Tag: karhutla 2026

  • Teror Kebakaran Amin Klaru Lumat Empat Hektare Gambut Ketapang Sekaligus Menelanjangi Kelumpuhan Mobilisasi Taktis di Medan Sulit

    Teror Kebakaran Amin Klaru Lumat Empat Hektare Gambut Ketapang Sekaligus Menelanjangi Kelumpuhan Mobilisasi Taktis di Medan Sulit

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah urban fringe Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kian tak terkendali dan mulai menembus perimeter domestik masyarakat. Pada Selasa (23/6/2026) siang hingga petang, sedikitnya empat hektare hamparan lahan gambut dalam dan vegetasi semak belukar di kawasan Jalan Amin Klaru, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, hangus terbakar. Amukan api bahkan sempat menjilat and merusak satu unit rumah warga yang berdiri di sekitar lokasi kejadian.

    Blokade Lintasan Lima Ratus Meter dan Operasi Alkon Penjinak Bara

    Pemicu utama cepatnya perambatan api adalah kombinasi fatal antara cuaca terik, embusan angin kencang, and kondisi vegetasi atas yang telah mengering akibat defisit hidrologis. Kondisi ini membuat api dengan cepat melakukan ekspansi horizontal. Situasi di lapangan sempat memicu kepanikan massal ketika satu unit hunian warga mulai terdampak jilatan api, meski beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden tersebut.

    Operasi pemadaman darurat yang digelar tim gabungan langsung membentur dinding kendala geografis yang sangat pelik. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim  Multazam, membeberkan bahwa armada tangki air berkapasitas besar milik pemadam sama sekali tidak bisa mendekati titik api akibat tiadanya akses infrastruktur jalan yang memadai.

    “Lokasi kebakaran berada sekitar 500 meter masuk ke dalam dari jalan raya utama, sehingga kendaraan taktis tangki air tidak bisa masuk ke lokasi. Sebagai solusinya, tim terpaksa memobilisasi unit roda tiga, mesin pompa alkon, serta peralatan portabel lainnya untuk menjangkau titik api,” urai Multazam saat mengonfirmasi jalannya operasi darurat, Selasa sore (23/6/2026) .

    Memanfaatkan pasokan air dari parit-parit sekunder yang tersisa di sekitar lokasi, sebanyak 14 personel tangguh BPBD Kotim bahu-bahu bersama petugas Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Babinsa, Manggala Agni, jajaran relawan, serta masyarakat setempat melakukan lokalisasi basah. Hingga pukul 17.02 WIB, tim gabungan mencatat keberhasilan mengendalikan sekitar 75 persen area yang terbakar atau setara dengan tiga hektare lahan.

    Sisa Bara Bawah Tanah dan Jeda Gelap Gulita Garis Depan

    Meskipun sebagian besar kobaran api di permukaan berhasil diredam menjelang petang, ancaman karhutla di Jalan Amin Klaru dipastikan belum sepenuhnya steril. Karakteristik asli lahan gambut yang mampu menyimpan bara api di kedalaman tanah (ground fire) menjadi tantangan laten bagi para petugas di garis depan.

    “Sebagian besar area sudah berhasil dipadamkan dan dikunci pergerakannya. Namun, masih terdapat beberapa titik di dalam tanah yang menyisakan bara tersembunyi karena karakteristik lahan gambut yang menyimpan panas cukup lama,” jelas Multazam.

    Operasi pembasahan terpaksa dihentikan sementara waktu ketika malam mulai turun akibat keterbatasan penerangan dan faktor keamanan personel di medan gambut yang labil. Kendati operasi dijeda, petugas memastikan bahwa perimeter api telah dikunci rapat agar tidak meluas ke area vegetasi yang lebih besar maupun merembet kembali ke klaster permukiman padat penduduk. BPBD pun melakukan pendinginan (cooling down) di titik-titik rawan dan meminta masyarakat segera melayangkan laporan darurat jika mendeteksi kemunculan asap baru di sekitar lokasi.

    Kebakaran hebat yang melumat empat hektare lahan di Jalan Amin Klaru dan merusak satu rumah warga adalah potret nyata dari kecerobohan tata ruang urban perkotaan Sampit yang mengabaikan aspek keselamatan bencana. Wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang selama ini tumbuh pesat sebagai zona kaplingan pemukiman baru. Namun, pembukaan lahan oleh para spekulan tanah sering kali abai membangun akses jalan yang layak bagi kendaraan darurat sekelas mobil pemadam kebakaran.

