Tag: konghucu

  • Jejak Diaspora Cina di Tepi Mentaya, Dari Perdagangan Sungai hingga Harmoni Komunitas

    Jejak Diaspora Cina di Tepi Mentaya, Dari Perdagangan Sungai hingga Harmoni Komunitas

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sejarah Sampit bergerak mengikuti aliran Sungai Mentaya. Dari jalur air inilah kota ini tumbuh melalui perahu dagang, pertemuan manusia, dan jaringan ekonomi yang telah hidup jauh sebelum Sampit menjadi pusat perdagangan di Kalimantan Tengah seperti sekarang.

    Kehadiran masyarakat Tionghoa menjadi bagian penting dari proses panjang itu. Catatan sejarah menunjukkan, kontak pedagang Cina dengan masyarakat Borneo telah berlangsung sejak berabad-abad lalu melalui perdagangan hasil hutan dan laut. Namun, sekitar tahun 1847 menjadi penanda penting dimulainya fase pemukiman dan keterlibatan yang lebih permanen di wilayah Sampit.

    Bagi komunitas Tionghoa di Kotawaringin Timur, kisah ini bukan sekadar arsip, melainkan bagian dari ingatan kolektif yang terus hidup. Menurut Wen Shi Suhardi, tokoh agama Konghucu Kotim, orang Tionghoa khususnya dari suku Han telah bermigrasi ke tanah Borneo sejak ribuan tahun lalu dan hidup berdampingan dengan masyarakat lokal, bahkan sebelum masa kolonial.

    “Dalam catatan sejarah, orang Tionghoa sudah ada di Borneo jauh sebelum kemerdekaan. Ketika penjajah Belanda masuk, mereka memanfaatkan kedekatan orang Tionghoa dengan masyarakat lokal untuk menjadi mediator antar suku,” kata Suhardi.

    Sungai Mentaya dan Awal Perdagangan

    Letak geografis Sampit di tepian Sungai Mentaya menjadikannya simpul strategis perdagangan di pesisir selatan Borneo. Sungai ini memungkinkan kapal-kapal berukuran besar masuk hingga ke pusat kota, menjadikan Sampit pelabuhan penting bagi arus keluar-masuk komoditas seperti karet, rotan, dan kayu.

    Pada fase awal, masyarakat Tionghoa dikenal sebagai pedagang perantara. Mereka mendistribusikan kebutuhan pokok beras, garam, minyak, hingga berbagai perkakas kepada masyarakat Dayak dan Banjar, sekaligus membangun jaringan perdagangan antarpulau yang menghubungkan Sampit dengan kawasan lain di Nusantara hingga luar negeri.

    Seiring waktu, para pendatang yang semula datang sebagai penambang dan pedagang perlahan menetap, membangun permukiman, serta menjadi bagian dari struktur ekonomi lokal yang terus berkembang.

    Dari Karet hingga Industri Kayu

    Memasuki akhir abad ke-19, geliat ekonomi Sampit meningkat seiring dibukanya perkebunan karet. Pada fase ini, jumlah pendatang Tionghoa bertambah sebagai pedagang, pengusaha, maupun tenaga kerja. Aktivitas ekonomi mereka menghidupkan pasar-pasar di tepi sungai dan mendorong tumbuhnya pusat niaga baru di kawasan kota.

    Peran ekonomi komunitas Tionghoa mencapai puncak pada dekade 1940-an, ketika Belanda membangun industri penggergajian kayu berskala besar di tepi Sungai Mentaya. Pabrik kayu tersebut disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara pada masanya, memperkuat posisi Sampit sebagai pusat ekonomi kolonial sekaligus membuka ruang kerja bagi masyarakat setempat.

    Dinamika Sosial dan Jejak Budaya

    Dalam perjalanan sejarahnya, komunitas Tionghoa di Sampit dikenal dengan berbagai sebutan Cina Totok, Cina Peranakan, hingga Cina Tongkang yang merujuk pada gelombang kedatangan dan proses sosial yang berbeda. Meski secara demografis tidak dominan, peran mereka dalam ekonomi dan kehidupan kota sangat signifikan.

    Interaksi dengan komunitas Dayak, Banjar, Jawa, dan Madura membentuk karakter multikultural Sampit. Kawasan pasar dan bantaran sungai menjadi ruang perjumpaan antarbudaya yang terus berlangsung dari masa ke masa.

