Tag: ISPU Sampit

  • NAM Air Hentikan Penerbangan Sampit hingga 15 Oktober, Kabut Asap Belum Mereda

    NAM Air Hentikan Penerbangan Sampit hingga 15 Oktober, Kabut Asap Belum Mereda

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Maskapai NAM Air membatalkan penerbangan dari dan menuju Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), hingga 15 Oktober 2026. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat jarak pandang di bandara belum memenuhi batas minimum keselamatan penerbangan.

    Pembatalan yang berlaku mulai 11 Oktober itu mencakup dua rute, yakni Sampit-Surabaya-Sampit dan Sampit-Semarang-Sampit. Keputusan tersebut diambil setelah kondisi jarak pandang berulang kali tidak memungkinkan penerbangan beroperasi sesuai jadwal.

    District Manager NAM Air Sampit Harli Rahman mengatakan, penerbangan terakhir yang dapat beroperasi dari Sampit berlangsung pada 22 September 2026, dengan rute Semarang.

    “Penerbangan kita kemarin itu terakhir kita bisa terbang tanggal 22 September. Setelah itu kondisi di bandara Sampit ini setiap harinya jarak pandang tidak mencapai jarak pandang minimum,” kata Harli, Senin (12/10/2026).

    Sebelumnya, NAM Air masih membuka penjualan tiket meskipun kondisi cuaca di Sampit belum mendukung penerbangan. Namun, penerbangan berulang kali harus dibatalkan pada hari keberangkatan karena jarak pandang berada di bawah batas minimum.

    Situasi itu berisiko membuat penumpang telanjur datang ke bandara, kemudian menunggu berjam-jam tanpa kepastian keberangkatan. Karena itu, maskapai memilih mengumumkan pembatalan lebih awal agar calon penumpang dapat menyesuaikan rencana perjalanan.

    Menurut Harli, pembatalan dilakukan secara bertahap untuk empat hari ke depan. Jika kabut asap belum membaik setelah periode tersebut, NAM Air akan mempertimbangkan perpanjangan pembatalan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.

    Harli menyebut, berdasarkan koordinasi dan informasi cuaca dari BMKG, kabut asap berpotensi bertahan hingga hujan dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah Sampit. Pihaknya terus memantau perkembangan kondisi sebelum menentukan kelanjutan operasional penerbangan.

    Di tengah penghentian sementara penerbangan, NAM Air masih membuka loket pelayanan di Bandara H Asan Sampit mulai pukul 09.00 WIB. Calon penumpang diimbau memeriksa status penerbangan kepada petugas maskapai sebelum berangkat ke bandara.

    Harli juga menyebut Bandara Iskandar Pangkalan Bun sebagai salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan penumpang. Namun, ia memperkirakan kondisi di bandara tersebut tidak jauh berbeda dengan Sampit.

    Pembatalan lebih awal juga dilakukan untuk mengantisipasi risiko operasional. Harli mengatakan, pihaknya belum menghitung secara pasti kerugian akibat pembatalan penerbangan. Meski demikian, penerbangan dalam kondisi jarak pandang yang tidak memadai berpotensi menambah biaya operasional.

    Salah satu risiko yang diantisipasi ialah pesawat harus melakukan holding, atau berputar di udara, ketika tiba di Sampit karena kondisi bandara belum memungkinkan untuk pendaratan. Situasi tersebut dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar dan biaya operasional.

    Bagi masyarakat, dampak kabut asap kini melampaui gangguan jarak pandang di darat. Pembatalan penerbangan membatasi pilihan perjalanan udara dari dan menuju Sampit, sementara kepastian pemulihan layanan masih bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang.

    “Semoga kondisi cuaca di Sampit segera membaik, tidak kabut asap lagi, sehingga penerbangan dapat kembali beroperasi normal dan mobilitas masyarakat tidak terus terganggu,” pungkas Harli. (***)

  • Malam Cengkeram Racun Asap di Sampit: Pandangan Tersisa 300 Meter, Warga Mulai Sesak

    Malam Cengkeram Racun Asap di Sampit: Pandangan Tersisa 300 Meter, Warga Mulai Sesak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan belum terbebas dari cengkeraman bencana kabut asap akibat pembumihangusan lahan gambut. Hingga Jumat (9/10/2026) malam, selimut asap pekat beracun masih mengepung Kota Sampit dan memaksa jarak pandang (visibility) anjlok drastis hingga tersisa 300 meter.

    Berdasarkan data pengamatan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim di Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, penurunan kualitas udara dan jarak pandang memburuk secara signifikan dalam rentang waktu dua jam pada malam hari:

    Pukul 19.00 WIB: Jarak pandang tercatat 400 meter, suhu udara 27,7°C, kelembapan 77%, dengan angin bertiup dari selatan berkecepatan 7 km/jam.

