SAMPIT, kanalindependen.id – Tumpukan naskah lomba jurnalistik pelajar tak lagi didominasi rentetan laporan kegiatan yang kaku.
Dari 17 karya feature pelajar tingkat SMA sederajat yang bersaing dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Kabupaten Kotawaringin Timur 2026, dewan juri menemukan napas baru: nyawa tokoh, konflik emosional, dan observasi lapangan yang tajam.
Lomba yang dilaksanakan di SMAN 3 Sampit sebagai tuan rumah ini dikawal Pahnai dari SMKN 1 Sampit selaku koordinator, didampingi Ikhsan Hidayat Lubis dari SMAN 3 Sampit sebagai anggota.
Pahnai menuturkan, standar tinggi perlombaan sengaja dipatok sejak awal, terutama dalam menentukan tim penilai agar kualitas karya peserta benar-benar teruji.
”Pemilihan juri lomba jurnalistik bukan kaleng-kaleng, tapi dari orang-orang yang memang sudah berpengalaman di bidang jurnalistik,” ujar Pahnai, Selasa (28/4/2026).
Penilaian ketat itu dipercayakan kepada dua jurnalis kawakan, yakni Norjani Aseran dari Antara Biro Kalimantan Tengah di Sampit dan Gunawan, Pemimpin Redaksi Kanal Independen (kanalindependen.id).
Keduanya menilai secara kritis karya peserta dari segi konten, kaidah jurnalistik, hingga kebahasaan.
Sudut cerita, kedalaman liputan, serta cara peserta mengolah fakta menjadi narasi yang mengalir mendapat perhatian khusus.
Norjani melihat lompatan kualitas yang nyata dari karya para peserta tahun ini. Tulisan para tunas muda tersebut perlahan berevolusi, memotret manusia sebagai pusat cerita.
”Kualitas rata-rata peserta tahun ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sebagian besar feature yang dibuat sudah memenuhi standar berita,” katanya.
JUARA: Para juara lomba jurnalistik FLS3N Kabupaten Kotawaringin Timur 2026 bersama dewan juri dan koordinator lomba, Selasa (28/4/2026) di SMAN 3 Sampit. (Panitia FLS3N/Kanal Independen)
Hasil penilaian akhir menempatkan Halisah dari SMAN 1 Kota Besi (nomor peserta 14) sebagai kampiun.
Naskahnya yang bertajuk ”Perjuangan di Balik Kanvas Putih” meraih skor tertinggi 181,25.
Tulisan ini mengangkat kehidupan Elwani Sarwando atau Iwan, seorang perupa asal Sampit.
Juri terpukau kemampuan Halisah menyajikan detail observasi yang hidup. Mulai dari aroma cat minyak, ukiran kayu berbentuk ikan jelawat, sisa warna di tangan narasumber, hingga konflik batin sang seniman yang sempat ditentang ayahnya.
Tulisan ini dinilai mampu menghadirkan suasana kerja perupa secara kuat.
Posisi kedua diamankan Thovan Maulana Putera dari SMKN 2 Sampit (nomor 04) dengan nilai 177,25.
Lewat naskah ”Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa,” Thovan merangkai alur penceritaan yang kokoh.
Dia memotret jatuh bangun seorang pelajar yang sempat putus sekolah tiga tahun demi merawat sang ayah, lalu bangkit menemukan ketahanan mental lewat panggung monolog hingga menembus level nasional.
Ahmad Raja dari SMAN 1 Sampit (nomor 02) menyusul di tempat ketiga dengan nilai 173,75.
Karyanya, ”Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman,” tampil sangat kuat secara reportase.
Dia merekam langsung proses pelestarian seni tutur tradisional melalui inovasi kecapi elektrik, menyajikan suasana wawancara yang utuh serta relevan dengan dinamika zaman.
Kekuatan sudut pandang kemanusiaan (human interest) juga kuat terlihat pada karya para peraih juara harapan.
Savira Yuni Florenzya dari SMKN 2 Sampit (Harapan 1, nilai 168,25) menyuguhkan kisah haru Khoirul Saputra, penari yang harus banting setir menjadi pemain kecapi setelah paha kirinya patah akibat tabrak lari di tikungan Desa Bejarum.
Sementara itu, Bilal Aqso Setiawan dari SMAN 1 Sampit (Harapan 2, nilai 167,75) mengeksplorasi kekayaan kearifan lokal melalui sosok seniman kriya H. Haitami A.M.
Selanjutnya, Selvia Maharani dari SMAS PGRI 2 Sampit (Harapan 3, nilai 162) merekam ketangguhan Salsabila, penyanyi muda dari Desa Terantang yang menopang ekonomi keluarga lewat musik.
Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap kerja keras peserta, Kanal Independen menerbitkan artikel feature juara 2, 3, serta harapan 1 hingga 3 di portal Kanal Independen (kanalindependen.id).
Redaksi hanya memoles aspek teknis seperti ejaan dan tanda baca, memastikan orisinalitas substansi dan gaya bahasa khas pelajar tetap utuh.
”Peserta sudah punya modal besar. Mereka tidak boleh berhenti menulis. Ide dan gagasan yang mereka miliki bisa menjadi inspirasi bagi orang lain jika terus diasah dan berani dipublikasikan,” ujar Gunawan.
Langkah publikasi ini telah mengantongi restu panitia. Satu-satunya karya yang belum ditayangkan adalah milik sang juara pertama.
Keputusan ini merupakan bagian dari persiapan menuju tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.
Ajang FLS3N tahun ini menunjukkan bahwa pelajar Kotim memiliki ketajaman bercerita melalui proses kerja jurnalistik.
Mereka tidak hanya menyalin fakta, tetapi mampu merangkum seni, budaya, dan karakter manusia dalam sebuah narasi jurnalistik yang layak dibaca publik. (ign)
DI tengah arusnya modernisasi, seni budaya bukan sekedar hiburan semata melainkan wadah untuk membentuk kepribadian yang tangguh, cinta tanah air, dan menghargai warisan leluhur adalah pondasi dan cermin jati diri.
Melalui seni dapat belajar mengekspresikan diri dan paling penting menjadi manusia yang berkarakter, disiplin, serta tanggung jawab untuk melestarikan kekayaan budaya, ia membuktikan bahwa seni memiliki kekuatan luar biasa tidak hanya memperindah kehidupan, tapi juga memperkuat jati diri dan membangun karakter generasi muda yang berakar kuat pada nilai-nilai bangsa.
Artikel ini akan membawa pembaca untuk menyelami kisah nyata atau kisah Inspiratif yang dekat dengan kenyataan tentang seorang anak muda yang lahir di desa terpencil.
Melalui bakat dan kecintaannya pada musik, ia tidak hanya meraih prestasi gemilang tetapi juga membentuk karakter yang kuat, mandiri, dan berintegritas serta ia juga menunjukkan bahwa karakter itu dapat tumbuh dari kreativitas, dan mencintai budaya di tengah dunia modern.
Bahwa seni memiliki kekuatan luar biasa tidak hanya memperindah kehidupan, tapi juga memperkuat jati diri dan membangun karakter generasi muda.
Melalui rangkaian foto ini, kita akan menyaksikan bagaimana langkah-langkah kecil Salsabila dari pendapatan kecil hingga mencapai kesuksesan saat ini bukan hanya soal peningkatan materi.
Foto-Foto ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan apresiasi seni budaya tidak hanya membawa perubahan taraf hidup.
Penulis, (berbaju batik nusantara) sedang mewawancarai di salah satu rumah kediaman Salsabila (Dokumentasi Pribadi Penulis)
Pencarian saya dengan sosok penyanyi muda yang mempunyai kisah inspiratif dimulai dari Sabtu 18 April 2026.
Saya keliling sekolah dan tanya-tanya ke guru-guru, banyak nama yang disarankan. tapi dari semua itu, saya hanya tertuju kepada Salsabila yang paling pas dengan tema yang saya angkat; ”Menumbuhkan Karakter Bangsa Melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya”.
Saya penasaran, bagaimana seni budaya bisa menjadi tempat untuk membentuk karakter.
Salsabila namanya mungkin belum banyak yang tahu, tapi di dunia seni musik dia memang hebat.
Lewat seni musik ini, dia tumbuh jadi anak yang disiplin, peduli sama teman, dan suka bekerja sama dengan nilai karakter yang tidak cuma dipelajari di buku saja.
Saya penasaran, bagaimana seni musik yang ia tekuni bisa membentuk karakternya dan menjadi bagian dari pelestarian budaya di desanya.
