Tag: kenaikan harga

  • Lonjakan Ugal-ugalan Harga Sembako di Awal Juli Memaksa Konsumen Sampit Memangkas Belanjaan

    Lonjakan Ugal-ugalan Harga Sembako di Awal Juli Memaksa Konsumen Sampit Memangkas Belanjaan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Tekanan ekonomi di tingkat domestik kian menghimpit ruang gerak masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki pekan kedua Juli 2026. Semburan harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Sampit dilaporkan mengalami lonjakan gila-gilaan and tidak terkendali. Berdasarkan pantauan riil di tingkat tapak, penyesuaian harga sepihak dari koridor pemasok hulu kini memaksa para konsumen mengambil langkah ekstrem dengan memangkas volume belanjaan harian mereka secara drastis demi menyiasati keterbatasan anggaran dapur.

    Daftar Kenaikan Harga Sembako di Pasar Al Kamal yang Kian Mencekik

    Sirkuit transaksi di salah satu pasar tradisional di Sampit pada Rabu (8/7/2026) merekam potret lesunya aktivitas jual beli. Meskipun perputaran barang tetap berjalan normal, para pedagang mengeluhkan kemerosotan daya beli masyarakat karena konsumen memilih selektif and mengurangi kuantitas belanjaan mereka secara masif.

    Manifes pergerakan harga komoditas pangan and hortikultura di pasar tradisional:

    • Terong: Mencatat lonjakan paling radikal, melejit dari harga semula Rp15 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram atau mengalami kenaikan sebesar Rp10 ribu dalam waktu singkat.
    • Beras Kemasan (5 Kilogram): Komoditas karbohidrat utama ini ikut terkerek naik dari harga Rp80 ribu—Rp88 ribu menjadi Rp90 ribu hingga Rp97 ribu per kemasan, hampir menembus angka seratus ribu rupiah.
    • Bawang Putih: Mengalami eskalasi harga yang cukup tinggi, dari sebelumnya dijual kisaran Rp35 ribu—Rp40 ribu kini bertengger kokoh di angka Rp45 ribu per kilogram.
    • Bawang Merah: Masih terjebak dalam tren fluktuasi yang tidak stabil and cenderung mahal, dipatok pada kisaran Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

    “Harga barang pokok ini rata-rata naik karena kami mengikuti harga dari pemasok hulu. Kalau harga dari distributor sana sudah naik, otomatis harga jual kami di pasar juga ikut naik. Akibatnya banyak pembeli yang protes and memilih mengurangi jumlah timbangan belanjaan mereka,” urai Dina, salah seorang pedagang sayur di Pasar Al Kamal.

    Data Inflasi Sebagai Pembanding Nyata Lonjakan Harga Bulan Ini

    Pahitnya lonjakan harga sembako di awal Juli ini terasa jauh lebih menekan jika dikomparasikan dengan kondisi bulan sebelumnya. Berdasarkan manifes data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur, angka inflasi tahunan (year-on-year) Kota Sampit pada Juni 2026 sebenarnya sudah bertengger di level tinggi sebesar 4,02 persen, dengan inflasi bulanan (month-to-month) Juni sebesar 0,28 persen.

    Namun, Kepala BPS Kotim Eddy Surahman menjelaskan bahwa pemicu utama inflasi pada Juni lalu didominasi oleh kelompok non-pangan, seperti kenaikan harga emas perhiasan, fluktuasi Bahan Bakar Minyak (BBM), serta mahalnya tarif angkutan udara. Bahkan pada periode Juni tersebut, beberapa komoditas pangan esensial seperti cabai rawit, bawang merah, and tomat sempat mencatat penurunan harga (deflasi) yang memberikan sedikit napas lega bagi warga.

    Sirkuit infleksi ini berbalik arah secara ugal-ugalan saat memasuki siklus Juli. Penurunan harga pangan di bulan lalu terbukti hanya menjadi ilusi sesaat. Begitu kalender bergeser ke bulan Juli, benteng harga pangan langsung jebol beruntun, dipimpin oleh beras and kelompok hortikultura yang harganya melonjak melampaui batas kewajaran komparasi bulan lalu akibat dinamika pasokan distributor.

