SAMPIT, Kanalindependen.id – Ketika sebagian besar warga Kota Sampit masih terlelap tidur, bencana kebakaran lahan kembali mengintai pemukiman. Dua peristiwa kebakaran lahan secara simultan melanda dua lokasi berbeda di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Senin (19/10/2026) dini hari. Amukan api menyasar lahan semak belukar di Jalan Saudara, Kelurahan Sawahan, serta Jalan Pramuka, Kelurahan Mentawa Baru Hulu.
Kejadian yang berlangsung dalam tenggat waktu kurang dari satu jam ini membakar sedikitnya 1,5 hektare lahan di Jalan Pramuka dan menambah tebal gumpalan kabut asap beracun yang melumpuhkan jarak pandang kota hingga sisa 100 meter pada pagi harinya.
Laporan pertama diterima oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim pada pukul 03.38 WIB untuk lokasi Jalan Saudara. Belum selesai penanganan di lokasi pertama, laporan kedua masuk pada pukul 04.10 WIB dari kawasan Jalan Pramuka.
Kasi Humas Disdamkarmat Kotim, Heri Wahyudi, mengonfirmasi pergerakan cepat personelnya di tengah kegelapan malam.
“Kami menerima informasi kebakaran di Jalan Pramuka pada pukul 04.10 WIB. Tim berangkat dua menit kemudian dan tiba di lokasi pada pukul 04.16 WIB. Operasi pemadaman dimulai pukul 04.17 WIB,” ungkap Heri Wahyudi, Senin (19/10/2026).
Penanganan Maraton Sebelum Fajar dan Dugaan Pembakaran Sengaja
Di lokasi Jalan Saudara, lima personel Regu II yang dipimpin Purwondo tiba menggunakan mobil tangki pemadam 13 pada pukul 04.04 WIB dan berhasil mengisolasi api pada pukul 04.40 WIB. Operasi pendinginan berakhir penuh pukul 04.46 WIB.
Sementara di Jalan Pramuka, pengerahan gabungan Peleton I, Regu II, dan Regu III bekerja maraton memadamkan hamparan api 1,5 hektare hingga pukul 05.47 WIB. Seluruh proses pemeriksaan lokasi dinyatakan rampung pada pukul 05.53 WIB.
Paling mendasar, laporan sementara Disdamkarmat Kotim mencatat adanya dugaan pembakaran yang disengaja (arson) pada lokasi kebakaran di Jalan Saudara. Temuan ini memicu kecurigaan publik mengenai maraknya aktivitas pembukaan lahan (land clearing) secara ilegal pada jam-jam rawan untuk menghindari pantauan petugas.
Terjadinya kebakaran lahan berturut-turut menjelang subuh saat jarak pandang kota memburuk hingga 100 meter merupakan pola klasik kejahatan lingkungan yang disengaja. Membiarkan oknum-oknum pembakar lahan bergerak bebas di jam-jam lengang adalah ancaman nyata bagi keselamatan jutaan jiwa warga Sampit.
Satreskrim Polres Kotim didesak untuk tidak menganggap kebakaran dini hari ini sebagai musibah biasa. Pemasangan garis polisi (police line) serta pengumpulan barang bukti di Jalan Saudara wajib dilakukan untuk memburu pelaku pembakaran.
Pemkab Kotim dan Satgas Karhutla dituntut membentuk tim patroli malam (night patrol) yang menyisir kawasan pemukiman pinggiran seperti Sawahan, Baamang, dan Mentawa Baru Hulu guna menggagalkan upaya pembakaran lahan sejak dini. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Jejak keberadaan orangutan ditemukan di tengah kawasan yang masih dilanda kebakaran lahan di Desa Kotabesi Hulu, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). BKSDA Resort Sampit menemukan enam sarang orangutan saat menyisir kebun karet warga, Minggu (4/10/2026).
Enam sarang tersebut terdiri atas dua sarang kelas A dan empat sarang kelas D. Temuan ini didapat saat petugas menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan satu individu orangutan yang diduga berjenis kelamin jantan.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, laporan awal diterima dari warga bernama Adut pada Sabtu (3/10). Warga melaporkan melihat orangutan di kebun karet milik masyarakat.
Petugas Resort Sampit kemudian melakukan observasi bersama rekan-rekan dari Kumai, yakni Haru, Yogi dan lainnya, serta seorang wartawan televisi. Pemantauan berlangsung sekitar pukul 15.00 hingga 17.30 WIB.
Di lokasi, tim bertemu dengan pemilik lahan bernama Wahyu. Berdasarkan keterangannya, orangutan memang terlihat di kawasan tersebut pada Sabtu sore.
Petugas selanjutnya menyisir area kebun untuk mencari keberadaan satwa. Namun, individu orangutan yang dilaporkan warga belum ditemukan.
Api Masih Berlangsung
Di tengah pencarian, petugas menemukan kondisi lain yang tidak kalah mengkhawatirkan. Kawasan di sekitar kebun karet tersebut telah mengalami kebakaran lahan dan hingga saat observasi dilakukan, kebakaran masih berlangsung.
