Tag: karhutla 2026

  • Kebakaran Lahan Terjadi Lagi di Sampit

    Kebakaran Lahan Terjadi Lagi di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran lahan kosong yang dipenuhi semak belukar terjadi di Jalan Metro TV, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Minggu pagi (15/3/2026).

    Peristiwa tersebut pertama kali dilaporkan oleh seorang warga bernama Eva melalui panggilan darurat ke Markas Komando Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotawaringin Timur sekitar pukul 08.06 WIB.

    Mendapat laporan tersebut, petugas dari Peleton III Damkar Kotim langsung bergerak menuju lokasi kejadian pada pukul 08.11 WIB dengan mengerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran.

    Setelah menempuh jarak sekitar empat kilometer, petugas tiba di lokasi kejadian pada pukul 08.21 WIB. Tim kemudian melakukan penilaian situasi awal sebelum memulai proses pemadaman.

    Kepala Regu Personel Lapangan Disdamkarmat Kotim Sukmana Saleh bersama sejumlah personel lainnya segera melakukan penyiraman untuk mencegah api merambat ke area sekitar yang dipenuhi semak belukar.
    Dalam penanganan kebakaran tersebut, petugas juga mendapat bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

    Upaya pemadaman berjalan cukup cepat. Api berhasil dilokalisir sekitar pukul 08.54 WIB dan dilanjutkan dengan proses pendinginan guna memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
    Setelah dilakukan pemeriksaan di sekitar lokasi, operasi pemadaman dinyatakan selesai pada pukul 08.58 WIB dan seluruh personel kembali ke Markas Komando Damkar Kotim sekitar pukul 09.14 WIB.

    Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun berdasarkan laporan petugas, kebakaran lahan kosong tersebut diduga disebabkan oleh unsur kesengajaan atau arson.

    Cuaca cerah saat kejadian turut membantu proses pemadaman sehingga api tidak sempat meluas ke area lain.

    Usai penanganan kebakaran tersebut, petugas kembali bersiaga di markas untuk melanjutkan tugas pelayanan kebencanaan lainnya. (***)

  • Cuaca Kering Menyusup di Musim Hujan, Kebakaran Lahan Mulai Menggila

    Cuaca Kering Menyusup di Musim Hujan, Kebakaran Lahan Mulai Menggila

    SAMIT, Kanalindependen.id– Musim hujan seharusnya membawa jeda. Memberi tanah waktu untuk basah, udara untuk bernapas, dan warga untuk sedikit lengah dari ancaman api. Namun beberapa hari terakhir di Kabupaten Kotawaringin Timur, hujan justru seperti tamu yang lupa alamat. Yang datang lebih dulu adalah api.

    Senin siang (2/3/2026), di Jalan Bukit Permai, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, kobaran kecil dari aktivitas pembakaran sampah hampir berubah menjadi bencana. Lahan kering di sekitar permukiman menjadi karpet empuk bagi api untuk merambat. Rumah-rumah warga berdiri terlalu dekat dengan kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.

    Sekitar pukul 12.15 WIB, seorang warga bernama Rio melapor ke markas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotim. Dua menit kemudian, armada bergerak. Sepuluh menit setelah itu, petugas sudah berjibaku mencegah api menjalar ke dinding-dinding rumah warga.

    Pemadaman berlangsung hampir satu jam. Lahan seluas sekitar 50 x 30 meter berhasil dilokalisasi. Tidak ada korban jiwa. Tidak ada kerugian materiil. Tapi seperti banyak kejadian serupa, api padam tanpa pernah benar-benar menyentuh akar masalah.

    Sehari sebelumnya, Minggu (1/3/2026), api yang lebih ganas menyala di Samuda Kota, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Kali ini bukan sekadar lahan kosong, melainkan gambut tanah yang menyimpan api lebih lama daripada ingatan kita tentang bahayanya.

    Di lahan milik seorang warga bernama Abdu, sedikitnya 65 titik api terdeteksi. Sekitar empat hektare hangus. Permukiman warga hanya berjarak sekitar 50 meter. Terlalu dekat untuk merasa aman, terlalu sering untuk disebut kebetulan.

    Petugas Pos Sektor Samuda bersama polisi, relawan api, dan unsur ketenteraman kecamatan berusaha menahan laju api agar tidak merambat ke rumah warga. Pendinginan masih terus dilakukan, karena pada lahan gambut, api kerap tidak mati ia hanya bersembunyi.