Karena belum punya kontak pribadi, saya minta tolong kepada guru untuk menelpon Salsabila dan menyampaikan keinginan saya.
Saya jelaskan kalau saya ingin mewawancarainya langsung di rumahnya, tepatnya di rumah panggung tempat ia tinggal yang berada di desa.
Tanpa menunggu lama, guru menyampaikan kabar baik bahwa Salsabila menyetujui permintaan saya dan siap menyambut kedatangan.
Begitu saya sampai. Tampak rumah tersebut dengan khas daerah yang dibangun tinggi dari tanah itu terlihat asri, dikelilingi pohon-pohon rindang. Salsabila sudah menunggu di beranda rumahnya. Dia menyambut dengan senyum lebar dan sikap yang sopan.
”Silakan masuk dan duduk di sini saja”. ucapnya ramah sambil menunjuk tempat duduk.
Kami pun duduk di beranda yang luas itu, suasana yang sangat nyaman hanya terdengar suara angin berhembus dan kicauan burung di sekitar pohon.
Saya memulai aktivitas dengan membuka laptop, dan mulai bertanya. Awalnya dia terlihat masih merasa sedikit canggung dan malu, ia menundukan kepala sesekali dan menjawab pertanyaan saya dengan nada suara yang pelan.
Namun, begitu saya mulai membahas topik inti bagaimana seni musik mengubah cara pandangnya mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan memperkuat jati dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Semua rasa canggung itu perlahan menghilang dan matanya berbinar, suaranya menjadi lebih lantang dan penuh semangat.
Dari sinilah obrolan kami mengalir lancar, mengungkap satu per satu kisah perjuangan, kreativitas, dan pembentukan karakter yang ia lalui.
Di sebuah sudut wilayah yang jauh dari kota besar, tersembunyi dibalik hamparan sawah hijau. terletak lah sebuah desa bernama Terantang.
Jalanan menuju kesana masih banyak yang rusak, sinyal telepon sering kali hilang, namun kedamaian dan keasrian alamnya yang sangat hangat memberikan Inspirasi yang tak ternilai bagi siapa saja yang tinggal disana. lahirlah bibit-bibit kreativitas yang menjadi aset berharga bangsa.
Ia bukan sekedar menyanyi, tapi menjadikan seni musik sebagai jembatan untuk membangun karakter diri, sekaligus menebarkan nilai-nilai luhur bangsa ke setiap nada dan lirik yang ia bawakan.
Di Desa Terantang inilah lahir Salsabila, ataupun juga disapa Salsa dengan kelahiran 16 Januari 2006 yang dikenal memiliki suara emas.
Namun, jauh sebelum namanya dikenal banyak orang ia hanyalah anak desa biasa, Salsa tumbuh di lingkungan yang sederhana namun kaya akan nilai seni dan budaya sejak masih kecil.
Setiap kisah hebat selalu bermula dari lingkungan yang mendukung dan hal ini sangat terasa dalam kehidupan Salsabila.
Ia lahir dari pasangan Yuyud Hariadi dan Irma Wati, dua sosok yang memiliki kecintaan mendalam terhadap dunia musik dan seni budaya.
Ayahnya Yuyud Hariadi, memiliki latar belakang di dunia musik dan bahkan memiliki grup musik (orkes) sendiri, sehingga suasana rumah selalu diiringi alunan nada dan irama. ementara itu, Ibunya Irma Wati, juga memiliki pengalaman dalam bernyanyi dan menguasai teknik olah vokal yang baik.
Di lingkungan seperti inilah benih bakat Salsabila mulai tumbuh dan berkembang.
Salsabila sedang berlatih nada dan irama saat usia 5 tahun (Dokumentasi Pribadi Ayah Salsabila)
Salsabila mengukapkan bahwa ia sudah memiliki bakat bernyanyi sejak usia yang sangat dini, tepatnya saat ia masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) pada usia 5 tahun.
Namun, pada masa itu, bakatnya masih dalam bentuk kecintaan semata. Ia hanya senang mendengar dan menirukan lagu-lagu yang didengarnya, belum ada keberanian untuk tampil dihadapan banyak orang atau mengikuti perlombaan apa pun.
Alasanya sederhana “Pada saat itu hanya suka bernyanyi saja, belum mengikuti perlombaan apapun dikarenakan saya masih kecil”, ujarnya sambil tertawa kecil pas saya temui di rumah panggungnya.
Namun, kehadiran orang tua menjadi kunci yang mengubah hobi ini menjadi sesuatu yang lebih berarti.
Ayah dan ibunya tidak memaksakan untuk menjadi penyanyi hebat, melainkan membimbingnya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.
Mereka mengajarkan bahwa seni adalah bagian dari kehidupan, dan melestarikan adalah bentuk rasa syukur.
Cara pengajaran hanya bersifat otodidak dengan mengandalkan pengalaman dan latihan langsung sehari-hari.
Di desa sekecil ini, tidak ada sekolah musik, tidak ada guru vokal profesional, dan tidak ada fasilitas mewah.
Salsa hanya berlatih secara otodidak, kedua orang tuanya hanya berperan dalam mengenalkan dan melatih dasar bernyanyi saja, ia juga meniru nada-nada yang ia dengar di handphone, ia berlatih di depan cermin sederhananya atau bahkan berlatih di halaman belakang rumahnya sambil menikmati keindahan di sore hari.
Bagi Salsa seluruh desa adalah panggungnya dan alam semesta adalah pendengar setianya.
Inilah awal mula kreativitas bekerja, keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang melainkan justru memicu daya cipta untuk mencari cara belajar yang unik dan alami.
Seni budaya di lingkungan masyarakat menjadi laboratorium karakter yang nyata bagi generasi muda hal ini terasa bagi perjalanan pecinta kopi ini, bernyanyi bukanlah hanya soal suara yang bagus tetapi pecinta kopi ini juga harus belajar banyak hal dengan disiplin, kerja keras, dan kepercayaan diri.
Disiplin dengan harus berlatih secara rutin, kerja keras dengan berlatih karena tidak ada kesuksesan yang instan, kepercayaan diri dengan tampil di depan orang banyak dan belajar untuk berani menunjukan jati diri serta karakter bangsa seperti empati, kedisiplinan, kerja sama, dan toleransi tumbuh secara alami dalam diri pecinta kopi ini.
Di sinilah nilai karakter mulai tertanam secara tidak sadar saat melihat ayah dan rekan-rekanya bekerja sama untuk menyusun nada, mengatur alat musik, dan berlatih berulang kali agar hasilnya sempurna.
Salsa belajar tentang makna kerja sama dan ketekunan, ia melihat bagaimana ayahnya menghormati setiap anggota tim dan menghargai semua masukan, dari itu ia dapat belajar tentang nilai toleransi dan penghargaan terhadap pendapat orang lain.
Saat melihat ayahnya bersabar mengulang bagian lagu yang sulit berkali-kali, ia belajar bahwa hasil yang baik itu tidak datang secara instan, melainkan butuh usaha dan kedisiplinan.
Nilai-nilai ini tidak diajarkan dengan kata-kata, melainkan melalui contoh nyata yang dilihat dan dirasakan setiap hari.
Ibu Salsa juga memegang peran yang sangat penting, ia yang lebih banyak melatih tentang teknik dasar seperti pernapasan, pengaturan nada dan juga kehalusan suara.
Ibunya berpesan kepada Salsa. ”Bahwa untuk menghasilkan suara yang indah dibutuhkan ketelitian dan kesabaran”, ujarnya.
Ibu nya sering kali mengingatkan Salsa untuk menjaga kesehatan tubuh dan suara serta mengajarkan tentang tanggung jawab terhadap bakat yang telah Allah berikan.
Melalui pesan ibunya, Salsa mulai memahami bahwa menjadi seorang seniman musik atau musisi bukan soal keahlian tetapi juga mengembangkan bakat.
Pada masa TK ini, Salsa juga mulai diperkenalkan dengan berbagai jenis lagu, mulai dari lagu anak-anak yang ceria hingga lagu-lagu yang mengandung nilai-nilai luhur ,sehingga selain melatih kemampuan vokal, Salsa juga menyerap pesan-pesan positif yang terkandung di dalam liriknya, dimana hal ini menjadi wadah untuk menanamkan nilai-nilai kebajikan.
Lagu-Lagu yang dinyanyikan menjadi sarana untuk memahami makna kebaikan, kasih sayang dan rasa hormat kepada orang lain.
