Tag: Jalan Tjilik Riwut

  • Jalan Tjilik Riwut Ditutup Permanen, Pemkab Kotim Siapkan Pengaspalan dan Penerangan Jalan Jaksa Agung

    Jalan Tjilik Riwut Ditutup Permanen, Pemkab Kotim Siapkan Pengaspalan dan Penerangan Jalan Jaksa Agung

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi memberlakukan penutupan permanen Jalan Tjilik Riwut di kawasan ujung landasan pacu atau runway 13 Bandara Haji Asan Sampit, Kamis (22/10/2026).

    Sebagai jalur pengganti, Pemkab Kotim menyiapkan pengaspalan pada sejumlah bagian Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sekaligus merencanakan pemasangan penerangan jalan umum (PJU) untuk menunjang keselamatan pengguna jalan.

    Penutupan permanen tersebut dilakukan setelah pemerintah daerah bersama pihak terkait melaksanakan sejumlah tahapan sosialisasi, simulasi pengalihan arus lalu lintas, dan evaluasi.

    Kebijakan ini berkaitan dengan pengembangan Bandara Haji Asan Sampit, khususnya pembangunan pagar pengaman sepanjang 764 meter di kawasan ujung landasan pacu yang melintasi jalan tersebut.

    Pembangunan pagar dikerjakan menggunakan sumber dana APBN sebesar Rp 1,2 Miliar yang hingga kini progressnya sudah mencapai 90 persen dan diperkirakan rampung November 2026.

    Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, penutupan tidak dilakukan secara mendadak. Sebelum diterapkan secara permanen, pemerintah daerah telah melakukan simulasi dan mengevaluasi pengaturan lalu lintas untuk memastikan masyarakat dapat menggunakan jalur alternatif yang disiapkan.

    ”Setelah beberapa kali kita melakukan simulasi uji coba, evaluasi, dan sosialisasi yang cukup panjang, akhirnya mulai hari ini kita lakukan penutupan secara permanen,” ujarnya saat meninjau kawasan tersebut, Kamis (22/10/2026).

    Halikinnor mengatakan penutupan Jalan Tjilik Riwut merupakan bagian dari konsekuensi pembangunan fasilitas bandara.

    Area yang digunakan untuk pengembangan bandara telah melalui proses pengadaan oleh pemerintah daerah dan selanjutnya diperuntukkan bagi kebutuhan pengembangan fasilitas penerbangan.

    Pembangunan pagar pengaman di sekitar ujung landasan pacu membuat akses jalan tersebut tidak dapat lagi dipertahankan seperti sebelumnya.

    Karena itu, arus kendaraan dari Sampit menuju Palangka Raya dan sebaliknya, dialihkan melalui jalur pengganti di Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sepanjang 3 km. Pengendara akan menemukan perempatan Jalan Jaksa Agung – Jalan menuju Desa Kandan dan ruas Jalan Ir Soekarno (Jalur lingkar utara).

    Bagi pengendara yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Palangka Raya berbelok ke kanan melintasi ruas jalur lingkar utara sepanjang 3 km hingga menemukan pertigaan Jalan Tjilik Riwut KM 8. Sehingga, total jarak tempuh 6 km dari muara Jalan Jaksa hingga menembus Jalan tjilik Riwut KM 8.

    Sedangkan, bagi pengendara yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan Bun diarahkan berbelok ke kiri melintasi ruas jalan yang sama di jalur lingkar utara.

    Pemkab Kotim rencananya juga akan membuka jalur alternatif kedua menuju Palangka Raya. Setelah perempatan jalur lingkar utara, pengendara dapat meneruskan perjalanan melewati jalan yang mengarah ke Desa Kandan dan akan menembus Jalan Tjilik Riwut dekat Jembatan Bejarum, Kotabesi.

    Alternatif jalan ini diperkirakan akan lebih cepat, namun jalan ini baru sekitar 1 km yang diaspal, sehingga Pemkab Kotim kedepannya akan melanjutkan pengembangan pengasapalan jalan hingga menembus Jalan Tjilik Riwut.

    Jalan yang sering disebut Jalan Simpang Kandan ini juga direncanakan akan dijadikan sentra pedagang buah-buahan terutama nanas yang dikenal di Kota Sampit.

    Halikinnor berharap pengguna jalan dapat menyesuaikan diri dengan pengaturan rute baru, meskipun perjalanan ke sejumlah tujuan mungkin menjadi lebih jauh dibandingkan ketika Jalan Tjilik Riwut masih dapat dilalui.

    ”Ini salah satu bentuk kemajuan suatu daerah. Salah satu risikonya seperti itu. Harapan saya, masyarakat juga memahami bahwa ini untuk kepentingan kita semua, dengan penutupan ini,” katanya.

    Saat melakukan peninjauan, Halikinnor juga mengaku belum menerima keluhan berarti dari masyarakat terkait pemberlakuan penutupan permanen tersebut.

    Ia menyebut telah menanyakan kondisi di lapangan kepada petugas Satuan Lalu Lintas yang berjaga untuk mengetahui respons pengguna jalan terhadap pengalihan arus.

    Dari hasil pengecekan tersebut, ia belum menemukan adanya pengguna jalan yang menghentikan perjalanan untuk menyampaikan keberatan karena harus menempuh jalur yang lebih jauh.

    Meski demikian, pemerintah daerah tetap menyiapkan perbaikan pada jalan pengganti agar dapat digunakan dengan lebih nyaman. Salah satu perhatian utama adalah kondisi Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto yang menjadi bagian penting dari jalur alternatif setelah penutupan Jalan Tjilik Riwut.

    Halikinnor mengatakan, sejumlah bagian Jalan Jaksa Agung yang sebelumnya mengalami kerusakan telah ditangani menggunakan material agregat. Penanganan tersebut menjadi tahap awal sebelum dilakukan pengaspalan.

    ”Ini jalan alternatifnya. Kondisinya sebagian besar sudah diaspal. Makanya saya cek lagi bagian jalan yang kondisinya sedikit rusak itu sudah diagregat, tapi dalam tahun ini juga akan diaspal,” tegasnya.

    Pengaspalan direncanakan menyasar bagian-bagian jalan yang memerlukan perbaikan. Dengan demikian, peningkatan kualitas jalan tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki permukaan yang rusak, tetapi juga untuk mendukung kelancaran arus kendaraan yang kini dialihkan setelah penutupan permanen Jalan Tjilik Riwut km 5-6.

    Kepala Dinas Perhubungan Kotim  Raihansyah menambahkan, penanganan agregat kelas A sudah dikerjakan sekitar 800 meter.

    ”Tahap pengaspalan ditargetkan berlangsung pada November 2026. Proses lelang untuk pekerjaan tersebut juga sudah selesai. Jadi, sebagian jalan yang rusak di Jalan Jaksa dipastikan akan diaspal bulan depan,” kata Raihansyah yang juga mendampingi Bupati Kotim saat meninjau jalan di kawasan tersebut.

    Penanganan Jalan Jaksa lanjut Raihan, tidak terbatas pada satu bagian sepanjang sekitar 800 meter.

    ”Ada beberapa titik lain juga masuk dalam pekerjaan pengaspalan, termasuk bagian jalan di sekitar jembatan atau gorong-gorong yang permukaannya lebih tinggi dan perlu diratakan,” ujarnya.

    Perbaikan pada titik-titik tersebut diperlukan agar perbedaan elevasi tidak mengganggu kenyamanan kendaraan saat melintas.

    Penanganan permukaan jalan dan kelengkapan penerangan diharapkan membuat Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto lebih siap menjalankan fungsinya sebagai jalur pengganti setelah Jalan Tjilik Riwut ditutup permanen.

    Raihansyah kembali menekankan bahwa, penutupan permanen Jalan Tjilik Riwut di kawasan runway 13 Bandara Haji Asan Sampit dilaksanakan setelah serangkaian sosialisasi dan simulasi.

    Pemerintah terus melakukan evaluasi sebelum akhirnya menetapkan pengalihan arus lalu lintas kendaraan secara permanen pada 22 Oktober 2026.

    ”Untuk penutupan jalan permanen di runway 13 Bandara Haji Asan, sudah kami lakukan beberapa kali sosialisasi dan simulasi, kami terus melakukan evaluasi. Akhirnya, pada hari ini, tanggal 22 Oktober 2026, kami lakukan penutupan permanen,” jelasnya.

    Raihansyah menerangkan, penutupan tersebut sejalan dengan perkembangan pekerjaan perpanjangan landasan pacu dan pembangunan pagar di kawasan ujung runway. Pekerjaan pagar dilaksanakan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026.

    Selain memastikan pengaturan lalu lintas berjalan, Dinas Perhubungan juga menyiapkan kelengkapan rambu-rambu di sekitar jalur pengalihan yakni di Jalan Jaksa Agung.

    ”Untuk saat ini, rambu yang terpasang masih bersifat sementara nanti akan dilengkapi dan dibuat permanen pada 2026 agar pengguna jalan memperoleh petunjuk yang jelas saat melintasi kawasan,” ujarnya.

    Kejelasan rambu menjadi bagian penting dari pengaturan jalan setelah penutupan permanen. Pengguna jalan perlu mengetahui arah perjalanan dan jalur yang harus dilalui sehingga tidak kebingungan ketika mendekati kawasan yang sudah tidak dapat diakses.

    Raihansyah menambahkan Pemkab Kotim juga merencanakan akan memasang penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto hingga Lingkar Utara.

    Penerangan dibutuhkan untuk membantu pengguna jalan melintas dengan aman, terutama pada malam hari ketika kondisi jalan dan lingkungan sekitar lebih sulit terlihat.

    Rencana penerangan tersebut mencakup jalur sepanjang kurang lebih 3,7 kilometer, dari Simpang Jaksa menuju Lingkar Utara.

    ”Dalam tahap perencanaan, kebutuhan lampu diperkirakan mencapai 70 hingga 80 titik yang ditempatkan pada satu sisi jalan,” ujarnya.

    Raihansyah menyebutkan, perencanaan PJU dilakukan pada 2026, sedangkan pelaksanaan fisiknya diusulkan untuk 2027.

