Tag: Jembatan Kapten Mulyono

  • Siklus Maut Jembatan Patah: Hanya Bertahan 3 Bulan, Pemerintah Akui Pakai Kayu Ulin Bekas

    Siklus Maut Jembatan Patah: Hanya Bertahan 3 Bulan, Pemerintah Akui Pakai Kayu Ulin Bekas

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Seolah tidak belajar dari tragedi maut yang merenggut nyawa pada Minggu dini hari lalu, Dinas Sumber Daya Air Bina Marga Bina Konstruksi Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kotim kembali melakukan perbaikan “darurat” di Jembatan Kapten Mulyono, Senin (27/4/2026).

    Ironisnya, otoritas terkait mengakui bahwa perbaikan ini hanyalah solusi kosmetik menggunakan material bekas yang kekuatannya diprediksi tidak akan bertahan lebih dari tiga bulan.

    Dalam pantauan di lapangan, petugas tampak mengganti beberapa batang kayu ulin yang patah dan mengencangkan baut-baut yang longgar. Namun, pengakuan mengejutkan datang dari pengawas lapangan, Alfiansyah. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya terpaksa menggunakan kayu ulin bekas jembatan lama akibat kendala kebijakan dan stok material yang menipis.

    “Setelah pemeliharaan ini memang tidak bertahan lama, mungkin dua sampai tiga bulan maksimal. Apalagi kalau kayu sudah bekas,” ujar Alfiansyah dengan jujur.

    Lebih memprihatinkan, stok plat besi yang biasanya digunakan untuk memperkuat lantai jembatan kini dilaporkan telah habis, sebagian diduga hilang dicuri oknum tidak bertanggung jawab.

    Akar masalah Jembatan Kapten Mulyono tetap sama: beban kendaraan yang jauh melampaui kapasitas. Jembatan yang seharusnya hanya menahan maksimal 10 ton, setiap harinya dipaksa memikul beban kontainer dan tronton hingga lebih dari 20 ton.

    Rencana pemasangan portal atau palang untuk membatasi kendaraan berat sempat mencuat sebagai saran dari DPRD Kotim, namun hingga kini rencana tersebut layu sebelum berkembang akibat lemahnya koordinasi antarinstansi. Tanpa pengawasan ketat dari Dinas Perhubungan, jembatan ini akan terus menjadi “jebakan maut” bagi masyarakat umum yang harus berbagi jalur dengan raksasa jalanan.

    Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami memandang perbaikan hari ini sebagai bentuk penghinaan terhadap keselamatan publik. Menggunakan kayu ulin bekas untuk jembatan yang baru saja memakan korban jiwa adalah bukti nyata betapa rendahnya standar keamanan infrastruktur kita.

    Jika pemerintah sudah tahu bahwa perbaikan ini hanya bertahan tiga bulan, maka mereka secara sadar sedang menjadwalkan kerusakan berikutnya dan mungkin korban berikutnya. Kita tidak butuh narasi “terkendala aturan teknis” atau “stok habis”. Warga Sampit butuh jembatan permanen yang layak, bukan tambal sulam yang hanya menunggu waktu untuk kembali patah.

    Jangan biarkan Jembatan Kapten Mulyono menjadi monumen kegagalan birokrasi yang terus-menerus memakan tumbal.

    Untuk diketahui diberitakan Kanalindependen.id sebelumnya , Tragedi berdarah kembali mencoreng wajah infrastruktur di Kotawaringin Timur. Pada Minggu dini hari (26/4/2026) sekitar pukul 00.20 WIB, Jembatan Kapten Mulyono memakan korban jiwa. Seorang pria meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara rekannya kini kritis di RSUD dr. Murjani setelah kendaraan yang mereka tumpangi terperosok ke dalam lubang di lantai jembatan yang rusak parah. (***)

  • Maut di ‘Jembatan Ulin’ Kapten Mulyono: Nyawa Melayang Akibat Infrastruktur Tambal Sulam

    Maut di ‘Jembatan Ulin’ Kapten Mulyono: Nyawa Melayang Akibat Infrastruktur Tambal Sulam


    SAMPIT, Kanalindependen.id – Tragedi berdarah kembali mencoreng wajah infrastruktur di Kotawaringin Timur. Pada Minggu dini hari (26/4/2026) sekitar pukul 00.20 WIB, Jembatan Kapten Mulyono memakan korban jiwa. Seorang pria meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara rekannya kini kritis di RSUD dr. Murjani setelah kendaraan yang mereka tumpangi terperosok ke dalam lubang di lantai jembatan yang rusak parah.

    ​Kedua korban yang diduga bukan warga setempat ini tak sempat mengantisipasi maut yang menganga di bawah roda mereka. Dengan kecepatan tinggi dan minimnya penerangan, lantai jembatan yang bolong menjadi jebakan mematikan.

    ​“Kemungkinan orang jauh, ada jembatan masih laju,” ungkap Endra, seorang  warga yang tinggal dekat lokasi kejadian.

    ​Kerusakan lantai jembatan yang berbahan kayu ulin ini sebenarnya bukan rahasia lagi. Meskipun lempengan besi telah dipasang di beberapa titik, beban dari kendaraan bertonase besar yang melintas terus-menerus membuat perbaikan tersebut tak lebih dari sekadar “obat penenang” sementara.

    ​Sorotan kini tertuju pada instansi terkait yang selama ini hanya melakukan penanganan tambal sulam. Warga menilai, intensitas kendaraan berat yang tidak sesuai dengan kapasitas jembatan adalah akar masalah yang sengaja dibiarkan.

    ​“Ini sudah sering dikeluhkan. Kalau cuma diperbaiki sementara, pasti rusak lagi. Harus ada solusi permanen,” tegas Rahmad, seorang warga dengan nada geram.

    ​Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami memandang kematian warga sebagai tamparan keras bagi otoritas pekerjaan umum. Jembatan Kapten Mulyono telah lama menjadi “zona merah” yang diteriakkan warga, namun respons yang diberikan selalu bersifat reaktif dan dangkal.

    ​Membangun jembatan dengan material ulin di jalur logistik berat adalah sebuah anomali perencanaan. Jika anggaran terus dihabiskan untuk perbaikan rutin yang selalu rusak dalam hitungan bulan, maka ada yang salah dengan cara kita mengelola keselamatan warga.

    ​Korban meninggal telah membayar mahal kerusakan itu dengan nyawanya. Pertanyaannya: butuh berapa banyak lagi nyawa yang harus jatuh sebelum jembatan ini benar-benar diperbaiki secara layak? (***)