Tag: kapuas

  • ISPU Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, Gunung Mas Tembus 2.362, Kotim 901

    ISPU Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, Gunung Mas Tembus 2.362, Kotim 901

    Kanalindependen.id – Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan kembali menunjukkan kondisi mengkhawatirkan pada Rabu (23/9/2026) malam. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH pukul 19.17 WIB menunjukkan sejumlah daerah masih berada pada kategori Berbahaya.

    Angka pencemaran tertinggi tercatat di Kabupaten Gunung Mas dengan ISPU mencapai 2.362 berdasarkan parameter PM10. Angka tersebut masih sama dengan pemantauan sebelumnya pada pukul 16.42 WIB.

    Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Murung Raya. ISPU di wilayah tersebut naik dari 1.691 menjadi 1.704 PM10.

    Sementara itu, Kabupaten Barito Selatan melalui stasiun pemantauan Sanggu mencatat angka 1.000 PM10.

    Pontianak dan Barito Kuala Ikut Naik

    Peningkatan cukup tajam terjadi di Pontianak Tenggara. Angka ISPU melonjak dari 717 menjadi 806 PM10 dalam beberapa jam.

    Kenaikan juga tercatat di Kabupaten Barito Kuala. ISPU bergerak dari 631 menjadi 661 PM10.

    Kabupaten Kapuas turut mengalami peningkatan, meski tipis. Angkanya naik dari 857 menjadi 861 PM10.

    Data tersebut menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah masih menghadapi tekanan serius, terutama kawasan yang mencatat konsentrasi partikulat PM10 tinggi.

    Kotim Turun Tipis, Tapi Masih Berbahaya

    Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat penurunan tipis. ISPU turun dari 905 menjadi 901 PM10.

    Namun, penurunan tersebut belum mengubah status kualitas udara. Angka tersebut masih jauh berada di atas ambang kategori Berbahaya.

    “Kabut asap berhatan hampir sepanjang hari, namun yang parah itu pagi dan sore. Bahkan sore udara berwarna kekuningan. Kondisi ini membuat suli bernapas dan mata perih,” ungkap Dayat, salah seorang warga Sampit.

    Penurunan juga terjadi di Kabupaten Tabalong, dari 384 menjadi 366 PM2.5.

    Stasiun pemantau Mobile AQMS BPBD Kalteng mencatat penurunan dari 392 menjadi 357 PM10. Sedangkan Kabupaten Kutai Barat melalui stasiun Sendawar turun dari 329 menjadi 311 PM2.5.

    Meski beberapa daerah mengalami penurunan, seluruh lokasi tersebut masih berada dalam kategori Berbahaya.

    Kondisi ini menunjukkan persoalan kualitas udara di Kalimantan belum mereda. Konsentrasi partikulat masih berada pada level yang berpotensi memberikan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.

    Data ISPU tersebut merupakan pembaruan pemantauan pada 23 September 2026 pukul 19.17 WIB. (***)

  • Laut Kalteng Siaga Angin Gusty

    Laut Kalteng Siaga Angin Gusty

    Kanalindependen.id  – Stasiun Meteorologi Kelas III Iskandar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi menerbitkan rilis prakiraan cuaca maritim yang memuat sinyal kelautan kritis bagi wilayah perairan Kalimantan Tengah. Peringatan dini yang berlaku mulai Rabu, 3 Juni 2026 hingga Jumat, 5 Juni 2026 ini meminta para nelayan tradisional, nakhoda kapal dagang, hingga operator tongkang batu bara untuk memperketat standar keselamatan pelayaran seiring lonjakan tinggi gelombang dan ancaman angin kencang mendadak (gusty).

    Pertumbuhan Awan Konvektif Memicu Hujan Merata

    Berdasarkan analisis pemodelan atmosfer yang diterima redaksi, perairan selatan Kalimantan saat ini sedang mengalami fase instabilitas udara yang dipicu oleh masifnya pertumbuhan awan konvektif. Dampaknya, akumulasi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diproyeksikan akan mengguyur secara merata di empat jalur pelayaran utama, yakni Kuala Kapuas, Teluk Sampit, Kuala Jelai, dan Kumai.

    Kondisi ini diperparah oleh pergerakan angin permukaan yang bertiup kencang dari arah Barat sebelum akhirnya bergeser menuju Barat Daya. Perubahan pola arus angin ini mentransfer energi kinetik yang secara langsung memicu eskalasi tinggi gelombang laut, di mana puncak kerawanan diprediksi mencapai titik tertinggi pada Jumat, 50 Juni 2026.

