Tag: Satgas Karhutla Kotim

  • 490 Hotspot Terdeteksi di Kotim, 189 Titik Terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan

    490 Hotspot Terdeteksi di Kotim, 189 Titik Terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 490 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam akumulasi 24 jam terakhir. Sebaran titik panas tersebut didominasi kawasan selatan Kotim, dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah paling banyak menyumbang hotspot.

    Data rekapitulasi hotspot BMKG yang diakses pada 17 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB menunjukkan, dari 490 titik panas yang terpantau, sebanyak 441 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 37 titik rendah dan 12 titik tinggi.

    ”Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi. Kecamatan tersebut mencatat 189 titik panas, atau hampir 40 persen dari seluruh hotspot yang terdeteksi di Kotim,” ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo dalam perbaruan data titik panas di Kotim, Senin (17/8/2026).

    Sebaran di Mentaya Hilir Selatan juga tidak merata. Samuda Besar menyumbang 50 titik, disusul Handil Sohor 35 titik, Kelurahan Samuda Kota 32 titik, Samuda Kecil 23 titik, Sebamban 22 titik dan Jaya Karet 18 titik.

    Kondisi ini membuat kawasan selatan Kotim menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian serius di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Setelah Mentaya Hilir Selatan, jumlah hotspot terbanyak berada di Teluk Sampit dengan 75 titik. Selanjutnya Mentaya Hilir Utara mencatat 60 titik dan Mentawa Baru Ketapang sebanyak 54 titik.

    Di Teluk Sampit, sebagian besar hotspot terkonsentrasi di Lampuyang dengan 53 titik, kemudian Parebok 17 titik dan Kuin Permai lima titik.

    Sementara di Mentaya Hilir Utara, Bagendang Tengah menjadi titik konsentrasi utama dengan 53 hotspot dari total 60 titik yang terpantau di kecamatan tersebut.

    Adapun di Mentawa Baru Ketapang, hotspot tersebar di sejumlah wilayah. Kelurahan Ketapang mencatat 16 titik, Kelurahan Pasir Putih 12 titik dan Bangkuang Makmur 12 titik. Selain itu, terdapat hotspot di Bapeang, Eka Bahurui, Kelurahan Mentawa Baru Hulu dan Telaga Baru.

    Jika empat kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi tersebut digabungkan, terdapat 378 titik panas. Angka itu setara sekitar 77 persen dari total hotspot Kotim dalam periode pemantauan.

    Sebaran hotspot juga terpantau di sejumlah kecamatan lain. Baamang mencatat 41 titik, Antang Kalang 10 titik, Mentaya Hulu 11 titik, Seranau sembilan titik, sedangkan Kota Besi, Parenggean dan Telawang masing-masing delapan titik.  

    Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi memang hanya berjumlah 12. Namun, seluruhnya terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan, sehingga wilayah tersebut menjadi perhatian tersendiri dalam pemantauan potensi karhutla.

    “Data hotspot sendiri merupakan indikator adanya anomali panas yang terdeteksi sensor satelit dan bukan otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Karena itu, temuan tersebut tetap membutuhkan verifikasi di lapangan,” katanya.

    Dengan ratusan hotspot yang tersebar dalam 24 jam terakhir, ancaman karhutla di Kotim masih cukup tinggi. Pemantauan dan pemeriksaan lapangan menjadi penting, terutama pada wilayah dengan konsentrasi hotspot yang padat.

    Kondisi ini juga menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus di sekitar pusat Kota Sampit. Kawasan selatan Kotim kini menjadi salah satu titik perhatian karena konsentrasi hotspot yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. (***)

  • Karhutla Kapten Mulyono Sampit Jadi Pertarungan Panjang, Api Masih Berasap di Hari Ketiga

    Karhutla Kapten Mulyono Sampit Jadi Pertarungan Panjang, Api Masih Berasap di Hari Ketiga

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Kapten Mulyono tepatnya Jalan Kacapiring Barat, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum benar-benar berakhir.

