Tag: Muriansyah

  • Jerat Babi Nyaris Putuskan Tangan Induk Orangutan di Kota Besi: BKSDA dan OFI Terjunkan Tim Rescue Dini Hari!

    Jerat Babi Nyaris Putuskan Tangan Induk Orangutan di Kota Besi: BKSDA dan OFI Terjunkan Tim Rescue Dini Hari!

    KOTIM, Kanalindependen.id  – Praktik pemasangan jerat liar kembali mengancam keselamatan satwa dilindungi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng Seksi KSDA Wilayah II bersama Orangutan Foundation International (OFI), aktivis lingkungan, dan aparat kepolisian menggelar operasi penyelamatan (rescue) dramatis di Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Jumat (23/10/2026) dini hari.

    Dua individu orangutan yang diselamatkan dari kawasan perkebunan warga pada pukul 02.00 WIB tersebut terdiri dari induk betina berusia sekitar 25 tahun yang diberi nama Gadis, serta anaknya yang merupakan jantan berusia sekitar 10 bulan yang dinamai Garis. Operasi penyelamatan di tengah kegelapan malam ini turut disaksikan langsung oleh Dirpolsatwa Korshabara Baharkam Polri, Brigjen Pol Tory Kristianto, S.I.K., bersama jajaran Polda Kalteng dan Polres Kotim.

    Luka Parah Menganga di Kedua Pergelangan Tangan Induk

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, membeberkan bahwa keberadaan induk dan anak orangutan ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak Senin (12/10/2026), namun satwa tersebut sempat menghilang saat tim melakukan observasi awal. Baru pada Kamis (22/10/2026) sore pukul 16.49 WIB, aktivis lingkungan Sampit, Awil, menginformasikan bahwa kedua individu tersebut muncul kembali di Desa Kandan.

    Mendapat laporan presisi dari warga setempat bernama Karyadi, tim penyelamat dari Pangkalan Bun langsung bergerak pada pukul 19.00 WIB dan tiba di lokasi pukul 01.00 WIB untuk mengeksekusi tindakan medis. Saat proses pembiusan dan pemeriksaan fisik dilakukan oleh dokter hewan, kondisi induk orangutan sangat memprihatinkan karena tali jerat melingkar erat dan merobek jaringan kulit di kedua pergelangan tangannya.

    “Ditemukan tali di pergelangan tangan kiri dan kanan induk orangutan. Tali tersebut langsung diputuskan dan terdapat luka yang cukup parah di bekas posisi tali. Diduga kuat tali tersebut merupakan jerat babi,” ungkap Muriansyah dalam laporan resminya, Sabtu (24/10/2026).

    Setelah mendapat penanganan medis darurat untuk menutup luka bekas jerat, Gadis dan Garis langsung diboyong menuju Pangkalan Bun pada pukul 03.00 WIB untuk menjalani perawatan intensif serta rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat yang aman.

    Tragedi yang menimpa Gadis merupakan bukti nyata tingginya ancaman jerat sling atau tali liar di area persinggungan hutan dan perkebunan Kotim. Membiarkan pemasangan jerat babi tanpa pengawasan sama saja dengan membiarkan pembantaian perlahan terhadap satwa langka terancam punah (endangered species).

    Oleh karena itu, BKSDA Kalteng bersama Ditreskrimsus Polda Kalteng dan Polres Kotim didesak untuk segera menggelar operasi pembersihan (sweeping) jerat babi secara massal di sepanjang area perkebunan Desa Kandan dan Kecamatan Kota Besi, serta menindak tegas para pemasang jerat sesuai UU Nomor 5 Tahun 1990. Selain itu, kehadiran Dirpolsatwa Korshabara Baharkam Polri Brigjen Pol Tory Kristianto di lokasi evakuasi harus menjadi batu pijakan untuk memperketat patroli penegakan hukum lingkungan di wilayah rawan konflik satwa-manusia di Kotawaringin Timur. (***)

  • Fenomena Langkah Saat Asap Pekat: Burung Rangkong Kangkareng Hitam Muncul Pasrah di Mentaya Hulu, BKSDA Duga Peliharaan Terlepas!