    Peta Kerawanan Empat Titik Perairan Strategis Kalteng

    Perairan Teluk Sampit Alur pelayaran lokal di Teluk Sampit akan menghadapi dinamika cuaca yang cukup fluktuatif pada periode 3 hingga 4 Juni, dengan kondisi pagi berawan yang disusul guyuran hujan ringan pada siang hingga sore hari sekitar pukul 13:00 dan 16:00 WIB. Namun, fokus kewaspadaan mutlak harus diarahkan pada Jumat, 5 Juni 2026. Pada hari tersebut, tinggi gelombang yang semula berada di kategori rendah (0.5 – 1.25 meter) diprakirakan melonjak drastis masuk ke kategori Sedang (1.25 – 2.5 meter), diiringi embusan angin konstan hingga 17 knots dan hantaman angin kejutan (gust) mencapai 28 knots.

    Perairan Kumai Ancaman yang jauh lebih berisiko tinggi terdeteksi di Perairan Kumai, di mana eskalasi gelombang kategori Sedang (1.25 – 2.5 meter) diproyeksikan menghantam lebih awal, yakni sejak Kamis, 4 Juni 2026, dan bertahan hingga keesokan harinya. Jalur pelayaran ini didominasi oleh fase basah yang panjang dengan sebaran hujan ringan dari siang hingga sore hari, didukung oleh daya rusak hembusan angin maksimum (gust) tertinggi yang mencapai angka 29 knots.

    Perairan Kuala Jelai Karakteristik Perairan Kuala Jelai dicirikan oleh kehangatan suhu permukaan laut yang menyentuh angka 31°C, memicu pengencangan angin konstan di kisaran 13 hingga 19 knots sejak awal periode. Mengikuti grafik bahaya Teluk Sampit, wilayah ini juga diprediksi mengalami lonjakan tinggi gelombang hingga 2.5 meter pada Jumat, 5 Juni 2026, yang didorong oleh peralihan arus permukaan laut ke arah Barat Daya dengan kecepatan arus berkisar antara 0.78 hingga 2.10 knots.

    Perairan Kuala Kapuas Di antara keempat wilayah pelayaran, Kuala Kapuas terpantau berada di zona yang relatif lebih aman. Meskipun diprediksi tetap diguyur hujan ringan dan berpotensi diterjang hembusan angin kilat hingga 28 knots pada Jumat nanti, tinggi gelombang di perairan ini diprakirakan masih cukup bersahabat dan bertahan di kategori tenang hingga rendah (0.5 – 1.25 meter).

    Peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG Iskandar bukanlah sekadar rutinitas rilis data di atas meja birokrasi, melainkan sebuah alarm keras bagi ketahanan logistik dan keselamatan jiwa di laut. Kenaikan status gelombang dari rendah ke sedang (1.25 – 2.5 meter) di wilayah krusial seperti Teluk Sampit dan Kumai berpotensi menjadi momok mematikan bagi armada nelayan tradisional yang rata-rata menggunakan kapal berukuran kecil di bawah 10 GT.

    Bahaya laten yang sesungguhnya dalam rilis cuaca kali ini bukanlah hujan ringannya, melainkan kemunculan angin kencang mendadak (gusty) yang diprediksi mencapai 28 hingga 29 knots. Karakteristik angin gusty yang datang secara tiba-tiba tanpa peringatan visual di cakrawala sering kali menjadi penyebab utama terbaliknya kapal-kapal nelayan akibat kehilangan stabilitas seketika.

    Di tengah ketergantungan ekonomi masyarakat pesisir Kotim terhadap hasil laut, kedisiplinan nakhoda untuk menunda pelayaran pada puncak periode 4-5 Juni adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Otoritas syahbandar lokal di pelabuhan-pelabuhan rakyat harus memperketat izin berlayar (clearance) dan memastikan tidak ada kapal yang nekat melaut demi mengejar setoran, sebelum situasi di perairan utara laut Jawa ini kembali dinyatakan kondusif oleh radar BMKG.  (***)

  • Aparat vs Warga Bentrok di Jalan Hauling PT ABB Kapuas, Tiga Polisi Luka Bacok, Warga Luka-Luka

    Aparat vs Warga Bentrok di Jalan Hauling PT ABB Kapuas, Tiga Polisi Luka Bacok, Warga Luka-Luka

    KUALA KAPUAS, kanalindependen.id – Bentrokan terjadi antara aparat kepolisian dan aliansi masyarakat adat Dayak di area jalan hauling Sekmen 3 PT Asmin Bara Bronang (ABB), Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, Selasa (3/3/2026) sore.

    Tiga anggota Polres Kapuas dilaporkan mengalami luka bacok, sementara sejumlah warga dari aliansi masyarakat adat juga terluka dan sebagian diamankan aparat.

    Informasi ini tercantum dalam laporan internal penanganan yang diterima Kanal Independen.

