Tag: ramadan 2026

  • Menepi dari Orderan, Driver Grab dan Gojek Sampit Kompak Berbagi Takjil di Jalan Panjaitan

    Menepi dari Orderan, Driver Grab dan Gojek Sampit Kompak Berbagi Takjil di Jalan Panjaitan

    SAMPIT, Kanalindependen.id — Menjelang waktu berbuka puasa, puluhan driver ojek online terlihat menepi di Jalan DI Panjaitan, Sampit. Biasanya mereka berhenti untuk menunggu orderan masuk. Namun sore itu berbeda. Di tangan mereka bukan ponsel yang sibuk memantau aplikasi, melainkan kantong-kantong berisi takjil.

    Satu per satu pengendara yang melintas dihentikan dengan ramah. Senyum para driver menyertai setiap paket takjil yang dibagikan kepada warga.

    Dalam waktu singkat, 250 paket takjil yang mereka siapkan langsung berpindah tangan. Menariknya, seluruh takjil tersebut berasal dari dana pribadi para driver Grab dan Gojek di Sampit.

    Kegiatan berbagi ini bukan hal baru bagi mereka. Tradisi sederhana ini bahkan sudah berjalan selama lima tahun setiap bulan Ramadan.

    “Ini untuk memperkuat solidaritas driver Grab dan Gojek di Sampit,” ujar Fajar, salah seorang perwakilan driver ojol yang ikut dalam kegiatan tersebut.

    Selain mempererat kebersamaan antar driver, kegiatan ini juga menjadi cara mereka memperkenalkan layanan ojek online kepada masyarakat di Kota Sampit.

    “Sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat bahwa di Sampit ada Grab dan Gojek,” katanya.

    Pembagian takjil dipusatkan di kawasan Jalan DI Panjaitan yang dikenal ramai dilalui warga menjelang berbuka. Namun para driver tidak hanya berhenti di sana.
    Sebagian dari mereka juga bergerak mengantarkan takjil secara langsung kepada tukang becak serta penjaga depo sampah yang masih bekerja hingga menjelang magrib.

    Bagi para driver, mereka adalah pekerja jalanan yang sering luput dari perhatian.

    Antusiasme warga terlihat jelas. Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, seluruh paket takjil yang dibagikan langsung habis.

    Bagi para driver ojol ini, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk berbagi.

    Fajar berharap kegiatan ini bisa terus menjadi tradisi.

    “Harapannya setiap Ramadan kegiatan ini bisa menjadi agenda wajib bagi driver ojol untuk berbagi takjil kepada masyarakat,” ujarnya.

    Di tengah kesibukan mengejar orderan dan waktu di jalanan, para driver itu menunjukkan satu hal sederhana: bahwa solidaritas bisa tumbuh dari mana saja—bahkan dari mereka yang setiap hari hidup dari perjalanan ke perjalanan. (***)

  • Ramadan Datang, Gelandangan dan Pengemis Berpotensi Menjamur, Kotim Diuji Antara Kepedulian dan Ketertiban

    Ramadan Datang, Gelandangan dan Pengemis Berpotensi Menjamur, Kotim Diuji Antara Kepedulian dan Ketertiban

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Setiap Ramadan tiba, kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur seolah memiliki dua wajah. Di satu sisi, masjid dan musala dipenuhi jemaah, empati sosial tumbuh, dan semangat berbagi menguat. Di sisi lain, ruang-ruang publik kembali diwarnai pemandangan lama yang berulang: gelandangan dan pengemis muncul di titik-titik keramaian.

    Fenomena ini bukan hal baru. Namun justru karena terus berulang, pertanyaan itu selalu kembali: sejauh mana negara hadir, dan sejauh mana ketertiban bisa dijaga tanpa menggerus kemanusiaan?

    Dinas Sosial Kotawaringin Timur menyadari potensi tersebut. Kepala Dinsos Kotim, Hawianan, menyebut Ramadan hampir selalu diikuti peningkatan aktivitas gepeng, situasi yang dinilai berpotensi mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah.

    “Biasanya saat Ramadan bermunculan gepeng, sehingga perlu penertiban. Termasuk tahun ini, potensi itu harus kita waspadai,” ujarnya.

    Kotim, menurut Hawianan, adalah daerah terbuka. Jalur darat, laut, dan udara membuat arus manusia masuk dan keluar relatif mudah. Kemudahan ini menjadi berkah bagi mobilitas ekonomi, namun sekaligus tantangan dalam pengawasan sosial terutama saat momentum keagamaan meningkatkan simpati publik.

    “Karena Kotim bisa diakses dari berbagai jalur, maka perlu pengawasan agar keamanan dan kenyamanan masyarakat tetap terjaga,” katanya.

    Di titik inilah persoalan menjadi rumit. Tidak semua yang mengaku terlantar adalah bagian dari modus. Sebagian benar-benar berada dalam kondisi rapuh dan membutuhkan perlindungan negara. Namun, Dinsos Kotim juga tak menampik adanya praktik berpura-pura terlantar demi memperoleh bantuan atau belas kasihan.

