Tag: Rekayasa Lalu Lintas

  • Jalan Tjilik Riwut Ditutup Permanen, Pemkab Kotim Siapkan Pengaspalan dan Penerangan Jalan Jaksa Agung

    Jalan Tjilik Riwut Ditutup Permanen, Pemkab Kotim Siapkan Pengaspalan dan Penerangan Jalan Jaksa Agung

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi memberlakukan penutupan permanen Jalan Tjilik Riwut di kawasan ujung landasan pacu atau runway 13 Bandara Haji Asan Sampit, Kamis (22/10/2026).

    Sebagai jalur pengganti, Pemkab Kotim menyiapkan pengaspalan pada sejumlah bagian Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sekaligus merencanakan pemasangan penerangan jalan umum (PJU) untuk menunjang keselamatan pengguna jalan.

    Penutupan permanen tersebut dilakukan setelah pemerintah daerah bersama pihak terkait melaksanakan sejumlah tahapan sosialisasi, simulasi pengalihan arus lalu lintas, dan evaluasi.

    Kebijakan ini berkaitan dengan pengembangan Bandara Haji Asan Sampit, khususnya pembangunan pagar pengaman sepanjang 764 meter di kawasan ujung landasan pacu yang melintasi jalan tersebut.

    Pembangunan pagar dikerjakan menggunakan sumber dana APBN sebesar Rp 1,2 Miliar yang hingga kini progressnya sudah mencapai 90 persen dan diperkirakan rampung November 2026.

    Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, penutupan tidak dilakukan secara mendadak. Sebelum diterapkan secara permanen, pemerintah daerah telah melakukan simulasi dan mengevaluasi pengaturan lalu lintas untuk memastikan masyarakat dapat menggunakan jalur alternatif yang disiapkan.

    ”Setelah beberapa kali kita melakukan simulasi uji coba, evaluasi, dan sosialisasi yang cukup panjang, akhirnya mulai hari ini kita lakukan penutupan secara permanen,” ujarnya saat meninjau kawasan tersebut, Kamis (22/10/2026).

    Halikinnor mengatakan penutupan Jalan Tjilik Riwut merupakan bagian dari konsekuensi pembangunan fasilitas bandara.

    Area yang digunakan untuk pengembangan bandara telah melalui proses pengadaan oleh pemerintah daerah dan selanjutnya diperuntukkan bagi kebutuhan pengembangan fasilitas penerbangan.

    Pembangunan pagar pengaman di sekitar ujung landasan pacu membuat akses jalan tersebut tidak dapat lagi dipertahankan seperti sebelumnya.

    Karena itu, arus kendaraan dari Sampit menuju Palangka Raya dan sebaliknya, dialihkan melalui jalur pengganti di Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sepanjang 3 km. Pengendara akan menemukan perempatan Jalan Jaksa Agung – Jalan menuju Desa Kandan dan ruas Jalan Ir Soekarno (Jalur lingkar utara).

    Bagi pengendara yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Palangka Raya berbelok ke kanan melintasi ruas jalur lingkar utara sepanjang 3 km hingga menemukan pertigaan Jalan Tjilik Riwut KM 8. Sehingga, total jarak tempuh 6 km dari muara Jalan Jaksa hingga menembus Jalan tjilik Riwut KM 8.

    Sedangkan, bagi pengendara yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan Bun diarahkan berbelok ke kiri melintasi ruas jalan yang sama di jalur lingkar utara.

    Pemkab Kotim rencananya juga akan membuka jalur alternatif kedua menuju Palangka Raya. Setelah perempatan jalur lingkar utara, pengendara dapat meneruskan perjalanan melewati jalan yang mengarah ke Desa Kandan dan akan menembus Jalan Tjilik Riwut dekat Jembatan Bejarum, Kotabesi.

    Alternatif jalan ini diperkirakan akan lebih cepat, namun jalan ini baru sekitar 1 km yang diaspal, sehingga Pemkab Kotim kedepannya akan melanjutkan pengembangan pengasapalan jalan hingga menembus Jalan Tjilik Riwut.

    Jalan yang sering disebut Jalan Simpang Kandan ini juga direncanakan akan dijadikan sentra pedagang buah-buahan terutama nanas yang dikenal di Kota Sampit.

