru menimbulkan korban dari pihak petugas.

    ”Jangan sampai petugas yang berhadapan langsung dengan api mengalami kecelakaan atau bahkan meninggal dunia,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Dampak Intrusi Air Laut, Air PDAM di Wilayah Selatan Kotim Jadi Payau, Warga Terpaksa Beli Air Layak Konsumsi

    Dampak Intrusi Air Laut, Air PDAM di Wilayah Selatan Kotim Jadi Payau, Warga Terpaksa Beli Air Layak Konsumsi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Intrusi air laut membuat kualitas air PDAM di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur berubah payau.

    Meski jaringan perpipaan masih mengalir hingga ke rumah warga, air tersebut tidak lagi dapat digunakan untuk minum dan memasak sehingga masyarakat terpaksa membeli air yang layak konsumsi.

    Kondisi paling terasa di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), terutama wilayah yang berada lebih dekat dengan kawasan pesisir.

    Persoalan tersebut semakin mendesak sejak awal September ketika sumber air baku yang selama ini dimanfaatkan untuk pelayanan PDAM tidak lagi memungkinkan digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

    Camat Mentaya Hilir Selatan Wahyudah mengatakan krisis air bersih saat ini dirasakan masyarakat di seluruh wilayah kecamatannya yang terdiri atas delapan desa dan dua kelurahan.

    ”Semua wilayah terdampak, tetapi masyarakat pesisir yang paling merasakan dampaknya,” kata Wahyudah, saat diwawancarai awak media di Desa Sei Ijum Raya, Kamis (17/9/2026).

    Wahyudah mengatakan wilayah yang mengalami kondisi paling berat berada di bagian selatan, terutama Desa Sei Ijum Raya dan Sebamban. Pengaruh air laut terhadap sumber air semakin terasa ketika kemarau berlangsung panjang.

    Persoalannya menjadi lebih kompleks karena hampir seluruh masyarakat telah memiliki akses jaringan PDAM.

    Namun, kendalanya bukan karena jaringan pelayanan belum tersedia, melainkan air yang dialirkan melalui jaringan tersebut sudah mengalami perubahan kualitas.

    ”Air PDAM yang bersumber dari Sungai Lepeh sudah tidak memungkinkan lagi untuk dikonsumsi,” ujarnya.

    Wahyudah mengatakan perubahan kualitas air PDAM sudah terjadi 1 September 2026.

    Sejak saat itu, masyarakat tidak lagi dapat menggunakan air PDAM tersebut untuk kebutuhan konsumsi meskipun sambungan perpipaan telah tersedia di rumah-rumah warga.

    ”Terhitung sejak 1 September, air tersebut tidak bisa lagi digunakan, walaupun banyak masyarakat yang sudah memasang sambungan PDAM,” katanya.

    Wahyudah menjelaskan ketika kemarau berlangsung lebih dari dua bulan, air laut mulai memengaruhi kualitas air Sungai Mentaya.

    ”Kalau musim kemarau lebih dari dua bulan, biasanya Sungai Mentaya mulai terasa asin,” ujarnya.

    Sebelum kualitas air memburuk, air dari Sungai Lepeh masih dimanfaatkan dan didistribusikan kepada masyarakat.

    Wahyudah mengatakan distribusi air tersebut telah berlangsung sejak Juli karena pada waktu itu kondisinya masih memungkinkan untuk digunakan, termasuk untuk kebutuhan minum dan memasak.

    Namun, perubahan kualitas sumber air membuat masyarakat harus mencari alternatif lain.

    Sebagian warga masih dapat membeli air dari Sampit, sementara masyarakat di kawasan pesisir menghadapi kesulitan lebih besar karena ketergantungan terhadap sumber air dari Pulau Lepeh.

    ”Masyarakat saat ini membutuhkan pasokan air yang dapat digunakan selama kondisi sumber air baku belum kembali normal,” ujarnya.