Kehidupan sehari-hari dirumah pun terjalin dalam suasana yang mendukung, waktu luang sering kali diisi dengan kegiatan bermusik bersama.
Ayahnya akan memainkan alat musik, sementara Salsa dan ibunya bernyanyi bersama. Momen-momen ini tidak hanya mempererat hubungan keluarga tetapi juga melatih rasa kebersamaan dan saling mendukung.
Selain itu, orang tuanya juga mengajarkan Salsa untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki.
Mereka menjelaskan bahwa tidak semua orang diberi kemampuan untuk bernyanyi dengan indah, sehingga hal itu harus dijaga dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.
Nilai rasa syukur ini tumbuh dalam diri pecinta kopi, membuatnya selalu menghargai setiap kesempatan yang datang dan tidak pernah merasa sombong atas kemampuan yang dimilikinya.
”Bakat adalah anugerah dan kewajiban saya mengembangkan sebaik mungkin agar dapat memberikan manfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain”, ujar Salsa pas saya temui di rumah panggungnya.
Memasuki bangku sekolah dasar kelas 1, lingkungan sosial Salsa mulai meluas. ia tidak lagi hanya bernyanyi di dalam lingkungan keluarga tetapi mulai dikenal oleh tetangga dan warga sekitar.
Kemampuan menyanyinya yang sudah mulai terbentuk membuatnya sering diundang di acara pernikahan, tasmiyah dan aqiqah ataupun acara perayaan lainya.
Salsa pada saat itu masih berada di kelas 1 tidak menerima bayaran atau honorarium, ia hanya menerima saweran dari orang-orang yang menyaksikan penampilannya di atas panggung.
Uang yang didapat dari saweran ini meskipun jumlahnya tidak menentu tetapi menjadi pengalaman pertamanya memahami bahwa kemampuan yang dimilikinya bisa dihargai oleh orang lain.
Di fase inilah nilai kedisiplinan mulai diuji sebagai anak sekolah, Salsa harus bisa membagi waktu antara mengerjakan tugas sekolah, beristirahat dan berlatih serta tampil.
Pesan kedua orang tuanya, ”Kewajiban utama seorang anak adalah belajar, dan kegiatan menyanyi adalah hobi serta pengembangan diri yang tidak boleh mengganggu kewajiban utamanya”.
Hal ini mengajarkannya tentang manajemen waktu yang baik dan kemampuan untuk memprioritaskan hal-hal yang penting, ia belajar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu sebelum berlatih dan berusaha semaksimal mungkin agar nilai pelajarannya tetap baik meskipun sering berlatih dan tampil.
Ada kalanya ia merasa lelah ataupun kesulitan membagi waktunya antara sekolah dan tampil di panggung.
Namun, dukungan dari kedua orang tua dan guru-guru di sekolah ia mampu untuk melewatinya, melihat potensi yang ada di dalam diri pecinta kopi ini guru-guru di sekolahnya memberikan dukungan serta pemahaman selama ia menjaga prestasi akademiknya.
Hal ini mengajarkan pecinta kopi ini bahwa untuk mencapai sesuatu yang baik diperlukan usaha dan pengorbanan, ia juga belajar untuk kerja keras dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Salsabila,memperlihatkan dimana dirinya tampil diatas panggung pada kelas 3 SD (Dokumentasi Pribadi Ayah Salsa)
Ketika beranjak naik ke kelas 3 Sekolah Dasar (SD), ia mulai mendapatkan bayaran tetap untuk setiap penampilanya, yaitu sebesar Rp 100.000.
Bagi seorang anak seusianya di masa itu, jumlah tersebut adalah angka yang cukup besar dan orang tuanya mengajarkan Salsa untuk menyimpan sebagian uang tersebut serta menggunakan uangnya dengan bijak, hanya untuk keperluan yang benar-benar dibutuhkan.
Di seni, ia belajar tentang nilai jerih payah dan pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab.
Ia menyadari bahwa uang yang didapatkan adalah hasil dari usaha dan kemampuannya, sehingga harus digunakan dengan sebaik-baiknya.
Di usia ini pula. Salsa memberanikan diri untuk mengikuti perlombaan menyanyi untuk pertama kalinya pada tahun 2014 sejak saat itu usianya masih 8 tahun.
Mengikuti perlombaan adalah langkah besar yang mengubah cara pandangannya terhadap seni, ia tidak lagi hanya bernyanyi untuk kesenangan diri, tetapi juga harus mempersiapkan diri untuk bersaing dengan orang lain secara sehat.
Persiapan untuk mengikuti lomba mengajarkannya banyak hal, ia harus berlatih lebih keras dan memperbaiki setiap nada dan lirik serta memperbaiki setiap kekurangan yang ada. Proses ini melatih kedisiplinan dan juga ketekunan.
Kerja keras selama ini berbuah manis, Salsabila menorehkan prestasi. Pada tahun 2014, ia meraih Juara II Bintang Vocal KDS dalam rangka HUT KOTIM yang ke-61.
Ini adalah salah satu prestasi awal yang menjadi landasan kepercayaan dirinya.
Menerima penghargaan ini mengajarkanya bahwa usaha tidak akan menghianati hasil, namun prestasinya tidak redup sampai di sini saja, pada tahun 2017 ia meraih Juara I Bintang Vokalis anak pada MTQ ke-48 Tingkat Kecamatan.
Selang 1 tahun kemudian Salsa kembali meraih prestasi pada tahun 2018 sebagai Juara III Bintang Vokalis Anak PSQ Tingkat Provinsi.
Kedua orang tuanya menyatakan rasa bangga yang tak terkira, sang ibu mengungkapkan, ”Setiap malam kami sering mendengar ia berlatih bernyanyi kadang sampai larut malam meskipun ia juga harus menyelesaikan tugas sekolah. Kami tidak pernah memaksakannya untuk mengikuti lomba, tapi melihat semangatnya sendiri kami hanya bisa mendukung dan menyemangatinya”, ujar orang tua Salsa.
Salsabila,memperlihatkan tropy kemenangan hasil dari perjuangan (Dokumentasi Pribadi Salsabila)
Prestasinya tidak sampai disitu saja, pada masa SMP ia kembali meraih kejuaraan pada tahun 2019 dengan meraih Juara II English Singing Contest Tingkat SMP.
Mengikuti lomba dengan menggunakan bahasa asing melatih keberanian dan kemampuan beradaptasi. Hal ini mengajarkanya bahwa seni tidak mengenal batas bahasa.
”Kemenangan bukan sekedar sebuah gelar yang tertulis diatas kertas atau piala tapi juga sebuah perasaan bercampur menjadi satu rasa syukur yang mendalam,” ujarnya.
Memasuki masa SMA, Salsa sudah tidak lagi sekedar menjadi peserta biasa. Hasil latihan dan pengalaman yang ia kumpulkan mulai membuahkan hasil.
Di awal tahun ajaran tersebut, ia mengikuti Lomba Bintang Vokalis Qasidah Remaja Putri Se-Kotawaringin Timur Tahun 2021, ia meraih Juara I dan hadiah yang ia terima berupa piala, sertifikat serta berupa uang.
Saat beranjak SMA, undangan untuk tampil semakin berdatangan tidak hanya dari desa-desa di sekitar tempat tinggalnya tetapi juga dari daerah lain.
Di sana bayaran sewa jauh lebih tinggi dibandingkan di desanya, ia dipanggil di acara seperti pesta pernikahan atau acara resmi. Bayaran berkisar Rp 600.000 hingga lebih dari Rp 1.000.000.
Ia membagi jadwalnya dengan rapi. Di akhir pekan atau hari libur jika ada undangan dari kota ia akan berangkat ditemani oleh ibunya sebagai pendamping.
Ia selalu berusaha menjaga sikap dan penampilan yang sopan serta profesional, terlepas dari di mana ia tampil.
Sikapnya yang ramah, rendah hati, serta kualitas suaranya yang konsisten membuat banyak orang menyukainya.
Di sisi lain, Salsa tidak melupakan asal-usulnya. Ia tetap melayani permintaan tampil di desanya dengan tarif yang terjangkau.
Bahkan, untuk acara sosial yang tidak memiliki dana cukup, ia sering kali bersedia tampil secara sukarela atau menerima bayaran sekedarnya saja. Baginya, berkarya adalah bentuk pengabdian juga.