    Pukul 20.00 WIB: Jarak pandang menyusut drastis menjadi 300 meter, suhu udara 27,3°C, kelembapan naik ke angka 79%, dan angin bergerak lambat dari tenggara berkecepatan 4 km/jam.

    Pukul 21.00 WIB: Jarak pandang tertahan pada level kritis 300 meter, suhu udara melandai ke 26,8°C, serta angin bertiup dari tenggara berkecepatan 6 km/jam.

    Pekatnya racun asap di malam hari yang merayap hingga ke dalam rumah-rumah warga kian memicu keresahan masyarakat, terutama terkait ancaman penyakit saluran pernapasan (ISPA) yang mulai mengintai anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

    “Asap malam ini terasa makin pedih di mata dan bau sangitnya tembus sampai ke dalam kamar. Dada mulai terasa sesak dan tenggorokan gatal. Kalau berkendara di jalan raya, jarak 300 meter sudah sangat gelap dan membahayakan,” ungkap Herman, salah seorang warga kawasan Baamang yang melintas di pusat kota Sampit, Jumat malam.

    Makin pekatnya racun asap pada malam hari di Kota Sampit menjadi bukti otentik bertahannya akumulasi asap kiriman dari ratusan titik panas (hotspot) masif di Seranau dan Pulau Hanaut yang terjebak oleh angin lambat (smoke trap).

    Pemkab Kotim dan BMKG didesak tidak hanya merilis data jarak pandang, tetapi wajib mempublikasikan konsentrasi partikel mikro berbahaya PM2.5 dan PM10 secara transparan kepada publik setiap jam guna memastikan status risiko kesehatan warga.

     Mengingat jarak pandang menyusut ke 300 meter dan warga mulai mengeluhkan sesak napas, Dinas Kesehatan Kotim wajib menyiagakan Puskesmas 24 jam serta mendistribusikan masker respirator standar N95/KN95 gratis untuk mencegah lonjakan kasus ISPA akut pada kelompok rentan. (***)

  • 945 Hotspot Terdeteksi di Kotim, Seranau dan Pulau Hanaut Paling Padat

    945 Hotspot Terdeteksi di Kotim, Seranau dan Pulau Hanaut Paling Padat

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 945 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam akumulasi 24 jam terakhir hingga Kamis (8/10/2026) pukul 16.00 WIB.

    Data tersebut tercantum dalam laporan rekapitulasi hotspot BMKG dan BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebaran titik panas paling banyak berada di Kecamatan Seranau, Pulau Hanaut, dan Mentaya Hilir Utara.

    “Seranau mencatat jumlah tertinggi dengan 294 hotspot. Rinciannya terdiri dari empat titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 285 menengah, dan lima titik dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ungkap Wakil Koordinator III Satgas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) adalah Rihel.

    Pulau Hanaut berada di urutan berikutnya dengan 243 hotspot. Sebanyak enam titik masuk kategori rendah, 233 menengah, dan empat titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

    Sementara Mentaya Hilir Utara mencatat 144 hotspot, terdiri dari sembilan titik rendah, 132 menengah, dan tiga titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

    Tiga kecamatan tersebut menyumbang 681 hotspot atau sekitar 72 persen dari total yang terdeteksi dalam periode tersebut.

    Di wilayah lain, Teluk Sampit mencatat 41 hotspot dan Mentaya Hulu 40 titik. Mentawa Baru Ketapang tercatat 31 titik, Antang Kalang 29 titik, sedangkan Cempaga mencapai 26 titik.

    Sebaran berikutnya tercatat di Bukit Santuai sebanyak 18 titik, Kotabesi 15 titik, Mentaya Hilir Selatan 14 titik, Telaga Antang 11 titik, serta Baamang 11 titik.

    Parenggean dan Telawang masing-masing tercatat 10 hotspot. Cempaga Hulu lima titik dan Tualan Hulu tiga titik.

    Jika dilihat berdasarkan tingkat kepercayaan, dari total 945 hotspot terdapat 33 titik kategori rendah, 900 titik kategori menengah, dan 12 titik kategori tinggi.

    “Artinya, sebagian besar deteksi berada pada tingkat kepercayaan menengah. Data hotspot merupakan hasil deteksi satelit sehingga keberadaannya tetap perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” ungkap RIhel.

    Laporan BMKG dan BPBD tersebut mencantumkan rincian koordinat, waktu deteksi, satelit yang menangkap titik panas, serta desa atau kelurahan terkait. Satelit yang digunakan dalam pemantauan antara lain SNPP dan NOAA-20.

    Konsentrasi hotspot di Seranau dan Pulau Hanaut menjadi bagian yang perlu diperhatikan karena kedua wilayah tersebut berada di kawasan yang dalam beberapa hari terakhir juga menjadi bagian dari sebaran titik panas di Kotawaringin Timur.

