SAMPIT, kanalindependen.id – Pencurian perangkat di shelter tower Telkomsel Pasir Putih menorehkan kerugian sekitar Rp258 juta bagi perusahaan.
Angka ini memotret anatomi gelap kejahatan infrastruktur telekomunikasi. Perangkat vital yang harganya selangit seketika anjlok menjadi barang murah begitu masuk ke pasar penadah.
Rantai ekonomi kotor inilah yang ikut terhantam ketika aparat kepolisian menyergap kelompok terduga pelaku di Sampit.
Penyergapan tersebut bermula ketika empat orang melangkah mendekati shelter tower Telkomsel SPT 017 di Jalan Jenderal Sudirman Km 7, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Mereka diduga hendak mengambil sisa perangkat di dalam bangunan yang sebelumnya pernah dibobol. Namun, kelompok ini tidak sadar telah berjalan masuk ke dalam jaring aparat.
Personel Satreskrim Polres Kotawaringin Timur (Kotim) diam-diam sudah bersiaga mengawasi pergerakan mereka.
Dua dari empat orang itu ditangkap pada Sabtu (24/10/2026). Dua lainnya berhasil melarikan diri dari kejaran.
Untuk memetakan rantai pasar gelap dan mengukur seberapa parah kejatuhan harga perangkat BTS curian, Kanal Independen melacak sejumlah kasus serupa di sejumlah daerah. Penelusuran ini mengonfirmasi pola ekonomi kotor yang ekstrem.
Dalam perkara pencurian modul di Jakarta pada 2024, pelaku mengaku menjual rata-rata lima modul seharga Rp5,9 juta kepada penadah.
Padahal, dengan harga sekitar Rp90 juta per modul menurut polisi, lima modul itu bernilai sekitar Rp450 juta.
Pola kejatuhan harga serupa menimpa perangkat baterai. Agustus 2026, Kapolres Malang AKBP Rulian Syauri mengungkap fakta bahwa baterai lithium tower senilai sekitar Rp16 juta per unit dijual komplotan pencuri di wilayahnya hanya Rp1 juta.
Sindikat lain di Kalimantan Selatan, menurut pengakuan tersangkanya, bahkan melego baterai tower curian layaknya besi tua secara kiloan, Rp10.500 per kilogram.
Kasus di Pasir Putih terungkap setelah pihak perusahaan mendapati pintu shelter terbuka dan sejumlah perangkat hilang.
Temuan itu dilaporkan ke Polres Kotim. Aparat kepolisian lalu mengintai lokasi karena menduga kelompok pelaku akan kembali beraksi.
”Selanjutnya pada saat melakukan pengintaian terdapat empat orang yang dicurigai datang ke TKP dan dua dari empat orang yang diduga hendak mengambil perangkat tersebut dilakukan penangkapan, sementara dua lainnya berhasil melarikan diri,” kata Kasi Humas Polres Kotim Iptu Edi Walujo, Minggu (26/10/2026).
Sejumlah barang bukti turut disita, meliputi perangkat modem, aki, panel surya, sepeda motor, serta peralatan yang diduga dipakai untuk melancarkan aksi. Dua terduga pelaku yang ditangkap beserta barang bukti kini berada di Polres Kotim untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Kartu Modem dan Incaran Lain di Shelter
Rilis kepolisian tidak merinci daftar perangkat yang hilang dari shelter tersebut. Namun, foto barang bukti dari Polres Kotim memperlihatkan 13 kartu sirkuit (plug-in card) dengan konektor di bagian belakang, jenis yang biasa terpasang berjajar dalam rak perangkat.
Lima di antaranya ramping, berpelindung logam, dan punya konektor kabel koaksial di panel depan.
Ciri fisik ini serupa dengan kartu modem pada unit dalam ruangan (IDU) perangkat transmisi microwave, yaitu perangkat yang menyambungkan tower ke jaringan operator. Rilis polisi juga menyebut perangkat modem di antara barang bukti yang disita.
Selain kartu sirkuit, baterai dan modul BTS tetap menjadi kelompok perangkat lain yang kerap menjadi incaran utama sindikat di shelter.
Kelompok pertama adalah baterai atau aki yang memegang peran sebagai detak jantung cadangan bagi pemancar sinyal ketika pasokan listrik PLN terputus.
Harga baterai generasi baru tergolong tinggi. Pertengahan Oktober 2026, dua unit baterai lithium Huawei ESM-Li 48 yang dicuri dari tower Telkomsel di Cilongok, Banyumas, dinilai Rp20 juta.
Perkara serupa di Lamandau pada Januari 2026, mencatatkan kerugian Rp124.464.000 atas hilangnya 24 unit baterai dari satu tower, atau sekitar Rp5,2 juta per baterai.
Kelompok kedua adalah modul BTS, yakni unit pemroses sinyal yang beroperasi sebagai otak utama pemancar.
Harganya menjulang jauh melampaui rentang harga baterai. Saat membongkar komplotan pencuri modul pada Oktober 2024, Kapolres Metro Jakarta Pusat saat itu, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, menyebut satu modul bisa bernilai sekitar Rp90 juta.
Dari Jutaan Jadi Ratusan Ribu
Harga perangkat vital ini runtuh seketika begitu berpindah tangan di pasar gelap. Pada Desember 2025, Ditreskrimum Polda Kalimantan Selatan membongkar sindikat pencuri baterai tower Telkomsel di Tanah Bumbu dan Kotabaru.