Ia berkata ”Desa ini yang membesarkan saya, yang mendukung saya sejak awal. Saya tidak melupakan itu meskipun nanti saya sudah bisa tampil di tempat yang lebih besar lagi”.
Selain sibuk menerima tawaran tampil, Salsa terus berkompetisi di berbagai Tingkat.
Ia berhasil mendapatkan Juara III Pop Religi Remaja Tingkat Provinsi Pada FSQ Tahun 2022, prestasi ini semakin menambah daftar pencapainnya dan memperkuat reputasinya di dunia musik.
Setiap kali ia mendapatkan hadiah dari lomba berupa uang tunai, uang hasil kemenangan itu disatukan dengan pendapatan dari pekerjaan tampil lalu dikelola untuk kebutuhan pendidikan dan kebutuhan sehari-harinya.
”Saya bangga tentunya dengan diri saya sendiri bahwa sudah tidak lagi meminta uang kebutuhan sekolah kepada orang tua saya sendiri”, ujarnya.
Sejak awal ia bersekolah di salah satu desa yang berada di Terantang, semua biaya SPP serta perlengkapan sekolah ia tanggung sendiri dari hasil tampil di panggung dan uang dari menang lomba.
Ia sudah bisa memenuhi kebutuhan pribadinya tanpa meminta kepada orang tua serta bisa membeli handphone tanpa uang orang tua sepeser pun.
Hal ini sangat meringankan beban kedua orang tuanya, hasil kerja orang tuanya bisa difokuskan untuk kebutuhan makan sehari-hari dan biaya pendidikan adiknya yang bernama Shafa Shadrina yang bersekolah di salah satu desa tempat ia tinggal.
Pesan adiknya untuk Salsa, “Sebagai adik, aku selalu bangga melihat perjalanan kakak, teruslah bernyanyi dengan hatimu seperti yang selalu kamu lakukan. Jangan pernah berubah meskipun nanti namamu semakin dikenal dan perjalananmu semakin jauh. Ingatlah, setiap kesulitan yang pernah kamu lewati mulai dari manggung dengan bayaran seadanya sampai harus berjuang membagi waktu antara sekolah dan karier semua itu yang membentuk kakak menjadi orang hebat seperti sekarang”.
Prestasinya tak redup sampai disitu saja pada tahun 2025. Ia kembali meraih Juara II Bintang Vokalis Gambus Remaja Putri Pada FSQ Tingkat Kabupaten.
Tak berhenti di situ, ia meraih Juara II Vocal Solo Religi Milad Universitas Muhammadiyah Sampit Tahun 2026.
”Impian terbesar saya kedepannya di seni musik adalah bisa terus berkembang dan dikenal lebih luas, tidak hanya di daerah tetapi juga di Tingkat nasional. Kedepannya saya berharap bisa tampil di panggung-panggung besar,” ungkap Salsa.
Pesan ayahnya, “Ayah akan selalu ada di sampingmu, menjadi pendengar setia dan pendukung terkuatmu, dimanapun kamu berada. Semoga suaramu terus menjadi kebanggaan bangsa, dan perjalananmu menjadi Inspirasi bagi anak-anak muda lainya. Sukses selalu, nak”.
Perjalanan Salsabila dari seorang anak desa hingga menjadi penyanyi muda yang mengharumkan nama daerahnya adalah bukti nyata yang mewujudkan makna ”Menumbuhkan Karakter Bangsa Melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya”. Serta ”Seni Memperkuat Karakter”.
Ia membuktikan bahwa seni bukan sekedar ekspresi keindahan semata, melainkan wadah hidup yang mampu menempa nilai-nilai luhur bangsa dan empati, kedisiplinan alami dalam diri seseorang tanpa sekedar diajarkan melalui teori.
Melalui setiap nada yang ia lantunkan, setiap lirik yang ia hayati, dan setiap langkah perjuangannya, Salsa mengubah lingkungan di sekitarnya menjadi laboratorium karakter.
Di sekolah, di desa tempat ia tinggal, hingga di panggung-panggung lomba, ia menunjukan bagaimana seni budaya lokal menjadi sarana yang membentuknya menjadi pribadi yang kuat, berkarakter dan tetap memegang teguh identitas diri meski di tengah gempuran pengaruh luar.
Ia membuktikan bahwa mencintai dan mengembangkan warisan seni budaya sendiri adalah cara paling jitu untuk memperkuat jati diri dan integritas, agar kita tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus modernitas.
Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa setiap momen perubahan dan pertumbuhan sekecil apa pun, layak untuk diabadikan dan dibagikan.
Seperti halnya perjalanan Salsa yang terekam dalam rangkaian prestasi dan pengalaman, narasi-narasi nyata seperti inilah yang mampu menggugah hati dan menginspirasi generasi muda lainnya.
Kita tidak perlu menunggu memiliki fasilitas lengkap atau kedudukan tinggi untuk mulai, cukup dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita, berjuang dengan sepenuh hati, dan memegang teguh nilai-nilai kebaikan, kita pun bisa menjadi bagian dari perubahan positif.
Bagi pecinta kopi ini, deretan piala dan sertifikat yang ia raih bukanlah tujuan akhir dari perjuangannya, melainkan tanda jalan yang telah ia lalui dan tanggung jawab yang harus ia emban.
Ia akan terus menyanyi, terus berkarya dan terus berbagi bukan hanya keindahan suara tetapi juga nilai-nilai karakter yang ia dapatkan dari seni budaya.
Ia berharap kisahnya dapat menjadi titik terang bagi anak-anak muda lain yang memiliki mimpi, agar mereka berani menggali potensi diri, mencintai warisan bangsa, dan percaya bahwa melalui seni, kita bisa membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.
Semoga kisah perjalanan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa seni adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Karakter yang kuat tumbuh dari proses dan penghayatan.
Generasi muda yang mencintai dan mengembangkan seni budaya bangsanya adalah generasi yang akan membawa harum nama Indonesia di mata dunia. (***)
Juara Harapan 2 Juara Harapan 1 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Selvia Maharani, SMAS PGRI-2 Sampit
JAUH di pedalaman Kalimantan Tengah, pada sebuah kota yang dipeluk oleh makhluk-makhluk rindang tak bergerak, aroma membumi dari jutaan pepohonan menghidupi sebuah kota bernama Sampit.
Seni merupakan bagian krusial yang denyutnya terasa nyata di sana. Museum Kayu adalah paru-paru yang menyimpan napas masa lalu di tengah riuh modernitas Sampit.
Saya masuk ke dalam Museum Kayu dan menghirup aroma membumi yang cukup kuat. Banyak sekali peninggalan budaya Kota Sampit yang terletak diam tak bersuara di sana.
”Jangan dipandangi ja, tapi dimengerti jua,” ucap salah satu penjaga yang saya tidak ketahui namanya.
Pernyataan beliau menyadarkan saya suatu hal.
”Siapa budayawan yang melestarikan seni di Kota Sampit ini?” tanya saya dalam hati.
Saya pulang ke rumah dihantui rasa penasaran yang membebankan, terduduk di pojok kamar dengan sinar layar gawai yang menyinari ruangan.
Jari terasa lelah mencari jawaban atas pertanyaan. Setiap diksi di dalam tulisan artikel saya baca hingga muncul suatu nama.
Haitami: Pemahat dan Khasiat Limpasu. Judul dari artikel tersebut.
Diri ini semakin termakan oleh rasa penasaran. Setelah bertanya dari orang ke orang, akhirnya saya dapat menemui salah satu cucu dari Bapak Haitami, bernama Dheza, yang kebetulan juga satu sekolah.
”Sidin tinggal di seberang Sungai Mentaya,” ujar Dheza memberitahu saya.
Perjalanan saya menuju tempat beliau bersama Dheza disambut dengan angin dan gelombang air yang terpecah oleh kapal feri yang kami naiki, membawa saya meninggalkan riuh modernitas menuju sebuah rumah yang menyimpan aroma kayu dengan penuh cerita.
Waktu menunjukkan pukul 11.32 WIB ketika saya melihat sekeliling dalam rumah beliau yang penuh dengan seni kriya khas Kalimantan.
Saya bersalaman dan berbincang sedikit sembari memegang buku ditemani dengan sebuah pensil, fokus saya penuh kepada cerita yang beliau sampaikan.
Bapak H. Haitami A. M. adalah seorang pengamat kebudayaan. Beliau lahir di Kota Pangkalan Bun dan besar di Kota Sampit.
Sedari kecil, beliau sudah lekat dengan kebudayaan Kotawaringin, layaknya matahari dan sinarnya yang tak terpisahkan.
