Tag: KNKT

  • Puing Raksasa Kembali Ditemukan di Agro Bukit Kotim: Objek Berukuran Besar di Blok H-27 Perluas Zona Sebaran Roket China Zhuque 2E

    Puing Raksasa Kembali Ditemukan di Agro Bukit Kotim: Objek Berukuran Besar di Blok H-27 Perluas Zona Sebaran Roket China Zhuque 2E

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Teka-teki dan kepanikan akibat jatuhnya sampah antariksa (space debris) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali berlanjut. Hanya berselang sehari setelah ditemukannya serpihan roket di Blok G.37/38, warga dan pekerja perkebunan sawit PT Agro Bukit, Kilometer 26 Jalan Sampit–Pangkalan Bun, kembali mendapati benda misterius berukuran besar terserak di Blok H-27, Selasa (20/10/2026).

    Penemuan puing raksasa terbaru ini memperluas radius persebaran komponen material luar angkasa yang jatuh menembus atmosfer Kotim usai memicu dentuman dahsyat pada Minggu (18/10/2026) petang.

    Warga setempat, Ismail, mengonfirmasi bahwa lokasi ditemukannya puing kedua tersebut masih berada di dalam lanskap area konsesi perkebunan PT Agro Bukit.

    “Ya, dapat lagi serpihannya di Agro Bukit, Blok H-27, Km 26 Sampit–Pangkalan Bun. Ukurannya besar,” ungkap Ismail mengonfirmasi temuan tersebut, Selasa (20/10/2026).

    Perluas Zona Dampak Jatuhnya Roket Zhuque 2E, Dievakuasi Bersama TNI–Polri

    Sebelumnya, otoritas Bandara H. Asan Sampit bersama BRIN dan KNKT telah memverifikasi bahwa puing pertama di Blok G.37/38 merupakan bagian dari roket pembawa satelit milik China, Zhuque 2E, berdasarkan stampel kode manufaktur 2ZQE31-20-15.

    Temuan benda berukuran besar di Blok H-27 diduga kuat merupakan bagian utama (main stage) atau tangki pendorong tambahan (booster) dari roket Zhuque 2E yang pecah berhamburan saat mengalami gesekan ekstrem (re-entry) di atmosfer bumi.

    Meskipun BRIN menyatakan bahwa analisis serpihan pertama bebas dari paparan racun radiatif, penemuan puing berukuran besar di Blok H-27 menuntut kewaspadaan tingkat tinggi. Otoritas TNI, Polri, dan BPBD Kotim telah bergerak melokalisasi area guna melakukan sterilisasi serta evakuasi susulan menuju Lanud Iskandar Pangkalan Bun.

    Bertambahnya temuan objek raksasa di Blok H-27 mempertegas fakta bahwa area perkebunan PT Agro Bukit Km 26 merupakan zona hantaman utama (impact zone) guguran roket China Zhuque 2E. Membiarkan pekerja kebun beraktivitas tanpa penyisiran menyeluruh adalah tindakan berbahaya yang mempertaruhkan keselamatan jiwa.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Gelar Penyisiran Udara dan Darat Gabungan (Sweeping Zone): Polres Kotim, Kodim 1015/Sampit, dan manajemen PT Agro Bukit didesak menerjunkan tim gabungan atau drone pemantau untuk menyisir seluruh blok perkebunan di Km 26. Langkah ini krusial guna memastikan tidak ada puing tajam atau komponen berbahaya lain yang tersembunyi di rimbunnya kelapa sawit.