    Dengan 945 hotspot terdeteksi hanya dalam periode 24 jam, peta kebakaran di Kotim masih menunjukkan tekanan tinggi.

    Angka tersebut bukan berarti 945 lokasi telah dipastikan terbakar. Namun, kepadatan deteksi hotspot memberikan gambaran bahwa pemantauan dan verifikasi lapangan masih menjadi pekerjaan penting, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. (***)

  • Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan rekapitulasi data satelit NOAA-20 dan SNPP yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit bersama BPBD Kotim per Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, terdeteksi akumulasi sebanyak 506 titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Kotim dalam 24 jam terakhir. 

    ​Angka ini memperlihatkan lonjakan tajam dan mengonfirmasi bahwa amukan api belum terkendali, terutama di wilayah pesisir serta seberang alur Sungai Mentaya. 

    “Bagendang Permai, Sungai Lepeh, kebakaran besar,” ungkap Fatma, salah seorang warga di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Rabu (7/10/2026).

    ​Dari total 506 titik panas, konsentrasi terbesar berada di wilayah penyangga selatan dan seberang kota Sampit: 
    ​Kecamatan Seranau: 227 titik (Mentaya Seberang 121 titik, Ganepo 56 titik, Seragam Jaya 50 titik). 

    ​Kecamatan Pulau Hanaut: 180 titik (Satiruk 43 titik, Serambut 40 titik, Bantian 33 titik, Babaung 22 titik, Bapinang Hilir 17 titik, Bapinang Hulu 7 titik, Bamadu 7 titik, Hanaut 5 titik, Babirah 4 titik, Bapinang Hilir Laut 1 titik, Penyaguan 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga: 29 titik (Luwuk Ranggan 21 titik, Rubung Buyung 8 titik).

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU): 22 titik (Bagendang Hilir 15 titik, Natai Baru 6 titik, Bagendang Tengah 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga Hulu: 15 titik (Parit 5 titik, Bukit Raya 4 titik, Sudan 4 titik, Sungai Ubar Mandiri 2 titik). 
    ​Kecamatan Mentaya Hulu: 7 titik (Pahirangan 4 titik, Kapuk 2 titik, Tangar 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentawa Baru Ketapang: 6 titik (Bangkuang Makmur 3 titik, Bapeang 3 titik). 

    ​Kecamatan Parenggean: 5 titik (Manjalin 4 titik, Kabuau 1 titik). 

    ​Kecamatan Telawang: 5 titik (Tanah Putih 5 titik). 
    ​Kecamatan Teluk Sampit: 5 titik (Lampuyang 5 titik). 
    ​Kecamatan Kota Besi: 2 titik (Palangan 1 titik, Rasau Tumbuh 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Selatan: 1 titik (Sei Ijum Raya 1 titik). 

    ​Kecamatan Bukit Santuai: 1 titik (Tumbang Batu 1 titik). 
    ​Kecamatan Tualan Hulu: 1 titik (Bukit Makmur 1 titik). 
    ​
    ​Korelasi data hotspot BMKG/BPBD Kotim per 7 Oktober 2026 ini memberikan benang merah yang jelas terhadap seluruh rangkaian krisis lingkungan, satwa, dan kesehatan masyarakat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir:

    Krisis Asap & ISPU Ekstrem
    ​Fakta Data: Kecamatan Seranau (227 titik) dan Pulau Hanaut (180 titik) secara akumulatif menyumbang 407 titik panas (80,4% dari total hotspot Kotim). Kelurahan Mentaya Seberang sendiri mencatatkan 121 titik. 

    ​Adapun, data geografis ini membuktikan mengapa udara Kota Sampit yang berada tepat di seberang Sungai Mentaya mengalami fenomena pengendapan asap (smoke trap). Hal ini menjelaskan penyebab Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bergerak fluktuatif di level sangat berbahaya (300–400) hingga sempat menyentuh angka ekstrem di atas 1.000, serta melumpuhkan jarak pandang hingga tersisa 10–20 meter. 
    ​
    Asap pekat hasil pembakaran gambut dalam skala masif di Seranau terus terbawa angin melintasi sungai ke permukiman padat. Ini secara langsung memicu krisis kesehatan reproduksi akibat tingginya konsentrasi racun partikel halus PM2.5, yang meningkatkan risiko kelahiran prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bagi janin ibu hamil di Kota Sampit.

    ​Tingginya kerapatan hotspot di Ganepo secara objektif menjelaskan mengapa seekor trenggiling dilindungi ditemukan dalam kondisi kritis terpanggang api. Kobaran api yang menyebar cepat di 56 titik tersebut mengurung habitat satwa dan memutus jalur penyelamatan diri mereka. 

    Kejadian Karhutla Bagendang Hilir
    ​Fakta Data: Desa Bagendang Hilir di Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) mencatatkan 15 titik panas. 

