Tag: seni dan sastra

  • Menembus Standar Berita: Evolusi Karya Feature Pelajar FLS3N Kotim Tampil Lebih Bernyawa

    Menembus Standar Berita: Evolusi Karya Feature Pelajar FLS3N Kotim Tampil Lebih Bernyawa

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tumpukan naskah lomba jurnalistik pelajar tak lagi didominasi rentetan laporan kegiatan yang kaku.

    Dari 17 karya feature pelajar tingkat SMA sederajat yang bersaing dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Kabupaten Kotawaringin Timur 2026, dewan juri menemukan napas baru: nyawa tokoh, konflik emosional, dan observasi lapangan yang tajam.

    Lomba yang dilaksanakan di SMAN 3 Sampit sebagai tuan rumah ini dikawal Pahnai dari SMKN 1 Sampit selaku koordinator, didampingi Ikhsan Hidayat Lubis dari SMAN 3 Sampit sebagai anggota.

    Pahnai menuturkan, standar tinggi perlombaan sengaja dipatok sejak awal, terutama dalam menentukan tim penilai agar kualitas karya peserta benar-benar teruji.

    ”Pemilihan juri lomba jurnalistik bukan kaleng-kaleng, tapi dari orang-orang yang memang sudah berpengalaman di bidang jurnalistik,” ujar Pahnai, Selasa (28/4/2026).

    Penilaian ketat itu dipercayakan kepada dua jurnalis kawakan, yakni Norjani Aseran dari Antara Biro Kalimantan Tengah di Sampit dan Gunawan, Pemimpin Redaksi Kanal Independen (kanalindependen.id).

    Keduanya menilai secara kritis karya peserta dari segi konten, kaidah jurnalistik, hingga kebahasaan.

    Sudut cerita, kedalaman liputan, serta cara peserta mengolah fakta menjadi narasi yang mengalir mendapat perhatian khusus.

    Norjani melihat lompatan kualitas yang nyata dari karya para peserta tahun ini. Tulisan para tunas muda tersebut perlahan berevolusi, memotret manusia sebagai pusat cerita.

    ”Kualitas rata-rata peserta tahun ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sebagian besar feature yang dibuat sudah memenuhi standar berita,” katanya.

    JUARA: Para juara lomba jurnalistik FLS3N Kabupaten Kotawaringin Timur 2026 bersama dewan juri dan koordinator lomba, Selasa (28/4/2026) di SMAN 3 Sampit. (Panitia FLS3N/Kanal Independen)

    Hasil penilaian akhir menempatkan Halisah dari SMAN 1 Kota Besi (nomor peserta 14) sebagai kampiun.

    Naskahnya yang bertajuk ”Perjuangan di Balik Kanvas Putih” meraih skor tertinggi 181,25.

    Tulisan ini mengangkat kehidupan Elwani Sarwando atau Iwan, seorang perupa asal Sampit.

    Juri terpukau kemampuan Halisah menyajikan detail observasi yang hidup. Mulai dari aroma cat minyak, ukiran kayu berbentuk ikan jelawat, sisa warna di tangan narasumber, hingga konflik batin sang seniman yang sempat ditentang ayahnya.

    Tulisan ini dinilai mampu menghadirkan suasana kerja perupa secara kuat.

    Posisi kedua diamankan Thovan Maulana Putera dari SMKN 2 Sampit (nomor 04) dengan nilai 177,25.

    Lewat naskah ”Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa,” Thovan merangkai alur penceritaan yang kokoh.

    Dia memotret jatuh bangun seorang pelajar yang sempat putus sekolah tiga tahun demi merawat sang ayah, lalu bangkit menemukan ketahanan mental lewat panggung monolog hingga menembus level nasional.

    Ahmad Raja dari SMAN 1 Sampit (nomor 02) menyusul di tempat ketiga dengan nilai 173,75.

    Karyanya, ”Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman,” tampil sangat kuat secara reportase.

    Dia merekam langsung proses pelestarian seni tutur tradisional melalui inovasi kecapi elektrik, menyajikan suasana wawancara yang utuh serta relevan dengan dinamika zaman.

    Kekuatan sudut pandang kemanusiaan (human interest) juga kuat terlihat pada karya para peraih juara harapan.

    Savira Yuni Florenzya dari SMKN 2 Sampit (Harapan 1, nilai 168,25) menyuguhkan kisah haru Khoirul Saputra, penari yang harus banting setir menjadi pemain kecapi setelah paha kirinya patah akibat tabrak lari di tikungan Desa Bejarum.

    Sementara itu, Bilal Aqso Setiawan dari SMAN 1 Sampit (Harapan 2, nilai 167,75) mengeksplorasi kekayaan kearifan lokal melalui sosok seniman kriya H. Haitami A.M.

    Selanjutnya, Selvia Maharani dari SMAS PGRI 2 Sampit (Harapan 3, nilai 162) merekam ketangguhan Salsabila, penyanyi muda dari Desa Terantang yang menopang ekonomi keluarga lewat musik.

    Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap kerja keras peserta, Kanal Independen menerbitkan artikel feature juara 2, 3, serta harapan 1 hingga 3 di portal Kanal Independen (kanalindependen.id).

    Redaksi hanya memoles aspek teknis seperti ejaan dan tanda baca, memastikan orisinalitas substansi dan gaya bahasa khas pelajar tetap utuh.