    Dengan rencana tersebut, peningkatan fasilitas Jalan Jaksa tidak hanya mengandalkan perbaikan permukaan jalan, tetapi juga mencakup penerangan untuk menunjang keselamatan lalu lintas.

    ”Perencanaan PJU diusulkan di perubahan anggaran tahun ini dan realisasinya akan dilaksanakan 2027,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • 304 Gram Sabu Cempaga Dibongkar: Polres Kotim Didesak Tak Berhenti di Kurir Paruh Baya

    304 Gram Sabu Cempaga Dibongkar: Polres Kotim Didesak Tak Berhenti di Kurir Paruh Baya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Peredaran gelap narkotika jenis sabu skala besar kembali dibongkar jajaran Satresnarkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim). Sebanyak 14 paket sabu dengan berat kotor mencapai 304,1 gram berhasil disita dari dua lokasi penggerebekan di Desa Patai, Kecamatan Cempaga. Seorang perempuan paruh baya berinisial RN alias M (51) berhasil digelandang ke Mapolres Kotim.

    Pengungkapan kasus ini dieksekusi pada Selasa (6/10/2026) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB di pinggir Jalan Tjilik Riwut Km 48, Desa Patai. Penindakan cepat tersebut berkat tindak lanjut informasi akurat dari masyarakat terkait dugaan transaksi barang haram di kawasan tersebut.

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Ps. Kasi Humas IPTU Edi Walujo mengonfirmasi kronologi penangkapan saat tim berhasil mengamankan tersangka RN yang sedang berdiri mencurigakan di tepi jalan.

    “Setelah menunjukkan surat perintah tugas dan disaksikan perangkat desa serta ketua RT setempat, petugas melakukan penggeledahan. Di lokasi pertama tepi jalan, ditemukan 10 paket kecil sabu yang terbungkus tisu dan plastik hitam, berikut satu unit telepon genggam Samsung Galaxy A06 Pro,” terang IPTU Edi Walujo, Jumat (9/10/2026).

    Penggeledahan Lanjutan di Pondok: Ditemukan 4 Paket Besar dan Timbangan Digital

    Tak berhenti di pinggir jalan raya, tim Satresnarkoba bergerak melakukan penggebekan susulan ke sebuah pondok di Gang Bukit Ipuh, Jalan Tjilik Riwut, Desa Patai, merujuk pada pengakuan tersangka RN yang menyimpan sisa pasokan sabu lainnya.

    Di dalam pondok tersebut, polisi membongkar simpanan 4 paket sabu ukuran besar yang disembunyikan di dalam toples bekas terbungkus kantong plastik hitam. Selain itu, petugas juga mengamankan seperangkat alat pengemas berupa, 1 bal plastik klip transparan, 1 unit timbangan digital presisi dan potongan sedotan plastik berujung runcing

    Dengan total 14 paket sabu seberat 304,1 gram tersebut, tersangka RN bersama seluruh barang bukti langsung dibawa ke Mapolres Kotim guna menjalani proses penyidikan dan pengembangan kasus.

    Atas perbuatannya, perempuan berusia 51 tahun ini terancam hukuman berat dengan sangkaan Pasal 114 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 UU No. 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

    Pengungkapan 304,1 gram sabu di Cempaga ini menjadi bukti sah bahwa Kabupaten Kotim masih menjadi pasar empuk sekaligus jalur transit utama (syndicate corridor) peredaran gelap narkotika. Keterlibatan perempuan paruh baya berusia 51 tahun yang menguasai ratusan gram sabu siap edar menegaskan pola pergeseran modus operandi sindikat yang memanfaatkan figur rentan sebagai benteng perantara (courier shield).

    Satresnarkoba Polres Kotim dituntut tidak berhenti pada penangkapan RN sebagai pengedar atau kurir di tingkat tapak. Penyidik wajib melacak rekam jejak digital pada telepon genggam tersangka guna membongkar bandar besar pemasok barang 300 gram tersebut.

    Keberhasilan warga Desa Patai membongkar peredaran ini wajib diapresiasi. Polres Kotim didesak memperketat patroli di sepanjang koridor Jalan Tjilik Riwut Km 40–Km 60 yang rawan dijadikan titik penyerahan barang (drop-off point) antar-wilayah. (***)

  • Jalan Tjilik Riwut Sampit Mulai Ditutup, Jalan Jaksa Disiapkan Jadi Jalur Utama Pengganti

    Jalan Tjilik Riwut Sampit Mulai Ditutup, Jalan Jaksa Disiapkan Jadi Jalur Utama Pengganti

    SAMPIT, kanalindependen.id – Uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut di kawasan ujung landasan pacu Bandara Haji Asan Sampit mulai dilakukan Kamis (8/10/2026).

    Pengalihan arus lalu lintas ini menjadi tahap awal sebelum ruas jalan tersebut ditutup permanen untuk mendukung pengembangan dan pengamanan kawasan bandara, dengan mengalihkan Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sebagai jalur utama pengganti.

    Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotawaringin Timur (Kotim) Raihansyah mengatakan, simulasi uji coba  dilakukan untuk memastikan kesiapan pengalihan lalu lintas sebelum penutupan diberlakukan secara permanen.

    Pemerintah daerah, memahami perubahan akses itu akan berdampak terhadap masyarakat yang selama ini menggunakan Jalan Tjilik Riwut, terutama pengguna rute Sampit–Palangka Raya maupun sebaliknya.

    ”Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan kepada masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur atas penutupan jalan di sekitar runway Bandara Haji Asan Sampit, terutama jalan menuju ke arah Kota Palangka Raya ataupun sebaliknya,” kata Raihansyah.

    Uji coba dilakukan selama tiga hari, mulai pukul 08.30 hingga 11.00 WIB setiap harinya. Hal itu dilakukan untuk membiasakan pengendara melewati jalur pengganti melewati Jalan Jaksa Agung R Soeprapto.

    ”Jadi, kami coba mulai hari ini, dari pukul 08.30 sampai pukul 11.00 setiap harinya, selama tiga hari. Setiap hari akan kami evaluasi,” ujarnya.

    Evaluasi mencakup titik-titik yang masih memiliki kekurangan, termasuk kebutuhan rambu dan hal lain yang berkaitan dengan pengalihan arus.

    ”Setiap hari akan kami adakan evaluasi. Di mana titik kekurangannya, rambunya, ataupun apa pun yang berkaitan dengan kekurangan ini. Itu akan menjadi bahan keputusan kami untuk melakukan penutupan total,” jelas Raihansyah.

    Selama masa uji coba, masyarakat diminta berhati-hati karena rambu-rambu di jalur pengalihan belum seluruhnya terpasang. Dishub tetap menempatkan petugas di sejumlah titik untuk membantu pengguna jalan.

    ”Kami mengimbau masyarakat yang akan melintas di jalan ini agar lebih berhati-hati karena belum terpasang rambu lalu lintas. Namun, kami tetap menempatkan petugas di titik-titik jalan yang dilalui akibat penutupan ini,” katanya.

    Berkaitan dengan Pengembangan Bandara

    Raihansyah menegaskan, penutupan Jalan Tjilik Riwut bukan pengalihan sementara akibat pekerjaan proyek. Ruas tersebut masuk dalam kawasan yang dipersiapkan untuk pengembangan Bandara Haji Asan.

    ”Perlu dipahami, ini dalam rangka melakukan pembangunan berkelanjutan. Rencana ini bukan rencana pada tahun ini saja, tetapi master plan yang sudah berjalan sejak lama,” ujarnya.

    Pemkab Kotim lanjut Raihansyah, memiliki master plan bandara sekaligus master plan pengembangan Kota Sampit dan Kabupaten Kotim yang telah berjalan dari pemerintahan sebelumnya.

    ”Jadi, kita punya master plan bandara dan juga master plan pengembangan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, secara berkelanjutan dari pemimpin-pemimpin sebelumnya,” kata Raihansyah.

    Saat ini, pembangunan pagar di kawasan bandara juga telah berjalan setelah Kotim mendapatkan alokasi anggaran APBN 2026 untuk pemagaran.

    ”Kita lihat, pada posisi sekarang sudah ada pemagaran. Alhamdulillah, pada tahun 2026 ini kita mendapat alokasi anggaran dari APBN untuk pemagaran bandara,” ujarnya.

    Pekerjaan pemagaran tersebut akan dilanjutkan dengan pembangunan fondasi yang membutuhkan pemotongan bagian jalan.

    ”Rencana Senin depan, kami akan lakukan cutting jalan untuk melanjutkan pembangunan fondasi pagar,” katanya.

    Raihansyah mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk pengembangan Bandara Haji Asan, termasuk peluang perpanjangan runway pada tahun berikutnya.

    ”Kami terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan. Mudah-mudahan tahun depan akan ada perpanjangan runway di Bandara Haji Asan Sampit,” ujarnya.

    Raihansyah menjelaskan, kebutuhan pengembangan tersebut semakin penting karena Bandara Haji Asan sudah melayani pesawat berbadan besar. Sejumlah aspek teknis juga masih menjadi perhatian, termasuk obstacle dan runway end safety area (RESA).

    ”Sekarang kita sudah tahu bahwa sudah ada pesawat berbadan besar yang beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit. Tentunya, kemarin ada beberapa catatan dan evaluasi kami, termasuk obstacle-obstacle yang ada di bandara, termasuk juga RESA,” jelasnya.

    Raihansyah berharap pengembangan dan pengamanan runway dapat meningkatkan fungsi bandara sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi Kotim.

    ”Kalau ini sudah kita perpanjang dan kita amankan, insyaallah ke depannya bandara ini akan lebih maju. Efek  luar biasa terhadap perekonomian Kabupaten Kotawaringin Timur,” katanya.

    Jalan Jaksa Jadi Jalur Utama Pengganti

    Sebagai konsekuensi penutupan Jalan Tjilik Riwut, pemerintah menyiapkan Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sebagai jalur pengganti.

    Raihansyah mengatakan jalan tersebut mulai dibenahi dan difungsikan untuk mendukung pengalihan arus.

    ”Sekarang kita coba fungsikan, sudah muncul warung-warung kecil,” ujarnya.

