Tag: Satresnarkoba Polres Kotim

  • Sabu dan Ekstasi Disembunyikan di Pohon Pisang: Pria Baamang Diborgol Satresnarkoba Polres Kotim

    Sabu dan Ekstasi Disembunyikan di Pohon Pisang: Pria Baamang Diborgol Satresnarkoba Polres Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Modus operandi pengedar narkotika untuk mengelak dari sergap jajaran kepolisian kembali terbongkar. Pria berinisial TQ (34) tak berkutik saat Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) menggeledah kediamannya di Jalan Sari Gading Darat No. 01, RT 046/RW 009, Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (25/10/2026) sore sekitar pukul 15.00 WIB.

    Dalam penggerebekan bernilai tinggi tersebut, petugas menemukan barang bukti narkotika jenis sabu dan tablet ekstasi yang disembunyikan di dalam kotak plastik warna merah muda berbalut lakban hitam di dekat pohon pisang belakang rumah tersangka.

    Kasi Humas Polres Kotim IPTU Edi Walujo, mewakili Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, mengonfirmasi bahwa terbongkarnya markas TQ berawal dari aduan masyarakat terkait maraknya peredaran barang haram di kawasan Baamang.

    “Setelah dilakukan penyelidikan intensif, petugas mengamankan terlapor yang sedang duduk di teras rumah. Penggeledahan disaksikan ketua RT dan warga setempat hingga ditemukan barang bukti narkotika disembunyikan di belakang rumah,” ungkap IPTU Edi Walujo.

    Sabu 30,60 Gram, Ekstasi, dan Uang Tunai Rp2 Juta Disita

    Prosedur penggeledahan berlangsung kooperatif. Tersangka TQ sendiri yang menunjukkan lokasi penyimpanan rahasia di area kebun belakang rumahnya.

    Saat membuka kotak plastik merah muda berlakban hitam dekat pohon pisang, petugas mendapati: 6 paket sabu plastik klip dengan berat kotor 30,60 gram. Selain itu, ada juga 4 butir tablet diduga ekstasi dengan berat kotor 1,61 gram.

    Pemeriksaan kemudian dilanjutkan ke dalam kamar rumah tersangka. Di lokasi ini, penyidik mengamankan barang bukti pendukung transaksi berupa uang tunai hasil penjualan sebesar Rp2 juta, satu unit telepon seluler merk Samsung, serta 10 lembar plastik klip transparan kosong.

    Tersangka TQ beserta seluruh barang bukti langsung diboyong ke Mapolres Kotim guna menjalani proses penyidikan mendalam untuk mengusut jaringan pemasok di atasnya.

    Penggunaan kotak khusus berlakban yang disembunyikan di luar bangunan rumah (dekat pohon pisang) merupakan pola klasik pengedar untuk membuang badan dan menghindari barang bukti saat digerebek. Kejelian petugas Satresnarkoba Polres Kotim mengendus lokasi ini patut diapresiasi.

    Satresnarkoba Polres Kotim didesak mendalami percakapan pada ponsel Samsung milik TQ untuk membongkar aktor intelektual atau jaringan bandar besar yang memasok sabu 30,60 gram dan ekstasi tersebut ke wilayah Baamang.

    Polisi telah menjerat TQ dengan Pasal 114 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo KUHP jo UU No. 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. Penegakan hukum dengan ancaman pidana berat wajib dikawal hingga pengadilan demi efek jera di wilayah hukum Kotim. (***)

  • Geledah Pria Ber-Ninja di Depan Kos Dewi Sartika: Satresnarkoba Polres Kotim Temukan 10,18 Gram Sabu Dibalut Tisu!  

    Geledah Pria Ber-Ninja di Depan Kos Dewi Sartika: Satresnarkoba Polres Kotim Temukan 10,18 Gram Sabu Dibalut Tisu!  

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Tim Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menggagalkan peredaran gelap narkotika di wilayah hukum Kota Sampit. Pria berinisial RW (45) tak berkutik saat digerebek petugas di depan sebuah rumah kos di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Rabu (21/10/2026) siang sekitar pukul 14.00 WIB.

    Dari hasil penggeledahan badan, petugas menemukan dua kantong plastik klip berisi kristal bening diduga sabu dengan berat kotor 10,18 gram yang disembunyikan secara rapi dalam saku celana.

    Kasi Humas Polres Kotim IPTU Edi Walujo, mewakili Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, mengonfirmasi bahwa penangkapan berawal dari laporan warga yang curiga terhadap aktivitas transaksi narkotika di sekitar kawasan kos Dewi Sartika.

    “Dari hasil penggeledahan badan yang disaksikan ketua RT dan warga setempat, petugas menemukan dua bungkus plastik klip diduga sabu dengan berat kotor 10,18 gram. Barang haram tersebut dibalut selembar tisu dan disimpan di kantong celana bagian belakang sebelah kiri tersangka,” ungkap IPTU Edi Walujo, Sabtu (24/10/2026).

