Tag: Kebakaran lahan

  • Samuda Kembali Berasap, Lahan di Depan Kantor Kecamatan Terbakar

    Samuda Kembali Berasap, Lahan di Depan Kantor Kecamatan Terbakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Asap kembali terlihat di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (9/9/2026) siang.

    Kebakaran terjadi di lahan yang berada di Jalan HM Arsyad, tepat di depan Kantor Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Api terlihat membakar vegetasi kering di area tersebut.

    Kobaran api menghasilkan kepulan asap tebal yang menyelimuti sekitar lokasi. Kondisi itu mengganggu pengguna jalan yang melintas serta warga di sekitar kawasan kebakaran.

    Bachtiar, warga Samuda, mengatakan kebakaran terjadi pada siang hari. Penanganan dilakukan di lokasi hingga api berhasil dipadamkan sekitar pukul 14.00 WIB.

    “Alhamdulillah, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 14.00 WIB,” kata Bachtiar.

    Kebakaran tersebut terjadi ketika ancaman karhutla masih tinggi di Kotim.

    Rekapitulasi hotspot per Rabu (9/9/2026) pukul 07.00 WIB mencatat 270 titik panas terdeteksi dalam 24 jam terakhir.

    Mentaya Hilir Selatan menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 56 titik. Disusul Teluk Sampit 45 titik dan Pulau Hanaut 39 titik.

    Jika digabung, tiga kecamatan di wilayah selatan tersebut menyumbang 140 hotspot atau lebih dari separuh total titik panas di Kotim.

    Dari keseluruhan hotspot, 254 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, lima titik rendah, dan 11 titik tinggi. Di Mentaya Hilir Selatan, empat hotspot tercatat memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

    Kepala Pelaksana Harian BPBD Kotim Rihel mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

    “Kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan,” ungkap Rihel.

    Kebakaran di depan kantor kecamatan menjadi salah satu kejadian lapangan di tengah masih tingginya sebaran hotspot di wilayah selatan Kotim.

    Pemantauan dan penanganan cepat tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas, terutama di kawasan yang berdekatan dengan jalan raya, permukiman, dan fasilitas umum. (***)

  • Sempat Aman, Ancaman Karhutla Kembali Naik di Kalteng

    Sempat Aman, Ancaman Karhutla Kembali Naik di Kalteng

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali meningkat.

    Setelah sempat berada dalam kategori aman pada 8 September 2026, sebagian besar wilayah Kalteng kini kembali masuk kategori sangat mudah terbakar.

    Kondisi tersebut berdasarkan analisis parameter cuaca yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Rabu (9/9/2026).

    Dalam analisis BMKG, hampir seluruh wilayah Kalteng ditandai kategori sangat mudah terbakar. Kondisi ini juga berlaku pada kawasan yang didominasi lahan gambut.

    “Potensi kemudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari analisa parameter cuaca Kalteng, sebagian besar sangat mudah terbakar. Berlaku untuk tanggal 9 dan 10 September 2026,” tulis BMKG dalam rilisnya.

    Perubahan kondisi tersebut terjadi cukup cepat.

    Pada 8 September, hampir seluruh wilayah Kalteng masih berada dalam kategori aman dari potensi kemudahan terjadinya kebakaran.

    Di Kotawaringin Timur (Kotim), kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi pertumbuhan awan hujan yang cukup tinggi. Sejumlah wilayah juga sempat menerima hujan ringan dengan durasi singkat.

    Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama.

    Untuk periode 9 September pukul 07.00 WIB hingga 10 September pukul 07.00 WIB, BMKG memprakirakan potensi pertumbuhan awan hujan rendah.

    “Pada tanggal 9 September 2026 pukul 07.00 WIB hingga tanggal 10 September 2026 pukul 07.00 WIB, berdasarkan data model prediksi cuaca numerik, potensi pertumbuhan awan hujan rendah,” tulis BMKG.

    Rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan menjadi perhatian karena kondisi lahan di sejumlah wilayah masih kering.

    Data titik panas memperlihatkan ancaman tersebut belum mereda di Kotim.

    Dalam pemantauan 24 jam terakhir, BMKG mencatat 270 titik panas tersebar di 11 kecamatan.

    Konsentrasi tertinggi berada di tiga kecamatan.

    Mentaya Hilir Selatan mencatat 56 titik panas, kemudian Telawang sebanyak 52 titik dan Teluk Sampit sebanyak 45 titik.

    Ketiga kecamatan tersebut menyumbang 153 titik panas atau lebih dari separuh total titik panas yang terdeteksi di Kotim.

    Data ini menunjukkan bahwa hujan yang sempat turun belum menghilangkan risiko karhutla.

    Ketika potensi hujan kembali rendah, sementara parameter cuaca menunjukkan sebagian besar wilayah berada dalam kategori sangat mudah terbakar, risiko kebakaran kembali meningkat.

    Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi dan kawasan lahan gambut.

    Sempat aman bukan berarti ancaman berakhir. Di Kalteng, risiko karhutla kembali naik ketika hujan menghilang dan kondisi lahan kembali mengering. (***)

  • Kewalahan Hadapi Karhutla, Satgas Kotim Perlu Tambahan Personel dan Bantuan Water Bombing

    Kewalahan Hadapi Karhutla, Satgas Kotim Perlu Tambahan Personel dan Bantuan Water Bombing

    SAMPIT, kanalindependen.id – Satgas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur mengakui kapasitas penanganan di lapangan belum ideal untuk menghadapi ancaman kejadian kebakaran yang terus meningkat.

    Keterbatasan personel, armada pemadam, hingga sulitnya memperoleh sumber air di lokasi sekitar titik api, membuat Satgas membutuhkan tambahan kekuatan, termasuk dukungan helikopter water bombing agar upaya pemadaman dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

    Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan tantangan penanganan karhutla tahun ini semakin berat.

    Selain harus menghadapi titik-titik kebakaran yang muncul secara bersamaan, petugas juga dihadapkan pada keterbatasan sumber daya yang dimiliki.

    Personel gabungan yang saat ini diterjunkan masih jauh dari kebutuhan ideal untuk menangani kondisi karhutla seperti sekarang.

    ”Personel dari BPBD saja lebih dari 30 orang. Kalau digabung dengan unsur lain sekarang hampir lebih dari 50 personel. Tetapi kalau melihat kebutuhan secara matematika di lapangan, idealnya kami memerlukan 100 personel,” ujarnya.

    Dalam penanganan karhutla, Satgas Karhutla Kotim melibatkan personel gabungan dari BPBD, TNI melalui Yonif, Kodim dan Korem, Kepolisian, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), serta sejumlah instansi terkait lainnya.