    Menurut Raihansyah, munculnya aktivitas perdagangan di sepanjang Jalan Jaksa menjadi salah satu dampak dari mulai berfungsinya jalur tersebut.

    ”Ini juga akan menambah perekonomian kita. Walaupun jarak tempuh akan lebih jauh, kami menyiapkan alternatif jalan di Jalan Bengkirai untuk kendaraan roda dua,” katanya.

    Selain menjadi jalur pengganti, Jalan Jaksa diproyeksikan memiliki konektivitas yang lebih luas. Jalur tersebut nantinya akan terhubung dengan akses menuju Desa Kandan.

    ”Untuk diketahui juga, ke depannya Jalan Jaksa ini terkoneksi dengan jalan menuju Desa Kandan. Ini lurus, nanti akan menuju Desa Kandan,” ujarnya.

    Pengembangan tersebut, lanjut Raihansyah, merupakan bagian dari program pemerintah daerah untuk membentuk konektivitas dari kawasan Jalan Tjilik Riwut menuju Kandan hingga Jembatan Bajarum.

    ”Sesuai dengan program Bapak Bupati, ini akan terus ditingkatkan sehingga arus jalan dari Jalan Tjilik Riwut sampai Jalan Jaksa, sampai dengan Kandan, langsung menuju Jembatan Bajarum,” katanya.

    Jalur menuju Kandan juga direncanakan menjadi kawasan penataan UMKM. Pemerintah daerah akan mengarahkan aktivitas perdagangan buah di sepanjang jalur tersebut.

    ”Di sana, rencananya di sepanjang jalan menuju Kandan akan ada UMKM, terutama orang-orang yang menjual buah nanas bandara, karena nanas bandara ini sudah terkenal sampai luar daerah,” ujarnya.

    Selain nanas, pedagang buah lainnya juga akan ditata.

    ”Ini juga akan kami tata nantinya di sepanjang jalan menuju Desa Kandan tersebut. Untuk yang menjual nanas ataupun buah-buahan lainnya, seperti durian dan lain sebagainya, nanti akan kami tata di sana,” kata Raihansyah.

    Kendaraan Besar Tetap Lewat Jalur Utama

    Dishub juga menyiapkan rekayasa lalu lintas berdasarkan jenis kendaraan. Raihansyah mengatakan, jalur menuju Kandan nantinya diarahkan bagi kendaraan operasional berukuran kecil.

    ”Nanti juga akan kami pilah. Untuk jalan menuju Desa Kandan, yang tembus Kandan, itu adalah mobil-mobil operasional seperti mobil kecil, misalnya Avanza,” jelasnya.

    Sementara kendaraan berukuran besar tetap menggunakan jalur utama melalui jaringan Jalan Tjilik Riwut, Lingkar Utara, Lingkar Selatan hingga arah Bagendang.

    ”Untuk mobil-mobil besar, akan melintas seperti biasa: Jalan Cilik Riwut langsung menuju Lingkar Utara, sampai dengan Lingkar Selatan, sampai ke arah Bagendang,” ujarnya.

    Rekayasa tersebut disiapkan agar perubahan akses dapat berjalan lebih teratur setelah penutupan permanen diberlakukan.

    ”Kami coba ke depannya rekayasanya seperti itu,” kata Raihansyah.

    Ia kembali meminta masyarakat memahami perubahan tersebut sebagai bagian dari rencana pembangunan jangka panjang.

    ”Jadi, kami mohon maaf kepada masyarakat. Jangan berpikir bahwa ini untuk kepentingan sesaat, tetapi untuk kepentingan Kabupaten Kotawaringin Timur dalam jangka panjang,” tegasnya.

    Raihansyah mengatakan manfaat pengembangan tersebut mungkin belum dirasakan langsung oleh generasi sekarang.

    ”Tidak harus kita pada saat ini yang menikmati. Siapa tahu nanti anak atau cucu kita yang akan menikmati pengembangan Kabupaten Kotawaringin Timur,” ujarnya.

    Raihansyah berharap pengembangan bandara dan perubahan jaringan jalan tersebut dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

    ”Kami menginginkan penutupan jalan dan pengembangan bandara ini juga diikuti dengan perekonomian Kabupaten Kotawaringin Timur yang semakin meningkat,” harapnya.

    Jalan Jaksa Diperbaiki Bertahap

    Sementara itu, Kepala DSDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama menjelaskan kesiapan fisik Jalan Jaksa sebagai jalur pengganti.

    Mentana mengatakan, sesuai instruksi Bupati Kotim, pihaknya telah memfungsikan Jalan Jaksa untuk mendukung perubahan akses tersebut.

    ”Jadi, saat ini sudah dilakukan uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut terkait dengan perluasan bandara. Kami dari dinas, sesuai instruksi Pak Bupati, saat ini sudah memfungsikan Jalan Jaksa,” kata Mentana.

    Pemeliharaan awal dilakukan dengan agregat pada bagian jalan yang membutuhkan peningkatan.

    ”Kemarin sudah dilakukan pemeliharaan dengan agregat sepanjang kurang lebih 800 sampai 900 meter,” ujarnya.

    Tahap berikutnya adalah pengaspalan pada titik-titik yang dinilai paling mendesak. Saat ini proses pengadaan barang dan jasa sedang berjalan.

    ”Proyeksinya nanti kami akan lanjutkan dengan pengaspalan. Saat ini sedang proses pengadaan barang dan jasa. Kontraknya nanti menunggu pengesahan APBD Perubahan. Mudah-mudahan pada November atau akhir tahun ini sudah bisa diaspal,” jelas Mentana.

    Pengaspalan tidak dilakukan terhadap seluruh ruas Jalan Jaksa karena sebagian badan jalan masih dalam kondisi baik. Pemerintah akan memprioritaskan titik yang benar-benar membutuhkan penanganan.

    ”Pengaspalan tidak ddilakukaan total sepanjang Jalan Jaksa, tetapi spot-spot saja. Karena sebagian jalan kondisinya masih bagus. Pemda juga memiliki keterbatasan anggaran, jadi harus dipilih yang memang benar-benar urgent untuk  di aspal,” katanya.

    Secara keseluruhan, bagian yang membutuhkan peningkatan berada pada kisaran 900 meter. Bagian yang sudah ditangani dengan agregat mencapai sekitar 800 meter, ditambah sejumlah titik lainnya.

    ”Ada spot-spot jalan rusak, itu nanti di aspal supaya lebih aman,” ujarnya.

    Titik Genangan Jadi Prioritas

    Salah satu bagian yang telah ditangani merupakan lokasi yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat genangan air saat musim hujan.

    Mentana mengatakan badan jalan pada titik tersebut telah ditinggikan menggunakan agregat. Setelah pengaspalan, pemerintah juga akan melakukan pembenahan drainase.

    ”Kerusakannya itu karena tergenang ketika musim hujan. Nah, itu sudah ditimbun ditinggikan dengan agregat. Nanti akan di aspal dan juga kita lakukan pembenahan drainasenya,” katanya.

    Penanganan drainase dilakukan melalui kegiatan pemeliharaan. Pemerintah akan menggunakan alat berat untuk membantu membuka atau memperbaiki aliran air.

    ”Pemeliharaan saja nanti. Mungkin nanti kita turunkan ekskavator dan segala macam untuk mengalirkan airnya,” jelas Mentana.

    Jalan Bangkirai Sudah Fungsional

    Mentana juga menjelaskan kondisi Jalan Bangkirai yang disiapkan sebagai salah satu jalur alternatif. Ruas jalan tersebut saat ini sudah dapat digunakan oleh masyarakat, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

    ”Kondisi jalan di sana saat ini sudah fungsional, sudah bisa dilewati, baik roda dua maupun roda empat. Kondisinya agregat B,” katanya.

    Jalan Bangkirai juga direncanakan ditingkatkan menjadi jalan beraspal. Namun, pekerjaan tersebut belum menjadi prioritas pada 2026.

    ”Nanti dilihat pada tahun 2027, melihat kondisi keuangan daerah. Tapi yang pasti, sekarang sudah fungsional,” pungkas Mentana. (hgn/ign)

  • Atasi Persoalan Banjir di Kota Sampit, Bupati Kotim Pastikan Pembangunan Drainase di Tjilik Riwut dan DI Panjaitan Tuntas Akhir Tahun

    Atasi Persoalan Banjir di Kota Sampit, Bupati Kotim Pastikan Pembangunan Drainase di Tjilik Riwut dan DI Panjaitan Tuntas Akhir Tahun

    SAMPIT, kanalindependen.id – Persoalan genangan banjir yang kerap terjadi saat hujan deras di sejumlah kawasan Kota Sampit menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Upaya penanganan serius dilakukan dengan membangun drainase permanen di Jalan Tjilik Riwut dan Jalan DI Panjaitan yang kini masih dalam tahap pekerjaan. 

    Bupati Kotim Halikinnor mengatakan pembangunan drainase di dua ruas jalan tersebut merupakan tindaklanjut pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan genangan banjir di areal Kota Sampit, terutama di Jalan Tjilik Riwut dan DI Panjaitan yang kerap jadi langganan genangan banjir setiap hujan deras melanda.

    ”Selama ini yang sering dikeluhkan warga, ketika terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi, menimbulkan genangan banjir. Kami berharap dengan dibangunnya drainase permanen ini, persoalan banjir terutama di dua titik ruas jalan ini dapat teratasi,” ujar Halikinnor saat diwawancara awak media usai meninjau progress pembangunan drainase di kedua ruas jalan tersebut, Kamis (1/10/2026).

    Halikinnor menyebut penanganan persoalan drainase di Kota Sampit masih membutuhkan pekerjaan lanjutan karena terdapat sejumlah kawasan lain yang juga memerlukan pembenahan.

    ”Sebenarnya masih banyak titik yang perlu ditangani, seperti arah Jalan Pelita hingga Jalan Pangeran Antasari. Namun, penanganannya dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah,” jelasnya.

    Halikinnor menjelaskan, pembangunan drainase di Jalan Tjilik Riwut tidak hanya berkaitan dengan persoalan genangan.