    Fenomena Langkah Saat Asap Pekat: Burung Rangkong Kangkareng Hitam Muncul Pasrah di Mentaya Hulu, BKSDA Duga Peliharaan Terlepas!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Di tengah kepungan asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengisolasi wilayah pedalaman Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sebuah fenomena langka menyita perhatian publik. Seekor burung berparuh besar yang didorong dugaan kuat sebagai Rangkong jenis Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus) mendadak muncul dan hinggap tenang di atas sepeda motor warga di Desa Tanjung Jariangau, Kecamatan Mentaya Hulu, Rabu (21/10/2026).

    Aksi pasrah satwa langka tersebut terekam dalam video berdurasi 15 detik yang viral di media sosial. Burung tersebut tampak tenang dan tidak terbang menjauh saat didekati perekam dari jarak sangat dekat, sementara latar belakang pepohonan di sekitarnya samar tertutup jelutut kabut asap.

    Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort  Sampit Muriansyah, mengonfirmasi identifikasi visual satwa langka tersebut dan menegaskan status perlindungannya di mata hukum.

    “Sepertinya kangkareng hitam. Kangkareng hitam termasuk spesies burung rangkong dan termasuk jenis burung yang dilindungi UU. Spesies ini masih ditemukan di wilayah Kotim, terutama kawasan hutan yang terjaga dengan pohon besar di Telaga Antang, Antang Kalang, Mentaya Hulu, dan Bukit Santuai,” terang Muriansyah, Rabu (21/10/2026).

    Sikap Jinak Memicu Dugaan Peliharaan Terlepas, BKSDA Ingatkan Sanksi Pidana

    Muriansyah menganalisis bahwa perilaku burung yang terlampau jinak saat didekati manusia merupakan indikasi kuat bahwa satwa tersebut merupakan peliharaan warga yang terlepas, bukan burung liar yang mendadak turun akibat terpapar asap karhutla.

    Secara alami, burung kangkareng hitam liar memiliki sifat kewaspadaan tinggi dan dipastikan akan langsung terbang menghindar jika berhadapan dengan manusia.

    Meski demikian, BKSDA Pos Sampit mengingatkan masyarakat luas bahwa seluruh spesies burung rangkong termasuk Kangkareng Hitam merupakan satwa yang dilindungi penuh oleh Undang-Undang. Penangkapan, pemeliharaan, hingga pemeliharaan secara ilegal tanpa izin resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki konsekuensi sanksi pidana berat.

     

    Kemunculan Kangkareng Hitam di pemukiman Tanjung Jariangau merupakan peringatan kritis bagi kelestarian biodiversitas ekosistem gambut Kotim yang kian terdesak amukan karhutla. Baik akibat habitatnya yang terbakar maupun akibat lepas dari pemeliharaan ilegal, keberadaan satwa dilindungi di pemukiman warga sangat rentan menjadi sasaran perburuan liar.

    Tim BKSDA Pos Sampit didesak segera menerjunkan personel ke Desa Tanjung Jariangau untuk mengamankan (rescue) burung Kangkareng Hitam tersebut, guna mencegah penangkapan ilegal oleh oknum tidak bertanggung jawab.

    BKSDA dan Polres Kotim dituntut melakukan razia serta penegakan hukum terhadap praktik pemeliharaan satwa liar dilindungi secara ilegal di kawasan perdesaan, sembari membuka layanan penyerahan sukarela satwa dari masyarakat. (***)

  • Orangutan Terbius Tersangkut di Pohon: Jaring Pengaman Dibentangkan di Bawahnya, Ira Dievakuasi dari Lahan Hangus Baamang

    Orangutan Terbius Tersangkut di Pohon: Jaring Pengaman Dibentangkan di Bawahnya, Ira Dievakuasi dari Lahan Hangus Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana pembumihangusan hutan dan lahan (karhutla) yang terus menggerogoti Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali membuahkan tragedi ekologis.

    Satu individu orangutan betina berusia sekitar 20 tahun ditemukan terluntang-lantar dalam kondisi tubuh kurus kering di atas pohon sisa kebakaran di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, Gang Sahabat, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Rabu (14/10/2026) malam.

    Proses evakuasi yang berlangsung menegangkan tersebut bermula dari laporan warga bernama Sabinus pada pagi hari pukul 10.10 WIB. Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Seksi KSDA Wilayah II, dan Orangutan Foundation International (OFI) yang tiba di lokasi terpaksa melepaskan tembakan bius.

    Namun, satwa liar berbobot 28 kilogram tersebut tidak langsung jatuh melainkan tersangkut pingsan di dahan pohon. Petugas merespons cepat dengan membentangkan jaring pengaman di bawahnya sebelum seorang personel memanjat pohon untuk menurunkan tubuh satwa terlindung tersebut.