    Untuk memperkuat penanganan, Satgas juga berencana meminta dukungan tambahan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang memiliki armada tangki air.

    Selain itu, perusahaan besar swasta (PBS) juga akan dilibatkan untuk membantu menyuplai air menggunakan mobil tangki berkapasitas 10.000 hingga 20.000 liter beserta sopirnya.

    “Nanti perusahaan membantu tangki air beserta sopirnya. Untuk BBM dan kebutuhan lainnya mungkin kami tanggung. Yang paling penting sekarang adalah suplai air agar proses pemadaman lebih cepat,” katanya.

    Sumber Air Jadi Kendala Utama

    Rihel menjelaskan, tantangan terbesar yang dihadapi petugas saat ini adalah sulitnya memperoleh sumber air di lokasi kebakaran.

    Akibatnya, armada pemadam harus bolak-balik mengisi air sehingga waktu penanganan menjadi lebih lama.

    “Untuk lokasi yang mudah dijangkau pasti kami tangani. Kendala utama kami adalah sumber air yang sangat jauh sehingga armada harus bolak-balik mengambil air,” ujarnya.

    Selain itu, jumlah armada yang tersedia juga belum mampu mengimbangi banyaknya titik kebakaran yang muncul dalam waktu bersamaan.

    Saat ini armada yang dimiliki berkisar enam hingga delapan unit. Sementara dalam satu waktu, jumlah lokasi kebakaran dapat melebihi kapasitas armada tersebut.

    Rihel mengatakan pada tahap awal biasanya satu titik kebakaran ditangani satu unit armada. Namun ketika api membesar, kebutuhan meningkat menjadi dua unit untuk satu lokasi.

    “Kalau ada delapan lokasi kebakaran dalam waktu bersamaan, seperti yang terjadi pada 4 Agustus 2026, berarti kebutuhan armada bisa mencapai 16 unit. Di situlah kami kewalahan,” kata Rihel.

    Ia menambahkan, kondisi semakin diperberat oleh kecepatan angin yang membuat api lebih cepat merambat sehingga kebakaran meluas dalam waktu singkat.

    Berdasarkan data kejadian karhutla pada 4 Agustus 2026, Satgas Karhutla menangani kebakaran lahan dengan sebaran lokasi diantaranya di Jalan Graha Pramuka Jalur 1 yang masih berasap, kawasan Jalan Sangga Buana–Sekar Arum–Tidar 3 di belakang Dwi Jaya Otomofif yang telah dipadamkan, Jalan MT Haryono Barat yang sudah padam, Jalan Pelita Barat yang masih dalam penanganan, Jalan Bumi Raya 1 yang titik apinya bergeser dari lokasi sebelumnya namun berhasil dipadamkan, Jalan Tjilik Riwut Km 7 yang masih berasap sejak Selasa pekan lalu, Jalan Jenderal Sudirman Km 23 yang masih ditangani, serta Jalan Jenderal Sudirman Km 5 di belakang SMAN 4 yang  masih berasap.

    Selain itu, petugas juga masih berupaya memadamkan kebakaran di Desa Camba yang menjadi salah satu lokasi terberat.

    Rihel mengungkapkan, di kawasan tersebut terdapat sekitar 20 hotspot yang berada dalam satu hamparan.

    Bahkan, update informasi pada Rabu (5/8/2026) hingga pukul 07.00 WIB jumlah hotspot mengalami peningkatan signifikan menjadi 64 titik khususnya di kawasan Desa Camba.

    Akses menuju lokasi sangat sulit karena hanya dapat dilalui sepeda motor. Personel bahkan harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer sambil membawa peralatan pemadaman.

    “Di Camba masih menyala. Kami turunkan satu unit Hilux, sepeda motor dan peralatan apung. Setelah itu personel harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer karena kendaraan roda empat tidak bisa masuk. Sumber air juga sulit dijangkau,” jelasnya.

    Sementara itu, kebakaran lahan yang terjadi sebelumnya Senin (3/8/2026), di kawasan Gudang Yamaha Jalan Mohammad Hatta, Desa Batuah dan Jalan Tjilik Riwut Km 13 telah berhasil dipadamkan.

    Secara akumulasi data hotspot Per 5 Agustus 2026 di 17 kecamatan yang masuk wilayah Kotim, hotspot mengalami peningkatan mencapai 159 titik. Dengan sebaran hotspot terbanyak di Kecamatan Kotabesi 68 titik, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang 26 Titik, Seranau 20 titik dan Baamang 21 titik panas.

    Siapkan Embung dan Libatkan Mobil Tangki

    Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Satgas Karhutla merencanakan pembangunan embung di sejumlah lokasi rawan kebakaran bekerja sama dengan Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kotim.

    Embung tersebut diharapkan dapat memangkas jarak pengambilan air yang selama ini menjadi kendala utama di lapangan.

    Rihel mengatakan, di beberapa wilayah jarak antara titik kebakaran dengan sumber air dapat mencapai sekitar 10 kilometer.

    “Ke depan kami rencanakan membuat embung di beberapa titik menggunakan alat berat supaya sumber air lebih dekat dengan lokasi kebakaran,” katanya.

    Rihel menyebut kecukupan armada sangat bergantung pada jumlah kejadian. “Kalau kebakarannya sedikit tentu armada cukup. Tetapi kalau banyak kejadian dalam waktu bersamaan, pasti kekurangan.”

    Bantuan Water Bombing Masih Menunggu Persetujuan

    Selain memperkuat penanganan darat, Satgas Karhutla Kotim juga terus mengupayakan bantuan helikopter water bombing.

    Rihel mengatakan, koordinasi telah dilakukan bersama Kepala Bandara H Asan Sampit sejak Minggu (2/8/2026) sebagai persiapan apabila helikopter dikerahkan ke Sampit.

    Permohonan bantuan juga telah diajukan melalui Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kepada BNPB karena mekanisme pengajuan harus melalui pemerintah provinsi.

    “Untuk water bombing kami sudah mengajukan. Rencananya pagi tadi operasi pemadaman bantuan water bombing dapat dilakukan, namun dikarenakan visibility rendah berkabut, helikopter yang tadinya sudah mendarat di Bandara Haji Asan Sampit kembali ke Palangka Raya,” ujarnya.

    Saat ini BPBD Provinsi Kalteng memiliki dua unit helikopter yang saat ini masih diprioritaskan untuk penanganan kebakaran di kawasan Tumbang Nusa, Kameloh Baru, Palangka Raya, dan Pulang Pisau.