    Ruas tersebut memiliki intensitas kendaraan yang cukup tinggi karena menjadi jalur yang menghubungkan jalan nasional dengan jalan kabupaten.

    ”Pembangunan di Tjilik Riwut juga sekaligus untuk mengatasi persoalan di kawasan dengan intensitas kendaraan yang cukup tinggi, karena merupakan jalur dari jalan nasional dan juga jalan kabupaten,” ungkapnya.

    Untuk konstruksinya, kedua lokasi menggunakan metode yang berbeda. Drainase di Jalan Tjilik Riwut menggunakan sistem precast, sedangkan di Jalan DI Panjaitan menggunakan sistem cor beton.

    Pemilihan sistem precast di Jalan Tjilik Riwut mempertimbangkan kebutuhan kekuatan konstruksi meskipun biaya yang dibutuhkan lebih tinggi.

    ”Di Tjilik Riwut digunakan sistem precast, sedangkan di sini menggunakan sistem cor. Memang sistem precast lebih mahal, tetapi lebih kuat,” ujarnya.

    Konstruksi tersebut juga disesuaikan dengan fungsi saluran yang nantinya akan menerima aliran air dari kawasan lain.

    ”Hal itu disesuaikan dengan kebutuhan karena saluran ini nantinya menampung aliran air dari Jalan Pelita dan Jalan MT Haryono,” jelas Halikinnor.

    Selain membangun saluran drainase baru, Dinas SDABMBKPRKP Kotim juga merencanakan opsi pemanfaatan salah satu ruas jalan untuk dijadikan bagian dari saluran drainase.

    Namun, fungsi jalan tetap dipertahankan karena bagian atas saluran akan ditutup sehingga dapat kembali digunakan sebagai jalur lalu lintas.

    ”Ada rencana kemungkinan membuka salah satu ruas jalan untuk dijadikan saluran drainase. Namun, bagian atasnya tetap akan ditutup sehingga masih dapat difungsikan sebagai jalan dan tidak menghilangkan fungsi lalu lintas,” katanya.

    Ditarget Rampung Akhir Tahun

    Halikinnor memastikan pembangunan drainase di ruas Jalan Tjilik Riwut dan DI Panjaitan tidak akan melewati target yang telah ditetapkan.

    ”Insyaallah selesai, karena masa kontraknya ditargetkan selesai akhir tahun ini,” tegas Halikinnor.

    Dia mengakui pekerjaan pada tahap awal terlihat belum terlalu cepat karena masih berada dalam proses pemasangan konstruksi. Namun, setelah tahapan tersebut selesai, pengerjaan diperkirakan akan berlangsung lebih cepat.

    ”Memang pada tahap awal pekerjaan terlihat lambat karena masih proses pemasangan. Namun, setelah tahap itu selesai, pengerjaan akan lebih cepat,” ujarnya.

    Selama pekerjaan pembangunan drainase pada ruas jalan yang menjadi jalur aktivitas masyarakat berpotensi menimbulkan gangguan sementara, terutama terhadap arus lalu lintas dan aktivitas perdagangan.

    Namun, Halikinnor mengatakan pemerintah daerah telah lebih dulu melakukan sosialisasi sebelum pekerjaan dimulai.

    Saat meninjau lokasi, Halikinnor juga berkomunikasi langsung dengan masyarakat, terutama pedagang yang berada di sekitar lokasi pekerjaan.

    Tadi saya juga sudah bertanya langsung, terutama kepada warga yang berjualan. Pedagang yang paling berpotensi terdampak karena mungkin khawatir pembeli terganggu atau penyeberangan menjadi sulit.

    Namun ternyata mereka tidak merasa terganggu dan aktivitas usaha tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya.

    Bahkan, kata Halikinnor, masyarakat yang ditemuinya justru menyampaikan apresiasi terhadap pembangunan tersebut.

    ”Mereka justru berterima kasih,” katanya.

    Halikinnor pun menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang dapat memahami pekerjaan tersebut sekaligus meminta maaf apabila proses pembangunan menimbulkan gangguan sementara terhadap lalu lintas.

    ”Saya juga berterima kasih kepada warga dan meminta maaf apabila selama pekerjaan berlangsung arus lalu lintas sedikit terganggu,” ujarnya.

    Halikin menambahkan, pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari upaya pemerintah menciptakan kondisi kawasan yang lebih nyaman bagi masyarakat.

    ”Semua ini dilakukan demi kenyamanan kita bersama,” ujar Halikinnor.

    Mentana: Progres Tjilik Riwut 50 Persen, DI Panjaitan 35 Persen

    Kepala DSDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan, peninjauan bersama Bupati dilakukan untuk memastikan pekerjaan di lapangan berjalan sesuai rencana.

    ”Intinya, kami melakukan pemantauan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana,” kata Mentana.

    Berdasarkan hasil pemantauan, pembangunan drainase di Jalan Tjilik Riwut telah mencapai sekitar 50 persen. Sementara progres pekerjaan di Jalan DI Panjaitan berada di kisaran 35 persen.

    ”Untuk pekerjaan drainase di Jalan Tjilik Riwut, progresnya kurang lebih sudah mencapai 50 persen. Sementara di Jalan DI Panjaitan sudah sekitar 35 persen,” jelasnya.

    Mentana mengatakan kedua pekerjaan tersebut masih memiliki waktu pelaksanaan hingga awal Desember sesuai masa kontrak.

    ”Proyeksi kami, insyaallah seluruh pekerjaan dapat selesai pada akhir tahun sesuai kontrak,” ujarnya.

    Mentana menjelaskan, pembangunan drainase di Jalan DI Panjaitan dikerjakan pada dua sisi jalan dengan total panjang mencapai 1.050 meter.

    Pada sisi kanan atau barat, saluran dibangun sepanjang 850 meter, dimulai dari pertigaan Jalan DI Panjaitan–Pelita Timur ke arah selatan hingga Pasar Sajumput.

    Sementara di sisi kiri atau timur, pembangunan dilakukan sepanjang 200 meter, dimulai dari Jembatan Pasar Sajumput ke arah utara.

    Paket tersebut juga mencakup pengaspalan pada sejumlah titik badan jalan yang mengalami kerusakan atau berlubang.

    Pekerjaan pembangunan drainase Jalan DI Panjaitan dilaksanakan CV Reza Permata Indah dengan konsultan CV Unika Citra Mandiri. Nilai kontraknya mencapai Rp7,1 miliar bersumber dari APBD Kotim.

    Sementara peningkatan jalan sekaligus pembangunan drainase di Jalan Tjilik Riwut dikerjakan sepanjang sekitar 600 meter dengan lebar 1,5 meter, dimulai dari kawasan depan Hotel Wella menuju arah Jalan Wengga Agung.

    Paket tersebut dikerjakan dengan nilai kontrak Rp7,5 miliar bersumber dari APBD Kotim. Pelaksananya adalah CV Lintas Utama, sedangkan konsultansinya ditangani CV Berlian Kalimantan Engineering.

    Kedua paket pekerjaan memiliki masa kontrak yang sama, yakni mulai 10 Juli hingga 6 Desember 2026.

    Mentana menjelaskan, penanganan tidak hanya mengandalkan pembangunan drainase baru. Saluran lama yang menjadi bagian dari sistem pengaliran air juga terus dipelihara agar dapat berfungsi optimal.

    ”Ada beberapa titik yang sering mengalami banjir saat musim hujan. Rekan-rekan media tentu mengetahui kawasan Jalan Pelita dan sekitar Jalan Suprapto yang kerap tergenang,” katanya.

    Untuk mendukung fungsi drainase baru, pemerintah daerah melakukan pembersihan dan pengerukan saluran, terutama di kawasan Jalan Pelita dan Jalan Tjilik Riwut.

    ”Harapannya, air dari kawasan DI Panjaitan dapat ditarik dan dialirkan melalui saluran yang dibangun. Tahun depan, kami berencana melanjutkan pembangunan drainase ke arah Jalan Pelita,” jelas Mentana.

    Salah satu persoalan di Jalan Pelita adalah kondisi saluran yang sempit, mengalami pendangkalan, serta sebagian tertutup.

    ”Kendalanya adalah saluran yang sempit, mengalami pendangkalan, dan sebagian besar tertutup,” ujarnya.

    Karena pembangunan permanen di kawasan tersebut baru direncanakan untuk dilanjutkan tahun depan, pembersihan menjadi langkah sementara untuk menjaga kelancaran aliran.

    ”Untuk sementara kami melakukan pembersihan sambil berharap pembangunan drainase di kawasan tersebut dapat direalisasikan pada tahun depan,” katanya.

    Mentana menambahkan, normalisasi saat ini juga menyasar sejumlah kawasan lain, termasuk Baamang. Tim pemeliharaan disebar di berbagai lokasi sesuai kebutuhan.

    ”Fokus normalisasi saat ini antara lain di Jalan Pelita dan Jalan Tjilik Riwut. Selain itu, pembersihan juga dilakukan di sejumlah kawasan lain, termasuk Baamang,” ungkapnya.

    Hasil pembersihan yang belum seluruhnya diangkut masih terlihat berupa tumpukan lumpur dan material di sejumlah pinggir jalan.

    ”Tumpukan material di pinggir jalan yang terlihat merupakan hasil pembersihan dan masih menunggu pengangkutan,” jelas Mentana.

    Keterbatasan armada menjadi salah satu kendala dalam proses pengangkutan tersebut. Dua truk yang dimiliki pemerintah daerah saat ini juga masih digunakan untuk membantu distribusi air bersih.

    ”Kendala kami, armada pengangkut terbatas. Dua truk yang dimiliki saat ini juga masih digunakan untuk distribusi air bersih,” pungkas Mentana. (hgn/ign)

  • Jalan Tjilik Riwut Ditingkatkan dengan Anggaran Rp7,5 Miliar, Drainase Dibenahi Sepanjang 675 Meter

    Jalan Tjilik Riwut Ditingkatkan dengan Anggaran Rp7,5 Miliar, Drainase Dibenahi Sepanjang 675 Meter

    SAMPIT, kanalindependen.id – Peningkatan Jalan Tjilik Riwut Sampit mulai dikerjakan dengan menggunakan metode Cement Treated Recycling Base (CTRB).

