Tag: SMAN 1 Sampit

  • Menembus Standar Berita: Evolusi Karya Feature Pelajar FLS3N Kotim Tampil Lebih Bernyawa

    Menembus Standar Berita: Evolusi Karya Feature Pelajar FLS3N Kotim Tampil Lebih Bernyawa

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tumpukan naskah lomba jurnalistik pelajar tak lagi didominasi rentetan laporan kegiatan yang kaku.

    Dari 17 karya feature pelajar tingkat SMA sederajat yang bersaing dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Kabupaten Kotawaringin Timur 2026, dewan juri menemukan napas baru: nyawa tokoh, konflik emosional, dan observasi lapangan yang tajam.

    Lomba yang dilaksanakan di SMAN 3 Sampit sebagai tuan rumah ini dikawal Pahnai dari SMKN 1 Sampit selaku koordinator, didampingi Ikhsan Hidayat Lubis dari SMAN 3 Sampit sebagai anggota.

    Pahnai menuturkan, standar tinggi perlombaan sengaja dipatok sejak awal, terutama dalam menentukan tim penilai agar kualitas karya peserta benar-benar teruji.

    ”Pemilihan juri lomba jurnalistik bukan kaleng-kaleng, tapi dari orang-orang yang memang sudah berpengalaman di bidang jurnalistik,” ujar Pahnai, Selasa (28/4/2026).

    Penilaian ketat itu dipercayakan kepada dua jurnalis kawakan, yakni Norjani Aseran dari Antara Biro Kalimantan Tengah di Sampit dan Gunawan, Pemimpin Redaksi Kanal Independen (kanalindependen.id).

    Keduanya menilai secara kritis karya peserta dari segi konten, kaidah jurnalistik, hingga kebahasaan.

    Sudut cerita, kedalaman liputan, serta cara peserta mengolah fakta menjadi narasi yang mengalir mendapat perhatian khusus.

    Norjani melihat lompatan kualitas yang nyata dari karya para peserta tahun ini. Tulisan para tunas muda tersebut perlahan berevolusi, memotret manusia sebagai pusat cerita.

    ”Kualitas rata-rata peserta tahun ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sebagian besar feature yang dibuat sudah memenuhi standar berita,” katanya.

    JUARA: Para juara lomba jurnalistik FLS3N Kabupaten Kotawaringin Timur 2026 bersama dewan juri dan koordinator lomba, Selasa (28/4/2026) di SMAN 3 Sampit. (Panitia FLS3N/Kanal Independen)

    Hasil penilaian akhir menempatkan Halisah dari SMAN 1 Kota Besi (nomor peserta 14) sebagai kampiun.

    Naskahnya yang bertajuk ”Perjuangan di Balik Kanvas Putih” meraih skor tertinggi 181,25.

    Tulisan ini mengangkat kehidupan Elwani Sarwando atau Iwan, seorang perupa asal Sampit.

    Juri terpukau kemampuan Halisah menyajikan detail observasi yang hidup. Mulai dari aroma cat minyak, ukiran kayu berbentuk ikan jelawat, sisa warna di tangan narasumber, hingga konflik batin sang seniman yang sempat ditentang ayahnya.

    Tulisan ini dinilai mampu menghadirkan suasana kerja perupa secara kuat.

    Posisi kedua diamankan Thovan Maulana Putera dari SMKN 2 Sampit (nomor 04) dengan nilai 177,25.

    Lewat naskah ”Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa,” Thovan merangkai alur penceritaan yang kokoh.

    Dia memotret jatuh bangun seorang pelajar yang sempat putus sekolah tiga tahun demi merawat sang ayah, lalu bangkit menemukan ketahanan mental lewat panggung monolog hingga menembus level nasional.

    Ahmad Raja dari SMAN 1 Sampit (nomor 02) menyusul di tempat ketiga dengan nilai 173,75.

    Karyanya, ”Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman,” tampil sangat kuat secara reportase.

    Dia merekam langsung proses pelestarian seni tutur tradisional melalui inovasi kecapi elektrik, menyajikan suasana wawancara yang utuh serta relevan dengan dinamika zaman.

    Kekuatan sudut pandang kemanusiaan (human interest) juga kuat terlihat pada karya para peraih juara harapan.