    Memasuki hari ketiga, asap masih mengepul dari kawasan lahan yang terbakar. Api yang sempat membesar kembali menyisakan bara di areal gambut, membuat penanganan menjadi lebih sulit.

    Warga yang tinggal tak jauh dari lokasi mengatakan kebakaran pertama kali terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Kobaran api kemudian membesar pada Minggu dan hingga Senin (17/8/2026) masih terlihat asap dari kawasan tersebut.

    “Sudah tiga hari ini. Kebakaran ini sudah terjadi sejak Sabtu, membesar kemarin, lalu hingga hari ini masih mengeluarkan asap,” ungkap Dima, warga di Jalan Kacapiring Barat.

    Persoalan tidak berhenti pada kondisi lahan yang mudah terbakar. Titik karhutla berada cukup jauh dari akses utama dan tidak memiliki sumber air di sekitar lokasi.

    Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel mengatakan lokasi kebakaran berada sekitar satu kilometer dari Jalan Kapten Mulyono Sampit.

    “Lokasi sekitar 1 kilometer dari jalan utama, sementara sumber air tidak ada,” ungkap Rihel saat berada di lokasi.

    Jarak tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan upaya lebih. Petugas harus membawa air menuju titik kebakaran menggunakan kendaraan dengan kapasitas terbatas.

    Menurut Rihel, jalur menuju lokasi hanya dapat dilalui truk dengan tangki kecil. Untuk menjangkau titik api, petugas juga harus menggunakan selang yang cukup panjang.

    Situasi semakin rumit karena personel Satgas Karhutla tidak dapat menetap selama 24 jam di satu lokasi. Mereka harus berpindah untuk menangani titik kebakaran lain yang juga membutuhkan penanganan.

    Kondisi itu diduga membuat api kembali membesar setelah petugas meninggalkan lokasi. Apalagi lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut.

    Pada lahan gambut, api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah terlihat sudah mengecil. Bara yang tersisa dapat kembali muncul ketika kondisi mendukung.

    “Petugas tidak bisa 24 jam berada di lokasi karena harus memadamkan di lokasi lain,” kata Rihel.

    Karhutla di Kacapiring Barat akhirnya menjadi pertarungan panjang antara petugas dan kondisi lapangan. Jarak dari jalan utama, ketiadaan sumber air serta karakter lahan gambut membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan hanya dengan sekali penanganan.

    Hingga Senin, kawasan tersebut masih mengeluarkan asap. Satgas Karhutla Kotim terus melakukan pemantauan dan penanganan untuk mencegah api kembali membesar dan merembet ke area lain. (***)

  • Titik Panas Kotim Menyusut Hingga 70 Hotspot, Satgas Diminta Tak Lengah di Desa Lampuyang

    Titik Panas Kotim Menyusut Hingga 70 Hotspot, Satgas Diminta Tak Lengah di Desa Lampuyang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Tekanan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunjukkan tren penurunan signifikan. Berdasarkan data rekapitulasi satelit BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit pada Jumat sore (14/8/2026) pukul 16.00 WIB, sebaran titik panas (hotspot) di Kotim menyusut drastis menjadi 70 titik, dari yang sebelumnya sempat menembus angka 181 titik.

    Meski secara akumulasi terjadi penurunan drastis, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim diimbau untuk tidak melonggarkan pengawasan.

    “Pasalnya, sebaran titik panas masih terkonsentrasi kuat di wilayah selatan Kotim, khususnya di Kecamatan Teluk Sampit yang menyumbang 28 titik atau sekitar 40 persen dari total hotspot di Kotim,” ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo.

    Desa Lampuyang di Kecamatan Teluk Sampit menjadi lokasi paling rawan dengan dominasi 26 titik panas (25 tingkat kepercayaan menengah dan 1 tingkat kepercayaan tinggi). Sementara dua titik sisanya berada di Desa Parebok.