    Pekerjaan tidak hanya menyasar badan jalan, tetapi sekaligus membenahi sistem drainase sepanjang sekitar 675 meter.

    Pekerjaan tersebut membuat sebagian ruas Jalan Tjilik Riwut dari arah Sampit menuju Kota Palangka Raya ditutup sementara pada jalur sisi barat selama dua hari.

    Pantauan Kanal Independen, mulai Selasa (18/8/2026) hingga Rabu (19/8/2026) sore, sebagian Jalan Tjilik Riwut pada jalur sisi barat ditutup sementara selama proses pekerjaan dilakukan.

    Selama penutupan, kendaraan diarahkan menggunakan jalur sisi timur agar aktivitas pekerjaan dapat berlangsung tanpa mengganggu keselamatan pengguna jalan.

    Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotawaringin Timur Mentana Dhinar Tistama melalui Pengelola Leger Jalan Bidang Bina Marga DSDABMBKPRKP Kotim Bagus Anugrah Nusantara mengatakan, fokus utama pekerjaan sebenarnya adalah pembenahan drainase. Sedangkan, kondisi badan jalan saat ini relatif masih aman, hanya mengalami kerusakan ringan. 

    ”Fokus utama sebenarnya penanganan drainase karena saat ini jalan hanya rusak ringan. Setelah dilakukan kajian teknis, kalau hanya memperbaiki drainase otomatis kalah level sehingga jalan ditingkatkan menggunakan metode CTRB, dengan menghampar material baru dicampur material lama,” kata Bagus Anugrah Nusantara yang dipercaya sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pekerjaan peningkatan Jalan Tjilik Riwut ini.

    Bagus menjelaskan metode CTRB diterapkan pada pekerjaan peningkatan badan jalan dengan memanfaatkan material jalan lama yang kemudian dicampur dengan material baru sebelum dihampar kembali.

    Penerapan metode tersebut menjadi bagian dari pekerjaan peningkatan jalan setelah dilakukan kajian teknis terhadap kondisi ruas Jalan Tjilik Riwut.

    ”Elevasi badan jalan nantinya naik sekitar 10 sentimeter dari kondisi eksisting,” jelas Bagus saat ditemui di lokasi titik pekerjaan, Rabu (19/8/2026).

    Bagus memperkirakan pekerjaan CTRB ditargetkan selesai dalam dua hari. Setelah tahap tersebut rampung, pekerjaan akan dilanjutkan dengan pengaspalan lapis pertama yang diperkirakan dilakukan dalam dua pekan berikutnya. Kemudian, dilanjutkan pengaspalan lapis kedua.

    Tahapan pekerjaan tersebut dilakukan secara bertahap agar peningkatan konstruksi jalan dapat berjalan sesuai dengan rencana pekerjaan.

    Drainase 675 Meter

    Selain peningkatan badan jalan, pembangunan drainase menjadi bagian utama dalam paket pekerjaan tersebut.

    Drainase baru akan dibangun sepanjang kurang lebih 675 meter dengan ukuran lebar sekitar 1,5 meter. Pekerjaan dimulai dari kawasan depan Hotel Wella ke arah selatan menuju Jalan Wengga Agung.

    ”Pembangunan drainase menggunakan konstruksi precast. Saat ini prosesnya masih berada pada tahap pencetakan dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan,” katanya.

    Setiap unit precast memiliki panjang satu meter, tinggi 1,6 meter, dengan lebar bagian atas 1,2 meter dan bagian bawah 1,5 meter.

    Dengan panjang drainase yang mencapai 675 meter, diperlukan sekitar 675 unit precast untuk membangun saluran tersebut sepanjang ruas yang ditangani.

    ”Peningkatan jalan dan pembangunan drainase di Jalan Tjilik Riwut hanya dikerjakan di satu sisi barat saja, menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Ke depannya, akan dilanjutkan pada jalur sisi timur pada tahun yang akan datang,” kata Bagus.

    Pembangunan drainase tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peningkatan Jalan Tjilik Riwut. Penyesuaian elevasi badan jalan dilakukan agar konstruksi jalan dapat menyesuaikan dengan saluran drainase yang baru dibangun.

    Ditutup Dua Hari

    Pelaksanaan pekerjaan berdampak langsung terhadap arus lalu lintas di Jalan Tjilik Riwut.

    Selama dua hari, sebagian ruas jalan pada sisi barat dari arah Sampit menuju Kota Palangka Raya ditutup sementara. Pengendara kemudian diarahkan menggunakan satu jalur di sisi timur.

    Untuk mengantisipasi gangguan arus lalu lintas, Dinas Perhubungan Kotim menempatkan enam petugas di sekitar lokasi pekerjaan.

    Petugas Dishub terpantau bersiaga sejak pagi hingga sore untuk mengatur pergerakan kendaraan dan memastikan pengalihan arus berjalan aman serta kondusif.

    ”Kami sudah koordinasi dengan Dishub untuk penertiban arus lalu lintas. Penutupan jalan hanya di sisi barat saja. Ini hanya sementara selama dua hari selama proses pekerjaan dilakukan,” ujarnya.

    Dengan pengaturan tersebut, kendaraan yang melintas tetap dapat menggunakan ruas Jalan Tjilik Riwut melalui jalur sisi timur selama jalur barat ditutup.

    DITUTUP: Ruas jalan yang ditutup selama proses peningkatan berjalan. (Heny/Kanal Independen)

    Delapan Alat Berat dan 50 Pekerja

    Untuk mengejar percepatan pekerjaan, kontraktor mengerahkan delapan alat berat dan sekitar 50 pekerja.

    Puluhan pekerja tersebut dikerahkan untuk menyelesaikan tahapan pekerjaan secara cepat sesuai target yang telah ditetapkan.

    Aktivitas pekerjaan berlangsung sejak pagi hingga sore dalam kondisi cuaca yang panas. Para pekerja juga menghadapi debu semen dari aktivitas konstruksi serta kondisi udara yang bersamaan dengan kabut asap akibat kebakaran lahan.

    Meskipun menghadapi kondisi tersebut, pekerjaan tetap dilakukan untuk mengejar target penyelesaian setiap tahapan konstruksi.

    Nilai Kontrak Rp7,5 Miliar

    Peningkatan Jalan Tjilik Riwut beserta pembangunan drainase tersebut menggunakan anggaran APBD Kotawaringin Timur dengan nilai paket pekerjaan mencapai Rp7,5 miliar dengan masa kontrak pelaksanan mulai 10 Juli hingga 6 Desember 2026.

    Pelaksanaan pekerjaan dipercayakan kepada CV Jasa Lintas Utama. Sementara pekerjaan konsultansi ditangani oleh CV Berlian Kalimantan Engineering.

    Dengan kombinasi peningkatan badan jalan menggunakan metode CTRB dan pembangunan drainase sepanjang 675 meter, pekerjaan ini tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki kondisi permukaan jalan, tetapi juga menyesuaikan konstruksi jalan dengan sistem drainase yang dibangun.

    “Pembenahan drainase ini dikerjakan sebagai tindak lanjut pemerintah daerah mengatasi persoalan genangan banjir saat hujan deras terutama di titik lokasi dekat traffic light Jalan Tjilik Riwut-Wengga-Hasan Mansur,” ujarnya.

    Selama pekerjaan berlangsung, ia mengimbau pengguna Jalan Tjilik Riwut agar memperhatikan pengaturan arus lalu lintas di sekitar lokasi dan mengikuti arahan petugas.

    “Kami imbau pengguna Jalan Tjilik Riwut yang melintasi lokasi pekerjaan agar mengurangi kecepatan dan gunakan lah masker agar terlindung dari debu semen, polusi bersamaan dengan kabut asap kebakaran,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Jalan Tjilik Riwut Km 4 Ditutup Permanen Akhir 2026, Rute Sampit-Palangka Raya Dialihkan melalui Jalan Jaksa R. Soeprapto

    Jalan Tjilik Riwut Km 4 Ditutup Permanen Akhir 2026, Rute Sampit-Palangka Raya Dialihkan melalui Jalan Jaksa R. Soeprapto

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pengguna rute Sampit–Palangka Raya dan sebaliknya harus bersiap mengubah jalur perjalanan.

    Sebagian ruas Jalan Tjilik Riwut km 4, Kecamatan Baamang, akan ditutup permanen pada akhir 2026 karena masuk dalam kawasan pengembangan dan pengamanan Bandara Haji Asan Sampit.

    Pemkab Kotim telah menyiapkan Jalan Jaksa Agung R Soeprapto menuju Jalan Ir Soekarno sebagai jalur pengganti yang terhubung ke Jalan Tjilik Riwut.

    Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotawaringin Timur (Kotim) Raihansyah mengatakan, pemerintah daerah saat ini masih melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait rencana perubahan akses jalan tersebut.

    Rencana penutupan tersebut berkaitan dengan pembangunan pagar di sisi barat Bandara Haji Asan Sampit atau kawasan runway 13.

    Pekerjaan pemagaran itu dibiayai melalui APBN 2026 Kementerian Perhubungan yang masuk DPA UPBU Bandara Haji Asan Sampit dengan anggaran sekitar Rp1,2 miliar.

    ”Penutupan sebagian Jalan Tjilik Riwut akan dilakukan akhir tahun ini. Saat ini kami masih menyosialisasikan kepada masyarakat. Pembersihan kawasan juga sudah mulai dilakukan untuk pekerjaan pemagaran dengan dana APBN Rp1,2 miliar untuk pengamanan aset keliling kawasan bandara sepanjang 700 meter,” kata Raihansyah, Senin (17/8/2026).

    Raihansyah menjelaskan penutupan jalan diperkirakan berlangsung dengan dimulainya pekerjaan pemagaran.

    Namun, ruas jalan tersebut nantinya tidak kembali dibuka setelah pekerjaan selesai karena akan menjadi bagian dari kawasan bandara.

    ”Perubahan akses yang dilakukan bukan hanya pengalihan lalu lintas sementara selama proyek berlangsung. Tapi,sebagian Jalan Tjilik Riwut yang berada dekat kawasan bandara akan ditutup secara permanen,” jelasnya.