    ​Hal ini mengonfirmasi penyebab terbakarnya 10 hektare hutan dan semak belukar yang berlokasi sangat dekat dengan jalan raya dan permukiman warga pada Rabu sore, sehingga membutuhkan pengerahan armada MTPK 12 Damkar Sektor Samuda bersama BPBD dan MPA. (***)

  • Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kota Sampit kembali berhadapan dengan ancaman kabut asap. Ratusan titik panas terdeteksi di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), termasuk di kawasan seberang Sungai Mentaya yang berhadapan langsung dengan pusat kota.

    Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim per Senin (5/10/2026) sore mencatat 482 titik panas dalam 24 jam terakhir.

    Konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Pulau Hanaut dengan 189 titik. Kecamatan Seranau menyusul dengan 128 titik, sedangkan Kecamatan Teluk Sampit tercatat 25 titik panas.

    Di Kecamatan Seranau, Kelurahan Mentaya Seberang mencatat 101 titik panas. Lokasinya berada tepat di seberang kawasan perkotaan Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya.

    Sebaran titik panas tersebut menjadi salah satu sumber asap yang dapat masuk ke Sampit. Pergerakannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

    Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kotim masih berubah dalam waktu singkat.

    “ISPU itu masih fluktuatif. Dalam hitungan jam saja nilainya bisa naik dan bisa turun,” kata Rihel, Senin (5/10/2026).

    Menurut Rihel, asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar kawasan kota. Asap dari Seranau, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit juga dapat terbawa menuju pusat perkotaan.

    Kondisi menjadi lebih buruk ketika angin melemah. Asap yang sudah mencapai kota tidak segera bergerak keluar dan kemudian bertahan di kawasan permukiman.

    “Setelah asap sampai ke kota, ketika kecepatan angin rendah atau tidak ada angin, akhirnya menetap di kota. Itu yang membuat asap semakin tebal dan ISPU naik, bahkan sampai 1.000 lebih,” ujarnya.

    Dampaknya terlihat pada jarak pandang. Rihel menyebut jarak pandang di Sampit beberapa kali turun drastis ketika konsentrasi asap meningkat. Dalam kondisi terburuk, jarak pandang hanya sekitar 10–20 meter.

    Nilai ISPU sempat turun dari kondisi ekstrem ke kisaran 300–400. Namun, angka tersebut masih jauh dari kondisi udara yang ideal.

    “Sebenarnya yang aman ISPU di bawah 50. Yang paling parah pernah di atas 1.000, biasanya sekitar 400, 300,” kata Rihel.

    Kondisi ini membuat kualitas udara Sampit sangat bergantung pada perkembangan kebakaran di wilayah sekitar dan perubahan pola angin.

    Mentaya Seberang menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan. Wilayah tersebut berada sangat dekat dengan pusat Kota Sampit dan mencatat 101 titik panas dalam data 24 jam terakhir.

    Ketika asap bergerak menuju kota sementara angin melemah, asap dapat bertahan lebih lama di kawasan perkotaan.

    Dengan ratusan titik panas masih terdeteksi di Kotim, ancaman asap bagi Sampit belum berakhir. Perubahan arah angin dalam beberapa jam ke depan akan ikut menentukan apakah asap bergerak menjauh atau kembali menumpuk di atas kota. (***)

  • 36.519 Hotspot dan 1.999 Hektare Terbakar, Karhutla Kotim Belum Mau Jinak

    36.519 Hotspot dan 1.999 Hektare Terbakar, Karhutla Kotim Belum Mau Jinak

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum juga jinak. Hingga 25 September 2026, sebanyak 1.132 kejadian karhutla telah ditangani dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 1.999 hektare.

    Di saat penanganan terus berjalan, akumulasi hotspot di wilayah Kotim juga telah mencapai 36.519 titik.

    Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kotim. Bupati Kotim Halikinnor memimpin evaluasi penanganan karhutla dan kekeringan di Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Sabtu (26/9/2026).

    Evaluasi tidak hanya membahas upaya pemadaman. Halikinnor juga meminta seluruh unsur yang terlibat memperkuat koordinasi di lapangan.

    Mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, instansi vertikal, dunia usaha, relawan hingga masyarakat diminta terus bergerak bersama dalam pemadaman dan pendinginan.

    Namun, di tengah upaya mengejar titik api, Halikinnor mengingatkan agar keselamatan personel tidak diabaikan.

    Menurutnya, kondisi lapangan cukup berisiko, terutama pada wilayah yang memiliki lahan gambut. Api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali muncul setelah terlihat padam.

    “Terima kasih sekali kepada tim Satgas. Yang utama juga jaga kesehatan dan keselamatan diutamakan saat pemadaman,” kata Halikinnor.

    Dia meminta personel tidak memaksakan diri ketika menghadapi situasi yang membahayakan. Risiko petugas terjebak di lokasi kebakaran harus menjadi perhatian selama operasi berlangsung.