Enam sarang orangutan yang ditemukan menjadi bukti adanya aktivitas satwa tersebut di kawasan itu. Dua di antaranya merupakan sarang kelas A, sedangkan empat lainnya masuk kelas D.
Meski demikian, BKSDA belum dapat memastikan apakah orangutan yang dilaporkan warga masih berada di sekitar lokasi atau telah berpindah ke kawasan lain.
Muriansyah mengatakan, petugas juga memberikan pengarahan kepada pemilik lahan mengenai perilaku orangutan. Warga diminta tidak mengambil tindakan sendiri apabila satwa kembali muncul.
“Petugas memberikan pengarahan terkait perilaku satwa orangutan dan meminta warga agar segera memberikan laporan apabila orangutan muncul kembali,” kata Muriansyah dalam laporannya.
BKSDA akan terus memantau informasi dari warga terkait kemunculan orangutan tersebut. Terlebih, kawasan yang menjadi lokasi temuan masih berhadapan dengan ancaman kebakaran lahan.
Temuan enam sarang di kawasan yang terbakar menjadi pengingat bahwa keberadaan satwa liar perlu diperhatikan di tengah meluasnya aktivitas kebakaran lahan di Kotim.(***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mendesak ruang jelajah satwa langka yang dilindungi.
Di tengah kepulan asap dan bara api yang belum padam di kawasan kebun warga Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, tim BKSDA menemukan jejak aktivitas orangutan yang terisolasi di lingkaran kebakaran, Rabu (30/9/2026).
Menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan primata raksasa tersebut, personel BKSDA Pos Sampit menerjunkan tim untuk melakukan observasi dan penyisiran lapangan mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengungkapkan bahwa saat tim tiba di lokasi sasaran, hamparan kebun warga telah hangus terbakar dan beberapa titik api tampak masih aktif membara.
“Sekitaran lokasi telah terjadi kebakaran lahan dan saat ini masih terjadi kebakaran. Meski satwa tidak ditemukan saat observasi berlangsung, tim menemukan dua sarang orangutan masing-masing kategori kelas 2 dan kelas 4 di atas pohon kawasan kebun,” terang Muriansyah, Rabu (30/9/2026).
Sarang di Tengah Kebun Karet-Sawit dan Edukasi Penanganan Satwa bagi Warga
Temuan dua sarang orangutan (sarang bekas dan sarang baru) tersebut menjadi bukti sah bahwa kawasan kebun warga Kota Besi Hulu yang didominasi tanaman karet, kelapa sawit, semak belukar, serta pepohonan buah—merupakan koridor jelajah aktif bagi orangutan.
Lokasi tersebut juga tergolong sangat dekat dengan akses manusia karena terhubung langsung dengan jalan aspal menuju Desa Kandan.
Saat penyisiran, petugas bertemu dengan penyadap karet setempat yang membenarkan bahwa individu orangutan tersebut memang kerap menampakkan diri sebelum kobaran api karhutla mengepung area tersebut.
Merespons potensi konflik dan bahaya kebakaran, Muriansyah memberikan arahan langsung kepada warga mengenai mitigasi perilaku satwa liar. Warga diimbau tegas tidak mengganggu, mengusir secara anarkis, atau melukai orangutan yang terdesak keluar dari hutan akibat karhutla.
“Segera lapor kamijika satwa tersebut kembali muncul agar proses evakuasi (rescue/translocation) dapat segera dilakuka,” imbuhnya.
Temuan sarang orangutan di tengah amukan api Kota Besi Hulu mempertegas ancaman nyata genosida satwa secara perlahan akibat karhutla. Ketika hutan penyangga hancur dan kebun warga di sekitarnya ikut terbakar, orangutan terperangkap dalam lingkaran api (fire trap), memicu risiko kematian akibat terpanggang, ISPA parah, atau konflik fatal dengan manusia.
BKSDA Resort Sampit bersama masyarakat dan stakeholder terkait didesak meningkatkan frekuensi pemantauan di jalur Kandan–Kota Besi Hulu guna mengunci pergerakan api agar tidak membumihanguskan pohon-pohon pakan tersisa.
Sementara itu, BKSDA Kalteng diminta bersiap mengerahkan regu pembiusan dan evakuasi jika orangutan tersebut kembali ke lokasi sarang, mengingat struktur tanah gambut di Kota Besi masih menyimpan underground fire yang sangat membahayakan keselamatan satwa. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Peta titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan sebaran yang luas. Dalam 24 jam terakhir hingga Selasa (29/9/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi 218 titik panas di berbagai wilayah.
Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim menunjukkan Kecamatan Seranau dan Mentaya Hilir Utara menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi.
“Keduanya mencatat total 123 titik panas atau lebih dari separuh keseluruhan hotspot yang terdeteksi di Kotim,” ungkpa Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo.
Seranau menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 78 titik. Sebarannya berada di Kelurahan Mentaya Seberang sebanyak 44 titik dan Desa Ganepo 34 titik.
Mentaya Seberang berada tepat di seberang pusat Kota Sampit. Kondisi tersebut membuat perkembangan titik panas di wilayah tersebut perlu mendapat perhatian, terutama jika kebakaran berkembang dan asap bergerak ke arah permukiman.