    “Kadang ada yang benar-benar terlantar, tapi ada juga yang hanya modus. Kalau tidak dilayani, dampaknya bisa ke nama baik pemerintah daerah,” jelas Hawianan.

    Pernyataan ini menyiratkan dilema klasik birokrasi sosial: antara kewajiban melayani dan risiko disalahgunakan. Jika terlalu longgar, bantuan bisa salah sasaran. Jika terlalu ketat, negara bisa dianggap abai terhadap warganya yang paling lemah.

    Untuk itu, Dinsos Kotim mendorong kerja sama lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terutama dengan Satpol PP dan aparat kepolisian. Penertiban diperlukan, tetapi tidak cukup hanya dengan razia tanpa skema penanganan yang berkelanjutan, persoalan ini akan terus berulang setiap Ramadan.

    Dinsos juga berharap dukungan operator jasa pelayaran di Pelabuhan Sampit untuk memfasilitasi pemulangan orang terlantar ke daerah asalnya. Namun pemulangan pun bukan solusi akhir jika akar persoalan kemiskinan dan mobilitas sosial tak disentuh.

    “Kami akan lakukan asesmen. Kalau hanya modus, tentu penanganannya berbeda,” tegas Hawianan.

    Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat empati dan kehadiran negara. Tetapi ketika gepeng terus bermunculan dari tahun ke tahun, pertanyaan yang lebih besar patut diajukan: apakah penanganan sosial selama ini benar-benar menyentuh akar masalah, atau sekadar memindahkan persoalan dari satu sudut kota ke sudut lainnya?

    Di sinilah Ramadan menguji Kotim antara menjaga ketertiban kota, dan memastikan tak ada manusia yang benar-benar ditinggalkan. (***)

  • Ketika Ramadan Mendekat, Harga Ayam di Sampit Tak Ikut Melonjak

    Ketika Ramadan Mendekat, Harga Ayam di Sampit Tak Ikut Melonjak

    SAMPIT, Kanalindependen.id–  Pagi itu, Pasar Ikan Mentaya Sampit mulai dipenuhi warga. Langkah-langkah kecil menyusuri lorong pasar berpadu dengan aroma bumbu dapur dan suara pedagang yang saling menyapa.  Ramadan kian dekat, dan satu pertanyaan kerap berputar di benak para pembeli: apakah harga bahan pokok akan ikut melonjak?

    Di lapak ayam potong, jawabannya masih menenangkan. Hingga Selasa (17/2), harga ayam terpantau stabil. Ayam potong kotor dijual di kisaran Rp40 ribu per kilogram, sementara ayam potong bersih berada di angka sekitar Rp37 ribu per kilogram. Meski permintaan perlahan meningkat menjelang bulan puasa, harga belum menunjukkan tanda-tanda bergerak naik.

    Hidayah, salah seorang pembeli, mengaku lega. Sambil menunggu ayam pesanannya ditimbang, ia bercerita bahwa kestabilan harga sangat berarti bagi keluarganya.

    “Alhamdulilllah masih normal. Ayam bersih Rp37 ribu, ayam kotor Rp40 ribu per kilogram. Ini sangat membantu, karena biasanya menjelang Ramadan kebutuhan meningkat,” katanya.

    Baginya, ayam bukan sekadar lauk. Ia adalah menu andalan untuk sahur dan berbuka. Karena itu, Dayah sapaan akrabnya berharap harga tetap bertahan hingga Lebaran.

    “Kalau sampai naik, pasti terasa berat. Semoga tetap stabil,” ujarnya.

    Cerita serupa datang dari para pedagang. Mereka menyebutkan stok ayam potong masih aman, pasokan dari peternak dan distributor berjalan lancar, dan belum ada lonjakan permintaan yang signifikan. Kondisi inilah yang membuat harga tetap terkendali.

    “Kami terus menjaga stok supaya kebutuhan masyarakat terpenuhi. Selama pasokan lancar, harga biasanya bisa tetap stabil,” ungkap Yani, seorang pedagang.

    Di tengah kekhawatiran umum akan naiknya harga bahan pokok jelang Ramadan, kondisi ini memberi rasa tenang. Ayam potong bahan pangan utama di banyak rumah masih bisa dijangkau. Harapannya, kestabilan ini bertahan hingga Lebaran, dengan dukungan pemantauan distribusi dan ketersediaan bahan pokok agar Ramadan dapat dijalani tanpa beban tambahan bagi masyarakat. (***)

  • Kabar dari Langit, Ramadan di Kotim Berpeluang Lebih Sejuk

    Kabar dari Langit, Ramadan di Kotim Berpeluang Lebih Sejuk

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, langit di atas Kabupaten Kotawaringin Timur seolah membawa pesan menenangkan. Setelah melewati hari-hari panas di awal tahun, warga Kotim kini berpeluang menjalani ibadah puasa dengan suasana yang lebih bersahabat. Hujan ringan hingga sedang diprakirakan akan lebih sering turun, menghadirkan udara yang terasa lebih adem.

    Kabar ini disampaikan Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leonardo. Ia menjelaskan, pada periode 1 hingga 10 Maret 2026, hujan dengan intensitas ringan sampai sedang masih akan mendominasi wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.