    Savira Yuni Florenzya dari SMKN 2 Sampit (Harapan 1, nilai 168,25) menyuguhkan kisah haru Khoirul Saputra, penari yang harus banting setir menjadi pemain kecapi setelah paha kirinya patah akibat tabrak lari di tikungan Desa Bejarum.

    Sementara itu, Bilal Aqso Setiawan dari SMAN 1 Sampit (Harapan 2, nilai 167,75) mengeksplorasi kekayaan kearifan lokal melalui sosok seniman kriya H. Haitami A.M.

    Selanjutnya, Selvia Maharani dari SMAS PGRI 2 Sampit (Harapan 3, nilai 162) merekam ketangguhan Salsabila, penyanyi muda dari Desa Terantang yang menopang ekonomi keluarga lewat musik.

    Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap kerja keras peserta, Kanal Independen menerbitkan artikel feature juara 2, 3, serta harapan 1 hingga 3 di portal Kanal Independen (kanalindependen.id).

    Redaksi hanya memoles aspek teknis seperti ejaan dan tanda baca, memastikan orisinalitas substansi dan gaya bahasa khas pelajar tetap utuh.

    ”Peserta sudah punya modal besar. Mereka tidak boleh berhenti menulis. Ide dan gagasan yang mereka miliki bisa menjadi inspirasi bagi orang lain jika terus diasah dan berani dipublikasikan,” ujar Gunawan.

    Langkah publikasi ini telah mengantongi restu panitia. Satu-satunya karya yang belum ditayangkan adalah milik sang juara pertama.

    Keputusan ini merupakan bagian dari persiapan menuju tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.

    Ajang FLS3N tahun ini menunjukkan bahwa pelajar Kotim memiliki ketajaman bercerita melalui proses kerja jurnalistik.

    Mereka tidak hanya menyalin fakta, tetapi mampu merangkum seni, budaya, dan karakter manusia dalam sebuah narasi jurnalistik yang layak dibaca publik. (ign)

    Berikut Karya para Juara:

    Juara 2: Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa (Thovan Maulana Putera, SMKN 2 Sampit)

    Juara 3: Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman (Ahmad Raja, SMAN 1 Sampit

    Juara Harapan 1: Dari Tari ke Dawai Kecapi: Langkah Khoirul Saputra, Pemuda Keruing Raih Prestasi (Savira Yuni Florenzya, SMKN 2 Sampit)

    Juara Harapan 2: Satu Tumbuh Seribu: Dari Bapak Haitami untuk Generasi Muda (Bilal Aqso Setiawan, SMAN 1 Sampit)

    Juara Harapan 3: Menguatkan Karakter Diri lewat Seni Musik (Selvia Maharani, SMAS PGRI 2 Sampit)

  • Satu Tumbuh Seribu: Dari Bapak Haitami untuk Generasi Muda

    Satu Tumbuh Seribu: Dari Bapak Haitami untuk Generasi Muda

    JAUH di pedalaman Kalimantan Tengah, pada sebuah kota yang dipeluk oleh makhluk-makhluk rindang tak bergerak, aroma membumi dari jutaan pepohonan menghidupi sebuah kota bernama Sampit.

    Seni merupakan bagian krusial yang denyutnya terasa nyata di sana. Museum Kayu adalah paru-paru yang menyimpan napas masa lalu di tengah riuh modernitas Sampit.

    Saya masuk ke dalam Museum Kayu dan menghirup aroma membumi yang cukup kuat. Banyak sekali peninggalan budaya Kota Sampit yang terletak diam tak bersuara di sana.

    ”Jangan dipandangi ja, tapi dimengerti jua,” ucap salah satu penjaga yang saya tidak ketahui namanya.

    Pernyataan beliau menyadarkan saya suatu hal.

    ”Siapa budayawan yang melestarikan seni di Kota Sampit ini?” tanya saya dalam hati.

    Saya pulang ke rumah dihantui rasa penasaran yang membebankan, terduduk di pojok kamar dengan sinar layar gawai yang menyinari ruangan.

    Jari terasa lelah mencari jawaban atas pertanyaan. Setiap diksi di dalam tulisan artikel saya baca hingga muncul suatu nama.

    Haitami: Pemahat dan Khasiat Limpasu. Judul dari artikel tersebut.

    Diri ini semakin termakan oleh rasa penasaran. Setelah bertanya dari orang ke orang, akhirnya saya dapat menemui salah satu cucu dari Bapak Haitami, bernama Dheza, yang kebetulan juga satu sekolah.