    Meski demikian, Rihel mengaku telah berkomunikasi dengan pihak Angkatan Udara agar helikopter dapat digeser ke Sampit apabila kondisi di Kotim membutuhkan dukungan pemadaman jalur udara.

    “Idealnya, kalau bisa minimal satu helikopter untuk satu kabupaten atau kota yang rawan karhutla,” ujarnya.

    Selain helikopter, BNPB juga sedang memproses hibah satu unit mobil tangki air bersih untuk mendukung penanganan karhutla di Kotim.

    Bandara H Asan Siap Jika Helikopter Ditempatkan di Sampit

    Rihel menambahkan, Bandara H Asan Sampit telah mempersiapkan berbagai kebutuhan apabila nantinya ditetapkan sebagai lokasi siaga helikopter water bombing.

    Persiapan tersebut meliputi area parkir helikopter, avtur, ruang istirahat, ruang ganti, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya. Apabila disetujui, liaison officer (LO) akan melakukan pengecekan terhadap kesiapan fasilitas tersebut.

    Ia menjelaskan, efektivitas operasi water bombing sangat bergantung pada jarak antara titik kebakaran dan sumber air.

    Jam terbang helikopter dibatasi sekitar tiga jam. Dalam kondisi ideal, apabila sumber air berada dekat dengan lokasi kebakaran, helikopter dapat melakukan hingga sekitar 12 kali penjatuhan air. Namun apabila jarak tempuh menuju lokasi cukup jauh, kemampuan operasi turun menjadi sekitar lima hingga delapan kali water bombing.

    “Setiap bucket helikopter mampu membawa sekitar 4.000 liter air. Durasi terbang dibatasi maksimal 3 jam. Sehingga, operasianal helikopeter water bombing harus dihitung dengan matang. Kalau waktu tempuh terlalu jauh, efektivitas penjatuhan air menjadi berkurang karena jam terbang helikopter juga terbatas,” tandasnya. (hgn)

  • Bara Gambut Lingkar Utara Dongkrak Akumulasi Karhutla Kotim

    Bara Gambut Lingkar Utara Dongkrak Akumulasi Karhutla Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Eskalasi bencana kebakaran hutan and lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus merangsek naik ke level yang kian mencemaskan seiring dengan kian mengganasnya cekaman musim kemarau. Setelah sebelumnya akumulasi luas lahan terbakar berada di kisaran 11 hektare, kemunculan titik api baru yang membakar kawasan Lingkar Kota Utara Sampit pada Senin (6/7/2026) secara drastis mendongkrak total luasan lahan gambut and belukar yang hangus menjadi sekitar 14 hektare.

    Pengepungan Api Tiga Mil dari Koridor Vital Bandara H Asan

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Multazam, membenarkan bahwa titik api terbaru terdeteksi aktif merayap di kawasan Lingkar Kota Utara, Kecamatan Baamang. Tim gabungan langsung dikerahkan secara taktis ke lapangan guna memotong perambatan lidah api agar tidak meluas ke area yang lebih kritis.

    Berdasarkan manifes data taktis BPBD, kebakaran terbaru ini telah menghanguskan lahan semak belukar seluas kurang lebih tiga hektare. Secara geografis, titik api tersebut mengunci koordinat rigid S 02°30′34.00″ dan E 112°54′55.00″, atau hanya berjarak sekitar 3 nautical mile (5,5 kilometer) dari Bandara H Asan Sampit. Kedekatan jarak ini memicu perhatian super ketat dari lintas sektoral karena posisinya berada di perimeter ring satu kawasan vital transportasi udara daerah.

    “Lokasi kebakaran berada di kawasan Lingkar Kota Utara. Saat ini lahan terpantau masih berasap tebal and berpotensi kuat membesar akibat dorongan angin. Tim gabungan sudah bergerak cepat menuju lokasi untuk melakukan lokalisir and penanganan intensif,” urai Multazam saat memberikan konfirmasi pada Senin (6/7/2026).

    Rekam Jejak Spasial Karhutla Kotim Sepanjang Awal Juli

    Lonjakan dramatis menjadi 14 hektare ini merupakan akumulasi dari rentetan petaka karhutla yang melanda bumi Kotim sejak awal pekan Juli 2026. Sebelum titik api Lingkar Kota Utara pecah, sirkuit pemantauan udara menggunakan pesawat nirawak (drone) and patroli darat telah mencatat sebaran kerusakan lingkungan di beberapa titik, meliputi: Kecamatan Mentaya Hulu: Dua titik kebakaran vegetasi berhasil dipetakan dengan estimasi luasan mencapai tiga hektare. Kecamatan Seranau: Kobaran api melahap hamparan lahan gambut di Desa Ganepo dengan tingkat kerusakan mencapai kurang lebih empat hektare. Kecamatan Baamang (Jalan Ir Soekarno): Lahan seluas empat hektare sempat terbakar hebat and memicu kepulan asap sebelum akhirnya berhasil dipadamkan secara total oleh tim gabungan.

    Multazam menegaskan bahwa meningkatnya grafik karhutla ini dipicu oleh parameter meteorologi yang didominasi oleh Hari Tanpa Hujan (HTH). Kondisi ekstrem tersebut membuat vegetasi and hamparan tanah gambut kehilangan pasokan kadar air hingga menjadi sangat kering and mudah menyala (highly flammable).

    Guna meminimalkan risiko kabut asap yang dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi and kesehatan masyarakat, BPBD Kotim kini memperkuat sirkuit koordinat patroli darat serta memperketat pengawasan udara di zona-zona rawan gambut. Masyarakat kembali diingatkan dengan keras agar tidak melakukan pembukaan lahan atau pembersihan kebun dengan metode pembakaran.

    Meledaknya total luasan karhutla menjadi 14 hektare dengan tambahan titik api baru di Lingkar Kota Utara Sampit bukan lagi sekadar isu perubahan iklim biasa, melainkan sinyal anarki agraria yang sengaja memanfaatkan momentum puncak musim kemarau. Keberadaan titik api seluas 3 hektare yang berada tepat di koordinat S 02°30′34.00″ and E 112°54′55.00″ hanya berjarak 3 mil laut dari jalur penerbangan Bandara H Asan Sampit—adalah ancaman nyata bagi keselamatan transportasi publik berskala tinggi (high-risk security threat). Kondisi lahan yang terus berasap and berpotensi membesar membuktikan bahwa lapisan bawah gambut telah dikorbankan demi efisiensi biaya pembersihan lahan.