Sementara Mentaya Hilir Utara mencatat 45 titik panas. Sebanyak 35 titik berada di Desa Bagendang Tengah, sembilan titik di Bagendang Hilir, dan satu titik di Bagendang Permai.
Seluruh hotspot tersebut terdeteksi melalui sensor satelit NOAA-20 dan S-NPP dengan tingkat kepercayaan sedang, yakni 30–79 persen.
Hotspot Menyebar ke Sejumlah Wilayah
Sebaran titik panas tidak hanya terkonsentrasi di dua kecamatan tersebut. Kota Besi mencatat 28 titik yang tersebar di Kelurahan Kota Besi Hulu, Kandan, Simpur, dan Soren.
Di kawasan muara, Pulau Hanaut terdeteksi 25 titik. Sebarannya antara lain berada di Desa Satiruk dan Hanaut, serta Serambut, Bapinang Hilir, dan Babaung.
Sementara itu, Mentawa Baru Ketapang mencatat 11 titik yang berada di Bangkuang Makmur dan Bapeang.
Kecamatan Baamang juga masih memiliki titik panas dengan total sembilan titik. Sebarannya berada di Baamang Hulu, Baamang Barat, dan Tanah Mas.
Di wilayah selatan, Teluk Sampit terdeteksi tujuh titik panas yang berada di Lampuyang dan Ujung Pandaran.
“Sebaran juga muncul di wilayah pedalaman. Antang Kalang mencatat enam titik, Bukit Santuai empat titik, Telawang tiga titik, serta Mentaya Hulu dan Tualan Hulu masing-masing satu titik,” tambahnya.
Dengan sebaran yang mencakup wilayah pesisir, perkotaan hingga pedalaman, kondisi ini menjadi perhatian bagi tim penanganan karhutla. Titik panas yang terdeteksi satelit tetap memerlukan pengecekan lapangan untuk memastikan apakah merupakan kebakaran aktual dan menentukan kebutuhan penanganannya. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran lahan di kawasan Jalan Tjilik Riwut, Tanah Mas, Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum juga padam. Api yang disebut warga muncul sejak Senin (21/9/2026) masih berkobar hingga Sabtu (26/9/2026).
Kobaran api dan asap pekat kini mengadang kawasanTrans Kalimantan. Kepulan asap bahkan menyelimuti ruas jalan sehingga jarak pandang pengendara terganggu.
Pantauan di lokasi, pengendara yang melintas harus mengurangi kecepatan. Asap tebal membuat pandangan ke arah depan terbatas dan kondisi tersebut menuntut kewaspadaan ekstra.
Di sejumlah bagian lahan, kobaran api masih terlihat. Api merambat melalui vegetasi yang kering sehingga sejumlah titik sulit dikendalikan.
Warga sekitar mengatakan kebakaran sudah berlangsung beberapa hari. Api tidak hanya muncul pada Sabtu, tetapi telah terlihat sejak awal pekan.
“Kalau tidak salah, api mulai menyala sejak Senin (21/9/2026). Sampai sekarang masih ada bagian yang terbakar,” kata Mustofa.
Lamanya kebakaran membuat asap terus menumpuk di sekitar kawasan jalan. Ketika asap menebal, pandangan pengendara menjadi semakin terbatas.
Petugas gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman. Penanganan dilakukan dari sejumlah titik untuk menghentikan penjalaran api dan mencegah kobaran meluas.
Namun, kondisi lahan yang kering serta vegetasi yang mudah terbakar membuat api cepat merambat. Petugas juga harus memastikan titik yang sudah dipadamkan tidak kembali menyala.
Persoalan lain muncul ketika asap masuk ke badan jalan. Kondisi ini dapat mengganggu pengguna jalan, terutama ketika kepulan asap tiba-tiba menebal.
Pengendara yang melintas di kawasan itu diminta tidak memacu kendaraan. Kecepatan perlu disesuaikan dengan kondisi jarak pandang agar risiko kecelakaan dapat ditekan.
Kebakaran yang bertahan berhari-hari ini kembali memperlihatkan sulitnya penanganan karhutla di tengah kondisi lahan yang masih kering.
Hingga berita ini ditulis, petugas gabungan masih melakukan pemadaman dan pemantauan di lokasi. Sejumlah titik yang belum sepenuhnya padam terus ditangani agar api tidak kembali membesar dan menjalar ke kawasan sekitar.
Api belum benar-benar padam. Asap pun masih mengepung jalur yang menjadi akses pergerakan warga di kawasan Tanah Mas. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Tindakan nekat membersihkan lahan dengan cara dibakar di tengah cuaca kemarau ekstrem berakhir di balik jeruji besi. Seorang buruh tani berinisial EP (37) resmi ditetapkan sebagai tersangka dan diamankan aparat Satreskrim Polres Kotawaringin Timur (Kotim) usai kedapatan membakar lahan miliknya di Jalan Muhammad Hatta, Gang Rambutan, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang).