    ”Sidin tinggal di seberang Sungai Mentaya,” ujar Dheza memberitahu saya.

    Perjalanan saya menuju tempat beliau bersama Dheza disambut dengan angin dan gelombang air yang terpecah oleh kapal feri yang kami naiki, membawa saya meninggalkan riuh modernitas menuju sebuah rumah yang menyimpan aroma kayu dengan penuh cerita.

    Waktu menunjukkan pukul 11.32 WIB ketika saya melihat sekeliling dalam rumah beliau yang penuh dengan seni kriya khas Kalimantan.

    Saya bersalaman dan berbincang sedikit sembari memegang buku ditemani dengan sebuah pensil, fokus saya penuh kepada cerita yang beliau sampaikan.

    Bapak H. Haitami A. M. adalah seorang pengamat kebudayaan. Beliau lahir di Kota Pangkalan Bun dan besar di Kota Sampit.

    Sedari kecil, beliau sudah lekat dengan kebudayaan Kotawaringin, layaknya matahari dan sinarnya yang tak terpisahkan.

    Membuat karya seni sedari setinggi tunas pisang membuat beliau sangat handal dalam bidangnya.

    ”Dari wadai 500 perak,” seru beliau sambil tertawa.

    Lingkungan sekitar tempat ia tumbuh mengajarkan kerja keras, keringat merupakan barang bukti dalam perjalanan hidup bagi lingkungan beliau.

    Setiap buku pelajaran akan dibaca tanpa letih hingga matahari pun tertidur lebih dulu, dari buku Ilmu Pengetahuan Alam sampai dengan buku Seni Budaya beliau pelajari tanpa letih.

    Walaupun waktu Bapak Haitami mungkin tersita oleh buku, tetapi baginya, ilmu tak boleh berhenti di ujung mata.

    ”Praktiknya itu yang penting,” tegasnya sambil tersenyum.

    Maka, alih-alih hanya terbenam dalam kata-kata, beliau lebih memilih turun tangan meneladani jejak kebudayaan Kalimantan Tengah, seperti dalam merajut karya seni.

    Melukis, kriya, bahkan musik beliau belajar sendiri tanpa tumpuan yang membantu mengangkat, membuat seni merupakan sesuatu hal yang berharga.

    ”Seni itu mengajari presisi, kesabaran,” seru seorang budayawan tersebut.

    Komunitas Baniang 47 Jaya, tempat Bapak Haitami mengerjakan pahatan kayu. (Dokumentasi Pribadi Penulis)

    Beliau tumbuh menjadi seniman yang andal dengan menguasai hal-hal seperti melukis dan memahat.

    Melukis tidak hanya sebatas hobi di atas kursi bagi beliau. Namun, hobi tersebut menjadi jauh lebih berdampak di tangan Bapak Haitami. Dedikasinya terpampang dengan melukis dua ribu lebih lukisan untuk pameran lokal.

    Lukisan beliau menggambarkan banyak negara dan budaya yang terkandung di dalamnya, sembari mengangkat tinggi seni budaya lokal Kalimantan hanya untuk faedah esensinya dapat dinikmati insan muda di Kota Sampit.

    ”Semua seni dari mancanegara sudah aku tahu,” ucap Bapak Haitami dengan bangga.

    Bapak Haitami pertama kali mengenalkan karyanya ke tingkat nasional pada era 1990-an.

    Beliau membawa 16 patung kayu untuk memperkenalkan budaya Dayak lama yang namanya sudah jarang terdengar. Karya tersebut lahir dari keringat dan kerja keras Bapak Haitami sembari berpacu dengan waktu. 

    ”Asalkan ada niat di diri, pasti semua bisa,” kata beliau sembari membenarkan kerah baju.

    Tentu tidak mudah mengerjakan 16 patung kayu hanya dengan beberapa tangan. Di tengah pergulatan menyusun intisari pemikiran, beliau tidak memiliki banyak waktu dalam pengerjaannya.

    Ada malam-malam di mana tangan beliau terasa kaku dan punggung terasa seolah akan patah karena terus membungkuk di depan kayu.

    Namun, Bapak Haitami sadar bahwa jika bukan dia yang membawa wajah Dayak lama ini ke luar sana, mungkin tak akan ada lagi orang yang tahu bahwa budaya ini pernah ada.