    2. Edukasi Keras Larangan Memindahkan Puing: Pemkab Kotim dan Kepolisian dituntut mengeluarkan maklumat resmi agar warga serta buruh sawit tidak mendekat, membongkar, atau mengambil komponen kabel/logam dari puing roket sebagai cenderamata sebelum diverifikasi penuh oleh tim ahli BRIN dan KNKT. (***)

  • Misteri Dentuman Kotim Terkuak: Kode 2ZQE31-20-15 Ungkap Serpihan Roket Satelit China Zhuque 2E Jatuh di Perkebunan Agro Bukit

    Misteri Dentuman Kotim Terkuak: Kode 2ZQE31-20-15 Ungkap Serpihan Roket Satelit China Zhuque 2E Jatuh di Perkebunan Agro Bukit

    SAMPIT, Kanalindependen.id– Teka-teki besar di balik suara dentuman dahsyat yang menggentarkan kaca rumah warga di sejumlah kecamatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Minggu (18/10/2026) petang akhirnya terang benderang. Benda asing berstruktur logam berkabel yang sebelumnya diduga warga sebagai bangkai pesawat di area perkebunan PT Agro Bukit Km 26 dipastikan merupakan puing sampah antariksa (space debris) dari roket pembawa satelit milik China, Zhuque 2E.

    Kepastian ini diperoleh setelah jajaran Bandara H. Asan Sampit, TNI, Polri, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi deretan serial kode penanda yang tertera pada badan serpihan, yakni 2ZQE31-20-15.

    Person in Charge (PIC) Civil Aviation Publication Team (CAPT) Bandara H. Asan Sampit, Zachrudien, mengonfirmasi bahwa hasil koordinasi lintasan atmosfer (reentry path) oleh Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN mencatat roket tersebut jatuh menembus atmosfer Kotim pada Minggu (18/10/2026) pukul 17.36 WIB.

    Selisih waktu ini sangat presisi dengan dentuman keras yang dilaporkan warga pada pukul 17.39 WIB di Kecamatan Cempaga Hulu, Telawang, Mentawa Baru Ketapang, dan Baamang.

    “Kami sudah berkoordinasi dengan KNKT dan BRIN terkait hasil temuan kami di lokasi. Berdasarkan informasi dari BRIN, serpihan tersebut merupakan bagian dari roket China Zhuque 2E. KNKT juga telah memastikan ke AirNav Indonesia dan operator penerbangan bahwa tidak ada pesawat yang hilang kontak,” tegas Zachrudien, Senin (19/10/2026).

    Dievakuasi ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun, BRIN Pastikan Bebas Racun

    Guna mengamankan barang bukti sekaligus mengantisipasi potensi bahaya di lingkungan perkebunan sawit, tim gabungan TNI, Polri, dan otoritas penerbangan telah mengevakuasi seluruh puing roket Zhuque 2E dari Blok G.37/38 PT Agro Bukit menuju Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Iskandar di Pangkalan Bun.

    Hasil analisis awal dari BRIN menunjukkan bahwa material roket pembawa satelit tersebut tidak mengandung bahan kimia beracun atau radiatif yang membahayakan ekosistem sekitar.

    Meski demikian, pihak otoritas tetap meminta masyarakat di kawasan perkebunan dan permukiman untuk segera melapor dan tidak menyentuh secara langsung jika masih menemukan serpihan kecil susulan di areal lahan.

    Terkuaknya misteri jatuh roket Zhuque 2E milik China di atas tanah Kotim merupakan bukti nyata tingginya risiko ancaman jatuhnya sampah antariksa di wilayah pemukiman dan perkebunan. Kejadian ini tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa karena benturan objek antariksa berkecepatan tinggi berpotensi menimbulkan korban jiwa atau kerusakan fatal pada fasilitas publik.

    Pemerintah Pusat melalui Kementerian Luar Negeri, BRIN, dan Kemenhub didesak untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terkait kepemilikan roket Zhuque 2E. Hal ini penting guna memastikan pertanggungjawaban internasional sesuai Outer Space Treaty 1967 dan Liability Convention 1972 jika terjadi kerusakan di lokasi jatuhnya puing.

    BRIN dan AirNav Indonesia dituntut meningkatkan sistem pemantauan lintasan benda langit secara real-time dan memberikan peringatan dini (early warning) kepada Pemkab serta Satgas Bencana di daerah apabila terdapat potensi jatuhnya puing roket di jalur udara Indonesia. (***)