    Kanal Independen memberikan catatan kritis yang sangat tajam terhadap pola kebakaran di kawasan Lingkar Kota Utara and Jalan Ir Soekarno. Kedua koridor ini adalah zona pengembangan tata ruang kota yang bernilai ekonomi tinggi, sangat rawan menjadi ladang pembantaian lingkungan oleh para mafia tanah and spekulan kavlingan.

    Menerima narasi bahwa lahan ini terbakar murni karena “faktor alam and gesekan semak kering” di kawasan strategis pinggiran kota adalah bentuk kelengahan jurnalisme and kelalaian birokrasi.

    Satgas Karhutla bersama Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup and Kehutanan (KLHK) serta Polres Kotim wajib segera mengambil tindakan represif: segel total area koordinat tersebut menggunakan garis polisi, lacak kepemilikan sertifikat tanahnya melalui BPN, and seret pemilik konsesi ke ranah pidana lingkungan!

    Jika pembiaran ini terus berlanjut tanpa adanya penyitaan aset lahan yang terbakar untuk dikembalikan menjadi tanah milik negara, maka sepanjang sisa musim kemarau tahun 2026 ini, koridor udara Bandara H Asan and paru-paru warga Kota Sampit akan terus disandera oleh ketakutan kabut asap demi keuntungan ekonomi segelintir spekulan ugal-ugalan. (***)

  • Petugas Terpaksa Estafet Air Setengah Kilometer Demi Menjinakkan Kobaran Karhutla yang Meluas di Lahan Kering Eka Bahurui

    Petugas Terpaksa Estafet Air Setengah Kilometer Demi Menjinakkan Kobaran Karhutla yang Meluas di Lahan Kering Eka Bahurui

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meluas tanpa ampun, memicu respons kedaruratan tinggi di sektor kelistrikan dan lingkungan hulu. Kali ini, amukan si jago merah melahap hamparan lahan kering di kawasan Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Kobaran api yang terdeteksi aktif sejak Jumat (3/7/2026) tersebut dengan cepat meluas hingga diperkirakan telah menghanguskan area vegetasi seluas kurang lebih lima hektare. Hingga Sabtu (4/7/2026), tim gabungan masih dipaksa berjibaku melawan keganasan api di tengah kepungan asap dan cuaca kering.

    Asesmen Taktis Lapangan dan Kepungan Api Lima Hektare

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, membenarkan situasi kritis yang melanda kawasan Desa Eka Bahurui tersebut. Operasi penetrasi dan pemadaman secara masif baru dapat digulirkan secara penuh pada hari Sabtu, setelah sehari sebelumnya diterjunkan tim khusus untuk memetakan arah perambatan api di tingkat tapak.

    Pada Jumat (3/7/2026), Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kotim bersama elemen Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Eka Bahurui telah lebih dulu melakukan penilaian kondisi lapangan (field assessment) secara detail guna merumuskan strategi pertahanan dan penjinakan api yang paling efektif.

    “Iya benar, hari ini (Sabtu) baru dilaksanakan operasi pemadaman secara intensif di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan and estimasi dari tim Patroli Udara, luas bentangan lahan yang terbakar di kawasan tersebut diperkirakan sudah mencapai sekitar 5 hektare,” jelas Multazam saat memberikan konfirmasi taktis mengenai luasan kebakaran.

    Rintangan Hidrologis: Siasat Rekayasa Air Menggunakan Embung Portabel

    Tragedi klasik yang kembali menguras stamina and peluh para petugas di lapangan adalah parahnya hambatan medan serta minimnya ketersediaan pasokan air baku di sekitar lokasi kejadian. Jarak antara titik api utama dengan sumber air terdekat membentang sejauh 500 meter atau setengah kilometer. Menghadapi rintangan hidrologis yang kritis ini, BPBD Kotim terpaksa memutar otak dengan menerapkan sistem rekayasa distribusi air secara berantai.

    “Proses pemadaman di lapangan terkendala kendala air yang sangat terbatas, karena sumber air terdekat berada sekitar 500 meter dari lokasi kebakaran. Sebagai solusinya, rencana pasokan air akan kami alirkan secara estafet menggunakan unit embung portable,” pungkas Multazam menggambarkan potret rintangan logistik di lapangan.

    Melalui skema estafet menggunakan embung portabel ini, suplai air menuju moncong selang pemadam diharapkan dapat terjaga secara konstan. Langkah rekayasa taktis ini dinilai menjadi satu-satunya opsi rasional untuk mempercepat durasi pemadaman sekaligus mengisolasi pergerakan lidah api agar tidak merembet ke area perkebunan produktif maupun pemukiman warga sekitarnya.

    Amukan api yang melahap hingga 5 hektare lahan di Desa Eka Bahurui ini kembali menelanjangi borok lama tata kelola mitigasi karhutla di Kotim yang selalu gagap menghadapi kendala hidrologis. Fakta bahwa petugas harus terseok-seok melakukan estafet air sejauh setengah kilometer menggunakan embung portabel adalah bukti nyata bahwa wilayah rawan seperti Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dibiarkan tanpa infrastruktur air permanen yang siap pakai. Kita selalu mengulang-ulang narasi “kesulitan sumber air” setiap tahun, seolah-olah kemarau and karhutla adalah siklus kejutan baru bagi pemerintah daerah.

    Kanal Independen memberikan catatan kritis yang sangat tajam. Mengandalkan embung portabel di tengah amukan api yang telanjur meluas hingga 5 hektare adalah strategi defensif yang lamban and berisiko tinggi memicu kelelahan ekstrem pada personel. BPBD and Pemkab Kotim seharusnya sudah menghentikan proyek mitigasi reaktif and mulai membangun jaringan sumur bor dalam (deep well) atau embung permanen berkapasitas besar di setiap desa ring satu rawan karhutla.

    Selain itu, luasan 5 hektare yang terbakar dalam waktu singkat mengindikasikan adanya potensi pembiaran atau keterlambatan respons awal. Aparat penegak hukum tidak boleh menutup mata; usut tuntas kepemilikan lahan yang terbakar di Eka Bahurui ini. Jika ada indikasi kesengajaan demi menekan biaya pembersihan lahan (land clearing), seret pemiliknya ke meja hijau. Jangan biarkan paru-paru warga Sampit kembali dikorbankan oleh keserakahan ekonomi spekulan tanah.(***)

  • Ancaman Jalur Lepas Landas Bandara H Asan Menyengat: Karhutla Baamang Hulu Aktif Mengepung Koridor Penerbangan Sampit

    Ancaman Jalur Lepas Landas Bandara H Asan Menyengat: Karhutla Baamang Hulu Aktif Mengepung Koridor Penerbangan Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali merangsek ke zona vital infrastruktur daerah. Hingga Jumat (3/7/2026), kobaran titik api di wilayah Kelurahan Baamang Hulu dilaporkan masih dalam kondisi aktif and terus merongrong ketenteraman lingkungan. Situasi darurat ini merangsang kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim untuk segera mengerahkan armada personel penuh and peralatan pemadaman guna melakukan operasi penjinakan api di lapangan.

