Tag: Kecamatan Kota Besi

  • Kebakaran Hebat Landa Desa Bajarum, Satu Rumah Ludes dalam Hitungan Menit

    Kebakaran Hebat Landa Desa Bajarum, Satu Rumah Ludes dalam Hitungan Menit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran hebat menghanguskan sebuah rumah warga di RT 6, Desa Bajarum, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu malam (19/7/2026). Kobaran api yang dengan cepat membesar membuat bangunan nyaris tak tersisa dan memicu kepanikan warga sekitar.

    Peristiwa yang terjadi di kawasan permukiman tepi jalan itu langsung mengundang perhatian warga. Berdasarkan video yang diterima, api berkobar hebat disertai kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke udara. Warga berhamburan menuju lokasi untuk membantu memadamkan api sekaligus menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dievakuasi.

    Sejumlah warga tampak berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sembari menunggu kedatangan petugas pemadam kebakaran. Di saat bersamaan, sebagian warga lainnya membantu mengevakuasi barang milik penghuni rumah agar tidak ikut dilalap api.

    Besarnya kobaran api juga sempat menyebabkan arus lalu lintas di ruas jalan depan lokasi kejadian melambat. Banyak pengendara memperlambat kendaraan untuk melihat proses pemadaman yang berlangsung.

    Salah seorang warga, Irwan, mengatakan rumah yang terbakar diduga milik seorang warga bernama Sanah.

    “Benar telah terjadi kebakaran,” ujarnya.

    Tak lama setelah laporan diterima, personel Pemadam Kebakaran Sektor Kota Besi tiba di lokasi dan langsung melakukan pemadaman. Petugas memusatkan upaya agar api tidak merembet ke rumah-rumah lain yang berada di sekitar lokasi.

    Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim, Heri Wahyudi, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, penanganan dilakukan oleh personel Pemadam Kebakaran Sektor Kota Besi.

    “Benar, yang melakukan pemadaman adalah personel Pemadam Kebakaran Sektor Kota Besi,” kata Heri.

    Berkat kerja sama petugas pemadam dan warga, kobaran api akhirnya berhasil dikendalikan sebelum meluas ke bangunan lain di sekitar lokasi.

    Hingga Minggu malam, penyebab kebakaran masih belum diketahui. Petugas masih melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.

    Sementara itu, aparat juga masih melakukan pendataan terhadap kerugian material serta mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran. Hingga berita ini ditulis, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. (***)

  • Tiga Dekade Terisolasi dalam Kubangan Janji Politik Perbaikan Jalan Desa Soren Menelanjangi Stagnasi Kronis Infrastruktur Pedalaman Kotim

    Tiga Dekade Terisolasi dalam Kubangan Janji Politik Perbaikan Jalan Desa Soren Menelanjangi Stagnasi Kronis Infrastruktur Pedalaman Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Paradoks pembangunan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali mempertontonkan wajah bopengnya di wilayah pedesaan. Di saat gerbong kepemimpinan daerah silih berganti memamerkan jargon kemajuan sipil, warga Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, justru dipaksa bertahan dalam situasi ironis. Akses jalan utama yang menjadi urat nadi kehidupan mereka dibiarkan rusak parah dan telantar tanpa sentuhan perbaikan tuntas sejak tahun 1997. Jalur sepanjang beberapa kilometer ini seolah menjadi monumen abadi pengabaian hak-hak dasar masyarakat pedalaman Bumi Tambun Bungai.

    Warisan Kerusakan Sejak Era Orde Baru dan Janji Manis Ekskavator

    Ketertinggalan infrastruktur yang mendera Desa Soren bukan lagi sekadar perkara teknis, melainkan sudah menjadi krisis ruang hidup yang diwariskan lintas generasi. Kerusakan jalan ini telah mengunci mobilitas warga selama hampir tiga dekade, melintasi era kepemimpinan berbagai presiden and bupati tanpa pernah menemui titik terang rekonstruksi yang permanen.

    Saifullah (26), salah seorang warga asli Desa Soren, mengungkapkan sebuah fakta pilu di mana usia kerusakan jalan tersebut jauh lebih tua daripada umur hidupnya sendiri. Sepanjang ingatannya, janji-janji politik perbaikan hanya datang menyerbu desa setiap kali musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tiba, untuk kemudian menguap begitu kontestasi usai.

    “Jalan rusak ini sudah ada dari zaman Presiden Soeharto tahun 1997. Berkali-kali ganti bupati di Kotim, jalan kami tetap seperti kubangan. Sempat ada pergerakan digarap menggunakan ekskavator di zaman Bupati Supian Hadi, tetapi setelah proyek seremonial itu selesai, jalannya ditinggalkan lagi begitu saja. Sampai hari ini tidak ada kelanjutan sama sekali,” ungkap Saifullah dengan nada getir, Senin (22/6/2026).