    Sabu Kantong Celana Dibalut Tisu, Motor Ninja dan Ponsel Diamankan

    Prosedur penggeledahan berlangsung transparan dengan penunjukan surat perintah tugas di hadapan pengurus RT setempat. Selain barang bukti sabu seberat 10,18 gram, Satresnarkoba Polres Kotim turut menyita sejumlah barang bukti operasional milik tersangka RW: Satu unit telepon genggam merk Tecno Pova 7 Ultra yang diduga kuat berisi rekam jejak jalur komunikasi transaksi. Satu unit sepeda motor sport Kawasaki Ninja yang digunakan tersangka saat menanti pembeli di depan kos-kosan.

    Tersangka RW secara kooperatif mengakui kepemilikan seluruh barang bukti tersebut di lokasi kejadian. Pria paruh baya ini langsung digelandang ke Mapolres Kotim untuk menjalani pemeriksaan mendalam, yang belakangan menjadi pintu masuk pengungkapan jaringan sabu jaringan 306 gram di Jalan Moh. Hatta.

     

    Penangkapan RW di depan kos Dewi Sartika mempertegas bahwa kawasan kos-kosan dan kontrakan padat di Ketapang rawan dijadikan tempat transit atau pangkalan transaksi narkoba. Pengedar kerap memanfaatkan mobilitas penghuni kos yang tinggi sebagai kamuflase aksi kejahatannya.

    Satpol PP Kotim, Bhabinkamtibmas, dan pengurus RT/RW di kawasan Telaga Baru dan Mentawa Baru Ketapang dituntut memperketat pengawasan serta mewajibkan pemilik kos melapor identitas penghuni secara berkala guna memutus rantai persebaran barang haram.

    Penyidik Polres Kotim telah menjerat RW dengan Pasal 114 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo KUHP jo UU No. 1 Tahun 2026. Penegakan hukum dengan ancaman hukuman berat wajib dikawal hingga persidangan untuk memberikan efek jera yang nyata. (***)

  • Jaringan Sabu Kemasan Teh Cina Diberondong Polisi: Dari Dewi Sartika Hingga Moh. Hatta, Satresnarkoba Polres Kotim Sita 306,7 Gram Sabu

    Jaringan Sabu Kemasan Teh Cina Diberondong Polisi: Dari Dewi Sartika Hingga Moh. Hatta, Satresnarkoba Polres Kotim Sita 306,7 Gram Sabu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Operasi terukur jajaran Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) berhasil membongkar mata rantai peredaran narkotika jaringan besar di Kota Sampit. Pengembangan kasus dari kawasan Jalan Dewi Sartika berujung pada penggerebekan rumah di Jalan Moh. Hatta, Kelurahan Ketapang, dengan total barang bukti sitaan mencapai 306,7 gram sabu, Rabu (21/10/2026) sore.

    Dalam pengungkapan bernilai ratusan juta rupiah tersebut, petugas berhasil membekuk seorang pria berinisial SMF yang disinyalir bertindak sebagai gudang/penyimpan barang haram tersebut.

    Kasi Humas Polres Kotim, AKP Edi Walujo, membeberkan bahwa terbongkarnya markas SMF berawal dari penangkapan tersangka pertama berinisial RW di Jalan Dewi Sartika sekitar pukul 14.00 WIB.

     “Setelah mengamankan pelaku R W di Jalan Dewi Sartika, anggota Satresnarkoba langsung melakukan pengembangan untuk mengetahui asal sabu tersebut. Hasilnya, petugas bergerak ke Jalan Moh. Hatta dan mengamankan seorang pria berinisial S M F,” kata Edi, Jumat (23/10/2026).

    Sabu Kemasan Chinese Tea Tersembunyi di Bawah Kasur Kamar

    Proses penggeledahan di kediaman SMF di Jalan Moh. Hatta berlangsung ketat dengan disaksikan langsung oleh perangkat kelurahan dan ketua RT setempat.

    Saat menyisir area kamar tidur, petugas mendapati sebuah tas putih yang disembunyikan secara rapat di bawah kasur. Di dalam tas tersebut, polisi menemukan tujuh paket besar sabu berkemas bungkus Chinese Tea (Teh Cina) modus klasik jaringan internasional untuk mengelabui aparat dengan berat kotor keseluruhan 306,7 gram.

    Selain sabu, petugas mengamankan uang tunai Rp3,6 juta, satu bungkus plastik klip kecil, dan telepon genggam Oppo A5 Pro yang ditemukan di lantai kamar. Seluruh barang bukti kemudian dibawa ke Mapolres Kotim untuk kepentingan penyidikan.

    Edi menyebutkan, berdasarkan keterangan kepolisian, S M F mengakui barang bukti yang ditemukan merupakan miliknya.

    “Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan tujuh bungkus sabu dengan berat kotor 306,7 gram yang disimpan dalam tas putih di bawah kasur. Selain itu, turut diamankan uang tunai Rp3,6 juta, telepon genggam, dan sejumlah barang lain yang berkaitan dengan perkara tersebut,” ujarnya.

    Hubungan kedua terlapor masih perlu ditelusuri

    Pengungkapan di Jalan Moh. Hatta berlangsung sekitar dua jam setelah penangkapan R W di Jalan Dewi Sartika. Namun, hubungan antara kedua pria tersebut, asal-usul sabu, dan dugaan peran masing-masing dalam perkara ini masih perlu dijelaskan lebih lanjut melalui proses penyidikan.