    ”Peserta sudah punya modal besar. Mereka tidak boleh berhenti menulis. Ide dan gagasan yang mereka miliki bisa menjadi inspirasi bagi orang lain jika terus diasah dan berani dipublikasikan,” ujar Gunawan.

    Langkah publikasi ini telah mengantongi restu panitia. Satu-satunya karya yang belum ditayangkan adalah milik sang juara pertama.

    Keputusan ini merupakan bagian dari persiapan menuju tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.

    Ajang FLS3N tahun ini menunjukkan bahwa pelajar Kotim memiliki ketajaman bercerita melalui proses kerja jurnalistik.

    Mereka tidak hanya menyalin fakta, tetapi mampu merangkum seni, budaya, dan karakter manusia dalam sebuah narasi jurnalistik yang layak dibaca publik. (ign)

    Berikut Karya para Juara:

    Juara 2: Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa (Thovan Maulana Putera, SMKN 2 Sampit)

    Juara 3: Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman (Ahmad Raja, SMAN 1 Sampit

    Juara Harapan 1: Dari Tari ke Dawai Kecapi: Langkah Khoirul Saputra, Pemuda Keruing Raih Prestasi (Savira Yuni Florenzya, SMKN 2 Sampit)

    Juara Harapan 2: Satu Tumbuh Seribu: Dari Bapak Haitami untuk Generasi Muda (Bilal Aqso Setiawan, SMAN 1 Sampit)

    Juara Harapan 3: Menguatkan Karakter Diri lewat Seni Musik (Selvia Maharani, SMAS PGRI 2 Sampit)

  • Menguatkan Karakter Diri lewat Seni Musik

    Menguatkan Karakter Diri lewat Seni Musik

    DI tengah arusnya modernisasi, seni budaya bukan sekedar hiburan semata melainkan wadah untuk membentuk kepribadian yang tangguh, cinta tanah air, dan menghargai warisan leluhur adalah pondasi dan cermin jati diri.

    Melalui seni dapat belajar mengekspresikan diri dan paling penting menjadi manusia yang berkarakter, disiplin, serta tanggung jawab untuk melestarikan kekayaan budaya, ia membuktikan bahwa seni memiliki kekuatan luar biasa tidak hanya memperindah kehidupan, tapi juga memperkuat jati diri dan membangun karakter generasi muda yang berakar kuat pada nilai-nilai bangsa.

    Artikel ini akan membawa pembaca untuk menyelami kisah nyata atau kisah Inspiratif yang dekat dengan kenyataan tentang seorang anak muda yang lahir di desa terpencil.

    Melalui bakat dan kecintaannya pada musik, ia tidak hanya meraih prestasi gemilang tetapi juga membentuk karakter yang kuat, mandiri, dan berintegritas serta ia juga menunjukkan bahwa karakter itu dapat tumbuh dari kreativitas, dan mencintai budaya di tengah dunia modern.

    Bahwa seni memiliki kekuatan luar biasa tidak hanya memperindah kehidupan, tapi juga memperkuat jati diri dan membangun karakter generasi muda.

    Melalui rangkaian foto ini, kita akan menyaksikan bagaimana langkah-langkah kecil Salsabila dari pendapatan kecil hingga mencapai kesuksesan saat ini bukan hanya soal peningkatan materi.

    Foto-Foto ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan apresiasi seni budaya tidak hanya membawa perubahan taraf hidup.

    Penulis, (berbaju batik nusantara) sedang mewawancarai di salah satu rumah kediaman Salsabila (Dokumentasi Pribadi Penulis)

    Pencarian saya dengan sosok penyanyi muda yang mempunyai kisah inspiratif dimulai dari Sabtu 18 April 2026.

    Saya keliling sekolah dan tanya-tanya ke guru-guru, banyak nama yang disarankan. tapi dari semua itu, saya hanya tertuju kepada Salsabila yang paling pas dengan tema yang saya angkat; ”Menumbuhkan Karakter Bangsa Melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya”.

    Saya penasaran, bagaimana seni budaya bisa menjadi tempat untuk membentuk karakter.

    Salsabila namanya mungkin belum banyak yang tahu, tapi di dunia seni musik dia memang hebat.

    Lewat seni musik ini, dia tumbuh jadi anak yang disiplin, peduli sama teman, dan suka bekerja sama dengan nilai karakter yang tidak cuma dipelajari di buku saja.

    Saya penasaran, bagaimana seni musik yang ia tekuni bisa membentuk karakternya dan menjadi bagian dari pelestarian budaya di desanya.

    Karena belum punya kontak pribadi, saya minta tolong kepada guru untuk menelpon Salsabila dan menyampaikan keinginan saya.

    Saya jelaskan kalau saya ingin mewawancarainya langsung di rumahnya, tepatnya di rumah panggung tempat ia tinggal yang berada di desa.

    Tanpa menunggu lama, guru menyampaikan kabar baik bahwa Salsabila menyetujui permintaan saya dan siap menyambut kedatangan.

    Begitu saya sampai. Tampak rumah tersebut dengan khas daerah yang dibangun tinggi dari tanah itu terlihat asri, dikelilingi pohon-pohon rindang. Salsabila sudah menunggu di beranda rumahnya. Dia menyambut dengan senyum lebar dan sikap yang sopan.

    ”Silakan masuk dan duduk di sini saja”. ucapnya ramah sambil menunjuk tempat duduk.