    Meroketnya harga beras and kelompok sayuran seperti terong hingga memaksa emak-emak di Sampit memangkas belanjaan adalah bukti nyata dari rapuhnya ketahanan pangan and mandulnya pengawasan tata niaga di Kotim. Alasan klasik mengenai “perubahan pasokan dari distributor” yang selalu diproduksi berulang kali adalah indikasi kuat bahwa sirkuit distribusi pangan di Sampit telah total disandera oleh gurita kartel spekulan yang mendikte pasar secara sepihak. Sangat memalukan melihat komoditas lokal sekelas terong and sayuran harganya harus melonjak hingga Rp25 ribu per kilogram hanya karena kelengahan pemerintah daerah dalam mengamankan sirkuit pasokan lokal di awal kemarau ini.

    Kanal Independen memberikan catatan kritis and tajam terhadap kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotim. Ketika harga beras kemasan 5 kilogram sudah merayap naik mendekati Rp100 ribu, ini bukan lagi sekadar dinamika pasar biasa, melainkan sinyal bahaya pengetatan perut rakyat miskin Sampit. TPID and Dinas Perdagangan tidak boleh hanya bersikap pasif and berlindung di balik data statistik bulanan BPS.

    Lakukan intervensi radikal ke lapangan sekarang juga. Audit gudang-gudang penyimpanan milik distributor besar di wilayah Kotim, potong jalur tengkulak nakal yang sengaja menahan pasokan untuk memicu kelangkaan buatan, and gelar operasi pasar murah sembako secara masif di tingkat kelurahan.

    Jika tata niaga pangan ini dibiarkan berjalan tanpa adanya tindakan represif and sanksi pencabutan izin usaha bagi distributor ugal-ugalan, maka daya beli masyarakat Sampit akan terus diperas habis and warga kelas bawah dipaksa kelaparan di tengah kemilau tingginya harga pasar. (***)

  • Daya Beli Warga Sampit Dikuras Cekaman Inflasi 4,02 Persen: Lonjakan Harga Emas, Bensin, dan Biaya Sekolah Mencekik Rakyat

    Daya Beli Warga Sampit Dikuras Cekaman Inflasi 4,02 Persen: Lonjakan Harga Emas, Bensin, dan Biaya Sekolah Mencekik Rakyat

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Tekanan ekonomi yang menghimpit masyarakat di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kian tidak menunjukkan tanda-tanda mereda memasuki pertengahan tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotim merilis manifes angka inflasi tahunan (year-on-year) Juni 2026 yang meroket menyentuh angka 4,02 persen. Grafik mengkhawatirkan ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, mengonfirmasi bahwa biaya hidup di Bumi Tambun Bungai semakin menyengat and daya beli riil masyarakat sedang berada dalam posisi terancam.

    Manifes Metrik BPS: Emas Perhiasan dan Sektor Transportasi Jadi Motor Utama

    ​Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, membeberkan bahwa riak kenaikan harga barang and jasa pada Juni 2026 juga mencatatkan inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month) serta mengunci angka 2,63 persen untuk indeks tahun kalender (year-to-date).

    ​”Inflasi masih dipengaruhi oleh kenaikan harga pada beberapa kelompok pengeluaran yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap pembentukan Indeks Harga Konsumen,” urai Eddy Surahman lewat Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kotim.

    ​Berdasarkan sirkuit data taktis BPS, terdapat dua kelompok pengeluaran dominan yang bertindak sebagai motor penggerak utama dalam menguras isi dompet warga secara masif:​Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: Menjadi penyumbang andil inflasi terbesar, yakni mencapai 0,75 persen, yang didorong secara agresif oleh tren kenaikan harga komoditas emas perhiasan di pasaran. ​Kelompok Transportasi: Memberikan andil destruktif sebesar 0,71 persen, dipicu oleh fluktuasi kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas kendaraan bermotor, hingga bahan bakar solar.