    Pertaruhan Jalur Udara Sampit dan Risiko Asap Pekat

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menegaskan bahwa seluruh kesiapan personel and logistik pemadaman kini telah dipersiapkan secara matang untuk menuju titik koordinat kebakaran. Posisi kebakaran kali ini menjadi atensi super ketat dari lintas sektoral lantaran lokasinya yang sangat strategis and berdekatan dengan Bandara H Asan Sampit.

    Titik api secara rigid berada di sekitar kawasan sensitif, yaitu jalur lepas landas (take off) and pendaratan (landing) armada pesawat terbang. Kepadatan kabut asap yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi di atas tanah gambut ini dinilai berpotensi besar mengganggu and melumpuhkan aktivitas penerbangan komersial apabila asap semakin pekat. Oleh karena itu, penetrasi pemadaman darurat harus segera dieksekusi secepat mungkin untuk mencegah kebakaran meluas ke area yang lebih kritis.

    “Karhutla di wilayah Baamang Hulu hingga saat ini masih dalam posisi aktif. Kami akan melakukan operasi pemadaman. Personel dan peralatan saat ini sedang dipersiapkan untuk menuju lokasi kebakaran,” urai Multazam secara gamblang saat memberikan konfirmasi taktis.

    Cekaman Minim Sumber Air di Ring Satu Lahan Gambut

    Di tengah urgensi penyelamatan jalur udara tersebut, tim gabungan di lapangan dipaksa berhadapan dengan kendala klasik yang menguras stamina: keterbatasan sumber air di lokasi kejadian. Karakteristik lahan yang mengering membuat petugas terhambat dalam mengamankan pasokan air masif.

    Air bersih untuk pemadaman hanya tersedia di parit alam yang jarak bentangannya berkisar 100 meter dari titik api utama. Kondisi minim pasokan ini dipastikan memperlambat mobilitas penjinakan api karena proses pemadaman diperkirakan membutuhkan alokasi waktu and tenaga ekstra dari para relawan serta petugas di tingkat tapak.

    “Air untuk pemadaman sangat terbatas. Sumber air hanya ada di parit dengan jarak sekitar 100 meter dari lokasi kebakaran,” jelas Multazam menggambarkan potret rintangan hidrologis di lapangan.

    Meskipun dihantam hambatan logistik air, BPBD Kotim memastikan akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan secara berkala and melakukan penanganan bersama tim gabungan guna mencegah api semakin meluas di kawasan strategis tersebut. Di sisi lain, masyarakat juga diimbau kuat untuk tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau serta diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sejak dini sebelum meluas.

    Kebakaran lahan aktif yang tepat berada di sekitar jalur take-off and landing Bandara H Asan Sampit bukan lagi sekadar musibah kemarau biasa, melainkan ancaman keselamatan transportasi publik berskala tinggi (high-risk security threat). Keberadaan titik api di Baamang Hulu yang berulang setiap musim kering menelanjangi kegagalan struktural Pemkab Kotim dalam membangun infrastruktur mitigasi permanen, seperti sumur bor dalam atau embung cadangan air di kawasan perimeter ring satu bandara. Sangat tidak masuk akal jika sebuah kawasan strategis nasional dibiarkan tanpa pasokan air darurat yang memadai, hingga petugas pemadam harus terseok-seok mengandalkan air parit sejauh 100 meter dari titik api.

    Kanal Independen mendesak agar penanganan kasus ini tidak berhenti pada pemadaman api semata. Kepolisian Resor Kotim bersama Penegak Hukum Lingkungan Hidup wajib melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kepemilikan lahan yang terbakar di Baamang Hulu tersebut. Area sekitar bandara merupakan zona bernilai ekonomi tinggi yang rawan menjadi sasaran pembersihan lahan (land clearing) ilegal oleh spekulan tanah. Jika ditemukan adanya unsur kesengajaan atau kelalaian dari pemilik konsesi lahan, hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu: cabut hak atas tanahnya, denda pihak yang bersangkutan, and publikasikan namanya ke masyarakat. Jangan biarkan keselamatan penerbangan and kesehatan warga Sampit dipertaruhkan demi keuntungan ekonomi segelintir mafia tanah! (***)

  • Ancaman Cekaman Kering Sergap Enam Kecamatan: Satelit BMKG Deteksi Delapan Hotspot Berkepercayaan Tinggi di Kotim

    Ancaman Cekaman Kering Sergap Enam Kecamatan: Satelit BMKG Deteksi Delapan Hotspot Berkepercayaan Tinggi di Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Krisis lingkungan hidup akibat peralihan musim di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki babak baru yang kian mencemaskan. Di tengah merosotnya potensi pertumbuhan awan hujan hingga ke titik nadir dalam 24 jam terakhir, instrumen satelit pengamat cuaca resmi mendeteksi kepungan delapan titik panas (hotspot) baru yang menyebar secara agresif di enam kecamatan hulu hingga hilir Kotawaringin Timur.

    Penyusutan Awan Hujan dan Sebaran Spasial Titik Api Hulu Kotim

    Berdasarkan hasil analisis klimatologi komprehensif Stasiun Meteorologi H Asan Sampit untuk periode sirkulasi Rabu (24/6/2026) hingga Kamis (25/6/2026) pagi, peluang kemunculan awan penghujan di seluruh langit Kotim berada pada kategori sangat rendah. Kondisi atmosferik yang steril dari uap air ini secara instan memicu peningkatan suhu permukaan bumi and mempercepat proses pengeringan biomassa di atas tanah gambut.

    Dampaknya langsung terkonfirmasi oleh pemantauan sensor termal satelit yang mendeteksi delapan titik panas dengan tingkat kepercayaan (confidence level) berstatus tinggi. Manifesto sebaran spasial titik panas ini terpantau mengunci enam wilayah kecamatan strategis, meliputi Kecamatan Antang Kalang, Bukit Santuai, Mentaya Hulu, Telaga Antang, Tewang, dan Tualan Hulu. Dari seluruh titik koordinat yang tertangkap, kawasan pedalaman Antang Kalang mencatatkan rapor merah sebagai wilayah dengan akumulasi titik panas paling pekat.