    Kami pun duduk di beranda yang luas itu, suasana yang sangat nyaman hanya terdengar suara angin berhembus dan kicauan burung di sekitar pohon.

    Saya memulai aktivitas dengan  membuka laptop, dan mulai bertanya.  Awalnya dia terlihat masih merasa sedikit canggung dan malu, ia menundukan kepala sesekali dan menjawab pertanyaan saya dengan nada suara yang pelan.

    Namun, begitu saya mulai membahas topik inti bagaimana seni musik mengubah cara pandangnya mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan memperkuat jati dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

    Semua rasa canggung itu perlahan menghilang dan matanya berbinar, suaranya menjadi lebih lantang dan penuh semangat.

    Dari sinilah obrolan kami mengalir lancar, mengungkap satu per satu kisah perjuangan, kreativitas, dan pembentukan karakter yang ia lalui.

    Di sebuah sudut wilayah yang jauh dari kota besar, tersembunyi dibalik hamparan sawah hijau. terletak lah sebuah desa bernama Terantang.

    Jalanan menuju kesana masih banyak yang rusak, sinyal telepon sering kali hilang, namun kedamaian dan keasrian alamnya yang sangat hangat memberikan Inspirasi yang tak ternilai bagi siapa saja yang tinggal disana. lahirlah bibit-bibit kreativitas yang menjadi aset berharga bangsa.

    Ia bukan sekedar menyanyi, tapi menjadikan seni musik sebagai jembatan untuk membangun karakter diri, sekaligus menebarkan nilai-nilai luhur bangsa ke setiap nada dan lirik yang ia bawakan.

    Di Desa Terantang inilah lahir Salsabila, ataupun juga disapa Salsa dengan kelahiran 16 Januari 2006 yang dikenal memiliki suara emas.

    Namun, jauh sebelum namanya dikenal banyak orang ia hanyalah anak desa biasa, Salsa tumbuh di lingkungan yang sederhana namun kaya akan nilai seni dan budaya sejak masih kecil.

    Setiap kisah hebat selalu bermula dari lingkungan yang mendukung dan hal ini sangat terasa dalam kehidupan Salsabila.

    Ia lahir dari pasangan Yuyud Hariadi dan Irma Wati, dua sosok yang memiliki kecintaan mendalam terhadap dunia musik dan seni budaya.

    Ayahnya Yuyud Hariadi, memiliki latar belakang di dunia musik dan bahkan memiliki grup musik (orkes) sendiri, sehingga suasana rumah selalu diiringi alunan nada dan irama. ementara itu, Ibunya Irma Wati, juga memiliki pengalaman dalam bernyanyi dan menguasai teknik olah vokal yang baik.

    Di lingkungan seperti inilah benih bakat Salsabila mulai tumbuh dan berkembang.

    Salsabila sedang berlatih nada dan irama saat usia 5 tahun (Dokumentasi Pribadi Ayah Salsabila)

    Salsabila mengukapkan bahwa ia sudah memiliki bakat bernyanyi sejak usia yang sangat dini, tepatnya saat ia masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) pada usia 5 tahun.

    Namun, pada masa itu, bakatnya masih dalam bentuk kecintaan semata. Ia hanya senang mendengar dan menirukan lagu-lagu yang didengarnya, belum ada keberanian untuk tampil dihadapan banyak orang atau mengikuti perlombaan apa pun.

    Alasanya sederhana “Pada saat itu hanya suka bernyanyi saja, belum mengikuti perlombaan apapun dikarenakan saya masih kecil”, ujarnya sambil tertawa kecil pas saya temui di rumah panggungnya.

    Namun, kehadiran orang tua menjadi kunci yang mengubah hobi ini menjadi sesuatu yang lebih berarti.

    Ayah dan ibunya tidak memaksakan untuk menjadi penyanyi hebat, melainkan membimbingnya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.

    Mereka mengajarkan bahwa seni adalah bagian dari kehidupan, dan melestarikan adalah bentuk rasa syukur.

    Cara pengajaran hanya bersifat otodidak dengan mengandalkan pengalaman dan latihan langsung sehari-hari.

    Di desa sekecil ini, tidak ada sekolah musik, tidak ada guru vokal profesional, dan tidak ada fasilitas mewah.

    Salsa hanya berlatih secara otodidak, kedua orang tuanya hanya berperan dalam mengenalkan dan melatih dasar bernyanyi saja, ia juga meniru nada-nada yang ia dengar di handphone, ia berlatih di depan cermin sederhananya atau bahkan berlatih di halaman belakang rumahnya sambil menikmati keindahan di sore hari.

    Bagi Salsa seluruh desa adalah panggungnya dan alam semesta adalah pendengar setianya.

    Inilah awal mula kreativitas bekerja, keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang melainkan justru memicu daya cipta untuk mencari cara belajar yang unik dan alami.

    Seni budaya di lingkungan masyarakat menjadi laboratorium karakter yang nyata bagi generasi muda hal ini terasa bagi perjalanan pecinta kopi ini, bernyanyi bukanlah hanya soal suara yang bagus tetapi pecinta kopi ini juga harus belajar banyak hal dengan disiplin, kerja keras, dan kepercayaan diri.