    Sektor Pangan Olahan dan Pendidikan Ikut Membakar Indeks Harga

    ​Sirkuit kenaikan harga juga merembet ke sektor kebutuhan perut harian melalui kelompok penyediaan makanan and minuman atau restoran dengan andil inflasi sebesar 0,29 persen. Berbagai menu makanan siap saji yang dikonsumsi masyarakat kelas pekerja, seperti nasi dengan lauk, ayam goreng, hingga ikan bakar, kompak merangkak naik and memperparah pengeluaran harian rumah tangga.

    ​Tak kalah mencekik, kelompok pendidikan turut menyumbang andil inflasi sebesar 0,14 persen. Kenaikan pada sektor ini dipicu oleh momentum pendaftaran tahun ajaran baru yang mendongkrak biaya bimbingan belajar (bimbel), taman kanak-kanak (TK), hingga jenjang perguruan tinggi.

    ​Kendati demikian, laju inflasi Juni ini sedikit tertahan oleh penurunan harga (deflasi) pada beberapa komoditas hortikultura spesifik, seperti cabai rawit, bawang merah, and tomat. BPS menegaskan bahwa pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) ini wajib menjadi bahan evaluasi dan perhatian bersama bagi pemerintah daerah guna merumuskan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di tingkat tapak.

    ​Inflasi tahunan Sampit yang menembus angka 4,02 persen adalah alarm merah yang membongkar rapuhnya ketahanan ekonomi domestik Kotim. Angka 4,02 persen ini bukan sekadar statistik dingin di atas kertas meja birokrat, melainkan wujud nyata dari penurunan drastis kesejahteraan masyarakat pekerja di Sampit. Ketika komponen utama inflasi digerakkan oleh komoditas fatal seperti bensin, solar, makanan siap saji, and biaya pendidikan, maka kelompok masyarakat miskin and menengah ke bawahlah yang dipaksa menanggung beban hidup paling berat. Kenaikan biaya sekolah dari level TK hingga perguruan tinggi di tengah situasi ini adalah ironi besar yang mengancam masa depan and akses keadilan pendidikan anak-anak di Kotim.

    ​Kanal Independen menilai kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotim terkesan mandul and hanya bertindak sebagai pencatat administratif yang pasif. Mengandalkan penurunan harga cabai rawit atau bawang merah untuk menahan laju inflasi adalah bentuk kelengahan tata kelola ekonomi. TPID and Dinas Perdagangan seharusnya melakukan intervensi pasar radikal terhadap rantai pasok transportasi, tata niaga agen, and logistik bahan bakar yang menjadi hulu dari segala kenaikan harga barang harian.

    ​Pemerintah daerah tidak boleh hanya berlindung di balik kalimat “terus memantau”. Aktifkan operasi pasar murah secara masif and tersentralisasi di pemukiman padat, batasi margin keuntungan spekulatif para agen transportasi, and awasi secara represif tarif institusi pendidikan agar tidak ugal-ugalan menaikkan biaya di awal tahun ajaran baru. Jika pengawasan distribusinya tetap dibiarkan longgar tanpa kendali struktural yang berani, maka dalam beberapa bulan ke depan, inflasi ini akan meledak menjadi krisis daya beli akut yang melahirkan kantong-kantong kemiskinan baru di Kotim. (***)

  • Harga Komoditas di Sampit Melonjak, Pemkab Kotim Siapkan Pasar Murah hingga Libatkan BUMD

    Harga Komoditas di Sampit Melonjak, Pemkab Kotim Siapkan Pasar Murah hingga Libatkan BUMD

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kenaikan sejumlah komoditas di pasar tradisional Kota Sampit, mendorong Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) turun langsung melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok.

    Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas inflasi daerah sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.