Aksi pembakaran lahan yang dilakukan EP berujung fatal. Pada Jumat (31/7/2026), pembakaran awal yang dilakukannya menyebabkan kobaran api menjalar tak terkendali hingga melumat sekitar lima hektare lahan gambut, bahkan merambat hingga ke pekarangan rumah warga sekitar.
Tak jera dengan dampak kebakaran hari sebelumnya, EP kembali nekat membakar tumpukan ranting sisa pembersihan lahan pada Sabtu pagi (1/8/2026) sekitar pukul 10.30 WIB. Laporan warga yang resah dengan kepulan asap langsung direspons cepat oleh Personel Piket Satgas Karhutla Polres Kotim yang mendatangi lokasi dan menangkap basah tersangka di tempat kejadian perkara (TKP).
Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Plt Kasi Humas Polres Kotim IPTU Edi Waluyo mengonfirmasi penindakan hukum tegas terhadap pelaku karhutla tersebut.
“Petugas menerima laporan masyarakat dan langsung menuju lokasi. Saat tiba, EP didapati sedang membakar tumpukan ranting hasil pembersihan lahan menggunakan korek api. Pembakaran yang dilakukan sebelumnya mengakibatkan api menjalar dan membakar lahan kurang lebih lima hektare, bahkan sampai ke pekarangan rumah saksi. Atas kejadian tersebut, yang bersangkutan diamankan dan diproses sesuai ketentuan hukum,” tegas IPTU Edi Waluyo.
Dari lokasi kejadian, penyidik menyita barang bukti berupa satu buah pemantik api (korek), satu buah cangkul, satu bilah parang, serta satu bungkus abu sisa pembakaran lahan. EP kini resmi dijerat dengan Pasal 308 ayat (1) atau Pasal 311 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. Berkas perkara tersangka kini telah dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kotim untuk memasuki tahap penuntutan.
Penindakan hukum terhadap tersangka EP di Mentawa Baru Hilir menelanjangi masih maraknya praktik pembersihan lahan berbiaya murah (land clearing) dengan cara membakar di tingkat petani lokal. Kebiasaan destruktif ini menjadi pemicu utama munculnya ratusan titik panas (hotspot) yang berujung pada krisis kabut asap beracun di wilayah Sampit.
Kepolisian dan Kejaksaan Negeri Kotim wajib mengawal kasus EP hingga vonis pengadilan untuk memberikan sinyal tegas bahwa pembakaran lahan sekecil apa pun memiliki konsekuensi pidana berat hingga 9 tahun penjara. Di sisi lain, Pemkab Kotim melalui Dinas Pertanian wajib hadir memberikan bantuan sarana penyiapan lahan tanpa bakar (PLTB) seperti alat pencacah rumput (chipper) agar petani kecil tidak lagi beralih ke cara instan membakar lahan di musim kering. (***)
KanalIndependen.id — Sampit. Bayang-bayang krisis udara bersih terus mengintai Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Berdasarkan data rekapitulasi satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dirilis BPBD Kotim pada Sabtu (29/8/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi sebanyak 1.249 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan hanya dalam waktu 24 jam terakhir.
“Angka ini menjadi sinyal merah atas meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan serta ancaman penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),” ungkap Kepala BMKG Stasiun Meterorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo
Dari total 1.249 titik panas tersebut, BMKG mencatat tingkat kepercayaan menengah (30-79 persen ) mendominasi dengan 1.141 titik, sementara 76 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi (80 persen) yang menandakan potensi kejadian kebakaran sangat krusial di lapangan.
Sebagian besar akumulasi titik panas terkonsentrasi di wilayah selatan dan kawasan koridor gambut.
Secara rinci, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan mencatatkan angka tertinggi dengan 280 titik (termasuk 38 titik tingkat tinggi), disusul oleh Mentawa Baru Ketapang dengan 251 titik (8 titik tinggi), Mentaya Hilir Utara sebanyak 202 titik (10 titik tinggi), Telawang dengan 144 titik (7 titik tinggi), serta Baamang sebanyak 94 titik (2 titik tinggi). Kawasan seperti Bangkuang Makmur di Mentawa Baru Ketapang serta Bagendang Tengah di Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah yang paling padat sebarannya.
Tingginya konsentrasi titik panas ini meningkatkan kekhawatiran warga akan kembalinya kabut asap pekat. Partikel halus hasil pembakaran gambut berisiko tinggi memicu lonjakan kasus ISPA, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Langkah mitigasi cepat berupa patroli terpadu serta pembasahan di area high confidence sangat mendesak untuk dilakukan guna mencegah perluasan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memakan korban jiwa dari garda terdepan pemadaman. Muhammad Dimas, seorang relawan tangguh dari Masyarakat Peduli Api (MPA) Teluk Dalam, terpaksa ditarik mundur dan dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas akut dan kelelahan hebat pada Kamis (20/8/2026).
Insiden tumbangnya Dimas terjadi saat ia bersama tim gabungan berjibaku memadamkan kobaran api yang mengepung kawasan Perumahan Grand Pelita, Jalan Pelita Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Dimas menjadi relawan kedua yang dilarikan ke rumah sakit dalam dua hari terakhir, menyusul insiden serupa yang menimpa Rizky Mubarrak dari Redkar Masjid Jami Assalam pada Rabu lalu.