    Jalan Jaksa R. Soeprapto Jadi Jalur Pengganti

    Untuk mengantisipasi perubahan akses tersebut, Pemkab Kotim menyiapkan Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sebagai jalur pengganti.

    Pengguna jalan dari arah Sampit nantinya dapat melewati Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto, kemudian menuju Jalan Ir. Soekarno atau Lingkar Utara, sebelum kembali terhubung dengan Jalan Tjilik Riwut.

    Rai­hansyah mengatakan, jarak dari muara Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto hingga pertigaan Jalan Tjilik Riwut-Jalan Ir. Soekarno sekitar 3 kilometer.

    ”Ke depannya Jalan Jaksa akan segera diperbaiki,” ujarnya.

    Perbaikan Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto menjadi bagian penting dari persiapan pemerintah sebelum penutupan permanen diberlakukan.

    Jalan tersebut harus mampu menampung pergerakan masyarakat yang selama ini menggunakan akses Jalan Tjilik Riwut.

    Selain menjadi jalur pengganti, ruas jalan tersebut juga dinilai memiliki fungsi konektivitas yang lebih luas bagi wilayah Baamang.

    ”Jalan ini juga menghubungkan Desa Kandan yang juga dipersiapkan untuk mendukung akses menuju wisata Pulang Hanibung dan Jalan Bangkirai Hutan Sagonta Kota Baamang,” kata Raihansyah.

    Dengan perbaikan tersebut, pemerintah berharap jalur alternatif tidak hanya berfungsi sebagai pengganti akses Jalan Tjilik Riwut, tetapi juga membuka konektivitas menuju kawasan lain di wilayah Baamang.

    Wabup Minta Pengguna Jalan Mulai Menyesuaikan

    Wakil Bupati Kotim Irawati meminta masyarakat, khususnya pengguna jalan dengan rute Sampit–Palangka Raya maupun sebaliknya, mulai menyesuaikan perjalanan dengan rencana perubahan akses.

    Ia meminta masyarakat tidak menunggu sampai penutupan diberlakukan untuk mencari jalur baru. Pengguna jalan diharapkan mulai mengenali rute alternatif yang disiapkan pemerintah.

    ”Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya pengguna jalan dengan rute Sampit–Palangka Raya, agar dapat menyesuaikan perjalanan dan menggunakan jalur alternatif,” kata Irawati.

    Pemerintah daerah meminta dukungan masyarakat agar proses pembangunan dapat berjalan dengan baik.

    ”Perubahan ini merupakan bagian dari upaya mendukung pembangunan dan pengembangan Bandara Haji Asan Sampit, sekaligus meningkatkan konektivitas serta pelayanan transportasi di Kabupaten Kotawaringin Timur,” ujarnya.

    Irawati juga meminta pengguna jalan memperhatikan rambu-rambu dan mengikuti jalur yang diarahkan ketika pengalihan mulai diterapkan.

    ”Saya memohon pengertian dan kerja sama seluruh masyarakat untuk memperhatikan rambu-rambu serta mengikuti jalur yang telah diarahkan demi kelancaran dan keselamatan bersama,” pungkasnya. (hgn)

  • Manggala Agni Tembus Gambut 24 Meter di Baamang, Solusi Kelangkaan Air Pemadaman Karhutla

    Manggala Agni Tembus Gambut 24 Meter di Baamang, Solusi Kelangkaan Air Pemadaman Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kesulitan mengakses sumber air di tengah ganasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tanah gambut membuat tim pemadam harus memutar otak. Guna memastikan pasokan air tak pernah terputus, Manggala Agni merintis pembuatan sumur bor manual di titik-titik rawan bencana di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Langkah taktis ini salah satunya direalisasikan di kawasan Jalan Tjilik Riwut, tepatnya di sekitar pintu masuk Sagonta Kota, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Sampit.

    Komandan Daerah Operasi (Daops) Pangkalan Bun Seksi Wilayah III Kalsel-Teng, Binsar Oktavianus Togatorop, menegaskan bahwa krisis air di lapangan selama ini menjadi penghambat utama proses pemadaman lahan gambut sehingga api kerap menyala kembali.

    “Sumur bor ini dibuat karena wilayah Baamang kesulitan akses air untuk pemadaman karhutla. Hal ini juga yang mengakibatkan pemadaman api di lahan gambut sering tidak tuntas,” ungkap Binsar Oktavianus Togatorop saat memberikan keterangannya.

    Penetapan kawasan Baamang sebagai lokasi prioritas pembuatan fasilitas penyuplai air ini didasari pertimbangan posisi geografisnya yang sangat krusial dan berdampak langsung pada fasilitas publik vital.

    “Atensinya di wilayah Baamang dulu karena dekat dengan akses jalan Trans Kalimantan dan alur penerbangan Bandara, jadi ini yang prioritas utama,” tegas Binsar.

    Proses pengeboran manual yang ditempuh jajaran Manggala Agni kini telah menembus kedalaman 24 meter di bawah permukaan gambut. Meski baru dibangun di satu titik uji coba, sumur bor tersebut sudah mulai menyemburkan air bersih.

    “Sumur bor yang dibuat saat ini masih satu titik dan sudah menghasilkan air meski debitnya belum maksimal. Harapannya, seluruh petugas pemadam kebakaran dan BPBD nantinya bisa langsung mengakses air di sini tanpa harus berputar jauh mencari titik pengisian tangki,” tuntasnya.

    Keberadaan sumur bor mandiri seluas 24 meter ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam mempercepat respons (response time) satgas pemadam karhutla di sektor perkotaan Sampit, sekaligus memutus rantai rembetan api gambut yang membahayakan transportasi darat dan udara.

    💡 Analisis Kanal Independen: Terobosan Sumur Bor Gambut dan Urgensi Replikasi Massal di Kotim ⚖️

    Inisiatif Manggala Agni membuat sumur bor manual seluas 24 meter di Baamang Hulu adalah solusi rekayasa lapangan yang sangat tepat sasaran (problem-solving) untuk mengatasi kelemahan mendasar mitigasi karhutla di Sampit. Selama ini, armada damkar kerap membuang waktu kritis (golden time) hanya untuk mengantre atau memburu parit air yang mengering saat musim kemarau.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan kebijakan lingkungan yang sangat tajam:

    1. Replikasi Massal Sumur Bor oleh BPBD dan Pemkab Kotim: Keberhasilan pengeboran 24 meter di Sagonta Kota wajib dijadikan cetak biru (blueprint). Pemkab Kotim melalui dana alokasi Bencana Karhutla didesak memperbanyak titik sumur bor darurat di seluruh kecamatan rawan karhutla, seperti Seranau, Mentawa Baru Ketapang, dan Kota Besi.
    2. Standardisasi Hydrant Gambut untuk Armada Gabungan: Titik sumur bor yang telah berfungsi wajib dilengkapi dengan penanda visual, pompa high-pressure, serta konektor selang berstandar nasional agar dapat diakses secara instan oleh seluruh unsur Satgas, baik Pemadam Swakarsa, BPBD, maupun TNI/Polri saat kondisi darurat.

    Inovasi air darurat adalah kunci memadamkan bara gambut hingga ke akar-akarnya! Manggala Agni buat sumur bor di Baamang! Perbanyak titik pasokan air untuk amankan Bandara dan Trans Kalimantan! (***)

  • Tiga Paket Infrastruktur Kotim Mulai Dikerjakan, Jalan Kotabesi-Kandan Telah Masuk Tahap Agregat

    Tiga Paket Infrastruktur Kotim Mulai Dikerjakan, Jalan Kotabesi-Kandan Telah Masuk Tahap Agregat

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pembangunan infrastruktur jalan dan drainase di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai direalisasikan pada tahun anggaran 2026.

    Sedikitnya tiga paket pekerjaan telah memasuki tahap pelaksanaan dengan total nilai kontrak sekitar Rp26,5 miliar, menggunakan sumber pendanaan dari Dana Bagi Hasil (DBH) sawit dan APBD Kotim.

    Tiga paket tersebut meliputi peningkatan Jalan Kotabesi–Kandan–Camba–Simpur–Hanjalipan, pembangunan drainase sekaligus perbaikan sejumlah titik Jalan DI Panjaitan, serta peningkatan Jalan Tjilik Riwut yang disertai pembangunan drainase.

    Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tismama melalui Kepala Bidang Bina Marga Nur Aina mengatakan, ketiga pekerjaan tersebut sudah berjalan mulai 10 Juli 2026.

    Dari tiga paket tersebut, pekerjaan yang paling terlihat secara fisik di lapangan saat ini berada di ruas Jalan Kotabesi–Kandan–Camba–Simpur–Hanjalipan.

    Sementara dua paket lainnya masih berada pada tahapan persiapan pekerjaan, termasuk perakitan besi oleh kontraktor di bengkel kerja masing-masing.

    Jalan Kotabesi sampai Hanjalipan

    Paket pertama merupakan peningkatan jalan aspal pada ruas Kotabesi–Kandan–Camba–Simpur–Hanjalipan sepanjang 2.137 meter.

    Pekerjaan tersebut mencakup badan jalan dengan lebar 5 meter, ditambah bahu jalan pada sisi kanan dan kiri masing-masing selebar 50 sentimeter.

    Nur Aina yang juga bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pekerjaan tersebut menjelaskan, proyek ini menggunakan sumber dana DBH sawit dengan nilai kontrak sebesar Rp11,9 miliar.

    Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Amin Karya Jaya sebagai penyedia jasa, sedangkan CV Betang Agung Perkasa bertindak sebagai konsultan.

    ”Sesuai perjanjian kontrak, pekerjaan sudah dimulai 10 Juli dan ditargetkan selesai 6 Desember 2026. Sebelumnya, tim kami sudah melakukan pengukuran awal pada 13 Juli lalu dan saat ini sudah mulai agregat dengan progres pekerjaan mencapai lebih dari 11,9 persen,” kata Nur Aina saat ditemui di Ruang Bina Marga, belum lama ini.