    Selain Teluk Sampit, sebaran 70 titik panas di Kotim terdeteksi di beberapa wilayah lain;  Mentawa Baru Ketapang: 9 titik (Kelurahan Pasir Putih 4, Bapanggang Raya 2, Bangkuang Makmur 1, Eka Bahurui 1, MB Hulu 1). Mentaya Hilir Selatan: 8 titik (Basirih Hulu 4, Sebamban 4). Kecamatan Baamang: 7 titik (Baamang Barat 4, Baamang Hulu 3). Mentaya Hilir Utara: 6 titik (Bagendang Tengah 6). Bukit Santuai: 4 titik (Tumbang Tilap 2, Tumbang Kaminting 1, Tumbang Penyahuan 1). Kecamatan Lain: Kota Besi (2 titik), Seranau (2 titik), serta Antang Kalang, Cempaga Hulu, Mentaya Hulu, dan Telaga Antang masing-masing 1 titik.

    Dari total 70 hotspot, sebanyak 68 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (30–79 persen), dan 2 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi (80 persen) yang berada di Desa Bukit Batu (Cempaga Hulu) dan Desa Lampuyang (Teluk Sampit).

    BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mengingatkan bahwa melandainya angka hotspot tidak boleh mengurangi intensitas patroli darat. Keberadaan titik panas berkepercayaan tinggi di Lampuyang menegaskan adanya potensi kebakaran aktif yang membutuhkan pemadaman dan penyekatan segera di lahan gambut sebelum membesar.

    Menyusutnya angka hotspot dari 181 menjadi 70 titik adalah kabar baik, namun bukan alasan bagi Satgas Karhutla Kotim untuk menurunkan titik siaga. Karakteristik lahan gambut di Kotim terutama di kawasan pesisir Lampuyang sering kali menyimpan bara api di bawah permukaan tanah (subsurface fire) yang tidak selalu terdeteksi oleh sensor termal satelit saat tertutup asap tebal atau awan tipis.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan aksi lapangan yang sangat tajam: Di antaranya yakni penguatan Posko Aju dan Patroli Gambut di Lampuyang: Konsentrasi 26 titik panas di Desa Lampuyang membuktikan bahwa kawasan ini adalah titik lemah (vulnerable spot) yang berisiko menyulut kabut asap ke alur pelayaran Sungai Mentaya dan perkotaan Sampit. Satgas Karhutla harus memastikan ketersediaan pasokan air dan tim pemadam di posko aju Teluk Sampit berfungsi 24 jam.

    Selanjutnya, pengawasan ketat lahan pertanian pesisir: Menjelang musim tanam, pencegahan aktivitas pembakaran lahan (zero burning) oleh pemilih lahan di kawasan Lampuyang dan Basirih Hulu wajib diperketat. Langkah tegas aparat penegak hukum sangat dibutuhkan agar tren penurunan angka hotspot ini dapat dipertahankan hingga akhir musim kemarau.

    Jangan terkecoh penurunan angka satelit, padamkan bara gambut Lampuyang sampai tuntas! Hotspot Kotim turun jadi 70 titik!  Satgas Karhutla dilarang lengah di Desa Lampuyang!

  • 181 Hotspot Mengepung Kotim, Teluk Sampit Menyumbang 102 Titik

    181 Hotspot Mengepung Kotim, Teluk Sampit Menyumbang 102 Titik

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebaran titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan tekanan karhutla yang belum mereda. Hingga Kamis (13/8/2026) pukul 16.00 WIB, tercatat 181 hotspot tersebar di sejumlah wilayah. Namun, sebarannya tidak merata.

    Teluk Sampit menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi. Kecamatan yang berada di bagian selatan Kotim itu menyumbang 102 titik, atau lebih dari separuh total hotspot yang tercatat dalam rekapitulasi BMKG.