    Air Masih Mengalir, tetapi Warga Harus Membeli Air

    Krisis air yang layak konsumsi dirasakan langsung oleh Taibah (45), warga Desa Sei Ijum Raya. Di rumahnya, air PDAM masih mengalir setiap hari, tetapi tidak lagi digunakan untuk minum maupun memasak karena rasanya sudah berubah menjadi payau.

    ”Air sungai sudah asin. Air PDAM juga berubah menjadi payau selama satu bulan ini,” ucap Taibah.

    Perubahan kualitas air membuat kebutuhan konsumsi rumah tangga harus dipenuhi dengan membeli air dari luar.

    ”Untuk minum sudah tidak bisa. Untuk memasak juga tidak bisa karena airnya payau,” ujarnya.

    Taibah mengatakan saat ini dirinya tinggal bersama suaminya. Anak-anaknya tidak menetap di rumah sehingga kebutuhan air minum sehari-hari relatif lebih sedikit.

    ”Biasanya dua galon cukup untuk kebutuhan minum. Namun, untuk memasak kami juga membeli air kemasan gelas,” katanya.

    Dalam kondisi tertentu, kebutuhan tersebut meningkat menjadi dua hingga tiga galon, terutama ketika anggota keluarga datang dan berkumpul. Bahkan, satu galon dapat habis lebih cepat ketika jumlah orang yang berada di rumah bertambah.

    Harga air galon yang dibeli warga sekitar Rp5.000 per galon. Namun, di lokasi tertentu masih terdapat penjual yang mematok harga sekitar Rp3.000.

    Artinya, selama air PDAM tidak dapat digunakan untuk konsumsi, kebutuhan air minum menjadi pengeluaran tambahan yang harus ditanggung warga. Jumlahnya bergantung pada banyaknya anggota keluarga dan kebutuhan air setiap hari.

    ”Kalau air satu drum digunakan untuk memasak, mencuci, dan kebutuhan lainnya, kemungkinan hanya cukup sekitar satu minggu,” ujarnya.

    Taibah mengatakan bantuan air dari Pemkab Kotim melalui Perumdam Tirta Mentaya Sampit pada Kamis (17/9/2026) menjadi yang pertama diterima warga Sei Ijum Raya selama periode krisis air kali ini.

    ”Untuk bantuan air yang didatangkan dari Sampit, ini baru pertama kali disalurkan ke Sei Ijum Raya,” katanya.

    Sebelumnya, warga desa mendapatkan air melalui distribusi yang dilakukan masyarakat dengan memanfaatkan air PDAM setempat yang masih tersedia.

    Bantuan tersebut, bagi Taibah cukup berarti karena warga kini harus mencari sumber air lain untuk kebutuhan yang sebelumnya dapat dipenuhi dari keran PDAM.

    ”Kami sangat berterima kasih. Mudah-mudahan bantuan air bersih ini dapat terus membantu masyarakat di sini,” ujarnya.

    Warga Pesisir Mengalami Kondisi Lebih Berat

    Taibah mengatakan kondisi air di kawasan yang lebih dekat dengan pesisir terasa lebih parah karena pengaruh air laut semakin kuat.

    Sementara di wilayah Sei Ijum Raya, air payau masih dapat dimanfaatkan untuk beberapa keperluan tertentu, tetapi tidak digunakan untuk minum.

    ”Di daerah yang lebih ke bawah atau pesisir, seperti di Kecamatan Teluk Sampit, kondisi air lebih parah asinnya karena dipengaruhi air laut,” katanya.

    Mengenai dampak kesehatan selama musim kemarau dan kekeringan yang berlangsung selama dua bulan lebih ini, Taibah mengaku tidak ada keluhan penyakit.