    Kepala BKSDA Resort  Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa penanganan darurat di zona bekas terbakar tersebut berhasil menyelamatkan nyawa primata tersebut.

    “Orangutan terbius, namun sempat tersangkut di pohon. Petugas memanjat dan berhasil menurunkannya ke jaring pengaman yang dibentangkan di bawah. Hasil pemeriksaan awal dokter tidak menemukan luka bakar, tetapi kondisi tubuh satwa sangat kurus,” terang Muriansyah.

    Satwa betina itu kemudian diberi nama Ira oleh Wakil Bupati Kotim Irawati yang hadir langsung memantau proses evakuasi hingga malam hari. Nama tersebut diambil sebagai simbol keprihatinan mendalam atas hancurnya rumah alami satwa akibat amukan api. Usai pengambilan sampel darah dan pemeriksaan medis darurat, Ira dimasukkan ke kandang angkut untuk dilarikan ke Kantor BKSDA di Pangkalan Bun guna perawatan pemulihan.

    Evakuasi orangutan “Ira” di Baamang Hulu menjadi bukti otentik betapa ganasnya dampak karhutla Kotim yang telah menghancurkan koridor jelajah (home range) satwa langka. Temuan kondisi fisik Ira yang kurus kering mengindikasikan bahwa satwa ini telah mengalami kelaparan panjang (starvation) akibat vegetasi pakan alami di hutan hancur dilalap api.

    BKSDA Kalteng bersama KLHK didesak membentuk Satgas Khusus Penyelamatan Satwa di seluruh zona karhutla Kotim. Keberadaan tiga individu orangutan yang dievakuasi dalam beberapa bulan terakhir menegaskan bahwa masih banyak satwa terlindung yang terjebak di pulau-pulau vegetasi yang terkepung api.

    Pemkab Kotim dan penegak hukum dituntut menindak tegas pelaku pembakaran lahan di area pemukiman dan pinggiran kota. Pembiaran pembakaran vegetasi tidak hanya melumpuhkan kesehatan warga, tetapi secara sistematis memusnahkan keanekaragaman hayati yang dilindungi undang-undang.

    Orangutan terbius tersangkut di pohon! Ira dievakuasi dari lahan hangus Baamang Hulu usai jaring pengaman dibentangkan! Kondisi tubuh kurus kering akibat habitat hancur terbakar, BKSDA didesak bentuk Satgas Rescue Satwa Karhutla! (***)

  • Rimba Kotim Hangus, Orangutan Merangsek Kandan: Jejak Sarang Bongkar Krisis Habitat

    Rimba Kotim Hangus, Orangutan Merangsek Kandan: Jejak Sarang Bongkar Krisis Habitat

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu teror krisis habitat yang kian mengkhawatirkan. Hangusnya benteng ekosistem hutan gambut memaksa satwa langka yang dilindungi melarikan diri dari kobaran api dan terdesak masuk ke perkebunan warga. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit menggelar penyisiran dan observasi darurat di kebun karet dan rotan milik masyarakat Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Senin (12/10/2026).

    Penyisiran intensif yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.50 WIB tersebut dilakukan guna menindaklanjuti laporan resmi warga bernama Sandy mengenai kemunculan koloni orangutan (Pongo pygmaeus) yang merangsek ke area perkebunan demi bertahan hidup dari ancaman kelaparan dan kepungan api.

    Meskipun satwa tidak dijumpai fisik saat penyisiran berjalan, petugas gabungan bersama warga menemukan jejak aktivitas otentik di atas lahan perkebunan seluas 10 hektare tersebut. Petugas menemukan satu sarang di permukaan tanah, dua sarang kelas C di atas pohon, serta bekas kulit kayu yang telah dikupas dan dimakan orangutan.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa berdasarkan analisis fisik struktur sarang serta keterangan warga setempat, populasi satwa yang berkeliaran di lokasi tersebut diperkirakan berjumlah lebih dari satu individu.

    “Dari sarang yang ditemukan dan keterangan warga, diduga kuat orangutan di lokasi tersebut berjumlah tiga individu. Kami bersama tiga warga, termasuk Pak Karyadi, menyisir areal kebun karet, rotan, dan semak belukar ini menggunakan sepeda motor trail dan berjalan kaki,” terang Muriansyah.