Membuat karya seni sedari setinggi tunas pisang membuat beliau sangat handal dalam bidangnya.
”Dari wadai 500 perak,” seru beliau sambil tertawa.
Lingkungan sekitar tempat ia tumbuh mengajarkan kerja keras, keringat merupakan barang bukti dalam perjalanan hidup bagi lingkungan beliau.
Setiap buku pelajaran akan dibaca tanpa letih hingga matahari pun tertidur lebih dulu, dari buku Ilmu Pengetahuan Alam sampai dengan buku Seni Budaya beliau pelajari tanpa letih.
Walaupun waktu Bapak Haitami mungkin tersita oleh buku, tetapi baginya, ilmu tak boleh berhenti di ujung mata.
”Praktiknya itu yang penting,” tegasnya sambil tersenyum.
Maka, alih-alih hanya terbenam dalam kata-kata, beliau lebih memilih turun tangan meneladani jejak kebudayaan Kalimantan Tengah, seperti dalam merajut karya seni.
Melukis, kriya, bahkan musik beliau belajar sendiri tanpa tumpuan yang membantu mengangkat, membuat seni merupakan sesuatu hal yang berharga.
”Seni itu mengajari presisi, kesabaran,” seru seorang budayawan tersebut.
Beliau tumbuh menjadi seniman yang andal dengan menguasai hal-hal seperti melukis dan memahat.
Melukis tidak hanya sebatas hobi di atas kursi bagi beliau. Namun, hobi tersebut menjadi jauh lebih berdampak di tangan Bapak Haitami. Dedikasinya terpampang dengan melukis dua ribu lebih lukisan untuk pameran lokal.
Lukisan beliau menggambarkan banyak negara dan budaya yang terkandung di dalamnya, sembari mengangkat tinggi seni budaya lokal Kalimantan hanya untuk faedah esensinya dapat dinikmati insan muda di Kota Sampit.
”Semua seni dari mancanegara sudah aku tahu,” ucap Bapak Haitami dengan bangga.
Bapak Haitami pertama kali mengenalkan karyanya ke tingkat nasional pada era 1990-an.
Beliau membawa 16 patung kayu untuk memperkenalkan budaya Dayak lama yang namanya sudah jarang terdengar. Karya tersebut lahir dari keringat dan kerja keras Bapak Haitami sembari berpacu dengan waktu.
”Asalkan ada niat di diri, pasti semua bisa,” kata beliau sembari membenarkan kerah baju.
Tentu tidak mudah mengerjakan 16 patung kayu hanya dengan beberapa tangan. Di tengah pergulatan menyusun intisari pemikiran, beliau tidak memiliki banyak waktu dalam pengerjaannya.
Ada malam-malam di mana tangan beliau terasa kaku dan punggung terasa seolah akan patah karena terus membungkuk di depan kayu.
Namun, Bapak Haitami sadar bahwa jika bukan dia yang membawa wajah Dayak lama ini ke luar sana, mungkin tak akan ada lagi orang yang tahu bahwa budaya ini pernah ada.
Dengan matahari dan bulan yang silih berganti menemani prosesnya, 16 patung tersebut akhirnya rampung dengan sempurna.
Rasa berdebar di dada sudah pasti ada saat Bapak Haitami berangkat membawa karya-karya tersebut.
Namun, semua itu terbayar lunas oleh sorak-sorai masyarakat di luar sana. Patung karya Bapak Haitami yang mengangkat budaya Dayak lama menjadi sinar yang paling terang hingga diapresiasi oleh khalayak luas. Karyanya berhasil mengharumkan nama Kalimantan.
Beliau juga belajar banyak atas kebudayaan milik tanah lain. Ke mana pun Bapak Haitami pergi ia akan membagikan ilmu yang didapat di luar sana agar dapat dikembalikan ke tanah lahir, takkan hilang tanah kelahiran dalam ingatan.
”Yang penting murid-murid bisa belajar,” ujarnya.
Bapak Haitami adalah sumber air bagi anak muda, banyak sekali anak muda yang belajar dan ditempa olehnya.
Ajaran yang beliau semai tumbuh mekar dan berhasil membuat banyak murid mencetak prestasi, bahkan hingga skala nasional. Dalam pertemuan singkat ini pun, saya dapat belajar banyak dari kisah beliau.
Namun, Bapak Haitami mengingatkan bahwa seni tidak hanya tentang apa yang dipegang oleh tangan, tetapi juga tentang apa yang diyakini oleh hati dan ke mana arah kaki melangkah.
Seni dapat mengajarkan budaya serta budi pekerti bagi murid-murid beliau agar karakter tersebut terus merekah dan dibawa hingga hari ini.
Selain mendedikasikan hidup untuk melestarikan seni budaya di Kota Sampit, Bapak Haitami juga memiliki kecintaan pada dunia botani, khususnya tanaman lokal yang mulai langka. Beliau merupakan seorang penanam yang memberikan tunas-tunas kehidupan.
”Lihat ja di belakang rumah tu banyak tanaman yang sudah jarang, pasti tumbuh sehat,” ujar beliau dengan nada bangga sembari melihat dedaunan di pohon.
Halaman belakang rumah Bapak Haitami, tempat beliau seringkali menghabiskan waktu. (Dokumentasi Pribadi Penulis)
Di pekarangan belakang rumahnya, tumbuh pohon limpasu, yaitu buah tradisional yang masyhur dengan sejuta manfaat.
Tak jauh dari sana, merambat pula tanaman rambusa yang kerap dijuluki sebagai markisa Kalimantan. Kedua buah ini merupakan harta karun rimba yang kini kian sulit ditemui di pasar maupun pemukiman warga.
Pertemuan di seberang sungai ini bukan sekadar wawancara, melainkan sebuah refleksi bagi saya sebagai insan muda.
Bapak Haitami telah membuktikan bahwa satu orang yang teguh memegang prinsip kebudayaan mampu memberi dampak bagi ribuan orang lainnya.
Beliau adalah bukti hidup bahwa karakter yang kuat tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari presisi, kesabaran, dan kejujuran dalam berkarya.
”Kejar ilmu tu setinggi mungkin,” seru beliau sembari melihat saya menaruh buku ke dalam tas.
Langkah kaki saya meninggalkan rumah beliau dengan perasaan yang lebih ringan namun penuh tanggung jawab.
Jika Bapak Haitami adalah sang penanam, maka kitalah tunas-tunas yang harus memastikan bahwa seni dan budaya di Kota Sampit tidak akan pernah kehilangan detakannya. Karena dari satu ketulusan, akan tumbuh seribu kebaikan bagi masa depan. (***)
Juara Harapan 2 Juara Harapan 1 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Bilal Aqso Setiawan, SMAN 1 Sampit
Di balik seragam pramuka rapi dan topi biru yang dikenakannya, Khoirul Saputra menyimpan rahasia tentang rasa sakit yang pernah melumpuhkan semangatnya. Namun siapa sangka, penari yang kini tekun memetik kecapi ini pernah dipaksa menyerah oleh aspal jalanan.
Savira Yuni Florenzya
Bel pulang sekolah belum berbunyi, aku sudah berada di luar kelas karena guru mengakhiri pelajaran lebih awal.
Langkah kakiku menuju taman bacaan sekolah, aku pun menunggu. Tak lama kemudian, duduklah seorang remaja laki-laki. Ia mengenakan seragam pramuka lengkap, bertopi biru sedikit miring, terkesan santai.
Penulis mewawancarai Khoirul Saputra di area perpustakaan sekolah. (Dokumentasi pribadi penulis)
Sebelumnya, aku mendengar namanya dari perbincangan guru, ia salah seorang siswa berprestasi.
Berbagai pengalaman dan pencapaian telah diraih, sehingga menumbuhkan rasa penasaranku untuk menulis kisahnya.
Dialah Khoirul Saputra, dulunya dikenal sebagai penari, dan kini menapaki jalan baru sebagai pemain musik tradisional Kalimantan Tengah.
Di bangku sekolah menengah pertama, ketertarikannya pada seni tari tumbuh karena sang nenek.
Khoirul terpukau oleh balutan kain anggun serta gerakan indah penuh makna. Kekaguman itu berubah menjadi hasrat untuk menjadi penari seperti sang nenek.
Kesehariannya saat itu cukup padat. Saat pulang sekolah, waktunya banyak dihabiskan untuk membantu orang tua, memuat dan mengirim hasil panen sawit. Bahkan pernah mengirim sawit dengan beban dua ton.