    ”Saya kurang mengetahui secara pasti untuk warga desa lain. Namun, untuk warga sekitar sini belum ada keluhan penyakit,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Air Laut Merangsek ke Pelangsian, Keran Warga Sampit Terancam Berubah Asin

    Air Laut Merangsek ke Pelangsian, Keran Warga Sampit Terancam Berubah Asin

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memicu krisis air bersih akut. Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Mentaya melaporkan intrusi air laut (saltwater intrusion) dari muara Sungai Mentaya kian ganas dan telah merangsek masuk ke wilayah Samuda, Bagendang, hingga mulai mengancam kawasan Pelangsian serta jantung perkotaan Sampit.

    Fenomena alam ini berpotensi besar merubah kualitas air produksi Perumdam Tirta Mentaya menjadi payau atau asin, yang berbahaya bagi konsumsi hajat hidup ribuan pelanggan di Kota Sampit.

    Pjs. Direktur Perumdam Tirta Mentaya, melalui Kepala Bidang Teknik Edy Dyufriadi, mengonfirmasi bahwa desakan air asin telah menjangkau sumber air baku vital di hilir Sungai Mentaya.

    “Saat ini Sampit memang belum terdampak langsung, masih di daerah Samuda dan Bagendang yang airnya sudah payau/asin. Namun, lidah intrusi air laut sudah mengarah kuat ke Pelangsian. Pipa intake di Desa Ramban, Mentaya Hilir Utara, yang menjadi sumber air baku kami pun kini terancam,” terang Edy Dyufriadi, Rabu (9/9/2026).

    Perumdam Tirta Mentaya memperingatkan jika debit air Sungai Mentaya terus menyusut dan tidak ada hujan signifikan dalam waktu dekat, lidah intrusi akan semakin kuat. Otoritas perhubungan memprediksi pipa intake Desa Ramban berpotensi dihentikan (stop) operasionalnya total dalam satu hingga dua hari ke depan jika kualitas air baku tawar tak lagi memenuhi standar.

    “Jika kondisi intrusi ini memburuk dan air di intake Ramban sudah asin, mungkin dalam satu-dua hari operasional bisa kami stop total. Kami mengimbau pelanggan, terutama di Sampit, untuk mulai mengantisipasi dengan menghemat air dan menampung cadangan air bersih mulai sekarang,” jelasnya.

    Ancaman air asin ini diperkirakan akan menembus kawasan Pelangsian dan bergerak ke arah Sampit jika kemarau ekstrem berlanjut hingga Oktober 2026 tanpa jeda hujan yang berarti.

    Ancaman air laut merangsek ke Pelangsian menelanjangi kerentanan sistem pasokan air tawar Perumdam Tirta Mentaya yang sangat tergantung pada Sungai Mentaya tanpa memiliki cadangan (reservoir) air tawar darurat. Di tengah krisis kesehatan akibat kabut asap karhutla, warga Kotim kini dipaksa menghadapi ancaman ganda: hajat hidup air bersih yang payau dan terbatas.

    Dua desakan taktis dari Kanal Independen:

    1. Pengoperasian Tangki Air Darurat Gratis: Perumdam Tirta Mentaya dan BPBD Kotim didesak menyiagakan armada mobil tangki air tawar gratis untuk didistribusikan ke permukiman di Samuda, Bagendang, dan Pelangsian jika pipa intake Ramban dihentikan total. Warga tidak boleh dibiarkan membeli air tawar mahal di tengah situasi bencana.
    2. Percepatan Infrastruktur Air Baku Alternatif: Pemkab Kotim dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotim wajib mengalokasikan anggaran pembangunan waduk/embung cadangan air baku tawar di zona daratan tinggi Sampit agar ancaman tahunan intrusi air laut tidak terus melumpuhkan hajat hidup warga.

    Air laut merangsek ke Pelangsian!  Keran warga Sampit terancam berubah asin akibat intrusi Sungai Mentaya! Perumdam Tirta Mentaya didesak siapkan tangki air tawar gratis bagi warga! (***)