Ketua Relawan Ketapi 3, Muhammad Mahdani, mengonfirmasi bahwa padatnya jadwal pemadaman lintas titik serta kepekatan asap di lokasi kejadian menjadi pemicu utama kolapsnya para relawan. Sebelum bertarung di Grand Pelita, tim relawan telah menguras tenaga di Jalan Pelita dan Perumahan Panca Setia.
“Artinya mungkin karena kelelahan satu. Yang kedua, memang di tempat kejadian itu api membesar dan asap pekat. Akibat itu lalu sesak napas. Walau kadang kita pakai masker, tetap saja membuat sesak. Begitu melihat kondisi Dimas menurun, rekan-rekan langsung menghentikan aktivitasnya dan membawanya menjauh. Sekarang kondisinya sudah mulai stabil,” ungkap Muhammad Mahdani, Kamis (20/8/2026).
Di tengah ancaman kesehatan yang terus mengintai, pertempuran pemadaman di lapangan makin membentur tembok tebal akibat krisis air baku. Parit-parit di sekitar lokasi kebakaran dilaporkan telah kering kerontang, sementara sumur warga tak lagi menyimpan cadangan air akibat kemarau panjang.
Operasi pemadaman swadaya yang digerakkan gabungan Redkar Ketapi 3, Redkar Masjid Jami Assalam, MPA Teluk Dalam, dan staf kelurahan terhambat oleh keterbatasan kapasitas armada angkut. Mobil pikap tandon yang diandalkan relawan hanya mampu memuat 1.100 liter air, jumlah yang langsung ludes dalam hitungan menit saat berhadapan dengan luasnya hamparan gambut yang membara. Kondisi ini memaksa relawan bolak-balik meninggalkan garis depan hanya untuk mencari sumber air pengisian ulang.
Mahdani menegaskan bahwa eskalasi karhutla Kotim sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak bisa hanya dibebankan pada pundak pemerintah, BPBD, atau Damkarmat yang personelnya sudah kewalahan di berbagai zona. Ia mendesak kesadaran penuh masyarakat untuk menghentikan total aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan secara sembarangan di tengah musim kering ekstrem ini.
Tumbangnya dua relawan secara beruntun di Mentawa Baru Ketapang adalah bukti nyata bahwa garda terdepan pemadaman bekerja di bawah ancaman bahaya ekstrem tanpa ditopang alat pelindung diri (APD) yang memadai. Bertarung melawan asap pekat gambut hanya berbekal masker kain atau masker medis biasa serta armada tandon kecil 1.100 liter menelanjangi rapuhnya sistem jaminan keselamatan bagi relawan swakarsa.
Satgas Karhutla Kotim dan Dinas Kesehatan harus segera menyalurkan bantuan respirator standar N95/KN95, kacamata pelindung, serta tabung oksigen portable untuk setiap posko relawan swadaya. Di sisi lain, BPBD Kotim bersama Dinas PUPR wajib memfasilitasi titik pangkalan pasokan air baku (water filling point) terdekat dari koridor Pelita Barat agar armada tandon relawan tidak membuang waktu dan bahan bakar hanya untuk mengantre air.
Selamatkan relawan darat, lengkapi APD dan suplai air pemadam! Korban relawan karhutla Sampit bertambah! BPBD dan Dinkes Kotim wajib distribusikan pasokan oksigen dan N95 untuk tim swadaya! (***)
SAMPIT, kanalindependen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin mengkhawatirkan.
Api yang muncul di sejumlah titik Kota Sampit mulai merambat mendekati kawasan permukiman, bahkan sebuah bangunan di Jalan Pelita Barat dilaporkan hangus terbakar setelah api dari lahan di sekitarnya merembet mengenai sebuah rumah.
Kondisi tersebut terjadi saat petugas Satgas Penanganan Karhutla masih berjibaku memadamkan api di berbagai lokasi.
Sepanjang hari, hingga Jumat (21/8/2026) malam, sejumlah titik kebakaran masih terus ditangani.
Wakil Koordinator III Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan salah satu bangunan yang terbakar berada sekitar 100 meter dari badan jalan.
Pihaknya masih berupaya memastikan apakah bangunan tersebut kosong atau berpenghuni.
”Rumah yang terbakar sekitar 100 meter dari jalan, kami masih belum dapat informasi lebih lanjut apakah kosong atau berpenghuni, mudah-mudahan saja bangunan kosong tidak berpenghuni,” kata Rihel, Jumat (21/8/2026).
Kebakaran menggambarkan situasi Kotim yang semakin mengancam kawasan permukiman.
Sebelumnya, sepanjang Jumat ini, sejumlah kebakaran juga dilaporkan terjadi di berbagai lokasi di Kota Sampit.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Kanal Independen, kebakaran antara lain terjadi di Jalan Metro TV yang berdekatan dengan kawasan permukiman, Jalan Dewi Sartika, Jalan Moh Hatta atau Lingkar Selatan Gang Rambutan, Jalan Tidar 4 di Jalan Murai, Jalan WMP 19, Jalan WMP 22, Jalan Wengga Metropolitan (WMP) 31, serta Jalan Ir Soekarno atau Lingkar Utara.