    Halikinnor berharap pengguna jalan dapat menyesuaikan diri dengan pengaturan rute baru, meskipun perjalanan ke sejumlah tujuan mungkin menjadi lebih jauh dibandingkan ketika Jalan Tjilik Riwut masih dapat dilalui.

    ”Ini salah satu bentuk kemajuan suatu daerah. Salah satu risikonya seperti itu. Harapan saya, masyarakat juga memahami bahwa ini untuk kepentingan kita semua, dengan penutupan ini,” katanya.

    Saat melakukan peninjauan, Halikinnor juga mengaku belum menerima keluhan berarti dari masyarakat terkait pemberlakuan penutupan permanen tersebut.

    Ia menyebut telah menanyakan kondisi di lapangan kepada petugas Satuan Lalu Lintas yang berjaga untuk mengetahui respons pengguna jalan terhadap pengalihan arus.

    Dari hasil pengecekan tersebut, ia belum menemukan adanya pengguna jalan yang menghentikan perjalanan untuk menyampaikan keberatan karena harus menempuh jalur yang lebih jauh.

    Meski demikian, pemerintah daerah tetap menyiapkan perbaikan pada jalan pengganti agar dapat digunakan dengan lebih nyaman. Salah satu perhatian utama adalah kondisi Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto yang menjadi bagian penting dari jalur alternatif setelah penutupan Jalan Tjilik Riwut.

    Halikinnor mengatakan, sejumlah bagian Jalan Jaksa Agung yang sebelumnya mengalami kerusakan telah ditangani menggunakan material agregat. Penanganan tersebut menjadi tahap awal sebelum dilakukan pengaspalan.

    ”Ini jalan alternatifnya. Kondisinya sebagian besar sudah diaspal. Makanya saya cek lagi bagian jalan yang kondisinya sedikit rusak itu sudah diagregat, tapi dalam tahun ini juga akan diaspal,” tegasnya.

    Pengaspalan direncanakan menyasar bagian-bagian jalan yang memerlukan perbaikan. Dengan demikian, peningkatan kualitas jalan tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki permukaan yang rusak, tetapi juga untuk mendukung kelancaran arus kendaraan yang kini dialihkan setelah penutupan permanen Jalan Tjilik Riwut km 5-6.

    Kepala Dinas Perhubungan Kotim  Raihansyah menambahkan, penanganan agregat kelas A sudah dikerjakan sekitar 800 meter.

    ”Tahap pengaspalan ditargetkan berlangsung pada November 2026. Proses lelang untuk pekerjaan tersebut juga sudah selesai. Jadi, sebagian jalan yang rusak di Jalan Jaksa dipastikan akan diaspal bulan depan,” kata Raihansyah yang juga mendampingi Bupati Kotim saat meninjau jalan di kawasan tersebut.

    Penanganan Jalan Jaksa lanjut Raihan, tidak terbatas pada satu bagian sepanjang sekitar 800 meter.

    ”Ada beberapa titik lain juga masuk dalam pekerjaan pengaspalan, termasuk bagian jalan di sekitar jembatan atau gorong-gorong yang permukaannya lebih tinggi dan perlu diratakan,” ujarnya.

    Perbaikan pada titik-titik tersebut diperlukan agar perbedaan elevasi tidak mengganggu kenyamanan kendaraan saat melintas.

    Penanganan permukaan jalan dan kelengkapan penerangan diharapkan membuat Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto lebih siap menjalankan fungsinya sebagai jalur pengganti setelah Jalan Tjilik Riwut ditutup permanen.

    Raihansyah kembali menekankan bahwa, penutupan permanen Jalan Tjilik Riwut di kawasan runway 13 Bandara Haji Asan Sampit dilaksanakan setelah serangkaian sosialisasi dan simulasi.

    Pemerintah terus melakukan evaluasi sebelum akhirnya menetapkan pengalihan arus lalu lintas kendaraan secara permanen pada 22 Oktober 2026.

    ”Untuk penutupan jalan permanen di runway 13 Bandara Haji Asan, sudah kami lakukan beberapa kali sosialisasi dan simulasi, kami terus melakukan evaluasi. Akhirnya, pada hari ini, tanggal 22 Oktober 2026, kami lakukan penutupan permanen,” jelasnya.