Hal itu tentu menghambat masa berlatihnya. Namun di tengah keterbatasan waktu, tersimpan cita-cita menjadi penari terkenal sekaligus memperkenalkan budaya. Inilah yang memaksanya pandai-pandai mencuri waktu untuk berlatih.
Memasuki masa SMK, bakat menari pemuda kelahiran 13 Maret 2008, Desa Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu ini semakin terlihat.
Ia pertama kali tampil dalam kegiatan unjuk bakat saat masa pengenalan lingkungan sekolah.
Momentum ini menjadi titik awal tumbuhnya kepercayaan diri untuk menari di atas panggung. Sejak itu, ia terus menekuni dunia tari dan semakin serius mengasah kemampuan demi mewujudkan impian yang telah lama tersimpan.
Khoirul Saputra menampilkan tarian dengan penuh ekspresi dalam perlombaan antar kelas, disaksikan seluruh siswa di halaman sekolah. (Dokumentasi pribadi narasumber)
Namun, nasib malang menimpa anak ketiga dari enam bersaudara itu. Pada suatu hari di akhir tahun 2023, saat dalam perjalanan dari kos di Sampit menuju rumah orang tuanya di Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu ia mengalami kecelakaan di tikungan tajam Desa Bejarum, Kecamatan Kota Besi. Ia mengalami tabrak lari.
”Tiba-tiba pandangan saya gelap saat melewati tikungan tajam itu. Ketika sadar, saya sudah berada di dalam selokan. Saat melihat kaki kiri saya yang tampak patah, saya hanya bisa pasrah. Sepertinya saya tidak bisa menari lagi,” ucapnya.
Setelah mendapat penanganan awal di Puskesmas Kota Besi. Ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Murjani Sampit dengan ambulans.
Pandangannya tertuju pada wajah kedua orang tuanya yang tampak sedih melihat putra mereka terbaring menahan sakit.
Situasi itu membuatnya semakin terpuruk. Terlebih melihat wajah ayahnya yang berkeringat dan berlumur arang, ia sadar ayahnya baru saja berjuang memadamkan kebakaran di lahan.
Di dalam ambulans, rasa sakit yang menjalar di kakinya membuatnya terdiam. Namun di tengah rasa nyeri itu, terlintas dalam benaknya bahwa ia masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah dan masih memiliki peluang untuk membanggakan kedua orang tuanya.
Dari titik itulah ia memanjatkan doa, menguatkan tekad untuk bangkit kembali dan memberikan kebahagiaan untuk kedua orang tuanya.
Khoirul berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia harus membalas budi dan memberi kebahagiaan kepada kedua orang tuanya.
Sesampainya di RSUD Murjani, ia menjalani rontgen dan diketahui paha bagian kirinya patah.
Namun, operasi tidak bisa segera dilakukan karena alat yang dibutuhkan tidak tersedia dan harus menunggu lama.
Tak ingin membebani orang tua dan ragu menjalani operasi, ia memilih pengobatan alternatif menggunakan obat tradisional.
Ia akhirnya menuju Kota Besi untuk menjalani pengobatan selama lebih dari satu bulan hingga masa pemulihan.
Setelah ia kembali bersekolah, seorang guru mengatakan bahwa ia adalah harapan dalam lomba tari.
Rasa kecewa menyesak di dadanya, karena ia sudah tak bisa meraih impian menjadi penari terkenal sekaligus melestarikan budayanya. Tapi ia mencoba menerima keadaan itu, meski menganggapnya sebagai titik terburuk dalam hidupnya.
Setelah perlahan bangkit dari keterpurukan, ia mulai menemukan kembali semangatnya melalui seni, namun kali ini di bidang yang berbeda.
Sebelum masuk SMK, ia sebenarnya sudah tertarik mempelajari kecapi. Ketertarikan itu sekarang kembali saat melihat temannya memainkan alat musik tradisional di sekolah, hingga ia mulai mencari tahu lebih jauh.
Awal perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Fasilitas alat musik di sekolah yang sebagian rusak membuatnya sempat tidak bergairah.
Senar kecapi yang putus membuatnya tidak bisa langsung belajar alat yang diminatinya.
Namun, di luar sekolah, ia memanfaatkan alat musik ukulele yang nadanya diatur seperti kecapi.
Bahkan ia menghabiskan waktu bermalam-malam untuk berlatih kecapi menggunakan ukulele hingga akhirnya mulai menguasainya.
Baginya, beralih dari dunia tari ke musik bukanlah hal yang mudah, namun ia merasa musik lebih dapat dipelajari dengan santai meski dengan kondisi kakinya yang masih sakit.
”Tantangan dalam mempelajari bidang baru bukanlah alasan untuk menyerah. Sesulit apa pun itu, selagi mau berusaha pasti mudah,” ujarnya.
Ketika teman-temannya belum terlihat di ruang latihan, ia sudah lebih dulu menginjakkan kaki di ruangan itu, menunggu sambil belajar secara mandiri. Jemarinya mulai terbiasa menepuk permukaan gendang nan bersemangat dan memetik dawai kecapi nan menenangkan.
Ketekunannya membuahkan hasil. Ia mulai dipercaya memainkan berbagai instrumen dalam latihan, mulai dari gendang hingga kecapi dalam musik karungut.
Kesempatan tampil pertama datang saat pembukaan acara temu alumni di sekolah. Pengalaman tersebut menjadi langkah awalnya sebelum mengikuti perlombaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) pada tahun 2025.
Saat pelaksanaan FLS3N, musik tradisional membawanya pada prestasi beruntun. Juara I tingkat kabupaten hingga juara III tingkat provinsi.
Khoirul (mengenakan kacamata) bersama tim dan pelatihnya sebelum rekaman FLS3N tingkat provinsi. (Dokumentasi pribadi narasumber)
Sementara dalam Festival Habaring Hurung ia berhasil meraih juara pertama. Prestasi tersebut mengantarkannya mewakili kabupaten pada ajang Isen Mulang di Palangka Raya.
Dalam perlombaan tersebut, ia kembali dipercaya menjadi bagian dari tim pemusik untuk mengiringi pertunjukan tari.
Saat ini, ia bersama timnya tengah mempersiapkan diri menghadapi perlombaan selanjutnya.
Khoirul (memegang kecapi) sedang berlatih bersama timnya untuk persiapan lomba Festival Habaring Hurung. (Dokumentasi pribadi narasumber)
Dari berbagai pencapaian yang diraih, kini ia memiliki mimpi lebih besar.
”Saya ingin menjadi pemain musik tradisional yang dikenal luas,” ucapnya.
Baginya, musik tradisional bukan hanya sebuah seni, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.
Khoirul membuktikan keterbatasan saat tak bisa lagi menari bukanlah halangan untuk berprestasi.
Kecintaan terhadap seni dan budaya telah mengakar kuat di dalam diri. Bidang apapun yang digeluti justru menjadi pintu baru meraih mimpi.
”Saya harap, dari perjalanan yang saya tempuh, semakin banyak generasi muda yang tertarik mengikuti jejak saya untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah. Apapun kendala dan tantangannya,” tutupnya. (***)
DI tengah dominasi budaya populer, generasi muda semakin akrab tren yang datang silih berganti. Tanpa sadar, mereka perlahan menjauh dari akar budayanya.
Di saat musik modern dengan mudah menguasai ruang dengar, ada satu suara yang kian tergerus.
Bukan karena kehilangan makna, melainkan tak lagi dianggap relevan. Karungut, seni tutur khas Dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah, kini berada di persimpangan: dilupakan, atau diperjuangkan agar tetap hidup.
Di tengah situasi itu, sosok seperti Kornadi memilih untuk tetap bertahan, menjaga suara itu tidak benar-benar hilang.
Pencarian saya terhadap kesenian tradisional yang akan diangkat dalam lomba ini tidak berjalan mudah.
Sejumlah pilihan sempat muncul, namun tak satu pun yang benar-benar terasa tepat. Hingga suatu ketika, ingatan saya kembali pada sebuah momen di awal tahun 2026.
Saat itu, saya tengah berjalan menyusuri area Sampit Expo 2026. Di antara riuh pengunjung dan deretan stan, perhatian saya tertuju pada seorang pria berpostur tinggi, berkumis dan berambut putih yang memainkan alat musik tradisional dengan bentuk yang unik.