    Jarak 500 meter dari jalan raya tanpa akses truk tangki adalah sebuah ironi di tahun 2026. Jika sore itu tim gabungan tidak berinisiatif menggunakan mesin alkon portabel dan memanfaatkan air parit, satu rumah yang terdampak dipastikan sudah berubah menjadi abu, atau bahkan merembet ke klaster perumahan lainnya. Hal ini menelanjangi fakta bahwa sistem mitigasi kebakaran kita masih sangat bergantung pada faktor keberuntungan alam dalam hal ini ketersediaan air parit sekitar.

    Kanal Independen menegaskan bahwa Pemkab Kotim tidak bisa lagi sekadar mengimbau warga untuk tidak membakar lahan tanpa dibarengi penegakan hukum hukum yang radikal di tingkat hulu. Kelurahan Mentawa Baru Hilir wajib melakukan audit kepemilikan atas empat hektare lahan yang terbakar tersebut. Jika terbukti lahan sengaja ditelantarkan atau dibakar demi menekan biaya pembersihan (land clearing), sita asetnya dan seret pemiliknya ke ranah pidana lingkungan.

    Selain itu, BPBD and Disdamkarmat Kotim harus segera merombak postur alutsista mereka dengan memperbanyak armada taktis mini berkemampuan off-road yang mampu menembus gang-gang sempit gambut, karena mengandalkan truk tangki besar di tengah semrawutnya kaplingan Sampit adalah sebuah kesia-siaan birokrasi.(***)

  • Satelit Deteksi Empat Hotspot Siaga di Tiga Kecamatan Kotim Saat Curah Hujan Merosot Nol Milimeter

    Satelit Deteksi Empat Hotspot Siaga di Tiga Kecamatan Kotim Saat Curah Hujan Merosot Nol Milimeter

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lonceng bahaya hidrometeorologi resmi berdentang di atas hamparan lahan gambut Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di tengah bayang-bayang proyeksi kemarau ekstrem yang diprediksi bakal mengunci wilayah ini hingga 120 hari ke depan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan empat titik panas (hotspot) dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Kehadiran titik api awal ini memicu alarm siaga satu karena terjadi di tengah drastisnya penurunan peluang pertumbuhan awan hujan di Bumi Tambun Bungai.

    Sebaran Titik Panas NOAA20 dan Ancaman Kering Juli–September

    ​Berdasarkan data rekapitulasi satelit modern NOAA20 and SNPP yang diperbarui pada Minggu (21/6/2026) pukul 07.00 WIB, sebaran titik panas tersebut terdeteksi di tiga kecamatan krusial. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, merincikan bahwa satu titik panas terpantau membakar Kelurahan Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga pada dini hari pukul 00.09 WIB. Sementara itu, satu titik panas lainnya terdeteksi di Kelurahan Parebok, Kecamatan Teluk Sampit pada siang hari pukul 12.50 WIB.

    ​Titik paling rawan berada di Kecamatan Tualan Hulu, di mana satelit menangkap dua hotspot sekaligus yang meledak di Kelurahan Sebungsu pada siang hari, masing-masing pada pukul 12.31 WIB dan 12.50 WIB.

    ​“Seluruh titik panas yang terdeteksi memiliki tingkat kepercayaan tinggi (confidence level) dengan nilai 8. Radius kemungkinan keberadaan sumber panas diperkirakan mencapai 321 meter. Hal ini patut diwaspadai karena peluang pertumbuhan awan hujan untuk periode 21 hingga 22 Juni berada pada kategori sangat rendah,” tegas Mulyono Leo Nardo.


    ​Dinamika titik api ini diprakirakan akan melompat lebih agresif memasuki periode Juli hingga September 2026. Berdasarkan analisis parameter klimatologi BMKG, curah hujan di Kotim diproyeksikan merosot tajam hingga hanya berkisar 0 – 20 \text{ mm} per bulan—sebuah kondisi yang jauh lebih kering dari ambang batas normal dan berpotensi memicu kekeringan hidrologis jangka panjang.