    Polisi menyangkakan S M F dengan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

    Sangkaan tersebut merupakan bagian dari proses hukum dan bukan penetapan bahwa terlapor telah terbukti bersalah. Pembuktian atas dugaan tindak pidana serta peran setiap pihak tetap harus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (***)

  • Sulap Rumah Jadi Safehouse Narkoba, Bandar Sabu 2 Ons di Baamang Tengah Diringkus

    Sulap Rumah Jadi Safehouse Narkoba, Bandar Sabu 2 Ons di Baamang Tengah Diringkus

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Siasat menjadikan rumah pribadi di kawasan pemukiman padat sebagai safehouse sekaligus gudang penyimpanan narkotika di Kota Sampit kembali dibongkar kepolisian. Pria berinisial DM (41) diringkus Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotim usai terbukti menguasai paket sabu ukuran jumbo di kediamannya di Jalan Pangeran Diponegoro, Gang Tinjau, Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, pada Selasa siang (28/7/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.

    Penggerebekan markas peredaran gelap ini berawal dari laporan warga setempat yang mencurigai tingginya frekuensi aktivitas transaksi haram di rumah tersangka. Menindaklanjuti informasi tersebut, personel Satresnarkoba bergerak melancarkan penyelidikan tertutup hingga memastikan keberadaan target di lokasi.

    Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko menjelaskan bahwa proses penggeledahan dilakukan secara terbuka dengan disaksikan Ketua RT setempat serta perwakilan warga.

    “Anggota Satresnarkoba memperoleh informasi dari masyarakat bahwa di lokasi tersebut diduga sering terjadi transaksi narkotika jenis sabu. Setelah dilakukan penyelidikan dan penggeledahan rumah yang disaksikan Ketua RT dan warga, petugas menemukan 35 paket sabu seberat 201,25 gram beserta dua unit timbangan digital,” terang AKP Edy Wiyoko, Rabu (29/7/2026).

    Petugas menyita 35 bungkus plastik klip berisi kristal bening diduga sabu dengan total berat kotor 201,25 gram (dua ons lebih) yang telah dikemas rapi. Selain itu, dua unit timbangan digital turut disita sebagai barang bukti bahwa rumah tersebut difungsikan sebagai titik pengemasan dan penyaluran barang haram ke jaringan eceran.

    Seluruh barang bukti bersama DM kini telah diboyong ke Mako Polres Kotim guna pemeriksaan intensif. Penyidik menjerat tersangka dengan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, sembari terus melacak pemasok utama di atas jaringan DM.

    Penyitaan 201,25 gram sabu di Gang Tinjau, Baamang Tengah menyingkap ancaman serius di kawasan perkotaan Sampit: kecenderungan pengedar memanfaatkan rumah tinggal di pemukiman warga sebagai tempat penyimpanan (safehouse) guna mengelabuhi pantauan aparat. Menguasai barang bukti seberat dua ons lebih mengindikasikan bahwa DM beroperasi sebagai sub-bandar yang menyuplai pasokan ke pengedar tingkat bawah.

    Kanal Independen memberikan perhatian hukum yang tajam. Keberhasilan Satresnarkoba Polres Kotim menggagalkan sirkulasi dua ons sabu ini patut diapresiasi tinggi untuk menyelamatkan ribuan warga dari paparan narkoba. Namun, proses penegakan hukum tidak boleh berhenti hanya pada penangkapan DM di tingkat rumah penyimpanan.

    Penyidik Polres Kotim harus melacak jalur logistik dan analisis komunikasi pada perangkat ponsel tersangka guna membongkar bandar utama atau jaringan lintas daerah yang mendistribusikan sabu tersebut ke wilayah Baamang. (***)

  • Bandar Sabu Lini Depan Diberangus IRT di Jalan Sudirman Km 28 Ditangkap Bersama 106 Paket Sabu 63 Gram dan Uang Tunai Rp5 Juta

    Bandar Sabu Lini Depan Diberangus IRT di Jalan Sudirman Km 28 Ditangkap Bersama 106 Paket Sabu 63 Gram dan Uang Tunai Rp5 Juta

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Pengungkapan kasus peredaran gelap narkotika skala sedang kembali diukir oleh jajaran Satresnarkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim). Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) berinisial NS (47), yang diduga kuat bertindak sebagai bandar sabu lokal, diringkus petugas saat mengoperasikan bisnis haramnya di rumah/garasi yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman Km 28, RT 10, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, pada Rabu sore (22/7/2026) sekitar pukul 18.00 WIB.

    Penggerebekan Garasi Jalan Sudirman dan Penggeledahan Transparan

    Operasi penyergapan yang mengejutkan warga Pasir Putih ini dieksekusi setelah jajaran Satresnarkoba Polres Kotim menindaklanjuti laporan proaktif masyarakat. Informasi menyebutkan bahwa lokasi garasi rumah terlapor kerap dijadikan tempat transaksi eceran maupun partai besar narkotika jenis sabu.