    Dengan demikian, paket pekerjaan ini sudah memasuki tahapan fisik di lapangan. Material agregat mulai dikerjakan sebagai bagian dari tahapan peningkatan struktur jalan sebelum pekerjaan pengaspalan dilaksanakan sesuai tahapan teknis proyek.

    Drainase Jalan DI Panjaitan

    Paket kedua berada di Jalan DI Panjaitan. Pekerjaan utama berupa pembangunan drainase cor beton yang dilakukan pada dua sisi ruas jalan dengan panjang keseluruhan mencapai 1.050 meter.

    Rinciannya, drainase dibangun sepanjang 850 meter di sisi kanan atau barat, dimulai dari pertigaan Jalan DI Panjaitan–Pelita Timur ke arah selatan menuju Pasar Sajumput.

    Kemudian, pekerjaan drainase juga dilakukan sepanjang 200 meter di sisi kiri atau timur, dimulai dari Jembatan Pasar Sajumput ke arah utara.

    Selain pembangunan drainase, paket tersebut juga mencakup pengaspalan pada sejumlah spot jalan yang mengalami kerusakan atau jalan berlubang.

    ”Pekerjaan pembangunan drainase dikerjakan oleh CV Reza Permata Indah dan konsultannya dari CV Unika Citra Mandiri dengan nilai kontrak Rp7,1 miliar menggunakan dana APBD Kotim,” ujar Satria Wijaya PPK pada pekerjaan pembangunan drainase Jalan DI Panjaitan.

    Pembangunan drainase ini menjadi bagian dari penanganan infrastruktur jalan dan sistem drainase pada ruas jalan yang selama ini kerap kali menjadi langganan banjir setiap hujan deras melanda Kota Sampit. Selain memperbaiki saluran, pekerjaan juga diarahkan untuk menangani bagian badan jalan yang mengalami kerusakan pada titik-titik tertentu.

    Peningkatan Jalan Tjilik Riwut

    Paket ketiga berada di Jalan Tjilik Riwut. Pekerjaan yang dilakukan meliputi peningkatan jalan sekaligus pembangunan drainase.

    Pembangunan drainase dikerjakan sepanjang sekitar 600 meter dengan lebar 1,5 meter. Pekerjaan dimulai dari kawasan depan Hotel Wella hingga menuju ke arah Jalan Wengga Agung.

    Paket tersebut menggunakan dana APBD Kotim dengan nilai kontrak sebesar Rp7,5 miliar.

    Pelaksana pekerjaan adalah CV Lintas Utama, sedangkan pekerjaan konsultans ditangani oleh CV Berlian Kalimantan Engineering.

    “Ketiga paket kegiatan ini masa kontraknya sama dimulai 10 Juli-6 Desember 2026,” kata Bagus Anugrah Nusantara, PPK kegiatan peningkatan Jalan Tjilik Riwut.

    Artinya, seluruh paket tersebut ditargetkan rampung pada 6 Desember 2026, sesuai dengan masa pelaksanaan yang tercantum dalam kontrak.

    Lebih lanjut, Bagus menjelaskan, tiga paket tersebut belum seluruhnya menggambarkan keseluruhan kegiatan infrastruktur jalan yang direncanakan pada tahun anggaran 2026.

    Paket pekerjaan lainnya akan menyusul secara bertahap. Penyesuaian masih diperlukan karena terdapat sejumlah paket pekerjaan yang berkaitan dengan penggunaan dana pokok pikiran (pokir).

    ”Untuk paket kegiatan lainnya menyusul bertahap, karena ada sebagian paket pekerjaan yang menggunakan dana pokir, sehingga paket yang sebelumnya berjumlah 16 paket kemungkinan akan disesuaikan kembali,” jelasnya.

    Dengan kondisi tersebut, jumlah paket yang sebelumnya direncanakan sebanyak 16 paket masih dapat mengalami perubahan menyesuaikan proses penganggaran dan sumber pendanaan yang digunakan.

    Terkait belum terlihatnya pekerjaan fisik di Jalan DI Panjaitan dan Jalan Tjilik Riwut, ia menjelaskan bahwa bukan berarti kontraktor belum memulai pekerjaan.

    “Meski belum terlihat adanya pekerjaan fisik di lokasi, saat ini kontraktor pelaksana telah memulai pekerjaan persiapan berupa perakitan besi di bengkel masing-masing,” ujarnya.

    Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pelaksanaan pekerjaan sehingga proses perakitan tidak seluruhnya dilakukan di lokasi proyek.

    Setelah proses perakitan besi selesai, material dan komponen yang telah disiapkan tersebut akan dibawa ke lokasi untuk dilanjutkan dengan pekerjaan fisik.

    ”Pekerjaan fisik di lokasi yang baru terlihat di Jalan Kotabesi-Kandan, sementara di Jalan DI Panjaitan dan Tjilik Riwut mereka saat ini mengerjakan perakitan besi untuk mempercepat pekerjaan tidak dikerjakan di lokasi. Saat sudah selesai perakitan akan dimulai pekerjaan real di lokasi proyek,” pungkasnya. (hgn)

  • Timbangan Digital Silver Bongkar Kedok Bisnis Ritel Sabu Depan Alfamart Tjilik Riwut Pelaku FR Diciduk Siang Bolong

    Timbangan Digital Silver Bongkar Kedok Bisnis Ritel Sabu Depan Alfamart Tjilik Riwut Pelaku FR Diciduk Siang Bolong

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Praktek peredaran gelap narkotika jenis sabu di wilayah hukum Kecamatan Baamang kian berani menampakkan diri di ruang terbuka publik. Berkat laporan proaktif dari masyarakat, jajaran Satresnarkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim) berhasil menggagalkan dugaan transaksi narkoba di kawasan strategis Jalan Tjilik Riwut, tepatnya di pelataran parkir Alfamart RT 24, Kecamatan Baamang, pada Selasa siang (14/7/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Seorang pria berinisial FR (29) diringkus bersama barang bukti krusial yang menelanjangi perannya sebagai pengedar eceran.

    Pengintaian di Pelataran Swalayan Modern dan Penemuan Dompet Berisi Kristal Putih

    Penangkapan ini berawal dari informasi intelijen masyarakat yang resah melihat gelagat transaksi narkoba yang makin ugal-ugalan di depan swalayan modern tersebut. Menindaklanjuti sinyal darurat warga, tim opsnal Satresnarkoba bergerak cepat menggelar pengintaian intensif guna mengunci pergerakan target di lapangan.

    Begitu FR terdeteksi berada di lokasi tapak, petugas langsung merangsek melakukan penyergapan. Penggeledahan badan dan barang bawaan langsung dieksekusi secara transparan dengan menghadirkan Ketua RT setempat serta warga sekitar sebagai saksi legalitas prosedur.

    “Anggota Satresnarkoba menerima informasi dari masyarakat bahwa terlapor diduga kerap melakukan transaksi narkotika jenis sabu. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan pemantauan di lokasi hingga akhirnya petugas berhasil mengamankan yang bersangkutan,” ungkap Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko pada Jumat (17/7/2026).

    Timbangan Digital Silver Jadi Alat Bukti Otentik Peredaran Ritel

    Saat menggeledah pakaian pelaku, petugas menemukan sebuah dompet hitam milik FR. Setelah dibuka, di dalamnya tersimpan satu klip plastik kecil berisi kristal putih diduga sabu dengan berat kotor 2,76 gram.

    Langkah FR untuk mengelak dari tuduhan sebagai pengedar langsung patah total ketika petugas membongkar barang bawaannya dan menemukan satu unit timbangan digital kecil berwarna silver. Penemuan timbangan akurat ini menjadi kartu mati bagi terlapor, karena alat tersebut merupakan perangkat wajib yang lazim digunakan oleh para sindikat narkoba untuk membagi paket sabu sebelum dilempar ke pasaran retail.

    Atas temuan otentik ini, FR bersama seluruh barang bukti digelandang ke Markas Polres Kotim guna menjalani proses hukum pidana berdasarkan Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

    Diringkusnya FR (29) di depan Alfamart RT 24 Jalan Tjilik Riwut membawa pesan investigatif yang sangat meresahkan: pasar gelap sabu di Kota Sampit kini tidak lagi bersembunyi di gang-gang sempit atau kawasan kumuh, melainkan sudah berani merambah area parkir minimarket modern di jalur protokol utama pada siang bolong. Keberadaan timbangan digital silver di tangan pelaku menegaskan bahwa transaksi yang terjadi bukan lagi sekadar konsumsi pribadi, melainkan aktivitas distribusi retail aktif yang menyasar konsumen perkotaan.

    Kanal Independen melemparkan catatan kritis yang tajam. Menangkap FR adalah keberhasilan normatif lini bawah yang patut diapresiasi, namun Polres Kotim tidak boleh menutup buku terlalu cepat. Ujian profesionalisme Satresnarkoba di sisa tahun 2026 ini adalah membongkar jaringan logistik di atas FR yang menyuplai paket sabu tersebut. Keberanian seorang pengedar retail membawa timbangan digital ke area publik menandakan adanya rasa aman palsu atau jaringan pelindung yang membuat mereka merasa tidak tersentuh.

    Pihak kepolisian bersama otoritas kecamatan harus memperketat pengawasan di titik-titik kumpul publik seperti minimarket 24 jam yang rawan dijadikan kedok transaksi narkoba. Jika penelusuran kasus ini mandek hanya sampai pada level pengecer seperti FR, maka pelataran-pelataran modern di Sampit akan terus disalahgunakan menjadi pasar gelap terbuka yang mengancam keselamatan moral generasi muda Kotim. (***)

  • Raksasa Jalanan Kuasai Tjilik Riwut: Anggaran Habis Menambal Jalan, Jalur Khusus Tak Kunjung Terwujud

    Raksasa Jalanan Kuasai Tjilik Riwut: Anggaran Habis Menambal Jalan, Jalur Khusus Tak Kunjung Terwujud

    SAMPIT, kanalindependen.id – Iring-iringan truk raksasa terus mengular melintasi Jalan Tjilik Riwut, membawa muatan crude palm oil (CPO) dan hasil tambang dari arah Palangka Raya menuju Sampit.

