Tag: pemakaman

  • Ziarah Kubur Paskah 2026 di Sampit: Merawat Tradisi Kerinduan Tanpa Air Mata

    Ziarah Kubur Paskah 2026 di Sampit: Merawat Tradisi Kerinduan Tanpa Air Mata

    SAMPIT, kanalindependen.id – Perayaan Paskah 2026 yang jatuh pada pengujung pekan ini disambut ribuan umat Kristiani di Kotawaringin Timur (Kotim) dengan memadati tempat pemakaman umum (TPU) kristiani di Kota Sampit.

    Tradisi ziarah kubur menjelang Trihari Suci tersebut mengubah area pemakaman yang identik dengan kesunyian menjadi ruang perjumpaan lintas generasi yang hangat dan terbebas dari nuansa duka mendalam.

    Kekuatan tradisi ini menancap kuat meski berada di tengah keberagaman demografi.

    Merujuk data Direktorat Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri tahun 2024, populasi umat Katolik di Kotim tercatat sekitar 9.866 jiwa (2,2 persen), sementara umat Protestan mencapai 26.943 jiwa (6,08 persen).

    Angka yang tidak besar. Tapi, yang terjadi di TPU Sampit bercerita tentang hal yang tidak bisa diukur dengan persentase, yakni kekuatan sebuah komunitas untuk menjaga tradisi.

    Dari generasi ke generasi. Bahkan, ketika mereka tumbuh sebagai minoritas di tengah keberagaman yang luas.

    Membersihkan Makam

    Pagi itu, bau tanah basah bercampur wangi bunga kamboja yang baru dipetik langsung menyeruak.

    Seorang perempuan, Natalia, berlutut di depan nisan. Tangannya perlahan menyapu rumput liar yang merambat di sela-sela batu.

    Senyumnya mengembang, persis seperti seseorang yang sedang mengunjungi kerabat yang sangat dirindukan.

    ”Setiap menjelang Paskah, kami pasti datang. Kami bersihkan makam orang tua, tabur bunga, lalu berdoa bersama. Ini sudah jadi kebiasaan keluarga,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

    Pemandangan serupa berulang ratusan kali sepanjang hari. Sejak fajar hingga senja, gelombang warga terus mengalir memasuki gerbang TPU.

    Mereka datang berkelompok membawa anggota keluarga lengkap, dari kakek hingga cucu, menenteng parang kecil, botol air, hingga karangan bunga.

    Tawa anak-anak yang berlarian di sela-sela nisan memecah kesunyian, menyatu dengan bisik doa dari pusara sebelah.

    Kalimantan dan Tradisi yang Lebih Tua

    Aktivitas peziarah di Sampit hari itu bukanlah fenomena baru. Berbagai catatan sejarah menelusuri bahwa akar tradisi ziarah kubur menjelang Paskah telah tumbuh seiring masuknya kekristenan di bumi Kalimantan.

    Tradisi ini bahkan punya nama sendiri di Kota Palangka Raya, yakni Memento Mori. Ungkapan Latin yang berarti “ingatlah akan kematian.”

    Lahir dari akulturasi budaya lokal dan budaya Belanda pada abad ke-19, tradisi itu menghidupkan sesuatu yang paradoks. Pemakaman yang menjadi tempat paling ramai dan paling hangat di kota.

    Ribuan orang berkumpul, menyalakan lilin, menaburkan bunga, duduk bersama di sisi makam orang-orang yang mereka cintai. Semalaman, hingga fajar.

    Sampit mungkin tidak bermalam di makam seperti saudara-saudara seiman mereka di Palangka Raya.

    Akan tetapi, semangat yang menghidupinya sama. Bahwa kematian bukan tembok pemisah, melainkan ambang pintu, dan ziarah adalah cara manusia berdiri di depan pintu itu, dengan kepala tegak dan hati yang penuh.

    Jantung Trihari Suci

    Bagi Adrianus, salah seorang peziarah, rutinitas ini menyimpan bobot makna yang melampaui sekadar kunjungan tahunan.

    ”Kalau datang ke sini, kita diingatkan bahwa hidup ini sementara. Tapi dalam iman, ada harapan kebangkitan. Itu yang membuat Paskah jadi sangat bermakna,” tuturnya.

    Pernyataan Adrianus adalah inti dari teologi Paskah itu sendiri. Kalender liturgi Gereja menempatkan ziarah kubur ini beririsan langsung dengan Trihari Suci.

    Rangkaian bermula dari Kamis Putih yang mengisahkan Perjamuan Terakhir, disusul Jumat Agung (yang tahun ini bertepatan dengan libur nasional 3 April 2026) sebagai penanda wafatnya Kristus.

    Sabtu Suci kemudian menjadi hari penantian yang hening, sebelum akhirnya meledak dalam perayaan kebangkitan di Minggu Paskah.

    Ziarah pemakaman umat menjadi jembatan penghubung yang membuat peziarah merasakan denyut kematian dan kehidupan baru secara bersamaan.

