Tag: Mentaya Seberang

  • Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan rekapitulasi data satelit NOAA-20 dan SNPP yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit bersama BPBD Kotim per Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, terdeteksi akumulasi sebanyak 506 titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Kotim dalam 24 jam terakhir. 

    ​Angka ini memperlihatkan lonjakan tajam dan mengonfirmasi bahwa amukan api belum terkendali, terutama di wilayah pesisir serta seberang alur Sungai Mentaya. 

    “Bagendang Permai, Sungai Lepeh, kebakaran besar,” ungkap Fatma, salah seorang warga di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Rabu (7/10/2026).

    ​Dari total 506 titik panas, konsentrasi terbesar berada di wilayah penyangga selatan dan seberang kota Sampit: 
    ​Kecamatan Seranau: 227 titik (Mentaya Seberang 121 titik, Ganepo 56 titik, Seragam Jaya 50 titik). 

    ​Kecamatan Pulau Hanaut: 180 titik (Satiruk 43 titik, Serambut 40 titik, Bantian 33 titik, Babaung 22 titik, Bapinang Hilir 17 titik, Bapinang Hulu 7 titik, Bamadu 7 titik, Hanaut 5 titik, Babirah 4 titik, Bapinang Hilir Laut 1 titik, Penyaguan 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga: 29 titik (Luwuk Ranggan 21 titik, Rubung Buyung 8 titik).

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU): 22 titik (Bagendang Hilir 15 titik, Natai Baru 6 titik, Bagendang Tengah 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga Hulu: 15 titik (Parit 5 titik, Bukit Raya 4 titik, Sudan 4 titik, Sungai Ubar Mandiri 2 titik). 
    ​Kecamatan Mentaya Hulu: 7 titik (Pahirangan 4 titik, Kapuk 2 titik, Tangar 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentawa Baru Ketapang: 6 titik (Bangkuang Makmur 3 titik, Bapeang 3 titik). 

    ​Kecamatan Parenggean: 5 titik (Manjalin 4 titik, Kabuau 1 titik). 

    ​Kecamatan Telawang: 5 titik (Tanah Putih 5 titik). 
    ​Kecamatan Teluk Sampit: 5 titik (Lampuyang 5 titik). 
    ​Kecamatan Kota Besi: 2 titik (Palangan 1 titik, Rasau Tumbuh 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Selatan: 1 titik (Sei Ijum Raya 1 titik). 

    ​Kecamatan Bukit Santuai: 1 titik (Tumbang Batu 1 titik). 
    ​Kecamatan Tualan Hulu: 1 titik (Bukit Makmur 1 titik). 
    ​
    ​Korelasi data hotspot BMKG/BPBD Kotim per 7 Oktober 2026 ini memberikan benang merah yang jelas terhadap seluruh rangkaian krisis lingkungan, satwa, dan kesehatan masyarakat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir:

    Krisis Asap & ISPU Ekstrem
    ​Fakta Data: Kecamatan Seranau (227 titik) dan Pulau Hanaut (180 titik) secara akumulatif menyumbang 407 titik panas (80,4% dari total hotspot Kotim). Kelurahan Mentaya Seberang sendiri mencatatkan 121 titik. 

    ​Adapun, data geografis ini membuktikan mengapa udara Kota Sampit yang berada tepat di seberang Sungai Mentaya mengalami fenomena pengendapan asap (smoke trap). Hal ini menjelaskan penyebab Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bergerak fluktuatif di level sangat berbahaya (300–400) hingga sempat menyentuh angka ekstrem di atas 1.000, serta melumpuhkan jarak pandang hingga tersisa 10–20 meter. 
    ​
    Asap pekat hasil pembakaran gambut dalam skala masif di Seranau terus terbawa angin melintasi sungai ke permukiman padat. Ini secara langsung memicu krisis kesehatan reproduksi akibat tingginya konsentrasi racun partikel halus PM2.5, yang meningkatkan risiko kelahiran prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bagi janin ibu hamil di Kota Sampit.