    Disiplin dengan harus berlatih secara rutin, kerja keras dengan berlatih karena tidak ada kesuksesan yang instan, kepercayaan diri dengan tampil di depan orang banyak dan belajar untuk berani menunjukan jati diri serta karakter bangsa seperti empati, kedisiplinan, kerja sama, dan toleransi tumbuh secara alami dalam diri pecinta kopi ini.

    Di sinilah nilai karakter mulai tertanam secara tidak sadar saat melihat ayah dan rekan-rekanya bekerja sama untuk menyusun nada, mengatur alat musik, dan berlatih berulang kali agar hasilnya sempurna.

    Salsa belajar tentang makna kerja sama dan ketekunan, ia melihat bagaimana ayahnya menghormati setiap anggota tim dan menghargai semua masukan, dari itu ia dapat belajar tentang nilai toleransi dan penghargaan terhadap pendapat orang lain.

    Saat melihat ayahnya bersabar mengulang bagian lagu yang sulit berkali-kali, ia belajar bahwa hasil yang baik itu tidak datang secara instan, melainkan butuh usaha dan kedisiplinan.

    Nilai-nilai ini tidak diajarkan dengan kata-kata, melainkan melalui contoh nyata yang dilihat dan dirasakan setiap hari.

    Ibu Salsa juga memegang peran yang sangat penting, ia yang lebih banyak melatih tentang teknik dasar seperti pernapasan, pengaturan nada dan juga kehalusan suara.

    Ibunya berpesan kepada Salsa. ”Bahwa untuk menghasilkan suara yang indah dibutuhkan ketelitian dan kesabaran”, ujarnya.

    Ibu nya sering kali mengingatkan Salsa untuk menjaga kesehatan tubuh dan suara serta mengajarkan tentang tanggung jawab terhadap bakat yang telah Allah berikan.

    Melalui pesan ibunya, Salsa mulai memahami bahwa menjadi seorang seniman musik atau musisi bukan soal keahlian tetapi juga mengembangkan bakat.

    Pada masa TK ini, Salsa juga mulai diperkenalkan dengan berbagai jenis lagu, mulai dari lagu anak-anak yang ceria hingga lagu-lagu yang mengandung nilai-nilai luhur ,sehingga selain melatih kemampuan vokal, Salsa juga menyerap pesan-pesan positif yang terkandung di dalam liriknya, dimana hal ini menjadi wadah untuk menanamkan nilai-nilai kebajikan.

    Lagu-Lagu yang dinyanyikan menjadi sarana untuk memahami makna kebaikan, kasih sayang dan rasa hormat kepada orang lain.

    Kehidupan sehari-hari dirumah pun terjalin dalam suasana yang mendukung, waktu luang sering kali diisi dengan kegiatan bermusik bersama.

    Ayahnya akan memainkan alat musik, sementara Salsa dan ibunya bernyanyi bersama. Momen-momen ini tidak hanya mempererat hubungan keluarga tetapi juga melatih rasa kebersamaan dan saling mendukung.

    Selain itu, orang tuanya juga mengajarkan Salsa untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki.

    Mereka menjelaskan bahwa tidak semua orang diberi kemampuan untuk bernyanyi dengan indah, sehingga hal itu harus dijaga dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

    Nilai rasa syukur ini tumbuh dalam diri pecinta kopi, membuatnya selalu  menghargai setiap kesempatan yang datang dan tidak pernah merasa sombong atas kemampuan yang dimilikinya.

    ”Bakat adalah anugerah dan kewajiban saya mengembangkan sebaik mungkin agar dapat memberikan manfaat bagi diri saya sendiri dan orang lain”, ujar Salsa pas saya temui di rumah panggungnya.

    Memasuki bangku sekolah dasar kelas 1, lingkungan sosial Salsa mulai meluas. ia tidak lagi hanya bernyanyi di dalam lingkungan keluarga tetapi mulai dikenal oleh tetangga dan warga sekitar.

    Kemampuan menyanyinya yang sudah mulai terbentuk membuatnya sering diundang di acara pernikahan, tasmiyah dan aqiqah ataupun acara perayaan lainya.

    Salsa pada saat itu masih berada di kelas 1 tidak menerima bayaran atau honorarium, ia hanya menerima saweran dari orang-orang yang menyaksikan penampilannya di atas panggung.

    Uang yang didapat dari saweran ini meskipun jumlahnya tidak menentu tetapi menjadi pengalaman pertamanya memahami bahwa kemampuan yang dimilikinya bisa dihargai oleh orang lain.

    Di fase inilah nilai kedisiplinan mulai diuji sebagai anak sekolah, Salsa harus bisa membagi waktu antara mengerjakan tugas sekolah, beristirahat dan berlatih serta tampil.

    Pesan kedua orang tuanya, ”Kewajiban utama seorang anak adalah belajar, dan kegiatan  menyanyi adalah hobi serta pengembangan diri yang tidak boleh mengganggu kewajiban utamanya”.

    Hal ini mengajarkannya tentang manajemen waktu yang baik dan kemampuan untuk memprioritaskan hal-hal yang penting, ia belajar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu sebelum berlatih dan berusaha semaksimal mungkin agar nilai pelajarannya tetap baik meskipun sering berlatih dan tampil.

    Ada kalanya ia merasa lelah ataupun kesulitan membagi waktunya antara sekolah dan tampil di panggung.

    Namun, dukungan dari kedua orang tua dan guru-guru di sekolah ia mampu untuk melewatinya, melihat potensi yang ada di dalam diri pecinta kopi ini guru-guru di sekolahnya  memberikan dukungan serta pemahaman selama ia menjaga prestasi akademiknya.