    “Apalagi daerah kita ini gambut. Jadi jangan sampai nanti Anda terkurung di situ menjadi korban. Itu kan sangat prihatin sekali kalau hal itu terjadi. Jadi tetap prioritas utama adalah keselamatan,” tegasnya.

    Selain keselamatan, Halikinnor menyoroti sistem komando penanganan karhutla. Banyaknya unsur yang terlibat membutuhkan pembagian tugas dan koordinasi yang jelas.

    “Jadi makanya nanti tadi kita rapat evaluasi juga, saya juga menginstruksikan untuk nanti itu supaya komandonya itu jelas,” ujarnya.

    Halikinnor mengatakan seluruh unsur telah dilibatkan sejak awal penanganan karhutla. Namun, luas wilayah Kotim dan munculnya titik api di berbagai lokasi membuat penanganan masih menghadapi tantangan.

    Karena itu, kekompakan antarpetugas menjadi penting. Pemadaman dan pendinginan harus terus dilakukan agar api tidak kembali muncul dan meluas.

    Di sisi lain, masyarakat kembali diingatkan untuk tidak membakar lahan. Setiap menemukan api, warga diminta segera melaporkannya agar dapat ditangani lebih cepat.

    Karhutla Kotim belum selesai. Ribuan hektare lahan telah terbakar dan puluhan ribu hotspot tercatat. Penanganan terus diperkuat, tetapi keselamatan personel tetap menjadi prioritas. (***)

  • Angin Mati, Asap Mengunci Sampit: ISPU Tembus 332 Berbahaya dan Jarak Pandang Anjlok ke 800 Meter

    Angin Mati, Asap Mengunci Sampit: ISPU Tembus 332 Berbahaya dan Jarak Pandang Anjlok ke 800 Meter

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali dikunci oleh racun asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Jumat pagi (4/9/2026). Fenomena atmosferik angin mati (calm) membuat partikel polutan hasil pembakaran lahan terperangkap dan menumpuk pekat tepat di atas kawasan permukiman warga.

    ​Berdasarkan data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per pukul 07.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kotim merosot tajam hingga menyentuh angka 332, yang resmi menempatkan udara Sampit dalam Kategori BERBAHAYA (hitam). Parameter racun kritis didominasi oleh partikulat sangat halus PM 2.5 bernilai 332, sementara konsentrasi PM10 menyentuh angka 300 dengan kategori Sangat Tidak Sehat.

    ​Kondisi ini berbanding lurus dengan penurunan drastis ruang pandang. Data Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit mencatat jarak pandang anjlok menjadi hanya 800 meter pada pukul 07.00 WIB, merosot 700 meter dari posisi Kamis malam (3/9/2026) yang sempat mencapai 1.500 meter.

    ​Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, membeberkan bahwa kombinasi kecepatan angin nol kilometer per jam (calm) dan kelembapan ekstrem hingga 99,58 persen menjadi faktor utama yang mengunci asap di permukaan daratan Sampit.

    ​“Kecepatan angin pada Jumat pagi tercatat 0 kilometer per jam atau kondisi calm. Angin yang tenang membuat asap tidak cepat terdorong dan menyebar, sehingga konsentrasi asap dan partikel polutan menumpuk di dekat permukaan,” terang Mulyono Leo Nardo, Jumat (4/9/2026).

    ​Menanggapi memburuknya racun udara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Marjuki, mendesak masyarakat untuk tidak mengabaikan protokol kesehatan diri.

    ​“Tetap gunakan masker saat keluar ruangan, mencegah lebih baik daripada mengobati,” tegas Marjuki.

    ​Pekatnya asap pagi ini tak hanya mengancam kesehatan pernapasan publik, namun juga menempatkan aktivitas penerbangan di Bandara H. Asan Sampit serta lalu lintas pelayaran kapal dan kelotok di Sungai Mentaya pada risiko kecelakaan yang sangat tinggi.

    ​Terperangkapnya asap pekat di atas Kota Sampit akibat fenomena calm menelanjangi kerentanan ekstrem masyarakat perkotaan yang terus dipaksa menghirup racun PM 2.5 bernilai 332 tanpa perlindungan memadai. Ketika udara resmi berada pada kategori Berbahaya, imbauan pemakaian masker biasa tidak lagi cukup untuk menahan partikel nano penyusup paru-paru.

    ​Pemkab Kotim dan otoritas terkait didesak untuk mengambil tindakan taktis:

    ​Pemkab Kotim melalui Dinas Kesehatan wajib membagikan masker standar filtrasi tinggi (minimal N95 atau KN95) secara masif dan gratis kepada pengendara serta warga pemukiman, mengingat masker kain biasa gagal menyaring partikulat PM 2.5. Di samping itu, Dishub Kotim dan KSOP Sampit didesak untuk memperketat panduan keselamatan jalan raya dan pelayaran Sungai Mentaya guna mencegah insiden tabrakan di tengah jarak pandang yang terbatas.

