Tag: Menhut Raja Juli Antoni

  • Omon-Omon “Kalimantan Tak Baik-Baik Saja”: Menhut Injak Sampit, Pemkab Kotim Langsung Tagih Helikopter Water Bombing

    Omon-Omon “Kalimantan Tak Baik-Baik Saja”: Menhut Injak Sampit, Pemkab Kotim Langsung Tagih Helikopter Water Bombing

    SAMPIT,  Kanalindependen.id   – Retorika simpati menteri kembali diuji di atas tanah gambut Kalimantan Tengah yang membara. Usai sempat memicu gelombang kekecewaan publik akibat pembatalan agenda sebelumnya, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni akhirnya menginjakkan kaki di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu (17/10/2026). Ingin menunjukkan kepekaan, Menhut melemparkan pengakuan bahwa kondisi ekologis Pulau Kalimantan saat ini memang “sedang tidak baik-baik saja”.

    Namun bagi pemerintah daerah dan ratusan petugas pemadam di tingkat tapak yang sudah kehabisan air dan tenaga, pengakuan manis itu tak ada gunanya tanpa armada tempur udara. Bupati Kotim Halikinnor langsung memanfaatkan momentum tatap muka tersebut untuk melayangkan desakan keras: menagih komitmen nyata pengerahan helikopter water bombing guna mengguyur titik api yang terisolasi.

    Dua kawasan paling kritis yang tak tersentuh armada darat adalah Desa Ganepo di Kecamatan Seranau dan Desa Camba di Kecamatan Kota Besi. Titik kebakaran di Ganepo membentang 7 hingga 9 kilometer dari tepi Sungai Mentaya, sementara lokasi kebakaran di Camba berada di pedalaman hutan gambut tanpa akses air.

    “Kalimantan kita memang sedang tidak baik-baik saja. Tantangan kita masih besar karena prediksi dari BMKG bahwa hujan alami di Kalimantan Tengah baru akan ada di November. Namun saya pastikan pemerintah hadir semaksimal mungkin, tidak cuci tangan, agar api padam dan masyarakat tidak terus terpapar ISPA,” klaim Menhut Raja Juli Antoni di Sampit, Sabtu (17/10/2026).

    448 Personel Tercekik Air Mengering, Modifikasi Cuaca Terhalang Awan

    Di atas kertas, Pemkab Kotim telah mengerahkan kekuatan penuh: 448 personel gabungan, 29 unit armada mobil, 113 mesin alkon, selang pemadam sepanjang 5.000 meter, serta 43 unit mobil tangki air. Namun di lapangan, pengerahan ratusan petugas ini menemui benteng tebal berupa mengeringnya embung, parit, dan sumur bor akibat kemarau panjang.

    Menhut berdalih bahwa pemerintah telah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hasil kolaborasi BMKG, BNPB, dan Kemenhut. Ia menyebut hujan yang sempat turun di Palangka Raya dan Kotawaringin Barat merupakan buah dari penyemaian awan buatan.

    Akan tetapi, teknologi OMC di Kalteng dilaporkan membentur tembok tebal: minimnya bibit awan semai akibat puncak fenomena El Nino. Ketika teknologi hujan buatan lumpuh dan BMKG memprediksi hujan alami baru menyiram merata pada pertengahan November 2026, membiarkan tim darat bertarung tanpa water bombing sama saja dengan membiarkan Kotim dipanggang asap satu bulan penuh.

    Pengakuan Menhut Raja Juli Antoni bahwa “Kalimantan Tidak Baik-Baik Saja” tidak boleh sekadar menjadi omon-omon politik untuk meredam kekecewaan warga Kotim. Tanpa pengiriman armada helikopter water bombing secara riil ke Desa Ganepo dan Camba, kalimat “pemerintah tidak cuci tangan” hanya akan menjadi slogan hampa di tengah penderitaan warga yang tercekik asap dan ancaman diare massal.

     Kemenhut bersama BNPB didesak tidak memutar-mutar birokrasi penanganan darurat. Pengerahan helikopter bom air wajib direalisasikan dalam hitungan jam ke Desa Ganepo dan Camba untuk memadamkan api bawah tanah (ground fire) yang mengancam pemukiman.

    Mengingat kepungan asap diprediksi bertahan hingga November, Kemenhut dan Pemkab Kotim dituntut menyalurkan ribuan masker standar N95 serta menjamin seluruh fasilitas kesehatan/puskesmas menggratiskan penanganan ISPA dan diare bagi anak-anak korban krisis lingkungan.