    Mobilisasi Mitigasi BPBD dan Sekat Bakar Mandiri Lahan Gambut

    ​Rentetan kebakaran lahan yang mulai marak melanda wilayah Kotim akhir-akhir ini memicu respons taktis dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Salah satu insiden yang menjadi catatan adalah kesaksian dari warga lokal, Sugianto, pada Sabtu (20/6/2026), yang melihat langsung bagaimana vegetasi kering di lapangan begitu rapuh dan mudah tersulut menjadi kobaran api.

    ​Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menegaskan bahwa lembaran analisis kebencanaan saat ini menempatkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah dalam status mudah hingga sangat mudah terbakar. Untuk itu, BPBD memperketat patroli lapangan terpadu bersama TNI, Polri, Manggala Agni, serta memperkuat sistem peringatan dini berbasis satelit.

    ​“Warga diimbau keras untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Kondisi cuaca yang kering sangat rentan memicu api dan cepat menyebar. Kami juga meminta masyarakat lebih waspada terhadap aktivitas kecil yang memicu bencana, seperti membuang puntung rokok sembarangan di area kering maupun lahan gambut,” tegas Multazam.


    ​Sebagai langkah penyelamatan mandiri, BPBD meminta komunitas di wilayah rawan segera membangun sekat bakar (firebreak) dan menyiapkan tandon air cadangan. Jika eskalasi kebakaran meluas dan memicu kabut asap pekat, masyarakat diminta segera mengenakan masker pelindung standar N95 serta memangkas mobilitas di luar ruangan demi keselamatan respirasi.

    ​Kemunculan empat titik panas dengan tingkat kepercayaan nilai 8 di Cempaga, Teluk Sampit, dan Tualan Hulu bukanlah sebuah kebetulan alam, melainkan alarm otentik mengenai rapuhnya tata kelola lingkungan hidup di Kotim menghadapi siklus kemarau ekstrem 2026. Proyeksi curah hujan yang menyentuh angka nol milimeter per bulan adalah vonis kering yang akan mengubah jutaan hektare lahan gambut di Kotim menjadi bom waktu yang siap meledak hanya karena satu puntung rokok.

    ​Kanal Independen memberikan catatan kritis yang sangat tajam terhadap pola mitigasi konvensional Pemkab Kotim. Selama ini, BPBD and BMKG selalu dibebani tanggung jawab di hilir untuk memadamkan api, sementara regulasi di hulu terhadap korporasi perkebunan kelapa sawit skala besar terkesan mandul. Kecamatan Cempaga and Tualan Hulu adalah wilayah yang dikepung oleh konsesi perkebunan swasta. Sudahlah rawa gambutnya dikuras habis melalui kanalisasi industri swasta, ketika musim kering tiba, beban pengawasan titik api justru dibebankan kepada masyarakat desa yang hanya memiliki peralatan pemadam ala kadarnya.

    ​Pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum tidak boleh lagi menggunakan standar ganda dalam penanganan karhutla. Jika ada titik panas terdeteksi di dalam radius konsesi perusahaan, segel lahan tersebut tanpa kompromi and seret pemilik modalnya ke meja pengadilan hijau.

    ​Lebih dari itu, dengan durasi kemarau mencapai 120 hari, alokasi anggaran daerah untuk patroli udara (water bombing) dan operasional darurat pos lapangan Manggala Agni harus digandakan. Jangan tunggu sampai langit Kotim berubah menjadi kuning pekat and anak-anak Sampit terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) massal, baru birokrasi daerah sibuk mencari kambing hitam di tingkat peternak and petani tradisional. Kesiapsiagaan kolektif harus ditegakkan dengan memaksa konglomerat sawit mendanai penuh infrastruktur pemadaman di sekitar perimeter desa mereka. (***)

  • Sinyal Merah Karhutla di Atas Bara Gambut Kotim: Dua Titik Api Menyala dalam Semalam, BMKG Warning Kemarau Ekstrem 2026

    Sinyal Merah Karhutla di Atas Bara Gambut Kotim: Dua Titik Api Menyala dalam Semalam, BMKG Warning Kemarau Ekstrem 2026

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Siklus krisis ekologis tahunan kini resmi kembali mengintai Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Seiring bergesernya musim menuju kemarau, ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai menampakkan taringnya. Hanya dalam kurun waktu 24 jam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim melaporkan telah menerima dua hantaman titik api (hotspot) di dua lokasi spasial berbeda, menegaskan bahwa vegetasi gambut daerah ini sudah masuk dalam fase kritis mudah terbakar.