    Temuan tiga sarang orangutan di perkebunan karet Desa Kandan menjadi bukti otentik hancurnya koridor jelajah (home range) akibat maraknya karhutla dan pembukaan lahan masif di Kotim. Ketika rimba tempat tinggal mereka hangus terbakar, mamalia langka ini terisolasi di pulau-pulau vegetasi sempit dan terdesak merangsek ke perkebunan warga untuk mencari pakan alternatif.

    BKSDA Kalteng didesak tidak hanya memberikan imbauan pasif kepada warga. Tim rescue bersama tim medis dokter hewan wajib menyiagakan senapan pembius (tranquilizer gun) dan perangkap khusus guna mengevakuasi ketiga orangutan tersebut sebelum menjadi korban amuk massa atau konflik fatal dengan warga.

    Pemkab Kotim dan Polres Kotim dituntut meningkatkan edukasi hukum UU Nomor 5 Tahun 1990 kepada masyarakat Desa Kandan. Warga dilarang keras melukai, menembak, atau memasang jerat terhadap orangutan yang terdesak mencari makan di kebun warga.(***)

  • Beruang Terluka Belum Ditemukan, Lutung Abu-Abu Ditemukan Mati di Tanah Mas: Rentetan Tragedi Satwa di Perkotaan Sampit

    Beruang Terluka Belum Ditemukan, Lutung Abu-Abu Ditemukan Mati di Tanah Mas: Rentetan Tragedi Satwa di Perkotaan Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gelombang krisis lingkungan dan terdesaknya satwa liar ke kawasan permukiman di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin menunjukkan potret suram. Upaya penyisiran maraton BKSDA Pos Sampit bersama aktivis lingkungan untuk mengevakuasi beruang madu (Helarctos malayanus) yang mengalami luka parah di Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, belum membuahkan hasil hingga Rabu (7/10/2026) sore.

    Pencarian ketat dilakukan sejak pagi dengan menyusuri kawasan perkebunan, hutan, parit sumber air, hingga kebun nanas warga yang diduga menjadi sumber pakan satwa. Bahkan, satu unit drone pencari diterbangkan untuk menyisir tajuk vegetasi dari udara. Namun, beruang yang diduga kuat menjadi korban kejahatan jerat seling baja (jerat sisit) tersebut belum berjumpa fisik.

    Di tengah sengitnya perburuan waktu menyelamatkan beruang berdarah tersebut, BKSDA Pos Sampit justru kembali menerima laporan duka satwa pada pukul 17.40 WIB dari Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK).

    Sekor lutung abu-abu (Trachypithecus cristatus) dilaporkan terluka parah. Namun naas, saat tim BKSDA tiba di lokasi kejadian, mamalia langka tersebut telah meregang nyawa.

    “Saat petugas tiba di lokasi Tanah Mas, lutung abu-abu tersebut sudah dalam kondisi mati. Hasil pemeriksaan awal menemukan dua luka sobek menganga di bagian punggung dan pantat satwa. Dari keterangan warga, lutung terjatuh dari bangunan tinggi lalu diserang dan digigit anjing warga,” terang Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, Rabu (7/10/2026).

    Setelah pengumpulan data dan observasi selesai, bangkai lutung abu-abu tersebut langsung dikuburkan secara layak di wilayah Kelurahan Tanah Mas oleh tim BKSDA bersama relawan lingkungan Sampit.

    Dua Tragedi Satwa yang terjadi bersamaan pada Rabu (7/10/2026) beruang berkaki buntung yang berkeliaran di Km 8 serta lutung abu-abu yang tewas di Tanah Mas menjadi bukti tak terbantahkan hancurnya koridor vegetasi penyangga Kota Sampit.

    Ketika benteng hutan gambut di sekeliling Sampit hangus terbakar karhutla dan dirusak oleh maraknya jerat perburuan liar, satwa liar terisolasi di pulau-pulau vegetasi sempit (habitat fragmentation). Kondisi ini memaksa mereka merangsek ke zona aktivitas manusia, memicu kecelakaan fatal seperti terjatuh dari bangunan, diserang hewan peliharaan, hingga terancam mati perlahan akibat luka infeksi.

    BKSDA Kalteng didesak menerjunkan peralatan pencari bersensor panas (drone thermal) serta menyiagakan senapan pembius (tranquilizer gun). Beruang dalam kondisi terluka parah sangat defensif dan berpotensi memicu konflik mematikan jika terdesak masuk ke rumah warga di Gang Budi Mufakat.