Hingga malam hari, petugas juga masih menangani kebakaran yang dilaporkan muncul di Jalan Betang Raya dan Samekto Barat.
Sementara itu, lahan di Jalan Tjilik Riwut Km 7 yang dalam beberapa pekan terakhir berulang kali terbakar dan telah beberapa kali dipadamkan masih mengeluarkan asap.
Situasi tersebut membuat penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada lahan yang terbakar, tetapi juga diarahkan untuk melindungi kawasan permukiman dan bangunan warga dari kemungkinan rambatan api.
Bupati Kerahkan Seluruh SOPD Suplai Air
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan pemerintah daerah bersama TNI, Polri dan instansi vertikal terus melakukan pemadaman siang dan malam. Namun, setelah satu titik berhasil dipadamkan, titik api baru kembali bermunculan.
”Hari ini ada 12 titik api, khusus di sekitar kota,” kata Halikinnor.
Banyaknya kejadian kebakaran lahan yang harus ditangani, menjadi persoalan serius karena api muncul kembali di lokasi yang berdekatan dengan titik kebakaran sebelumnya.
Ia menduga api bisa saja terbawa angin, tetapi tidak menutup kemungkinan terdapat pembakaran yang dilakukan secara sengaja.
”Jangan sampai ada pembakaran yang disengaja. Sebab, setelah satu titik dipadamkan, tiba-tiba muncul lagi api di lokasi yang berdekatan. Memang mungkin api terbawa angin, tetapi juga ada indikasi kemungkinan pembakaran sengaja,” ujarnya.
Karena itu, Halikinnor meminta masyarakat ikut mengawasi lingkungan masing-masing. Jika menemukan orang yang sengaja membakar lahan, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada aparat penegak hukum.
Pemkab Kotim juga mengerahkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk membantu mengatasi persoalan keterbatasan air dalam pemadaman.
Setiap OPD diminta mengirimkan satu armada yang dilengkapi profil tank untuk menyuplai air ke lokasi kebakaran.
Hal itu dilakukan agar mobil pemadam dapat lebih fokus melakukan penyemprotan dan pemadaman api, sedangkan kebutuhan air dibantu armada dari OPD.
”Semua organisasi perangkat daerah juga kami kerahkan. Setiap OPD mengirimkan satu armada beserta profil tank untuk menyuplai air kepada petugas pemadam. Dengan demikian, mobil pemadam bisa fokus melakukan penyemprotan api, sementara suplai air dibantu oleh OPD,” jelas Halikinnor.
Instruksi pengerahan OPD tersebut dilakukan setelah rapat koordinasi evaluasi penanganan karhutla di Rumah Jabatan Bupati Kotim, Rabu (19/8/2026).
Pada hari yang sama, Halikinnor juga turun langsung memantau kondisi kebakaran dan melihat armada sejumlah OPD yang membantu menyuplai air ke lokasi.
Halikinnor mengatakan langkah tersebut sudah dilakukan secara maksimal dalam beberapa hari terakhir. Ia juga mengapresiasi seluruh OPD yang telah bergerak membantu penanganan karhutla.
Namun, persoalan belum selesai. Titik api terus bertambah, angin cukup kuat dan persediaan air semakin terbatas.
”Kondisi saat ini sangat panas sehingga banyak sumber air mengering. Saat ini hanya ada tiga titik tempat pengambilan air yang masih bisa digunakan. Mudah-mudahan sumber air tersebut dapat bertahan,” katanya.
Halikinnor mengatakan kondisi kebakaran lahan yang begitu masif terjadi, menjadi evaluasi penting bagi pemerintah daerah, khususnya terkait ketersediaan sumber air untuk menghadapi karhutla.
Sejumlah embung dan sumur bor yang sebelumnya menjadi sumber air untuk pemadaman juga mulai mengering akibat panas yang tinggi.
”Embung-embung yang dibuat, termasuk sejumlah sumur bor, ternyata mengering. Musim panas terasa sekali, sehingga air cepat sekali hilang,” ujarnya.
Pemadaman Diprioritaskan Dekat Permukiman
Keterbatasan armada dan air membuat pemerintah harus menentukan prioritas penanganan.
Halikinnor menegaskan kawasan permukiman menjadi prioritas karena api yang berada dekat rumah warga berpotensi menimbulkan dampak lebih besar.
”Pemadaman di kawasan hutan sulit dilakukan karena jangkauan dan air terbatas. Saat ini, kami memprioritaskan pemadaman di kawasan permukiman untuk melindungi rumah-rumah warga,” tegasnya.
Ia meminta masyarakat tidak hanya menunggu petugas ketika api mulai membesar. Apabila menemukan titik api kecil di sekitar lingkungan, masyarakat diminta segera melakukan pemadaman sesuai kemampuan sebelum api meluas.
”Memadamkan api bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk dunia usaha dan masyarakat,” katanya.