    Hal ini mengajarkan pecinta kopi ini bahwa untuk mencapai sesuatu yang baik diperlukan usaha dan pengorbanan, ia juga belajar untuk kerja keras dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

    Salsabila,memperlihatkan dimana dirinya tampil diatas panggung pada kelas 3 SD (Dokumentasi Pribadi Ayah Salsa)

    Ketika beranjak naik ke kelas 3 Sekolah Dasar (SD), ia mulai mendapatkan bayaran tetap untuk setiap penampilanya, yaitu sebesar Rp 100.000.

    Bagi seorang anak seusianya di masa itu, jumlah tersebut adalah angka yang cukup besar dan orang tuanya mengajarkan Salsa untuk menyimpan sebagian uang tersebut serta menggunakan uangnya dengan bijak, hanya untuk keperluan yang benar-benar dibutuhkan.

    Di seni, ia belajar tentang nilai jerih payah dan pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab.

    Ia menyadari bahwa uang yang didapatkan adalah hasil dari usaha dan kemampuannya, sehingga harus digunakan dengan sebaik-baiknya.

    Di usia ini pula. Salsa memberanikan diri untuk mengikuti perlombaan menyanyi untuk pertama kalinya pada tahun 2014 sejak saat itu usianya masih 8 tahun.

    Mengikuti perlombaan adalah langkah besar yang mengubah cara pandangannya terhadap seni, ia tidak lagi hanya bernyanyi untuk kesenangan diri, tetapi juga harus mempersiapkan diri untuk bersaing dengan orang lain secara sehat.

    Persiapan untuk mengikuti lomba mengajarkannya banyak hal, ia harus berlatih lebih keras dan memperbaiki setiap nada dan lirik serta memperbaiki setiap kekurangan yang ada. Proses ini melatih kedisiplinan dan juga ketekunan.

    Kerja keras selama ini berbuah manis, Salsabila menorehkan prestasi. Pada tahun 2014, ia meraih Juara II Bintang Vocal KDS dalam rangka HUT KOTIM yang ke-61.

    Ini adalah salah satu prestasi awal yang menjadi landasan kepercayaan dirinya.

    Menerima penghargaan ini mengajarkanya bahwa usaha tidak akan menghianati hasil, namun prestasinya tidak redup sampai di sini saja, pada tahun 2017 ia meraih Juara I Bintang Vokalis anak pada MTQ ke-48 Tingkat Kecamatan.

    Selang 1 tahun kemudian Salsa kembali meraih prestasi pada tahun 2018 sebagai Juara III Bintang Vokalis Anak PSQ Tingkat Provinsi.

    Kedua orang tuanya menyatakan rasa bangga yang tak terkira, sang ibu mengungkapkan, ”Setiap malam kami sering mendengar ia berlatih bernyanyi kadang sampai larut malam meskipun ia juga harus menyelesaikan tugas sekolah. Kami tidak pernah memaksakannya untuk mengikuti lomba, tapi melihat semangatnya sendiri kami hanya bisa mendukung dan menyemangatinya”, ujar orang tua Salsa.

    Salsabila,memperlihatkan tropy kemenangan hasil dari perjuangan (Dokumentasi Pribadi Salsabila)

    Prestasinya tidak sampai disitu saja, pada masa SMP ia kembali meraih kejuaraan pada tahun 2019 dengan meraih Juara II English Singing Contest Tingkat SMP.

    Mengikuti lomba dengan menggunakan bahasa asing melatih keberanian dan kemampuan beradaptasi. Hal ini mengajarkanya bahwa seni tidak mengenal batas bahasa.

    ”Kemenangan bukan sekedar sebuah gelar yang tertulis diatas kertas atau piala tapi juga sebuah perasaan bercampur menjadi satu rasa syukur yang mendalam,” ujarnya.

    Memasuki masa SMA, Salsa sudah tidak lagi sekedar menjadi peserta biasa. Hasil latihan dan pengalaman yang ia kumpulkan mulai membuahkan hasil.

    Di awal tahun ajaran tersebut, ia mengikuti Lomba Bintang Vokalis Qasidah Remaja Putri Se-Kotawaringin Timur Tahun 2021, ia meraih Juara I dan hadiah yang ia terima berupa piala, sertifikat serta berupa uang.

    Saat beranjak SMA, undangan untuk tampil semakin berdatangan tidak hanya dari desa-desa di sekitar tempat tinggalnya tetapi juga dari daerah lain.

    Di sana bayaran sewa jauh lebih tinggi dibandingkan di desanya, ia dipanggil di acara seperti pesta pernikahan atau acara resmi. Bayaran berkisar Rp 600.000 hingga lebih dari Rp 1.000.000.

    Ia membagi jadwalnya dengan rapi. Di akhir pekan atau hari libur jika ada undangan dari kota ia akan berangkat ditemani oleh ibunya sebagai pendamping.

    Ia selalu berusaha menjaga sikap dan penampilan yang sopan serta profesional, terlepas dari di mana ia tampil.

    Sikapnya yang ramah, rendah hati, serta kualitas suaranya yang konsisten membuat banyak orang menyukainya.

    Di sisi lain, Salsa tidak melupakan asal-usulnya. Ia tetap melayani permintaan tampil di desanya dengan tarif yang terjangkau.