    Bara Siang Bolong di Lingkar Selatan dan Kelumpuhan Medan Tjilik Riwut

    Letupan karhutla pertama kali terdeteksi merobek kawasan Jalan Mohammad Hatta atau yang akrab dikenal sebagai jalur Lingkar Selatan, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang pada Senin (15/6/2026) siang sekitar pukul 13.56 WIB. Api dengan cepat melumat permukaan tanah gambut (peatland) kering yang ditumbuhi semak belukar rimbun.

    Merespons ancaman yang berpotensi meluas ke jalur logistik tersebut, sebanyak 10 personel taktis BPBD Kotim diterjunkan ke titik koordinat dengan dukungan satu unit armada mobil tangki air. Setelah bertempur melawan asap pekat, petugas berhasil mengisolasi pergerakan api. Luas lahan yang hangus terbakar diestimasi mencapai 0,12 hektare sebelum berhasil dijinakkan sepenuhnya.

    Belum sempat barisan pemadam melepas lelah, petaka kedua kembali dilaporkan menyala pada Senin malam di kawasan koridor Jalan Tjilik Riwut. Namun, operasi pemadaman di lokasi ini terpaksa membentur dinding kegagalan. Titik api terpantau berada jauh di dalam hutan, sekitar 700 meter merangsek dari tepi jalan utama.

    Petugas BPBD bersama kekuatan taktis dari Relawan Ketapi III sempat menembus kegelapan untuk melakukan asesmen lapangan. Sayangnya, kombinasi medan belukar yang ekstrem, tiadanya akses untuk kendaraan roda empat maupun unit water tank, serta minimnya visibilitas pencahayaan pada malam hari membuat tim terpaksa membatalkan eksekusi penyemprotan demi menghindari risiko fatalitas personel.

    Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menegaskan situasi ini harus dibaca sebagai early warning bagi seluruh elemen korporasi dan masyarakat. Berdasarkan analisis awal, hilangnya guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir telah mengubah karakteristik permukaan tanah Kotim menjadi bahan bakar yang sangat reaktif.

    “Kami mengimbau secara keras kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar dalam bentuk apa pun. Saat ini kita sudah resmi memasuki musim kemarau, sehingga potensi karhutla mulai meningkat tajam secara eksponensial,” tegas Multazam dalam keterangan persnya pada Selasa (16/6/2026).

    Multazam tidak menampik dugaan bahwa mayoritas peristiwa karhutla di Kotim selalu berkorelasi dengan faktor kelalaian atau kesengajaan manusia (human-induced wildfire). Mulai dari taktik murah membersihkan kaplingan tanah secara instan dengan api, hingga puntung rokok yang ditinggalkan berceceran di atas semak kering tanpa pengawasan.

    Kembalinya asap karhutla di Lingkar Selatan dan Tjilik Riwut adalah alarm keras bahwa Kotim sama sekali belum beranjak dari status wilayah rapuh bencana ekologis. Statmen mitigasi dari BPBD yang menyatakan lokasi kebakaran malam hari di Tjilik Riwut “aman karena jauh dari permukiman” adalah sebuah cara pandang defensif yang berisiko melahirkan kelengahan kolektif.

    Hukum alam tanah gambut (peatland) Kalimantan memiliki karakteristik subsurface fire (kebakaran di bawah permukaan). Api yang terlihat padam di atas, bisa terus merayap di kedalaman lapisan gambut setinggi dua meter selama berhari-hari. Membiarkan titik api di Tjilik Riwut menyala semalaman hanya karena alasan medan yang sulit adalah keputusan taktis yang dilematis; jika bara bawah tanah itu tidak diinjeksi air secara total, ia akan meledak menjadi kebakaran masif begitu dihantam angin kencang kemarau.

