Tag: Komunitas Peduli Kotim

  • Menambal Dahaga Pesisir: Komunitas Peduli Kotim Terjang Pasang Surut Mentaya Pasok Air Bersih

    Menambal Dahaga Pesisir: Komunitas Peduli Kotim Terjang Pasang Surut Mentaya Pasok Air Bersih

    SAMPIT, kanalindependen.id – Air bersih memancar deras dari moncong selang, memecah dahaga drum-drum plastik dan galon yang berjejer menanti giliran di atas titian kayu.

    Gulungan selang besar tampak melingkar pasrah di atas geladak baja kapal LCT berkapasitas 50 ton.

    Pemandangan pada Sabtu (31/10/2026) tersebut terekam dalam dokumentasi penyaluran air oleh Komunitas Peduli Kotim (KPK) bersama anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Eddy Mashamy dan Wahito Fajriannoor ke beberapa desa di Kecamatan Pulau Hanaut.

    ”Bantuan ini sebagai wujud kepedulian KPK bersama pihak terkait dalam mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat,” kata Wakil Ketua Komunitas Peduli Kotim, Riduwan Kesuma.

    Kelompok masyarakat yang diketuai Audy Valent ini konsisten membelah jalur kemarau, mendistribusikan air bersih di tengah kepungan krisis dan kebakaran hutan dan lahan tahun ini.

    Rekam jejak mereka juga kerap mewarnai urusan publik Kotim, mulai dari menyoroti ancaman mangkraknya proyek puskesmas hingga mengawal sengketa lahan antara kelompok tani dan perusahaan.

    Aksi penyaluran menggunakan kapal LCT Sabtu itu melibatkan Eddy (Partai Amanat Nasional) dan Wahito (Partai Demokrat). Dua legislator dari daerah pemilihan Kotim 3 yang wilayahnya mencakup Pulau Hanaut.

    Jejak Krisis dan Logistik Lintas Sungai

    Bagi Eddy, krisis air di kecamatan ini menyimpan riwayat usang yang terus berulang. Pada 2018, saat masih menjabat Camat Pulau Hanaut, ia menyerahkan bantuan tandon air kepada warga Desa Penyaguan.

    Delapan tahun berselang, ia kembali turun ke wilayah di seberang Sungai Mentaya itu dari kursi legislatif. Dulu ia menyerahkan wadahnya, kini ia mengantar isinya.

    ”Semoga bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat yang kesulitan air bersih,” ujar Riduwan.

    Beban warga pesisir memang selalu menumpuk setiap kali kemarau meranggas. Wakil Bupati Kotim Irawati pada Kamis (20/8/2026) merekam getirnya situasi.

    Air di Pulau Hanaut tidak layak dikonsumsi karena rasanya berubah asin, bahkan sebagian terasa pahit.

    Demi minum dan memasak, sebagian warga terpaksa merogoh kantong untuk membeli air bersih.

    Sehari setelahnya, Jumat (21/8/2026), Pemkab Kotim merespons dengan mengirim 9 ribu liter air ke Desa Serambut, Bantian, dan Babaung.

    Skala pengiriman ini membesar pada akhir Agustus ketika 15 ribu liter air diseberangkan menggunakan kapal LCT untuk mengangkut mobil tangki lintas lembaga.

    Kondisi geografis yang terpisah oleh hamparan Sungai Mentaya membuat jalur distribusi merentang panjang dan menguras waktu.

    Anggota DPRD Kotim dari Fraksi PKB, Zainuddin, pada akhir September menggambarkan betapa peliknya rutinitas tersebut. Air harus diantar terlebih dahulu ke Desa Regei Lestari untuk menginap semalam.

    Keesokan subuhnya, muatan logistik itu baru bisa diangkut menggunakan perahu kelotok ke Pulau Hanaut, bergerak perlahan menyesuaikan siklus pasang surut sungai.

    Intrusi Payau Merambah Sampit

    Dampak intrusi air laut tahun ini ikut memukul pelanggan Perumdam Tirta Mentaya di Kota Sampit.

    Bupati Kotim Halikinnor pada pertengahan Oktober mendapati angka pasien diare dan muntaber di RSUD dr Murjani melonjak tajam 25 sampai 30 persen dibanding biasanya.

    Menurutnya, lonjakan tersebut kemungkinan besar dipicu konsumsi air yang sudah terkontaminasi air laut.

    Menanti Jaringan Pipa

    Warga Pulau Hanaut menaruh harapan besar agar pemerintah segera membangun jaringan pipa permanen, seperti yang diserap Eddy dari hasil reses Desember 2024.

    Pergerakan infrastruktur perpipaan menuju pesisir selatan sejauh ini berjalan bertahap. Halikinnor pada September 2024 telah meresmikan sambungan baru untuk 227 rumah di Desa Parebok.

    Pada akhir September 2026, ia mematok target agar jaringan yang sudah berkembang hingga kawasan Parebok itu kelak meluas menjangkau Ujung Pandaran dan Pulau Hanaut.

    Khusus Pulau Hanaut, Eddy pada awal September mengungkap bahwa pemerintah daerah dan DPRD mulai membahas opsi pembangunan jaringan pipa yang melintasi dasar Sungai Mentaya.

    Berdasarkan kalkulasi Direktur Perumdam Tirta Mentaya, skema ini dinilai lebih efisien ketimbang memaksakan pembangunan instalasi pengolahan tersendiri.

    Salah satu sumber air di sekitar Desa Hanaut sudah dikaji tetapi dinilai belum mencukupi, sehingga wilayah Lepeh masuk sebagai opsi sumber air yang akan dikembangkan.

    Hujan perlahan membasahi Kotim di penghujung Oktober, tetapi intensitasnya belum cukup kuat untuk memulihkan sejumlah sumber air yang mengering.

    ”Kami juga berharap agar ke depan ada solusi yang lebih konkret dari pemerintah, sehingga masyarakat tidak selalu mengalami kesulitan serupa,” kata Riduwan. (ign)