    Data tersebut tercantum dalam Rekapitulasi Hotspot Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur yang dikeluarkan Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit dan diakses pada Kamis sore.

    Dari 102 hotspot di Teluk Sampit, sebanyak 95 titik berada di Desa Lampuyang. Sementara tujuh titik lainnya terdeteksi di Desa Parebok.

    Kondisi tersebut membuat Lampuyang menjadi salah satu lokasi yang patut mendapat perhatian serius dalam pemantauan karhutla Kotim.

    Setelah Teluk Sampit, konsentrasi hotspot terbanyak berada di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dengan 27 titik. Hotspot tersebar di Desa Basirih Hulu sebanyak 15 titik, Sei Ijum Raya empat titik, Jaya Karet empat titik, Sebamban dua titik dan Jaya Kelapa dua titik.

    Sementara Kecamatan Baamang tercatat memiliki 12 hotspot. Sebanyak sembilan titik berada di Kelurahan Baamang Barat dan tiga titik lainnya di Kelurahan Baamang Hulu.

    Di Telawang terdapat 10 hotspot. Seluruhnya tersebar di Desa Sebabi dan Tanah Putih, masing-masing lima titik.

    Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menyusul dengan sembilan hotspot. Enam titik berada di Desa Bangkuang Makmur dan tiga titik di Kelurahan Pasir Putih.

    Wilayah lainnya yang masih terpantau hotspot yakni Seranau dengan tujuh titik, Bukit Santuai lima titik, Kota Besi empat titik, Mentaya Hilir Utara tiga titik, serta Cempaga dan Parenggean masing-masing dua titik.

    Yang juga menjadi perhatian, 180 hotspot berada pada tingkat kepercayaan menengah, sedangkan satu titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi. Tidak tercatat hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah dalam rekapitulasi tersebut.

    Sebaran ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum terkonsentrasi pada satu wilayah saja. Meski Teluk Sampit menjadi episentrum berdasarkan jumlah hotspot, titik panas juga muncul di kawasan perkotaan dan sejumlah kecamatan lain.

    Kondisi tersebut perlu dibaca bersama dengan situasi di lapangan. Sebab, hotspot merupakan indikasi adanya sumber panas yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif.

    Tetapi ketika jumlahnya mencapai ratusan dan terdapat konsentrasi sangat tinggi di wilayah tertentu, data tersebut tetap menjadi sinyal penting bagi tim penanganan karhutla untuk melakukan pengecekan lapangan.

    Lampuyang kini menjadi nama yang paling menonjol dalam peta hotspot Kotim. Sebanyak 95 titik panas terkonsentrasi di satu desa tersebut.

    Pertanyaannya kemudian bukan hanya berapa banyak hotspot yang muncul, tetapi apa yang sedang terjadi di balik konsentrasi titik panas tersebut dan apakah ada kebakaran aktif yang membutuhkan penanganan segera.

    Pemerintah daerah bersama tim gabungan perlu memastikan titik-titik tersebut segera diverifikasi di lapangan. Terlebih, karhutla di Kotim dalam beberapa pekan terakhir telah berdampak pada munculnya asap dan penurunan kualitas udara di Sampit.

    Data hotspot ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla di Kotim belum selesai. Ketika satu wilayah mulai mendominasi peta titik panas, respons cepat menjadi penting sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (***)

  • Desa Batuah Sumbang Hotspot Tertinggi di Kotim, Satgas Ingatkan Bedanya Titik Panas dan Api

    Desa Batuah Sumbang Hotspot Tertinggi di Kotim, Satgas Ingatkan Bedanya Titik Panas dan Api

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Desa Batuah, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mencatatkan lonjakan konsentrasi titik panas (hotspot) tertinggi dalam pemantauan 24 jam terakhir. Pemutakhiran data BMKG pada Sabtu sore (8/8/2026) pukul 16.00 WIB merekam sebanyak 78 hotspot mengepung wilayah desa yang terletak di seberang Sungai Mentaya tersebut.