    Kanal Independen mendesak Satgas Karhutla Kotim dan jajaran Polres untuk tidak membiarkan dua kasus awal ini menguap begitu saja sebagai “kecelakaan alam”. Jalur Lingkar Selatan dan Tjilik Riwut adalah dua magnet pertumbuhan properti dan investasi yang sangat seksi di Sampit. Ada indikasi kuat bahwa kemunculan titik api di sana merupakan bagian dari taktik spekulan tanah (land clearing) yang sengaja memicu kebakaran terkontrol demi menekan biaya pembersihan lahan komersial.

    Mitigasi di tahun 2026 ini menuntut ketegasan hukum yang radikal. Terlebih, BMKG sudah mengeluarkan prognosis buruk bahwa musim kemarau tahun ini akan berjalan jauh lebih panjang, lebih kering, dan lebih ekstrem akibat anomali iklim jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Pemerintah daerah tidak bisa lagi sekadar mengandalkan unit water tank atau ketangkasan Relawan Ketapi III di hilir ketika api sudah membesar. Penegakan hukum berlapis berupa penyegelan lahan yang terbakar menggunakan garis polisi (police line) serta penelusuran status kepemilikan sertifikat tanah di TKP wajib dijalankan. Selama para pemilik lahan atau pelaku pembakaran liar tidak pernah diseret ke meja hijau, maka Sampit akan terus dipaksa menghirup racun asap pekat demi kemakmuran segelintir mafia tanah. (***)

  • Kotim Siaga Dini, Dari Pancaroba ke Kemarau Panjang, Ancaman Karhutla Mengintai

    Kotim Siaga Dini, Dari Pancaroba ke Kemarau Panjang, Ancaman Karhutla Mengintai

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di tengah langit yang tak menentu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki masa peralihan musim. Hujan deras tiba-tiba, angin kencang, dan langit yang cepat berubah menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga. Fenomena ini bukan sekadar cuaca biasa. Ini adalah pertanda awal fase transisi dari musim hujan menuju musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, mengingatkan bahwa periode April hingga Mei merupakan fase pancaroba yang rawan terhadap fenomena ekstrem.

    “Di masa peralihan ini, kondisi atmosfer cenderung tidak stabil. Hujan lebat dan angin kencang bisa terjadi tiba-tiba, mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan berpotensi merusak lingkungan,” jelasnya.

    Di sisi lain, pemerintah daerah tidak menunggu bencana datang. Selasa (7/4/2026), melalui rapat koordinasi lintas sektor, Pemerintah Kotim menetapkan status siaga bencana selama 185 hari, mulai 8 April hingga 10 Oktober.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menegaskan bahwa langkah ini adalah antisipasi dini, bukan indikasi darurat. Semua organisasi perangkat daerah (OPD) diminta memetakan kebutuhan mitigasi, anggaran, serta kesiapan lapangan.

    Status siaga ini datang tepat pada waktunya. Prediksi BMKG menunjukkan musim kemarau Kotim akan dimulai lebih cepat, sekitar awal Juni, dan berlangsung selama 120 hari, lebih lama dibanding kondisi normal. Wilayah utara akan merasakan panas pertama pada 1 Juni, wilayah tengah pada 11 Juni, dan selatan termasuk Teluk Sampit dan Pulau Hanaut sekitar 21 Juni.

    Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
    Fenomena El Nino dengan kategori lemah hingga moderat turut menambah kekhawatiran, meski tidak ekstrem.

    Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat seiring durasi kemarau yang panjang. BMKG menekankan, masyarakat wajib menghindari praktik membakar lahan, bijak dalam menggunakan air bersih, dan tetap menjaga kesehatan.

    Dengan status siaga dan peringatan dini ini, Kotim berupaya menghadapi musim yang sulit diprediksi. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah antisipasi cukup untuk menahan ancaman karhutla dan kekeringan yang mengintai, sebelum kemarau benar-benar datang? (***)

  • Kebakaran Lahan Terjadi Lagi di Sampit

    Kebakaran Lahan Terjadi Lagi di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran lahan kosong yang dipenuhi semak belukar terjadi di Jalan Metro TV, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Minggu pagi (15/3/2026).

    Peristiwa tersebut pertama kali dilaporkan oleh seorang warga bernama Eva melalui panggilan darurat ke Markas Komando Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotawaringin Timur sekitar pukul 08.06 WIB.

