Tag: orang hilang

  • Diduga Sempat Dipukul Sekuriti PT SKD, Pemanen Sawit di Kotim Hilang tanpa Jejak

    Diduga Sempat Dipukul Sekuriti PT SKD, Pemanen Sawit di Kotim Hilang tanpa Jejak

    SAMPIT, kanalindependen – Dua pemanen lolos berlari ke arah jalan saat personel sekuriti PT Sapta Karya Damai (SKD) mendadak muncul di lahan Kelompok Tani Kambas Bersatu, Desa Penyang, Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur.

    Namun, seorang pemanen lainnya, Muhammad Al Faruq, tertinggal di bagian belakang pikap yang sudah penuh muatan tandan buah segar sawit. Pemuda itu lalu diamankan di lokasi.

    Sejak peristiwa sekitar pukul 07.30 itu, pemanen berusia 26 tahun tersebut lenyap dan keberadaannya tidak diketahui hingga malam.

    Ketua Kelompok Tani Kambas Bersatu, Erlis, menerima kabar penangkapan tersebut saat berada di Sampit dan langsung meluncur ke lokasi.

    ”Saya parkir mobil di pinggir jalan lalu berjalan kaki. Saya tanya ke sekuriti yang jaga, ada informasi penangkapan kah di lahan kelompok tani? Jawabannya tidak ada, Pak,” kata Erlis, Kamis (23/7/2026) malam.

    Erlis kemudian masuk ke area kantor PT SKD dan menemukan mobil pikap miliknya sudah terparkir di sana, lengkap dengan kunci yang masih tertancap di dalamnya.

    Dia mengambil kunci tersebut dan kembali bertanya kepada sekuriti mengenai siapa yang menangkap Faruq.

    Jawaban yang ia terima tetap sama. Tidak tahu. Pertanyaan identik yang ia ajukan kepada personel Brimob yang berjaga di lokasi itu pun berujung pada jawaban serupa.

    Dalam keterangannya, Erlis menyebut sempat bertemu dengan Faruq setelah penangkapan tersebut.

    Faruq mengaku dipukul hingga meninggalkan luka benjol di atas pelipisnya, yang menurut Erlis kemungkinan dilakukan oleh sekuriti yang mengamankannya. Setelah pertemuan itu, keberadaan Faruq kembali tidak diketahui hingga saat ini.

    Sepulang dari lokasi, Erlis melaporkan kejadian tersebut kepada Damang Kepala Adat Kecamatan Telawang, Yustinus Salin Kupang.

    ”Ambil saja pikapnya itu, karena orangnya (sekuriti) tidak mengaku,” kata Erlis menirukan arahan sang Damang.

    Erlis kemudian kembali ke lokasi bersama sejumlah warga dan membawa pulang mobil pikap tersebut. Faruq tidak ikut kembali.

    Kabar penangkapan yang disampaikan oleh warga lainnya itu membuat istri Faruq pingsan hingga harus dirawat di rumah sakit.

    Menurut penuturan Erlis, anak pasangan tersebut saat itu juga sedang sakit dan dirawat di rumah sakit yang sama.

    Yustinus membenarkan ratusan warga telah menyampaikan laporan kepadanya terkait hilangnya Faruq.

    Ia langsung menghubungi Polres Kotawaringin Timur dan Polda Kalimantan Tengah untuk memastikan apakah Faruq ditahan di kedua institusi penegak hukum tersebut.

    ”Damang sudah konfirmasi ke Polres Kotim bahwa tidak ada dibawa ke sana, ke Polda pun tidak ada dibawa ke sana. Saya hubungi Polda dan Polres juga. Tidak ada dibawa ke sana, lalu ke mana orangnya?” kata Yustinus.

    Yustinus juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai keselamatan Faruq.

    Dia juga mengaku sudah menyampaikan keluhan warga tersebut kepada pihak perusahaan. Namun, belum ada respons serius.

    Peristiwa penangkapan ini berlangsung di tengah sengketa lahan yang telah berjalan selama 15 tahun antara Kelompok Tani Kambas Bersatu dan PT SKD.

    Konflik tersebut bermula pada 2011, ketika perusahaan menggarap lahan kelola 63 anggota kelompok tani masyarakat adat Dayak Tamuan di Desa Penyang.

    Dalam rentang waktu tersebut, Erlis tercatat pernah tiga kali dipanggil sebagai saksi oleh Polres Kotawaringin Timur terkait kasus gangguan usaha perkebunan pada 2019, sebuah proses hukum yang oleh pendamping warga kala itu disebut sebagai upaya kriminalisasi.

    Warga lain di kawasan yang sama, seperti keluarga Burhan Gase, juga masih berproses dalam perkara sengketa lahan melawan PT SKD di Pengadilan Negeri Sampit hingga awal 2025.