    Dengan matahari dan bulan yang silih berganti menemani prosesnya, 16 patung tersebut akhirnya rampung dengan sempurna.

    Rasa berdebar di dada sudah pasti ada saat Bapak Haitami berangkat membawa karya-karya tersebut.

    Namun, semua itu terbayar lunas oleh sorak-sorai masyarakat di luar sana. Patung karya Bapak Haitami yang mengangkat budaya Dayak lama menjadi sinar yang paling terang hingga diapresiasi oleh khalayak luas. Karyanya berhasil mengharumkan nama Kalimantan.

    Beliau juga belajar banyak atas kebudayaan milik tanah lain. Ke mana pun Bapak Haitami pergi ia akan membagikan ilmu yang didapat di luar sana agar dapat dikembalikan ke tanah lahir, takkan hilang tanah kelahiran dalam ingatan.

    ”Yang penting murid-murid bisa belajar,” ujarnya.

    Bapak Haitami adalah sumber air bagi anak muda, banyak sekali anak muda yang belajar dan ditempa olehnya.

    Ajaran yang beliau semai tumbuh mekar dan berhasil membuat banyak murid mencetak prestasi, bahkan hingga skala nasional. Dalam pertemuan singkat ini pun, saya dapat belajar banyak dari kisah beliau.

    Namun, Bapak Haitami mengingatkan bahwa seni tidak hanya tentang apa yang dipegang oleh tangan, tetapi juga tentang apa yang diyakini oleh hati dan ke mana arah kaki melangkah.

    Seni dapat mengajarkan budaya serta budi pekerti bagi murid-murid beliau agar karakter tersebut terus merekah dan dibawa hingga hari ini.

    Selain mendedikasikan hidup untuk melestarikan seni budaya di Kota Sampit, Bapak Haitami juga memiliki kecintaan pada dunia botani, khususnya tanaman lokal yang mulai langka. Beliau merupakan seorang penanam yang memberikan tunas-tunas kehidupan.

    ”Lihat ja di belakang rumah tu banyak tanaman yang sudah jarang, pasti tumbuh sehat,” ujar beliau dengan nada bangga sembari melihat dedaunan di pohon.

    Halaman belakang rumah Bapak Haitami, tempat beliau seringkali menghabiskan waktu. (Dokumentasi Pribadi Penulis)

    Di pekarangan belakang rumahnya, tumbuh pohon limpasu, yaitu buah tradisional yang masyhur dengan sejuta manfaat.

    Tak jauh dari sana, merambat pula tanaman rambusa yang kerap dijuluki sebagai markisa Kalimantan. Kedua buah ini merupakan harta karun rimba yang kini kian sulit ditemui di pasar maupun pemukiman warga.

    Pertemuan di seberang sungai ini bukan sekadar wawancara, melainkan sebuah refleksi bagi saya sebagai insan muda.

    Bapak Haitami telah membuktikan bahwa satu orang yang teguh memegang prinsip kebudayaan mampu memberi dampak bagi ribuan orang lainnya.

    Beliau adalah bukti hidup bahwa karakter yang kuat tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari presisi, kesabaran, dan kejujuran dalam berkarya.

    ”Kejar ilmu tu setinggi mungkin,” seru beliau sembari melihat saya menaruh buku ke dalam tas.

    Langkah kaki saya meninggalkan rumah beliau dengan perasaan yang lebih ringan namun penuh tanggung jawab.

    Jika Bapak Haitami adalah sang penanam, maka kitalah tunas-tunas yang harus memastikan bahwa seni dan budaya di Kota Sampit tidak akan pernah kehilangan detakannya. Karena dari satu ketulusan, akan tumbuh seribu kebaikan bagi masa depan. (***)

    Juara Harapan 2 Juara Harapan 1 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Bilal Aqso Setiawan, SMAN 1 Sampit

  • Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman

    Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman

    DI tengah dominasi budaya populer, generasi muda semakin akrab tren yang datang silih berganti. Tanpa sadar, mereka perlahan menjauh dari akar budayanya.

    Di saat musik modern dengan mudah menguasai ruang dengar, ada satu suara yang kian tergerus.

    Bukan karena kehilangan makna, melainkan tak lagi dianggap relevan. Karungut, seni tutur khas Dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah, kini berada di persimpangan: dilupakan, atau diperjuangkan agar tetap hidup.