    Mendapat laporan tersebut, petugas dari Peleton III Damkar Kotim langsung bergerak menuju lokasi kejadian pada pukul 08.11 WIB dengan mengerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran.

    Setelah menempuh jarak sekitar empat kilometer, petugas tiba di lokasi kejadian pada pukul 08.21 WIB. Tim kemudian melakukan penilaian situasi awal sebelum memulai proses pemadaman.

    Kepala Regu Personel Lapangan Disdamkarmat Kotim Sukmana Saleh bersama sejumlah personel lainnya segera melakukan penyiraman untuk mencegah api merambat ke area sekitar yang dipenuhi semak belukar.
    Dalam penanganan kebakaran tersebut, petugas juga mendapat bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

    Upaya pemadaman berjalan cukup cepat. Api berhasil dilokalisir sekitar pukul 08.54 WIB dan dilanjutkan dengan proses pendinginan guna memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
    Setelah dilakukan pemeriksaan di sekitar lokasi, operasi pemadaman dinyatakan selesai pada pukul 08.58 WIB dan seluruh personel kembali ke Markas Komando Damkar Kotim sekitar pukul 09.14 WIB.

    Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun berdasarkan laporan petugas, kebakaran lahan kosong tersebut diduga disebabkan oleh unsur kesengajaan atau arson.

    Cuaca cerah saat kejadian turut membantu proses pemadaman sehingga api tidak sempat meluas ke area lain.

    Usai penanganan kebakaran tersebut, petugas kembali bersiaga di markas untuk melanjutkan tugas pelayanan kebencanaan lainnya. (***)

  • Cuaca Kering Menyusup di Musim Hujan, Kebakaran Lahan Mulai Menggila

    Cuaca Kering Menyusup di Musim Hujan, Kebakaran Lahan Mulai Menggila

    SAMIT, Kanalindependen.id– Musim hujan seharusnya membawa jeda. Memberi tanah waktu untuk basah, udara untuk bernapas, dan warga untuk sedikit lengah dari ancaman api. Namun beberapa hari terakhir di Kabupaten Kotawaringin Timur, hujan justru seperti tamu yang lupa alamat. Yang datang lebih dulu adalah api.

    Senin siang (2/3/2026), di Jalan Bukit Permai, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, kobaran kecil dari aktivitas pembakaran sampah hampir berubah menjadi bencana. Lahan kering di sekitar permukiman menjadi karpet empuk bagi api untuk merambat. Rumah-rumah warga berdiri terlalu dekat dengan kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.

    Sekitar pukul 12.15 WIB, seorang warga bernama Rio melapor ke markas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotim. Dua menit kemudian, armada bergerak. Sepuluh menit setelah itu, petugas sudah berjibaku mencegah api menjalar ke dinding-dinding rumah warga.

    Pemadaman berlangsung hampir satu jam. Lahan seluas sekitar 50 x 30 meter berhasil dilokalisasi. Tidak ada korban jiwa. Tidak ada kerugian materiil. Tapi seperti banyak kejadian serupa, api padam tanpa pernah benar-benar menyentuh akar masalah.

    Sehari sebelumnya, Minggu (1/3/2026), api yang lebih ganas menyala di Samuda Kota, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Kali ini bukan sekadar lahan kosong, melainkan gambut tanah yang menyimpan api lebih lama daripada ingatan kita tentang bahayanya.

    Di lahan milik seorang warga bernama Abdu, sedikitnya 65 titik api terdeteksi. Sekitar empat hektare hangus. Permukiman warga hanya berjarak sekitar 50 meter. Terlalu dekat untuk merasa aman, terlalu sering untuk disebut kebetulan.

    Petugas Pos Sektor Samuda bersama polisi, relawan api, dan unsur ketenteraman kecamatan berusaha menahan laju api agar tidak merambat ke rumah warga. Pendinginan masih terus dilakukan, karena pada lahan gambut, api kerap tidak mati ia hanya bersembunyi.

    Asap juga sempat menyelimuti Kelurahan Baamang Barat. Aktivitas warga terganggu. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan. Namun kepulan asap kembali dianggap bagian dari rutinitas musiman, bukan peringatan dini yang seharusnya memicu perubahan.