    Pemantauan dilakukan di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) dan Pasar Keramat, Sampit, dengan melibatkan Forkopimda, Bulog, Badan Pusat Statistik (BPS), Satgas Saber Pangan, instansi terkait.

    Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Setda Kotim, Rafiq Riswandi, mengatakan kegiatan ini tidak hanya untuk melihat kondisi harga di lapangan, tetapi juga membangun sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha.

    ”Pertama, kita ingin melihat sejauh mana tingkat ketersediaan dan harga komoditas untuk menjaga dan menstabilkan inflasi daerah. Kedua, kita berharap ada sinergi antara pemerintah daerah, Forkopimda, dan pelaku usaha agar tercipta keseimbangan harga dan pasokan barang di pasar,” ujar Rafiq Riswandi saat diwawancara usai pemantauan harga selesai dilakukan di Kantor Kecamatan Baamang, Jumat (10/4/2026).

    Dari hasil pantauan, ditemukan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan, dengan yang paling mencolok justru berasal dari komoditas non-pangan, yakni plastik.

    Kenaikan harga plastik bahkan bervariasi mulai dari 20 persen hingga mencapai 100 persen, dengan harga yang dalam beberapa kasus menembus Rp100 ribu.

    Menurut Rafiq, kenaikan ini dipicu oleh ketergantungan pasokan dari luar daerah, khususnya Pulau Jawa, serta meningkatnya biaya distribusi.

    ”Plastik ini diambil dari luar daerah. Kenaikan sudah terjadi di tingkat agen di sana, kemudian ditambah biaya ekspedisi. Ini yang agak sulit kita cari solusinya dan akan kita diskusikan bersama,” jelasnya.

    Meski mengalami lonjakan signifikan, ia menegaskan bahwa plastik bukan komoditas yang berpengaruh besar terhadap inflasi karena bukan barang konsumsi langsung.

    ”Yang paling mempengaruhi inflasi kita adalah sembako seperti beras, minyak goreng, sayur dan daging. Plastik ini hanya penunjang dan bisa dipakai beberapa kali,” tegasnya.

    Selain plastik, kenaikan juga terjadi pada daging sapi, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Harga yang sebelumnya berkisar  Rp150.000 per kilogram sempat naik menjadi Rp180.000, dan saat ini kembali stabil dikisaran Rp150-160 ribu per kilogram.

    Kenaikan juga terpantau pada komoditas beras, khususnya jenis Siam Epang. Namun kenaikannya relatif kecil, dari sekitar Rp18.000 menjadi Rp19.000 per kilogram.

    Rafiq menjelaskan, kenaikan beras ini dipengaruhi oleh faktor musim dan pola tanam petani, terutama di wilayah selatan.

    ”Beras Siam Epang ini sangat bergantung pada kondisi musim. Saat ini penanamannya berkurang karena musim paceklik dan masa panennya hanya sekali setahun. Banyak lahan yang dialihkan ke varietas yang bisa panen tiga bulan sekali,” ungkapnya.

    Di sisi lain, beberapa komoditas lain yang mengalami penurunan harga seperti bawang merah dari Rp48.000 menjadi Rp45.000 per kilogram.

    Di tingkat agen, harga bawang merah bahkan berada di kisaran Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Sedangkan, bawang putih masih stabil diharga Rp 35 ribu per kg.

    Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotim menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menekan dampak kenaikan harga terhadap masyarakat.

    Untuk jangka pendek, pemerintah akan terus menggelar pasar murah sebagai upaya intervensi langsung di lapangan.

    ”Langkah pertama yang kita lakukan adalah ekspansi pasar melalui pasar murah yang sudah beberapa kali dilaksanakan,” ujar Rafiq.

    Untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah berencana melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam distribusi bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.

    ”Kita berupaya mengambil terobosan dengan melibatkan BUMD untuk membuka semacam minimarket atau tempat penjualan dengan harga lebih murah. Kita butuh pelaku usaha yang bisa menawarkan harga lebih rendah agar pedagang lain ikut menyesuaikan harga,” jelasnya.

