Kanalindependen.id – Dunia mungkin tak selalu mendengar dentuman dari medan perang. Tapi di balik layar, serangan lain berlangsung senyap, cepat, dan kerap tak terlihat.
Sejak awal 2026, kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran mulai bergerak lebih agresif. Mereka tidak lagi sekadar bertahan dari serangan digital, melainkan aktif menyerang menargetkan Amerika Serikat dan Israel dalam gelombang operasi siber yang terus meningkat.
Namun ini bukan sekadar soal membobol sistem.
Ini tentang menciptakan rasa takut.
Alih-alih melumpuhkan infrastruktur besar secara langsung, banyak serangan justru diarahkan pada hal yang lebih halus namun berdampak luas: membocorkan data lama, meretas email pribadi, hingga menyusup ke kamera pengawas. Informasi yang diambil tak selalu baru, bahkan kadang sudah usang tapi cukup sensitif untuk memicu kepanikan.
Di titik inilah strategi berubah.
Serangan siber kini tak hanya bicara teknologi, melainkan juga psikologi. Ketika data pribadi seorang pejabat tersebar, atau rekaman dari kamera keamanan muncul di ruang publik, yang terguncang bukan hanya sistem tetapi juga kepercayaan.
Di Israel, misalnya, laporan menyebutkan puluhan kamera pengawas berhasil diakses peretas. Sementara di Amerika Serikat, sejumlah akun email pejabat menjadi target. Tidak semua serangan berujung kerusakan besar, tapi efeknya terasa: kekhawatiran, ketidakpastian, dan tekanan yang terus mengendap.
Menariknya, banyak dari serangan ini tidak tergolong canggih.
Sebagian hanya memanfaatkan celah lama yang belum diperbarui, atau teknik sederhana seperti phishing. Namun dilakukan dalam jumlah besar dan terus-menerus, serangan-serangan ini menjelma menjadi ancaman yang sulit diabaikan.
Seperti gerimis yang tak deras, tapi tak pernah benar-benar berhenti.
Para analis keamanan menyebut pola ini sebagai bagian dari strategi “hack-and-leak” membobol, lalu menyebarkan. Tujuannya bukan hanya mendapatkan akses, tetapi juga mempermalukan, mengganggu, dan menguras perhatian target.
Di tengah konflik yang lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, ruang siber kini menjadi medan tempur tambahan. Tidak ada garis depan yang jelas, tidak ada peringatan serangan. Yang ada hanya notifikasi, kebocoran data, dan sistem yang tiba-tiba tak lagi aman.
Perang, rupanya, tak selalu hadir dalam bentuk yang bisa dilihat mata.
Dan di era ini, satu celah kecil di dunia digital bisa menjadi pintu masuk bagi keguncangan yang jauh lebih besar. (***)