    Bahkan, untuk acara sosial yang tidak memiliki dana cukup, ia sering kali bersedia tampil secara sukarela atau menerima bayaran sekedarnya saja. Baginya, berkarya adalah bentuk pengabdian juga.

    Ia berkata ”Desa ini yang membesarkan saya, yang mendukung saya sejak awal. Saya tidak melupakan itu meskipun nanti saya sudah bisa tampil di tempat yang lebih besar lagi”.

    Selain sibuk menerima tawaran tampil, Salsa terus berkompetisi di berbagai Tingkat.

    Ia berhasil mendapatkan Juara III Pop Religi Remaja Tingkat Provinsi Pada FSQ Tahun 2022, prestasi ini semakin menambah daftar pencapainnya dan memperkuat reputasinya di dunia musik.

    Setiap kali ia mendapatkan hadiah dari lomba berupa uang tunai, uang hasil kemenangan itu disatukan dengan pendapatan dari pekerjaan tampil lalu dikelola untuk kebutuhan pendidikan dan kebutuhan sehari-harinya.

    ”Saya bangga tentunya dengan diri saya sendiri bahwa sudah tidak lagi meminta uang kebutuhan sekolah kepada orang tua saya sendiri”, ujarnya.

    Sejak awal ia bersekolah di salah satu desa yang berada di Terantang, semua biaya SPP serta perlengkapan sekolah ia tanggung sendiri dari hasil tampil di panggung dan uang dari menang lomba.

    Ia sudah bisa memenuhi kebutuhan pribadinya tanpa meminta kepada orang tua serta bisa membeli handphone tanpa uang orang tua sepeser pun.

    Hal ini sangat meringankan beban kedua orang tuanya, hasil kerja orang tuanya bisa difokuskan untuk kebutuhan makan sehari-hari dan biaya pendidikan adiknya yang bernama Shafa Shadrina yang bersekolah di salah satu desa tempat ia tinggal.

    Pesan adiknya untuk Salsa, “Sebagai adik, aku selalu bangga melihat perjalanan kakak, teruslah bernyanyi dengan hatimu seperti yang selalu kamu lakukan. Jangan pernah berubah meskipun nanti namamu semakin dikenal dan perjalananmu semakin jauh. Ingatlah, setiap kesulitan yang pernah kamu lewati mulai dari manggung dengan bayaran seadanya sampai harus berjuang membagi waktu antara sekolah dan karier semua itu yang membentuk kakak menjadi orang hebat seperti sekarang”.

    Prestasinya tak redup sampai disitu saja pada tahun 2025. Ia kembali meraih Juara II Bintang Vokalis Gambus Remaja Putri Pada FSQ Tingkat Kabupaten.

    Tak berhenti di situ, ia meraih Juara II Vocal Solo Religi Milad Universitas Muhammadiyah Sampit Tahun 2026.

    ”Impian terbesar saya kedepannya di seni musik adalah bisa terus berkembang dan dikenal lebih luas, tidak hanya di daerah tetapi juga di Tingkat nasional. Kedepannya saya berharap bisa tampil di panggung-panggung besar,” ungkap Salsa.

    Pesan ayahnya, “Ayah akan selalu ada di sampingmu, menjadi pendengar setia dan pendukung terkuatmu, dimanapun kamu berada. Semoga suaramu terus menjadi kebanggaan bangsa, dan perjalananmu menjadi Inspirasi bagi anak-anak muda lainya. Sukses selalu, nak”.

    Perjalanan Salsabila dari seorang anak desa hingga menjadi penyanyi muda yang mengharumkan nama daerahnya adalah bukti nyata yang mewujudkan makna ”Menumbuhkan Karakter Bangsa Melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya”. Serta ”Seni Memperkuat Karakter”.

    Ia membuktikan bahwa seni bukan sekedar ekspresi keindahan semata, melainkan wadah hidup yang mampu menempa nilai-nilai luhur bangsa dan empati, kedisiplinan alami dalam diri seseorang tanpa sekedar diajarkan melalui teori.

    Melalui setiap nada yang ia lantunkan, setiap lirik yang ia hayati, dan setiap langkah perjuangannya, Salsa mengubah lingkungan di sekitarnya menjadi laboratorium karakter.

    Di sekolah, di desa tempat ia tinggal, hingga di panggung-panggung lomba, ia menunjukan bagaimana seni budaya lokal menjadi sarana yang membentuknya menjadi pribadi yang kuat, berkarakter dan tetap memegang teguh identitas diri meski di tengah gempuran pengaruh luar.

    Ia membuktikan bahwa mencintai dan mengembangkan warisan seni budaya sendiri adalah cara paling jitu untuk memperkuat jati diri dan integritas, agar kita tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus modernitas.

    Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa setiap momen perubahan dan pertumbuhan sekecil apa pun, layak untuk diabadikan dan dibagikan.

    Seperti halnya perjalanan Salsa yang terekam dalam rangkaian prestasi dan pengalaman, narasi-narasi nyata seperti inilah yang mampu menggugah hati dan menginspirasi generasi muda lainnya.

    Kita tidak perlu menunggu memiliki fasilitas lengkap atau kedudukan tinggi untuk mulai, cukup dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita, berjuang dengan sepenuh hati, dan memegang teguh nilai-nilai kebaikan, kita pun bisa menjadi bagian dari perubahan positif.