  • 3 Relawan Gugur Padamkan Api, Menhut Malah Melengos ke Kobar: Tangis Wabup Kotim Meledak di Telepon

    3 Relawan Gugur Padamkan Api, Menhut Malah Melengos ke Kobar: Tangis Wabup Kotim Meledak di Telepon

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Batalnya kunjungan kerja Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni ke Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu duka mendalam sekaligus amarah publik yang meledak. Di tengah pertaruhan nyawa membendung bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kotim bersama para relawan dibuat gigit jari setelah berjam-jam menunggu kedatangan menteri di Jalan Jaksa Agung, Sampit, Rabu (14/10/2026). Rombongan kementerian justru melengos dan mengalihkan rute ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat pada hari yang seharusnya diagendakan di Kotawaringin Timur.

    Pemerintah daerah telah merampungkan seluruh prosedur penyambutan, mulai dari pengamanan lintasan, pemetaan titik kritis peninjauan karhutla, hingga hidangan jamuan di Restoran Phoenix. Kekecewaan yang teramat sangat akhirnya meletup dalam sambungan telepon antara Wakil Wabup Kotim Irawati dan Staf Ahli Menhut Fahrizal Fitri.

    Dengan suara bergetar menahan tangis dan emosi, Irawati meluapkan kepedihan atas sikap kementerian yang terkesan tak bersimpati pada pengorbanan jiwa para pejuang pemadam di tingkat tapak.

    “Kami juga, Pak, manusia yang perlu diperhatikan. Tiga orang yang meninggal relawan kami, Pak! Kami sudah mengorbankan relawan kami, api terus meluas dan tim masih berjibaku memadamkan api sampai jam dua malam,” jerit Irawati dalam percakapan telepon bertekanan tinggi tersebut, Rabu (14/10/2026).

    Sumbat Komunikasi Pusat-Daerah dan Realita Berat Petugas Tapak

    Staf Ahli Menhut Fahrizal Fitri berdalih tidak mengetahui bahwa jajaran Forkopimda Kotim sedang bersiap menyambut di lokasi peninjauan. Fahrizal beralasan rombongan harus berkoordinasi di Pangkalan Bun serta bersiap kembali ke Palangka Raya menyambut kedatangan Menteri Koordinator pada Jumat (16/10/2026). Ia berjanji menyampaikan keluhan Wabup Kotim kepada menteri serta membuka peluang persinggahan singkat saat perjalanan balik melalui jalur darat, meski tanpa kepastian waktu.

    Batalnya peninjauan ini menutup pintu bagi Pemkab Kotim untuk memperlihatkan bobroknya kendala operasional di lapangan. Penjabat Sekretaris Daerah Kotim Diana Setiawan membeberkan bahwa ribuan titik api berada di lokasi terisolasi yang memaksa petugas berjalan kaki belasan kilometer. Bahkan saat kehabisan logistik, para relawan terpaksa menyaring air rawa seadanya untuk bertahan hidup di tengah kepungan asap.

    Skala bencana di Kotim sendiri merupakan yang paling kritis di Kalteng. Data BPBD Kotim per 11 Oktober 2026 mencatat 1.400 kejadian kebakaran, 2.137 hektare lahan hangus (884 hektare di Kecamatan Seranau), serta 44.251 titik panas.

    Insiden pembatalan sepihak dan ketiadaan koordinasi ini bukan sekadar persoalan salah paham jadwal, melainkan bentuk pengabaian terhadap krisis kemanusiaan di Kotim. Saat tiga nyawa relawan lokal melayang dan ribuan hektare tanah terbakar, jajaran Kementerian Kehutanan justru mempertunjukkan lemahnya tata kelola komunikasi bencana.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Evaluasi Total Jalur Komunikasi Kementerian Kehutanan: Kemenhut dituntut menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada jajaran Forkopimda Kotim dan keluarga relawan yang gugur. Alasan koordinasi internal tidak bisa dijadikan pembenaran untuk menelantarkan jajaran pejabat daerah dan relawan yang telah bersiap di lapangan.
    2. Realisasi Kompensasi dan Armada Pemadam: Pemkab Kotim didesak memanfaatkan rekaman komplain resmi ini untuk menekan Kemenhut agar segera mencairkan santunan bagi keluarga relawan yang gugur, serta menerjunkan bantuan alat pemadam tekanan tinggi dan armada water bombing tanpa syarat. (***)

  • Rapat Digelar Lokasi Disiapkan, Kunjungan Menhut ke Kotim Batal: Warga Kecewa Berat Ditinggal ke Kobar

    Rapat Digelar Lokasi Disiapkan, Kunjungan Menhut ke Kotim Batal: Warga Kecewa Berat Ditinggal ke Kobar

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Harapan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan masyarakat untuk menagih bantuan pemadam serta melaporkan secara langsung bencana parah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni pupus total. Kendati Pemkab Kotim telah merampungkan rapat koordinasi dan menyiapkan skenario peninjauan lapangan, kunjungan kerja Menhut yang dijadwalkan pada Rabu (14/10/2026) mendadak dipastikan batal.