    Menanggapi laporan tersebut, tim opsnal Satresnarkoba bergerak cepat melakukan pemantauan intensif di sekitar lokasi sasaran hingga berhasil mengunci and mengamankan NS tanpa perlawanan.

    Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas AKP Edy Wiyoko menjelaskan bahwa proses penggeledahan dilakukan secara transparan sesuai prosedur hukum dengan menghadirkan Ketua RT setempat serta warga sekitar sebagai saksi legalitas penindakan.

    “Anggota Satresnarkoba mendapatkan informasi dari masyarakat dan melakukan pemantauan di lokasi. Terlapor berhasil diamankan, kemudian ditunjukkan surat perintah tugas dengan disaksikan Ketua RT dan warga sekitar sebelum dilakukan penggeledahan di rumah/garasi terlapor,” jelas AKP Edy Wiyoko, Kamis (23/7/2026).

    Manifes Penyitaan 106 Klip Sabu Siap Edar dan Uang Tunai lima Juta Rupiah

    Siasat terlapor untuk menyembunyikan kristal haram di area garasi rumahnya terbakar habis saat petugas melakukan pembongkaran. Dari hasil penyisiran di TKP, petugas menemukan 106 bungkus plastik klip kecil berisi kristal putih diduga sabu.

    Hasil penimbangan forensik mencatat total berat kotor barang haram tersebut mencapai 63,19 gram bruto. Selain menyita 106 paket sabu siap edar, petugas juga menyita uang tunai senilai Rp5.000.000 yang diduga kuat merupakan uang hasil penjualan transaksi eceran, serta sejumlah barang bukti pendukung lainnya.

    Atas temuan jumbo ini, NS (47) beserta seluruh barang bukti digelandang ke Mapolres Kotim guna menjalani proses hukum ketat berdasarkan Pasal 114 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a UU RI No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP Jo Pasal VII angka 50 UU No. 1 Tahun 2026.

    Penyergapan NS (47) bersama barang bukti 63,19 gram sabu di Jalan Jenderal Sudirman Km 28 Kelurahan Pasir Putih menyingkap realitas yang kian memprihatinkan: status Ibu Rumah Tangga (IRT) kini kerap dijadikan tameng atau kamuflase strategis oleh jaringan pengedar untuk menyamarkan gudang penyimpanan sabu dari endusan aparat. Menyimpan 106 paket sabu dengan bobot di atas setengah ons menegaskan bahwa NS bukan sekadar pengecer kecil, melainkan pengumpul/bandar lini depan yang menyuplai barang haram ke para perantara di wilayah Mentawa Baru Ketapang dan sekitarnya.

    Kanal Independen memberikan catatan hukum yang sangat tajam. Penangkapan NS bersama 63 gram sabu adalah prestasi represif yang patut diapresiasi tinggi. Namun, Satresnarkoba Polres Kotim tidak boleh berpuas diri hanya berhenti pada figur IRT ini. Penyidik wajib membongkar jalur logistik utama yang memasok 63,19 gram sabu tersebut ke garasi Km 28!

    Seorang IRT yang menguasai 106 klip sabu tentu terhubung dengan jaringan bandar yang lebih besar di tingkat kabupaten atau lintas provinsi melalui koridor poros Jalan Jenderal Sudirman.

    Pihak kepolisian harus melacak alur komunikasi dan transaksi keuangan NS untuk menggulung aktor intelektual di atasnya. Jangan biarkan koridor Pasir Putih dijadikan sarang logistik narkoba yang merusak generasi muda Sampit di sisa tahun 2026 ini! Bandar 63 gram sabu diringkus! Sapu bersih jaringan narkoba Sampit! (***)

  • Siasat Bungkus Lakban Hitam Gagal Total Pengendara PCX Asal Pelangsian Tersungkur Bawa Delapan Gram Sabu di Jalan Rangkas

    Siasat Bungkus Lakban Hitam Gagal Total Pengendara PCX Asal Pelangsian Tersungkur Bawa Delapan Gram Sabu di Jalan Rangkas

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Gurita peredaran gelap narkotika di jantung Kota Sampit terus mencari celah di tengah gencar-gencarnya operasi pemberantasan oleh aparat kepolisian. Kali ini, sebuah siasat penyelundupan kristal putih kemasan menengah berhasil diendus oleh Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim). Seorang pria berinisial PR (32), warga Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, tak berkutik saat dicegat petugas di koridor Jalan Rangkas, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Senin (15/6/2026) sore sekitar pukul 17.00 WIB.

    Penyergapan Jam Rawan dan Kamuflase Pembungkus Hitam

    Penyergapan taktis ini dilancarkan setelah tim opsnal menerima pasokan informasi akurat dari gerakan intelijen akar rumput yang mencurigai adanya aktivitas transaksi mencurigakan di sekitar pemukiman Jalan Rangkas. Petugas yang bergerak senyap segera melakukan penguncian perimeter terhadap pergerakan terlapor yang mengendarai sepeda motor matik Honda PCX warna putih berspesifikasi tinggi.