    ​Tingginya kerapatan hotspot di Ganepo secara objektif menjelaskan mengapa seekor trenggiling dilindungi ditemukan dalam kondisi kritis terpanggang api. Kobaran api yang menyebar cepat di 56 titik tersebut mengurung habitat satwa dan memutus jalur penyelamatan diri mereka. 

    Kejadian Karhutla Bagendang Hilir
    ​Fakta Data: Desa Bagendang Hilir di Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) mencatatkan 15 titik panas. 

    ​Hal ini mengonfirmasi penyebab terbakarnya 10 hektare hutan dan semak belukar yang berlokasi sangat dekat dengan jalan raya dan permukiman warga pada Rabu sore, sehingga membutuhkan pengerahan armada MTPK 12 Damkar Sektor Samuda bersama BPBD dan MPA. (***)

  • Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kota Sampit kembali berhadapan dengan ancaman kabut asap. Ratusan titik panas terdeteksi di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), termasuk di kawasan seberang Sungai Mentaya yang berhadapan langsung dengan pusat kota.

    Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim per Senin (5/10/2026) sore mencatat 482 titik panas dalam 24 jam terakhir.

    Konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Pulau Hanaut dengan 189 titik. Kecamatan Seranau menyusul dengan 128 titik, sedangkan Kecamatan Teluk Sampit tercatat 25 titik panas.

    Di Kecamatan Seranau, Kelurahan Mentaya Seberang mencatat 101 titik panas. Lokasinya berada tepat di seberang kawasan perkotaan Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya.

    Sebaran titik panas tersebut menjadi salah satu sumber asap yang dapat masuk ke Sampit. Pergerakannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

    Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kotim masih berubah dalam waktu singkat.

    “ISPU itu masih fluktuatif. Dalam hitungan jam saja nilainya bisa naik dan bisa turun,” kata Rihel, Senin (5/10/2026).

    Menurut Rihel, asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar kawasan kota. Asap dari Seranau, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit juga dapat terbawa menuju pusat perkotaan.

    Kondisi menjadi lebih buruk ketika angin melemah. Asap yang sudah mencapai kota tidak segera bergerak keluar dan kemudian bertahan di kawasan permukiman.

    “Setelah asap sampai ke kota, ketika kecepatan angin rendah atau tidak ada angin, akhirnya menetap di kota. Itu yang membuat asap semakin tebal dan ISPU naik, bahkan sampai 1.000 lebih,” ujarnya.

    Dampaknya terlihat pada jarak pandang. Rihel menyebut jarak pandang di Sampit beberapa kali turun drastis ketika konsentrasi asap meningkat. Dalam kondisi terburuk, jarak pandang hanya sekitar 10–20 meter.

    Nilai ISPU sempat turun dari kondisi ekstrem ke kisaran 300–400. Namun, angka tersebut masih jauh dari kondisi udara yang ideal.

    “Sebenarnya yang aman ISPU di bawah 50. Yang paling parah pernah di atas 1.000, biasanya sekitar 400, 300,” kata Rihel.

    Kondisi ini membuat kualitas udara Sampit sangat bergantung pada perkembangan kebakaran di wilayah sekitar dan perubahan pola angin.

    Mentaya Seberang menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan. Wilayah tersebut berada sangat dekat dengan pusat Kota Sampit dan mencatat 101 titik panas dalam data 24 jam terakhir.

    Ketika asap bergerak menuju kota sementara angin melemah, asap dapat bertahan lebih lama di kawasan perkotaan.

    Dengan ratusan titik panas masih terdeteksi di Kotim, ancaman asap bagi Sampit belum berakhir. Perubahan arah angin dalam beberapa jam ke depan akan ikut menentukan apakah asap bergerak menjauh atau kembali menumpuk di atas kota. (***)

  • Penyangga Kota Sampit Meredup: Seranau Sumbang Separuh Hotspot Kotim

    Penyangga Kota Sampit Meredup: Seranau Sumbang Separuh Hotspot Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 176 titik panas (hotspot) masih terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (1/10/2026) pukul 16.00 WIB. Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, menyumbang 88 titik atau tepat separuh dari seluruh hotspot yang terpantau.

    Data pemantauan BMKG dan BPBD Kotim menunjukkan hotspot di Seranau tersebar di Kelurahan Mentaya Seberang sebanyak 60 titik dan Desa Ganepo 28 titik.

