Tag: Kebakaran Lahan Kotim

  • Ketiadaan Air Permukaan Paksa Petugas Lakukan Pemadaman Estafet Guna Bendung Api Dua Hektare

    Ketiadaan Air Permukaan Paksa Petugas Lakukan Pemadaman Estafet Guna Bendung Api Dua Hektare

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Cekaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperlihatkan kondisi kritis prabencana yang mengkhawatirkan.

    Di tengah nihilnya potensi hujan, amukan api kembali pecah dan menghanguskan lahan kosong berselimut semak belukar seluas dua hektare di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, pada Senin (13/7/2026).

    Insiden ini memaksa tim gabungan melancarkan strategi pemadaman yang menguras energi akibat hilangnya sumber air di sekitar lokasi tapak.

    Kendala Hidrologi Lapangan dan Taktik Suplai Air Estafet

    Sirkuit kedaruratan karhutla ini pertama kali terdeteksi sekitar pukul 10.07 WIB setelah seorang warga bernama Sarah melemparkan laporan taktis ke pos jaga.

    Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim langsung menerjunkan personel darat ke lokasi karena posisi kepala api berada sangat dekat dan mengancam perimeter permukiman warga.

    Komandan Regu Jaga Disdamkarmat Kotim, Supriansyah, menjelaskan bahwa setelah melakukan penilaian situasi (size up), petugas langsung bertindak cepat melokalisir kobaran api.

    Dalam durasi 39 menit, api berhasil dijinakkan pada pukul 11.17 WIB, dilanjutkan dengan proses pendinginan total hingga operasi dinyatakan selesai pada pukul 11.37 WIB tanpa adanya korban jiwa maupun luka. Laporan awal mengindikasikan adanya unsur kesengajaan (arson).

    Namun, ancaman tidak berhenti di sana. Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa tim gabungan harus bekerja ekstra keras memblokir perluasan sisa bara api akibat kendala hidrologi yang akut di lapangan.

    “Saat ini empat unit water tank sedang berupaya memblokir perluasan kebakaran. Air permukaan di lokasi tidak tersedia sehingga pasokan air dilakukan secara estafet menggunakan mobil tangki. Kami juga membuka dua jalur fighter menuju garis depan dengan dukungan lima selang sepanjang sekitar 150 meter dari unit water tank. Perhitungan sementara luas lahan yang terbakar sekitar dua hektare,” papar Multazam secara rigid.

    Cekaman Kekeringan Ekstrem dan Peta Merah Satelit BMKG

    Kondisi penanganan darurat di lapangan kian dipersulit oleh manifes cuaca ekstrem yang dirilis oleh BMKG. Berdasarkan pembaruan data satelit NOAA-20 and TERRA per pukul 07.00 WIB, terdapat tujuh titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan level 8 hingga 9 yang mengepung tiga kecamatan strategis di Kotim;  Kecamatan Kota Besi: Merekam akumulasi terbanyak dengan 3 titik panas yang mendominasi Desa Soren, Kelurahan Kota Besi Hulu, and Desa Pamalian.

    Kecamatan Parenggean: Mendeteksi 2 titik panas di Desa Tehang, di mana salah satunya mengunci status high confidence (level 9). Kecamatan Telawang: Memetakan sebaran 2 titik panas di koridor Desa Tanah Putih.

    Lebih mengkhawatirkan lagi, model prakiraan cuaca numerik BMKG menegaskan bahwa wilayah Kotim diproyeksikan absen dari guyuran hujan setidaknya hingga Selasa (14/7/2026) pagi. Hal ini menempatkan mayoritas wilayah Kotim dalam peta merah kategori “sangat mudah terbakar”, di mana peluang pembasahan lahan secara alami berada di angka nol.

    Fakta bahwa petugas BPBD and Damkar harus pontang-panting melakukan pemadaman secara estafet menggunakan mobil tangki di Jalan Tjilik Riwut Km 9 menelanjangi bobroknya mitigasi infrastruktur hidrologi prabencana yang dikelola Pemkab Kotim. Sektor Baamang Hulu, khususnya koridor Km 9, merupakan zona langganan karhutla yang terus berulang setiap tahun.

    Sangat tidak masuk akal jika hingga pertengahan tahun 2026 ini, pemerintah daerah dan dinas terkait belum juga membangun sumur bor statis, embung buatan, atau tandon air darurat di perimeter rawan tersebut.

    Kanal Independen memberikan catatan investigatif yang sangat tajam. Mengandalkan pasokan air estafet dari mobil tangki yang harus bolak-balik mengambil air di tempat jauh adalah pola penanganan yang tidak efisien, membuang waktu krusial, and menguras anggaran logistik.

    Jika penanganan di jalur protokol utama saja sudah kedodoran air permukaan, bisa dibayangkan betapa mengerikannya nasib pemadaman di wilayah pedalaman yang jauh dari akses mobil tangki.

    Di sisi lain, munculnya indikasi kuat unsur kesengajaan (arson) di tepi jalan utama membuktikan bahwa para pelaku kejahatan lingkungan sama sekali tidak memiliki rasa takut terhadap sanksi hukum.

    Mereka dengan sengaja memanfaatkan celah cuaca kering and lumpuhnya infrastruktur air untuk melakukan pembersihan lahan secara murah and ilegal.

    Polres Kotim tidak boleh tinggal diam: lakukan audit kepemilikan lahan kosong yang terbakar di Km 9, buru aktor intelektual di balik aksi sabotase api ini, and seret mereka ke pengadilan!