    Keplas Seksi Hubungan Masyarakat Polres Kotim AKP Edy Wiyoko, mewakili Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, membenarkan bahwa pergerakan PR sudah masuk dalam radar pengawasan intensif sebelum eksekusi lapangan dijalankan.

    “Anggota Satresnarkoba menerima informasi dari masyarakat bahwa terlapor diduga kerap melakukan transaksi narkotika jenis sabu. Berdasarkan informasi itu, petugas melakukan penyelidikan dan pemantauan hingga akhirnya berhasil mengamankan yang bersangkutan,” terang AKP Edy Wiyoko, Kamis (18/6/2026).

    Saat diamankan, petugas secara prosedural langsung menunjukkan surat perintah tugas resmi dengan disaksikan oleh Ketua RT setempat serta barisan warga sekitar yang keluar rumah menyaksikan drama penangkapan tersebut. Dari hasil penggeledahan badan yang ketat, polisi berhasil membongkar taktik kamuflase pelaku yang menyembunyikan dua paket besar sabu-sabu di balik balutan lakban tebal dan plester warna hitam guna mengelabui pandangan visual petugas. Setelah timbangan digital dijalankan, manifes barang bukti kristal putih tersebut mencatatkan berat kotor total mencapai 8,84 gram.

    “Barang bukti berupa dua paket sabu dan satu unit sepeda motor telah diamankan. Terlapor saat ini berada di Polres Kotim untuk menjalani proses penyidikan dan pengembangan lebih lanjut,” tambahnya.

    Atas perbuatannya, PR resmi mengenakan rompi tahanan dan dijerat menggunakan konstruksi hukum berlapis yang sangat berat. Penyidik membidik kurir asal Pelangsian ini menggunakan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, juncto ketentuan penyesuaian pidana nasional yang berlaku.

     Pencapaian Satresnarkoba Polres Kotim dalam mengamankan PR bersama 8,84 gram sabu di Jalan Rangkas menyuguhkan indikasi sosiologi kriminalitas baru yang wajib diwaspadai secara radikal. Angka delapan gram bukan lagi kategori paket hemat eceran untuk pengguna akhir, melainkan sudah masuk dalam klaster pasokan grosir menengah (mid-tier supply). Skala volume ini membuktikan bahwa PR bukan sekadar pecandu biasa, melainkan bertindak sebagai distributor taktis yang bertugas memecah barang haram tersebut menjadi puluhan paket kecil sebelum disebar ke jaringan pengecer di Sampit.

    Aspek spasial dari kasus ini juga sangat menarik untuk dikupas secara kritis. Pelaku diketahui merupakan warga Pelangsian, sebuah wilayah sub-urban pinggiran kota yang beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan pemukiman yang masif. Fakta bahwa seorang warga pinggiran nekat merangsek masuk ke area urban sepadat Mentawa Baru Hulu untuk melakukan transaksi menunjukkan terjadinya mobilitas kriminalitas yang dinamis. Jaringan sindikat narkoba sengaja memanfaatkan kurir dari luar kelurahan untuk mengaburkan sistem deteksi dini (early warning system) berbasis rukun tetangga (RT) di lokasi sasaran.

    Taktis bungkus lakban hitam dan pemanfaatan motor matik premium sekelas Honda PCX juga memperlihatkan adanya modal penjualan yang lumayan kuat di belakang pergerakan PR. Polresta Kotim di bawah AKBP Resky Maulana tidak boleh menyia-nyiakan momentum penangkapan ini hanya sebagai angka statistik tahunan. Ponsel dan rekam jejak digital komunikasi pelaku harus dikuliti total secara forensik untuk melacak siapa bandar kakap yang berani menitipkan barang senilai belasan juta rupiah tersebut kepada PR. Tanpa keberanian menyegel gudang penyuplai utama di tingkat hulu, maka Jalan Rangkas dan pemukiman padat lainnya di Sampit akan tetap rentan menjadi pasar gelap narkotika yang merusak masa depan generasi muda Bumi Tambun Bungai. (***)

  • Pria Paruh Baya Tersudut Bersama 4 Paket Sabu Siap Edar di Baamang Hilir

    Pria Paruh Baya Tersudut Bersama 4 Paket Sabu Siap Edar di Baamang Hilir

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Peredaran gelap narkotika di Kota Sampit kian agresif menerobos dinding-dinding pemukiman padat penduduk tanpa lagi mengenal batasan usia pelaku. Korps baju cokelat dari Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memutus satu mata rantai retail peredaran kristal putih setelah berhasil menggerebek seorang pria paruh baya berinisial MS (46) di kediamannya, Senin (15/6/2026) sore.

    Operasi penindakan taktis ini dilancarkan sekitar pukul 16.00 WIB di kawasan Jalan Muara Teweh, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang. Memanfaatkan waktu paruh hari di mana aktivitas warga mulai melandai, tim opsnal Satresnarkoba merangsek masuk ke rumah terlapor setelah melakukan pemantauan statis (surveillance) intensif selama beberapa waktu di sekitar titik koordinat target.

