Tag: Kecamatan Baamang

  • Sinergi Lintas Negara di Sungai Keramat: Turis Norwegia Turun ke Sungai Gabung Aktivis Lingkungan Sampit

    Sinergi Lintas Negara di Sungai Keramat: Turis Norwegia Turun ke Sungai Gabung Aktivis Lingkungan Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Ada pemandangan yang tidak biasa di tengah tumpukan eceng gondok dan sampah yang menyumbat aliran sungai Sungai Keramat, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang, Senin (11/5/2026).

    Di antara puluhan relawan lokal yang berjibaku dengan lumpur, tampak seorang warga negara asing asal Norwegia yang ikut terjun langsung membersihkan saluran air. Kehadiran turis mancanegara ini menjadi tamparan sekaligus penyemangat bagi warga Sampit dalam menghadapi persoalan banjir yang tak kunjung usai.

    Aksi gotong royong ini digagas oleh kelompok aktivis lingkungan setempat sebagai respons atas seringnya banjir merendam pemukiman warga setiap kali hujan deras turun. Sekitar 50 orang relawan, mulai dari pemuda, unsur kecamatan, hingga petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH), terlibat dalam normalisasi sungai sepanjang 10 meter tersebut.

    Namun, keterlibatan wisatawan asal Norwegia itulah yang mencuri perhatian dan memberikan pesan kuat tentang pentingnya kepedulian lingkungan tanpa batas teritorial.

    Harie, salah satu penggerak aksi lingkungan di Sampit, menjelaskan bahwa gerakan ini murni berangkat dari keprihatinan kolektif. Ia menekankan bahwa selain tindakan fisik, misi utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai dampak buruk dari tumpukan sampah di drainase.

    “Karena banjir belakangan ini kami bergerak dan sekaligus memberikan edukasi juga ke masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kami tidak memaksa siapapun untuk ikut, intinya siapa saja yang peduli silakan bergabung,” kata Harie di sela-sela kegiatannya.

    Di tengah proses pengangkatan gulma dan sampah, suasana sempat tegang ketika relawan menemukan seekor ular piton sepanjang kurang lebih dua meter yang bersembunyi di semak liar yang lembap. Penemuan ini segera ditangani dengan evakuasi agar tidak membahayakan warga pemukiman padat penduduk tersebut. Harie kembali mengingatkan bahwa kondisi lingkungan yang kotor tidak hanya menghambat air, tetapi juga menjadi sarang bagi satwa berbahaya.

    “Dalam kegiatan ini kami tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Kami hanya ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sekitar karena dampaknya kembali lagi ke kita semua. Selain mengurangi risiko banjir, lingkungan yang bersih juga dapat meminimalkan kemunculan satwa liar,” tegasnya.

    Kegiatan yang berlangsung secara swadaya ini diharapkan mampu memantik kesadaran yang lebih luas di tengah masyarakat Kotim. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk keterlibatan spontan dari warga asing, para aktivis berharap normalisasi drainase tidak lagi hanya menjadi beban segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama demi kenyamanan hidup di Kota Sampit. (***)

  • Rumah Jarang Dihuni di Baamang Barat Terbakar, Instalasi Listrik Jadi Sorotan

    Rumah Jarang Dihuni di Baamang Barat Terbakar, Instalasi Listrik Jadi Sorotan

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Kepulan asap hitam tiba-tiba muncul dari atap sebuah rumah di Perumahan Wengga Jaya Agung Jalur 2, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Jumat pagi (8/5/2026). Dalam hitungan menit, suasana lingkungan yang semula tenang berubah panik.

    Warga berhamburan keluar rumah.

    Api terlihat membakar bagian atas bangunan milik Joner Sianipar, rumah yang diketahui memang jarang dihuni karena pemiliknya bekerja di kebun dan sedang pulang kampung ke Medan.

    Di kawasan permukiman padat seperti Wengga Jaya Agung, kobaran kecil di satu rumah bisa berubah menjadi bencana besar jika terlambat ditangani. Jarak antarbangunan yang rapat membuat warga langsung bergerak cepat sebelum api menjalar ke rumah lain.

    Sebagian warga membawa ember, sebagian lain mencoba memutus aliran listrik sambil menunggu petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi.

    Ketua RT 7/RW 2, Maskur Riyanto, menyebut sumber api diduga berasal dari korsleting kabel sambungan rumah (SR) dari tiang listrik menuju bangunan.

    Menurutnya, kondisi kabel sudah cukup memprihatinkan.

    “Kemungkinan dari kabel SR. Kabelnya banyak yang pecah-pecah. Setelah diputus malah keluar air,” ujar Maskur.

    Pernyataan itu langsung menyoroti persoalan yang kerap luput diperhatikan di banyak kawasan permukiman: instalasi listrik yang menua dan minim pemeriksaan berkala.

    Kabel sambungan yang rusak, terkelupas, atau lembap sering kali tetap digunakan bertahun-tahun tanpa penggantian. Dalam banyak kasus kebakaran rumah, masalah listrik hampir selalu muncul sebagai dugaan awal.

    Rumah yang terbakar sendiri diketahui tidak dihuni secara rutin.

    Menurut warga, pemilik lebih sering berada di lokasi kebun dan hanya sesekali pulang ke rumah. Saat kejadian, rumah dalam keadaan kosong karena pemilik sedang berada di Medan.

    Tak lama setelah laporan masuk, petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim bersama relawan dan BPBD tiba di lokasi. Mereka langsung memusatkan pemadaman pada bagian atap untuk mencegah api merembet ke bangunan sekitar.

    Salah seorang petugas Disdamkarmat Kotim, Supri, mengatakan kebakaran berhasil dikendalikan sebelum menghanguskan seluruh bangunan.

    “Yang terbakar hanya bagian atap, kemungkinan kurang dari 25 persen bangunan. Barang-barang di dalam rumah aman,” katanya.

    Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun insiden ini kembali menjadi alarm bagi warga di kawasan padat penduduk untuk lebih memperhatikan kondisi instalasi listrik rumah, terutama bangunan yang jarang ditempati dan minim pengawasan.

    Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. (***)