    Ia menambahkan, langkah tersebut masih akan dirumuskan lebih lanjut bersama struktur organisasi perangkat daerah (SOPD) terkait.

    ”Melalui pemantauan rutin dan intervensi yang terukur, kita berharap harga komoditas tetap terkendali, inflasi daerah terjaga, dan masyarakat tidak terbebani oleh lonjakan harga di pasaran,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Secangkir Kopi dan Siasat Bertahan: Saat Kafe di Sampit Menjaga Rasa di Tengah Harga yang “Mendidih”

    Secangkir Kopi dan Siasat Bertahan: Saat Kafe di Sampit Menjaga Rasa di Tengah Harga yang “Mendidih”

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di atas meja kayu itu, kepul uap dari cangkir kopi masih terlihat sama. Aromanya tetap akrab, hangat, dan menenangkan. Namun, di balik ketenangan itu, ada keresahan yang ikut menyeduh: biaya operasional yang diam-diam merangkak naik, menekan napas para pelaku usaha dari belakang.

    Di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, kafe bukan sekadar tempat menyesap kafein. Ia telah menjelma menjadi ruang hidup kantor bagi pekerja lepas, tempat diskusi para aktivis, hingga pelarian sejenak bagi mereka yang enggan buru-buru pulang. Setiap sore, kursi-kursi itu hampir selalu menemukan tuannya.

    Namun belakangan, ritme nyaman itu mulai diuji oleh angka-angka di atas kertas tagihan.

    Kenaikan harga bahan baku memaksa para pemilik kafe mengambil keputusan yang tak pernah mudah: menaikkan harga menu dan berisiko kehilangan pelanggan, atau menelan kerugian demi menjaga kesetiaan mereka.

    Di Kafe Along, Jalan Gatot Subroto Sampit, tekanan itu nyata adanya. Muhammad Asary, sang pemilik, harus memutar otak menghadapi lonjakan biaya yang datang bertubi-tubi.

    “Gelas cup dan plastik untuk take away naiknya sampai 40 persen. Itu yang paling terasa. Belum lagi susu UHT dan telur yang ikut-ikutan naik,” ujar Asary, Jumat (3/4/2026).

    Bagi Asary, ini bukan soal angka semata, tapi soal keseimbangan. Menjaga kualitas rasa adalah harga mati, namun ruang untuk menaikkan harga jual sangatlah sempit.

    “Kalau tidak disesuaikan, biaya operasional bisa over. Tapi kalau dinaikkan drastis, kami juga memikirkan pelanggan,” tambahnya.

    Jalan tengahnya? Penyesuaian bertahap. Sebuah kompromi paling realistis agar mesin espresso tetap menyala dan pelanggan tidak lari.

    Di sisi lain meja, para pelanggan pun mulai berhitung. Abu, seorang pekerja di industri kreatif, adalah salah satu yang masih setia. Baginya, kafe adalah “kantor kedua” yang menawarkan atmosfer yang tak bisa ia temukan di rumah.

    “Saya masih tetap ke kafe. Kopinya enak, suasananya juga mendukung untuk kerja. Karena saya nggak kerja di kantor, keberadaan kafe itu penting sekali,” tutur Abu.

    Bagi orang seperti Abu, kenaikan harga mungkin terasa, namun belum cukup untuk mengubah rutinitasnya. Meski begitu, tidak semua orang berada di posisi yang sama. Di tengah biaya hidup yang kian mencekik, pengeluaran untuk sekadar “nongkrong” mulai dipertimbangkan ulang dengan sangat hati-hati.

    Pada akhirnya, kafe dan pelanggan kini berada di perahu yang sama: sama-sama sedang berusaha bertahan. Pemilik kafe berjuang menjaga standar tanpa mengusir pelanggan, sementara pelanggan mencoba mempertahankan gaya hidup tanpa harus mengorbankan terlalu banyak isi dompet.