    Pecahnya penggerebekan di rumah MS seketika memicu atensi dan kepanikan minor dari masyarakat sekitar. Sejumlah warga yang penasaran tampak bergerak mendekat dan mengerumuni perimeter luar lokasi kejadian saat proses penggeledahan berlangsung. Guna menjaga akuntabilitas tindakan hukum di lapangan, petugas secara prosedural menghadirkan Ketua RT setempat serta perwakilan warga sipil sebagai saksi mata.

    Tersangka MS hanya bisa pasrah dan tidak dapat mengelak saat petugas mengosongkan sudut-sudut rumahnya. Dari hasil penggeledahan badan dan interior hunian tersebut, polisi berhasil mengamankan empat paket klip bening berisi narkotika jenis sabu-sabu siap edar dengan berat kotor total mencapai 3,45 gram.

    Apresiasi Peran Akar Rumput dan Bidikan Pasal Berat

    Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko membenarkan keberhasilan jajarannya dalam mengamankan pengecer sabu di wilayah Baamang Hilir tersebut. Ia menegaskan bahwa infiltrasi narkoba ke lingkungan rumah tangga sudah berada pada level yang sangat mengkhawatirkan.

    “Anggota sebelumnya menerima informasi dari masyarakat bahwa lokasi tersebut sering dijadikan tempat transaksi narkotika jenis sabu. Setelah dilakukan penyelidikan konkrit dan pemantauan, terlapor berhasil diamankan di rumahnya bersama barang bukti empat paket sabu dengan berat kotor 3,45 gram,” urai AKP Edy Wiyoko saat memberikan keterangan pers, Selasa (16/6/2026).

    Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, MS beserta seluruh manifes barang bukti langsung digelandang ke Mapolres Kotim. Pria berusia 46 tahun ini resmi mengenakan rompi tahanan dan dijerat menggunakan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Penyidik saat ini tengah melakukan interogasi vertikal guna mendalami keterlibatan MS dengan jaringan penyuplai (bandar hulu) yang mengendalikan pasokan sabu di dalam Kota Sampit.

     Keberhasilan Satresnarkoba Polres Kotim menciduk MS di Jalan Muara Teweh menyajikan sebuah anomali sosiologi kriminal yang menarik sekaligus mencemaskan: keterlibatan aktif figur paruh baya (46 tahun) sebagai aktor retail dalam sirkuit gelap narkoba. Fenomena ini mendobrak stigma lama bahwa bisnis haram jalanan hanya digerakkan oleh kelompok usia muda atau produktif awal.

    Masuknya figur kepala rumah tangga berumur matang ke dalam lembah hitam sabu-sabu mengindikasikan adanya tekanan ekonomi makro yang hebat di tingkat bawah, yang kemudian berkelindan dengan jaminan keuntungan instan dari para sindikat. Dengan barang bukti seberat 3,45 gram yang dipecah menjadi empat paket, MS jelas berperan sebagai sub-agen taktis. Paket-paket berukuran mikro ini sengaja disiapkan untuk melayani konsumen kelas pekerja di wilayah Baamang secara senyap dari dalam rumah tinggalnya sendiri.

    Pujian setinggi-tingginya layak disematkan kepada keberanian warga Baamang Hilir yang menolak berkompromi dengan peredaran narkoba di lingkungan mereka dan memilih menyuplai data intelijen ke polisi. Namun, Polres Kotim tidak boleh cepat puas dengan hanya memenjarakan MS.

    Jeratan Pasal 114 ayat (2) yang disangkakan penyidik harus menjadi instrumen hukum untuk membuka data komunikasi digital pada ponsel pelaku. Polisi wajib melacak dari pintu mana 3,45 gram sabu itu mengalir ke Jalan Muara Teweh. Selama bandar besar yang menyuplai para pria paruh baya ini tetap bebas berkeliaran di Sampit, maka penjarahan moral terhadap ruang pemukiman warga akan terus berulang tanpa bisa dibendung secara tuntas. (***)

  • Memburu Otak di Balik Rantai Pasok Wengga: Jerat Pasal Berat Menanti Sub-Bandar Sabu Sampit

    Memburu Otak di Balik Rantai Pasok Wengga: Jerat Pasal Berat Menanti Sub-Bandar Sabu Sampit

    SAMPIT, Kanalidependen.id  – Koridor pemukiman padat di pinggiran Kota Sampit tampaknya kian seksi bagi jalur distribusi peredaran gelap narkotika. Anggota Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) sukses mengamankan seorang pemuda berinisial MNR (32) yang nekat mengonversi kawasan hunian asri Jalan Wengga Happy Metro, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, menjadi sirkuit transaksi kristal putih jenis sabu-sabu pada Sabtu (6/6/2026).

    Pengepungan Taktis di Sektor Wengga dan Sitaan ‘Tas Conserve’

    Operasi penangkapan senyap ini dipicu oleh tingginya tingkat keresahan masyarakat urban Baamang yang mengendus adanya aktivitas kurir dan transaksi narkoba yang intens di lingkungan perumahan mereka. Bergerak cepat atas laporan intelijen dari warga, tim opsnal Satresnarkoba langsung menggelar penyelidikan vertikal dan pemantauan statis (surveillance) di sekitar titik koordinat lokasi.