    Titik panas tersebut terdeteksi dengan tingkat kepercayaan 30–79 persen melalui pantauan satelit SNPP dan NOAA20.

    Seranau berada tepat di seberang Kota Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya. Tingginya konsentrasi hotspot di wilayah ini membuat perkembangan kebakaran lahan tetap perlu dipantau, terutama terkait potensi asap yang dapat bergerak mengikuti kondisi angin.

    Hotspot Mulai Berkurang

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo mengatakan, jumlah hotspot sebenarnya mulai menunjukkan penurunan dibandingkan hari sebelumnya.

    Pada 29 September, BMKG mendeteksi sekitar 306 hotspot di Kotim. Konsentrasinya saat itu masih dominan berada di wilayah selatan.

    “Untuk hotspot hari ini, terdeteksi sekitar 306 titik. Jumlah itu mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya, tetapi titik panas masih dominan berada di wilayah selatan,” kata Mulyono.

    Sehari kemudian, kondisi kemudahan terbakar diperkirakan mulai menurun. Namun, penurunan tersebut tidak berlangsung lama karena potensi kemudahan terbakar diprediksi kembali meningkat pada 2 hingga 5 Oktober.

    “Potensi kemudahan terbakar pada 29 September masih cukup tinggi. Pada 30 September dan 1 Oktober diperkirakan berkurang, tetapi kembali meningkat pada 2 hingga 5 Oktober,” paparnya.

    Hujan Belum Banyak Membantu

    Persoalan lainnya adalah minimnya peluang pembentukan awan hujan. BMKG memperkirakan peluang pertumbuhan awan hujan signifikan di Kalimantan Tengah masih sangat kecil hingga 5 Oktober.

    “Berdasarkan potensi pertumbuhan awan kumulus pada 29 September hingga 5 Oktober, peluang pembentukan awan hujan signifikan di Kalimantan Tengah masih sangat kecil,” ujar Mulyono.

    Potensi pertumbuhan awan yang lebih besar justru berada di Kalimantan Barat dan wilayah utara Kalimantan.

    Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran lahan di Kotim masih membutuhkan kewaspadaan. Apalagi hotspot masih tersebar di sejumlah kecamatan.

    Selain Seranau, Mentaya Hilir Utara mencatat 28 titik, dengan konsentrasi terbesar di Desa Bagendang Tengah sebanyak 21 titik. Kota Besi menyusul dengan 23 titik, termasuk 14 titik di Desa Simpur.

    Pulau Hanaut mencatat 10 titik. Hotspot lainnya tersebar di Baamang empat titik, Mentawa Baru Ketapang empat titik, Teluk Sampit empat titik, Bukit Santuai tiga titik, Cempaga Hulu tiga titik, Mentaya Hilir Selatan tiga titik, Mentaya Hulu tiga titik, Cempaga dua titik, dan Antang Kalang satu titik.

    Dengan kondisi cuaca yang masih kering dan peluang hujan signifikan yang rendah, pemantauan terhadap titik panas dan potensi kebakaran masih menjadi pekerjaan penting di sejumlah wilayah Kotim. (***)

  • Kepungan Titik Panas di Pesisir Mentaya: Seranau dan Mentaya Hilir Utara Dominasi Hotspot Kotim

    Kepungan Titik Panas di Pesisir Mentaya: Seranau dan Mentaya Hilir Utara Dominasi Hotspot Kotim


    SAMPIT, Kanalindependen.id
     – Peta titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan sebaran yang luas. Dalam 24 jam terakhir hingga Selasa (29/9/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi 218 titik panas di berbagai wilayah.

    Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim menunjukkan Kecamatan Seranau dan Mentaya Hilir Utara menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi.

    “Keduanya mencatat total 123 titik panas atau lebih dari separuh keseluruhan hotspot yang terdeteksi di Kotim,” ungkpa Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo.

    Seranau menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 78 titik. Sebarannya berada di Kelurahan Mentaya Seberang sebanyak 44 titik dan Desa Ganepo 34 titik.