    Di tengah situasi itu, sosok seperti Kornadi memilih untuk tetap bertahan, menjaga suara itu tidak benar-benar hilang.

    Pencarian saya terhadap kesenian tradisional yang akan diangkat dalam lomba ini tidak berjalan mudah.

    Sejumlah pilihan sempat muncul, namun tak satu pun yang benar-benar terasa tepat. Hingga suatu ketika, ingatan saya kembali pada sebuah momen di awal tahun 2026.

    Saat itu, saya tengah berjalan menyusuri area Sampit Expo 2026. Di antara riuh pengunjung dan deretan stan, perhatian saya tertuju pada seorang pria berpostur tinggi, berkumis dan berambut putih yang memainkan alat musik tradisional dengan bentuk yang unik.

    Lantunan syair terdengar asing, sulit saya pahami namun meninggalkan kesan. Saya tersadar, saya belum pernah menyaksikan penampilan seperti itu.

    Dari situlah secercah ide mulai muncul. Rasa penasaran mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang kesenian.

    Setelah menelusuri berbagai informasi melalui media digital, saya akhirnya mengenal Karungut: sebuah seni tutur khas Dayak yang perlahan mulai jarang terdengar.

    Rasa ingin tahu yang semakin besar membawa saya pada sosok tersebut. Seorang seniman yang setia menjaga keberlangsungan Karungut.

    Namun, untuk menemukan kontaknya tidaklah mudah. Di tengah kebuntuan, saya mencoba untuk bertanya kepada ayah saya.

    ”Bah, pian kenal dengan sidin?” tanya saya, sembari menunjukkan foto di Expo Sampit.

    ”Oh, ini tampil di depan stan DSDABMBKPRKP seingat Abah namanya Pak Kornadi,” jawab ayah.

    Setelah percakapan dengan ayah dan mencari informasi akhirnya saya mendapatkan kontak Kornadi.

    Saya segera menghubunginya untuk wawancara. Setelah beberapa percakapan, kami pun sepakat untuk bertemu secara langsung di kediamannya pada Kamis, 16 April 2026, selepas waktu magrib.

    Pertemuan itulah yang kemudian akan membuka lebih dalam cerita tentang Karungut—dan perjuangan seniman dalam menjaganya tetap hidup.

    Malam telah turun ketika saya tiba di kediaman Kornadi. Halaman rumahnya cukup luas, dikelilingi oleh pepohonan dan tanaman yang membuat suasana terasa sejuk.

    Dari kejauhan, cahaya lampu teras memancar hangat, menjadi sumber terang di tengah malam.

    Rumah itu sederhana, namun terasa hidup. Di salah satu sisi teras, sebuah sepeda motor tua terparkir diam. Angin malam berembus pelan, diiringi suara jangkrik yang sesekali memecah kesunyian.

    Kornadi, pegiat seni Karungut di Sampit memegang kecapi elektrik khas Kalteng ciptaannya sendiri. (Dokumentasi Pribadi Penulis)

    Tak lama kemudian, sosok yang saya cari terlihat. Kornadi berdiri di teras, menyambut saya yang saat itu masih melangkah mendekat. Kesan pertama yang saya rasakan begitu hangat.

    Ia menyambut saya dengan sikap ramah dan tenang, mengurangi rasa gugup yang sejak tadi saya rasakan.

    Tanpa banyak basa basi, ia mempersilakan saya masuk ke ruang tamu.

    Di dalam, suasana ruangan dipenuhi nuansa seni. Beberapa alat musik tradisional tersusun rapi di pojok ruangan, berpadu dengan hiasan dinding yang unik. Ruang itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan seni yang ia jalani.

    Wawancara pun dimulai. Awalnya suasana terasa canggung. Saya sempat gugup dalam menyusun pertanyaan, sementara ia menjawab dengan tenang.

    Namun, seiring waktu, percakapan kami mulai mengalir, membuka satu per satu kisah tentang Karungut dan perjalanan panjang yang telah ia tempuh.

    ”Dibayar tidak membuat kaya, tidak dibayar juga pun tidak menjadi miskin. Jadi saya tetap maju.”

    Kalimat itu diucapkan Kornadi dengan nada tenang, namun sarat makna. Bagi dirinya, Karungut bukan sekadar seni, melainkan bagian dari hidup yang telah ia jalani sejak muda.