    Rombongan Menteri Kehutanan secara mengejutkan membatalkannya dan memilih langsung meluncur ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

    Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kotim, Legendaria Okta BN, mengonfirmasi pembatalan mendadak tersebut berdasarkan laporan Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho. Pengalihan rute ini otomatis membatalkan seluruh agenda peninjauan zona kritis karhutla di Mentawa Baru Hulu dan Mentawa Baru Ketapang (MBK) serta forum diskusi bersama Forkopimda Kotim.

    Padahal, sehari sebelumnya, jajaran Pemkab Kotim telah menggelar rapat koordinasi matang di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kotim pada Selasa (13/10/2026) pagi demi menyambut kedatangan Menhut.

    Pembatalan sepihak tanpa alasan transparan ini memicu gelombang kekecewaan mendalam dari masyarakat Kotim yang selama berminggu-minggu terendam racun asap dan terancam penyakit saluran pernapasan.

    “Ternyata Menhut lebih mementingkan ke Pangkalan Bun daripada Kotim. Kotim ini wilayah terparah, loh! Dampaknya langsung ke manusia, enggak cuma hewan. Ternyata nyawa manusia di Sampit tak kalah berharga dibanding orangutan,” cetus Rahmat, salah seorang warga Sampit, menumpahkan kekecewaannya, Rabu (14/10/2026).

    Bandingkan Data Kritis: Kotim Hangus 2.137 Hektare dan 44.251 Hotspot Ditinggalkan

    Di balik pembatalan kunjungan Menhut Raja Juli Antoni, fakta lapangan menunjukkan bahwa Kabupaten Kotim merupakan daerah terparah korban amukan karhutla di Kalteng. Data resmi BPBD Kotim per 11 Oktober 2026 mencatat angka kehancuran ekologis yang fantastis:

    • 1.400 kejadian kebakaran lahan aktif.
    • 2.137 hektare total luas lahan terbakar (Kecamatan Seranau menyumbang angka terbesar yaitu 884 hektare).
    • 44.251 titik panas (hotspot) terekam satelit sepanjang musim kemarau ini.

    Sesuai rincian agenda yang dihimpun, Menhut justru dijadwalkan meninjau kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, lokasi karhutla Pangkalan Bun, Daops Manggala Agni Kobar, serta menggelar rapat evaluasi di Kobar pada Kamis (15/10/2026) sebelum kembali ke Jakarta pada Jumat (16/10/2026).

    Pengalihan sepihak agenda kunjungan Menhut Raja Juli Antoni melukai nurani publik Kotim dan memicu kesan sikap diskriminatif penanganan bencana oleh Kementerian Kehutanan. Ketika 2.137 hektare lahan di Kotim hangus dan ratusan ribu warga dipaksa bernapas dalam racun asap hingga penerbangan lumpuh, Menhut justru melompati daerah paling terpuruk.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Tagih Kepastian Realisasi Bantuan Tanpa Kunjungan Fisik: Pembatalan peninjauan lapangan tidak boleh menjadi alasan bagi Kemenhut untuk mengabaikan jeritan Satgas Karhutla Kotim. Pemkab Kotim didesak menyurat resmi untuk menagih pemenuhan armada pemadam modern, mesin high pressure, serta percepatan penuntasan status penetapan kawasan hutan.
    2. Evaluasi Penanganan Bencana Berbasis Kerugian Manusia: Kementerian Kehutanan dan Satgas Karhutla Nasional diingatkan bahwa prioritas penanganan karhutla wajib menempatkan keselamatan jiwa dan kesehatan masyarakat di tingkat teratas, bukan sekadar agenda simbolis di wilayah konservasi.

    Menhut Raja Juli Antoni batal ke Kotim! Beralih ke Kobar, warga Sampit murka, sebut nyawa manusia tak dianggap! 2.137 Hektare lahan hangus & 44.251 hotspot Kotim diabaikan, Pemkab didesak tetap tagih peralatan pemadam ke pusat! (****)