    Terpal yang menutup rapat bak kendaraan bertonase besar itu menyembunyikan bobot muatan, sementara dimensi badannya memakan separuh lebih lebar jalur Trans Kalimantan.

    Bagi pengguna jalan lain yang berpapasan setiap hari, keberadaan konvoi ini menyisakan rasa waswas sekaligus menunjukkan rutinitas angkutan berat yang terus membebani jalan umum.

    Seorang sopir travel yang rutin melayani rute Palangka Raya menuju Sampit dan enggan disebutkan namanya membenarkan dominasi kendaraan bertonase besar itu sebagai tantangan nyata di aspal. Ia mengaku hampir selalu berhadapan dengan konvoi kendaraan tersebut dalam setiap perjalanannya.

    ”Sering konvoi. Dugaan kami muat batu bara atau bauksit karena baknya tertutup terpal dan muatannya berat. Jumlahnya bisa beberapa unit sekaligus,” ujarnya.

    Berpapasan dengan rombongan truk itu, menurutnya, memaksa pengemudi kecil untuk mengalah total demi keselamatan.

    ”Badan truk itu seperti memakan lebih dari separuh badan jalan. Pengendara kecil pasti merasa waswas,” katanya.

    Pemandangan harian ini mudah disalahpahami sebagai persoalan lalu lintas biasa.

    Padahal, ada persoalan nyata menyangkut keuangan daerah di balik keluhan pengguna jalan: berapa banyak uang pajak publik yang sudah dan akan terus habis untuk menambal jalan yang rusak akibat kendaraan berat, serta ke mana perginya solusi infrastruktur yang dijanjikan pemerintah sejak satu tahun lalu.

    Razia tanpa Lanjutan

    Persoalan tonase di jalan raya ini sempat direspons aparat. Akhir Juli 2025, Dinas Perhubungan Kalimantan Tengah bersama kepolisian menggelar razia besar-besaran selama tiga bulan.

    Operasi itu menjaring lebih dari 200 kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) milik perusahaan besar swasta (PBS) pada sektor pertambangan, perhutanan, dan perkebunan.

    Kepala Dishub Kalteng, Yulindra Dedy, saat itu menyebut mayoritas truk yang dijaring mengangkut batu bara, CPO, dan kayu dengan bobot melampaui kapasitas tonase jalan, serta menggunakan pelat nomor luar daerah Kalteng.

    ”Boleh melintas, tetapi harus mematuhi kelas jalan,” kata Dedy kepada Kompas.com, Jumat (25/7/2025).

    Dedy menyebut dasar hukum razia tersebut adalah Peraturan Daerah Kalteng Nomor 5 Tahun 2021.

    Aturan ini berjalan beriringan dengan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2012, yang menurut Gubernur Kalteng Agustiar Sabran mengancam pelaku ODOL dengan denda Rp50 juta atau kurungan hingga satu tahun, sekaligus mewajibkan perusahaan besar swasta membangun jalan angkutan sendiri tanpa melintasi fasilitas umum.

    Data lapangan memperlihatkan ketimpangan antara kapasitas jalan dan bobot kendaraan.

    Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor, saat memantau razia gabungan di Sampit pada Juni 2025, membeberkan bahwa jalan kabupaten di wilayahnya umumnya berkapasitas 8 ton dan jalan provinsi 10 ton.

    Kenyataan yang ditemukan aparat, truk yang terjaring rutin beroperasi dengan muatan antara 16 hingga 30 ton.

    Secara aturan nasional, pelanggaran batas muatan ini diatur dalam Pasal 307 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dengan ancaman kurungan maksimal dua bulan atau denda Rp500 ribu bagi pengemudi.

    Sementara itu, pelanggaran dimensi akibat modifikasi badan kendaraan diatur terpisah dalam Pasal 277 dengan ancaman penjara satu tahun atau denda Rp24 juta.

    Pasal modifikasi ini lazimnya menyasar pemilik kendaraan atau pihak karoseri, bukan sopir di lapangan.

    APBD Menanggung Beban Kerusakan Jalan

    Dampak dari selisih tonase itu langsung mengenai beban kas daerah. Masih dalam pekan yang sama, Gubernur Agustiar Sabran mengaitkan langsung pelanggaran kendaraan angkutan berat dengan pengeluaran anggaran daerah.

    ”Jangan sampai dana publik terkuras hanya untuk perbaikan infrastruktur jalan akibat pelanggaran truk ODOL,” tegasnya.

    Senada dengan Gubernur, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalteng, Juni Gultom, menegaskan bahwa kerusakan jalan yang terus berulang akibat gempuran truk ODOL merupakan bentuk inefisiensi anggaran daerah.

    Besarnya skala kebutuhan biaya pemeliharaan infrastruktur daerah terlihat dari alokasi anggaran perbaikan jalan yang harus disiapkan setiap tahunnya.

    Pada tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mengalokasikan dana sekitar Rp7 miliar khusus untuk pemeliharaan infrastruktur jalan, jembatan, drainase, dan taman kota.

    Setahun kemudian, alokasi perbaikan jalan rusak tetap dibutuhkan. Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Abdul Hafid, menyebut Jalan HM Arsyad ruas Sampit menuju Samuda (salah satu jalur yang juga disebut warga sebagai langganan lintasan truk besar selain Tjilik Riwut) dianggarkan sebesar Rp10 miliar dari APBD 2026.

    Anggaran tersebut baru masuk tahap lelang pada pertengahan Juli 2026, dengan target pengerjaan fisik berjalan antara pertengahan Juli hingga awal Agustus.

    Dua Solusi Strategis yang Masih Tertahan

    Ketika uang rakyat terus mengalir untuk membiayai perbaikan aspal, dua solusi besar yang pernah dijanjikan pemerintah belum memperlihatkan wujud fisiknya.

    Pada 25 Juli 2025, tepat saat hasil razia 200 truk ODOL diumumkan, Juni Gultom menyampaikan rencana strategis pembangunan jalan khusus sepanjang 100 kilometer untuk kendaraan sektor tambang, kebun, dan hutan.

    Jalur ini direncanakan membentang dari Gunung Mas hingga Lahei Mangkutup di Kabupaten Kapuas, dengan tujuan agar armada korporasi tidak lagi menggunakan jalan negara.

    Setahun berselang, tidak ada kabar lanjutan mengenai progres pembangunan jalur khusus tersebut.

    Sementara itu, truk bertonase besar yang seharusnya dialihkan ke jalur khusus tetap rutin memadati aspal Jalan Tjilik Riwut.

    Kendala realisasi kebijakan juga terjadi pada pengawasan teknis. Sekitar sebulan pascarazia, awal September 2025, Dishub Kalteng mengajukan usulan pembangunan dua unit jembatan timbang kepada pemerintah pusat.

    Satu unit direncanakan berdiri pada Simpang Runtu, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan satu lagi pada Bagendang, Kabupaten Kotawaringin Timur, tidak jauh dari Kota Sampit.

    Namun, Yulindra Dedy sendiri saat itu mengakui bahwa pembangunan jembatan timbang tersebut belum bisa dilaksanakan karena terkena rasionalisasi anggaran.

    Gorong-Gorong Ambruk dan Kerentanan Ruang Jalan

    Jalur Trans Kalimantan sempat lumpuh ketika infrastruktur jalan mengalami kerusakan berat.

    Pada 5 Juli 2026, konstruksi box culvert pada Jalan Tjilik Riwut Kilometer 10 sampai 11, ruas Kasongan menuju Kereng Pangi, Kabupaten Katingan, ambruk dan menghentikan arus transportasi selama berjam-jam.

    Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalteng mengeluarkan larangan sementara bagi truk ODOL untuk melewati ruas tersebut agar penanganan darurat yang baru dikerjakan tidak kembali rusak.

    Menanggapi penanganan di jalur lintas tersebut, anggota DPRD Kalteng Abdul Hafid kembali angkat bicara sehari setelah insiden terjadi.

    ”Penindakan terhadap kendaraan ODOL belum maksimal. Harus dilakukan secara tegas, berkelanjutan, dan terukur,” tegasnya, Senin (6/7/2026).

    Delapan hari berselang, kecelakaan lalu lintas terjadi pada ruas Jalan Tjilik Riwut yang berada di wilayah kabupaten berbeda, cukup jauh dari lokasi konstruksi yang ambruk tersebut.

    Sebuah truk bermuatan air minum kemasan terguling pada kawasan Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada 13 Juli 2026, mengakibatkan seorang ibu dan anaknya yang berada dekat tepi jalan meninggal dunia.

    Satlantas Polres Kotim masih mendalami penyebab pasti kecelakaan tersebut, dengan dugaan awal menyangkut manuver mendadak pengemudi saat menghindari tabrakan.

    Sejauh penelusuran awal, tidak ada indikasi kelebihan muatan pada armada angkutan air kemasan itu.

    Titik kejadian ini berada pada ruas jalan yang sama dengan keluhan warga soal jalan sempit, lalu lintas yang campur aduk antara kendaraan besar dan roda dua, serta ruang gerak yang terbatas bagi keselamatan masyarakat.

    Siklus Keluhan Berulang

    Suara resah warga mengenai kondisi Jalan Tjilik Riwut, Jalan HM Arsyad, hingga Jalan Kapten Mulyono yang masih dilalui truk besar pada jam rawan seperti waktu pulang sekolah, berulang kali diberitakan media.

    Temuan lapangan ini mengulang pola yang sama dengan laporan pers pada Juli 2025, yakni adanya janji jalur lingkar yang akan mensterilkan jalan kota dari angkutan bertonase besar, namun kenyataan di lapangan belum berubah.

    Satu tahun setelah 200 truk terjaring dalam razia gabungan, jalan khusus sejauh 100 kilometer belum terdengar lagi kabarnya.

    Dua jembatan timbang yang diusulkan masih tertahan dalam tahap wacana, sementara anggota DPRD Kalteng sendiri mengakui bahwa penindakan di jalan raya belum maksimal.

    Selama seluruh solusi infrastruktur tersebut belum terealisasi, armada truk besar tetap rutin beroperasi di Jalan Tjilik Riwut setiap hari, menyisakan tagihan perbaikan aspal yang dibayar menggunakan uang rakyat dari APBD. (ign)