Halikinnor juga mengajak masyarakat bergotong royong membantu petugas. Bagi warga yang tidak memiliki peralatan pemadaman, bantuan tenaga tetap dibutuhkan.
”Kami berharap masyarakat dapat berkolaborasi, bersinergi, dan bergotong royong dalam pemadaman. Jika tidak memiliki peralatan, setidaknya dapat membantu dengan tenaga,” ujarnya.
Tujuh Tim SOPD Suplai Air ke Lokasi Karhutla
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kondisi kemarau dan kekeringan membuat kebakaran yang awalnya muncul di sejumlah titik semakin meluas dan menimbulkan asap.
”Sebagian kebakaran di Kota Sampit berawal dari lahan di bahu jalan. Kondisi rumput yang kering membuat api mudah menyala dan kemudian cepat meluas ketika tertiup angin,” kata Multazam.
Ia menyebut angin di Kota Sampit berada pada kisaran 13-15 kilometer per jam. Kondisi tersebut membuat petugas terkadang kewalahan menghadapi kobaran api yang cepat merambat.
Multazam mengatakan petugas melakukan pemadaman dengan metode blokade untuk menghentikan rambatan api agar tidak semakin luas.
Penanganan menjadi lebih sulit karena sebagian lahan yang terbakar merupakan lahan gambut.
Api tidak cukup hanya dipadamkan pada permukaan, tetapi harus dipastikan benar-benar mati hingga bagian dalam permukaan tanah agar tidak kembali menyala.
”Kita harapkan perluasan api itu terhenti. Karena itu kami melakukan blokade pemadaman untuk menghentikan pusat api agar tidak semakin meluas, mengingat lahan yang terbakar berada di lahan gambut maka proses pemadaman memerlukan waktu dan memastikan api benar-benar padam hingga ke dalam permukaan tanah,” jelas Multazam.
Keterbatasan sumber air juga menjadi kendala tersendiri. Petugas harus berulang kali meninggalkan lokasi untuk mengambil air sebelum kembali melanjutkan pemadaman.
Namun, pengerahan seluruh SOPD untuk membantu suplai air membuat kerja Satgas Karhutla di lapangan cukup terbantu.
Mekanisme suplai air dilakukan dengan membagi armada OPD ke dalam tujuh tim yang ditempatkan di sejumlah lokasi kebakaran.
Tim pertama bertugas menyuplai air ke Jalan Metro TV Residence dengan dukungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Dinas Perhubungan, Dinas Cipta Karya dan Dinas Pemuda dan Olahraga.
Tim kedua ditempatkan di Jalan Tjilik Riwut Km 7 dengan armada dari Dinas Lingkungan Hidup,, Satpol PP, BKPSDM dan Diskominfo.
Tim ketiga bertugas menyuplai air di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5, Perum Wengga Metropolitan Gang Happy. Armada berasal dari Setwan, Inspektorat, Disnakertrans dan DPMPTSP.
Tim keempat ditempatkan di Jalan Ir Soekarno Lingkar Utara Gang Gereja dengan dukungan Bapenda, BKAD, Dinas Perikanan serta Diskoperindag.
Tim kelima berada di Jalan SPG Permai 3 untuk mengikuti unit Kodim 1015 Sampit, dengan armada dari Dinsos, Setda, DP3AP2KB dan Dinkes.
Tim keenam ditempatkan di Jalan Rambutan dengan dukungan Dinas Perpustakaan, Disbudpar, Disdukcapil dan Bapperida.
Sementara tim ketujuh terdiri dari Dinas Pendidikan dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim yang juga turut membantu menyuplai air ke titik lokasi kebakaran
Armada yang membawa profil tank berkapasitas sekitar 1.200 liter tersebut dapat melakukan pengisian air berulang kali sesuai kebutuhan di lapangan.
Dalam satu kali penugasan, satu unit kendaraan dapat melakukan sekitar 5 hingga 12 kali pengisian untuk kemudian menyuplai air ke lokasi kebakaran yang membutuhkan.
Skema tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah mengatasi persoalan semakin terbatasnya sumber air sekaligus memastikan armada pemadam tetap dapat berkonsentrasi menangani api.
SAMPAI MALAM: Pasokan air dari SOPD ke lokasi kebakaran lahan. (Istimewa/Kanal Independen)
Luas Karhutla Capai 1.382 Hektare
Multazam mengatakan eskalasi karhutla di Kotim terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data penanganan yang disampaikan, total luas lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 1.382 hektare.
Dari luasan tersebut, petugas telah menangani sekitar 1.300 hektare. Namun, pemadaman belum dapat dinyatakan tuntas 100 persen karena masih terdapat hamparan lahan terbakar yang cukup luas di sejumlah lokasi.
“Yang dapat kami tanggulangi sekitar 1.300 hektare, tetapi memang tidak 100 persen padam karena ada beberapa titik yang hamparannya mencapai angka 5 sampai dengan 6 hektare,” jelas Multazam.
Berdasarkan data BMKG per Jumat (21/8/2026) hingga pukul 16.00 WIB juga menunjukkan tingginya aktivitas titik panas di Kotim. Tercatat 678 hotspot tersebar di 17 kecamatan.