Seorang tersangka mengaku baterai curian dijual Rp10.500 per kilogram, dengan berat per unit berkisar 60 hingga 75 kilogram.
Artinya, satu baterai hanya dihargai sekitar Rp630 ribu sampai Rp790 ribu oleh penadah.
Hitungan matematika yang nyaris sama muncul dalam perkara Lamandau. Dakwaan jaksa di Pengadilan Negeri Nanga Bulik menyebut 24 baterai curian dibawa ke Kotawaringin Barat lalu dijual kepada penadah berinisial J seharga Rp19 juta.
Hitungannya sekitar Rp790 ribu per baterai, atau nilainya merosot tajam hingga tinggal sekitar 15 persen dari nilai kerugian yang dicatat pihak perusahaan.
Uang tersebut lalu dibagi tiga. Masing-masing terdakwa mengantongi Rp5,8 juta, sisanya menguap untuk membayar ongkos sewa mobil dan bensin.
Pola selisih harga ekstrem juga terlihat gamblang pada komplotan Malang tadi. Polisi menduga komplotan ini membobol sedikitnya 17 lokasi.
Menurut polisi, mereka memaketkan dan menjual baterai lithium ke pembeli di luar daerah melalui jasa ekspedisi. Dari harga normal sekitar Rp16 juta per unit, barang itu dilepas hanya Rp1 juta per unit. Nilainya menyusut drastis, tinggal sekitar enam persen.
Penyusutan nilai paling brutal menimpa perangkat modul. Pada perkara Jakarta tadi, nilainya tinggal sekitar 1,3 persen dari harga aslinya.
Dari Pengepul Desa hingga Luar Negeri
Jejak pergerakan barang curian semacam ini pernah terekam di Kotawaringin Timur. September 2018, Polres Seruyan membekuk lima anggota komplotan pencuri aki tower antarkabupaten.
Kepada polisi, para pelaku mengaku menjual hasil curian ke pengepul rongsokan di sebuah desa di Kecamatan Telawang, Kotim.
Menurut pengakuan itu, rongsokan yang ditampung pengepul tersebut selalu dikirim melintasi laut ke Pulau Jawa.
Perangkat modul BTS menempuh jalur pengiriman yang jauh melampaui batas negara. Pada 2024, polisi di Jakarta menyita 227 modul curian yang rencananya dikirim ke China.
Hampir dua tahun kemudian, Juli 2026, Bareskrim Polri membongkar jaringan pencuri modul BTS milik XLSmart.
Modul hasil curian dijual murah ke penadah, lalu dikirim ke luar negeri lewat jasa ekspedisi atas arahan warga negara asing berinisial JZ yang berada di Bangkok, Thailand.
Sejumlah perkara juga melibatkan mereka yang paham seluk-beluk tower. Polda Kalimantan Selatan menyebut pelaku sindikat di Tanah Bumbu dan Kotabaru adalah mantan karyawan Telkomsel.
Dalam perkara Lamandau, salah satu terdakwa merupakan karyawan kontrak perusahaan terkait. Sebaliknya, komplotan di Malang berlatar pekerja serabutan dan kuli bangunan.
Polres Kotim belum menyampaikan latar belakang profesi dua terduga pelaku yang ditangkap di Pasir Putih.
Sinyal Terganggu dan Jerat Pidana
Pencurian di Pasir Putih langsung memukul kualitas jaringan setempat. Menurut keterangan Polres Kotim, kejadian itu mengganggu pelayanan terhadap pelanggan.
Selain melapor ke polisi, pihak perusahaan melakukan penanganan teknis terhadap layanan agar tidak terus merugikan konsumen.
Besar kecilnya gangguan layanan selalu bergantung pada jenis perangkat yang hilang. Kehilangan baterai berpotensi mengganggu layanan ketika aliran listrik utama terputus.
Fakta teknis ini pernah dijelaskan Kasat Reskrim Polres Way Kanan, Lampung, Iptu Riswanto, dalam perkara pencurian baterai tower Indosat di wilayahnya.
Kehilangan perangkat modul membawa dampak pemutusan sinyal yang lebih mendadak.
Saat membongkar jaringan pencuri modul XLSmart, Kepala Satuan Reserse Mobile Bareskrim Polri Kombes Pol Teuku Arsya Khadafi menyebut ribuan pelanggan tidak bisa memakai layanan seluler dan internet akibat perangkat yang raib dicuri.
Bila kartu dari shelter Pasir Putih memang kartu transmisi, tower kehilangan sambungan ke jaringan operator, terlepas dari ada atau tidaknya pasokan listrik PLN.
Kini, kedua terduga pelaku di Sampit bersiap menghadapi hukum.
”Keduanya disangkakan melanggar Pasal 477 ayat (1) huruf f dan g Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP (KUHP Baru),” kata Edi.
Huruf f mengatur pencurian dengan cara merusak, membongkar, memotong, memecah, memanjat, memakai anak kunci palsu, menggunakan perintah palsu, atau memakai pakaian jabatan palsu. Huruf g menjerat pencurian yang dilakukan secara bersama-sama dan bersekutu. Ancamannya pidana penjara paling lama tujuh tahun atau denda maksimal Rp500 juta.
Dua orang lainnya yang lolos dari sergapan di Pasir Putih belum tertangkap hingga rilis Polres Kotim diterbitkan. (ign)