    Hingga berita ini diturunkan, Kanal Independen masih berupaya meminta konfirmasi dari manajemen PT Sapta Karya Damai terkait kejadian tersebut. (ign)

  • Misteri Hilangnya Kakek Pensiunan Sarpatim di Dusun Danau Purun, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    Misteri Hilangnya Kakek Pensiunan Sarpatim di Dusun Danau Purun, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Operasi pencarian terhadap Anudin alias Aket (65) yang akrab disapa Bapak Yusuf di Dusun Danau Purun, Desa Tumbang Payang, Kecamatan Bukit Santuai, memasuki fase krusial. Hingga hari kelima, Rabu (13/5/2026), kakek yang diketahui merupakan pensiunan PT Sarpatim tersebut belum juga ditemukan meski teknologi drone dan tim gabungan telah dikerahkan ke jantung hutan.

    ​Keluarga dan kerabat korban terus berjibaku di lapangan mendampingi tim ahli. Yuliandi, salah seorang kerabat korban yang terjun langsung dalam proses penyisiran, mengungkapkan bahwa hingga Rabu sore, upaya tim gabungan masih belum membuahkan titik terang.

    ​“Hari ini memasuki hari kelima pencarian, yakni Rabu (13/5/2026), namun hasilnya masih nihil. Kami bersama warga dan petugas terus menyisir area, tapi belum ada tanda-tanda keberadaan Bapak Yusuf,” ujar Yuliandi dengan nada cemas.

    ​Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam, mengonfirmasi bahwa pihaknya terus memonitor perkembangan melalui koordinasi dengan Camat Bukit Santuai. Kekhawatiran mendalam muncul mengingat kondisi fisik korban yang dilaporkan sudah mulai terbatas.

    ​“Kami sudah berkomunikasi dengan Camat Bukit Santuai, terkonfirmasi memang betul kakek itu hilang. Beliau memang kondisi fisik sudah terbatas sebenarnya,” ungkap Multazam.

    ​Saat ini, Tim Pos SAR Sampit telah berada di lokasi. Fokus utama tim adalah menyisir area di sekitar pemukiman dan jalur yang biasa dilalui korban, di mana anak korban diketahui masih aktif bekerja di PT Sarpatim, perusahaan tempat ayahnya dulu mengabdi.

    ​Di sisi lain, Multazam menjelaskan bahwa BPBD Kotim saat ini belum bisa terjun langsung berkolaborasi dalam pencarian fisik di lapangan. Hal ini dikarenakan seluruh personel tengah dalam status siaga penuh menghadapi ancaman bencana Karhutla dan kekeringan.

    Diberitakan sebelumnya, kecemasan mendalam tengah menyelimuti warga Dusun Danau Purun, Desa Tumbang Payang, Kecamatan Bukit Santuai. Seorang kakek berusia 65 tahun bernama Anudin alias Aket yang akrab disapa Bapak Yusuf dilaporkan hilang secara misterius dari kediamannya sejak Sabtu dini hari, 9 Mei 2026. Hingga memasuki hari kelima, Rabu (13/5/2026), keberadaan pria lansia tersebut masih menjadi teka-teki besar bagi pihak keluarga maupun tim pencari. (***)

  • Misteri Dusun Danau Purun: Kakek 65 Tahun Hilang Tak Berbekas, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    Misteri Dusun Danau Purun: Kakek 65 Tahun Hilang Tak Berbekas, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kecemasan mendalam tengah menyelimuti warga Dusun Danau Purun, Desa Tumbang Ayang, Kecamatan Bukit Santuai. Seorang kakek berusia 65 tahun bernama Anudin alias Aket—yang akrab disapa Bapak Yusuf—dilaporkan hilang secara misterius dari kediamannya sejak Sabtu dini hari, 9 Mei 2026. Hingga memasuki hari kelima, Rabu (13/5/2026), keberadaan pria lansia tersebut masih menjadi teka-teki besar bagi pihak keluarga maupun tim pencari.

    Pencarian Lintas Medan: Teknologi Drone Dikerahkan

    ​Upaya pencarian dilakukan tanpa henti, menembus lebatnya kawasan hutan di sekitar desa baik saat matahari terik maupun di bawah kegelapan malam. Mengingat luasnya medan dan kondisi geografis yang menantang, Tim SAR mulai meningkatkan intensitas pencarian dengan mengerahkan teknologi drone guna memantau area dari udara yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

    ​Nur Reniwati, pihak keluarga korban, mengonfirmasi bahwa segala cara tengah ditempuh untuk menemukan titik terang mengenai posisi Anudin.

    ​“Hari ini dilakukan pencarian menggunakan drone oleh petugas SAR. Kami terus berusaha maksimal agar beliau segera ditemukan,” ujar Nur Reniwati dengan nada penuh harap, Rabu (13/5/2026).