    BMKG Kotim menyebut cuaca panas belakangan ini dipengaruhi gangguan cuaca regional, meski wilayah ini masih berada dalam periode musim hujan. Penjelasan itu sahih secara ilmiah, namun tak cukup menjawab mengapa kebakaran selalu datang lebih siap dibanding sistem pencegahannya.

    Imbauan kembali diulang: jangan membakar sampah, jangan membuka lahan dengan api, waspadai cuaca panas. Kalimat yang sama, diulang dari tahun ke tahun, seolah api bisa dipadamkan hanya dengan kata-kata.

    Cuaca kering memang menyusup di musim hujan. Tapi yang benar-benar membuat kebakaran lahan mulai menggila bukan semata langit yang pelit hujan melainkan kebiasaan yang dibiarkan, pengawasan yang longgar, dan ingatan kolektif yang selalu cepat memudar begitu api padam.

    Dan seperti biasa, kita baru benar-benar cemas ketika asap sudah sampai di halaman rumah. Dan semua aktivitas terdampak hingga nyaris lumpuh. (***)

  • Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi berakhir. Setelah diberlakukan selama 30 hari sejak 23 Januari 2026, pemerintah daerah memutuskan untuk tidak memperpanjang status tersebut. Namun, berakhirnya status siaga bukan berarti ancaman karhutla benar-benar sirna.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menegaskan, kewaspadaan tetap menjadi kunci di tengah kondisi cuaca yang masih sulit diprediksi. Meski wilayah Kotim saat ini berada dalam musim hujan, kejadian karhutla masih ditemukan di sejumlah titik.

    “Kalau melihat informasi BMKG, Februari sampai Maret masih musim hujan. Tapi cuacanya berubah-ubah. Sempat panas dua hari saja, langsung terjadi karhutla di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 19 sampai 20, luasnya sekitar 0,3 hektare,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Rabu (11/2/2026).

    Status siaga darurat karhutla sebelumnya ditetapkan Pemkab Kotim menyusul lonjakan titik panas yang tidak lazim pada Januari lalu. Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang dipimpin Wakil Bupati Kotim, Irawati, di Aula BPBD Kotim.

    Saat itu, kondisi cuaca di Kotim menjadi perhatian serius. Ketika sejumlah daerah di Indonesia dilanda hujan lebat hingga banjir, sebagian wilayah Kotim justru mengalami cuaca panas dan kering.

    “Cuaca sekarang sulit diprediksi. Di daerah lain banjir, tapi di Kotim justru panas dan rawan karhutla. Karena itu kita sepakati status siaga darurat diaktifkan,” kata Irawati dalam rapat tersebut.

    BPBD Kotim mencatat, sepanjang Januari 2026 terjadi 61 hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan periode Januari pada tahun-tahun sebelumnya. Pada Januari 2023 tercatat 14 hotspot, Januari 2024 sebanyak 18, dan Januari 2025 hanya empat hotspot.

    Lonjakan tersebut dinilai berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut di Kotim. Penurunan muka air tanah hingga minus 35 sampai 60 sentimeter membuat lahan sangat mudah terbakar ketika tersulut api. Sejumlah wilayah rawan berada di Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kota Besi, dan Cempaga.

    Memasuki Februari, intensitas hujan yang meningkat menjadi salah satu pertimbangan utama tidak diperpanjangnya status siaga darurat karhutla yang berakhir pada 21 Februari 2026. Meski demikian, BPBD menegaskan pemantauan tetap dilakukan.

    “Status siaga kita hentikan dulu, tapi bukan berarti kita lengah. Kami tetap melihat perkembangan cuaca ke depan,” jelas Multazam.

    Selain ancaman karhutla, Kotim juga dihadapkan pada potensi bencana lain seperti banjir, angin kencang, dan petir. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

    Multazam menambahkan, musim kemarau di Kotim umumnya mulai terjadi pada Juli. Jika disertai suhu panas tinggi, risiko karhutla berpotensi kembali meningkat, terutama akibat aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.

    “Kalau kemarau dengan panas tinggi, dampaknya bisa fatal. Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.

    Berakhirnya status siaga mungkin menandai meredanya ancaman sementara. Namun bagi Kotim, kewaspadaan tetap menjadi pelindung utama, karena karhutla bisa kembali muncul kapan saja, bahkan di tengah musim hujan. (***)