    Kepala Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjabarkan bahwa kemunculan manifes titik panas ini bertindak sebagai lonceng peringatan dini bagi seluruh pemangku kebijakan kedaruratan daerah.

    “Potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kotawaringin Timur secara umum berada pada kategori rendah. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius karena dapat mendukung meningkatnya risiko kebakaran lahan, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi kering. Hotspot merupakan indikasi awal adanya sumber panas di permukaan, karena itu verifikasi fisik di lapangan oleh tim darurat sangat krusial,” urai Mulyono Leo Nardo.

    Peta Kerentanan Komunitas Sipil Menghadapi Indeks Mudah Terbakar

    Kondisi kekeringan hidrologis ini kian diperparah oleh rilis parameter kemudahan kebakaran hutan and lahan yang dikeluarkan BMKG untuk wilayah Kalimantan Tengah. Lembaran peta risiko menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah bagian tengah and pesisir selatan provinsi ini termasuk klaster pemukiman and perkebunan di Kotim telah resmi dikategorikan masuk dalam zona mudah hingga sangat mudah terbakar (highly flammable).

    Visualisasi data pada pusat pemantauan meteorologi di atas mengonfirmasi bagaimana pergerakan massa udara kering terus mengikis kelembapan tanah di wilayah hulu. Keberadaan semak belukar yang mati and tumpukan gambut yang kehilangan daya ikat air kini bertindak bagai tumpukan bahan bakar kering yang siap meledak menjadi bencana kabut asap massal hanya dengan satu percikan api kecil. Masyarakat diimbau keras untuk menghentikan total pembukaan lahan pertanian dengan metode pembakaran konvensional demi mencegah eskalasi bencana yang lebih luas.

    Kemunculan delapan titik panas berstatus high confidence di Antang Kalang, Bukit Santuai, hingga Tualan Hulu menelanjangi lemahnya komitmen mitigasi preventif di tingkat tapak serta watak pasif birokrasi penanggulangan bencana Kotim. Narasi yang selalu diulang oleh otoritas bahwa hotspot baru sekadar “indikasi awal yang perlu verifikasi” adalah bentuk eufemisme birokrasi yang memperlambat respons darurat (delayed emergency response). Di era krisis iklim 2026, ketika satelit menangkap titik panas bernilai kepercayaan tinggi di tengah curah hujan nol milimeter, itu adalah kepastian adanya aktivitas pembakaran yang harus langsung ditindak dengan penegakan hukum, bukan sekadar ditinjau secara seremonial.

    Kanal Independen mendeteksi adanya anomali sosiologis di mana klaster titik panas ini mendominasi wilayah hulu seperti Antang Kalang and Telaga Antang zona yang secara spasial dikepung oleh konsesi perkebunan sawit skala besar and pembukaan kaplingan baru. Pola ini mengindikasikan kuat bahwa praktik pembersihan lahan secara ilegal berbiaya murah (illegal land clearing) masih subur beroperasi di bawah lemahnya pengawasan mata komunal.

    Pemerintah daerah bersama Penegak Hukum Lingkungan hidup tidak boleh lagi membebankan dosa karhutla ini kepada petani tradisional kecil. Lakukan audit digital koordinat hotspot tersebut secara transparan; jika terbukti titik panas berada di dalam perimeter konsesi korporasi atau lahan telantar milik spekulan, terapkan sanksi administratif berupa pembekuan izin usaha and sita aset tanpa kompromi. Mengandalkan imbauan moral agar masyarakat tidak membakar lahan tanpa dibarengi dengan tindakan radikal merazia korporasi nakal adalah bukti nyata mandulnya kedaulatan ekologis di Kotim. (***)

  • Sinyal Merah Karhutla di Atas Bara Gambut Kotim: Dua Titik Api Menyala dalam Semalam, BMKG Warning Kemarau Ekstrem 2026

    Sinyal Merah Karhutla di Atas Bara Gambut Kotim: Dua Titik Api Menyala dalam Semalam, BMKG Warning Kemarau Ekstrem 2026

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Siklus krisis ekologis tahunan kini resmi kembali mengintai Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Seiring bergesernya musim menuju kemarau, ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai menampakkan taringnya. Hanya dalam kurun waktu 24 jam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim melaporkan telah menerima dua hantaman titik api (hotspot) di dua lokasi spasial berbeda, menegaskan bahwa vegetasi gambut daerah ini sudah masuk dalam fase kritis mudah terbakar.

    Bara Siang Bolong di Lingkar Selatan dan Kelumpuhan Medan Tjilik Riwut

    Letupan karhutla pertama kali terdeteksi merobek kawasan Jalan Mohammad Hatta atau yang akrab dikenal sebagai jalur Lingkar Selatan, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang pada Senin (15/6/2026) siang sekitar pukul 13.56 WIB. Api dengan cepat melumat permukaan tanah gambut (peatland) kering yang ditumbuhi semak belukar rimbun.

    Merespons ancaman yang berpotensi meluas ke jalur logistik tersebut, sebanyak 10 personel taktis BPBD Kotim diterjunkan ke titik koordinat dengan dukungan satu unit armada mobil tangki air. Setelah bertempur melawan asap pekat, petugas berhasil mengisolasi pergerakan api. Luas lahan yang hangus terbakar diestimasi mencapai 0,12 hektare sebelum berhasil dijinakkan sepenuhnya.

    Belum sempat barisan pemadam melepas lelah, petaka kedua kembali dilaporkan menyala pada Senin malam di kawasan koridor Jalan Tjilik Riwut. Namun, operasi pemadaman di lokasi ini terpaksa membentur dinding kegagalan. Titik api terpantau berada jauh di dalam hutan, sekitar 700 meter merangsek dari tepi jalan utama.

    Petugas BPBD bersama kekuatan taktis dari Relawan Ketapi III sempat menembus kegelapan untuk melakukan asesmen lapangan. Sayangnya, kombinasi medan belukar yang ekstrem, tiadanya akses untuk kendaraan roda empat maupun unit water tank, serta minimnya visibilitas pencahayaan pada malam hari membuat tim terpaksa membatalkan eksekusi penyemprotan demi menghindari risiko fatalitas personel.

    Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menegaskan situasi ini harus dibaca sebagai early warning bagi seluruh elemen korporasi dan masyarakat. Berdasarkan analisis awal, hilangnya guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir telah mengubah karakteristik permukaan tanah Kotim menjadi bahan bakar yang sangat reaktif.

    “Kami mengimbau secara keras kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar dalam bentuk apa pun. Saat ini kita sudah resmi memasuki musim kemarau, sehingga potensi karhutla mulai meningkat tajam secara eksponensial,” tegas Multazam dalam keterangan persnya pada Selasa (16/6/2026).