    Dari total 78 titik panas di Desa Batuah, rincian indikator satelit menunjukkan 73 titik berada pada tingkat kepercayaan (confidence level) menengah, 4 titik tingkat kepercayaan rendah, dan 1 titik tingkat kepercayaan tinggi.

    Meski angka indikator satelit di Desa Batuah melonjak signifikan, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim mengingatkan publik agar tidak serta-merta mengartikan angka hotspot sebagai jumlah pasti lokasi kebakaran aktif (fire spot). Data sensor termal satelit ditegaskan tetap membutuhkan verifikasi faktual (ground-check) langsung di lokasi.

    Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, menjelaskan fenomena teknis di mana anomali suhu panas yang ditangkap oleh satelit memiliki berbagai kemungkinan kondisi nyata di lapangan.

    “Yang kawa dilihat di depan mata di Kota Besi itu yang pasti Soren, Camba dan kelurahannya. Memang ada hotspot, api jua ada. Ada yang jalur menuju Kandan sebelah kiri. Namun mun mengacu data keseluruhan, mana yang pasti ada titik apinya kada kawa dipastikan, karena alat kita untuk terbang mengecek itu kada ada ke seluruh 17 kecamatan,” terang Rihel, Sabtu (8/8/2026).

    Rihel memaparkan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu panas permukaan yang ditangkap sensor satelit BMKG maupun LAPAN. Ketika tim bergerak menuju lokasi koordinat, kondisi kebakaran bisa saja sudah berubah, padam ditangani, atau hanya tersisa kepulan asap tipis dari bara gambut bawah tanah.

    Selain itu, tingginya jumlah hotspot di satu area desa tidak selalu menggambarkan puluhan titik lokasi kebakaran yang berbeda atau terpisah.

    “Mun dalam satu wilayah desa banyak hotspot, itu dua kemungkinan. Satu memang tersebar di mana-mana, lokasi hotspot saling berjauhan. Kedua, bisa juga dalam satu hamparan lahan 5 sampai 10 hektare ditemukan hotspot sampai 20 titik karena suhu panasnya tertangkap beberapa sensor satelit sekaligus,” lanjutnya.

    Data akumulasi Satgas Karhutla Kotim mencatat total 206 hotspot tersebar di seluruh wilayah kabupaten. Kecamatan Seranau menjadi penyumbang tertinggi dengan 78 titik yang seluruhnya terkonsentrasi di Desa Batuah.

    Wilayah lain yang mencatatkan keberadaan hotspot antara lain Kecamatan Kota Besi (47 titik), Mentawa Baru Ketapang (20 titik), Baamang (19 titik), Cempaga Hulu (12 titik), Mentaya Hilir Utara (7 titik), Parenggean (6 titik), Tualan Hulu (5 titik), Cempaga (3 titik), serta Telawang (3 titik).

    Satgas Karhutla Kotim menekankan bahwa data hotspot berfungsi sebagai early warning system atau peta navigasi awal untuk mengarahkan pergerakan personel darat dan helikopter water bombing, bukan sebagai angka mutlak luas lahan yang terbakar.

    Pernyataan Satgas Karhutla Kotim mengenai perbedaan mendasar antara hotspot satelit dan titik api aktif adalah penjelasan edukatif yang penting agar masyarakat tidak terjebak kepanikan data. Kendati demikian, fakta bahwa petugas memiliki keterbatasan armada untuk memverifikasi 17 kecamatan menelanjangi celah evaluasi pada sistem mitigasi bencana daerah.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan teknologi pengawasan yang sangat tajam; Pengadaan Drone Pengintai Termal Jarak Jauh: Keterbatasan pemantauan darat di area rawan gambut seperti Desa Batuah (Seranau) dan Kota Besi harus diatasi Pemkab Kotim dengan memobilisasi armada long-range drone berkamera termal. Pengawasan udara nirawak jauh lebih cepat untuk real-time ground check ketimbang menerjunkan personel menembus rawa gambut terisolasi.