    Harapan dan Doa dari Warga Sekitar

    ​Solidaritas warga Tumbang Ayang terlihat nyata dalam proses pencarian ini. Tak hanya membantu menyisir hutan, warga juga terus memantau setiap perkembangan informasi di lapangan. Yuliandi, salah seorang warga setempat, mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan seluruh komunitas desa atas hilangnya sosok yang mereka kenal baik tersebut.

    ​“Kami semua di sini terus berupaya membantu dan sangat berharap segera ada titik terang mengenai keberadaan Bapak Yusuf. Kasihan pihak keluarga, kami ingin beliau segera ditemukan dalam keadaan selamat,” tutur Yuliandi.

    Di samping operasi teknis, keluarga bersama warga juga telah menggelar doa bersama dan ritual tolak bala pada Selasa malam (12/5/2026). Isak tangis dan harapan mewarnai suasana rumah korban, mencerminkan betapa besarnya keinginan warga agar Bapak Yusuf bisa kembali berkumpul bersama keluarga.

    Kasus hilangnya lansia di kawasan hutan Kalimantan selalu menjadi balapan melawan waktu. Memasuki hari kelima, faktor kelelahan, dehidrasi, dan risiko paparan alam menjadi ancaman nyata bagi keselamatan korban. Penggunaan drone oleh tim SAR adalah langkah tepat, namun dukungan moral dan fisik dari warga seperti yang disampaikan Yuliandi adalah modal sosial yang sangat berharga.

    ​Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih memperketat pengawasan terhadap anggota keluarga lanjut usia, terutama di daerah yang berbatasan langsung dengan alam liar. Harapan publik Sampit kini tertuju pada Tim SAR; semoga koordinasi yang apik antara teknologi dan kearifan lokal segera membuahkan hasil. (***)

  • Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Malam-malam terakhir Ramadan biasanya diisi gema takbir dan persiapan menyambut Hari Raya. Namun di tepian Sungai Mentaya, suasana itu terasa berbeda. Ada satu nama yang terus dipanggil dalam diam: Muh Syahrir.

    Ia adalah anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang dari sebuah tongkang di perairan Mentaya. Hingga Sabtu (21/3), keberadaannya masih menjadi tanda tanya.

    Kamis malam (19/3/2026) sekitar pukul 22.44 WIB, rekaman CCTV di atas tongkang BG Marine Jaya II merekam aktivitas terakhir Syahrir. Ia terlihat naik turun tangga, lalu berjalan ke arah buritan bagian paling belakang kapal. Setelah itu, ia tak lagi terlihat.
    Tak ada teriakan. Tak ada saksi.

    Beberapa jam berselang, Jumat dini hari (20/3/2026) sekitar pukul 01.07 WIB, kru kapal mulai menyadari ada yang tidak beres. Saat tongkang bersandar di rede Sampit, Syahrir tak ditemukan di mana pun. Pencarian awal dilakukan di seluruh bagian kapal dari ruang akomodasi hingga dek luar. Hasilnya nihil.

    Pencarian kemudian melebar. Kapten kapal memerintahkan penyisiran ke arah Luwuk Bunter mulai pukul 01.40 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Upaya itu dilanjutkan kembali hingga pagi, namun jejak Syahrir tetap tak ditemukan.

    Di darat, tim gabungan juga bergerak. Posko didirikan, koordinasi dilakukan. Namun hingga kini, hasilnya masih sama: Syahrir belum ditemukan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan pihaknya masih menunggu langkah lanjutan setelah Salat Idulfitri.

    “Masih belum terkonfirmasi ditemukan. Kami tetap bersiaga di posko dan akan koordinasi lanjutan dengan tim SAR setelah Salat Id,” ujarnya.

    Keputusan menunda lanjutan pencarian hingga setelah Salat Id menyisakan pertanyaan. Di satu sisi, ini adalah momen besar keagamaan. Namun di sisi lain, waktu adalah faktor krusial dalam operasi pencarian.

    Di tengah gema takbir yang mulai berkumandang, ada keluarga yang menunggu kabar yang tak kunjung datang. Ada harapan yang bertahan, meski terus diuji.

    Peristiwa ini bukan sekadar kisah hilangnya seorang ABK. Ia membuka pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sistem keselamatan kerja di atas kapal dijalankan? Mengapa tidak ada yang mengetahui saat seseorang menghilang di area terbuka seperti buritan?

    Dan sejauh mana pengawasan benar-benar dilakukan, terutama pada malam hari?

    CCTV memang merekam. Tapi rekaman itu baru disadari setelah semuanya terjadi.

    Kini, Sungai Mentaya kembali tenang di permukaan. Namun di balik arusnya, ada cerita yang belum selesai. Tentang seorang pekerja yang hilang di penghujung Ramadan dan tentang pencarian yang masih terus berjalan, di antara takbir dan harapan. (***)