    Multazam tidak menampik dugaan bahwa mayoritas peristiwa karhutla di Kotim selalu berkorelasi dengan faktor kelalaian atau kesengajaan manusia (human-induced wildfire). Mulai dari taktik murah membersihkan kaplingan tanah secara instan dengan api, hingga puntung rokok yang ditinggalkan berceceran di atas semak kering tanpa pengawasan.

    Kembalinya asap karhutla di Lingkar Selatan dan Tjilik Riwut adalah alarm keras bahwa Kotim sama sekali belum beranjak dari status wilayah rapuh bencana ekologis. Statmen mitigasi dari BPBD yang menyatakan lokasi kebakaran malam hari di Tjilik Riwut “aman karena jauh dari permukiman” adalah sebuah cara pandang defensif yang berisiko melahirkan kelengahan kolektif.

    Hukum alam tanah gambut (peatland) Kalimantan memiliki karakteristik subsurface fire (kebakaran di bawah permukaan). Api yang terlihat padam di atas, bisa terus merayap di kedalaman lapisan gambut setinggi dua meter selama berhari-hari. Membiarkan titik api di Tjilik Riwut menyala semalaman hanya karena alasan medan yang sulit adalah keputusan taktis yang dilematis; jika bara bawah tanah itu tidak diinjeksi air secara total, ia akan meledak menjadi kebakaran masif begitu dihantam angin kencang kemarau.

    Kanal Independen mendesak Satgas Karhutla Kotim dan jajaran Polres untuk tidak membiarkan dua kasus awal ini menguap begitu saja sebagai “kecelakaan alam”. Jalur Lingkar Selatan dan Tjilik Riwut adalah dua magnet pertumbuhan properti dan investasi yang sangat seksi di Sampit. Ada indikasi kuat bahwa kemunculan titik api di sana merupakan bagian dari taktik spekulan tanah (land clearing) yang sengaja memicu kebakaran terkontrol demi menekan biaya pembersihan lahan komersial.

    Mitigasi di tahun 2026 ini menuntut ketegasan hukum yang radikal. Terlebih, BMKG sudah mengeluarkan prognosis buruk bahwa musim kemarau tahun ini akan berjalan jauh lebih panjang, lebih kering, dan lebih ekstrem akibat anomali iklim jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Pemerintah daerah tidak bisa lagi sekadar mengandalkan unit water tank atau ketangkasan Relawan Ketapi III di hilir ketika api sudah membesar. Penegakan hukum berlapis berupa penyegelan lahan yang terbakar menggunakan garis polisi (police line) serta penelusuran status kepemilikan sertifikat tanah di TKP wajib dijalankan. Selama para pemilik lahan atau pelaku pembakaran liar tidak pernah diseret ke meja hijau, maka Sampit akan terus dipaksa menghirup racun asap pekat demi kemakmuran segelintir mafia tanah. (***)

  • Hadapi Ancaman Kekeringan dan Karhutla, Pemkab Kotim Siapkan Anggaran dan Rencana Aksi Darurat

    Hadapi Ancaman Kekeringan dan Karhutla, Pemkab Kotim Siapkan Anggaran dan Rencana Aksi Darurat

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ancaman kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga enam bulan mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Tidak hanya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), krisis air bersih hingga penurunan produksi pertanian juga menjadi perhatian utama.

    Pemkab Kotim pun bergerak menyiapkan rencana aksi lintas SOPD, termasuk kebutuhan anggaran dan skema penanganan darurat.

    Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan, berdasarkan prakiraan BMKG, kemarau tahun ini diperkirakan menjadi yang terpanas dalam 30 tahun terakhir dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

    ”Biasanya kita kemarau 1 sampai 2 bulan, tapi ini menurut kami panjang, bisa sampai 4 sampai 6 bulan,” kata Halikinnor Bupati Kotim saat diwawancarai usai rapat koordinasi teknis yang dihadiri sejumlah pejabat SOPD terkait di Gedung B Setda Kotim, Selasa (21/4/2026).

    Menghadapi kondisi tersebut, seluruh SOPD diminta menyiapkan rencana aksi secara matang, termasuk menghitung kebutuhan anggaran agar penanganan bisa dilakukan cepat saat kondisi darurat terjadi.

    ”Sehingga pada saat nanti kita menghadapi itu, kita sudah siap dengan segala kemampuan yang ada pada daerah kita,” katanya.

    Halikin juga mengingatkan, penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran masyarakat dinilai sangat penting, terutama dalam mencegah kebakaran sejak dini.

    ”Kalau menemukan ada api kecil di daerahnya, tolong dibantu dipadamkan, jangan sampai membesar. Kita tahu daerah kita daerah gambut, kalau sudah mulai ada kebakaran itu memadamkannya susah sekali,” tegasnya.

    Menurut Halikinnor, dampak kemarau panjang dan karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga mengganggu berbagai sektor kehidupan.

    ”Kalau sudah terjadi kemarau dan asap banyak, maka akan mengganggu semua aktivitas kita, baik kesehatan, pendidikan, transportasi, ekonomi, semua terdampak,” ucapnya.

    Selain karhutla, ancaman kekeringan juga menjadi perhatian serius, khususnya di wilayah selatan Kotim.

    Ia menjelaskan, saat kemarau panjang, air di wilayah tersebut cenderung menjadi payau bahkan asin, sementara sebagian masyarakat masih bergantung pada air hujan.

    ”Kalau kemarau ini tidak ada hujan, otomatis harus kita suplai dari daerah yang ada sumber airnya,” ungkapnya.

    Karena itu, pemerintah daerah mulai menyiapkan skema distribusi air bersih, termasuk kemungkinan melakukan droping air ke wilayah selatan maupun daerah lain yang terdampak.

    ”Bahkan mungkin daerah utara juga, saat ini sudah terjadi keprihatinan air bersih. Panjang kemarau ini, ya,” tambahnya.

    Di sektor pertanian, Halikinnor mengakui kemarau panjang berpotensi menurunkan produksi.

    Meski demikian, upaya antisipasi telah dilakukan melalui penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

    ”Penurunan produksi pasti ada, tapi harapan kita tidak signifikan,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam menjelaskan, dalam rapat tersebut masing-masing SOPD telah menyampaikan rencana aksi teknis, baik yang sudah teranggarkan maupun potensi kebutuhan tambahan saat kondisi darurat.

    ”Tentu rencana aksi itu ada yang sudah terprogram dalam belanja di masing-masing OPD, tapi dimungkinkan juga ada belanja-belanja lain yang muncul dalam posisi darurat,” kata Multazam.