    Mentaya Seberang berada tepat di seberang pusat Kota Sampit. Kondisi tersebut membuat perkembangan titik panas di wilayah tersebut perlu mendapat perhatian, terutama jika kebakaran berkembang dan asap bergerak ke arah permukiman.

    Sementara Mentaya Hilir Utara mencatat 45 titik panas. Sebanyak 35 titik berada di Desa Bagendang Tengah, sembilan titik di Bagendang Hilir, dan satu titik di Bagendang Permai.

    Seluruh hotspot tersebut terdeteksi melalui sensor satelit NOAA-20 dan S-NPP dengan tingkat kepercayaan sedang, yakni 30–79 persen.

    Hotspot Menyebar ke Sejumlah Wilayah

    Sebaran titik panas tidak hanya terkonsentrasi di dua kecamatan tersebut. Kota Besi mencatat 28 titik yang tersebar di Kelurahan Kota Besi Hulu, Kandan, Simpur, dan Soren.

    Di kawasan muara, Pulau Hanaut terdeteksi 25 titik. Sebarannya antara lain berada di Desa Satiruk dan Hanaut, serta Serambut, Bapinang Hilir, dan Babaung.

    Sementara itu, Mentawa Baru Ketapang mencatat 11 titik yang berada di Bangkuang Makmur dan Bapeang.

    Kecamatan Baamang juga masih memiliki titik panas dengan total sembilan titik. Sebarannya berada di Baamang Hulu, Baamang Barat, dan Tanah Mas.

    Di wilayah selatan, Teluk Sampit terdeteksi tujuh titik panas yang berada di Lampuyang dan Ujung Pandaran.

    “Sebaran juga muncul di wilayah pedalaman. Antang Kalang mencatat enam titik, Bukit Santuai empat titik, Telawang tiga titik, serta Mentaya Hulu dan Tualan Hulu masing-masing satu titik,” tambahnya.

    Dengan sebaran yang mencakup wilayah pesisir, perkotaan hingga pedalaman, kondisi ini menjadi perhatian bagi tim penanganan karhutla. Titik panas yang terdeteksi satelit tetap memerlukan pengecekan lapangan untuk memastikan apakah merupakan kebakaran aktual dan menentukan kebutuhan penanganannya. (***)

  • Feri Sungai Mentaya Sempat Tertunda Akibat Kabut Asap, Jarak Pandang Hanya Sekitar 50 Meter

    Feri Sungai Mentaya Sempat Tertunda Akibat Kabut Asap, Jarak Pandang Hanya Sekitar 50 Meter

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mengganggu aktivitas transportasi sungai. Kabut asap pekat yang menyelimuti Sungai Mentaya pada Rabu (5/8/2026) pagi memaksa feri penyeberangan menuju Mentaya Seberang menunda operasional karena jarak pandang sangat terbatas.

    Kabut mulai menyelimuti kawasan bantaran Sungai Mentaya sejak dini hari hingga menjelang pagi. Kondisi tersebut membuat nahkoda feri memilih tidak melakukan penyeberangan demi menghindari risiko kecelakaan di alur pelayaran.

    Salah seorang warga Mentaya Seberang, Sasmita, mengatakan kabut begitu tebal saat dirinya keluar rumah pada pagi hari. Bahkan, aktivitas masyarakat sempat terhambat, termasuk anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah.

    “Keluar rumah kabutnya tebal sekali. Anak-anak mau berangkat sekolah juga menunggu. Feri penyeberangan belum berani menyeberang karena jarak pandang sekitar 50 meter saja, sudah tidak kelihatan lagi,” ujarnya.

    Menurutnya, kondisi mulai membaik setelah pukul 06.00 WIB. Kabut perlahan menipis sehingga jarak pandang meningkat dan aktivitas penyeberangan kembali dibuka.

    “Sekitar lewat jam enam kabut mulai berkurang. Setelah itu feri baru bisa kembali beroperasi,” katanya.

    Peristiwa tersebut memperlihatkan dampak nyata karhutla yang kini tidak hanya menurunkan kualitas udara, tetapi juga mulai mengganggu mobilitas masyarakat. Sungai Mentaya merupakan jalur utama penghubung warga Mentaya Seberang dengan pusat Kota Sampit sehingga setiap gangguan penyeberangan berdampak langsung terhadap aktivitas harian.