Hotspot terbanyak terpantau di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sebanyak 139 titik, disusul Baamang 90 titik, Teluk Sampit 66 titik dan Mentaya Hilir Utara 56 titik.
Besarnya jumlah hotspot tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla masih menghadapi tantangan berat, terlebih puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September 2026.
Kemarau Picu Krisis Air Bersih
Ancaman kemarau panjang tidak hanya meningkatkan risiko ancaman karhutla, tetapi juga mulai berdampak pada kebutuhan air bersih masyarakat.
Sejumlah wilayah, khususnya kawasan selatan Kotim, mulai menghadapi keterbatasan air bersih. Pemerintah daerah pun melakukan distribusi air untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Wakil Bupati Kotim Irawati bersama Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kotim Akhmad Taufik turun langsung meninjau distribusi air bersih di Kecamatan Pulau Hanaut.
Distribusi dilakukan ke Desa Serambut, Bantian dan Babaung dengan total 9.000 liter air bersih yang diangkut menggunakan dua unit tangki.
”Distribusi air bersih hari ini menyasar masyarakat di Desa Serambut, Bantian, dan Babaung, dengan total 9.000 liter air bersih menggunakan 2 tangki, yang berasal dari Damkarmat dan PDAM Tirta Mentaya,” kata Irawati.
DISTRIBUSI: Wabup Kotim Irawati mengecek distribusi air bersih untuk warga ke Pulau Hanaut, Jumat (21/8/2026). (Istimewa/Kanal Independen)
Irawati berharap bantuan tersebut dapat meringankan kebutuhan masyarakat yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari akibat kemarau.
Ia juga mengapresiasi jajaran Damkarmat, Perumdam Tirta Mentaya serta seluruh pihak yang terus bergerak membantu masyarakat menghadapi dampak kemarau.
”Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, saya berharap bantuan ini dapat meringankan kebutuhan masyarakat, khususnya untuk kebutuhan air bersih sehari-hari,” tandasnya. (hgn/ign)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Tragedi memilukan kembali mewarnai bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Satu unit rumah warga di kawasan Perumahan Grand Pelita, Jalan Pelita Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, ludes dilalap si jago merah, Jumat malam (21/8/2026).
Kobaran api berukuran besar dengan cepat melalap seluruh struktur bangunan yang terletak di tengah area perkebunan tersebut. Dalam rekaman video yang beredar luas di masyarakat, kobaran api tampak membumbung tinggi ke udara dan menghanguskan hampir seluruh bagian rumah tanpa menyisakan bangunan sebelum tim pemadam berhasil menjangkau lokasi.
Kebakaran hunian ini diduga kuat berkaitan erat dengan rambatan api karhutla yang membara di sekitar kawasan tersebut, meskipun penyebab pasti munculnya titik api utama masih dalam proses penyelidikan.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim sekaligus Ketua Satgas Penanganan Konflik Sosial Kotim, Rihel, membenarkan adanya laporan insiden kebakaran satu unit rumah di kawasan Pelita Barat tersebut.
Rihel mengonfirmasi kebenaran laporan kebakaran hunian tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya masih berupaya mengumpulkan informasi rinci mengenai kondisi rumah saat kejadian, termasuk memastikan ada atau tidaknya penghuni yang terjebak di dalam bangunan.
“Ya seperti satu rumah,” singkat Rihel.
Letak bangunan yang berada di tengah kebun dengan jarak sekitar 100 meter dari badan jalan utama menjadi hambatan besar dalam upaya penyelamatan. Posisi yang terisolasi dan jauh dari akses armada pemadam membuat api dengan cepat meratakan bangunan sebelum bantuan tiba.
Hingga kini, rincian mengenai kerugian material maupun potensi korban jiwa masih menunggu pendataan resmi dari petugas gabungan di lapangan. Insiden ini mempertegas betapa rawan dan mengancamnya eskalasi karhutla di Kotim saat ini, di mana cuaca panas terik, tingginya tingkat kekeringan lahan gambut, serta maraknya titik api terus membahayakan keselamatan jiwa dan aset permukiman warga.
Ludesnya satu rumah di Perumahan Grand Pelita adalah alarm bahaya tertinggi bahwa amukan karhutla Kotim telah bergeser dari ancaman lingkungan menjadi ancaman keselamatan jiwa dan harta benda di zona permukiman.
Terisolasi dan jauhnya posisi bangunan dari jalan utama menelanjangi tiadanya sistem proteksi kebakaran mandiri (fire protection gap) di kawasan perumahan tepi kebun.
Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) bersama Pemkab Kotim didesak mewajibkan setiap pengembang perumahan di pinggiran kota untuk membangun parit isolasi (firebreak trench) dan sumur resapan air baku. Di sisi lain, Satgas Karhutla dan Damkarmat Kotim harus menempatkan pos tinjau darurat di koridor rawan Mentawa Baru Ketapang agar respon pemadaman (response time) terhadap bangunan terancam dapat dilakukan sebelum api membesar total. (***)