    Bagi pecinta kopi ini, deretan piala dan sertifikat yang ia raih bukanlah tujuan akhir dari perjuangannya, melainkan tanda jalan yang telah ia lalui dan tanggung jawab yang harus ia emban.

    Ia akan terus menyanyi, terus berkarya dan terus berbagi bukan hanya keindahan suara tetapi juga nilai-nilai karakter yang ia dapatkan dari seni budaya.

    Ia berharap kisahnya dapat menjadi titik terang bagi anak-anak muda lain yang memiliki mimpi, agar mereka berani menggali potensi diri, mencintai warisan bangsa, dan percaya bahwa melalui seni, kita bisa membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

    Semoga kisah perjalanan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa seni adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Karakter yang kuat tumbuh dari proses dan penghayatan.

    Generasi muda yang mencintai dan mengembangkan seni budaya bangsanya adalah generasi yang akan membawa harum nama Indonesia di mata dunia. (***)

    Juara Harapan 2 Juara Harapan 1 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Selvia Maharani, SMAS PGRI-2 Sampit

  • FLS3N dan O2SN Dibuka, Kotim Siapkan Peserta Terbaik Wakili Provinsi hingga Tingkat Nasional

    FLS3N dan O2SN Dibuka, Kotim Siapkan Peserta Terbaik Wakili Provinsi hingga Tingkat Nasional

    SAMPIT, kanalindependen.id – Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) jenjang SMA/SMK/MA sederajat tingkat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tahun 2026 resmi dibuka di SMAN 3 Sampit.

    Kegiatan ini menjadi ajang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan terbaik di bidang seni dan olahraga sekaligus menentukan peserta terbaik yang akan mewakili Kotim menuju tingkat Provinsi Kalimantan Tengah hingga nasional.

    Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Yolanda Lonita Fenisia, menyampaikan bahwa FLS3N dan O2SN merupakan wadah penting untuk menggali dan mengembangkan potensi peserta didik di bidang seni dan olahraga.

    Melalui ajang ini, sekolah tidak hanya mencari yang terbaik, tetapi juga membentuk karakter generasi muda yang kreatif, disiplin, dan menjunjung tinggi sportivitas.

    ”Ajang ini tidak hanya mencari yang terbaik, tetapi juga membentuk karakter generasi muda yang kreatif, disiplin, dan menjunjung tinggi sportivitas,” ujar Yolanda saat membuka kegiatan FLS3N dan O2SN di Lapangan SMAN 3 Sampit, Senin (27/4/2026).

    Ia berpesan kepada seluruh peserta agar tampil dengan percaya diri, memberikan kemampuan terbaik, serta menjaga sikap dan semangat kebersamaan.

    ”Jadikan pengalaman ini sebagai bagian dari proses belajar dan pengembangan diri,” katanya.

    Yolanda juga meminta panitia dan dewan juri melaksanakan tugas secara profesional, objektif, dan penuh tanggung jawab agar hasil perlombaan benar-benar melahirkan peserta terbaik.

    ”Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, kegiatan FLS3N dan O2SN SMA/SMK/MA sederajat tingkat kabupaten tahun 2026 secara resmi saya nyatakan dibuka,” ucapnya.

    Pengawas Pembina SMA/MA yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan, Kalteng Febri Sugianto, mengatakan kegiatan FLS3N telah dilaksanakan selama dua tahun terakhir dengan penggabungan peserta dari jenjang SMA, SMK, dan MA.

    Menurutnya, penyelenggaraan bersama tersebut menjadi langkah yang sangat baik karena seluruh sekolah dapat berkompetisi dalam satu wadah yang sama.

    ”Apresiasi yang luar biasa untuk kegiatan ini karena dalam kegiatan ini bisa berlangsung bersamaan di jenjang SMA, SMK, dan MA,” kata Febri Sugianto.

    Ia menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan ini berlangsung dari hasil iuran Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

    Karena itu, ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.

    Sesuai petunjuk teknis nasional, peserta yang meraih juara pertama akan mewakili Kotim ke tingkat provinsi yang direncanakan berlangsung pada Juni 2026 di Palangka Raya. Sementara tingkat nasional direncanakan digelar pada September 2026.

    Febri juga menegaskan, Kotim salah satu kabupaten di Kalteng yang menjadi barometer pendidikan, tidak hanya pada ajang kompetisi di bidang akademik tetapi juga non-akademik.

    “Kotim ini merupakan barometer pendidikan, sering kali peserta didik dari Kotim mampu bersaing meraih juara di tingkat provinsi bahkan hingga tingkat nasional,” ujarnya.

    Ia berharap kegiatan tahun ini berjalan lancar dan mampu melahirkan juara terbaik, baik atlet olahraga maupun peserta seni budaya, untuk mewakili Kotim ke tingkat provinsi.

    Untuk cabang olahraga unggulan O2SN, menurutnya selama ini bulutangkis dan renang menjadi andalan. Tahun ini juga ada cabang baru yakni panjat tebing. Sebelumnya cabang yang dipertandingkan adalah karate, namun kini diganti dengan panjat tebing.

    ”Tahun lalu ada dua cabor bulutangkis, atletik dan pencak silat yang pesertanya dari Kotim lolos di tingkat nasional,” ujarnya.

    Ketua MKKS SMA Kotim, Kodarahim, menambahkan pada ajang FLS3N tahun 2025 terdapat tiga peserta dari Kotim yang berhasil lolos hingga tingkat nasional.