    Di Sampit, secangkir kopi kini memuat lebih dari sekadar kenikmatan pahit dan manis. Ia menjadi simbol kompromi antara kenyamanan ruang dan realita ekonomi yang kian menantang. Cerita ini terus berlanjut di setiap seduhan, perlahan, dan tanpa banyak suara. (***)

  • Dari Timur Tengah ke Lapak Sampit,Saat Plastik Menjelma Barang Mewah

    Dari Timur Tengah ke Lapak Sampit,Saat Plastik Menjelma Barang Mewah

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kenaikan harga plastik mungkin terdengar seperti kabar ekonomi yang jauh dan abstrak. Namun di sudut-sudut pasar Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dampaknya terasa sangat nyata: lapak yang mulai sepi, pelanggan yang lebih banyak menimbang harga, hingga pedagang yang harus menghitung ulang setiap rupiah agar dapur tetap mengepul.

    Sejak pertengahan Ramadan lalu, harga plastik merangkak naik. Awalnya perlahan, lalu melonjak tajam. Kenaikannya kini tak main-main, berkisar dari 25 persen hingga menyentuh angka ekstrem 150 persen untuk jenis tertentu.

    Wahyu, salah satu pedagang plastik di Sampit, merasakan betul bagaimana gairah belanja di tokonya mendingin. “Naiknya bertahap, tapi sekarang ada yang sampai 150 persen. Yang paling gila itu plastik bening,” ceritanya dari balik tumpukan dagangan.

    Dampaknya langsung terasa ke kantong. Pelanggan yang biasanya memborong, kini datang dengan catatan belanja yang sudah dipangkas habis.

    “Orang sekarang beli seperlunya saja. Otomatis omzet kami terjun bebas,” keluh Wahyu.

     Siapa sangka, apa yang terjadi di Sampit adalah bagian dari rantai panjang konflik global. Gangguan pasokan bahan baku plastic seperti nafta dan resin rupanya merupakan imbas ketegangan di Timur Tengah yang mengacaukan jalur distribusi dunia.

    Artinya, kenaikan ini bukan soal stok yang sengaja ditahan di gudang lokal, melainkan efek domino dari panasnya suhu politik internasional. Wahyu pun tak berani pasang harapan tinggi. “Kalau konfliknya terus berlanjut, harganya bisa makin tak masuk akal,” ujarnya masygul.

    Di Pasar Keramat, Iyan juga merasakan tekanan yang sama. Ia merinci beberapa jenis plastik yang harganya melompat drastis dalam waktu singkat. Plastik kemasan es misalnya, naik dari Rp34 ribu menjadi Rp55 ribu per pak. Sementara plastik cup minuman melonjak dari Rp320 ribu ke Rp465 ribu per dus. Bahkan, kantong plastik biasa yang sering kita pakai sehari-hari harganya kini sudah dua kali lipat.

    Kenaikan ini merambat cepat ke sektor kuliner. Supri, seorang pedagang mie ayam, terpaksa mengubah kebiasaan belanjanya agar usahanya tidak gulung tikar.

    “Dulu berani stok sampai lima pak, sekarang beli satu-satu saja dulu sambil melihat harga,” kata Supri.

    Bagi pedagang kecil seperti Supri, situasinya seperti memakan buah simalakama. “Mau menaikkan harga mie, kasihan pembeli. Tapi kalau harga tetap, biaya bungkusnya saja sudah naik terus,” curhatnya.

    Dilema ini memotret tekanan berlapis yang dihadapi pelaku usaha kecil: antara keinginan mempertahankan pelanggan atau sekadar bertahan hidup. Di tengah ketidakpastian ini, harapan mereka sebenarnya sederhana saja harga kembali stabil.

    Namun, selama konflik di belahan dunia sana masih membara, harapan itu terasa seperti menunggu sesuatu yang tak sepenuhnya bisa mereka kendalikan. Di Sampit, dunia yang jauh itu ternyata terasa begitu dekat bahkan sampai ke plastik pembungkus mie ayam di pinggir jalan. (***)