    Prioritas Water Bombing di Klaster Batuah: Pengerahan helikopter water bombing BNPB harus difokuskan mengguyur klaster 78 hotspot Batuah guna mencegah asap tebal menyeberangi Sungai Mentaya dan melumpuhkan alur pelayaran serta aktivitas penerbangan.

    Data satelit adalah alarm awal, verifikasi drone dan aksi cepat pemadaman darat adalah kunci penentu! 78 Hotspot kepung Desa Batuah! Tingkatkan teknologi pengawasan dan padamkan gambut Seranau! (***)

  • Lompatan Hotspot Kotim Tembus 75 Titik: Desa Camba Kota Besi Mendadak Jadi Episentrum Api!

    Lompatan Hotspot Kotim Tembus 75 Titik: Desa Camba Kota Besi Mendadak Jadi Episentrum Api!

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lonjakan titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencapai angka mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, satelit BMKG mencatat sebanyak 75 hotspot mengepung Kotim. Menariknya, dari sebaran belasan kecamatan, anomali lonjakan paling ekstrem terkonsentrasi secara masif di Kecamatan Kota Besi dan Desa Camba.

    Berdasarkan rekapitulasi data terbaru, Kecamatan Kota Besi secara mengejutkan menyumbang 43 dari total 75 hotspot di Kotim. Artinya, sekitar 57 persen seluruh titik panas skala kabupaten menumpuk di satu kecamatan ini.

    Fakta paling menonjol dan krusial berada di Desa Camba. Dari 43 hotspot di Kota Besi, sebanyak 41 titik berada di Desa Camba (menyumbang hingga 95 persen hotspot di Kecamatan Kota Besi), sementara 1 titik sisanya terdeteksi di Desa Kandan. Konsentrasi titik api yang begitu rapat di satu desa ini mengindikasikan adanya kebakaran lahan yang meluas drastis atau aktivitas pembukaan lahan (land clearing) secara serentak.

    Kawasan perkotaan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mengekor di posisi kedua dengan 11 hotspot. Mayoritas berada di Kelurahan Pasir Putih (10 titik) dan 1 titik di Kelurahan Ketapang, yang mengancam langsung kenyamanan pernapasan warga Kota Sampit.

    Sementara itu, wilayah pesisir Teluk Sampit mulai menunjukkan eskalasi rawan setelah menyumbang 6 hotspot yang seluruhnya terkonsentrasi di Desa Ujung Pandaran.

    Rincian sebaran titik panas di kecamatan lainnya mencakup Parenggean sebanyak 6 titik (Desa Kabuau 5 titik, Manjalin 1 titik), Baamang 3 titik (Baamang Hulu 2 titik, Baamang Barat 1 titik), serta masing-masing 2 titik di Pulau Hanaut (Desa Serambut), Seranau (Desa Batuah), dan Mentaya Hilir Utara (Desa Bagendang Tengah).

    Tumpukan puluhan titik api di Desa Camba dan Pasir Putih ini mempertegas bahwa ancaman kebakaran lahan gambut di musim kemarau Kotim kian genting dan membutuhkan penanganan darurat ekstra cepat.

    Fenomena meletupnya 41 hotspot sekaligus di Desa Camba, Kota Besi, adalah anomali karhutla yang sangat mencurigakan dan menandakan alarm bahaya tingkat tinggi. Ledakan titik panas yang terkonsentrasi di satu kawasan desa tidak hanya menunjukkan cepatnya perambatan api di atas tanah gambut kering, melainkan juga potensi kuat adanya aktivitas pembiaran atau pembakaran lahan secara terorganisir.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan penegakan hukum yang sangat tajam:

    1. Penurunan Tim Reaksi Cepat & Water Bombing ke Desa Camba: Satgas Karhutla Kotim bersama BNPB harus segera memprioritaskan pemadaman darat dan pengerahan helikopter water bombing ke Desa Camba serta Kelurahan Pasir Putih sebelum bara api mengunci lapisan gambut dalam.
    2. Penyelidikan Khusus Satreskrim Polres Kotim di Camba: Polsek Kota Besi dan Satreskrim Polres Kotim wajib turun ke TKP Desa Camba untuk melakukan ground-check serta memasang garis polisi (police line) guna mengusut dugaan tindak pidana pembakaran lahan.