    Asap juga sempat menyelimuti Kelurahan Baamang Barat. Aktivitas warga terganggu. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan. Namun kepulan asap kembali dianggap bagian dari rutinitas musiman, bukan peringatan dini yang seharusnya memicu perubahan.

    BMKG Kotim menyebut cuaca panas belakangan ini dipengaruhi gangguan cuaca regional, meski wilayah ini masih berada dalam periode musim hujan. Penjelasan itu sahih secara ilmiah, namun tak cukup menjawab mengapa kebakaran selalu datang lebih siap dibanding sistem pencegahannya.

    Imbauan kembali diulang: jangan membakar sampah, jangan membuka lahan dengan api, waspadai cuaca panas. Kalimat yang sama, diulang dari tahun ke tahun, seolah api bisa dipadamkan hanya dengan kata-kata.

    Cuaca kering memang menyusup di musim hujan. Tapi yang benar-benar membuat kebakaran lahan mulai menggila bukan semata langit yang pelit hujan melainkan kebiasaan yang dibiarkan, pengawasan yang longgar, dan ingatan kolektif yang selalu cepat memudar begitu api padam.

    Dan seperti biasa, kita baru benar-benar cemas ketika asap sudah sampai di halaman rumah. Dan semua aktivitas terdampak hingga nyaris lumpuh. (***)

  • Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi berakhir. Setelah diberlakukan selama 30 hari sejak 23 Januari 2026, pemerintah daerah memutuskan untuk tidak memperpanjang status tersebut. Namun, berakhirnya status siaga bukan berarti ancaman karhutla benar-benar sirna.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menegaskan, kewaspadaan tetap menjadi kunci di tengah kondisi cuaca yang masih sulit diprediksi. Meski wilayah Kotim saat ini berada dalam musim hujan, kejadian karhutla masih ditemukan di sejumlah titik.

    “Kalau melihat informasi BMKG, Februari sampai Maret masih musim hujan. Tapi cuacanya berubah-ubah. Sempat panas dua hari saja, langsung terjadi karhutla di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 19 sampai 20, luasnya sekitar 0,3 hektare,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Rabu (11/2/2026).

    Status siaga darurat karhutla sebelumnya ditetapkan Pemkab Kotim menyusul lonjakan titik panas yang tidak lazim pada Januari lalu. Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang dipimpin Wakil Bupati Kotim, Irawati, di Aula BPBD Kotim.

    Saat itu, kondisi cuaca di Kotim menjadi perhatian serius. Ketika sejumlah daerah di Indonesia dilanda hujan lebat hingga banjir, sebagian wilayah Kotim justru mengalami cuaca panas dan kering.

    “Cuaca sekarang sulit diprediksi. Di daerah lain banjir, tapi di Kotim justru panas dan rawan karhutla. Karena itu kita sepakati status siaga darurat diaktifkan,” kata Irawati dalam rapat tersebut.

    BPBD Kotim mencatat, sepanjang Januari 2026 terjadi 61 hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan periode Januari pada tahun-tahun sebelumnya. Pada Januari 2023 tercatat 14 hotspot, Januari 2024 sebanyak 18, dan Januari 2025 hanya empat hotspot.

    Lonjakan tersebut dinilai berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut di Kotim. Penurunan muka air tanah hingga minus 35 sampai 60 sentimeter membuat lahan sangat mudah terbakar ketika tersulut api. Sejumlah wilayah rawan berada di Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kota Besi, dan Cempaga.

    Memasuki Februari, intensitas hujan yang meningkat menjadi salah satu pertimbangan utama tidak diperpanjangnya status siaga darurat karhutla yang berakhir pada 21 Februari 2026. Meski demikian, BPBD menegaskan pemantauan tetap dilakukan.

    “Status siaga kita hentikan dulu, tapi bukan berarti kita lengah. Kami tetap melihat perkembangan cuaca ke depan,” jelas Multazam.

    Selain ancaman karhutla, Kotim juga dihadapkan pada potensi bencana lain seperti banjir, angin kencang, dan petir. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

    Multazam menambahkan, musim kemarau di Kotim umumnya mulai terjadi pada Juli. Jika disertai suhu panas tinggi, risiko karhutla berpotensi kembali meningkat, terutama akibat aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.

    “Kalau kemarau dengan panas tinggi, dampaknya bisa fatal. Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.

    Berakhirnya status siaga mungkin menandai meredanya ancaman sementara. Namun bagi Kotim, kewaspadaan tetap menjadi pelindung utama, karena karhutla bisa kembali muncul kapan saja, bahkan di tengah musim hujan. (***)