    Raihansyah menerangkan, penutupan tersebut sejalan dengan perkembangan pekerjaan perpanjangan landasan pacu dan pembangunan pagar di kawasan ujung runway. Pekerjaan pagar dilaksanakan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026.

    Selain memastikan pengaturan lalu lintas berjalan, Dinas Perhubungan juga menyiapkan kelengkapan rambu-rambu di sekitar jalur pengalihan yakni di Jalan Jaksa Agung.

    ”Untuk saat ini, rambu yang terpasang masih bersifat sementara nanti akan dilengkapi dan dibuat permanen pada 2026 agar pengguna jalan memperoleh petunjuk yang jelas saat melintasi kawasan,” ujarnya.

    Kejelasan rambu menjadi bagian penting dari pengaturan jalan setelah penutupan permanen. Pengguna jalan perlu mengetahui arah perjalanan dan jalur yang harus dilalui sehingga tidak kebingungan ketika mendekati kawasan yang sudah tidak dapat diakses.

    Raihansyah menambahkan Pemkab Kotim juga merencanakan akan memasang penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto hingga Lingkar Utara.

    Penerangan dibutuhkan untuk membantu pengguna jalan melintas dengan aman, terutama pada malam hari ketika kondisi jalan dan lingkungan sekitar lebih sulit terlihat.

    Rencana penerangan tersebut mencakup jalur sepanjang kurang lebih 3,7 kilometer, dari Simpang Jaksa menuju Lingkar Utara.

    ”Dalam tahap perencanaan, kebutuhan lampu diperkirakan mencapai 70 hingga 80 titik yang ditempatkan pada satu sisi jalan,” ujarnya.

    Raihansyah menyebutkan, perencanaan PJU dilakukan pada 2026, sedangkan pelaksanaan fisiknya diusulkan untuk 2027.

    Dengan rencana tersebut, peningkatan fasilitas Jalan Jaksa tidak hanya mengandalkan perbaikan permukaan jalan, tetapi juga mencakup penerangan untuk menunjang keselamatan lalu lintas.

    ”Perencanaan PJU diusulkan di perubahan anggaran tahun ini dan realisasinya akan dilaksanakan 2027,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Jalan Tjilik Riwut Sampit Mulai Ditutup, Jalan Jaksa Disiapkan Jadi Jalur Utama Pengganti

    Jalan Tjilik Riwut Sampit Mulai Ditutup, Jalan Jaksa Disiapkan Jadi Jalur Utama Pengganti

    SAMPIT, kanalindependen.id – Uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut di kawasan ujung landasan pacu Bandara Haji Asan Sampit mulai dilakukan Kamis (8/10/2026).

    Pengalihan arus lalu lintas ini menjadi tahap awal sebelum ruas jalan tersebut ditutup permanen untuk mendukung pengembangan dan pengamanan kawasan bandara, dengan mengalihkan Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sebagai jalur utama pengganti.

    Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotawaringin Timur (Kotim) Raihansyah mengatakan, simulasi uji coba  dilakukan untuk memastikan kesiapan pengalihan lalu lintas sebelum penutupan diberlakukan secara permanen.

    Pemerintah daerah, memahami perubahan akses itu akan berdampak terhadap masyarakat yang selama ini menggunakan Jalan Tjilik Riwut, terutama pengguna rute Sampit–Palangka Raya maupun sebaliknya.

    ”Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan kepada masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur atas penutupan jalan di sekitar runway Bandara Haji Asan Sampit, terutama jalan menuju ke arah Kota Palangka Raya ataupun sebaliknya,” kata Raihansyah.

    Uji coba dilakukan selama tiga hari, mulai pukul 08.30 hingga 11.00 WIB setiap harinya. Hal itu dilakukan untuk membiasakan pengendara melewati jalur pengganti melewati Jalan Jaksa Agung R Soeprapto.

    ”Jadi, kami coba mulai hari ini, dari pukul 08.30 sampai pukul 11.00 setiap harinya, selama tiga hari. Setiap hari akan kami evaluasi,” ujarnya.

