Tag: Perumahan Grand Pelita

  • Dua Relawan Karhutla di Kotim Tumbang Dilarikan ke Rumah Sakit Akibat Tercekik Asap

    Dua Relawan Karhutla di Kotim Tumbang Dilarikan ke Rumah Sakit Akibat Tercekik Asap

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memakan korban jiwa dari garda terdepan pemadaman. Muhammad Dimas, seorang relawan tangguh dari Masyarakat Peduli Api (MPA) Teluk Dalam, terpaksa ditarik mundur dan dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas akut dan kelelahan hebat pada Kamis (20/8/2026).

    Insiden tumbangnya Dimas terjadi saat ia bersama tim gabungan berjibaku memadamkan kobaran api yang mengepung kawasan Perumahan Grand Pelita, Jalan Pelita Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Dimas menjadi relawan kedua yang dilarikan ke rumah sakit dalam dua hari terakhir, menyusul insiden serupa yang menimpa Rizky Mubarrak dari Redkar Masjid Jami Assalam pada Rabu lalu.

    Ketua Relawan Ketapi 3, Muhammad Mahdani, mengonfirmasi bahwa padatnya jadwal pemadaman lintas titik serta kepekatan asap di lokasi kejadian menjadi pemicu utama kolapsnya para relawan. Sebelum bertarung di Grand Pelita, tim relawan telah menguras tenaga di Jalan Pelita dan Perumahan Panca Setia.

    “Artinya mungkin karena kelelahan satu. Yang kedua, memang di tempat kejadian itu api membesar dan asap pekat. Akibat itu lalu sesak napas. Walau kadang kita pakai masker, tetap saja membuat sesak. Begitu melihat kondisi Dimas menurun, rekan-rekan langsung menghentikan aktivitasnya dan membawanya menjauh. Sekarang kondisinya sudah mulai stabil,” ungkap Muhammad Mahdani, Kamis (20/8/2026).

    Di tengah ancaman kesehatan yang terus mengintai, pertempuran pemadaman di lapangan makin membentur tembok tebal akibat krisis air baku. Parit-parit di sekitar lokasi kebakaran dilaporkan telah kering kerontang, sementara sumur warga tak lagi menyimpan cadangan air akibat kemarau panjang.

    Operasi pemadaman swadaya yang digerakkan gabungan Redkar Ketapi 3, Redkar Masjid Jami Assalam, MPA Teluk Dalam, dan staf kelurahan terhambat oleh keterbatasan kapasitas armada angkut. Mobil pikap tandon yang diandalkan relawan hanya mampu memuat 1.100 liter air, jumlah yang langsung ludes dalam hitungan menit saat berhadapan dengan luasnya hamparan gambut yang membara. Kondisi ini memaksa relawan bolak-balik meninggalkan garis depan hanya untuk mencari sumber air pengisian ulang.

    Mahdani menegaskan bahwa eskalasi karhutla Kotim sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak bisa hanya dibebankan pada pundak pemerintah, BPBD, atau Damkarmat yang personelnya sudah kewalahan di berbagai zona. Ia mendesak kesadaran penuh masyarakat untuk menghentikan total aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan secara sembarangan di tengah musim kering ekstrem ini.

    Tumbangnya dua relawan secara beruntun di Mentawa Baru Ketapang adalah bukti nyata bahwa garda terdepan pemadaman bekerja di bawah ancaman bahaya ekstrem tanpa ditopang alat pelindung diri (APD) yang memadai. Bertarung melawan asap pekat gambut hanya berbekal masker kain atau masker medis biasa serta armada tandon kecil 1.100 liter menelanjangi rapuhnya sistem jaminan keselamatan bagi relawan swakarsa.

    Satgas Karhutla Kotim dan Dinas Kesehatan harus segera menyalurkan bantuan respirator standar N95/KN95, kacamata pelindung, serta tabung oksigen portable untuk setiap posko relawan swadaya. Di sisi lain, BPBD Kotim bersama Dinas PUPR wajib memfasilitasi titik pangkalan pasokan air baku (water filling point) terdekat dari koridor Pelita Barat agar armada tandon relawan tidak membuang waktu dan bahan bakar hanya untuk mengantre air.

    Selamatkan relawan darat, lengkapi APD dan suplai air pemadam!  Korban relawan karhutla Sampit bertambah! BPBD dan Dinkes Kotim wajib distribusikan pasokan oksigen dan N95 untuk tim swadaya! (***)

  • Terisolasi di Tengah Kebun, Rumah di Pelita Barat Ludes Terbakar Digulung Karhutla

    Terisolasi di Tengah Kebun, Rumah di Pelita Barat Ludes Terbakar Digulung Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Tragedi memilukan kembali mewarnai bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Satu unit rumah warga di kawasan Perumahan Grand Pelita, Jalan Pelita Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, ludes dilalap si jago merah,  Jumat malam (21/8/2026).

    Kobaran api berukuran besar dengan cepat melalap seluruh struktur bangunan yang terletak di tengah area perkebunan tersebut. Dalam rekaman video yang beredar luas di masyarakat, kobaran api tampak membumbung tinggi ke udara dan menghanguskan hampir seluruh bagian rumah tanpa menyisakan bangunan sebelum tim pemadam berhasil menjangkau lokasi.

    Kebakaran hunian ini diduga kuat berkaitan erat dengan rambatan api karhutla yang membara di sekitar kawasan tersebut, meskipun penyebab pasti munculnya titik api utama masih dalam proses penyelidikan.

    Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim sekaligus Ketua Satgas Penanganan Konflik Sosial Kotim, Rihel, membenarkan adanya laporan insiden kebakaran satu unit rumah di kawasan Pelita Barat tersebut.

    Rihel mengonfirmasi kebenaran laporan kebakaran hunian tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya masih berupaya mengumpulkan informasi rinci mengenai kondisi rumah saat kejadian, termasuk memastikan ada atau tidaknya penghuni yang terjebak di dalam bangunan.

    “Ya seperti satu rumah,” singkat Rihel.

    Letak bangunan yang berada di tengah kebun dengan jarak sekitar 100 meter dari badan jalan utama menjadi hambatan besar dalam upaya penyelamatan. Posisi yang terisolasi dan jauh dari akses armada pemadam membuat api dengan cepat meratakan bangunan sebelum bantuan tiba.

    Hingga kini, rincian mengenai kerugian material maupun potensi korban jiwa masih menunggu pendataan resmi dari petugas gabungan di lapangan. Insiden ini mempertegas betapa rawan dan mengancamnya eskalasi karhutla di Kotim saat ini, di mana cuaca panas terik, tingginya tingkat kekeringan lahan gambut, serta maraknya titik api terus membahayakan keselamatan jiwa dan aset permukiman warga.

    Ludesnya satu rumah di Perumahan Grand Pelita adalah alarm bahaya tertinggi bahwa amukan karhutla Kotim telah bergeser dari ancaman lingkungan menjadi ancaman keselamatan jiwa dan harta benda di zona permukiman.

    Terisolasi dan jauhnya posisi bangunan dari jalan utama menelanjangi tiadanya sistem proteksi kebakaran mandiri (fire protection gap) di kawasan perumahan tepi kebun.

    Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) bersama Pemkab Kotim didesak mewajibkan setiap pengembang perumahan di pinggiran kota untuk membangun parit isolasi (firebreak trench) dan sumur resapan air baku. Di sisi lain, Satgas Karhutla dan Damkarmat Kotim harus menempatkan pos tinjau darurat di koridor rawan Mentawa Baru Ketapang agar respon pemadaman (response time) terhadap bangunan terancam dapat dilakukan sebelum api membesar total. (***)