    Kepolisian Polres Kotim bersama Balai Gakkum KLHK dituntut bertindak tegas dengan menggelar operasi penyisiran jerat baja serta menindak pelaku perburuan liar di sepanjang koridor Jalan Tjilik Riwut dan Lingkar Utara Sampit. (***)

  • Kaki Beruang Luka Parah Akibat Jerat Seling Baja, Teror Bencana dan Kejahatan Satwa Merangsek ke Tjilik Riwut Sampit

    Kaki Beruang Luka Parah Akibat Jerat Seling Baja, Teror Bencana dan Kejahatan Satwa Merangsek ke Tjilik Riwut Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Konflik antara manusia dan satwa liar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memanas dengan tren yang makin memprihatinkan. Seekor beruang madu (Helarctos malayanus) berusia remaja-dewasa ditemukan berkeliaran dengan kondisi kaki belakang kiri luka parah membusuk di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, Sampit, Selasa (6/10/2026).

    ​Kemunculan satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut sempat direkam oleh warga saat beruang pincang tersebut merayap di dekat pohon tumbang tepi saluran parit. Video berdurasi singkat itu mendadak viral dan langsung direspons oleh BKSDA Pos Sampit.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa dari visual luka menganga pada kaki beruang, terdapat indikasi kuat satwa tersebut merupakan korban kejahatan jerat berburu berbahan seling baja (jerat sisit).

    ​“Dari kondisi kakinya, kami menduga beruang ini sebelumnya terkena jerat. Biasanya jerat seperti itu menggunakan seling baja atau yang dikenal warga sebagai jerat sisit. Perkiraan kami beruang sempat terjerat cukup lama sebelum akhirnya berhasil memutus rantai atau melepaskan diri secara paksa ,” terang Muriansyah, Rabu (7/10/2026).


    ​Merespons laporan darurat warga, tim gabungan BKSDA Resort Sampit bersama para aktivis lingkungan diterjunkan ke lokasi kejadian. Petugas langsung membagi tim untuk menyisir kawasan perkebunan kelapa sawit seluas dua hektare di Gang Budi Mufakat.

    ​Namun hingga Rabu sore hari menjelang gelap, keberadaan beruang terluka tersebut belum berhasil dijumpai fisik. Petugas terpaksa menghentikan sementara penyisiran demi alasan keselamatan operasional.

    ​”Beruang dalam kondisi normal saja wajib kita waspadai, apalagi dalam kondisi terluka parah. Satwa yang kesakitan akan jauh lebih agresif, defensif, dan berisiko menyerang jika merasa terancam. Kami tidak ingin mengambil risiko, pencarian lanjutan akan diatur kembali,” tegas Muriansyah.

    ​Meskipun keterkaitan antara kemunculan beruang ini dengan kepungan 506 titik panas (hotspot) karhutla Kotim belum bisa disimpulkan secara medis sebelum satwa dievakuasi, warga sekitar mengakui bahwa beruang tersebut belakangan makin sering merangsek ke kebun kelapa sawit dan mengincar tanaman nanas milik warga untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan

    ​Kemunculan beruang dengan kaki hancur di Jalan Tjilik Riwut Km 8 ini membuka sisi gelap ganda bencana lingkungan di Kotim: kehancuran habitat akibat karhutla dan maraknya perburuan liar menggunakan jerat seling baja.

    ​BKSDA Resort Sampit bersama aparat kepolisian didesak tidak hanya fokus mencari keberadaan beruang, tetapi wajib menggelar operasi penyisiran dan pembersihan jerat seling baja di sekitar perkebunan Km 8 Tjilik Riwut. Jerat sisit merupakan pemicu cacat permanen dan kematian perlahan bagi satwa dilindungi.

    Mengingat kondisi beruang mengalami luka infeksi serius, BKSDA Kalteng didesak menyiagakan dokter hewan dan senapan pembius saat pencarian dilanjutkan. Beruang terluka yang terdesak ke pemukiman padat Km 8 berpotensi memicu puncaknya konflik fatal dengan masyarakat jika tidak ditangani secara profesional. (***)

  • Di Tengah Lahan yang Masih Terbakar, BKSDA Temukan 6 Sarang Orangutan

    Di Tengah Lahan yang Masih Terbakar, BKSDA Temukan 6 Sarang Orangutan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Jejak keberadaan orangutan ditemukan di tengah kawasan yang masih dilanda kebakaran lahan di Desa Kotabesi Hulu, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). BKSDA Resort Sampit menemukan enam sarang orangutan saat menyisir kebun karet warga, Minggu (4/10/2026).