    Evaluasi mencakup titik-titik yang masih memiliki kekurangan, termasuk kebutuhan rambu dan hal lain yang berkaitan dengan pengalihan arus.

    ”Setiap hari akan kami adakan evaluasi. Di mana titik kekurangannya, rambunya, ataupun apa pun yang berkaitan dengan kekurangan ini. Itu akan menjadi bahan keputusan kami untuk melakukan penutupan total,” jelas Raihansyah.

    Selama masa uji coba, masyarakat diminta berhati-hati karena rambu-rambu di jalur pengalihan belum seluruhnya terpasang. Dishub tetap menempatkan petugas di sejumlah titik untuk membantu pengguna jalan.

    ”Kami mengimbau masyarakat yang akan melintas di jalan ini agar lebih berhati-hati karena belum terpasang rambu lalu lintas. Namun, kami tetap menempatkan petugas di titik-titik jalan yang dilalui akibat penutupan ini,” katanya.

    Berkaitan dengan Pengembangan Bandara

    Raihansyah menegaskan, penutupan Jalan Tjilik Riwut bukan pengalihan sementara akibat pekerjaan proyek. Ruas tersebut masuk dalam kawasan yang dipersiapkan untuk pengembangan Bandara Haji Asan.

    ”Perlu dipahami, ini dalam rangka melakukan pembangunan berkelanjutan. Rencana ini bukan rencana pada tahun ini saja, tetapi master plan yang sudah berjalan sejak lama,” ujarnya.

    Pemkab Kotim lanjut Raihansyah, memiliki master plan bandara sekaligus master plan pengembangan Kota Sampit dan Kabupaten Kotim yang telah berjalan dari pemerintahan sebelumnya.

    ”Jadi, kita punya master plan bandara dan juga master plan pengembangan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, secara berkelanjutan dari pemimpin-pemimpin sebelumnya,” kata Raihansyah.

    Saat ini, pembangunan pagar di kawasan bandara juga telah berjalan setelah Kotim mendapatkan alokasi anggaran APBN 2026 untuk pemagaran.

    ”Kita lihat, pada posisi sekarang sudah ada pemagaran. Alhamdulillah, pada tahun 2026 ini kita mendapat alokasi anggaran dari APBN untuk pemagaran bandara,” ujarnya.

    Pekerjaan pemagaran tersebut akan dilanjutkan dengan pembangunan fondasi yang membutuhkan pemotongan bagian jalan.

    ”Rencana Senin depan, kami akan lakukan cutting jalan untuk melanjutkan pembangunan fondasi pagar,” katanya.

    Raihansyah mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk pengembangan Bandara Haji Asan, termasuk peluang perpanjangan runway pada tahun berikutnya.

    ”Kami terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan. Mudah-mudahan tahun depan akan ada perpanjangan runway di Bandara Haji Asan Sampit,” ujarnya.

    Raihansyah menjelaskan, kebutuhan pengembangan tersebut semakin penting karena Bandara Haji Asan sudah melayani pesawat berbadan besar. Sejumlah aspek teknis juga masih menjadi perhatian, termasuk obstacle dan runway end safety area (RESA).

    ”Sekarang kita sudah tahu bahwa sudah ada pesawat berbadan besar yang beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit. Tentunya, kemarin ada beberapa catatan dan evaluasi kami, termasuk obstacle-obstacle yang ada di bandara, termasuk juga RESA,” jelasnya.

    Raihansyah berharap pengembangan dan pengamanan runway dapat meningkatkan fungsi bandara sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi Kotim.

    ”Kalau ini sudah kita perpanjang dan kita amankan, insyaallah ke depannya bandara ini akan lebih maju. Efek  luar biasa terhadap perekonomian Kabupaten Kotawaringin Timur,” katanya.

    Jalan Jaksa Jadi Jalur Utama Pengganti

    Sebagai konsekuensi penutupan Jalan Tjilik Riwut, pemerintah menyiapkan Jalan Jaksa Agung R. Soeprapto sebagai jalur pengganti.

    Raihansyah mengatakan jalan tersebut mulai dibenahi dan difungsikan untuk mendukung pengalihan arus.