Lantunan syair terdengar asing, sulit saya pahami namun meninggalkan kesan. Saya tersadar, saya belum pernah menyaksikan penampilan seperti itu.
Dari situlah secercah ide mulai muncul. Rasa penasaran mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang kesenian.
Setelah menelusuri berbagai informasi melalui media digital, saya akhirnya mengenal Karungut: sebuah seni tutur khas Dayak yang perlahan mulai jarang terdengar.
Rasa ingin tahu yang semakin besar membawa saya pada sosok tersebut. Seorang seniman yang setia menjaga keberlangsungan Karungut.
Namun, untuk menemukan kontaknya tidaklah mudah. Di tengah kebuntuan, saya mencoba untuk bertanya kepada ayah saya.
”Bah, pian kenal dengan sidin?” tanya saya, sembari menunjukkan foto di Expo Sampit.
”Oh, ini tampil di depan stan DSDABMBKPRKP seingat Abah namanya Pak Kornadi,” jawab ayah.
Setelah percakapan dengan ayah dan mencari informasi akhirnya saya mendapatkan kontak Kornadi.
Saya segera menghubunginya untuk wawancara. Setelah beberapa percakapan, kami pun sepakat untuk bertemu secara langsung di kediamannya pada Kamis, 16 April 2026, selepas waktu magrib.
Pertemuan itulah yang kemudian akan membuka lebih dalam cerita tentang Karungut—dan perjuangan seniman dalam menjaganya tetap hidup.
Malam telah turun ketika saya tiba di kediaman Kornadi. Halaman rumahnya cukup luas, dikelilingi oleh pepohonan dan tanaman yang membuat suasana terasa sejuk.
Dari kejauhan, cahaya lampu teras memancar hangat, menjadi sumber terang di tengah malam.
Rumah itu sederhana, namun terasa hidup. Di salah satu sisi teras, sebuah sepeda motor tua terparkir diam. Angin malam berembus pelan, diiringi suara jangkrik yang sesekali memecah kesunyian.
Kornadi, pegiat seni Karungut di Sampit memegang kecapi elektrik khas Kalteng ciptaannya sendiri. (Dokumentasi Pribadi Penulis)
Tak lama kemudian, sosok yang saya cari terlihat. Kornadi berdiri di teras, menyambut saya yang saat itu masih melangkah mendekat. Kesan pertama yang saya rasakan begitu hangat.
Ia menyambut saya dengan sikap ramah dan tenang, mengurangi rasa gugup yang sejak tadi saya rasakan.
Tanpa banyak basa basi, ia mempersilakan saya masuk ke ruang tamu.
Di dalam, suasana ruangan dipenuhi nuansa seni. Beberapa alat musik tradisional tersusun rapi di pojok ruangan, berpadu dengan hiasan dinding yang unik. Ruang itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan seni yang ia jalani.
Wawancara pun dimulai. Awalnya suasana terasa canggung. Saya sempat gugup dalam menyusun pertanyaan, sementara ia menjawab dengan tenang.
Namun, seiring waktu, percakapan kami mulai mengalir, membuka satu per satu kisah tentang Karungut dan perjalanan panjang yang telah ia tempuh.
”Dibayar tidak membuat kaya, tidak dibayar juga pun tidak menjadi miskin. Jadi saya tetap maju.”
Kalimat itu diucapkan Kornadi dengan nada tenang, namun sarat makna. Bagi dirinya, Karungut bukan sekadar seni, melainkan bagian dari hidup yang telah ia jalani sejak muda.
Ia mulai mengenal Karungut sejak masih duduk di bangku SMA pada tahun 1980-an. Ketertarikannya bukan datang begitu saja, melainkan tumbuh dari lingkungan keluarga yang kental dengan dunia seni.
”Saya itu dari bakat, turunan,” ujar pria berusia 63 tahun ini.
Ia bercerita, sang kakak menjadi salah satu sosok yang lebih dahulu terjun dalam dunia Karungut, bahkan termasuk di antara yang pertama melakukan rekaman di Kalimantan Tengah pada masa kaset pita.
Sementara dirinya, saat itu hanya mengikuti jejaknya.
”Awalnya saya sih cuma ikut-ikutan Kakak. Tetapi juga ada kemauan dan tertarik seni Karungut,” tambahnya.
Sejak masa sekolah, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan dan sempat meraih juara di tingkat SMA.
Dari situlah, Karungut perlahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.
Bagi Kornadi, Karungut bukan sekadar hiburan. Lebih dari itu, ia merupakan media untuk menyampaikan berbagai pesan.
”Karungut itu, untuk hiburan tapi juga bisa menyampaikan aspirasi. Bisa juga seperti cerita tentang kehidupan, legenda, hingga kritik,” jelasnya.
Kornadi menceritakan, dahulu Karungut kerap hadir dalam berbagai acara adat, mulai dari pesta panen hingga upacara tertentu.
Liriknya yang khas dengan pola sajak tertentu serta cengkok yang unik menjadikannya berbeda dari bentuk seni tutur lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu keberadaan Karungut mulai menghadapi tantangan.
”Sekarang ini ditekan terus dari budaya luar,” ujarnya, dengan lirih.
Ia mengakui minat generasi muda terhadap Karungut semakin berkurang. Selain dianggap kuno kesenian ini juga dinilai kurang memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.
Meskipun demikian, hal itu tidak membuatnya berhenti. Ia melakukan berbagai cara agar Karungut tetap bertahan.
”Kalau tidak ikut perkembangan, ya bisa hilang,” selorohnya.
Bagi Kornadi, mengikuti perkembangan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Ia menyadari bahwa mempertahankan bentuk lama tanpa penyesuaian hanya akan membuat Karungut semakin tertinggal.
Dari pemahaman itulah ia menciptakan kecapi elektrik dengan bentuk etnik yang tetap mempertahankan identitas aslinya. Inovasi ini bukan sekadar bunyi modern, tetapi cara agar Karungut tetap relevan.
Di tengah keterbatasan, langkah tersebut menunjukkan bahwa kreativitas bukan sekadar kemampuan mencipta, melainkan cara bertahan.
Sebuah bentuk keteguhan untuk tidak menyerah pada perubahan, sekaligus upaya menjaga agar nilai-nilai yang terkandung di dalam Karungut tetap hidup.
Tak hanya itu, ia juga mulai menyesuaikan bahasa dalam Karungut agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas, termasuk menggunakan bahasa Banjar atau Indonesia dalam beberapa penampilannya.
Upaya ini ia lakukan bukan tanpa alasan. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana Karungut tetap dikenal dan bertahan.
”Hanya untuk memperkenalkan saja, mempertahankan bahwa masih ada Karungut,” tuturnya.
Di tengah berbagai keterbatasan, ia masih melihat secercah harapan. Kehadiran generasi muda yang mulai mengenalkan Karungut melalui media sosial menjadi tanda bahwa kesenian ini belum sepenuhnya ditinggalkan.
”Kalau menurut saya masih ada harapanlah kalau Karungut ini bisa bertahan lebih lama,” Kornadi optimistis.
Baginya, melestarikan Karungut bukan sekadar soal mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya.
Sebuah langkah kecil yang berdampak besar, agar suara lama itu tetap memiliki tempat di tengah zaman yang berjalan dinamis.
Di tengah perubahan zaman, Karungut mungkin tak lagi menjadi suara utama. Namun, melalui keteguhan sosok seperti Kornadi, ia tetap hidup, membawa nilai tentang ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk bertahan.
Malam itu di Sampit, saya belajar bahwa budaya tidak mati karena zaman. Ia akan hilang ketika kita berhenti menjaganya. (***)
Juara 3 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Ahmad Raja, SMAN 1 Sampit.
Di bawah sorot panggung, Mariatul Khiptiah adalah pusat semesta yang lantang bicara. Namun, tak banyak yang tahu, dia pernah akrab dengan kesunyian. Selama tiga tahun sempat vakum dari pendidikan formal demi menjaga sang ayah dan usaha keluarga. Perjalanan panjang dari keputusasaan menuju panggung nasional inilah yang membawaku menembus hujan menuju Bagendang.
Thovan Maulana Putera
PEREMPUAN berbusana serba hitam melangkah tepat di jantung panggung. Disoroti cahaya lampu. Tak ada orang lain. Tak ada properti yang bisa dijadikan tameng.
Hanya cahaya memisahkannya dari kegelapan di atas lantai pertunjukan dan cerita yang harus dia lantangkan.