    Enam sarang tersebut terdiri atas dua sarang kelas A dan empat sarang kelas D. Temuan ini didapat saat petugas menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan satu individu orangutan yang diduga berjenis kelamin jantan.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, laporan awal diterima dari warga bernama Adut pada Sabtu (3/10). Warga melaporkan melihat orangutan di kebun karet milik masyarakat.

    Petugas Resort Sampit kemudian melakukan observasi bersama rekan-rekan dari Kumai, yakni Haru, Yogi dan lainnya, serta seorang wartawan televisi. Pemantauan berlangsung sekitar pukul 15.00 hingga 17.30 WIB.

    Di lokasi, tim bertemu dengan pemilik lahan bernama Wahyu. Berdasarkan keterangannya, orangutan memang terlihat di kawasan tersebut pada Sabtu sore.

    Petugas selanjutnya menyisir area kebun untuk mencari keberadaan satwa. Namun, individu orangutan yang dilaporkan warga belum ditemukan.

    Api Masih Berlangsung

    Di tengah pencarian, petugas menemukan kondisi lain yang tidak kalah mengkhawatirkan. Kawasan di sekitar kebun karet tersebut telah mengalami kebakaran lahan dan hingga saat observasi dilakukan, kebakaran masih berlangsung.

    Enam sarang orangutan yang ditemukan menjadi bukti adanya aktivitas satwa tersebut di kawasan itu. Dua di antaranya merupakan sarang kelas A, sedangkan empat lainnya masuk kelas D.

    Meski demikian, BKSDA belum dapat memastikan apakah orangutan yang dilaporkan warga masih berada di sekitar lokasi atau telah berpindah ke kawasan lain.

    Muriansyah mengatakan, petugas juga memberikan pengarahan kepada pemilik lahan mengenai perilaku orangutan. Warga diminta tidak mengambil tindakan sendiri apabila satwa kembali muncul.

    “Petugas memberikan pengarahan terkait perilaku satwa orangutan dan meminta warga agar segera memberikan laporan apabila orangutan muncul kembali,” kata Muriansyah dalam laporannya.

    BKSDA akan terus memantau informasi dari warga terkait kemunculan orangutan tersebut. Terlebih, kawasan yang menjadi lokasi temuan masih berhadapan dengan ancaman kebakaran lahan.

    Temuan enam sarang di kawasan yang terbakar menjadi pengingat bahwa keberadaan satwa liar perlu diperhatikan di tengah meluasnya aktivitas kebakaran lahan di Kotim.(***)

  • Orangutan Belum Ditemukan di Kebun Karet Baamang Hulu, BKSDA Temukan Jejak

    Orangutan Belum Ditemukan di Kebun Karet Baamang Hulu, BKSDA Temukan Jejak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Upaya mencari tiga individu orangutan yang diduga keluar dari habitatnya dan muncul di kebun karet warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kotawaringin Timur (Kotim), kembali dilakukan BKSDA Resort Sampit, Minggu (4/10/2026).

    Pencarian dilakukan di kebun karet milik warga bernama Rey yang berada di Jalan Soekarno atau Lingkar Utara, masuk Gang Mustika. Namun, petugas belum menemukan keberadaan satwa yang sebelumnya dilaporkan muncul di kawasan tersebut.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, pemantauan kembali dilakukan karena waktu masih memungkinkan. Petugas Pos Sampit bersama rekan-rekan dari Kumai, di antaranya Haru dan Yogi, bergerak menyisir lokasi.

    “Di lokasi bertemu dengan pemilik lahan di sebuah pondok. Kemudian dilakukan pencarian dengan membagi menjadi dua tim, kiri dan kanan kebun,” kata Muriansyah.

    Dari penyisiran tersebut, orangutan tidak ditemukan. Meski demikian, petugas menemukan jejak yang diduga milik orangutan di sekitar lokasi.

    Diduga Ada Tiga Individu

    Temuan tersebut menambah petunjuk terkait keberadaan orangutan yang sebelumnya dilaporkan warga. BKSDA masih menduga terdapat tiga individu di kawasan tersebut, terdiri atas satu jantan, satu induk dan satu anak.