    Jika tata kelola lingkungan and penegakan hukum di Kotim tetap berjalan lemas and amatiran, maka sisa musim kemarau 2026 ini akan menjadi neraka asap yang siap mengurung seluruh warga Sampit tanpa ampun. (***)

  • Kebakaran Lahan Terjadi Lagi di Sampit

    Kebakaran Lahan Terjadi Lagi di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran lahan kosong yang dipenuhi semak belukar terjadi di Jalan Metro TV, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Minggu pagi (15/3/2026).

    Peristiwa tersebut pertama kali dilaporkan oleh seorang warga bernama Eva melalui panggilan darurat ke Markas Komando Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotawaringin Timur sekitar pukul 08.06 WIB.

    Mendapat laporan tersebut, petugas dari Peleton III Damkar Kotim langsung bergerak menuju lokasi kejadian pada pukul 08.11 WIB dengan mengerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran.

    Setelah menempuh jarak sekitar empat kilometer, petugas tiba di lokasi kejadian pada pukul 08.21 WIB. Tim kemudian melakukan penilaian situasi awal sebelum memulai proses pemadaman.

    Kepala Regu Personel Lapangan Disdamkarmat Kotim Sukmana Saleh bersama sejumlah personel lainnya segera melakukan penyiraman untuk mencegah api merambat ke area sekitar yang dipenuhi semak belukar.
    Dalam penanganan kebakaran tersebut, petugas juga mendapat bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

    Upaya pemadaman berjalan cukup cepat. Api berhasil dilokalisir sekitar pukul 08.54 WIB dan dilanjutkan dengan proses pendinginan guna memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
    Setelah dilakukan pemeriksaan di sekitar lokasi, operasi pemadaman dinyatakan selesai pada pukul 08.58 WIB dan seluruh personel kembali ke Markas Komando Damkar Kotim sekitar pukul 09.14 WIB.

    Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun berdasarkan laporan petugas, kebakaran lahan kosong tersebut diduga disebabkan oleh unsur kesengajaan atau arson.

    Cuaca cerah saat kejadian turut membantu proses pemadaman sehingga api tidak sempat meluas ke area lain.

    Usai penanganan kebakaran tersebut, petugas kembali bersiaga di markas untuk melanjutkan tugas pelayanan kebencanaan lainnya. (***)

  • Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi berakhir. Setelah diberlakukan selama 30 hari sejak 23 Januari 2026, pemerintah daerah memutuskan untuk tidak memperpanjang status tersebut. Namun, berakhirnya status siaga bukan berarti ancaman karhutla benar-benar sirna.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menegaskan, kewaspadaan tetap menjadi kunci di tengah kondisi cuaca yang masih sulit diprediksi. Meski wilayah Kotim saat ini berada dalam musim hujan, kejadian karhutla masih ditemukan di sejumlah titik.

    “Kalau melihat informasi BMKG, Februari sampai Maret masih musim hujan. Tapi cuacanya berubah-ubah. Sempat panas dua hari saja, langsung terjadi karhutla di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 19 sampai 20, luasnya sekitar 0,3 hektare,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Rabu (11/2/2026).

    Status siaga darurat karhutla sebelumnya ditetapkan Pemkab Kotim menyusul lonjakan titik panas yang tidak lazim pada Januari lalu. Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang dipimpin Wakil Bupati Kotim, Irawati, di Aula BPBD Kotim.

    Saat itu, kondisi cuaca di Kotim menjadi perhatian serius. Ketika sejumlah daerah di Indonesia dilanda hujan lebat hingga banjir, sebagian wilayah Kotim justru mengalami cuaca panas dan kering.

    “Cuaca sekarang sulit diprediksi. Di daerah lain banjir, tapi di Kotim justru panas dan rawan karhutla. Karena itu kita sepakati status siaga darurat diaktifkan,” kata Irawati dalam rapat tersebut.

    BPBD Kotim mencatat, sepanjang Januari 2026 terjadi 61 hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan periode Januari pada tahun-tahun sebelumnya. Pada Januari 2023 tercatat 14 hotspot, Januari 2024 sebanyak 18, dan Januari 2025 hanya empat hotspot.

    Lonjakan tersebut dinilai berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut di Kotim. Penurunan muka air tanah hingga minus 35 sampai 60 sentimeter membuat lahan sangat mudah terbakar ketika tersulut api. Sejumlah wilayah rawan berada di Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kota Besi, dan Cempaga.

    Memasuki Februari, intensitas hujan yang meningkat menjadi salah satu pertimbangan utama tidak diperpanjangnya status siaga darurat karhutla yang berakhir pada 21 Februari 2026. Meski demikian, BPBD menegaskan pemantauan tetap dilakukan.

    “Status siaga kita hentikan dulu, tapi bukan berarti kita lengah. Kami tetap melihat perkembangan cuaca ke depan,” jelas Multazam.

    Selain ancaman karhutla, Kotim juga dihadapkan pada potensi bencana lain seperti banjir, angin kencang, dan petir. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

    Multazam menambahkan, musim kemarau di Kotim umumnya mulai terjadi pada Juli. Jika disertai suhu panas tinggi, risiko karhutla berpotensi kembali meningkat, terutama akibat aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.

    “Kalau kemarau dengan panas tinggi, dampaknya bisa fatal. Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.

    Berakhirnya status siaga mungkin menandai meredanya ancaman sementara. Namun bagi Kotim, kewaspadaan tetap menjadi pelindung utama, karena karhutla bisa kembali muncul kapan saja, bahkan di tengah musim hujan. (***)