    ”Sekarang kita coba fungsikan, sudah muncul warung-warung kecil,” ujarnya.

    Menurut Raihansyah, munculnya aktivitas perdagangan di sepanjang Jalan Jaksa menjadi salah satu dampak dari mulai berfungsinya jalur tersebut.

    ”Ini juga akan menambah perekonomian kita. Walaupun jarak tempuh akan lebih jauh, kami menyiapkan alternatif jalan di Jalan Bengkirai untuk kendaraan roda dua,” katanya.

    Selain menjadi jalur pengganti, Jalan Jaksa diproyeksikan memiliki konektivitas yang lebih luas. Jalur tersebut nantinya akan terhubung dengan akses menuju Desa Kandan.

    ”Untuk diketahui juga, ke depannya Jalan Jaksa ini terkoneksi dengan jalan menuju Desa Kandan. Ini lurus, nanti akan menuju Desa Kandan,” ujarnya.

    Pengembangan tersebut, lanjut Raihansyah, merupakan bagian dari program pemerintah daerah untuk membentuk konektivitas dari kawasan Jalan Tjilik Riwut menuju Kandan hingga Jembatan Bajarum.

    ”Sesuai dengan program Bapak Bupati, ini akan terus ditingkatkan sehingga arus jalan dari Jalan Tjilik Riwut sampai Jalan Jaksa, sampai dengan Kandan, langsung menuju Jembatan Bajarum,” katanya.

    Jalur menuju Kandan juga direncanakan menjadi kawasan penataan UMKM. Pemerintah daerah akan mengarahkan aktivitas perdagangan buah di sepanjang jalur tersebut.

    ”Di sana, rencananya di sepanjang jalan menuju Kandan akan ada UMKM, terutama orang-orang yang menjual buah nanas bandara, karena nanas bandara ini sudah terkenal sampai luar daerah,” ujarnya.

    Selain nanas, pedagang buah lainnya juga akan ditata.

    ”Ini juga akan kami tata nantinya di sepanjang jalan menuju Desa Kandan tersebut. Untuk yang menjual nanas ataupun buah-buahan lainnya, seperti durian dan lain sebagainya, nanti akan kami tata di sana,” kata Raihansyah.

    Kendaraan Besar Tetap Lewat Jalur Utama

    Dishub juga menyiapkan rekayasa lalu lintas berdasarkan jenis kendaraan. Raihansyah mengatakan, jalur menuju Kandan nantinya diarahkan bagi kendaraan operasional berukuran kecil.

    ”Nanti juga akan kami pilah. Untuk jalan menuju Desa Kandan, yang tembus Kandan, itu adalah mobil-mobil operasional seperti mobil kecil, misalnya Avanza,” jelasnya.

    Sementara kendaraan berukuran besar tetap menggunakan jalur utama melalui jaringan Jalan Tjilik Riwut, Lingkar Utara, Lingkar Selatan hingga arah Bagendang.

    ”Untuk mobil-mobil besar, akan melintas seperti biasa: Jalan Cilik Riwut langsung menuju Lingkar Utara, sampai dengan Lingkar Selatan, sampai ke arah Bagendang,” ujarnya.

    Rekayasa tersebut disiapkan agar perubahan akses dapat berjalan lebih teratur setelah penutupan permanen diberlakukan.

    ”Kami coba ke depannya rekayasanya seperti itu,” kata Raihansyah.

    Ia kembali meminta masyarakat memahami perubahan tersebut sebagai bagian dari rencana pembangunan jangka panjang.

    ”Jadi, kami mohon maaf kepada masyarakat. Jangan berpikir bahwa ini untuk kepentingan sesaat, tetapi untuk kepentingan Kabupaten Kotawaringin Timur dalam jangka panjang,” tegasnya.

    Raihansyah mengatakan manfaat pengembangan tersebut mungkin belum dirasakan langsung oleh generasi sekarang.

    ”Tidak harus kita pada saat ini yang menikmati. Siapa tahu nanti anak atau cucu kita yang akan menikmati pengembangan Kabupaten Kotawaringin Timur,” ujarnya.