    Jejak Ekonomi di Tepi Jalan

    Menjelang siang, aktivitas lain ikut menggeliat di sekitar kompleks pemakaman. Lapak-lapak dadakan milik pedagang bunga tiba-tiba meramaikan pinggir jalan.

    Aneka bunga tabur, lilin putih, hingga air mawar laris manis diburu pembeli yang terus mengalir.

    Perputaran uang ini muncul hanya beberapa hari dalam setahun. Siklus yang tumbuh dari rahim kebutuhan spiritual, yang kemudian bermuara pada transaksi riil.

    Sebuah bukti sahih bahwa iman selalu meninggalkan jejak yang menghidupi aspek duniawi bagi masyarakat sekitar.

    Kenyataan paling ironis sekaligus indah tersaji di akhir hari. Pemakaman yang biasanya dihindari karena menyimpan realita batas akhir kehidupan, mendadak menjadi episentrum kehidupan yang penuh warna dan pelukan.

    Natalia menyadari hal itu. Setelah rampung menata makam orang tuanya, ia duduk sejenak memandangi batu nisan.

    Setangkai bunga teguh tergenggam di tangannya. Bibirnya merapal doa pelan, merawat ingatan yang telah terukir abadi di batu tersebut.

    Paskah tahun ini telah tiba di Sampit. Tak hanya bergema dari altar gereja, melainkan tumbuh dari celah-celah batu nisan, dari tanah basah yang baru disapu, dan dari bunga yang ditaburkan oleh tangan-tangan yang masih bernapas. (ign)

  • Tangis Keluarga Korban Tragedi Dermaga NDS: Ketika Sang Ayah Pulang Hanya Berupa Kepingan Raga

    Tangis Keluarga Korban Tragedi Dermaga NDS: Ketika Sang Ayah Pulang Hanya Berupa Kepingan Raga

    SAMPIT, kanalindependen.id – Liang lahat di pemakaman umum Kecamatan Kotabesi itu tak menerima jasad secara utuh.

    Tangis keluarga pecah saat mengantarkan kepergian Ai (40), tulang punggung keluarga yang berpulang sebagai korban ledakan maut di area docking PT Nusantara Docking Sejahtera (NDS) Tanah Mas, Sampit, Rabu (1/4/2026) siang.

    Kesaksian memilukan meluncur dari bibir Idi, warga setempat yang ikut hadir dalam prosesi pemakaman pilu tersebut.

    Tragedi kebakaran kapal tunda pada akhir pekan lalu merenggut nyawa korban dengan cara yang sangat tragis.

    ”Fisiknya sudah tidak lengkap, hanya beberapa bagian saja yang bisa dimakamkan,” ucap Idi, menggambarkan pedihnya kondisi jenazah yang baru selesai diidentifikasi kepolisian.

    Keseharian Ai lekat dengan peluh sebagai kru kapal tunda di dermaga Tanah Mas.

    Kepergiannya yang mendadak meninggalkan seorang istri dan anak-anak yang terpaksa meneruskan hidup tanpa sosok ayah.

    Otoritas kepolisian hingga kini belum merilis daftar resmi identitas para korban, sehingga publik hanya bisa meraba duka keluarga dari cerita-cerita warga sekitar yang mengenalnya.

    Tragedi yang menghancurkan keluarga Ai ini bermula pada Sabtu (28/3/2026) sore.

    Rentetan ledakan keras memecah langit Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Baamang. Kobaran api seketika menelan sebuah kapal penampung minyak dan Tug Boat (TB) Batara VII yang tengah bersandar di fasilitas perawatan PT NDS.

    Laporan sementara dari tim penanganan darurat mencatat tiga pekerja menjadi korban dalam insiden nahas ini.

    Ai terkonfirmasi meninggal dunia, satu rekannya menderita luka parah di bagian kepala, sementara satu pekerja lain masih lenyap tanpa jejak di lokasi kejadian.

    Teka-teki nasib satu pekerja lain yang lenyap menghadirkan babak baru dalam proses pencarian. Penemuan sesosok mayat tanpa identitas di aliran Sungai Mentaya Selasa (31/3) lalu, diduga berkaitan dengan insiden nahas tersebut.

    Namun, pihak terkait belum memberikan informasi dan menunggu hasil identifikasi forensik untuk memastikan apakah tubuh yang mengapung itu benar-benar korban dari tragedi di dermaga Tanah Mas.

    Sementara itu, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit memastikan penyelidikan pemicu kebakaran masih berjalan.

    Dugaan awal yang menyeruak berputar pada dua skenario, hantaman petir atau adanya aktivitas pekerja berisiko tinggi di dekat muatan bahan bakar.

    Tim gabungan kepolisian sebelumnya telah menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk membongkar teka-teki insiden ini.

    Sorotan tajam mengarah pada penerapan standar keselamatan kerja di lingkungan berisiko tinggi tersebut.

    Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotawaringin Timur langsung menekan tombol evaluasi menyeluruh, menuntut pertanggungjawaban perusahaan serta otoritas pelabuhan.

    Ketua DPRD Kotim, Rimbun, mendesak pengetatan pengawasan agar area kerja berisiko tinggi tidak kembali menimbulkan korban jiwa.

    Lembaga legislatif menagih transparansi prosedur keselamatan di area docking, terutama saat cuaca ekstrem membekap wilayah kerja yang sarat bahan bakar.

    Publik berhak tahu apakah perusahaan menghentikan aktivitas berisiko saat ancaman petir mengintai, serta sejauh mana kelayakan infrastruktur penangkal petir terpasang.

    Kejelasan status ketenagakerjaan para korban hingga kini belum dijelaskan secara terbuka oleh pihak terkait.

    Kenyataan paling pedih akhirnya kembali ke pangkuan keluarga Ai di Kotabesi. Pusara telah ditutup rapat meski raga sang ayah tak lagi sempurna, sementara aparat di luar sana masih berpacu memburu jawaban atas pemicu ledakan. (ign)

  • Dihadiri Ratusan Pelayat, Sufiansyah Diantar dengan Doa ke Peristirahatan Terakhir

    Dihadiri Ratusan Pelayat, Sufiansyah Diantar dengan Doa ke Peristirahatan Terakhir

    SAMPIT, kanalindependen.id – Cuaca pagi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Usman Harun, Jumat (27/3/2026), tampak teduh. Seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti ratusan pelayat.

    Satu per satu warga, kerabat, hingga jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berdatangan, mengiringi kepergian Camat Baamang, almarhum Sufiansyah bin Nazaruddin, ke peristirahatan terakhirnya.

    Jenazahnya digiring menggunakan ambulans dari kediaman rumahnya di Jalan Cristopel Mihing sekitar pukul 08.10 WIB. Kemudian disalatkan untuk terakhir kalinya di Langgar Al Muhibin, berdekatan dengan Tempat Pemakaman Umum di Jalan Usman Harun.

    Liang kubur sedalam kurang lebih dua meter telah dipersiapkan. Peti jenazah dihantarkan ke pusara terakhir sekitar pukul 08.30 WIB.

    Di antara para pelayat, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, turut hadir memberikan penghormatan terakhir.

    Dengan wajah penuh duka, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian almarhum yang mengembuskan napas terakhir di RSUD dr. Murjani Sampit pada 14.27 WIB, Kamis (26/3/2026).

    ”Pemerintah daerah merasa sangat kehilangan atas sosok ASN yang memiliki integritas cukup tinggi. Sosok seperti beliaulah yang sangat kami harapkan untuk membantu kami dalam melaksanakan pembangunan di Kabupaten Kotawaringin Timur,” ujar Umar Kaderi saat diwawancarai usai proses pemakaman selesai.

    Almarhum Sufiansyah merupakan salah satu aparatur sipil negara (ASN) terbaik yang dimiliki Kotim.

    Rekam jejaknya yang dimulai dari lurah hingga dipercaya menjabat sebagai Camat Baamang menjadi bukti dedikasi dan pengabdian panjang dalam birokrasi.

    Menurutnya, banyak jasa yang telah diberikan almarhum selama bertugas. Meski tidak dapat dirinci satu per satu, kontribusinya sangat dirasakan baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

    Lebih dari sekadar pejabat, Sufiansyah dikenal sebagai sosok pemimpin yang humanis dan responsif.

    Umar yang juga merupakan warga Kecamatan Baamang menuturkan, almarhum kerap sigap membantu warga, terutama dalam hal pelayanan kesehatan.

    ”Beliau sangat cepat membantu apabila ada masyarakat yang sakit, yang perlu rujukan ke rumah sakit, atau sekadar berobat ke puskesmas. Respons beliau terhadap kebutuhan warga sangat luar biasa,” kenangnya.

    Di antara pelayat, sejumlah warga tampak saling berbagi cerita tentang kebaikan almarhum semasa hidup.

    Ada yang mengenang kepeduliannya, ada pula yang mengingat kesederhanaannya dalam bergaul tanpa memandang status.

    Bagi jajaran pemerintah daerah, kepergian ini menjadi kehilangan besar sekaligus pengingat akan pentingnya integritas dan pengabdian.

    Umar menegaskan bahwa semangat perjuangan almarhum akan terus dilanjutkan.

    ”Kami akan melanjutkan pengorbanan dan perjuangan beliau. Harapan kami, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan,” katanya.

    Prosesi pemakaman berlangsung khidmat hingga selesai. Gundukan tanah yang masih basah menutup liang lahat bertabur bunga. Ratusan doa dipanjatkan mengantar kepergian Sufiansyah, sekaligus meninggalkan jejak keteladanan yang akan terus dikenang di Bumi Habaring Hurung. (hgn/ign)