Tag: Jalan Ir Soekarno

  • Orangutan Belum Ditemukan di Kebun Karet Baamang Hulu, BKSDA Temukan Jejak

    Orangutan Belum Ditemukan di Kebun Karet Baamang Hulu, BKSDA Temukan Jejak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Upaya mencari tiga individu orangutan yang diduga keluar dari habitatnya dan muncul di kebun karet warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kotawaringin Timur (Kotim), kembali dilakukan BKSDA Resort Sampit, Minggu (4/10/2026).

    Pencarian dilakukan di kebun karet milik warga bernama Rey yang berada di Jalan Soekarno atau Lingkar Utara, masuk Gang Mustika. Namun, petugas belum menemukan keberadaan satwa yang sebelumnya dilaporkan muncul di kawasan tersebut.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, pemantauan kembali dilakukan karena waktu masih memungkinkan. Petugas Pos Sampit bersama rekan-rekan dari Kumai, di antaranya Haru dan Yogi, bergerak menyisir lokasi.

    “Di lokasi bertemu dengan pemilik lahan di sebuah pondok. Kemudian dilakukan pencarian dengan membagi menjadi dua tim, kiri dan kanan kebun,” kata Muriansyah.

    Dari penyisiran tersebut, orangutan tidak ditemukan. Meski demikian, petugas menemukan jejak yang diduga milik orangutan di sekitar lokasi.

    Diduga Ada Tiga Individu

    Temuan tersebut menambah petunjuk terkait keberadaan orangutan yang sebelumnya dilaporkan warga. BKSDA masih menduga terdapat tiga individu di kawasan tersebut, terdiri atas satu jantan, satu induk dan satu anak.

    Sebelumnya, warga melaporkan kemunculan induk dan anak orangutan di kebun karet tersebut. Sementara dokumentasi yang diterima petugas juga menunjukkan dugaan keberadaan satu individu jantan dewasa.

    Muriansyah mengatakan, keberadaan tanaman nanas menjadi salah satu alasan yang membuat orangutan diduga berpotensi kembali ke lokasi.

    “Dugaan kuat, cepat atau lambat, orangutan akan datang lagi ke lokasi tersebut karena ada tanaman nanas,” ujarnya.

    Karena itu, petugas meminta pemilik lahan dan warga sekitar segera menghubungi BKSDA apabila orangutan kembali terlihat.

    Langkah tersebut penting untuk memastikan keberadaan satwa dapat dipantau sekaligus mengantisipasi terjadinya interaksi langsung antara orangutan dengan manusia.

    Hingga pemantauan terakhir, keberadaan ketiga individu orangutan tersebut masih belum diketahui. BKSDA masih membuka kemungkinan satwa kembali muncul di kebun warga, terutama karena terdapat sumber makanan yang menarik perhatian satwa. (***)

  • Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membumihanguskan ekosistem gambut di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memaksa satwa liar keluar dari habitat aslinya. Diduga akibat habitatnya terkurung api, satu keluarga orangutan (Pongo pygmaeus) yang terdiri dari induk, anak, dan satu individu jantan dewasa, terusir dan merangsek masuk ke kawasan kebun karet milik warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi kemunculan tiga individu orangutan tersebut di Jalan Ir. Soekarno (Lingkar Utara), Gang Mustika, berdasarkan laporan yang diterima pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

    Laporan awal disampaikan oleh Hadi Suryani, staf DPMD Kotim, berdasarkan kesaksian warga bernama Rey yang mendapati dua individu orangutan (induk dan anak) merusak tanaman di kebun karet miliknya.

    Petugas BKSDA Pos Sampit bersama tim pendamping dari Kumai langsung bergerak ke lokasi sekitar pukul 15.00 WIB untuk melakukan observasi. Di lokasi, tim bertemu dengan Rey dan keluarganya yang mengonfirmasi bahwa satwa tersebut semakin sering terlihat selama kemarau dan karhutla massif terjadi di sekitar area tersebut.

    “Warga mendokumentasikan individu orangutan pada Rabu lalu di dekat pondok. Namun dari foto tersebut, individu yang terlihat diduga kuat jantan dewasa. Dipadukan dengan laporan warga yang melihat induk dan anak, besar kemungkinan terdapat 3 individu yang terisolasi di lokasi tersebut,” jelas Muriansyah, Sabtu (3/10/2026).

    BKSDA Temukan Belasan Sarang di Zona Kepungan Api

    Petugas kemudian membagi personel menjadi dua regu untuk menyisir kebun karet seluas 4 hektare tersebut. Meski ketiga individu orangutan tidak berjumpa fisik saat penyisiran berlangsung, tim menemukan bukti otentik berupa belasan sarang orangutan di atas pohon, termasuk dua di antaranya merupakan sarang Kelas A (sarang segar).

    Penemuan belasan sarang tersebut, dipadukan dengan kondisi sekeliling kebun karet yang hangus bekas terbakar dan tebalnya kepulan asap aktif dari karhutla di ekosistem gambut sekitarnya, memperkuat dugaan bahwa habitat asli orangutan telah hancur. Aktivitas pembakaran dan asap pekat memaksa satwa merangsek ke kebun warga demi menyelamatkan diri.