    Masing-masing berasal dari lomba gitar solo dari SMAN 2 Sampit, lomba monolog dari SMAN 1 Mentaya Hilir Utara, dan lomba film pendek dari MAN Kotim.

    Ia berharap tahun ini jumlah peserta didik dari Kotim yang mampu mewakili Provinsi Kalimantan Tengah hingga tingkat nasional semakin banyak.

    ”Harapannya mudah-mudahan tahun ini lebih banyak lagi peserta didik dari Kotim yang mewakili Provinsi Kalteng hingga ke tingkat nasional,” kata Kodarahim yang juga menjabat sebagai Kepala SMAN 2 Sampit.

    Menurutnya, pada FLS3N biasanya cabang yang paling diunggulkan adalah lomba vokal solo dan seni tari. Namun ia berharap seluruh cabang lomba yang diikuti para peserta dapat melahirkan wakil terbaik untuk Kotim.

    ”Selamat bertanding, semoga kegiatan FLS3N dan O2SN berjalan lancar dan menjad ajang seleksi pencarian bakat di bidang seni dan olahraga,” katanya.

    Ketua Panitia Penyelenggara FLS3N Kotim, Candra Junawanti, mengatakan pelaksanaan Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional tingkat kabupaten tahun ini diselenggarakan selama tiga hari, 27-29 April 2026 di SMAN 3 Sampit.

    FLS3N tahun ini mengusung tema “Menumbuhkan Karakter Bangsa melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya.”

    Tema ini menyiratkan makna bahwa seni bukan hanya sekadar hobi, melainkan instrumen penting dalam memperhalus budi pekerti dan membangun karakter bangsa.

    ”FLS3N menjadi wadah bagi peserta didik untuk menyalurkan bakat, minat, dan kreativitas di bidang seni. Kami harap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun karakter, memperkuat rasa percaya diri, serta menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya bangsa,” kata Candra Junawanti, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 3 Sampit.

    Tahun ini, FLS3N diikuti oleh 18 SMA/MA dan 12 SMK di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dengan total 16 kategori perlombaan.

    Kategori tersebut meliputi lomba baca puisi yang diikuti 29 peserta, cipta lagu diikuti 6 peserta, cipta puisi diikuti 24 peserta, desain poster diikuti 20 peserta, film pendek diikuti 20 tim, fotografi diikuti 20 peserta, gitar solo diikuti 12 peserta, jurnalistik diikuti 17 peserta, komik digital diikutu 20 peserta, kreativitas musik tradisi diikuti 7 tim, kriya diikuti 20 peserta, menulis cerita pendek diikuti 25 peserta, solo vokal putra diikuti 15 peserta, solo vokal putri diikuti 32 peserta, monolog diikuti 24 peserta, serta tari kreasi diikuti 19 peserta.

    ”Kalian adalah pemenang di sekolah masing-masing. Di panggung ini tunjukkanlah seluruh kemampuan terbaik kalian. Menang atau kalah adalah bagian dari kompetisi, namun keberanian untuk tampil dan berkarya adalah esensi dari seorang seniman sejati,” ujarnya kepada peserta.

    Ia juga menitipkan amanah kepada dewan juri untuk memberikan penilaian secara jujur, transparan, dan profesional demi melahirkan talenta terbaik yang akan mewakili Kabupaten Kotim ke tingkat provinsi.

    Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana O2SN Kotim, M Abdul Aziz, mengatakan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional tahun 2026 jenjang SMA/MA/SMK/MAK sederajat diikuti sekitar 65 peserta dari berbagai sekolah di Kotim.

    O2SN bertujuan menjadi wadah bagi peserta didik untuk meningkatkan minat dan bakat di bidang olahraga.

    ”Pembukaan O2SN dilaksanakan bersamaan dengan pembukaan FLS3N di SMAN 3 Sampit. Pendaftaran O2SN telah dibuka sejak awal April dan berlangsung hingga 30 April 2026. Sudah ada dua cabor panjat tebing dan bulutangkis yang sudah selesai seleksi pertandingan, masih ada tiga cabor lagi yang dijadwalkan bertandinga Mei nanti,” kata Abdul Aziz yang juga menjabat sebagai Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) SMAN 2 Sampit.

    Tahun ini, O2SN mempertandingkan lima cabang olahraga, yaitu panjat tebing, bulutangkis, atletik, pencak silat, dan renang.

    Cabang panjat tebing telah dimulai pada 19–20 April 2026 di depan GOR Voli Indoor Sampit. Bulutangkis berlangsung pada 24–25 April 2026 di GOR Muara Alam.

    Selanjutnya, cabang atletik dijadwalkan bertanding pada 5–7 Mei 2026 di Lapangan Stadion 29 November Sampit.

    Pencak silat akan berlangsung pada 8–10 Mei 2026 di lapangan GOR Indoor Voli Sampit, sedangkan cabang renang dijadwalkan pada 19–21 Mei 2026 di Kolam Renang Citra Pool.

    “Melalui pelaksanaan FLS3N dan O2SN tahun ini, kami berharap peserta didik di Kotim kembali melahirkan siswa-siswa berprestasi yang mampu bersaing di tingkat provinsi hingga nasional, sekaligus mempertahankan prestasi daerah pada bidang seni, sastra, dan olahraga,” tandasnya. (hgn)