    Menurutnya, dampak dari hancurnya jalur logistik ini telah melumpuhkan hak esensial masyarakat di sektor pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga roda ekonomi harian. Warga harus bertaruh nyawa and kendaraan setiap kali hendak mengakses layanan publik ke luar desa.

    “Jalan ini adalah satu-satunya akses utama warga Soren untuk pergi bekerja, anak-anak berangkat sekolah, mengantar orang sakit berobat, hingga mengangkut hasil kebun. Namun kondisinya sangat memprihatinkan dan terus menyulitkan kehidupan masyarakat setiap hari,” tambahnya.

    Ketimpangan Spasial Antardesa dan Jerat Biaya Transportasi Air

    Secara pemetaan geografis, Desa Soren sebenarnya berada di koridor strategis yang menjepit jaringan antar-desa, yakni terletak di antara Desa Camba dan Desa Simpur. Jaraknya pun terhitung pendek, hanya berkisar 4 kilometer menuju Desa Camba and sekitar 1 kilometer membelah batas Desa Simpur. Namun, anomali pembangunan luar biasa terjadi di lapangan: infrastruktur di dua desa tetangga tersebut telah mulus dinikmati warga, sementara Desa Soren dibiarkan terisolasi dalam lumpur pekat.

    Diskriminasi pembangunan ini memukul telak urat nadi ekonomi petani lokal yang menggantungkan hidup pada komoditas perkebunan seperti karet and kelapa sawit. Karena jalur darat nyaris mustahil ditembus truk muatan tanpa amblas, sebagian warga terpaksa memutar otak dengan memanfaatkan jalur sungai untuk mendistribusikan hasil panen ke pusat kota Sampit.

    Namun, jalur alternatif air ini langsung mencekik margin keuntungan para petani kecil. Ongkos sewa kelotok and perahu mesin jauh lebih mahal dibandingkan moda transportasi darat, belum lagi risiko fluktuasi debit air sungai and faktor cuaca buruk yang sewaktu-waktu dapat menghentikan aktivitas pelayaran darurat tersebut.

     Kasus penelantaran Jalan Desa Soren di Kecamatan Kota Besi selama 29 tahun adalah bentuk kejahatan struktural birokrasi yang tidak bisa lagi ditoleransi dengan alasan keterbatasan anggaran. Angka hampir tiga dekade bukan waktu yang pendek; itu adalah durasi yang cukup untuk melahirkan satu generasi baru yang tumbuh dalam kondisi terisolasi. Fakta bahwa desa-desa tetangga seperti Camba and Simpur telah memiliki aspal yang layak membuktikan adanya tebang pilih dan manajemen prioritas yang buruk dalam cetak biru pembangunan Dinas PUPR Kotim.

    Kanal Independen mendeteksi adanya penyakit klasis birokrasi yang sengaja dipelihara dalam kasus ini, yaitu berlindung di balik ketidakjelasan status kewenangan jalan. Pemerintah daerah sering kali menggunakan tameng administratif apakah sebuah jalur berstatus jalan perusahaan, jalan provinsi, atau jalan desa sebagai pembenaran untuk saling lempar tanggung jawab. Padahal, para petani di Desa Soren adalah pembayar pajak yang sah dan berhak menerima kue pembangunan yang setara dengan warga di pusat kota Sampit.

    Sikap abai ini juga menunjukkan bahwa Pemkab Kotim di bawah kepemimpinan dari masa ke masa lebih gemar mengalokasikan anggaran bernilai miliaran rupiah untuk proyek-proyek kosmetik estetika di perkotaan demi citra politik, ketimbang membiayai infrastruktur produksi di wilayah hulu. Bupati Kotim bersama jajaran DPRD wajib segera menghentikan kebiasaan menerima laporan di atas meja kerja yang serba nyaman. Turunkan tim teknis ke lapangan, tetapkan kepastian hukum status jalan Soren, and anggarkan dana rekonstruksi total pada APBD perubahan tahun ini. Membiarkan warga Soren terisolasi sejak zaman Orde Baru hingga era digital 2026 adalah bukti nyata bahwa kemerdekaan infrastruktur belum menyentuh rakyat kecil di pedalaman. (***)

  • Kebakaran di Hanjalipan dan Dugaan ODGJ di Balik Hangusnya Rumah Kayu Warga

    Kebakaran di Hanjalipan dan Dugaan ODGJ di Balik Hangusnya Rumah Kayu Warga

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ketenangan malam di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, mendadak pecah menjadi kepanikan luar biasa pada Minggu (3/5/2026) malam. Sebuah musibah kebakaran hebat dilaporkan menghanguskan satu unit rumah kayu milik warga dalam waktu yang sangat singkat, meninggalkan puing arang dan tanda tanya besar mengenai penyebab di baliknya.

    Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar luas di tengah masyarakat, kobaran api tampak membumbung tinggi disertai asap hitam pekat yang menyelimuti area pemukiman. Karena material bangunan didominasi kayu, api merambat dengan sangat agresif sebelum bantuan resmi tiba di lokasi.

    Di tengah situasi genting tersebut, sejumlah warga secara spontan melakukan upaya pemadaman menggunakan peralatan seadanya. Dengan sumber air terbatas, mereka berjibaku menahan laju api agar tidak merembet ke bangunan lain di sekitarnya sembari menunggu kehadiran petugas pemadam kebakaran.

     Camat Kota Besi, Huzaifah, membenarkan terjadinya peristiwa yang meludeskan satu unit bangunan tersebut. Meski kerugian materiil diperkirakan cukup signifikan, ia memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Namun, fakta baru terungkap bahwa kebakaran ini diduga kuat dipicu oleh tindakan seorang pria yang merupakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

    “Diduga dilakukan ODGJ, saat ini diamankan pihak Kepolisian,” tegas Huzaifah pada Senin (4/5/2026).

    Senada dengan Camat, Kapolsek Kota Besi, Noor Ikhsan, juga mengonfirmasi bahwa terduga pelaku telah diamankan di Mapolsek untuk pemeriksaan lebih lanjut dan koordinasi dengan pihak terkait.

    “Benar, pelaku masih kita amankan di Polsek. Diduga ODGJ, dan saat ini masih berkoordinasi dengan pihak kecamatan,” ungkap Noor Ikhsan.

    Kanalindependen.id menilai insiden di Hanjalipan ini bukan sekadar musibah kebakaran biasa. Adanya keterlibatan ODGJ sebagai terduga pelaku membuka tabir mengenai pentingnya pengawasan dan penanganan khusus bagi warga dengan gangguan mental di tingkat desa agar tidak membahayakan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

    Rumah kayu yang rentan terhadap api dan minimnya alat pemadam dini menjadi kombinasi fatal dalam setiap kebakaran di Kotawaringin Timur. Penegakan hukum dan pendataan kerugian kini sedang berjalan, namun pekerjaan rumah yang lebih besar adalah memastikan peristiwa serupa tidak kembali menghantui warga di tengah lelapnya malam. (***)

  • Hanjalipan Membara, Satu Rumah Kayu Warga Ludes dalam Sekejap di Tengah Keheningan Malam

    Hanjalipan Membara, Satu Rumah Kayu Warga Ludes dalam Sekejap di Tengah Keheningan Malam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Malam yang tenang di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, mendadak berubah menjadi mencekam pada Minggu (3/5/2026) malam. Amukan si jago merah dilaporkan menghanguskan sebuah rumah kayu milik warga dalam waktu yang sangat singkat, memicu kepanikan luar biasa di tengah pemukiman.

    ​Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar luas, lidah api terlihat membubung tinggi disertai asap hitam pekat yang menyelimuti langit malam. Karena material bangunan didominasi oleh kayu, api merambat dengan sangat agresif dan melahap seluruh struktur bangunan sebelum sempat dipadamkan sepenuhnya.

    ​Dalam situasi genting tersebut, warga setempat bahu-membahu mencoba menjinakkan api dengan peralatan seadanya. Menggunakan ember dan pompa air kecil, mereka berjibaku mencegah api merembet ke bangunan lain di sekitarnya sambil menunggu bantuan dari petugas pemadam kebakaran.

    ​Camat Kota Besi, Huzaifah, membenarkan terjadinya musibah tersebut melalui konfirmasi singkat kepada media. Ia menyatakan bahwa meskipun kerugian materiil diperkirakan cukup besar, tidak ada laporan mengenai adanya korban jiwa dalam insiden ini.

    ​“Satu rumah terbakar, tidak ada korban jiwa,” tegas Huzaifah saat memberikan konfirmasi mengenai dampak kebakaran tersebut.


    ​Hingga laporan ini diturunkan, penyebab pasti munculnya api masih dalam tahap penyelidikan pihak kepolisian. Petugas juga masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah kerugian total yang diderita oleh pemilik rumah.

    ​Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami memandang musibah ini sebagai pengingat keras bagi masyarakat di wilayah pedesaan. Rumah kayu, meski merupakan bagian dari tradisi dan kebutuhan lokal, memiliki risiko kebakaran yang jauh lebih tinggi jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan pada instalasi listrik dan penggunaan sumber api terbuka. Kecepatan api melahap rumah di Hanjalipan adalah bukti nyata bahwa edukasi mengenai pencegahan kebakaran di tingkat desa harus terus diperkuat (***)