    Raihansyah berharap pengembangan bandara dan perubahan jaringan jalan tersebut dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

    ”Kami menginginkan penutupan jalan dan pengembangan bandara ini juga diikuti dengan perekonomian Kabupaten Kotawaringin Timur yang semakin meningkat,” harapnya.

    Jalan Jaksa Diperbaiki Bertahap

    Sementara itu, Kepala DSDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama menjelaskan kesiapan fisik Jalan Jaksa sebagai jalur pengganti.

    Mentana mengatakan, sesuai instruksi Bupati Kotim, pihaknya telah memfungsikan Jalan Jaksa untuk mendukung perubahan akses tersebut.

    ”Jadi, saat ini sudah dilakukan uji coba penutupan Jalan Tjilik Riwut terkait dengan perluasan bandara. Kami dari dinas, sesuai instruksi Pak Bupati, saat ini sudah memfungsikan Jalan Jaksa,” kata Mentana.

    Pemeliharaan awal dilakukan dengan agregat pada bagian jalan yang membutuhkan peningkatan.

    ”Kemarin sudah dilakukan pemeliharaan dengan agregat sepanjang kurang lebih 800 sampai 900 meter,” ujarnya.

    Tahap berikutnya adalah pengaspalan pada titik-titik yang dinilai paling mendesak. Saat ini proses pengadaan barang dan jasa sedang berjalan.

    ”Proyeksinya nanti kami akan lanjutkan dengan pengaspalan. Saat ini sedang proses pengadaan barang dan jasa. Kontraknya nanti menunggu pengesahan APBD Perubahan. Mudah-mudahan pada November atau akhir tahun ini sudah bisa diaspal,” jelas Mentana.

    Pengaspalan tidak dilakukan terhadap seluruh ruas Jalan Jaksa karena sebagian badan jalan masih dalam kondisi baik. Pemerintah akan memprioritaskan titik yang benar-benar membutuhkan penanganan.

    ”Pengaspalan tidak ddilakukaan total sepanjang Jalan Jaksa, tetapi spot-spot saja. Karena sebagian jalan kondisinya masih bagus. Pemda juga memiliki keterbatasan anggaran, jadi harus dipilih yang memang benar-benar urgent untuk  di aspal,” katanya.

    Secara keseluruhan, bagian yang membutuhkan peningkatan berada pada kisaran 900 meter. Bagian yang sudah ditangani dengan agregat mencapai sekitar 800 meter, ditambah sejumlah titik lainnya.

    ”Ada spot-spot jalan rusak, itu nanti di aspal supaya lebih aman,” ujarnya.

    Titik Genangan Jadi Prioritas

    Salah satu bagian yang telah ditangani merupakan lokasi yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat genangan air saat musim hujan.

    Mentana mengatakan badan jalan pada titik tersebut telah ditinggikan menggunakan agregat. Setelah pengaspalan, pemerintah juga akan melakukan pembenahan drainase.

    ”Kerusakannya itu karena tergenang ketika musim hujan. Nah, itu sudah ditimbun ditinggikan dengan agregat. Nanti akan di aspal dan juga kita lakukan pembenahan drainasenya,” katanya.

    Penanganan drainase dilakukan melalui kegiatan pemeliharaan. Pemerintah akan menggunakan alat berat untuk membantu membuka atau memperbaiki aliran air.

    ”Pemeliharaan saja nanti. Mungkin nanti kita turunkan ekskavator dan segala macam untuk mengalirkan airnya,” jelas Mentana.

    Jalan Bangkirai Sudah Fungsional

    Mentana juga menjelaskan kondisi Jalan Bangkirai yang disiapkan sebagai salah satu jalur alternatif. Ruas jalan tersebut saat ini sudah dapat digunakan oleh masyarakat, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

    ”Kondisi jalan di sana saat ini sudah fungsional, sudah bisa dilewati, baik roda dua maupun roda empat. Kondisinya agregat B,” katanya.

    Jalan Bangkirai juga direncanakan ditingkatkan menjadi jalan beraspal. Namun, pekerjaan tersebut belum menjadi prioritas pada 2026.

    ”Nanti dilihat pada tahun 2027, melihat kondisi keuangan daerah. Tapi yang pasti, sekarang sudah fungsional,” pungkas Mentana. (hgn/ign)