    ​Sampit terkunci racun asap pekat ISPU tembus 332 Kategori Berbahaya, angin mati bikin asap mengumpul! Pemkab Kotim wajib bagikan masker N95 gratis dan tingkatkan pengawasan lalu lintas! (***)

  • Teluk Sampit Jadi Penyumbang Hotspot Terbanyak, Bagaimana Nasib Wilayah Selatan Kotim?

    Teluk Sampit Jadi Penyumbang Hotspot Terbanyak, Bagaimana Nasib Wilayah Selatan Kotim?

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebaran titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih tinggi. Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim per 1 September 2026 mencatat 894 titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah.

    Kecamatan Teluk Sampit menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak. Tercatat 228 titik panas berada di kecamatan yang terletak di bagian selatan Kotim tersebut.

    Jumlah itu menempatkan Teluk Sampit di posisi teratas. Berikutnya terdapat Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan 128 titik dan Mentaya Hilir Utara sebanyak 109 titik.

    Tingginya konsentrasi hotspot di wilayah selatan menjadi perhatian di tengah kondisi cuaca kering dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung.

    Wilayah Teluk Sampit dan kawasan sekitarnya memiliki bentang lahan yang luas, termasuk kawasan gambut dan perkebunan. Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika titik api muncul di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

    Persoalan karhutla juga tidak berhenti pada kemunculan titik panas. Asap yang ditimbulkan dapat bergerak mengikuti kondisi angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah yang lebih luas.

    Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan parameter PM2.5 mencapai 306. Angka tersebut masuk kategori Berbahaya.

    “Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah selatan perlu meningkatkan kewaspadaan. Paparan asap berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kotawaringin Timur Marjuki, Selasa (1/9/2026)

    Di sisi lain, keberadaan hotspot dalam jumlah tinggi juga menjadi tantangan bagi aktivitas masyarakat. Jika kebakaran meluas dan asap menutup akses jalan, mobilitas warga dan aktivitas ekonomi dapat ikut terganggu.

    Dengan Teluk Sampit mencatat jumlah hotspot tertinggi, pertanyaan berikutnya adalah seberapa cepat titik-titik tersebut dapat dikendalikan.

    Respons Satgas Karhutla dan pemerintah daerah menjadi krusial. Pemantauan titik panas, penanganan di lapangan, serta perlindungan terhadap masyarakat harus berjalan beriringan agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

    Wilayah selatan kini berada dalam sorotan. Bukan hanya karena jumlah hotspotnya, tetapi karena dampak yang bisa muncul jika titik panas tersebut berkembang menjadi kebakaran terbuka. (***)

  • Kabut Asap Pekat Kepung Sampit: Jarak Pandang 50 Meter, Pelayaran Mentaya Terancam Tabrakan dan Udara Berbahaya

    Kabut Asap Pekat Kepung Sampit: Jarak Pandang 50 Meter, Pelayaran Mentaya Terancam Tabrakan dan Udara Berbahaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin (31/8/2026) pagi.

    Kondisinya cukup pekat. Jarak pandang di daratan maupun kawasan Sungai Mentaya terbatas. Aktivitas warga tetap berlangsung, tetapi sejumlah kegiatan harus dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi.

    Data BMKG Kotim mencatat jarak pandang di Sampit hanya sekitar 50 meter pada pukul 06.00 WIB. Kondisi tersebut masih bertahan hingga pukul 07.00 WIB.

    Pada pukul 06.00 WIB, suhu udara tercatat 22,8 derajat Celsius dengan kelembapan 97 persen. Angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 4 kilometer per jam.
    Satu jam kemudian, suhu meningkat menjadi 23,3 derajat Celsius dengan kelembapan 98 persen. Kecepatan angin tercatat 0 kilometer per jam atau calm.

    Kabut asap tidak hanya mengurangi jarak pandang. Warga juga mengeluhkan bau asap yang menyengat serta mata perih dan berair ketika berada di luar ruangan.

    “Jarak pandang sekitar 5 meter saja, udara menyengat, mata perih dan berair bila terpapar langsung,” kata Nurul Hidayah, warga Sampit.

    Warga lainnya, Nanang menyebut kondisi Senin pagi sebagai kabut asap terparah yang dirasakannya selama karhutla tahun ini.

    “Ini yang terparah,” katanya.

    Udara Berbahaya
    Kondisi atmosfer tersebut beriringan dengan buruknya kualitas udara Kotim.

    Berdasarkan data ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup pada pukul 05.00 WIB, kualitas udara Kotim berada dalam kategori BERBAHAYA. Parameter kritis yang tercatat adalah PM₁₀.

    Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar ruangan. Warga diminta tetap berada di dalam ruangan serta menutup pintu dan jendela.

    Kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan, diminta menghindari paparan udara luar. Masyarakat yang terpaksa keluar juga dianjurkan menggunakan masker.

    Anak Tak Diizinkan Sekolah
    Kondisi kabut asap juga memengaruhi aktivitas pendidikan. Sejumlah orang tua memilih tidak mengizinkan anak mereka berangkat sekolah.

    Febby, salah seorang wali murid di Sampit, mengatakan ia memilih menahan anaknya di rumah karena belum mendapat arahan yang dianggap cukup jelas mengenai pembelajaran saat kabut asap parah.

    “Sudah liburkan saja dulu dari pada bengek,” ungkap Febby.

    Menurutnya, informasi dari sekolah sebelumnya menyebutkan siswa dapat diliburkan ketika kabut asap dalam kondisi parah. Persoalannya, kondisi asap tidak selalu sama di setiap wilayah.

    Namun Senin pagi, menurut pengamatannya, asap terlihat sangat pekat dan menyelimuti kawasan Sampit.
    Meski demikian, aktivitas sekolah tidak sepenuhnya berhenti. Pantauan Kanalindependen.id menunjukkan sejumlah pelajar tetap berangkat. Beberapa orang tua masih mengantar anak mereka menggunakan kendaraan.

    Sebagian pelajar dan orang tua terlihat mengenakan masker selama perjalanan.

    Sungai Mentaya Tak Luput
    Kabut asap juga membuat aktivitas transportasi di Sungai Mentaya menghadapi risiko lebih besar.
    Sejumlah motoris kelotok dari Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, tetap melakukan penyeberangan menuju Sampit. Dalam kondisi jarak pandang terbatas, komunikasi antarmotoris dilakukan dengan saling berteriak untuk mengetahui posisi masing-masing.

    Para motoris juga mengandalkan tanda-tanda yang masih dapat terlihat, termasuk sinar matahari, untuk membantu menentukan arah perjalanan.

    “Bisa saja, cuma memang rawan nyasar. Tapi selama masih terlihat matahari bisa jadi pemandu, kalau mau menyeberang ke Sampit, berati harus membelakangi. Kalau ke Mentaya Seberang harus mendatangi matahari,” kata Mansyah, salah seorang motoris kelotok.

    Situasi menjadi lebih menegangkan ketika kapal roro milik Dharma Lautan Utama masuk untuk bersandar di Pelabuhan Sampit.

    Kapal berukuran besar tersebut berada di jalur yang sama dengan aktivitas perahu kecil. Dalam kondisi jarak pandang terbatas, motoris harus memperhatikan suara terompet kapal untuk memperkirakan keberadaannya.

    “Cuma kalau barengan dengan kapal datang hatus ekstra waspada,” ujar Mansyah.

    Junus, warga yang memantau aktivitas di kawasan Sungai Mentaya, menilai kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan transportasi air.

    “Kondisi ini berbahaya, bisa saja terjadi tabrakan,” ungkap Ju us.

    Menurutnya, aktivitas kapal besar sebaiknya mempertimbangkan kondisi jarak pandang sebelum masuk ke perairan Mentaya.

    “Kalau bisa ditunda dulu masuk ke perairan Mentaya. Begitu pun dengan aktivitas seperti tongkang, kapal penumpang, feri penyeberangan dan perahu kelotok kecil,” katanya.

    Pantauan di kawasan pelabuhan menunjukkan sejumlah petugas Dinas Perhubungan turut memantau kedatangan kapal yang akan tambat di Pelabuhan Sampit.

    Hingga jarak pandang berangsur membaik, tidak dilaporkan adanya insiden berarti dalam aktivitas transportasi sungai pagi itu.

    Namun, kondisi kabut asap disebut bukan persoalan baru bagi motoris kelotok. Ketika jarak pandang turun drastis, risiko kehilangan orientasi meningkat.

    Beberapa kelotok yang seharusnya menuju Dermaga Pusat Perbelanjaan Mentaya maupun Dermaga Habaring Hurung bahkan pernah tersasar hingga ke kawasan Pelabuhan Sampit.

    960 Hotspot dalam 24 Jam
    Kabut asap tersebut terjadi di tengah tingginya aktivitas titik panas di Kotim.

    Data rekapitulasi hotspot yang diakses pada 31 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB menunjukkan terdapat 960 titik panas dalam akumulasi 24 jam terakhir.

    Sebanyak 917 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 36 titik pada tingkat kepercayaan tinggi, dan tujuh titik pada tingkat kepercayaan rendah.

    Mentawa Baru Ketapang menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 215 titik.

    Berikutnya Mentaya Hilir Selatan dengan 164 titik, Mentaya Hilir Utara 155 titik, Telawang 116 titik, dan Baamang 99 titik.