    Sebelumnya, warga melaporkan kemunculan induk dan anak orangutan di kebun karet tersebut. Sementara dokumentasi yang diterima petugas juga menunjukkan dugaan keberadaan satu individu jantan dewasa.

    Muriansyah mengatakan, keberadaan tanaman nanas menjadi salah satu alasan yang membuat orangutan diduga berpotensi kembali ke lokasi.

    “Dugaan kuat, cepat atau lambat, orangutan akan datang lagi ke lokasi tersebut karena ada tanaman nanas,” ujarnya.

    Karena itu, petugas meminta pemilik lahan dan warga sekitar segera menghubungi BKSDA apabila orangutan kembali terlihat.

    Langkah tersebut penting untuk memastikan keberadaan satwa dapat dipantau sekaligus mengantisipasi terjadinya interaksi langsung antara orangutan dengan manusia.

    Hingga pemantauan terakhir, keberadaan ketiga individu orangutan tersebut masih belum diketahui. BKSDA masih membuka kemungkinan satwa kembali muncul di kebun warga, terutama karena terdapat sumber makanan yang menarik perhatian satwa. (***)

  • Terdesak Karhutla ke Jantung Kota: Tenggiling 4 Kg Ditemukan di Parit Depan Puskesmas Ketapang II Sampit

    Terdesak Karhutla ke Jantung Kota: Tenggiling 4 Kg Ditemukan di Parit Depan Puskesmas Ketapang II Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Dampak buruk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin nyata merangsek ke area perkotaan. Seekor trenggiling (Manis javanica) berbobot sekitar 4 kilogram ditemukan warga tersesat di saluran parit Jalan H. Imran, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Sampit, Minggu (4/10/2026) sore.

    Satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut ditemukan tepat di depan bangunan Puskesmas Ketapang II sekitar pukul 15.00 WIB. Diduga kuat, trenggiling ini terdesak keluar dari kawasan habitat aslinya di pinggiran perkotaan yang kini ludes terbakar dan terkepung kabut asap pekat.

    Sadar akan status perlindungan satwa tersebut, warga setempat tidak menangkapnya untuk dipelihara atau diperjualbelikan, melainkan langsung menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim.

    Kepala BKSDA Pos Sampit Muriansyah, menyampaikan bahwa penanganan evakuasi berjalan cepat berkat kolaborasi responsif warga, tim Damkar, dan komunitas relawan lingkungan.

    “Tenggiling awalnya diamankan oleh Danregu Damkar, Febri, lalu dibawa ke Mako Damkar. Selanjutnya, satwa diserahkan kepada Hari bersama aktivis lingkungan untuk diteruskan kepada petugas BKSDA Pos Sampit sekitar pukul 18.40 WIB,” terang Muriansyah dalam laporan resminya, Minggu (4/10/2026).

    Kondisi Sehat Tanpa Luka, Siap Dilepasliarkan di Kebun Raya Sampit

    Setelah menerima penyerahan satwa, petugas BKSDA Pos Sampit langsung melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Pemeriksaan medis awal menunjukkan kondisi mamalia bersisik tersebut dalam keadaan sehat dan mulus tanpa luka bakar maupun cidera fisik.

    Penyerahan trenggiling ini dilakukan usai tim BKSDA Pos Sampit menyelesaikan observasi lapangan terkait kemunculan orangutan di dua lokasi terpisah pada hari yang sama.

    Merespons temuan ini, BKSDA Pos Sampit berkoordinasi dengan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun untuk proses pelepasliaran (release).

    “Rencananya, trenggiling ini akan dilepasliarkan pada Senin (5/10/2026) pagi di kawasan Kebun Raya Sampit. Proses pelepasliaran dibantu oleh Hadi, aktivis lingkungan sekaligus pengelola Kebun Raya Sampit dan staf DLH Kotim,” tambah Muriansyah.

    Kesadaran warga Ketapang yang memilih melaporkan temuan satwa dilindungi kepada pihak berwenang mendapat apresiasi tinggi. Tindakan ini mencegah potensi perdagangan satwa ilegal maupun kematian satwa akibat terisolasi di pemukiman padat penduduk.

    Penemuan trenggiling di parit pusat kota Sampit menjadi alarm keras hancurnya ekosistem penyangga (buffer zone) di sekitar MB Ketapang. Ketika hutan dan semak belukar di pinggiran kota terbakar habis, satwa-satwa liar yang selamat tidak lagi memiliki ruang jelajah selain menerobos ke kawasan padat permukiman warga untuk mencari perlindungan.