    Proses panjang itu melahirkan asimilasi sosial. Etnis Tionghoa tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat, tetapi turut memperkaya kehidupan budaya lokal melalui tradisi dan praktik sosial yang diwariskan lintas generasi.

    Di Kotim, jejak budaya tersebut terlihat dari berdirinya klenteng pertama pada tahun 2000 oleh Hadi Siswanto, yang menghibahkan tanah untuk membangun rumah ibadah Konghucu bernama Kong Miao Litang atau klenteng Harmoni Kehidupan.

    “Sebelumnya, umat Konghucu beribadah di Tri Dharma bersama umat Buddha. Namun, karena jumlah penganut semakin banyak, akhirnya klenteng ini didirikan untuk memfasilitasi umat Konghucu,” ujar Wenshi.

    Keberadaan klenteng ini menjadi ruang penting dalam menjaga identitas budaya komunitas Tionghoa di Kotim. Tradisi seperti barongsai dan festival Tionghoa tumbuh dari praktik keagamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

    Hingga akhir masa kolonial pada 1942, komunitas Tionghoa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan Sampit. Jejak mereka tidak hanya tercatat dalam arsip dan bangunan lama, tetapi juga dalam struktur ekonomi, jaringan perdagangan, dan dinamika sosial kota.  

    Kini, Sungai Mentaya tetap mengalir, pelabuhan masih bekerja, dan kehidupan kota terus bergerak di atas fondasi sejarah yang dibangun berbagai komunitas. Kisah diaspora Tionghoa di Sampit bukan sekadar cerita migrasi, melainkan perjalanan panjang tentang adaptasi, kerja, dan kebersamaan dalam membentuk wajah kota.

    Pada akhirnya, sejarah Sampit menunjukkan bahwa sebuah kota tidak tumbuh secara tiba-tiba. Ia dibangun oleh pertemuan manusia, kerja ekonomi, dan proses sosial yang berlangsung lintas generasi jejak yang masih terasa hingga hari ini. (***)

  • Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lilin-lilin merah menyala pelan di Kelenteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, Sampit. Asap dupa mengepul tipis, membawa doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Di antara barisan umat yang hadir, tak semua datang dengan kecukupan. Namun malam itu, tak ada jarak antara yang mampu dan yang berkekurangan.

    Di tengah gemerlap lampion dan persiapan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, umat Khonghucu di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menunjukkan sisi lain dari perayaan yang hangat dan penuh makna. Di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tampak aktivitas ibadah persaudaraan yang sarat dengan nilai kemanusiaan.

    Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, menjelaskan bahwa ibadah persaudaraan bukan sekadar ritual, tapi juga momentum berbagi bagi mereka yang kurang mampu. “Tidak semua umat Konghucu berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Momentum ini kami gunakan untuk saling berbagi agar mereka tetap dapat merayakan Imlek dengan kebahagiaan,” ujarnya, Rabu malam (12/2/2026).

    Dalam kesempatan ini, sekitar 50 umat yang dinilai kurang mampu menerima bantuan dari komunitas. Wen Shi menekankan bahwa tradisi berbagi ini sudah berjalan ribuan tahun, menjadi bagian dari nilai luhur agama Khonghucu yang menekankan persaudaraan dan kepedulian sosial.

    “Harapannya, mereka yang kurang mampu tetap bisa merasakan sukacita Imlek. Perayaan bukan hanya tentang kemeriahan, tapi tentang hati yang bersih dan kebersamaan,” tambahnya.

    Ibadah persaudaraan berlangsung bertahap. Sebelum tahun baru, umat Khonghucu melakukan ritual enam hari sebelumnya. Malam ini, mereka melaksanakan ibadah khusus, lalu akan kembali melaksanakan ibadah menyambut malam Tahun Baru Imlek pada 16 Februari. Seminggu setelah Imlek akan digelar ibadah syukur, dan dua minggu kemudian ditutup dengan perayaan Cap Go Meh, yang menandai puncak perayaan Imlek.

    Selain ritual, tradisi bersih-bersih juga tetap dijalankan. Seluruh patung dewa dimandikan dan disucikan sebagai simbol penyambutan tahun baru dengan hati yang bersih. Aktivitas ini juga menjadi momen refleksi dan persiapan spiritual bagi seluruh umat.

    Bagi Wen Shi, Imlek adalah pengingat bahwa dalam perbedaan kondisi ekonomi, semua umat tetap disatukan dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan. “Di sinilah makna Imlek yang sesungguhnya,” tuturnya. (***)