    Lompatan 75 hotspot dalam sehari adalah bukti bahwa api tidak pernah kompromi! 41 Hotspot kepung Desa Camba! Usut tuntas pemicu kebakaran di Kota Besi dan Pasir Putih!(***)

  • Pulau Hanaut Jadi Anomali Karhutla Kotim, Satu Hotspot Picu Lahan Terbakar Terluas

    Pulau Hanaut Jadi Anomali Karhutla Kotim, Satu Hotspot Picu Lahan Terbakar Terluas

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pola kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tahun ini menunjukkan fenomena yang tidak biasa. Kecamatan Pulau Hanaut hanya mencatat satu hotspot, namun justru menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar di Kotim.

    Data rekapitulasi BPBD Kotim hingga 30 Juli 2026 mencatat luas lahan yang terbakar di Pulau Hanaut mencapai 82,65 hektare atau sekitar 27,52 persen dari total lahan terbakar di Kotim yang telah mencapai 300,31130 hektare.

    Angka tersebut melampaui Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang mencatat 68,457 hektare, serta Baamang dengan 61,711 hektare. Padahal, kedua kecamatan itu jauh lebih sering mengalami kejadian kebakaran.

    Sebaliknya, berdasarkan rekap hotspot sepanjang 2026, Pulau Hanaut hanya tercatat memiliki satu titik panas, jauh di bawah kecamatan lain seperti Antang Kalang (87 hotspot), Kota Besi (74 hotspot), Telaga Antang (54 hotspot), Mentawa Baru Ketapang (40 hotspot), dan Mentaya Hilir Utara (37 hotspot).

    Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa jumlah hotspot tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Satu titik api yang muncul di kawasan dengan vegetasi kering dan sulit dijangkau dapat berkembang menjadi kebakaran berskala besar sebelum berhasil dikendalikan.

    Di sisi lain, Mentawa Baru Ketapang dan Baamang masih menjadi wilayah dengan intensitas penanganan tertinggi. Hingga akhir Juli, BPBD mencatat 54 penanganan di Mentawa Baru Ketapang dan 51 penanganan di Baamang.

    Artinya, lebih dari 75 persen dari total 138 penanganan karhutla sepanjang tahun ini terjadi di dua kecamatan perkotaan tersebut. Meski demikian, luas lahan yang terbakar di kedua wilayah masih berada di bawah Pulau Hanaut.

    Data BPBD juga memperlihatkan Antang Kalang menjadi kecamatan dengan hotspot terbanyak sepanjang tahun, tetapi belum masuk sebagai wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. Kondisi ini mengindikasikan banyak titik panas berhasil ditangani lebih cepat sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran besar.

    Sementara itu, Parenggean menempati posisi keempat luas lahan terbakar dengan 41,5 hektare, disusul Teluk Sampit 13,3 hektare.

    Hingga 30 Juli 2026, BPBD Kotim mencatat 138 kejadian penanganan karhutla, dengan total luas lahan terbakar 300,31130 hektare. Jumlah hotspot yang terdeteksi sepanjang tahun mencapai 488 titik.

    Data tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berpatokan pada banyaknya hotspot. Karakteristik lahan, akses menuju lokasi, jenis vegetasi, serta kecepatan respons pemadaman menjadi faktor yang sangat menentukan besarnya dampak kebakaran.

    Di tengah masih berlangsungnya musim kemarau, BPBD terus mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas. (***)