    BKSDA Pos Sampit mengimbau keras warga untuk tidak melukai atau mengusir satwa secara anarkis, serta segera melapor ke petugas jika orangutan kembali muncul agar proses evakuasi darurat (rescue/translocation) dapat segera dieksekusi.

    Terusirnya satu keluarga orangutan ke Baamang Hulu menjadi pukulan telak atas kepunahan biodiversitas akibat ambisi land clearing ilegal dan karhutla. Ketika hutan gambut di zona penyangga Jalan Ir. Soekarno terbakar habis, orangutan terperangkap di pulau-pulau vegetasi tersisa di tengah kepungan asap dan api, memicu risiko kematian akibat ISPA parah atau konflik fatal dengan manusia.

     BKSDA Kalteng bersama tim medis konservasi diharapkan harus segera menggelar operasi evakuasi darurat untuk translokasi tiga individu orangutan ini ke zona konservasi aman sebelum satwa tewas atau konflik pecah.

    Sementara itu, Pemkab Kotim dan penegak hukum wajib mengunci status lahan gambut terbakar di sepanjang Lingkar Utara guna mencegah adanya oknum spekulan yang sengaja membiarkan lahan terbakar untuk mempermudah alih fungsi lahan ilegal. (***)

  • Sampit Dikepung Gelombang Kebakaran: Tiga Musibah Beruntun Hantam Pemukiman dan Tempat Usaha dalam 24 Jam

    Sampit Dikepung Gelombang Kebakaran: Tiga Musibah Beruntun Hantam Pemukiman dan Tempat Usaha dalam 24 Jam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gelombang teror kebakaran di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), makin tak terkendali. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, tiga musibah kebakaran hebat melanda berbagai penjuru kota, mulai dari area pemukiman padat hingga kawasan usaha warga.

    Musibah terbaru mengguncang kawasan Sinar Fajar, Jalan Ir Soekarno, Lingkar Utara Sampit, pada Rabu pagi (26/8/2026). Kobaran api melumat habis sebuah bangunan yang difungsikan sebagai tempat usaha penjualan batako dan bata.

    Lokasi kebakaran yang berdempetan dengan perumahan warga memicu kepanikan masal sebelum akhirnya enam unit armada pemadam kebakaran tiba di lokasi untuk mengisolasi api. Seorang warga sekitar, Teguh, membenarkan kepanikan warga di jalur utama Lingkar Utara tersebut.

    “Benar ada kebakaran di Sinar Fajar, Jalan Ir Soekarno Lingkar Utara. Yang terbakar tempat jual batako dan bata, lokasinya dekat perumahan,” ujar Teguh di lokasi kejadian, Rabu (26/8/2026).

    Insiden Rabu pagi ini menyusul musibah mematikan pada Selasa malam (25/8/2026) sekitar pukul 21.00 WIB di Jalan Batu Mutiara, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Sebuah rumah panggung berbahan kayu ludes terbakar saat ditinggal pergi penghuninya.

    Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim beserta relawan yang menerjunkan lima unit armada sempat mengalami kendala kritis akibat keringnya anak-anak sungai di sekitar lokasi akibat musim kemarau.

    Komandan Peleton I Disdamkarmat Kotim, Ahmad Ilham Wahyudi, membeberkan perjuangan berat personelnya di tengah krisis air baku di lapangan.

    “Mengingat kita musim kemarau, kita memang agak kesulitan untuk pengambilan air karena beberapa anak sungai sudah kering. Kita harus bolak-balik ke mako Damkarmat untuk suplai air. Beruntung kobaran api berhasil dilokalisir sehingga tidak menghanguskan seluruh bangunan di sebelahnya,” ungkap Ahmad Ilham Wahyudi, Selasa malam (25/8/2026).

    Rangkaian musibah ini melengkapi insiden Selasa siang sebelumnya, di mana sebuah bangunan kayu di sekitar Pengaringan Permai, Jalan Jenderal Soedirman, juga dilaporkan terbakar. Hingga kini, pihak Kepolisian bersama Disdamkarmat Kotim masih melakukan penyelidikan intensif guna mengidentifikasi penyebab pasti serta total kerugian materiil dari tiga lokasi kebakaran tersebut.

    Rentetan tiga peristiwa kebakaran dalam kurun 24 jam di Sampit menelanjangi krisis ketahanan armada pemadam saat menghadapi kekeringan ekstrem di musim kemarau. Keringnya pasokan air baku di anak-anak sungai perkotaan menjadi sinyal bahaya bagi keselamatan aset dan nyawa warga Kotim.

    Pengambilan air baku yang harus bolak-balik ke Mako Disdamkarmat memakan waktu krusial (response time). Pemkab Kotim didesak untuk segera membuat titik pangkalan air (water intake point) darurat menggunakan tangki penyimpan kapasitas besar di tiap kelurahan rawan kebakaran. Di sisi lain, tingginya frekuensi kebakaran di siang dan malam hari mengindikasikan tingginya risiko korsleting listrik serta kecenderungan perambatan api di lingkungan sekitar bangunan yang mengering. Pemkab Kotim wajib menggalakkan patroli siaga pemukiman dan instruksi pembersihan vegetasi kering di sekitar tempat usaha dan rumah warga. (***)