    “Prakiraan hujan di bulan Maret ini masuk kategori menengah, sekitar 200 sampai 300 milimeter. Kemungkinan bulan Ramadan akan lebih adem, mudah-mudahan tidak terlalu panas,” ujar Mulyono.

    Tak hanya di awal bulan, kondisi cuaca yang relatif sejuk ini diperkirakan akan bertahan hingga akhir Maret. Suhu udara diprediksi tidak sepanas awal tahun kemarin, ketika hujan sempat berkurang dan panas terasa lebih menyengat.

    Menurut Mulyono, secara umum sifat hujan di Kotim pada periode tersebut masih tergolong normal. Pola ini selaras dengan siklus klimatologi tahunan yang memang rutin terjadi di wilayah ini.

    BMKG mencatat, Kotim memiliki dua puncak musim hujan dalam satu tahun. Puncak pertama terjadi pada Desember 2025. Setelah itu, curah hujan menurun pada Januari dan membuat cuaca terasa lebih panas. Memasuki Februari hingga Maret, hujan kembali turun secara bertahap.

    “Pada bulan April nanti akan kembali terjadi puncak kedua musim hujan. Itu memang siklus tahunan di Kotim,” jelasnya.

    Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar terus memantau informasi cuaca terbaru. Prakiraan dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung dinamika dan fenomena alam yang terjadi.

    Setidaknya, kabar dari langit ini memberi harapan. Ramadan tahun ini berpeluang hadir dengan udara yang lebih sejuk, menemani sahur dan berbuka warga Kotim dengan suasana yang lebih nyaman. (***)

  • Menjaga Ramadan di Kotim: THM Tutup, Warung Tertirai, Bagarakan Sahur Diatur Waktu

    Menjaga Ramadan di Kotim: THM Tutup, Warung Tertirai, Bagarakan Sahur Diatur Waktu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang Ramadan, pemerintah kembali menata ritme ruang publik di Kotawaringin Timur. Aktivitas hiburan malam diminta berhenti, sebagian warung makan menyesuaikan jam operasional, dan masyarakat diingatkan menjaga ketertiban. Kebijakan yang berulang tiap tahun ini bukan sekadar soal aturan, tetapi tentang bagaimana keseimbangan antara kekhusyukan ibadah, kebutuhan ekonomi, dan stabilitas sosial dijaga.

    Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui imbauan bersama Bupati, Kapolres, dan Kementerian Agama meminta seluruh Tempat Hiburan Malam (THM) tidak beroperasi selama Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Karaoke, diskotik baik di hotel berbintang maupun melati serta bentuk hiburan malam lainnya diminta menghentikan aktivitas, siang maupun malam.

    Asisten I Setda Kotim, Waren, menyebut kebijakan ini diarahkan untuk menjaga kekhusyukan ibadah puasa sekaligus memastikan situasi tetap aman dan kondusif.

    “Pelaku usaha diharapkan mematuhi imbauan ini sebagai bentuk toleransi dan penghormatan terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah puasa,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

    Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, persoalan Ramadan di Kotim tidak berhenti pada penutupan hiburan malam. Warung makan dan aktivitas sosial di ruang publik kerap menjadi titik sensitif antara kebutuhan ekonomi dan tuntutan ketertiban.

    Dalam imbauan tersebut, pemilik warung, rumah makan, kedai minuman, dan kantin diminta tidak membuka usaha pada pagi hingga siang hari. Jika tetap beroperasi, tempat usaha wajib ditutup menggunakan tirai agar tidak terlihat terbuka secara umum sebuah praktik yang sudah lama dikenal masyarakat sebagai bentuk kompromi sosial.

    Di sisi lain, potensi gangguan ketertiban juga menjadi perhatian. Pemerintah melarang produksi, penjualan, maupun penggunaan petasan tanpa izin, termasuk aksi kebut-kebutan dan aktivitas lain yang dapat mengganggu ketenangan Ramadan.

    Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan lingkungan, memastikan keamanan rumah saat ditinggal beribadah, serta mengaktifkan kembali Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling).

    Untuk tradisi bagarakan sahur, batas waktu turut diatur. Kegiatan menggunakan peralatan kesenian diperbolehkan mulai pukul 01.30 WIB, sedangkan penggunaan pengeras suara paling cepat pukul 02.00 WIB, dengan catatan tidak mengganggu ketertiban umum dan tetap mematuhi aturan lalu lintas.

    Di atas kertas, imbauan ini tampak jelas. Namun, pertanyaan yang kerap muncul setiap Ramadan tetap sama: apakah pengawasan akan berjalan konsisten, atau hanya berhenti pada dokumen administratif.

    Waren menegaskan, pemerintah daerah bersama aparat kepolisian akan melakukan pemantauan lapangan guna memastikan seluruh ketentuan dijalankan.

    Ramadan di Kotim pada akhirnya bukan hanya soal menutup hiburan malam atau menertibkan warung makan. Ini tentang bagaimana pemerintah hadir secara konsisten—menjaga kekhusyukan ibadah, melindungi ketertiban sosial, sekaligus memastikan toleransi tidak sekadar menjadi slogan. (***)