    Laporan tersebut menyebut penindakan berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB di jalan hauling Sekmen 3 PT ABB, Desa Barunang.

    Sekitar 60 personel Polres Kapuas terlibat dalam operasi, dipimpin Kasat Reskrim AKP Riski Atmaka Rahadi.

    Penindakan ini diklaim sebagai tindak lanjut penyelidikan atas aksi penghalangan operasional PT ABB oleh kelompok warga yang tergabung dalam aliansi masyarakat adat sejak Senin (2/3/2026).

    Di lokasi, aliansi itu disebut berjumlah sekitar 40 orang dan dipimpin Supantri alias Raja Gunung serta Sing’an alias Dayak Belinga alias Ipang.

    Laporan tersebut belum merinci jenis luka maupun kondisi terakhir para warga yang terluka dan belum memuat keterangan dari pihak keluarga maupun pendamping hukum.

    Informasi lain yang dihimpun Kanal Independen, ada warga yang diduga mengalami luka tembak.

    Masih mengacu pada laporan, Polres Kapuas menyebut dasar penindakan mengacu pada surat perintah Kapolres Kapuas untuk melaksanakan penegakan hukum di area PT ABB di Kapuas Tengah.

    Serta ketentuan Undang‑Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan dan pembawaan senjata tajam tanpa izin atau alasan sah.

    Pasal 2 ayat (1) undang‑undang tersebut memuat ancaman pidana hingga 10 tahun penjara bagi pihak yang membuat, menyimpan, membawa, atau menguasai senjata penikam, penusuk, dan pemukul tanpa hak.

    Dalam dokumen itu, kepolisian menyatakan sebelum penindakan dilakukan, Kapolsek Kapuas Tengah AKP Muhammad Saladin bersama tim telah menyampaikan penjelasan kepada perwakilan masyarakat dan pihak terkait di area pabrik dan jalan hauling PT ABB.

    ”Penyampaian ini diklaim bertujuan memberi penjelasan mengenai langkah hukum yang akan diambil serta mencegah eskalasi saat upaya paksa dilakukan. Namun, aliansi masyarakat adat disebut menolak meninggalkan lokasi dan justru melakukan perlawanan dengan mencabut senjata tajam jenis mandau atau parang, lalu mengejar petugas,” demikian ini laporan tersebut.

    Polisi menyebut telah melepaskan tembakan peringatan ketika penyerangan terjadi, tetapi tembakan itu dikatakan tidak diindahkan sehingga sejumlah anggota mengalami luka bacok.

    Tiga personel yang dilaporkan terluka yaitu Aiptu Erwinsyah yang mengalami luka bacok di bagian kepala, Bripda Philo Alexandero Toepak yang terluka di bagian punggung sebelah kiri, serta Bripda Arjuna Thio Saputra yang mengalami luka bacok di kepala.

    Dua di antara mereka kemudian dirujuk ke RS Bhayangkara Palangka Raya untuk penanganan medis lebih lanjut, sedangkan satu personel masih dirawat di klinik perusahaan.

    Laporan internal yang sama menyebut adanya korban luka dari pihak aliansi masyarakat adat.

    Sedikitnya tiga orang digambarkan mengalami luka dan mendapat perawatan medis, di antaranya Supantri alias Raja Gunung dan Sing’an alias Ipang alias Dayak Belinga yang disebut masih dirawat di Klinik Pama Persada Nusantara Distrik Asmin, Desa Barunang.

    Selain korban luka, aparat mengamankan sejumlah orang dari pihak aliansi masyarakat. Mereka adalah Supantri alias Raja Gunung, Sing’an alias Dayak Belinga alias Ipang, Dodo, Wulandari (istri Sing’an), Rena alias Bawi Dayak (istri Supantri), dan Herlin S Penyang.

    Adapun korban dari kedua belah pihak awalnya mendapat penanganan di Poli Klinik Pama Persada Nusantara Distrik Asmin, sebelum sebagian dirujuk ke RS Bhayangkara Palangka Raya.

    Bentrokan di jalan hauling PT ABB ini terjadi di tengah mengerasnya sengketa lahan antara warga Kapuas Tengah dan perusahaan tambang batu bara tersebut.

    Sejak awal Februari 2026, Pemerintah Kabupaten Kapuas beberapa kali memfasilitasi mediasi antara perwakilan warga dengan manajemen PT ABB terkait klaim lahan di wilayah Kapuas Tengah, namun pertemuan‑pertemuan itu belum menghasilkan kesepakatan.

    Sejumlah media daerah sebelumnya juga memberitakan aksi masyarakat adat Mamput dan warga Kapuas Tengah yang menuntut pembebasan Tono Priyanto BG serta penyelesaian sengketa lahan yang mereka sebut sebagai bentuk perampasan tanah dan kebun warga. (ign)