    Keputusan melepasliarkan trenggiling ke Kebun Raya Sampit harus diimbangi dengan pengamanan ketat dari ancaman karhutla dan pemburu liar. Pemkab Kotim melalui DLH wajib menyiagakan personel dan jaringan sumur bor di kawasan Kebun Raya agar ruang konservasi ini tidak ikut terbakar.

    BKSDA Resort Sampit dan Damkarmat Kotim didesak memperluas sosialisasi call center darurat konflik satwa. Mengingat krisis karhutla masih berlangsung, potensi kemunculan satwa liar lain seperti ular, trenggiling, hingga primata di permukiman kota diperkirakan masih tinggi.

  • Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membumihanguskan ekosistem gambut di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memaksa satwa liar keluar dari habitat aslinya. Diduga akibat habitatnya terkurung api, satu keluarga orangutan (Pongo pygmaeus) yang terdiri dari induk, anak, dan satu individu jantan dewasa, terusir dan merangsek masuk ke kawasan kebun karet milik warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi kemunculan tiga individu orangutan tersebut di Jalan Ir. Soekarno (Lingkar Utara), Gang Mustika, berdasarkan laporan yang diterima pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

    Laporan awal disampaikan oleh Hadi Suryani, staf DPMD Kotim, berdasarkan kesaksian warga bernama Rey yang mendapati dua individu orangutan (induk dan anak) merusak tanaman di kebun karet miliknya.

    Petugas BKSDA Pos Sampit bersama tim pendamping dari Kumai langsung bergerak ke lokasi sekitar pukul 15.00 WIB untuk melakukan observasi. Di lokasi, tim bertemu dengan Rey dan keluarganya yang mengonfirmasi bahwa satwa tersebut semakin sering terlihat selama kemarau dan karhutla massif terjadi di sekitar area tersebut.

    “Warga mendokumentasikan individu orangutan pada Rabu lalu di dekat pondok. Namun dari foto tersebut, individu yang terlihat diduga kuat jantan dewasa. Dipadukan dengan laporan warga yang melihat induk dan anak, besar kemungkinan terdapat 3 individu yang terisolasi di lokasi tersebut,” jelas Muriansyah, Sabtu (3/10/2026).

    BKSDA Temukan Belasan Sarang di Zona Kepungan Api

    Petugas kemudian membagi personel menjadi dua regu untuk menyisir kebun karet seluas 4 hektare tersebut. Meski ketiga individu orangutan tidak berjumpa fisik saat penyisiran berlangsung, tim menemukan bukti otentik berupa belasan sarang orangutan di atas pohon, termasuk dua di antaranya merupakan sarang Kelas A (sarang segar).

    Penemuan belasan sarang tersebut, dipadukan dengan kondisi sekeliling kebun karet yang hangus bekas terbakar dan tebalnya kepulan asap aktif dari karhutla di ekosistem gambut sekitarnya, memperkuat dugaan bahwa habitat asli orangutan telah hancur. Aktivitas pembakaran dan asap pekat memaksa satwa merangsek ke kebun warga demi menyelamatkan diri.

    BKSDA Pos Sampit mengimbau keras warga untuk tidak melukai atau mengusir satwa secara anarkis, serta segera melapor ke petugas jika orangutan kembali muncul agar proses evakuasi darurat (rescue/translocation) dapat segera dieksekusi.

    Terusirnya satu keluarga orangutan ke Baamang Hulu menjadi pukulan telak atas kepunahan biodiversitas akibat ambisi land clearing ilegal dan karhutla. Ketika hutan gambut di zona penyangga Jalan Ir. Soekarno terbakar habis, orangutan terperangkap di pulau-pulau vegetasi tersisa di tengah kepungan asap dan api, memicu risiko kematian akibat ISPA parah atau konflik fatal dengan manusia.

     BKSDA Kalteng bersama tim medis konservasi diharapkan harus segera menggelar operasi evakuasi darurat untuk translokasi tiga individu orangutan ini ke zona konservasi aman sebelum satwa tewas atau konflik pecah.

    Sementara itu, Pemkab Kotim dan penegak hukum wajib mengunci status lahan gambut terbakar di sepanjang Lingkar Utara guna mencegah adanya oknum spekulan yang sengaja membiarkan lahan terbakar untuk mempermudah alih fungsi lahan ilegal. (***)