    Ia menyoroti distribusi air bersih sebagai tantangan paling mendesak, terutama di wilayah selatan yang sangat bergantung pada air hujan.

    ”Air hujan yang ditampung masyarakat paling bertahan sekitar 10 sampai 14 hari, tergantung daya simpan air hujan di masing-masing rumah tangga. Kita juga paham di sana banyak masyarakat kurang mampu. Itu yang kemudian menjadi PR kita,” jelasnya.

    Kondisi sumber air juga mulai menunjukkan penurunan. Intake di Parenggean disebut sudah mulai menyusut, sementara intake di Ramban diperkirakan akan terganggu. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat melalui keluhan air keruh.

    ”Makanya sering muncul keluhan PDAM soal air keruh dan lain-lain,” ujarnya.

    Sebagai langkah antisipasi, Perumdam Tirta Mentaya Sampit berencana memasang hidran di Sungai Ijum Raya agar distribusi air ke wilayah selatan, termasuk di Kecamatan Teluk Sampit, bisa lebih efektif.

    ”Air yang didistribusikan juga harus layak untuk dikonsumsi,” tegasnya.

    Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak jenis Dexlite juga menjadi tantangan dalam operasional penanganan bencana. Seluruh unit operasional BPBD bergantung pada BBM tersebut.

    ”Perhitungan kami, tadinya stok bisa bertahan 30 hari, sekarang tinggal sekitar 15 hari. Karena itu kami harus melakukan efisiensi,” ujarnya.

    Meski demikian, efisiensi yang dilakukan dipastikan tidak akan mengurangi hasil kerja, melainkan lebih pada penyesuaian prioritas.

    Untuk mengantisipasi kebutuhan anggaran, Bupati Kotim telah menginstruksikan percepatan perubahan APBD. Hal ini tengah dikoordinasikan dengan BKAD dan Penjabat Sekda Kotim.

    ”Dimungkinkan akan terjadi percepatan perubahan APBD,” jelasnya.

    Selain itu, berbagai langkah teknis juga disiapkan, mulai dari normalisasi saluran irigasi hingga pemanfaatan ring drain sebagai sumber air untuk pemadaman. BPBD juga telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan II.

    Multazam menegaskan, penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) hanya dapat dilakukan jika status bencana meningkat menjadi tanggap darurat. Saat ini, Kotim masih berada pada status siaga darurat.

    Sebagai informasi, Pemkab Kotim telah menetapkan status siaga darurat selama 185 hari, terhitung 8 April hingga 10 Oktober 2026.

    Penetapan tersebut disepakati dalam rakor bersama SOPD terkait, pada Selasa, (7/4/2026) lalu.

    ”Kita tidak berharap masuk ke status tanggap, karena itu sudah level ekstra,” katanya.

    Ia menjelaskan, penetapan status tanggap darurat tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus memenuhi parameter tertentu, seperti kejadian karhutla, penurunan muka air tanah hingga minus 40 selama satu minggu, serta peningkatan jumlah hotspot.

    ”Kalau muka air tanah minus 40, potensi kebakaran meningkat dan lahan sangat mudah terbakar. Puntung rokok saja bisa langsung menyala,” ujarnya.

    Multazam menambahkan, pada awal April jumlah hotspot sempat meningkat di kisaran dua hingga empat titik sebelum kembali menurun akibat hujan lokal berdurasi pendek yang menjadi tanda peralihan musim.

    ”Dengan berbagai indikator tersebut, kita menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini, baik dari pemerintah maupun masyarakat, agar dampak kekeringan dan karhutla dapat ditekan semaksimal mungkin,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Saat Perayaan Usai, Ancaman Lama Kembali Menyala

    Saat Perayaan Usai, Ancaman Lama Kembali Menyala

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lebaran baru saja berlalu. Riuh silaturahmi mulai mereda, jalanan yang sempat padat kembali lengang, dan aktivitas perlahan kembali ke ritme biasa. Namun di Kotawaringin Timur, ada sesuatu yang justru mulai kembali api.

    Siang itu, Rabu (25/3/2026), asap membumbung dari semak belukar di Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang. Tidak datang tiba-tiba. Ia seperti kelanjutan dari peringatan yang beberapa hari sebelumnya sudah disampaikan, namun belum benar-benar dirasakan.
    Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim turun ke lokasi, berjibaku menahan api agar tidak menjalar lebih luas di tengah kondisi lahan yang kering.

    “Titik kebakaran pertama sudah bisa diatasi pukul 15.23,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam.

    Kata “terkendali” mungkin memberi rasa lega. Tapi di musim seperti ini, ia seringkali hanya berarti: untuk sementara.

    Sebab di balik satu titik api, ada banyak potensi lain yang menunggu giliran.

    Dalam 24 jam terakhir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sejumlah hotspot di wilayah Kotim. Baamang hanya satu yang lebih dulu berubah menjadi kejadian nyata.

    Tak lama berselang, laporan lain masuk. Kali ini dari Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Titiknya masih dilacak, tapi sinyalnya jelas api mulai muncul di lebih dari satu lokasi, tepat setelah momen Lebaran berlalu.

    “Kami juga menerima laporan kebakaran dari arah Desa Eka Bahurui. Kami masih melacak titik koordinatnya,” kata Multazam.

    Kondisi ini sejalan dengan analisis BMKG, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah kini berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Cuaca kering, suhu panas, dan minimnya hujan menjadi kombinasi yang membuka ruang bagi api untuk tumbuh.

    Ironisnya, ini terjadi saat masyarakat baru saja melewati masa perayaan waktu di mana perhatian sering terpecah antara mudik, berkumpul, dan kembali ke rutinitas.

    Di sela-sela itu, potensi kebakaran sering luput dari perhatian.

    Padahal, di lahan gambut, api tak hanya menyala di permukaan. Ia bisa bersembunyi di bawah tanah, bergerak pelan, lalu muncul kembali di waktu yang tak terduga.

    BPBD kembali mengingatkan larangan membuka lahan dengan cara dibakar. Imbauan yang hampir selalu terdengar setiap tahun, namun kerap tak cukup kuat untuk mencegah kejadian serupa.

    Dua titik kebakaran dalam satu hari, tepat setelah Lebaran, menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla tidak mengenal jeda perayaan.

    Justru sebaliknya ia sering datang ketika kewaspadaan mulai menurun.

    Dan seperti yang berulang tiap tahun, semuanya bisa dimulai dari api kecil di semak. Hingga akhirnya, menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar peringatan. (***)