    Di Mentawa Baru Ketapang, Bangkuang Makmur menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbesar, mencapai 116 titik. Lima di antaranya berada pada tingkat kepercayaan tinggi.

    Sementara di Mentaya Hilir Selatan, Desa Jaya Karet mencatat 57 titik dengan enam titik berkepercayaan tinggi.

    Data hotspot tersebut merupakan hasil pemantauan titik panas. Keberadaan hotspot tidak otomatis menunjukkan seluruh titik merupakan karhutla dan tetap membutuhkan verifikasi lapangan.

    Namun, tingginya jumlah titik panas, kabut asap yang menurunkan jarak pandang hingga 50 meter, serta kualitas udara yang berada pada kategori berbahaya menunjukkan dampak asap sudah dirasakan langsung dalam aktivitas harian masyarakat Sampit.

    Transportasi sungai tetap bergerak. Pelajar masih berangkat sekolah. Warga tetap menjalankan aktivitas. Tetapi, Senin pagi itu, hampir seluruh kegiatan berlangsung dalam kondisi jarak pandang yang jauh dari normal. (***)

  • Abaikan Udara Beracun ISPU 108, Warga Sampit Nekat Olahraga di Tengah Kepungan Asap

    Abaikan Udara Beracun ISPU 108, Warga Sampit Nekat Olahraga di Tengah Kepungan Asap

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kepungan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Kamis sore (27/8/2026) tak kunjung menyurutkan antusiasme warga untuk berolahraga di luar ruangan. Sejumlah warga nekad memicu aktivitas fisik di ruang terbuka tanpa memedulikan risiko bahaya paparan polusi udara tingkat tinggi.

    Pantauan di lapangan menunjukkan kawasan ikonik Terowongan Nur Mentaya Sampit dan Stadion 29 Nopember Sampit tetap ramai dikunjungi. Mulai dari remaja hingga orang dewasa tampak asyik berjalan kaki, berlari, bersepeda, hingga bermain basket di area terbuka yang diselimuti lapisan asap gambut tebal.

    Padahal, data resmi Aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Sampit pada pukul 17.00 WIB menyentuh angka 108 dengan parameter kritis  PM10. Angka ini menempatkan kualitas udara Sampit berada dalam Kategori Tidak Sehat, status yang secara klinis merugikan kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan.

    Maraknya aktivitas fisik di tengah pekatnya polusi memicu respons tegas dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kotim. Kepala Dispora Kotim, Muhammad Irfansyah, meminta masyarakat untuk bersikap rasional dan menghentikan seluruh aktivitas olahraga luar ruangan demi menghindari gangguan pernapasan akut.

    “Kami dari Dispora mengingatkan, jika menjaga kebugaran tubuh memang perlu, tapi lihat situasinya. Kami menyarankan olahraga indoor saja, di dalam ruangan sajalah. Kami mengharapkan agar dikurangi ataupun dihentikan olahraga luar ruangan kalau kabut asap sedang pekat,” tegas Muhammad Irfansyah, Kamis (27/8/2026).

    Imbauan senada disampaikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nugroho Kuncoro Yudho. Ia menekankan bahwa melakukan olahraga berat di luar ruangan saat kualitas udara memburuk sangat berbahaya bagi organ pernapasan. Kebutuhan pasokan oksigen yang melonjak tinggi saat olahraga intensif dapat memicu kondisi hipoksia (kekurangan oksigen) serta memungut racun partikulat PM10  jauh lebih dalam ke paru-paru jika memaksa menggunakan masker ketat.

    Pemandangan warga yang tetap berolahraga berat di Terowongan Nur Mentaya dan Stadion 29 Nopember di tengah status ISPU 108 menelanjangi rendahnya tingkat kesadaran bahaya polusi racun partikulat  PM10 di tingkat akar rumput. Membiarkan paru-paru bekerja ekstra saat polusi tinggi sama saja mempercepat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang saat ini tengah ditangani 21 puskesmas se-Kotim.

    Pemkab Kotim tidak bisa hanya mengandalkan imbauan normatif di media massa. Dispora dan Satpol PP Kotim didesak untuk melakukan penertiban dan penutupan sementara fasilitas olahraga luar ruangan publik (open-air athletic venues) seperti kompleks Stadion 29 Nopember saat indeks ISPU berada di atas ambang batas aman. Di sisi lain, Dinas Kominfo Kotim wajib memasang papan tulisan Indeks ISPU digital di titik-titik keramaian seperti Terowongan Nur Mentaya agar warga mengetahui secara real-time tingkat racun udara yang sedang mereka hirup.

    Sayangi paru-paru Anda, hentikan olahraga luar ruangan saat asap pekat! ISPU Sampit tembus 108 Kategori Tidak Sehat! Dispora dan Pemkab Kotim wajib tegas batasi fasilitas olahraga luar ruangan! (***)