    Saat melakukan pengintaian, petugas mendapati target MNR tengah melintas menggunakan sepeda motor dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan. Tanpa memberikan celah untuk melarikan diri, petugas langsung melakukan pencegatan taktis di tengah jalan. Guna menjaga transparansi dan hukum acara pidana, penggeledahan badan dan kendaraan tersebut dilakukan di bawah pengawasan langsung ketua RT setempat serta warga sekitar.

    Hasilnya pun konkret. Di dalam tas selempang hitam merek Conserve yang dibawa pelaku, polisi mendapati tiga paket klip bening berisi butiran kristal sabu-sabu siap edar dengan berat kotor mencapai 9,87 gram. Tidak hanya itu, indikasi bahwa MNR bukan sekadar pengguna melainkan aktor pengedar diperkuat dengan temuan satu unit timbangan digital berskala mikro di dalam tas tersebut.

    Bidikan Pasal Berat Undang-Undang Narkotika

    Kasi Humas Polres Kotim, AKP Edy Wiyoko, mewakili Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, membenarkan jalannya eksekusi penangkapan di wilayah Baamang Barat tersebut. Ia menegaskan bahwa infiltrasi narkoba ke klaster pemukiman warga saat ini sudah masuk dalam status atensi penuh korps baju cokelat.

    “Anggota Satresnarkoba menerima informasi dari masyarakat bahwa di lokasi tersebut sering terjadi transaksi narkotika jenis sabu. Setelah dilakukan penyelidikan dan pemantauan, petugas berhasil mengamankan terlapor saat berada di jalan sekitar TKP,” terang AKP Edy Wiyoko saat memberikan keterangan pers pada Kamis (11/6/2026).

    Guna kepentingan penyidikan mendalam serta pengembangan jaringan, MNR beserta seluruh manifes barang bukti langsung digiring ke Mapolres Kotim. Pemuda berusia 32 tahun tersebut kini resmi mengenakan baju tahanan oranye dan dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Mengingat barang bukti yang disita mendekati angka 10 gram dan disertai timbangan digital, MNR kini berada di bawah ancaman hukuman pidana penjara yang sangat berat.

    Penangkapan MNR di kawasan Jalan Wengga Happy Metro TV ini memetakan sebuah anomali spasial baru dalam rantai pasok sabu di Kotim: migrasi zona transaksi dari lokalisasi atau tempat hiburan malam menuju kawasan perumahan kelas menengah. Wilayah Wengga yang terstruktur dalam bentuk klaster hunian padat sering kali dimanfaatkan oleh jaringan pengedar karena dinilai menawarkan tingkat privasi tinggi dan mobilitas warga yang cenderung individualis.

    Sitaannya berupa timbangan digital adalah indikator valid bahwa MNR merupakan “sub-bandar” atau pengecer tingkat menengah yang bertugas memecah paket besar (bal) menjadi paket-paket hemat bernilai ratusan ribu rupiah untuk didistribusikan ke konsumen di dalam kota Sampit. Perumahan yang seharusnya menjadi ruang aman tumbuh kembang keluarga kini bertransformasi menjadi laboratorium distribusi narkoba.

    Apresiasi tinggi wajib diberikan kepada warga Baamang Barat yang berani mengambil sikap proaktif dengan melapor. Hal ini membuktikan bahwa mekanisme pertahanan sosial di tingkat akar rumput masih bekerja secara organik. Namun, AKP Edy Wiyoko juga mengingatkan tantangan psikologis di tengah masyarakat.

    “Peran masyarakat sangat penting dalam membantu kepolisian memberantas peredaran narkotika. Kami mengimbau warga segera melapor apabila menemukan atau mengetahui adanya dugaan penyalahgunaan,” tandas Edy.

    Tantangannya kini berada di meja Satresnarkoba Polres Kotim. Jeratan Pasal 114 ayat (2) tidak boleh hanya memutus rantai di tingkat MNR semata. Polisi tidak boleh cepat puas dengan menyita tas Conserve dan sabu 9,87 gram. Penyidik wajib menelusuri data digital dari ponsel pelaku guna melacak dari pintu mana barang haram tersebut masuk ke Sampit. Selama bandar besar di hulu aman menyuplai barang, maka penangkapan kurir-kurir mikro seperti MNR di jalanan Wengga hanya akan menjadi siklus penegakan hukum yang berulang tanpa ujung yang tuntas. (***)

  • Blunder Fatal Pengedar Sabu Sampit! Laporan Pria Mengamuk di Jalan Metro TV Berujung Pembongkaran Sembilan Paket Sabu  

    Blunder Fatal Pengedar Sabu Sampit! Laporan Pria Mengamuk di Jalan Metro TV Berujung Pembongkaran Sembilan Paket Sabu  

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Panggilan darurat yang masuk ke Call Center 110 Polres Kotawaringin Timur (Kotim) pada Rabu malam (3/6/2026) awalnya terdengar seperti penanganan gangguan ketertiban masyarakat (harkamtibmas) biasa. Sejumlah warga yang bermukim di kawasan Jalan Metro TV, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, melaporkan adanya aksi seorang pria yang mengamuk dan menciptakan situasi mencekam di lingkungan mereka. Namun, respons cepat aparat ke lokasi justru menguak tabir kejahatan yang jauh lebih gelap akibat kecerobohan tak terduga dari sang pelaku.