    Ia mulai mengenal Karungut sejak masih duduk di bangku SMA pada tahun 1980-an. Ketertarikannya bukan datang begitu saja, melainkan tumbuh dari lingkungan keluarga yang kental dengan dunia seni.

    ”Saya itu dari bakat, turunan,” ujar pria berusia 63 tahun ini.

    Ia bercerita, sang kakak menjadi salah satu sosok yang lebih dahulu terjun dalam dunia Karungut, bahkan termasuk di antara yang pertama melakukan rekaman di Kalimantan Tengah pada masa kaset pita.

    Sementara dirinya, saat itu hanya mengikuti jejaknya.

    ”Awalnya saya sih cuma ikut-ikutan Kakak. Tetapi juga ada kemauan dan tertarik seni Karungut,” tambahnya.

    Sejak masa sekolah, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan dan sempat meraih juara di tingkat SMA.

    Dari situlah, Karungut perlahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.

    Bagi Kornadi, Karungut bukan sekadar hiburan. Lebih dari itu, ia merupakan media untuk menyampaikan berbagai pesan.

    ”Karungut itu, untuk hiburan tapi juga bisa menyampaikan aspirasi. Bisa juga seperti cerita tentang kehidupan, legenda, hingga kritik,” jelasnya.

    Kornadi menceritakan, dahulu Karungut kerap hadir dalam berbagai acara adat, mulai dari pesta panen hingga upacara tertentu.

    Liriknya yang khas dengan pola sajak tertentu serta cengkok yang unik menjadikannya berbeda dari bentuk seni tutur lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu keberadaan Karungut mulai menghadapi tantangan.

    ”Sekarang ini ditekan terus dari budaya luar,” ujarnya, dengan lirih.

    Ia mengakui minat generasi muda terhadap Karungut semakin berkurang. Selain dianggap kuno kesenian ini juga dinilai kurang memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

    Meskipun demikian, hal itu tidak membuatnya berhenti. Ia melakukan berbagai cara agar Karungut tetap bertahan.

    ”Kalau tidak ikut perkembangan, ya bisa hilang,” selorohnya.

    Bagi Kornadi, mengikuti perkembangan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Ia menyadari bahwa mempertahankan bentuk lama tanpa penyesuaian hanya akan membuat Karungut semakin tertinggal.

    Dari pemahaman itulah ia menciptakan kecapi elektrik dengan bentuk etnik yang tetap mempertahankan identitas aslinya. Inovasi ini bukan sekadar bunyi modern, tetapi cara agar Karungut tetap relevan.

    Di tengah keterbatasan, langkah tersebut menunjukkan bahwa kreativitas bukan sekadar kemampuan mencipta, melainkan cara bertahan.

    Sebuah bentuk keteguhan untuk tidak menyerah pada perubahan, sekaligus upaya menjaga agar nilai-nilai yang terkandung di dalam Karungut tetap hidup.

    Tak hanya itu, ia juga mulai menyesuaikan bahasa dalam Karungut agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas, termasuk menggunakan bahasa Banjar atau Indonesia dalam beberapa penampilannya.

    Upaya ini ia lakukan bukan tanpa alasan. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana Karungut tetap dikenal dan bertahan.

    ”Hanya untuk memperkenalkan saja, mempertahankan bahwa masih ada Karungut,” tuturnya.

    Di tengah berbagai keterbatasan, ia masih melihat secercah harapan. Kehadiran generasi muda yang mulai mengenalkan Karungut melalui media sosial menjadi tanda bahwa kesenian ini belum sepenuhnya ditinggalkan.

    ”Kalau menurut saya masih ada harapanlah kalau Karungut ini bisa bertahan lebih lama,” Kornadi optimistis.

    Baginya, melestarikan Karungut bukan sekadar soal mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya.

    Sebuah langkah kecil yang berdampak besar, agar suara lama itu tetap memiliki tempat di tengah zaman yang berjalan dinamis.

    Di tengah perubahan zaman, Karungut mungkin tak lagi menjadi suara utama. Namun, melalui keteguhan sosok seperti Kornadi, ia tetap hidup, membawa nilai tentang ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk bertahan.

    Malam itu di Sampit, saya belajar bahwa budaya tidak mati karena zaman. Ia akan hilang ketika kita berhenti menjaganya. (***)

    Juara 3 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Ahmad Raja, SMAN 1 Sampit.