    Sehari sebelumnya, kabut asap juga telah menyelimuti hampir seluruh kawasan perkotaan Sampit sejak sore hingga malam. Asap pekat dilaporkan terlihat di sejumlah ruas jalan utama seperti Jalan Tjilik Riwut, Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, Kapten Mulyono, MT Haryono, Pramuka, HM Arsyad, hingga S. Parman. Warga mengeluhkan aroma asap yang menyengat, mata perih, serta mulai merasakan sesak napas saat beraktivitas di luar ruangan.

    Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas karhutla di Kotim. Berdasarkan laporan Satgas Karhutla Kotim, hingga Selasa (4/8) terdapat 62 hotspot, meningkat tajam dibanding sehari sebelumnya yang tercatat 14 hotspot. Sejumlah lokasi kebakaran masih dalam penanganan, di antaranya Jalan Tjilik Riwut Kilometer 7, Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 23, Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 5 belakang SMAN 4 Sampit, Jalan Pelita Barat, serta Desa Camba yang dilaporkan memiliki sekitar 20 hotspot dalam satu hamparan.

    Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Kotim Raihansyah juga telah mengingatkan bahwa karhutla berpotensi mengganggu sektor transportasi. Ia menyebut apabila kabut asap semakin pekat, bukan hanya penerbangan yang terdampak, tetapi juga aktivitas pelayaran di Sungai Mentaya yang menjadi jalur distribusi penumpang dan logistik.

    Pemerintah daerah terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat beraktivitas, serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah. Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif agar karhutla tidak semakin meluas dan dampaknya terhadap transportasi maupun kesehatan masyarakat dapat ditekan. (***)

  • Amarah Warga Seranau Memuncak, Pelaku Peracun Udang Diintai dengan Senapan Angin dan Ketapel

    Amarah Warga Seranau Memuncak, Pelaku Peracun Udang Diintai dengan Senapan Angin dan Ketapel

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Eskalasi kemarahan masyarakat di pesisir Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini berada di titik nadir yang sangat mengkhawatirkan. Praktik culas pemanenan udang menggunakan zat kimia beracun (potasium) kembali bergerilya di sepanjang aliran utama Sungai Mentaya pada Minggu subuh  (7/6/2026). Menanggapi lambatnya respons penegakan hukum, warga setempat kini mulai mengorganisasi barisan pengawasan mandiri bersenjata untuk memburu hidup-hidup para pelaku perusakan lingkungan tersebut.

    Misteri Udang Mengapung Subuh Hari dan Persiapan Perang Warga

    Gelombang keresahan ini pertama kali pecah saat fajar menyingsing, ketika warga bantaran sungai dikejutkan oleh pemandangan puluhan hingga ratusan ekor udang galah yang mendadak lemas, mengapung, dan menumpuk secara tidak wajar di tepian Sungai Mentaya. Warga yang menduga komoditas bernilai ekonomis tersebut merupakan hasil penjarahan menggunakan racun langsung berbondong-bondong ke lokasi untuk mengamankan perimeter.

    “Ramai warga mengambil udang diduga diracuni orang di situ, kabarnya subuh tadi di tepian Mentaya Seberang,” ungkap Ijai, salah seorang warga setempat yang menyaksikan langsung kerumunan massa di tepi sungai.

    Namun, kepasrahan warga seketika berubah menjadi aksi perlawanan taktis. Sadar bahwa racun air tidak hanya mematikan komoditas hayati melainkan juga bertindak sebagai agen pembunuh massal bagi manusia yang mengonsumsinya, barisan pemuda dan nelayan tradisional Seranau mulai melakukan pengintaian gelap di sepanjang titik buta sungai.

    Warga lainnya, Radimannor, membeberkan secara gamblang bahwa tensi emosional warga saat ini sudah sangat sulit untuk diredam. Rencana penghakiman jalanan di tengah sungai kini mengintai siapapun yang berani kembali menebar racun.

    “Sudah banyak warga yang mengawasi. Ada yang bilang kalau ketemu pelakunya mau diserang pakai ketapel, bahkan ada yang membawa senapan angin. Saking kesalnya warga dengan perbuatan itu,” tegas Radimannor dengan nada getir.