Caranya menarasikan tiap jengkal cerita dengan emosi yang begitu hidup, membungkam mulut setiap pasang mata hingga tenggelam dalam bisu.
Begitulah imajinasiku pada monolog yang ditampilkan Mariatul Khiptiah dalam FLS3N 2025 tingkat Nasional di Jakarta sebelum aku temui.
Penampilan monolog Mariatul Khiptiah dalam pentas FLS3N di Institut Kesenian Jakarta. (Dokumentasi milik Narasumber)
Sekitar pukul 13.40, aku berangkat ke Mentaya Hilir Utara atau kerap disebut Bagendang untuk menemui Mariatul Khiptiah.
Sepanjang perjalanan dari Sampit ke wilayah itu, mobil yang aku tumpangi harus menembus derasnya hujan.
Sekitar setengah jam perjalanan menelusuri jalan trans Kalimantan akhirnya aku tiba di lokasi tujuan.
Aku berlari kecil menyusuri koridor hingga akhirnya berhenti di salah satu ruangan yang dipakai untuk latihan kesenian.
Aku menunggu. Tak lama dia pun datang. Akhirnya aku bisa bertatap muka dengan Mariatul Khiptiah, kesan pertama begitu hangat dan santai, dan tak pelit bicara.
Mariatul Khiptiah (Berpakaian hitam) sedang diwawancarai penulis. (Dokumentasi milik Penulis)
Bagi Mariatul Khiptiah atau akrab dipanggil Maria, pukul 06.05 bukan sekadar angka di jam, melainkan janji.
Perempuan kelahiran 06 Oktober 2004 asal Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.
Dia selalu tepat waktu. Di sekolahnya, dia menjalani hari-harinya seperti siswa lain seperti piket pagi, bercengkerama dengan teman.
Namun saat jam kosong di mana teman-temannya bercakap riang, dia memilih membenamkan diri di pojok baca, nyaris semua buku seni nonfiksi yang disediakan sekolah itu dia lahap.
Di balik seragam putih abu-abunya, dia menyimpan kisah sebagai Finalis FLS3N 2025 cabang Monolog.
Namun, Maria tak pernah sombong, dia tetap seperti air tenang, tak berisik, dan selalu tahu arah yang dia tuju.
Tahun 2020, saat badai pandemi Covid-19 mengusik dunia, menjadi masa berat bagi banyak orang.
Tak terkecuali bagi keluarga Maria. Bahkan ironisnya, pandemi usai saat lulus SMP cobaan baru kembali datang, kesehatan sang ayah malah menurun. Ini memaksa jejaknya menggali ilmu terhenti.
”Saat itu, mau tidak mau aku menunda melanjutkan pendidikan untuk mengurus usaha ayah,” ucapnya dengan nada bicara turun.
Maria terpaksa terjun untuk membantu usaha keluarganya. Tangan yang mestinya mengetik tugas dan telinga menerima penjelasan guru, kini justru sibuk berkutat dengan tandan buah segar kelapa sawit.
Saat teman-temannya belajar dari rumah, dia malah disibukkan dengan pekerjaan yang lumayan berat. Keinginan melanjutkan sekolah pun sempat terlupa.
Suatu ketika, kakak pertamanya berkata kepada Maria ”Dek, kamu harus sekolah lagi. Sudahlah, soal usaha ini serahkan ke kakak,” ujarnya.
Kalimat itu ibarat cambuk yang memacu semangat Maria. Dia pun mencari sekolah terdekat. Langkahnya jatuh pada salah satu sekolah, saksi bisu permulaan dunia teater milik Maria.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momentum paling berkesan bagi Maria.
Saat itu dia dipertontonkan video monolog dari kakak kelasnya. Ini sangat membekas di benaknya, hingga dia pun bertekad tak hanya menonton namun harus menjadi bagian cerita.
Memulai lagi dari nol belajar di bangku SMA dalam usia lebih dewasa daripada teman-teman sekelasnya tidak membuatnya malu.
Justru, ini jadi pemantik semangat bagi Maria untuk pembuktian diri. Demikian halnya dengan teater. Akan tetapi, dunia teater ternyata tak semudah ekspektasinya.
”Bayangkan, untuk menghafal naskah selama tiga hari, aku hanya bisa mencerna satu kata,” ujarnya dengan nada pelan, seolah itu rahasia.
Tanpa dasar, tanpa pengalaman, Maria memulai kegiatan berteater dari awal, di bawah bimbingan Tiara Permata Sukma. Di teater, mental maupun fisiknya ditempa.
Saat lomba, selama tiga bulan dia melatih diri dengan gestur, artikulasi, blocking, dan penguasaan ekspresi. Teater memberinya pelajaran berharga: kehidupan, kesabaran, cara mengendalikan emosi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak individu.
Kalamantana, karya Titi (pembimbing monolog) merupakan salah satu naskah paling membekas yang pernah dia bawakan di panggung. Baginya, itu bukan sekadar dialog, melainkan teguran.
Memerankan tokoh “Tanah” dengan watak lelah, marah, dan tersakiti oleh kerakusan manusia.
”Jangan sombong manusia! Karena aku mengingat semua bentukmu sebelum kau mengenakan nama,” ucap Maria, menirukan di depanku.
Kalimat itu mengakar dalam benaknya. Menurutnya, satu kutipan naskah ini begitu kuat, dapat membuatnya berapi-api.
Di lantai panggung, Maria membiarkan tubuhnya menjadi wadah untuk kemarahan bumi, seolah jiwanya tergantikan.
Meskipun gestur dan ekspresi dilatih secara khusus, saat lampu menyorot, dia biarkan intuisi mengalir. Jika meleset dari naskah, improvisasi spontan menjadi pilihan terbaik untuknya, tanpa harus berganti jiwa.
”Ini bukan hanya cuma lomba biasa, tapi itu adalah kecintaanku pada seni,” ujarnya dengan mata berbinar.
Menurut Maria, kerja keras tanpa dorongan orang-orang terdekat nyaris mustahil.
Dukungan kedua orangtuanya, arahan pembimbing, serta dedikasi pelatih dan kru menjadi mesin bagi raga dan mentalnya. Sedangkan doa dan ikhtiar jadi bahan bakarnya.
Di pedesaan Bagendang jarang ada anak bisa berdiri di panggung nasional, namun siapa sangka Maria dapat membantah stigma tersebut.
Dengan latar belakang sempat tertunda tiga tahun absen di meja sekolah, semangat dan kecintaannya terhadap seni dapat menorehkan prestasi mengagumkan.
Perjalanannya mengalir deras melewati satu demi satu tahapan: Juara 1 tingkat kabupaten, berlanjut ke provinsi, hingga terbang ke Jakarta dan bersaing dengan 35 perwakilan masing-masing provinsi.
Banyaknya perwakilan tersebut tak bisa memadamkan api semangat Maria.
Di balik setiap langkah Maria menuju panggung nasional, ada doa dua orang tak pernah absen: orangtuanya, mereka paling percaya padanya sejak awal.
”Kalau dipikir-pikir, jika saja dulu aku tidak kembali ke sekolah,” gumamnya pelan, matanya menerawang sendu.
Dia berhenti sejenak, seolah merangkai kata-kata berikutnya.
”Pencapaian ini tidak pernah ada. Mungkin aku bisa ikut sanggar, tapi tak akan pernah bisa membawa nama sekolah dan provinsi sejauh ini.”
Seni teater telah mengubah jati diri Maria. Jika saja dulu dia hanya mengenal disiplin yang kaku, kini dia belajar tentang batasan dan sikap saat bertemu orang baru.
Menjadi lebih mawas diri, namun tetap rendah hati dan bersosialisasi dengan teman. Salah satu nilai dibawa Maria hingga sekarang adalah, setinggi apapun prestasi kita, janganlah berlagak sombong, layaknya napas tokoh “Tanah” dalam naskah Kalamantana.
Mariatul Khiptiah telah menyelesaikan perjalanan panjang dalam hidupnya. Dari perempuan kehilangan harapan sekolah, menjadi peraih gelar menginspirasi orang lain.
”Untuk siapa pun yang berada di posisi sepertiku atau merasa tertinggal. Jangan menyerah, apa pun keadaannya. Jangan pernah berpikir kalau hidupmu berhenti di situ saja.”
Dari pertemuan dan wawancara dengan Maria menambah khazanah baruku soal seni yang menguatkan karakter.
Ternyata, sering kali sorot lampu paling terang justru dimenangkan kepada jiwa berani bangkit setelah terjatuh. (***)