    Penggerebekan Malam Hari dan Temuan di Hadapan RT/RW

    Menerima aduan krusial tersebut sekitar pukul 21.30 WIB, Tim Patroli Samapta bersama personel Satresnarkoba Polres Kotim langsung diterjunkan ke titik koordinat yang dilaporkan. Petugas bergerak taktis mengepung sebuah rumah yang menjadi pusat amukan pria berinisial GMR (33) tersebut. Setelah berhasil ditenangkan dan diamankan, insting penyidik narkotika melihat adanya gelagat tidak wajar yang diduga kuat dipicu oleh pengaruh zat adiktif.

    Guna memastikan legalitas tindakan di lapangan, petugas menunjukkan surat perintah tugas resmi di hadapan Ketua RT, RW, serta perwakilan warga setempat yang mendampingi jalannya penggeledahan. Rumah yang semula dilaporkan sebagai TKP amukan massa itu digeledah secara menyeluruh oleh petugas berpakaian preman.

    Hasilnya mengejutkan. Polisi menemukan sembilan paket plastik klip transparan berisikan butiran kristal putih yang diduga kuat merupakan narkotika golongan I jenis sabu. Paket-paket retail siap edar tersebut memiliki total berat kotor (bruto) mencapai 2,69 gram. Temuan korpus delikti ini seketika mengubah arah penanganan kasus dari yang semula penanganan gangguan kamtibmas biasa menjadi operasi pengungkapan tindak pidana narkotika.

    Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko membenarkan bahwa pengungkapan kasus tersebut merupakan efek domino dari laporan awal masyarakat yang masuk ke sistem kepolisian terkait gangguan keamanan lokal.

    “Pengungkapan ini berawal dari laporan masyarakat melalui Call Center 110. Kami mengapresiasi kepedulian warga yang berani melapor,” ujar AKP Edy Wiyoko dalam keterangan resminya, Jumat (5/6/2026).

    Di hadapan para saksi lingkungan, GMR tidak dapat berkutik dan mengakui secara verbal bahwa sembilan paket sabu tersebut berada di bawah penguasaan dan merupakan milik pribadinya. Ia pun langsung digelandang menuju Mapolres Kotim malam itu juga untuk menjalani interogasi mendalam di ruang penyidik Satresnarkoba.

    Pihak kepolisian menegaskan bahwa keberanian warga untuk bersuara merupakan pilar utama dalam meredam ruang gerak sindikat narkotika di perkotaan Sampit. Otoritas penegak hukum pun memastikan akan memburu asal-usul barang haram tersebut hingga ke jaringan di atasnya.

    “Polres Kotim berkomitmen memberantas peredaran gelap narkotika dan tidak akan memberikan toleransi kepada siapa pun yang terlibat,” tegas AKP Edy Wiyoko.

    Saat ini, GMR resmi dijerat dengan ketentuan pidana narkotika sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Penyidik dari Satresnarkoba Polres Kotim masih melakukan pendalaman digital melalui telepon genggam tersangka guna menelusuri dari mana suplai serbuk putih tersebut diperoleh sebelum diedarkan kembali di kawasan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Kasus yang menimpa GMR di Jalan Metro TV ini mengonfirmasi sebuah realitas medis dan kriminal yang kerap beriringan: korelasi langsung antara konsumsi sabu dosis tinggi dengan ledakan perilaku destruktif (amok). Dalam dunia medis, salah satu efek samping paling berbahaya dari penyalahgunaan metamfetamin (sabu) adalah munculnya fase paranoia akut, halusinasi visual-auditori, serta hilangnya kontrol emosi secara radikal yang jamak dikenal sebagai psikosis stimulan.

    Aksi mengamuk yang dilakukan GMR merupakan blunder fatal yang barangkali dipicu oleh puncak dari fase halusinasi tersebut. Tanpa ia sadari, perilakunya justru menjadi lonceng kematian bagi bisnis gelap yang ia sembunyikan di dalam rumah. Sembilan paket siap edar yang ditemukan polisi menjadi indikasi kuat bahwa GMR bukan sekadar pengguna pasif, melainkan aktor retail eceran yang mengedarkan barang haram tersebut di sekitar wilayah urban Ketapang.

    Apresiasi tinggi wajib diberikan kepada keberanian warga Jalan Metro TV yang memanfaatkan kanal darurat Call Center 110 secara presisi. Namun, keberhasilan taktis Polres Kotim mengamankan 2,69 gram sabu ini baru menyentuh lapisan paling bawah dari piramida sindikat. Tugas berat kini menanti Satresnarkoba Polres Kotim untuk membedah jaringan komunikasi digital milik GMR. Penyidik harus melacak siapa “bandar atas” yang menyuplai paket-paket eceran tersebut ke Jalan Metro TV, sebelum barang haram ini meracuni lebih banyak lagi pemuda di wilayah Ketapang. (***)