    Langkah nekat ini diambil karena warga cemas terhadap dampak fatalitas kesehatan. “Karena dampaknya bahaya, bisa mati orang yang makan udang hasil racunan ini,” imbuhnya.

    Senada dengan itu, tokoh pemuda Rahmat Hidayat juga melemparkan proteksi peringatan keras agar masyarakat tidak tergiur memungut atau mengonsumsi udang sisa tebaran zat kimia tersebut. “Bahaya itu kalau makan udang yang sudah tercemar atau diracun. Dampaknya bisa pada kesehatan jangka panjang,” cetusnya.

    Mengulang Memori Kelam Januari dan Ultimatum Dinas Perikanan

    Teror racun di Mentaya Seberang ini secara otomatis membongkar kembali memori kelam kolektif warga Seranau atas insiden serupa yang terjadi di Desa Terantang pada Januari 2026 lalu. Kala itu, seorang bromocorah peracun udang dari desa tetangga berhasil dipergoki warga dengan modus operandi yang sangat rapi: berpura-pura bertamu ke rumah warga bantaran sambil mengobrol santai, sementara zat beracun yang ia tebar di hulu sungai sedang bekerja membunuh ekosistem di hilir. Saat itu pelaku nyaris tewas dikeroyok amuk massa sebelum akhirnya berhasil meloloskan diri ke dalam hutan sawit.

    Maraknya residu kasus illegal fishing yang kian berani menembus batas perimeter pemukiman ini memicu reaksi keras dari otoritas terkait. Kepala Dinas Perikanan Kotim, Ahmad Sarwo Oboi, secara tegas menyatakan bahwa segala bentuk penangkapan biota perairan menggunakan bahan kimia, alat setrum listrik, maupun bom air merupakan pelanggaran hukum berat.

    “Praktik illegal fishing seperti peracunan tidak hanya merusak ekosistem perairan, tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat dan mengancam mata pencaharian nelayan tradisional,” cetus Ahmad Sarwo Oboi dalam pernyataan resminya.

    Pihak dinas juga mencium adanya indikasi bahwa praktik ini kerap dilakukan oleh oknum luar daerah yang memanfaatkan perairan umum Kotim secara destruktif, yang pada akhirnya memicu sumbu pendek konflik sosial berdarah antar-kampung.

     Aksi warga Mentaya Seberang yang mulai mempersenjatai diri dengan ketapel dan senapan angin untuk menjaga sungai adalah sinyal merah (red flag) yang menandakan runtuhnya kepercayaan publik terhadap supremasi hukum di sektor perairan. Ketika regulasi di atas kertas yang melarang illegal fishing tidak dibarengi dengan eksistensi patroli fisik secara reguler oleh Satpolair Polres Kotim maupun Dinas Perikanan, maka hukum rimba secara otomatis akan mengambil alih ruang kosong tersebut.

    Modus peracunan udang merupakan salah satu bentuk kejahatan lingkungan paling egois. Dampak yang ditimbulkan bersifat jangka panjang (long-term ecological damage); tidak hanya membunuh udang ukuran konsumsi, zat kimia keras tersebut juga memusnahkan jutaan mikroorganisme bawah air, merusak rantai makanan, dan meracuni air yang menjadi sumber sanitasi harian warga Seranau.

    Ancaman warga untuk menyerang pelaku menggunakan senapan angin tidak boleh dipandang sebagai gertakan sambal. Ini adalah akumulasi frustrasi para nelayan tradisional yang ruang hidupnya dirampas oleh para penjarah instan. Jika Kapolres Kotim dan instansi terkait terus berdiam diri di balik meja dan menunggu keterangan resmi tanpa melakukan penangkapan konkret di lapangan, maka tinggal menunggu hitungan hari sebelum Sungai Mentaya kembali berubah warna menjadi merah bukan karena racun, melainkan karena tumpahan darah akibat amuk massa yang terlambat dimitigasi. Otoritas harus bergerak mencokok pelaku hulu sebelum masyarakat menegakkan hukumnya sendiri di atas perahu. (***)